D6-Trekking Nepal – Di Simpang Jalan


Catatan. Meskipun perjalanannya ini terjadi tiga tahun lalu tapi rasanya sayang kalau tidak dilanjutkan cerita saat trekking di Nepal. Untuk mengingat kembali silakan baca kisah trekking hari -hari sebelumnya di tautan berikut ini: Dare to Dream Trip, Ke Kathmandu, Tangga-Tangga Uleri, Menuju Ghorepani, Poonhill, Didera Hujan Es, Gurung Hill dan Melawan Takut. Apalagi, tantangan menulis mingguan yang diangkat oleh Sahabat saya, Srei’s Notes, bertopik tentang Road alias Jalanan untuk minggu ini. 


 

Chhomrong, minggu ketiga April 2017

Mentari belum juga terbit namun saya telah keluar kamar penginapan yang langsung disambut udara dingin Himalaya. Meskipun sudah jauh di bawah Poonhill atau Deurali Pass yang berada di ketinggian 3100-an meter, berdiri pagi-pagi di Chhomrong yang berada di ketinggian 2170 meter ini tetap saja terasa dingin. Tetapi, pagi adalah waktu yang tepat untuk melihat keindahan Himalaya.

1
Annapurna South, Hiunchuli, Macchapucchre before sunrise
1a
Sunshine over Mt. Macchapucchre (Fish Tail)

Dan benarlah, ketika menatap ke arah pegunungan, saya yang pendaki abal-abal tapi nekad menjelajah di Himalaya disuguhi pemandangan alam yang spektakuler. Puncak Annapurna South (7219m) berjajar dengan Hiunchuli  (6441m) lalu terpisah oleh lembah dalam, gunung favorit saya, Macchapucchre (6993m) berdiri dengan gagahnya. Semua puncak dan punggungnya tertutup salju abadi yang memperlihatkan keindahannya.

Sinar mentari pagi mulai menerpa puncak ketiga gunung tinggi itu dan memberi warna keemasan pada salju abadi yang menyelimutinya. Bahkan sinar matahari yang melewati puncak Gunung Macchapucchre, -yang dikenal juga sebagai Fish Tail karena puncaknya yang menyerupai ekor ikan-, memberikan efek dramatis bergaris pada langit.  Pagi datang berkunjung dengan keajaiban yang membuat saya menarik nafas panjang, tak habis-habisnya mengucap syukur. Sang Pemilik Semesta telah memberikan kesempatan kepada saya berjalan di bumi yang indah ini. 

Setelah mengabadikan pemandangan indah ini, saya berjalan ke arah persimpangan desa tak jauh dari penginapan. Ternyata Pak Ferry, my travel buddy, sudah berada di sana terlebih dahulu. Langsung saja kami saling bergantian mengambilkan foto sebagai kenang-kenangan meskipun dengan wajah apa adanya (Di gunung siapa sih yang mau mandi dua kali sehari dan dandan cantik? 😀 )

Rasanya mata tak ingin melepas pemandangan indah yang tak bisa dilihat di Indonesia ini, saya ingin berlama-lama meskipun tahu akan ada yang namanya perpisahan. Di sini, di desa Chhomrong ini merupakan tempat terakhir kami untuk merasa terdekat dengan rangkaian pegunungan Himalaya. Karena setelah ini, kami akan menjauh darinya. Ada sedikit rasa sesal mengapa cuti terlalu singkat dan mengapa saya tak mempersiapkan fisik yang lebih baik untuk trip ini. Tetapi, bagaimanapun semua harus dihadapi dan diterima.

Dengan pikiran yang masih menggantung kepada keindahan puncak bersalju itu, Pak Ferry dan saya berjalan pelan kembali ke penginapan, untuk sarapan dan packing. Sarapan yang serupa, roti dan selai ditambah kopi atau teh. Tetapi yang paling mengerutkan hati saat sarapan itu, ketika saya harus menyaksikan dua perempuan muda berpamitan dan melangkah gembira menuju Bamboo, desa berikutnya untuk menuju Annapurna Base Camp. Arah yang pastinya berbeda dengan tujuan saya hari ini. Meskipun mendoakan mereka untuk keberhasilannya, saya tak bisa mengingkari terselip sedikit rasa iri akan kemudaan dan semangat mereka.

Tak perlu lama kami semua telah siap, di simpang desa itu kami melanjutkan perjalanan. Bukan ke atas menuju Annapurna melainkan menuju pulang. Sedih? Tentu saja, karena harus melepas tujuan dan harapan. Tetapi saya juga meyakini, segala peristiwa memiliki alasan dibaliknya sehingga harus diterima dengan ikhlas. Dan bagi saya yang sebelumnya tak pernah mendaki gunung, apalagi sudah tak lagi muda dan tak pernah olahraga, bisa mencapai 3120 meter saja sudah luar biasa!

4
Clouds started to cover
4a
ABC or Home?

Sejenak saya menatap Annapurna, Hiunchuli dan Macchapuchhre dari jarak terdekat yang pernah saya jejaki sebelum akhirnya saya melepas pandang. Seakan tahu rasa apa yang tersembunyi di dalam hati, Semesta membantu mulai mengirim awan untuk menyelimuti puncak gunung-gunung itu. One day, saya akan kembali. Kemudian saya melangkah pergi menuju Landruk, pemberentian kami berikutnya.

Not the destination, but the journey…

Itu kata orang bijak, meskipun perlu keikhlasan yang amat tidak mudah. Tetapi ada banyak bantuan bagi orang yang mau bersungguh-sungguh. Saya merasakan bahwa alam memberikan suhu yang amat nyaman untuk berjalan. Sinar matahari tidak terik melainkan hangat. Ada berbagai kerindangan disana-sini dan tentu saja pemandangan bukit-bukit yang indah. Semuanya teramat sayang jika dilewatkan begitu saja hanya gara-gara terpaku pada tujuan Annapurna yang harus dilepas. Ah, saya belajar banyak dalam perjalanan ini, belajar untuk mengucap syukur pada setiap keindahan yang saya terima dalam setiap detik di depan mata, bukan yang telah lewat.

PerlindunganNya

Urutan trekking masih tetap sama seperti hari-hari sebelumnya, sang porter muda yang handsome yang namanya Kedar, berada paling depan, lalu pak Ferry kemudian saya dan Dipak, –trekking guide-, semuanya dalam jangkauan jarak pandang. Dua yang terakhir lebih sering bertukar tempat terutama jika jalan menanjak meski tak lagi berat. 

Meski dalam melakukan trekking saya tidak sendirian,  namun nyatanya saya lebih banyak berjalan tanpa banyak bicara (atau mungkin alasan saja untuk mengatur nafas ya 😀 ) Tetapi, rasanya memang menyenangkan bisa berjalan “sendiri” meskipun sesungguhnya ada dalam kelompok. Rasanya seperti diberi waktu untuk kontemplasi. 

7
Forests

Entah telah berapa lama saya berjalan, hingga suatu saat saya berada di sepenggal jalan setapak yang amat sempit, dengan jurang di kiri dan tebing tanah bercampur batu di kanan. Trekking guide kami, Dipak, yang tadinya tak jauh di belakang saya, mendadak dari arah belakang berlari menuju saya dengan wajah was-was, dan belum sempat bertanya kepadanya, pada saat yang sama saya mengetahui dan mendengar apa yang dia cemaskan. Langkah kuda yang sedang berlari kencang sedang mendekat dari arah belakang!

Serta merta mata saya membelalak. What to do? 

Tidak ada ruang untuk mengalah membiarkan si kuda lewat. Pilih mana? Lari melebihi kecepatan kuda di jalur sempit atau lompat ke jurang? Semua pilihan yang tidak mungkin!

Sepersekian detik yang paling menakutkan.

Dipak mengambil keputusan lebih cepat daripada saya, Ia menyuruh saya untuk lompat ke kanan, ke arah tebing tanah bercampur batu itu. Tanpa pikir panjang, saya mengikuti sarannya, melompat ke kanan dengan trekking pole yang masih terikat di pergelangan dan mencari batu terkuat sebagai pegangan. Sebisa-bisanya saya bertengger memeluk tebing bumi. Detik-detik yang amat menegangkan bagi saya. Menunggu si kuda lewat.

Lalu tanpa rasa bersalah, si kuda berlari cepat dikendalikan oleh penunggangnya di jalan sempit itu, yang setelahnya membuat Dipak mengeluarkan serangkaian kata-kata Nepali dengan nada yang lumayan tinggi kepada penunggang kuda itu. Saya tak mengerti artinya, tetapi sepertinya ia meminta orang itu berhati-hati berkuda apalagi di jalur trekking yang bisa berakibat fatal.

Meskipun jengkel juga dengan si penunggang kuda, saya turun dari tebing tanah itu dengan tanah menempel di muka dan pakaian, masih terasa deg-degan bercampur lega dari sebuah peristiwa yang menegangkan. Jika tak segera melompat ke arah kanan untuk menyelamatkan diri, bisa jadi saya ditabrak dari belakang dan jatuh ke jurang. Hiiii…

Alhamdulillah, saya masih dilindungi olehNya.

Beberapa saat kemudian, setelah menepis debu dan tanah yang menempel serta berterima kasih kepada Dipak yang telah menyelamatkan, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini dia berada tepat di belakang saya.

Tapi tak lama!

Mendadak ia bertanya kepada saya, apakah saya mampu berjalan sendirian karena ia harus menyusul Pak Ferry yang ada di depan. Ia juga mengatakan bahwa jalan yang akan saya tempuh landai.  Saya menganggukkan kepala lalu dalam sekejap ia berlari ke depan. Menyusul Pak Ferry.

Aduh, ada apa lagi di depan? 

Saya terus berjalan. Dipak benar, jalannya menanjak landai, teduh pula. Nyaman untuk berjalan meski matahari mulai tinggi. Lalu, di sebuah lengkung jalan yang menanjak, saya melihat Dipak menunggu di puncak tanjakan sementara saya masih di bawah. Baiklah, setelah dihajar tangga-tangga Ulleri, tanjakan ini sama sekali tidak ada apa-apanya. Tak lama, saya berhasil sampai di tempat Dipak menunggu dan terbelalak melihat apa yang ada di depan saya.

Sepenggal jalan longsor!

Di kiri longsoran ke bawah yang berakhir di sungai dan di sebelah kanan tebing yang longsor. Diantaranya hanya ada jalan setapak…

5
Trekking path across the landslide

Langsung saja saya mengerti mengapa tadi Dipak berlari mengejar Pak Ferry. Ia pasti bermaksud menolong Pak Ferry yang memiliki phobia ketinggian untuk mampu melewati jalan setapak longsor itu. Bagi orang yang phobia ketinggian, berjalan di jalan sempit yang di kirinya longsor jauh ke bawah dan berakhir di sungai, tentu tak mudah.

Sejenak saya melihat ke atas, ke arah tebing yang longsor itu. Meski kelihatannya sudah lama terjadi longsornya, saya tetap memperhitungkan segala kemungkinan. Longsor memang sering terjadi di Nepal, tetapi tebing longsor di depan saya ini bukan sepenuhnya tanah, melainkan batu-batu kecil, pasir dan kerikil. Ah, saya segera menggelengkan kepala, sebagai tindakan tak sadar untuk menghapus pikiran buruk yang muncul dan berawalan dengan kata bagaimana seandainya…

Meninggalkan longsoran di belakang, saya melanjutkan jalan. Melewati hutan, desa dan melangkahi jembatan kayu kecil di atas batu-batu sungai yang airnya sedikit. Meski sedikit, airnya bening dan dingin. Kebahagiaan berjalan di bagian pegunungan yang sudah lebih rendah. Meski udara terasa lebih hangat, tetapi air lebih mudah didapat. Ah, saya membayangkan mandi enak di pemberhentian berikutnya.

Sebelum sampai ke Landruk, -tempat menginap berikutnya-, kami harus melewati jembatan kayu gantung yang terlihat sudah rapuh. Untuk melewatinya saya harus mengukur kekuatan kayu landasannya apakah mampu menahan beban saya yang bongsor ini. Apalagi saya harus berhenti ditengah-tengah. Karena ada air terjun bertingkat yang tersembunyi yang hanya bisa dilihat dari tengah jembatan itu. Bukankah kita harus berani mengambil risiko?

Setelah membatalkan trekking lanjutan ke Annapurna Base Camp (ABC), perjalanan setiap harinya menjadi lebih nyaman karena tanpa target waktu. Termasuk hari itu yang memang tak lama. Setelah makan siang yang kenyang dan lama di tengah lembah, akhirnya kami sampai di Landruk jelang sore. Lumayan bisa beristirahat sore hari dan mandiiiii! Saya pun bisa santai meluruskan kaki yang pegal  sambil menunggu malam.

Ini namanya benar-benar liburan… 

 

(bersambung)

 

Nepal DTD Trip, Once Again, Namaste Kathmandu


Work in the invisible world at least as hard as you do in the visible – Rumi

Kembali ke ‘rumah’

Saya mendadak terbangun dari tidur, merasakan naiknya intensitas frekuensi dari dalam diri agar kesadaran terjaga. Dengan segenap upaya saya membuka kedua mata yang terasa lengket lalu menoleh ke jendela kanan. Gelapnya malam menghilangkan pemandangan yang seharusnya indah, yang pernah saya saksikan dengan mata kepala dan mata hati, dua tahun silam. Himalaya bertudung salju yang berjajar indah, seakan bersama semesta menyambut kedatangan sebuah hati. Namun kini, bulanpun malu tampil, malam tetap berhias pekat, seakan melempar sebuah tanya, siapkah saya kembali ke rumah, dengan apapun yang ada?

Tanpa diberitahu oleh pilot penerbangan pun, saya mengetahui dalam beberapa saat lagi kaki ini akan menjejak kembali di Kathmandu. Kelap-kelip lampu di tanah mulai satu per satu terlihat, yang semakin banyak, semakin mengelompok. Seperti rasa yang muncul di dalam hati ini. Sebuah rasa yang semakin membuncah. Saya kembali ke Nepal, tempat dua tahun lalu menjalani hari-hari penuh dengan keajaiban. Luar biasa, seperti kembali ke rumah.

Dan kali ini tetap saja dengan sejuta harap kepada Yang Maha Mengasihi agar berkenan melimpahkan anugerah yang sama…

Namaste

Akhirnya roda pesawat itu menjejak bumi yang dua tahun lebih dihajar gempa besar yang meluluhlantakkan banyak tempat itu. Saya menutup mata, memindahkan sejenak kenangan pahit dampak gempa di Nepal ke sebuah sudut hati yang terdalam. Menyimpannya agar diam disana lebih lama untuk bertransformasi kearah kebaikan. Kali ini, dalam perjalanan ini, tak boleh ada airmata duka karena bukankah perjalanan ini sebuah undangan yang luar biasa? Bukankah saya diijinkan memiliki impian dan dibuncahkan keberanian untuk menjalaninya? Ini sebuah perjalanan untuk mewujudkan impian… A Dare to Dream Trip!

Pesawat akhirnya berhenti dan bandara Tribhuvan International Airport pun menyambut penumpang. Satu per satu penumpang keluar menuruni tangga termasuk saya. Di ujung tangga, di bawah, saya merendahkan tubuh lalu menyentuhkan telapak tangan ke bumi Nepal.

Namaste, Nepal…

Lalu saya berdiri menunggu Pak Ferry kemudian berjalan perlahan kearah bus untuk menuju terminal kedatangan. Saya terdiam menggigit bibir karena potongan-potongan kenangan indah dua tahun lalu di Nepal menghajar benak tanpa jeda. Saya seakan hidup dalam kenangan melewati lorong yang sama dan mengikuti alur penumpang di bandara yang sama. Suasana yang sama. Hanya kali ini malam, dulu siang. Tetapi sejatinya memang tak banyak beda.

Di Bandara

Proses imigrasi yang sama walau kini bisa lebih cepat dengan bantuan terminal pintar yang mengambil foto wajah. Tetap dengan harga visa yang sama, 25USD untuk 15 hari. Wajah-wajah Nepal yang serupa dengan senyum yang segera menghias bibirnya. Masyarakat yang ramah! Dan kembali terdengar di telinga tutur bahasa yang dua tahun lalu terasa asing yang hingga kini pun masih terasa tak biasa di telinga. Ah, saya saja yang tak cepat belajar bahasa.

Sedikit letih akibat lamanya penerbangan, saya mengikuti alur penumpang dari sejak imigrasi hingga akhirnya pengambilan bagasi. Ditunggu satu saat dua saat, kedua ransel yang terbungkus plastik tak muncul juga hingga bagasi terakhir. Belum sempat pak Ferry dan saya diterpa bingung, sebuah sapa menggugah perhatian saya. Di belakang kami, sesosok tubuh besar menuturkan dalam bahasa Nepal sambil menggerakkan tubuh menjelaskan maksudnya. Ia menunjuk ke bawah, apakah ini yang dicari? Di kakinya, ransel kami yang terbungkus plastik tanpa kurang suatu apapun. Dan saya pun mengangguk memahami maksudnya. Seketika sebuah senyum menghias wajahnya. Kami juga. Ah, sebuah sambutan bahagia yang nyata.

Welcome to Nepal – menuju lorong VOA

 

Kami menenteng ransel yang kini menjadi sulit diangkat karena terbungkus erat plastik sambil menggendong daypack kami. Ini semua gara-gara tidak terjaminnya pengamanan bagasi di Jakarta. Sudah terlalu sering pejalan bertukar cerita tentang maling bagasi yang dibiarkan merajalela di bandara. Jangankan yang bernilai, makanan dan oleh-oleh dalam tas penuh pakaian kotor pun di-embat. Mana mungkin saya membiarkan peralatan trekking yang susah payah saya kumpulkan untuk hilang tak berbekas oleh manusia bejad di Jakarta? Jadi walaupun ransel ini menjadi susah diangkat, mitigasi ini jauh lebih baik.

Sambutan

Kemudian akhirnya kami sampai di depan pintu keluar. Mau tak mau saya tersenyum. Teringat betapa gila saya mencari nama sendiri diantara ratusan nama yang tertera pada kertas yang dibawa penjemput. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami, tetapi ini diantara ratusan pasang mata laki-laki yang melihat ke diri saya langsung di siang hari bolong itu. Nekad. Mengingat itu, saya cerita pengalaman itu secara sekilas  kepada Pak Ferry. Dia tersenyum lebar lalu mengajak melakukan hal yang sama lagi. Karena selain itu, apalagi yang bisa dilakukan?

Tetapi kali ini, terbaca nama saya pada sebuah kertas di dekat pintu. Ah, sebuah permulaan yang baik. Begitu cepat. Saya mendatangi mereka dengan senyum, seakan memberitahu jati diri tanpa perlu bicara. Seorang dari mereka memperkenalkan diri sebagai pemandu utama kami lalu mengalungkan bunga selamat datang kepada pak Ferry dan saya. Ah, begitu cantik penyambutan ini. Sebuah permintaan maaf sekaligus terima kasih secara otomatis keluar dari bibir saya karena mereka telah menunggu begitu lama di bandara karena tertundanya penerbangan kami. Tapi semua itu tak menjadi soal, karena tak lama kami telah berada di dalam jeep yang membawa ke hotel di kawasan Thamel, sebuah tempat terkenal untuk hang-out di Kathmandu.

Saya pun bertukar cerita kepada Dipak, tour & trekking guide kami, bahwa saya senang bisa kembali ke Nepal yang langsung disambut berbagai pertanyaannya mengenai perjalanan saya sebelumnya itu. Ah, bagaimana mungkin saya melupakan perjalanan penuh keluarbiasaan itu? Bisa tak habis-habis saya bercerita…

Tak ingin memonopoli dengan cerita perjalanan Nepal sebelumnya, pembicaraan saya alihkan dengan menunjukkan Kuil Pashupatinath yang saat itu kami lalui, kepada Pak Ferry yang tentu saja disambut dengan sangat antusias karena ia memiliki banyak kawan Hindu yang menanyakan mengenai Kuil Pashupatinath yang suci. Namun Kuil Pashupatinath pada malam hari hanya berhias temaram dan sedikit lampu walau tetap memendarkan kemagisan. Hanya sejumput harap untuk bisa mengunjungi kuil itu sekembalinya dari trekking…

Lalu setelah melalui beberapa turunan dan tanjakan perbukitan serta menembus jalan-jalan kecil di Kathmandu, saya menebak telah memasuki kawasan Thamel yang diwarnai oleh orang-orang yang mulai menutup tokonya. Kami memang datang terlambat. Sudah banyak toko yang menutup pintu tetapi Dipak mengatakan bahwa ada toko yang bisa buka sampai malam agar kita bisa membeli peralatan trekking yang kurang.

Pemeriksaan

Sesampai di hotel, kami disambut oleh Siddhartha, sang manajer dari perusahaan pemanduan trekking yang kami gunakan. Sambil menunggu proses check-in, seluruh peralatan trekking kami diverifikasi olehnya untuk memastikan bahwa trekking akan berjalan dengan aman. Mereka meminjamkan kami trekking pole, botol minum, tas besar tahan air, sleeping bags dan lain-lain. Oleh sebab itu sisanya perlu dipastikan kecukupannya, termasuk jaket, jas hujan, ransel, celana trekking, jumlah pakaian dan lain-lain. Bahkan sepatu yang digunakan juga diperiksa. Mungkin sebagian orang bisa merasa terganggu dengan proses verifikasi ini, tetapi saya mengambil sisi positif. Bukankah ini perjalanan ke alam yang telah mereka kenali? Bukankah mereka lebih paham? Bukankah kami berasal dari negara tropis yang tak pernah kenal salju? Bukankah kami tidak pernah menjajaki gunung-gunung di Himalaya ini? Apalagi saya yang sama sekali belum pernah mendaki gunung. Lalu apa salahnya belajar dari orang yang lebih ahli dan lebih memahami Himalaya?

Persiapan dari Jakarta membuahkan hasil karena seluruh peralatan trekking kami lulus verifikasi dan tentu saja kami tetap diajak belanja untuk menambah peralatan di toko yang masih buka. Pak Ferry berkenan melihat jaket-jaket dengan beragam merk dengan spesialisasi outdoor yang terkenal. Akhirnya beliau membeli satu jaket termal tahan air TNF seharga kurang dari 1 juta yang jika di mal terkenal di Jakarta dipatok harga sekitar 5 juta. Kapan lagi bisa beli dengan harga itu???

Pegunungan Himalaya Bertudung Salju

Kehadiran

Kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Keriuhan Thamel hanya menyisakan degup-degup musik dari tempat yang masih penuh pengunjung. Saya memilih kembali ke hotel karena sudah pernah menyusuri Thamel agar bisa menghemat energi untuk trekking keesokan harinya. Ya, besok kami memulai perjalanan itu.

Sendiri di kamar hotel membuat saya terpaku dalam hening, menyadari hadirnya diri, seutuh-utuhnya, di ‘rumah’, di bumi Nepal yang bagi saya selalu magis. Saya telah menempuh perjalanan dari pagi hingga malam hari hingga bisa berdiri di sini, di bumi tempat Himalaya sambung menyambung. Getarnya terasa langsung dalam jiwa. Esok hari, kaki ini mulai melangkah, satu demi satu, menapaki bukit, menuruni lembah.

Sepertinya saya masih tak percaya, tetapi udara yang saya hirup dan saya lepaskan adalah udara yang sama. Udara Himalaya.

Dan bagi saya hanya ada satu Himalaya di dunia. Himalaya yang itu.