Berjuta Kenangan Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik


Jumat, 21 Desember 2018,
13:35
Teman-teman sekantor merayakan ulang tahun sekretaris dengan gembira, riuh mendatangkan  kue mengumbar nyanyian
13:37
Masih dalam suasana riang gembira, saya sempat membaca ada panggilan tak terjawab dari rumah mama, namun belum sempat menelepon balik, sudah ada telepon lagi dari rumah mama. Saya menjawab tetapi suara saya sepertinya tak terdengar di ujung sana. Saya tak menutup tetapi telepon di ujung sana akan ditutup. Tetapi sebelum ditutup, terdengar suara mama menangis. Bresssss… terasa semburan hawa dingin tak nyata di sekujur tubuh.
13:38

Cepat saya menelepon rumah Mama, Mas No, perawat Papa yang mengangkat, menyampaikan permohonan untuk segera pulang. Something is very wrong, Saya memaksanya menceritakan fakta sesungguhnya karena saya tidak suka dengan harapan palsu. Dan saya tak akan pernah lupa suara Mas No yang menyampaikan berita itu, “Sudah tidak ada, mba”
Innalillahi wainna ilaihi roji’un…

jp1
A sunset view from Father’s Cemetary

Kahlil Gibran menitipkan pesan indah, ketika kita bercengkrama dengan kebahagiaan di ruang tamu, sesungguhnya kesedihan sedang menunggu dengan sabar di pembaringan. Lalu, mampukah saya berpeluk mesra dengan kesedihan, -semesra saya memeluk kebahagiaan-, saat kesedihan menggantikan tempat kebahagiaan? Nyatanya roller-coaster hidup ini menghias keseharian saya dalam bulan Desember 2018 ini.

Desember pekan pertama, bahagia dan bangga menyelimuti, melihat ananda berbalut toga wisuda yang dilanjut adiknya yang turut berlomba antar negara. Minggu selanjutnya mata dan hati saya berbinar memeluk bahagia dapat melampaui ulang tahun berumahtangga untuk kesekian kalinya.

Dan pekan berikutnya, kesedihan datang dengan cepat, menukar tempat bahagia.

Jumat siang yang indah itu, Papa kembali kepadaNya untuk selama-lamanya. Begitu cepat dan dimudahkan semua prosesi kembalinya. Hanya enam jam setelah tarikan nafas terakhirnya, almarhum Papa telah dibaringkan dalam kuburnya.

Kematian…
Sebaik-baiknya saya mempersiapkan hati, sejatinya tak pernah 100% saya siap menghadapinya. Kepergian Papa mampu membekukan saya, dinding-dinding tebal emosi terbangun sangat tinggi, melindungi hati duniawi, menangisi dia yang pergi.  Tak banyak yang melihat saya dengan airmata berlinang, sebagian mereka hanya melihat senyum datar terkembang, walau di dalam, saya tertatih menata rasa.

Papa adalah pahlawan, bagi saya, keluarga dan Negara. Mama bercerita, saat itu, kesatuan dan keutuhan Negara diragukan, Papa maju dengan risiko kehilangan nyawa dalam kegelapan laut nun jauh disana. Dengan keahlian ilmu dan ketrampilan yang dimilikinya, dalam gelap ia memberi supply bahan bakar untuk mendukung Angkatan Laut Republik Indonesia membela Negara. Papa adalah senoktah kecil peran bela Negara.

Papa, bagi saya, adalah teladan keikhlasan dan berserah diri. Tak pernah segan ia membagi yang dimiliki, tak henti ia membagi ilmu selama mampu. Bahkan setelah stroke, dengan fisik tertatih ia masih memberi pelatihan di luar kota Jakarta bahkan di luar pulau Jawa. Untuk semua yang telah ia berikan, tak pernah sekalipun ia meminta balas. Ia ikhlas atas semuanya. Juga tipu daya dan khianat yang dilakukan sebagian dari mereka yang pernah menerima dari Papa. Ikhlas yang tak bertepi.

Papa, pria pertama yang mencintai saya, -anak perempuan satu-satunya-, dan selamanya cintanya menggema.

jp2
View from Father’s cemetary

Walau tertatih rasa, saya percaya, dalam setiap peristiwa tersebar sidik-sidik jari Yang Maha Kuasa; terutama dalam kematian, sebuah peristiwa dengan bimbinganNya yang begitu nyata. Kesedihan yang mengekor dari peristiwa kematian, bersama-sama menjadi guru pembimbing hidup. All are sent as guides from beyond. Semua itu hadir membawa kekuatan pemurnian jiwa yang tak ada dua. Seperti Candradimuka yang melahirkan manusia-manusia utama.

Dan demikianlah saya. Berjubah kegelapan, duka itu menyelimuti saya. Ya, kegelapan yang mampu menyembunyikan benda-benda di alam nyata, tetapi saya belajar, kegelapan tak mampu menyembunyikan cinta. Sesungguhnya cinta memendarkan keajaiban kemana-mana, kesegala penjuru dunia, ke tempat yang paling tersembunyi hingga alam Semesta. Cinta menembus ruang dan waktu, menembus kegelapan, dan bahkan kematian.

Rencana indah ke negeri Sakura esok harinya telah saya batalkan sejak detik pertama mendengar berita kepergian Papa. Tetapi Cinta mampu mengubah semua, di atas pusara Papa malam itu juga. Sebuah rencana yang sudah dibatalkan menjadi nyata harus dijalankan.

Ya, kurang dari dua belas jam setelah Papa berada dalam pembaringan abadinya, dengan berbagai rasa saya sudah terbang mengangkasa menuju negeri yang Papa cinta sejak lama. Gen-gen cinta dari Papa sebagai Pejalan, memberi semangat untuk tetap melangkah. Move forward, apapun yang terjadi. Dan saya hampir tak percaya, saya sungguh berdiri di sana, bersama cinta Papa akan negeri Sakura.

Lalu bukankah duka selalu beralih rupa dengan sukacita?

Tiga hari setelah kepergian Papa, di sana, di negeri yang Papa cinta, saya berulang tahun. Sebuah peristiwa untuk mengingat usia yang berkurang di dunia. Tapi bagi Papa, ulangtahun anak perempuan satu-satunya tetap sebagai peristiwa bahagia dan saya menghidupkan kenangan bahagia untuknya. Di benak saya jelas tergambarkan bagaimana ia mengumbar senyum dan tawa bahagia.

krans
Flowers

Kehadiran cinta Papa, yang telah melewati pekatnya gerbang kematian, menembus batas kematian itu. Saya percaya di setiap sudut kehidupan saya selanjutnya dan selamanya, kenangan dan cinta Papa akan hadir untuk saya serta menjadi jembatan kehidupan yang membaikkan.

Karena sejatinya, sesuai keindahan pesan yang dititipkan oleh Kahlil Gibran,
Kenangan adalah anugerah Tuhan yang tidak dapat dihancurkan oleh maut.

Kini sekembali dari Negeri Sakura, saya kembali menyambangi pusara Papa, hari demi hari, bersamaan dengan meniti kehidupan yang terus berlanjut. Dan karena harum Tahun Baru 2019 masih terasa, saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan membiarkan kenangan-kenangan menjadi kunci, -bukan ke masa lalu-, melainkan untuk ke masa depan yang lebih baik.

Selamat Tahun Baru 2019.

Meniti Jalan Cinta di Durbar Square Kathmandu


Apabila cinta memanggilmu ikutilah dia,

Walau jalannya terjal berliku-liku.

Dan apabila sayapnya merangkummu, pasrahlah serta menyerah,

Walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu.

Saya memang langsung teringat sepenggal keindahan kata-kata Kahlil Gibran ketika harus membuka kembali album perjalanan di Durbar Square Kathmandu. Perjalanan dengan semua keindahan dan keluarbiasaan cinta yang saya alami yang kenyataannya saat ini situasinya sudah sangat jauh berbeda. Menjadikan semua langkah sepanjang jalan menjadi sebuah kenangan yang amat dalam, membahagiakan sekaligus memedihkan.

Kasthamandap

Berawal dari sedikit keraguan akan arah ke Durbar Square, Cinta berbisik pelan agar saya tetap berjalan lurus memasuki kawasan UNESCO World Heritage itu lalu membeli tiket seharga 750NPR. Saya memulainya dari Kasthamandap, sebuah kuil tua seribuan tahun yang berada di sebelah barat daya Durbar Square yang tidak banyak dikunjungi wisatawan saat itu. Kayu-kayu tua yang menawan dengan dominasi warna merah ini menjadi saksi perjalanan waktu selama berabad-abad. Pemuja datang dan pergi, mempersembahkan bunga warna kuning yang dijual di pintu-pintu masuk, juga menjadi saksi atas puja dan puji yang dilantunkan. Pada tempat-tempat puja terlihat jelas titik-titik merah yang merupakan jejak jari pengabdian para pemujanya.

Bercerita atau melihat foto Kasthamandap, bagaikan pedang yang tersembunyi di sayap, kenyataan saya pernah menjejakkan kaki di bangunan cantik yang kini rata dengan tanah akibat gempa hebat April lalu itu, terasa melukai perlahan, terasa pedih diantara kenangan yang begitu indah.

Trailokya Mohan Narayan Temple

Pedang tak kasatmata yang tersembunyi di balik sayap itu kian menggores mengikuti gerak langkah saya menuju bangunan tinggi besar berpuncak tiga, yang saat itu mulai dipenuhi manusia dan bendera warna warni untuk persiapan perayaan untuk Sang Narayan. Cinta menyelimuti saya yang berteduh di dalam bayang kuil saat menikmati keindahan kuil favorit saya berusia lebih dari 3 abad ini. Berbagai panel mengenai inkanarsi Vishnu menghiasinya. Kuil ini terlihat begitu megah dan mencolok di Durbar Square yang lapang. Saya menyentuhnya, duduk di undakannya, ikut bernyanyi dalam bahagia bersamanya.

Walaupun berbagai pertanyaan tak percaya terlontar, tanpa tedeng aling-aling Cinta mencabut seakar-akarnya. Pedang tak kasatmata itu sekali lagi menebas kenangan indah saya di kuil Trailokya Mohan Narayan. Airmata yang jatuh pun tak akan mengembalikan kuil yang tak tampak lagi sekarang, sudah runtuh, hilang, musnah, meninggalkan undakannya yang tinggi. Salah satu icon Durbar Square yang tidak akan sama lagi.

3 Icons Durbar Square  in Memoriam: Trailokya Mohan Narayan - Maju Dega - Narayan temple
3 Icons Durbar Square in Memoriam: Trailokya Mohan Narayan – Maju Dega – Narayan temple

Dan rasanya ingin terbang kesana sekarang juga memeluk dan menemani Sang Garuda yang duduk bersimpuh di dekat kuil yang runtuh. Satu yang tetap anggun berdiri dari gempa April lalu. Satu penampakan yang tak biasa, Garuda yang dibentuk sangat indah itu tetap duduk tanpa ada lagi Kuil Narayan. Kesetiaan dan pengabdian berabad yang sempat saya saksikan, yang saya rasa dalam cinta, tertebas dalam sekejap.

Garuda, yang tetap setia
Garuda, yang tetap setia

Tetapi bukankah cinta cukup untuk Cinta? Bukankah itu tetesan darah sukarela penuh sukacita? Sebagaimana ia menebas, demikian pula ia menghadirkan. Hanya dalam hitungan langkah dari Garuda, berdiri anggun kuil Bimaleshwar yang terbuat dari batu, selamat dari gempa yang meluluhlantakkan Durbar Square. Bentuknya yang berkubah melengkung penuh dengan ornamen di pinggir atap dan bagian atas pilar-pilarnya, seakan menemani kesendirian Garuda. Yang sebelumnya berada di bawah bayang Trailokya Mohan Narayan yang megah, kini menjadi kawan setia baru Sang Garuda.

Bahkan Cinta pun menggoda saya. Tak jauh dari Sang Garuda, saat itu duduklah seorang sadhu yang ingin sekali saya potret, tetapi nampaknya sang sadhu dapat membaca pikiran saya. Dia menatap tajam seakan tak memperbolehkan saya mengambil fotonya. Sambil tersenyum saya paham artinya, momen yang tak boleh dimiliki. Saya melepas keinginan itu dan melanjutkan perjalanan. Sesederhana itu.

Kumari Ghar

Waktu berjalan terus, jalan Cinta di Durbar Square masih panjang. Cinta berbisik agar saya berbalik badan dan masuk melalui pintu di belakang saya berdiri. Ah, lagi-lagi ini adalah hadiah Cinta karena saya melangkah ke halaman Istana Dewi Kumari yang pintunya dijaga oleh dua patung singa yang besar. Di halaman istana ini, dengan berselimutkan Cinta saya bertukar pandang dengan Sang Dewi yang tampil di jendelanya. Sebuah kesempatan yang tak banyak didapat wisatawan. Kenangan yang membuat tetap merinding karena selimut Cinta itu seakan membalut seluruh istana Dewi Kumari, melindunginya dan memberinya kedamaian dari kehancuran gempa besar lalu.

Gaddi Baithak

Dari Kumari Ghar, Cinta membebaskan saya melihat-lihat lapak yang digelar para pedagang tetapi tak ada yang menarik hati. Saya kembali kearah Durbar Square dan melihat gedung modern bergaya Eropa yang kelihatannya merusak harmoni arsitektur sekitar yang padat dengan gaya tradisional Newari. Sempat terlintas pikiran absurd di benak saya, mengapa bukan gedung Gaddi Baithak ini yang runtuh saat gempa, mengapa harus kuil-kuil megah itu? Tetapi pada detik yang sama, Cinta memberi tanda untuk tidak menghakimi yang terjadi agar masa kini dapat terus memeluk masa lampau sekaligus merangkul masa depan dengan penuh kerinduan.

Durbar Square

Langkah kaki saya berhenti di tengah-tengah Durbar Square, menghadap tiga kuil yang berdiri dengan megah. Saya berdiri dengan diam dalam Cinta, terpukau dan merinding berada di tempat itu merasakan keagungan masa lalu. Bagaikan film berputar cepat, tempat ini penuh keluarbiasaan.

Di tengah Durbar Square yang tidak akan sama lagi
Di tengah Durbar Square yang tidak akan sama lagi

Dan… sekejap mata terasa panas menyadari ketidakhadiran ketiga kuil megah itu lagi. Yang tertinggal hanya undakan-undakannya saja. Durbar Square yang kini tidak akan pernah sama lagi walaupun saya tahu Cinta tetap hadir di sana dan selamanya.

Cinta juga yang menguatkan untuk tetap bisa melangkah menyusuri jalan-jalan penuh kenangan, melewatkan Kuil Saraswati, kuil Vishnu dan genta besar Taleju di sebelah kiri menuju monument UNESCO World Heritage yang didirikan untuk mengingatkan pengunjung bahwa kawasan ini terjaga oleh dunia internasional. Saya sejenak berhenti dan mengabadikan monumen itu.

Kemudian berbalik mengamati merpati-merpati yang memperebutkan makanan yang disebar oleh pengunjung. Kepak sayapnya langsung terbuka terbang terbirit-birit ketika anak-anak Nepali menghambur mengejar kerumunan merpati. Udara Durbar Square seketika riuh dengan kepak merpati yang diiringi senyum lebar dan tawa anak-anak yang tak henti berlari. Pengunjung yang melihat ikut tersenyum. Bahkan mungkin patung Pratap Malla yang duduk diatas tiang di pelataran itu pun ikut tersenyum. Kegembiraan yang selalu menghias Durbar Square.

Namun tak pernah lepas dari ingatan apa yang saya lihat di TV maupun Youtube, keriuhan kepak merpati yang terbang mendadak itu jugalah mengiringi gempa besar yang diikuti dengan suara teriakan manusia dan dentuman kuil-kuil megah yang runtuh serta debu yang langsung mengangkasa. Saya sungguh berharap masih ada bahagia dan senyum anak-anak yang mengejar kepak merpati itu sekarang di Durbar Square.

Kuil Taleju & Ujian Kesabaran

Jelang Kuil Taleju, saya berkesempatan mengabadikan sebagian arak-arakan perayaan yang melantunkan pujian Hare Krishna dan membawa bendera warna warni dari Kuil Trailokya Mohan Narayan. Bagaimana bisa saya melupakan perayaan pertama yang saya alami di Nepal dan saya begitu dekat dengan mereka?

Arak-arakan Perayaan
Arak-arakan Perayaan

Setelah peserta arak-arakan berlalu, saya kembali ingin memasuki kuil Taleju. Seorang penjaga menghadang saya untuk masuk karena kuil Taleju sedang dalam perbaikan. Ada sedikit penyesalan kuil indah itu tak bisa banyak saya abadikan kecuali gerbangnya. Bagaimana pun selalu ada hikmah terserak untuk saya. Bisa saja kali ini saya terkendala untuk sesuatu lain yang lebih indah.

Taleju Gate
Taleju Gate

Kegagalan saya untuk memasuki Kuil Taleju membuat saya rehat sejenak di sebuah kuil kecil. Saya duduk diam memperhatikan orang lalu lalang. Seorang pria mendekat membuka pembicaraan. Awalnya demi sebuah persahabatan antar Negara, saya menjawab dengan baik, walaupun akhirnya saya tahu dari gelagatnya akan berujung dimana. Uang! Ah, seandainya dia memahami bahwa saya tak pernah percaya pada orang seperti dia karena gayanya yang too good to be true dan terasa palsu ketulusannya. Selagi mendirikan benteng penolakan darinya, saya juga mengerti, Cinta juga yang mengirim dia sebagai hadiah. Bukankah hadiah bisa berupa ujian kesabaran?

Jagannath

Taleju pun ditinggalkan dan kali ini Cinta memberi kejutan atas rasa lelah saya menjelajah seharian. Seorang guide baik hati yang saya temui di Basantapur tiba-tiba lewat di depan saya, mengenali dan menyapa saya kembali, menyuruh saya mendatangi Kuil Jagannath yang tak jauh dari Kal Bhairab. Melihat wajah jenakanya sebelum ia menjauh, rasa lelah itu lenyap seketika. Saya percaya memang ada orang yang dikirim untuk menggembirakan orang lain, walaupun tidak kenal dekat, walaupun hanya melalui sebuah senyuman dan sapaan.

Jagannath Temple
Jagannath Temple

Saya mengikuti sarannya, setelah mengabadikan Kal Bhairab yang bermata besar dan mengintip Sweta Bhairab dibalik penutupnya, saya mendekati Kuil Jagannath. Ah, pantas saja wajah guide tadi mengekspresikan kejenakaan. Entah karena kasihan melihat kelelahan saya tanpa teman, atau sekedar jahil, sehingga ia menyarankan saya ke kuil ini. Di bagian atas dari kuil, sangat jelas terukir adegan-adegan kamasutra yang membuat saya menjadi sangat manusiawi, mau lihat tapi malu. Dan rasa lelah itu benar-benar telah hilang, yang tertinggal hanyalah keterpanaan dan kekaguman. Saya belajar mempercayai bahwa di tempat-tempat melantunkan puja dan puji yang sakral, gambaran kamasutra pun merupakan bagian kehidupan normal yang harus bisa diterima. Hadiah Cinta selalu penuh kejutan.

Kegembiraan saya mencuat kembali, setelahnya langkah kaki terasa ringan menuju Kuil Shiva Parvati yang tak jauh dari Narayan Temple yang kini sudah runtuh, untuk kemudian perlahan saya melambaikan tangan kepada kawasan Durbar Square. Jalan Cinta di Durbar Square sudah saya susuri dan tak akan pernah bisa terlupakan. Karena Apabila cinta memanggilmu ikutilah dia, walau jalannya terjal berliku-liku…

Nepal 6 Bulan Lalu, Nepal Kini, Tetap Di Hati


Akhir pekan lalu adalah pertama kalinya saya kembali menulis mengenai Nepal setelah gempa dahsyat meluluhlantakkan negeri indah itu tiga minggu lalu, dan lagi, seminggu lalu. Gamang sekali memulai sesuatu dari sebuah kehancuran, tetapi saya percaya ada saat untuk bangkit, apapun rasanya. Ini adalah waktunya.

Sebelumnya saya tak bisa menyentuh tulisan yang belum selesai, apalagi melanjutkannya. Bahkan tak mampu menyentuh buku perjalanan Nepal tanpa airmata yang deras mengalir. Bisa jadi saya terlalu emosional, tetapi itulah yang dirasakan, rasa yang persis sama, dengan hati yang sama, ketika berada di Nepal enam bulan lalu.

Sebelum akhir pekan lalu, raga saya berada di sini, di dunia nyata, tetapi hati dan pikiran saya berada jauh di sudut-sudut Lembah Kathmandu yang magis yang kini luluh lantak dan hati saya pun seperti terkubur didalamnya, terpana tak percaya akan peristiwa tercabutnya sebuah cinta, seakar-akarnya. Meninggalkan lubang hampa. Kosong. Musnah.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Saya bertanya-tanya kepada diri sendiri, pembelajaran apa yang sedang diberikan untuk saya dengan peristiwa ini. Karena saya percaya, sebuah peristiwa yang memiliki makna bagi banyak orang diturunkan untuk menjadi pembelajaran bagi dunia, bagi banyak orang juga bagi orang-orang yang terkait di dalamnya dari sudut-sudut personalnya yang mungkin sangat pribadi. Termasuk saya.

Tetapi Tuhan selalu baik, memberi saya ruang dan waktu untuk menangis sedih, untuk tak percaya akan peristiwa itu, untuk menjadi manusia dengan segala keterbatasannya, untuk merasa boleh mempertanyakanNya. Dan Dia, selalu menjadi tempat tumpuan dari segala ketakpastian, selalu menjadi the solid ground, yang dengan sabar menunggu saya sampai saatnya tiba. Di saat terendah ketika tak ada jalan lain lagi selain jalan naik. Waktunya bangkit. Saat rebound.

Malam-malam duka penuh airmata, ketika kali pertama mendengar bencana itu, ketika angka kematian terus merangkak naik melampaui angka 8000-an orang dan terus bertambah lagi untuk gempa besar yang kedua, ketika melihat detik-detik luluh lantaknya bangunan-bangunan bersejarah itu, ketika mendengar longsor di perbukitan menelan banyak penginapan dan rumah-rumah beserta penghuni di dalamnya, ketika mendengar avalanche di pegunungan Himalaya itu mengubur para pendaki dan trekkers…

Dan semua yang mengharubiru itu tak begitu saja terbentuk. Enam bulan lalu selama saya menghirup udara Nepal, begitu banyak airmata tumpah karena rasa syukur atas semua keberkahan yang melimpah tak putus-putus. Membuat ikatan kuat dengan Nepal, yang mungkin makin memperkuat ikatan yang tak sadar telah terukir indah di hati berpuluh tahun sebelumnya.

Dan ribuan orang yang tak terselamatkan itu adalah bagian dari orang-orang yang saya lihat dalam keseharian di sana, yang penuh senyum, yang masih hidup dalam tradisinya, yang mencoba bertahan dalam kerasnya hidup. Mereka, yang tak terselamatkan itu, mungkin pernah bertemu saya dalam persimpangan hidup di Thamel, atau di Bhaktapur, atau di Lalitpur, atau di Kathmandu, di Nagarkot atau selama perjalanan saya di Nepal. Mereka, yang bisa jadi hanya berbilang beberapa senti dari keberadaan kita, yang tidak pernah kita sadari, yang tidak pernah kita ketahui, seandainya saja waktu dapat diputar kembali.

Dan semua airmata tumpah itu karena ikatan yang sangat dalam dengan apa yang menjadi kekuatan Nepal. Salah satu alasan saya datang ke Nepal adalah untuk mengagumi bangunan-bangunan bersejarah yang termasuk dalam World Heritage Sites itu. Dan ketika saya berada di sana, enam bulan lalu, saya masuk ke dalamnya, menyentuhnya langsung, mengelilinginya, mengamati semua mahakarya itu seakan waktu berhenti bersama saya, bahkan saya duduk di bawahnya, terlibat dalam keriuhan festival yang terjadi hari itu. Saya tak akan pernah lupa saat saya duduk di dekatnya, mengambil foto dengan segala cara untuk mendapat sudut terbaik, menunggu sampai sepi. Saya tak pernah lupa saat saya tersenyum sendiri karena tak menemukan ukiran erotis kamasutra yang biasa ditampilkan pada panel atau langit-langitnya, saya tak pernah lupa ketika saya duduk nyaman untuk rehat dari terik matahari dan pegalnya kaki menyaksikan banyak orang lalu lalang tak henti. Saya juga tak pernah lupa ketika seorang freelance guide yang baik hati, seorang Nepali pengagum Soekarno, meminta saya berpose dan dia mengambil foto untuk kamera saya, hanya karena saya sedang berjalan sendiri. Katanya, semua orang harus berbahagia dan punya kenangan manis saat berada di Nepal.

Dan bagaimana hati saya tak langsung luluh lantak ketika mendengar bangunan-bangunan besar di Durbar Square itu runtuh. Tak ada lagi Trilokya Mohan Narayan dan Maju Dega. Dan ketika saya dengar kerusakan besar juga terjadi di Changu Narayan, tempat saya mendapatkan keberuntungan yang tak biasa, airmata saya tak henti mengalir. Tak ada lagi Laksmi Temple yang di sudut, tak ada lagi bangunan-bangunan penyangga yang kala itu penuh lautan manusia dan bunga, bahkan Kuil utama Narayana temple telah rusak berat disudut-sudutnya yang sangat riskan pada guncangan gempa besar lanjutan. Di Lalitpur atau Patan, tak ada lagi Hari Shankar Temple, tak ada lagi kuil yang penuh ukiran kuno ratusan tahun itu. Semua lenyap. Semua yang telah saya sentuh, semua yang saya datangi dan saya cintai dengan sepenuh hati, semua tempat hati saya tertambat itu, sudah lenyap rata dengan tanah, musnah.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Bangunan-bangunan itu konon dibangun atas dasar cinta, atas dasar ibadah, atas dasar komitmen, rasa ikhlas dan dijaga dengan sepenuh jiwa sejak ratusan tahun lalu. Didatangi dan dipelihara, doa-doa dan puji-pujian dilantunkan didalamnya, sejak ratusan tahun lamanya. Dan kini musnah. Nilai dan makna sejatinya, hilang musnah dalam sekian menit getaran lapisan kulit bumi, meninggalkan tumpukan batu usang berdebu.

Dan tidak hanya itu keterikatan saya dengan Nepal yang saya tinggalkan enam bulan lalu. Pegunungan Mahabharat Range yang menjadi pagar dari barisan pegunungan dibaliknya, turut bergetar beresonansi mengakibatkan longsor yang meruntuhkan rumah-rumah yang dibangun di lerengnya. Rumah-rumah di pegunungan yang menjadi saksi keindahan matahari yang terbit dan terbenam berbalut kabut. Rumah-rumah yang menjadi saksi akan halimun menyelimuti lembah setiap pagi. Dan rumah itu ikut bergoyang dan terkubur, bersama penghuninya. Dan saya pernah berada dalam salah satu rumah yang berada di pegunungan itu. Merasakan harus mendakinya dan menuruninya, merasakan dan menyaksikan halimun yang menyelimuti lembahnya, memandang keajaiban matahari terbit berlantai hamparan kabut dan kini banyak rumah itu runtuh terkubur dalam hening, membawa hati saya terhanyut di dalamnya.

Lalu tak berhenti disitu, pegunungan berselimut salju itu, Sang Himalaya yang gagah, tak ayal ikut bergerak meruntuhkan salju yang telah tertimbun ribuan tahun, mengubur langsung pendaki dan trekkers, yang datang mencari keindahan dan keanggunannya maupun yang mencari uang karenanya. Menyatukannya kedalam ketakberdayaan manusia. Pasrah pada alam yang bergetar menyesuaikan keseimbangan baru. Saya yang enam bulan lalu, melihat sendiri keindahan salju abadi yang menutupi puncak-puncak Himalaya, yang melihat keindahan salju di Langtang, di Khumbu, di Sagarmatha. Puncak-puncak yang sama, yang seandainya bisa bicara, mungkin lebih memilih untuk menyatukan para pendaki dan trekkers dalam keabadian cinta bersamanya. Puncak-puncak Himalaya yang sama yang saya lihat dalam baluran airmata bahagia, karena pada akhirnya saya bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri. Sang Himalaya yang juga tak mampu berbuat lain kecuali mengikuti hukum alamNya.

Dan lagi, seminggu lalu, gempa baru dengan kekuatan besar terjadi lagi. Yang sebelumnya telah ringkih, kini hancur. Gempa lanjutan ataupun gempa baru yang biasa mengikuti gempa-gempa besar memang terus terjadi, setiap hari, setiap saat, dari skala 4, 5 atau 6 dan bahkan 7. Dan ketika gempa baru dengan skala tinggi itu terulang lagi, saya menutup mata yang telah berair, bergetar meminta Wahai Engkau Yang Maha Perkasa, bolehkah saya memohon Kasih Sayang dan KelemahlembutanMu terhadap alam dan semua makhluk yang berada di Nepal?

Saya hanya bisa jatuh terduduk, tersungkur dan menangis. Tak lagi berdaya. Hanya MilikMu…

Hening.

Dan sampailah saat untuk mengakui pada diri sendiri, bahwa ikatan dengan Nepal ini sangat kuat, luar biasa kuat. Saya mencintai Nepal dengan segala yang ada padanya, dengan segala yang saya alami di dalamnya. Dan berlebihan.

Kemudian bagaikan sebuah kilat yang datang di tengah awan badai, seperti itu pula saya disadarkan. Cepat, sekilas dan terang. To the point. Tak ada yang abadi di dunia ini dan tak boleh ada yang ‘terlalu’.

Sejentik itu pulalah yang membukakan mata dan menyembuhkan luka. Seberkas cahaya yang menguatkan dan membangkitkan. Tak hanya sekali ini saya mendapat pembelajaran yang sangat berharga, yang sangat menorehkan rasa. Pembelajaran yang maknanya saya dapat setelah selesai masa berjalan disana .

Cinta itu tak melekatkan. Cinta itu membebaskan. Cinta itu membawa kebaikan.

Sedalam apapun cinta saya kepada bangunan-bangunan bersejarah, saya harus melepaskannya dalam keruntuhan, melepas nilai berharganya menjadi milik keabadian. Sedalam apapun cinta saya kepada penduduk Nepal dengan segala tradisi yang dilakukannya dalam keseharian, saya harus serahkan kepada Yang Maha Mengatur. Apapun yang terjadi menjadi bagian dari Rencana IndahNya. Sedalam apapun cinta saya terhadap alam pegunungan yang indah, terhadap barisan pegunungan berpuncak salju, tetaplah saya harus melepaskannya dalam kuasa yang telah ditentukan. Untuk selalu menjadi lebih baik, dan karena masih banyak yang lebih baik

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dan sebagaimana sebuah cinta yang membebaskan, apapun yang terjadi, enam bulan lalu ataupun kini, semua itu menjadi sebuah kenangan yang indah, kenangan yang selalu manis, yang terpatri dalam sebuah ruang khusus di dalam hati bernama Nepal.

Yang bisa saya kunjungi kapan saja, turut mempercantiknya tanpa perlu terlekat padanya.

Dan saya pun diminta untuk melanjutkan perjalanan…

*

Baca di sini Rangkuman dan Seri perjalanan di Nepal

Saingan Saya Laki-laki…


Heegh???
Ya memang, kata-kata itu terucap keluar dari bibir sobat saya dalam kesempatan makan siang beberapa waktu lalu. Walaupun setelah 10 tahun tidak bertemu, saya  mengetahui bahwa apa yang disampaikan itu bukanlah berita bohong.  Saingannya laki-laki!

Ini bukan masalah emansipasi yang diperjuangkan  para aktivis, juga bukan mengenai perjuangan di tempat kerja untuk mendapatkan jabatan atau posisi yang lebih menjanjikan. Bukannya ingin melakukan penghakiman dan differensiasi, ini adalah sebuah cerita dari hati seorang anak manusia mengenai kehidupan pasangannya yang tidak sejalan dengan yang umum terjadi  bagi manusia hidup di dunia ini, bahwa jika dia perempuan, maka pasangannya adalah laki-laki. Juga sebaliknya, bila dia laki-laki maka pasangannya adalah perempuan…

Lanjutkan membaca “Saingan Saya Laki-laki…”