Pinus, Menenteramkan, Mengenangkan


Rasanya satu-satunya keharuman yang berakar kuat dalam pikiran saya adalah harumnya pinus. Bisa jadi karena sejak kecil, saya sering diajak pergi ke Bandung, ke Gunung Tangkuban Perahu dan berhenti sejenak di pinggir jalan sekitar Cikole, tempat dimana hutan pinus tumbuh di kanan kiri jalan. Kebiasaan sejak kecil untuk berhenti sejenak di pinggir jalan, ternyata diturunkan juga kepada anak-anak saya. Hanya untuk sejenak melapangkan pernafasan dengan wangi pinus yang sangat khas.

hutan pinus cikole
Pine trees near Bandung

Bagi saya pribadi, wangi pinus itu menenteramkan, hijau daunnya menenangkan hati, rasanya damai berada di tengah hutan pinus. Wanginya khas dan kadang ‘musik alam’ dari hutan pinus itu terasa seperti mendayu-dayu, gesekan puncak-puncaknya yang terbawa angin seperti mengajak berdansa dengan irama alam.

Harum pinus juga membawa kenangan, karena setiap berada di sana, saya senantiasa teringat almarhum ayah yang pertama kali memperkenalkan wangi pinus ke hidung saya. Dan kini, dimanapun ada pinus dengan keharumannya yang khas itu, rasanya seperti diselimuti kedamaian sekaligus kerinduan terhadap almarhum Papa.

Tidak heran, minyak pinus itu (pine oil) itu memang salah satu minyak atsiri (essential oil) yang produksinya terbanyak di dunia, karena diakui mampu memberikan rasa nyaman dan damai dalam berbagai situasi. Sebagai minyak aromatik, di tempat aslinya Pine oil sudah dikenal lama dalam pengobatan tradisional ayurveda untuk mengatasi stress.

Kesempatan untuk mengendalikan stress juga saya ambil ketika mampir sejenak ke hutan pinus Pengger di kawasan Bantul, Jogjakarta, setelah menengok keponakan yang selesai operasi skoliosis (tulang belakang belakang yang bengkok). Situasi harap-harap cemas akan keberhasilan operasi besar itu, dan ditambah si ponakan itu belum lama ditinggal ibunya karena kanker otak, terasa cukup menekan perasaan. Karenanya sang suami berkenan mengantar saya mampir sejenak ke tempat yang dia tahu saya menyukainya. Saya berdiri sedikit di atas ketinggian, dalam hening. Membiarkan harumnya melapangkan jalan napas dan menenteramkan. Pikiran yang saat itu tertambat di rumah sakit, perlahan pergi melayang. Saya tahu dia akan baik-baik saja…

Jenis pohon yang sama, harum yang sama, yang mengingatkan saya saat beristirahat dari tanjakan-tanjakan terjal menjelang desa Namche Bazaar di kawasan Everest, Nepal. Meskipun lelah, saya seakan mendapat energi tambahan berada di dalam rangkulan hutan pinus itu. Menatap batang pohonnya yang menjulang, mendengarkan musik alam dari desir puncaknya yang tertiup angin. Mereka seakan berbaris menjadi pintu-pintu, membukakan jalan ke kehidupan baru yang menjanjikan. Harumnya yang menyegarkan membuat saya kembali berdiri dan melanjutkan perjalanan. Saya melihat ke atas, puncaknya melenting ke kiri dan ke kanan. Tetap kuat dan tangguh meskipun digoyang angin. Siapa sangka tak jauh dari sana, masih di antara batang-batang langsing yang tinggi itu memberikan pemandangan penuh janji akan keindahan Gunung Everest yang tertinggi di dunia?

Intimnya saya dengan pohon pinus kembali terjadi saat silaturahmi dengan keluarga besar yang dilakukan di Bandung Utara. Setelah acara selesai, esok paginya saya berjalan kaki sendiri ke arah lapangan golf. Seperti doggie, berdasarkan kekuatan hidung, saya berjalan menuju harumnya pinus yang khas itu dan berlama-lama berdiri di bawahnya. Membiarkan harumnya menyebar melalui hidung ke seluruh sel dalam tubuh.

Harumnya yang dikenal sejak kecil ternyata menjejak lama dalam diri, tak pernah lupa akan rasanya yang menenangkan, menenteramkan dan mengenangkan semua cinta…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-41 ini bertema The Scent agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…