The Helix, Love Is In The Air…


P1020079

Meskipun punya banyak foto jembatan, entah mengapa, jembatan favorit saya selalu kembali kepada The Helix yang ada di kawasan Marina Bay, Singapura. Bisa jadi karena saya menjadi saksi before and after kawasan itu atau memang kesan pertama yang begitu dalam sehingga timbul rasa romantisme khusus terhadap jembatan itu (hahaha ini apa yaa? 😀 😀 )

Bertahun-tahun sebelum jembatan itu jadi, -saat ke Singapura dan berfoto di area Merlion-, saya tidak bisa membayangkan bagaimana kawasan di seberang saya berdiri itu bisa menjadi kawasan yang begitu terkenal seantero dunia, yang membuat semua turis tumplek blek ke tempat itu. Rasanya masih ingat di benak, ucapan seorang kawan asli Singapura yang mengatakan bahwa nanti di tempat itu akan menjadi hotel besar lengkap dengan kasinonya. Dan kini, perkataannya menjadi nyata. Tempat itu menjadi sebuah landmark, yang ibaratnya, jika belum kesana berarti belum ke Singapura. Meskipun terdengar hedonis sekali, namun tak bisa dipungkiri kawasan Marina Bay yang dekat dengan Hotel Marina Bay-Sands itu memang menjadi magnet yang sangat kuat bagi pariwisata Singapura.

Setelah kawasan itu terbentuk, dalam rangka urusan kantor saya berkesempatan berkunjung lagi ke Singapura dan beruntung bisa menginap di salah satu hotel berbintang di kawasan Marina Center. Dan dasar saya yang tidak bisa lepas dari jalan-jalan, saat perjalanan bisnis pun saya pakai juga buat jalan-jalan meskipun hanya bisa dilakukan pada malam hari. Inilah salah satu yang saya suka di Singapura, saya selalu merasa aman berjalan sendiri di malam hari bahkan sampai tengah malam sekalipun. Bisa jadi, karena penduduknya sudah serius melek hukum dan tidak mau berhadapan dengan sanksinya.

Malam itu saya berjalan-jalan hingga ke Esplanade, dan kembali lagi menuju The Helix untuk melanjutkan jalan-jalan malam ke Marina Bay-Sands sebelum kembali ke hotel. Saat melintasi The Helix, -yang secara resmi dibuka penuh pada tanggal 18 Juli 2010-, jembatan ini dipenuhi oleh orang-orang yang juga menikmati malam. Mungkin sama seperti saya, hanya ingin menikmati rasanya melintasi jembatan terkenal yang dulu dikenal dengan nama Double Helix Bridge. Saya sendiri hingga kini masih terkagum-kagum, ada jembatan yang dibangun sebagai penjabaran sains.

Sejak pertama kali menapaki jembatan malam itu, saya sudah suka bentuknya yang menyerupai rangkaian DNA, spiral melingkar, dengan pada lantainya terdapat lampu-lampu kecil yang menyorot ke atas, berpasangan, yang belakangan saya tahu bahwa lampu itu menjadi ciri khas The Helix. Dari Wikipedia, lampu-lampu itu memang mewakili struktur DNA. Coba deh kalau kesana lagi, perhatikan ada pasangan lampu yang berwarna ‘c’ dan ‘g’ serta ‘a’ dan ‘t’, berwarna hijau dan merah, mewakili cytosine, guanine, adenine dan thymine yang merupakan empat dasar DNA. Bingung ya? Sama dong dengan saya… 😀 Tidak usah dibahas ya, biar Google saja yang menyimpan lengkap informasi itu 😀 😀

P1020088
The Helix – Green and Red

Tetapi saya merasa indah saja, bahwa sesuatu yang sangat ilmiah dan sangat mendasar dalam tubuh makhluk hidup dijabarkan dengan begitu kerennya dalam sebuah karya yang berfungsi sebagai sebuah jembatan. Tidak heran, jika akhirnya The Helix, yang panjangnya sekitar 280meter ini mendapat penghargaan The World’s Best Transport Building di tahun 2010 dan Building & Construction Authority’s Design & Engineering Safety Excellence di tahun 2011.

Malam itu dan pada malam-malam lainnya saat menapaki The Helix, saya selalu menikmati lampu-lampu redup itu, mengamati orang-orang yang melaluinya, menikmati pemandangan indah kota Singapura, meskipun sekali-sekali terlintas juga bahwa saya sedang menembus model struktur DNA makhluk hidup. Dan kalau sudah terpikir itu, biasanya saya seperti diingatkan tentang Sang Pencipta…

P1020090
The Helix -from the viewing platform

Terlepas dari bentuknya yang keren, secara fisik sebenarnya The Helix terbuat dari besi dan kaca yang saling terkait. Bahkan jembatan ini disesuaikan dengan kondisi cuaca setempat yang hanya kenal hujan dan panas, sehingga dilengkapi kanopi supaya pelintasnya terlindung dari panas dan hujan meskipun tidak utuh. Keunikan lainnya yang saya suka dari The Helix karena jembatan ini memiliki tempat khusus untuk melihat-lihat pemandangan kearah kota, terutama saat malam pemandangannya sangat cantik. Meskipun katanya bisa menampung hingga 100 orang, platform untuk melihat-lihat ini tentunya menjadi tempat favorit untuk melihat pertunjukan keren di langit seperti kembang api. Tapi sepertinya harus lebih awal booking tempat, karena tempat ini sangat-sangat padat waktu Tahun Baru. Pengalaman bermalam tahun baru di Singapura, berjalan kaki melalui The Helix saja macet! 😀

Mungkin karena frekuensi saya berjalan sendiri melaluinya, jauh lebih banyak daripada bersama orang-orang yang saya kenal, membuat saya seperti punya rasa tersendiri dengan jembatan itu. Seperti biasa, jika pergi sendiri, saya biasa melakukan pembicaraan dengan hati saat berjalan. Juga saat menapaki The Helix. Dan oleh karenanya saya merasa tak pernah kesepian, meskipun tengah malam dan tidak ada orang di samping. Seperti saat kembali ke hotel, saat itu sebagian lampu The Helix telah dimatikan, saya menyaksikan satu pasangan berjalan mesra di depan saya. Melihat mereka, saya ikut berbahagia. ikut merasakan romansanya, kemesraan mereka yang penuh cinta dan bahagia itu menular… Kata orang sana, Love is in the air…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina, A Rhyme in My Heart dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-13 ini bertemakan Jembatan agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

WPC – Gateway To Everest


Hillary Bridges, the Gateway To Everest

Hillary Bridge is the highest and last suspension bridge on the route between Lukla (famous for the label as the most dangerous airport in the world) and Namche Bazaar (the village where trekkers usually stay for first acclimatization) on Everest Region, Nepal. The higher bridge is newer and looks more spectacular than the lower one although both still can be used. When I crossed the bridge last month, among my admiration of beautiful surroundings I just imagined how its construction was, without any cranes and modern technology aid, everything had to be brought in manually on foot.

Situated around 50 meters upstream from the confluence of two rivers and spanning over the Dudh Kosh (river) which has white milk-alike color, the 250 meters long Hillary bridge is built on top of a stone-walled gorge 100 meters above the waterline. And sorry for those who are acrophobia, -a phobia of height-, this place may be not recommended. But for scenery lovers… hmm… priceless!

For the trekkers, it is the beginning of 600 meters steep climbing to Namche Bazaar (3400 meters above sea level) through the dense forest, usually as part of the 2 weeks Everest Base Camp trekking.

By the way, not only people cross the bridge, but mules or yaks do as well…

Just give them way to cross first… 😀

 

Pedestrian

WPC – Oops! Holes In The Old Suspension Bridge


Old Bridge in Nepal

One memorable moments I experienced during trekking in Nepal last April, I had to cross a small old suspension bridge with holes in it! I had to check the strength of the wooden bars in every step I took. Scary of course but it really gave me an adrenaline rush 🙂

Yes, I have to admit that from trekking I learnt so many things. And regarding to my situation at that time, I feel the wise words below are perfect to share,

Until you cross the bridge of your insecurities, you can’t begin to explore your possibilities (Tim Fargo)

or

Faith isn’t a feeling. It’s a choice to trust God even when the road ahead seems uncertain.

 

***

In response to Weekly Photo Challenge with the theme Danger and Bridge