Pintu Gebyok Yang Tertutup


Lebaran tahun lalu, saya sempat menginap di sebuah resort bernama Sumber Watu Heritage, di Kecamatan Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat yang mungkin lebih dikenal orang sebagai tempat makan dengan nama Abhaya Giri itu memang cukup menguras kantong, namun worth it karena bisa memiliki akses ke seluruh tempat seharian termasuk saat sunset, ketika malam, ketika sunrise dan ketika pagi hari, yang semuanya agak susah didapat jika kita hanya berkunjung ke restoran untuk makan.

Saat jalan pagi, saya berhenti di pendopo utama yang berbentuk rumah joglo. Di dalamnya di sisi selatan terhampar sebuah gebyok yang panjangnya sekitar 8 meter. Langsung saja saya teringat jaman dulu saat mencari dekorasi pelaminan untuk pernikahan saya dan suami. Semakin panjang dan semakin bagus gebyoknya artinya semakin mahal padahal budget kami sangat terbatas.

The GebyokNotice the old style of the tiles, the jars and Loro Blonyo

Saya memutar pandangan seantero rumah joglo itu. Sepertinya area ini biasa menjadi area pelaminan dengan para tamu undangan yang hadir akan menempati kursi-kursi yang melingkari meja yang tersebar di satu level di bawahnya untuk makan. Entah kenapa, berdiri di situ seakan-akan saya mendengar tabuhan Kebo Giro, musik pengiring pernikahan adat Jawa.

Tapi bukan bayangan pernikahan yang ada di benak saya, melainkan gebyok yang panjang itu. Meskipun di dalam saya mengalir darah Jawa, saya tak pernah membayangkan memiliki sebuah gebyok di dalam rumah. Mungkin saya orang Jawa yang tersesat 🙂 atau bisa jadi saya terlalu malas untuk membersihkan ukiran-ukiran yang rumit itu sehingga tidak terbayang punya gebyok di rumah.

Main Hall (Pendopo) with A Gebyok on the Southern side Night View

Gebyok, sejauh pengetahuan saya, sebenarnya merupakan sebuah partisi penyekat ruangan yang amat tradisional namun klasik. Umumnya terbuat dari kayu jati pilihan. Meskipun awalnya berupa partisi ruangan, di jaman modern ini tak jarang kita melihat pintu gebyok yang dipasang di depan rumah sebagai pintu masuk, bahkan bisa dikombinasi dalam rumah dengan gaya minimalis. Duh, membayangkannya saja sudah ruwet dan terasa “berat”

Gebyok yang saya lihat di Pendopo Abhaya Giri ini memiliki ukiran yang amat rumit di bagian atas, termasuk di atas pintu. Pintunya sendiri tidak penuh dengan ukiran kecuali singkatan nama resort yang dibuat di bagian tengah. Saya bertanya-tanya dalam hati apakah orang dulu juga menuliskan singkatan namanya pada pintu gebyok mengingat tidak semua orang bisa memiliki gebyok di rumahnya. Karena tanpa namapun mungkin masyarakat sudah mengenalnya karena gebyok hanya mampu dimiliki oleh orang-orang yang berpenghasilan tinggi dan orang yang terpandang di masyarakat. Mungkin memiliki gebyok di rumah merupakan sebuah prestise tersendiri.

The doors of A Gebyok

Tetapi gebyok yang penuh ukiran ini tidak hanya sekedar penyangga rumah, melainkan memiliki makna spiritual yang dalam bagi pemilik rumah. Konon ukiran-ukiran itu dibuat selaras dengan filosofi tradisional Jawa yang amat dalam tentang cara manusia menyikapi kehidupannya (Sangkan Paraning Dumadi, yang kira-kira berarti dari mana manusia itu berasal dan kemana ia kembali). Hidup itu memiliki tujuan akhir, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian dalam menjalani kehidupan manusia perlu memegang nilai-nilai luhur ketuhanan.

Namun, pagi itu sungguh saya hanya bisa menduga-duga benang merah antara ukiran pada gebyok dan “makna dalam” dari Sangkan Paraning Dumadi, Apapun itu, saya hanya menggunakan rasa untuk menikmati keindahan gebyok itu, karena memang indah sekali! Seperti ada harmoni didalamnya.

Ukiran yang saya lihat memang cukup mengesankan dan menunjukkan tingkat kemahiran pembuatnya. Bersulur-sulur, ada bentuk seperti buah nanas, bunga-bunga dan dedaunan dengan handle pintu berbentuk ring. Dan bentuk utama di atas pintu yang amat cantik.

Tetapi semakin lama memperhatikan ukiran gebyok, saya mulai terasa mules membayangkan cara perawatan gebyok. Saya bukan tipe orang yang telatan membersihkan ukiran yang meliuk-liuk sampai ke bagian-bagian yang paling dalam dan paling rumit. Rasanya orang-orang dengan ketekunan, ketelitian, kecintaan tinggi yang bisa merawat gebyok. Karena pasti tidak hanya pakai kemoceng saja, mungkin perlu pakai kain khusus atau kuas-kuas kecil. Apalagi kalau daerahnya berdebu ya… Duh, saya langsung terpikir pakai jasa kebersihan online saja, kalau punya…

Saya harus melangkah mundur agak jauh dari gebyok agar dapat mengambil fotonya secara utuh. Saya suka dengan lantai yang membawa saya ke jaman dulu. Juga ada sepasang Loro Blonyo di kanan kiri pintu serta gentong kuning yang terletak lebih dekat ke pintu. Melihatnya secara utuh dari kiri ke kanan, simetri pada pintu gebyok, sesungguhnya kreasi seni di depan mata saya ini merupakan sebuah masterpiece dari sebuah perjalanan waktu yang menggabungkan budaya, agama, tradisi yang sudah sewajarnya kita jaga kelestariannya.

The closed doors of The Gebyok

Sesaat sebelum meninggalkan ruang, entah mengapa saya merasa ada sesuatu yang mengganjal, seperti ada sesuatu yang terlupakan. Saya diam sesaat lalu mata ini tertumbuk pada pintu gebyok yang tertutup. Rasanya seperti ada kilat yang menyambar ketika tersadarkan, mengapa gebyok kebanyakan ditampilkan dengan pintu yang tertutup?

Tak jadi melangkah pergi, saya malah merenungkan sesaat pikiran yang melintas itu. Pintu yang tertutup, bukan berarti tidak bisa dibuka, karena ada handlenya yang berupa dua ring bulat itu. Jika di dalam sebuah gebyok mengandung makna tentang kehidupan, bisa jadi pintu itu juga memiliki simbol-simbolnya.

Berada di depan pintu yang tertutup, -yang berupa simbol-, kita tak pernah tahu situasinya. Bukankah kita melangkah menuju ke depan pintu ini? Tetapi kita tak pernah tahu sebuah pintu itu terkunci atau tidak, jika kita tidak berusaha mengetahuinya. Kita hanya perlu satu tindakan. Memulainya.

Berusaha mengetahuinya.

Mengetuk dahulu, lalu menyampaikan niat yang baik untuk mendapatkan aksesnya.

Karena berupa simbol dan jika pintu itu tidak terkunci, kita hanya perlu mendorongnya, atau mungkin menariknya. Kehidupan telah membawa kita sampai ke depan pintu ini, mungkin memang pintu itu harus dilalui oleh kita. Itu kemungkinan pertama.

Kemungkinan kedua, setelah kita berusaha mendorong atau menariknya tetapi pintu tidak juga terbuka, bisa jadi pintu itu terkunci. Dan mungkin saja kita telah memiliki kuncinya yang didapat dari perjalanan kehidupan menuju ke depan pintu ini. Karena, jika memang kehidupan membawa kita harus melalui pintu ini, maka kunci yang dimiliki adalah kunci yang tepat untuk pintu ini. Dan kita hanya perlu menggunakan kunci untuk membuka pintu, hanya dengan sedikit usaha.

Yang terakhir, jika pintu terkunci dan kita sama sekali tidak memiliki kuncinya selama perjalanan hidup kita sampai ke pintu, bisa jadi kehidupan kita memang tidak akan pernah melewati pintu ini dengan begitu banyak alasan di baliknya. Bisa jadi yang ada di baliknya tidak membaikkan kehidupan kita. Pintu ini bukan untuk kita lalui. Sebuah pesan yang amat berharga untuk dimengerti sepenuhnya.

Karenanya, untuk apa berlama-lama berdiri di depannya? Selain tidak menghargai waktu kehidupan, bisa jadi kita diminta melihat arah lain yang membukakan hal-hal yang baik buat kehidupan kita. Tuhan selalu berbuat baik untuk kita, menunjukkan dan membukakan jalan terbaik untuk kita, lalu mengapa kita tetap bertahan di depan pintu tertutup? Begitu sering kita bersikukuh pada keinginan kita yang sebenarnya tidak membawa kebaikan, dan mengabaikan jalan yang lebih baik yang telah dibukakan untuk kita.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-24 bertema Doors agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu

Menyaksikan Lantern Festival di Cheonggye-Cheon Stream, Seoul


Masih merupakan lanjutan cerita perjalanan saya di Korea…

Meninggalkan lapangan tempat Monumen Raja Sejong Yang Agung yang tak jauh dari Gerbang Gwanghwamun berada, saya berjalan kaki perlahan mengikuti kerumunan orang-orang menembus dinginnya malam musim gugur di Seoul. Secara geografis karena terletak lebih utara, Seoul lebih dingin daripada Busan, sehingga saya memasukkan tangan lebih dalam ke saku jaket. Monumen Admiral Yu Sun Shin terlewati sudah, namun saya masih meneruskan langkah. Terlihat banyak sekali kerumunan orang di depan. Pasti ada sesuatu yang menarik di sana! Dan benarlah, Ternyata ada Seoul Annual Lantern Festival sedang berlangsung di Cheonggye-Cheon Stream. Wah, betapa beruntungnya saya! Cheonggye-Cheon Stream saja sudah menjadi tempat yang harus dikunjungi di Seoul, apalagi ditambah dengan adanya Seoul Annual Lantern Festival !

The Welcoming Blue Waterfall
The Welcoming Blue Waterfall

Cheonggye-Cheon Stream, sebuah tempat yang saya impikan untuk dimiliki di kota saya di negeri sendiri yang entah kapan bisa terealisasi. Tetapi memang saya benar-benar iri setengah mati dengan warga Seoul karena mereka memiliki Cheonggye-Cheon Stream. Dan bagi saya sendiri, Cheonggye-Cheon Stream merupakan bentuk komitmen antara pemerintah dan masyarakat Seoul yang mengedepankan budaya kesehariannya dan kepatuhan terhadap peraturan serta lingkungan ekologisnya. Hal ini yang membuat Cheonggye-Cheon menjadi tempat khas yang harus dikunjungi di Seoul. Banyak kota di dunia ini yang memiliki tower tinggi, gedung pencakar langit yang semakin tinggi menembus awan, kebun yang indah, mall yang besar dan luas, museum yang menarik, tempat-tempat ibadah yang berlapis emas, dan lain lain, namun hanya sedikit kota yang memiliki Stream yang menyenangkan untuk dijadikan tempat berjalan kaki. Cheonggye-Cheon di Seoul adalah salah satunya.

Sebenarnya Cheonggye-Cheon Stream merupakan anak sungai kecil yang mengalir dari Barat ke Timur sepanjang 8km di pusat kota Seoul. Pada jaman dulu, Cheonggye-Cheon Stream yang dibangun oleh raja-raja dari dinasti Joseon merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat sehari-hari di kota lama Seoul. Kemudian dengan berjalannya waktu terutama setelah Perang Korea di pertengahan abad 20, air sungai ini sudah tercemar sedemikian rupa karena rumah-rumah kumuh semakin banyak berdiri di sepanjang anak sungai ini sehingga di bawah kepemimpinan Presiden Park Chung-hee di tahun 1958, pemerintah memilih untuk menutupnya dan menyembunyikannya di bawah jalan raya dan kemudian diteruskan dengan pembangunan jalan bertingkat di atas jalan yang sudah ada yang selesai dibangun pada tahun 1976. Sejak itu Cheonggye-Cheon semakin hilang dari ingatan.

Cheonggye-Cheon Stream once was covered
Cheonggye-Cheon Stream once was covered

Dan sebuah ide yang sangat brillian dari walikota Seoul, Lee Myung-bak, untuk menatanya kembali, membongkar semua beton-beton yang menutupnya dan memperlihatkan aliran anak sungai ini ke permukaan dan mempercantik lingkungan sekitarnya, hingga kembali menjadi bagian tak terpisahkan dari kota Seoul yang modern. Sebuah pekerjaan restorasi yang terlihat ‘gila dan tak masuk akal’ serta juga mendapat pertentangan luar biasa dari masyarakat lokal karena mahal biayanya ini, dimulai tahun 2003 hingga 2005 dan mencakup wilayah Cheonggye-cheon Plaza di Taepyeong-no hingga ke Jungnang-cheon. Tetapi akhirnya sesuatu yang ‘gila’ ini mendapat pujian termasuk dari masyarakat internasional karena Cheonggye-Cheon Stream yang ada di pusat kota Seoul ini menjadi contoh landmark kota yang ramah lingkungan. Bisa dibilang, belum ke Seoul apabila belum menginjakkan kaki ke Cheonggye-Cheon Stream. Berlebihan? Percaya deh… tempat itu memang luar biasa asyik.

The Stepping steps in Cheonggye Cheon Stream
The Stepping steps in Cheonggye Cheon Stream

Romance along the Cheonggye Cheon Stream
Romance along the Cheonggye Cheon Stream

Uniknya tempat ini, di sepanjang lebih dari lima kilometer dari penataan aliran sungai ini situs-situs bernilai sejarah, jembatan batu tua, jembatan-jembatan baru untuk kendaraan dan jembatan-jembatan baru untuk pejalan kaki baru, air mancur dan hal-hal lain yang menarik, direkonstruksi kembali, dibangun kembali dan sengaja dipindahkan untuk menarik perhatian. Cheonggye-Cheon Stream menjadi sebuah tempat rekreasi, untuk melihat dan membayangkan wilayah historis tempat mencuci pakaian para penduduk Seoul pada jaman dulu, atau sisa-sisa beton dari jalan raya yang pernah menyembunyikan aliran anak sungai ini, atau sejumlah mural sejarah yang menghias dinding-dindingnya, dan masih banyak lagi hal-hal yang diciptakan atau dipindahkan untuk memperkuat kesan sebagai icon pariwisata di Seoul. Tetapi tentu saja yang mungkin paling terkenal adalah jembatan besar dari batu yang bersejarah dengan arsitektur yang cantik, Gwangtonggyo dan Supyogyo. Meskipun tidak lagi berada di lokasi semula, jembatan pedestrian historis yang lebar ini, yang terkenal dengan nama Gwangtonggyo ini, tetap mampu menciptakan imajinasi betapa anggunnya kaum bangsawan yang sedang melalui jembatan ini pada masanya. Juga jembatan Supyogyo, yang memiliki kekhasan tersendiri karena tepat di dekatnya didirikan sebuah pengukur ketinggian muka air sebagai pengendali banjir pada masa itu.

The delicate carving stone under the bridge of Cheonggye-Cheon Stream
The delicate carving stone under the bridge of Cheonggye-Cheon Stream

Dan saya menikmati mengikuti langkah kaki menyusuri Cheonggye-Cheon Stream malam itu sambil membayangkan kondisinya pada jaman dahulu dan tentu saja menikmati Festival Lampion di Seoul yang sedang berlangsung, sambil kadang tersenyum sendiri melihat pasangan-pasangan berduaan menikmati kemudaannya tanpa menghiraukan gerimis kecil dan udara dingin Seoul.

Air terjun yang indah berwarna biru mengawali langkah kaki saya menyusuri aliran air yang dingin itu. Kemudian dilanjutkan mengenai berbagai seni budaya dan sejarah Raja-raja Korea terutama Masa Kejayaan Periode Baekje, sesuai tema tahun 2013. Walaupun tidak semua orang memahami sejarah dan budaya Korea Selatan, semua yang ditampilkan lampion-lampion itu mampu memanjakan mata. Dimulai dari Prajurit Baekje yang diikuti elang, hewan yang berpengaruh semasa Periode Baekje. Juga digambarkan bagaimana King Goi memulai sistem ranking dan warna seragam dalam kehidupan istana, dan pengembangan ketrampilan pengolahan metal hingga seni grafis yang bersumber dari kepercayaan Buddha serta ketrampilan pengembangan armada maritim.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Berbagai kissah diungkapkan pada lampion-lampion itu. Ada kissah mengharukan dari Raja Danjong, sebagai raja ke enam dari Dinasti Joseon yang diangkat pada usia 12 tahun, namun harus menerima kenyataan pahit karena digulingkan dari tahtanya oleh Pamannya sendiri, Suyang Daegun. Akhirnya, Raja Danjong dan permaisurinya, Ratu Jeongsun, dipertemukan kembali secara cantik dalam Festival Lampion Seoul, 555 tahun setelah pengasingan dan kematiannya di Yeongwoi. Mengharukan sekali!

King Danjong, who was dethroned, and Queen Jeongsun are reunited here
King Danjong, who was dethroned, and Queen Jeongsun are reunited here

Military officer who guarded King Danjong in exile in Yeongwol
Military officer who guarded King Danjong in exile in Yeongwol

Saya juga tertarik pada lampion yang disebut dengan Chiljido, yaitu sebuah lampion yang dibentuk seperti pedang unik bercabang enam yang kini menjadi Kekayaan Nasional Jepang dan sekarang ini disimpan di Isonokami Shrine. Sebuah tulisan yang menghiasi tubuh pedang itu, –Pangeran dari Baekje mengirim pedang ini ke Jepang dan berharap pedang ini tetap bisa diwariskan kepada generasi-generasi yang akan datang–, membuat saya berpikir, sebuah persahabatan yang bervisi jauh ke depan dan bermakna dalam. Mampukah generasi sekarang meneruskan harapan Pangeran Baekje itu?

The unique 6 branches sword, now kept in Isonokami Shrine, Japan
The unique 6 branches sword, now kept in Isonokami Shrine, Japan

Persahabatan dengan Jepang juga digambarkan dengan kedatangan Wangin, seorang yang berilmu dari Baekje yang berbagi pengetahuan mengenai etika dan moral, termasuk kepercayaan Confusianisme dan ketrampilan ukiran.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Satu hal yang digambarkan dalam lampion sebagai pembelajaran adalah kehancuran sebuah periode hanya karena permainan. Raja Gaero yang merupakan Raja Baekje ke 21 menyukai permainan Go. Dorim, seorang pendeta Buddha dari Kerajaan Goguryeo, memenangkan permainan Go melawan Raja Gaero dengan imbalan pembangunan gedung-gedung dan istana mewah yang justru menghancurkan ekonomi Baekje sampai ke dasar-dasarnya. Semua kehancuran itu hanya berasal dari sebuah permainan yang bersifat judi.

King Gaero and the Buddhist monk Dorim playing Go to end of Baekje history
King Gaero and the Buddhist monk Dorim playing Go to end of Baekje history

Korea yang terkenal dengan makam-makam Raja yang mewah, juga digambarkan dalam festival lampion ini, termasuk semua barang yang ditemukan dalam makam Raja Muryeong. Dari perhiasan, bentuk mahkota dan ilustrasi-ilustrasi mitos untuk menjaga makam dari penjarahan. Juga lampion-lampion yang berbentuk binatang-binatang yang dipercaya pembawa keberuntungan yang dibentuk dengan ekspresi yang lucu, ada juga lampion-lampion orang-orang berpakaian tradisional yang sedang memainkan alat musik tradisional pada jaman Baekje.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Salah satu yang menarik, yang memang menjadi kekuatan dari Cheonggye-Cheon Stream karena pendekatannya yang ramah lingkungan adalah lampion-lampion yang menggambarkan mengenai Green Card dan Maskotnya Mulbeomi, seekor anjing laut. Greencard di Korea ini merupakan layanan publik berbasis poin yang diberikan kepada mereka yang menjaga lingkungan karena membeli produk-produk ramah lingkungan, juga yang menggunakan transportasi publik, yang melakukan penghematan listrik, air dan gas. Sedangkan Mulbeomi, si anjing laut sebagai maskot, merupakan hewan yang terancam punah akibat pemanasan global. Sehingga diharapkan dengan penggunaan Greencard ini, Korea Selatan turut menjaga kelangsungan bumi, bisa menolong anjing laut dan hewan-hewan lain yang terancam. Sebuah ajakan nasional yang sangat hebat.

Mulbeomi as the GreenCard's Mascot
Mulbeomi as the GreenCard’s Mascot

Saya melihat negara lain berpartisipasi dalam Festival Lampion Seoul ini, seperti Phillippines dengan menampilkan pohon Natal yang besar. Phillippines memang terkenal dengan suasana Natalnya yang paling lama, bahkan saat itu awal bulan November, mereka telah mendirikannya di Korea Selatan! Juga boneka lucu-lucu yang sangat ekspresif mengungkapkan kegembiraan dari Taiwan. Sayang sekali saya tidak melihat Indonesia ikut berpartisipasi disini. Kapan ya?

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Juga ada lampion-lampion yang menggambarkan Incheon yang akan menjadi Tuan Rumah penyelenggaraan Asian Games tahun 2014 ini dan masih banyak lagi rupa bentuk lampion yang menghias sepanjang Cheonggye-Cheon Stream.

Malam semakin larut, saya telah berada di ujung Festival yang berhiaskan ikan-ikan warna warni yang dibuat seakan terbang. Sungguh cantik. Membuat saya larut dalam imajinasi yang bergerak lincah. Kaki terus melangkah, kembali memutar menyusuri Cheonggye-Cheon Stream pada sisi yang lain, seakan mengundang untuk selalu datang lagi dan lagi…