Belajar Menerima Dari Bencana


“Maaf Ma, Pa, air sudah masuk ke rumah, tapi listrik masih nyala…”

Begitu pesan Whatsapp yang saya baca dari anak saya yang berada di rumah sementara kami sedang berada ribuan kilometer dari rumah. Sebanyak apapun pengalaman suami dan saya menghadapi banjir di Jakarta, kami tak bisa berbuat apa-apa di saat tak berada di tempat kejadian. Hati saya terbelah meskipun saat itu saya berada di tempat yang paling saya impikan sejak kecil, Palestina. Berita itu memporakporandakan antusiasme sebuah perjalanan batin, meskipun hari itu adalah hari terakhir menuju pulang ke tanah air.

Transit di Abu Dhabi tidak lagi menggembirakan. Kami ingin cepat sampai di rumah karena rumah adalah base-camp kami. Abu Dhabi bisa didatangi kembali lain waktu tapi rumah tetap prioritas nomor satu.

Tak terbayangkan anak-anak kami yang telah berbuat maksimal menghadapi musibah banjir di rumahnya sendiri, berupaya menyelamatkan barang-barang yang mampu mereka selamatkan. Banjir mereka yang pertama, yang harus dihadapi sendiri tanpa kehadiran orangtua. Banjir yang datang pada malam hari, tanpa mereka sadari, datang menerjang dengan cepat, menggenangi dan terus merambat naik, dalam keadaan listrik yang masih menyala. Ketika pagi datang, mereka tak bisa berbuat banyak kecuali hanya menyaksikan lantai dasar rumahnya telah terendam 70 cm dengan barang-barang yang sudah jungkir balik. Mereka hanya bisa menunggu di lantai dua sampai listrik dimatikan PLN untuk bisa bergerak melakukan penyelamatan terhadap sisa-sisa barang yang bisa diselamatkan. Lalu setelahnya, dengan segala pertimbangan matang, mereka mengirim pesan Whatsapp di atas.

Sekuat apapun kami mempersiapkan hati sesampainya di Jakarta awal Januari 2020 itu, rasanya tetap masygul menyaksikan isi rumah berantakan diterjang banjir. Air memang sudah surut tetapi ada rasa campur aduk melihat apa yang ada dan membayangkan pekerjaan di depan mata yang tak bisa terhindarkan. Rasa syukur berlimpah karena indahnya perjalanan Umroh ditambah kunjungan ke Al Aqsho seharusnya masih tinggi memenuhi dada, meskipun faktanya ada juga rasa sedih dan rasa kehilangan yang menyambangi jiwa.

Beruntung ada ART dan suaminya yang cekatan membersihkan lalu menata kembali seisi rumah, sebisa mereka. Tetapi jejak banjir tak mampu menyembunyikan betapa hebatnya banjir kali ini. Rasanya bagaikan bumi dan langit, keadaan rumah saat kami tinggalkan saat berangkat dan saat kami kembali, apalagi anak-anak sempat mengambil foto saat barang-barang seperti kulkas, lemari telah terhempas dan sofa-sofa mengambang.

Getir memang. Banjir yang ‘numpang lewat’ itu meninggalkan jejak yang tak sedikit. Begitu banyak barang yang harus dibuang, termasuk album-album foto lama yang belum sempat saya digitalkan. Ada banyak buku yang berada di lantai 1 yang harus saya buang. Ada banyak cerita, ada banyak kenangan yang hilang bersama banjir.


Vatsala Devi, 2014
Ruins of Vatsala Devi temple, 2017

Awal November 2014

Saya melakukan perjalanan solo ke Nepal, sebuah perjalanan yang amat mengesankan bertabur keluarbiasaan jika tak boleh dibilang keajaiban. Sebagi orang yang mengagumi sebuah kawasan World Heritage Site, saya terpesona dengan semua Durbar Squares yang ada, dari Kathmandu, Patan hingga Bhaktapur. Bahkan saya sempat berada di dalam keriuhan festival di Kuil Changu Narayan. Juga bisa menyaksikan secara langsung wajah Kumari The Living Goddess, Sang Dewi Hidup dari Kathmandu Durbar Square. Menyaksikan keindahan Himalaya dari jendela pesawat. Begitu indah.

April 2015, Gempa bumi besar melanda Nepal

Hanya berselang enam bulan setelah perjalanan istimewa saya itu, sebagian besar World Heritage Site yang saya saksikan rusak bahkan ada yang runtuh total. Gempa besar yang membuat longsor, menimbun rumah dan makhluk, tanah bergerak membuat manusia berteriak. Begitu banyak rumah dan bangunan yang hancur serta sekitar 9.000 orang melepas nyawa mereka.

Air mata saya jatuh saat membaca berita. Kathmandu Durbar Square yang sebelumnya memiliki kuil-kuil megah, mendadak tinggal undakan-undakannya. Padahal saya begitu terpesona di tempat itu. Juga Kuil Changu Narayan yang disakralkan, tempat saya berbaur dengan para wanita yang berbahagia pada perayaan Ekadhasi, mendadak kuil itu rusak parah terkena gempa bumi. Tak beda di Patan Durbar Square, kuil-kuil berusia ratusan tahun itu runtuh ke tanah. Di Bhaktapur Durbar Square juga tak beda. Kuil-kuil cantik juga runtuh, padahal saya berlama-lama di tempat itu.

Begitu kuat kenangan itu, sehingga saya merasa begitu kehilangan semua keindahan yang pernah saya saksikan enam bulan sebelumnya.

April 2017

Dua tahun setelah gempa besar itu, saya kembali ke Nepal. Gundahnya saya akibat gempa itu membuat saya hanya menyempatkan diri ke sebuah sudut di Bhaktapur Durbar Square. Saya juga tak pergi ke Kathmandu Durbar Square atau Patan Durbar Square. Bisa jadi saya terlalu sedih untuk menyaksikan hilangnya world heritage itu.

Di tahun 2017 itu, saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala seakan tak menerima kenyataan ketika berada di Vatsala Devi temple yang rata dengan tanah ketika terjadi gempa. Padahal saat 2014 lalu, kuil itu begitu cantik menghias Bhkatapur Durbar Square.

Bhaktapur Durbar Square, 2014
Bhaktapur Durbar Square, 2017

Ada banyak contoh lain dampak sebuah bencana dari yang sebelumnya cantik, bagus, keren, indah dan sebagainya menjadi sebuah yang menakutkan, hancur berantakan, babak belur atau luluh lantak. Ada juga yang namanya penyempurnaan atau perbaikan, Dari yang awalnya kurang baik menjadi lebih baik. Semua bermakna sama: perubahan. Jika hasilnya lebih buruk daripada sebelumnya maka itulah yang disebut bencana. Namun jika hasilnya dianggap lebih baik dari sebelumnya, maka hal itu disebut penyempurnaan, menjadikan sesuatu lebih mendekat pada kesempurnaan,

Padahal rasanya pasti serupa. Saya juga merasa getir dan masygul ketika sampai di rumah menghadapi amukan bencana banjir Januari awal tahun ini. Saya juga tak mampu bahagia melihat kuil cantik yang dahulu ada kini hanya tinggal nama. Rasanya begitu manusiawi memiliki rasa-rasa itu.

Hanya saja, tak baik memeliharanya lama-lama.

Dengan memelihara sedih atau gundah itu bisa bermakna terikat pada sesuatu yang sebelum hilang itu, pada sesuatu yang sebelum hancur.

Padahal hancur juga kan? Hilang juga kan? Jadi sebenarnya untuk apa merasa masygul berkepanjangan? Untuk apa merasa sedih berlama-lama?

Jika bencana itu sudah seharusnya terjadi, maka bencana itu pasti terjadi. Seperti saya yang tak bisa berbuat apa-apa lagi ketika mengetahui banjir yang cukup dalam menerjang rumah. Seperti saya yang tak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali geleng-geleng kepala ketika berdiri di dekat reruntuhan kuil Vatsala karena gempa besar Nepal.

Pada suatu titik, akhirnya kita hanya bisa menerima.

Seperti seorang bayi yang baru lahir, hanya bisa menerima dan terus belajar menerima lalu bereaksi untuk tumbuh.

Bahkan bencana-bencana itu merupakan pembelajaran yang hebat


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-42 bertema Before & After agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Nepal 6 Bulan Lalu, Nepal Kini, Tetap Di Hati


Akhir pekan lalu adalah pertama kalinya saya kembali menulis mengenai Nepal setelah gempa dahsyat meluluhlantakkan negeri indah itu tiga minggu lalu, dan lagi, seminggu lalu. Gamang sekali memulai sesuatu dari sebuah kehancuran, tetapi saya percaya ada saat untuk bangkit, apapun rasanya. Ini adalah waktunya.

Sebelumnya saya tak bisa menyentuh tulisan yang belum selesai, apalagi melanjutkannya. Bahkan tak mampu menyentuh buku perjalanan Nepal tanpa airmata yang deras mengalir. Bisa jadi saya terlalu emosional, tetapi itulah yang dirasakan, rasa yang persis sama, dengan hati yang sama, ketika berada di Nepal enam bulan lalu.

Sebelum akhir pekan lalu, raga saya berada di sini, di dunia nyata, tetapi hati dan pikiran saya berada jauh di sudut-sudut Lembah Kathmandu yang magis yang kini luluh lantak dan hati saya pun seperti terkubur didalamnya, terpana tak percaya akan peristiwa tercabutnya sebuah cinta, seakar-akarnya. Meninggalkan lubang hampa. Kosong. Musnah.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Saya bertanya-tanya kepada diri sendiri, pembelajaran apa yang sedang diberikan untuk saya dengan peristiwa ini. Karena saya percaya, sebuah peristiwa yang memiliki makna bagi banyak orang diturunkan untuk menjadi pembelajaran bagi dunia, bagi banyak orang juga bagi orang-orang yang terkait di dalamnya dari sudut-sudut personalnya yang mungkin sangat pribadi. Termasuk saya.

Tetapi Tuhan selalu baik, memberi saya ruang dan waktu untuk menangis sedih, untuk tak percaya akan peristiwa itu, untuk menjadi manusia dengan segala keterbatasannya, untuk merasa boleh mempertanyakanNya. Dan Dia, selalu menjadi tempat tumpuan dari segala ketakpastian, selalu menjadi the solid ground, yang dengan sabar menunggu saya sampai saatnya tiba. Di saat terendah ketika tak ada jalan lain lagi selain jalan naik. Waktunya bangkit. Saat rebound.

Malam-malam duka penuh airmata, ketika kali pertama mendengar bencana itu, ketika angka kematian terus merangkak naik melampaui angka 8000-an orang dan terus bertambah lagi untuk gempa besar yang kedua, ketika melihat detik-detik luluh lantaknya bangunan-bangunan bersejarah itu, ketika mendengar longsor di perbukitan menelan banyak penginapan dan rumah-rumah beserta penghuni di dalamnya, ketika mendengar avalanche di pegunungan Himalaya itu mengubur para pendaki dan trekkers…

Dan semua yang mengharubiru itu tak begitu saja terbentuk. Enam bulan lalu selama saya menghirup udara Nepal, begitu banyak airmata tumpah karena rasa syukur atas semua keberkahan yang melimpah tak putus-putus. Membuat ikatan kuat dengan Nepal, yang mungkin makin memperkuat ikatan yang tak sadar telah terukir indah di hati berpuluh tahun sebelumnya.

Dan ribuan orang yang tak terselamatkan itu adalah bagian dari orang-orang yang saya lihat dalam keseharian di sana, yang penuh senyum, yang masih hidup dalam tradisinya, yang mencoba bertahan dalam kerasnya hidup. Mereka, yang tak terselamatkan itu, mungkin pernah bertemu saya dalam persimpangan hidup di Thamel, atau di Bhaktapur, atau di Lalitpur, atau di Kathmandu, di Nagarkot atau selama perjalanan saya di Nepal. Mereka, yang bisa jadi hanya berbilang beberapa senti dari keberadaan kita, yang tidak pernah kita sadari, yang tidak pernah kita ketahui, seandainya saja waktu dapat diputar kembali.

Dan semua airmata tumpah itu karena ikatan yang sangat dalam dengan apa yang menjadi kekuatan Nepal. Salah satu alasan saya datang ke Nepal adalah untuk mengagumi bangunan-bangunan bersejarah yang termasuk dalam World Heritage Sites itu. Dan ketika saya berada di sana, enam bulan lalu, saya masuk ke dalamnya, menyentuhnya langsung, mengelilinginya, mengamati semua mahakarya itu seakan waktu berhenti bersama saya, bahkan saya duduk di bawahnya, terlibat dalam keriuhan festival yang terjadi hari itu. Saya tak akan pernah lupa saat saya duduk di dekatnya, mengambil foto dengan segala cara untuk mendapat sudut terbaik, menunggu sampai sepi. Saya tak pernah lupa saat saya tersenyum sendiri karena tak menemukan ukiran erotis kamasutra yang biasa ditampilkan pada panel atau langit-langitnya, saya tak pernah lupa ketika saya duduk nyaman untuk rehat dari terik matahari dan pegalnya kaki menyaksikan banyak orang lalu lalang tak henti. Saya juga tak pernah lupa ketika seorang freelance guide yang baik hati, seorang Nepali pengagum Soekarno, meminta saya berpose dan dia mengambil foto untuk kamera saya, hanya karena saya sedang berjalan sendiri. Katanya, semua orang harus berbahagia dan punya kenangan manis saat berada di Nepal.

Dan bagaimana hati saya tak langsung luluh lantak ketika mendengar bangunan-bangunan besar di Durbar Square itu runtuh. Tak ada lagi Trilokya Mohan Narayan dan Maju Dega. Dan ketika saya dengar kerusakan besar juga terjadi di Changu Narayan, tempat saya mendapatkan keberuntungan yang tak biasa, airmata saya tak henti mengalir. Tak ada lagi Laksmi Temple yang di sudut, tak ada lagi bangunan-bangunan penyangga yang kala itu penuh lautan manusia dan bunga, bahkan Kuil utama Narayana temple telah rusak berat disudut-sudutnya yang sangat riskan pada guncangan gempa besar lanjutan. Di Lalitpur atau Patan, tak ada lagi Hari Shankar Temple, tak ada lagi kuil yang penuh ukiran kuno ratusan tahun itu. Semua lenyap. Semua yang telah saya sentuh, semua yang saya datangi dan saya cintai dengan sepenuh hati, semua tempat hati saya tertambat itu, sudah lenyap rata dengan tanah, musnah.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Bangunan-bangunan itu konon dibangun atas dasar cinta, atas dasar ibadah, atas dasar komitmen, rasa ikhlas dan dijaga dengan sepenuh jiwa sejak ratusan tahun lalu. Didatangi dan dipelihara, doa-doa dan puji-pujian dilantunkan didalamnya, sejak ratusan tahun lamanya. Dan kini musnah. Nilai dan makna sejatinya, hilang musnah dalam sekian menit getaran lapisan kulit bumi, meninggalkan tumpukan batu usang berdebu.

Dan tidak hanya itu keterikatan saya dengan Nepal yang saya tinggalkan enam bulan lalu. Pegunungan Mahabharat Range yang menjadi pagar dari barisan pegunungan dibaliknya, turut bergetar beresonansi mengakibatkan longsor yang meruntuhkan rumah-rumah yang dibangun di lerengnya. Rumah-rumah di pegunungan yang menjadi saksi keindahan matahari yang terbit dan terbenam berbalut kabut. Rumah-rumah yang menjadi saksi akan halimun menyelimuti lembah setiap pagi. Dan rumah itu ikut bergoyang dan terkubur, bersama penghuninya. Dan saya pernah berada dalam salah satu rumah yang berada di pegunungan itu. Merasakan harus mendakinya dan menuruninya, merasakan dan menyaksikan halimun yang menyelimuti lembahnya, memandang keajaiban matahari terbit berlantai hamparan kabut dan kini banyak rumah itu runtuh terkubur dalam hening, membawa hati saya terhanyut di dalamnya.

Lalu tak berhenti disitu, pegunungan berselimut salju itu, Sang Himalaya yang gagah, tak ayal ikut bergerak meruntuhkan salju yang telah tertimbun ribuan tahun, mengubur langsung pendaki dan trekkers, yang datang mencari keindahan dan keanggunannya maupun yang mencari uang karenanya. Menyatukannya kedalam ketakberdayaan manusia. Pasrah pada alam yang bergetar menyesuaikan keseimbangan baru. Saya yang enam bulan lalu, melihat sendiri keindahan salju abadi yang menutupi puncak-puncak Himalaya, yang melihat keindahan salju di Langtang, di Khumbu, di Sagarmatha. Puncak-puncak yang sama, yang seandainya bisa bicara, mungkin lebih memilih untuk menyatukan para pendaki dan trekkers dalam keabadian cinta bersamanya. Puncak-puncak Himalaya yang sama yang saya lihat dalam baluran airmata bahagia, karena pada akhirnya saya bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri. Sang Himalaya yang juga tak mampu berbuat lain kecuali mengikuti hukum alamNya.

Dan lagi, seminggu lalu, gempa baru dengan kekuatan besar terjadi lagi. Yang sebelumnya telah ringkih, kini hancur. Gempa lanjutan ataupun gempa baru yang biasa mengikuti gempa-gempa besar memang terus terjadi, setiap hari, setiap saat, dari skala 4, 5 atau 6 dan bahkan 7. Dan ketika gempa baru dengan skala tinggi itu terulang lagi, saya menutup mata yang telah berair, bergetar meminta Wahai Engkau Yang Maha Perkasa, bolehkah saya memohon Kasih Sayang dan KelemahlembutanMu terhadap alam dan semua makhluk yang berada di Nepal?

Saya hanya bisa jatuh terduduk, tersungkur dan menangis. Tak lagi berdaya. Hanya MilikMu…

Hening.

Dan sampailah saat untuk mengakui pada diri sendiri, bahwa ikatan dengan Nepal ini sangat kuat, luar biasa kuat. Saya mencintai Nepal dengan segala yang ada padanya, dengan segala yang saya alami di dalamnya. Dan berlebihan.

Kemudian bagaikan sebuah kilat yang datang di tengah awan badai, seperti itu pula saya disadarkan. Cepat, sekilas dan terang. To the point. Tak ada yang abadi di dunia ini dan tak boleh ada yang ‘terlalu’.

Sejentik itu pulalah yang membukakan mata dan menyembuhkan luka. Seberkas cahaya yang menguatkan dan membangkitkan. Tak hanya sekali ini saya mendapat pembelajaran yang sangat berharga, yang sangat menorehkan rasa. Pembelajaran yang maknanya saya dapat setelah selesai masa berjalan disana .

Cinta itu tak melekatkan. Cinta itu membebaskan. Cinta itu membawa kebaikan.

Sedalam apapun cinta saya kepada bangunan-bangunan bersejarah, saya harus melepaskannya dalam keruntuhan, melepas nilai berharganya menjadi milik keabadian. Sedalam apapun cinta saya kepada penduduk Nepal dengan segala tradisi yang dilakukannya dalam keseharian, saya harus serahkan kepada Yang Maha Mengatur. Apapun yang terjadi menjadi bagian dari Rencana IndahNya. Sedalam apapun cinta saya terhadap alam pegunungan yang indah, terhadap barisan pegunungan berpuncak salju, tetaplah saya harus melepaskannya dalam kuasa yang telah ditentukan. Untuk selalu menjadi lebih baik, dan karena masih banyak yang lebih baik

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dan sebagaimana sebuah cinta yang membebaskan, apapun yang terjadi, enam bulan lalu ataupun kini, semua itu menjadi sebuah kenangan yang indah, kenangan yang selalu manis, yang terpatri dalam sebuah ruang khusus di dalam hati bernama Nepal.

Yang bisa saya kunjungi kapan saja, turut mempercantiknya tanpa perlu terlekat padanya.

Dan saya pun diminta untuk melanjutkan perjalanan…

*

Baca di sini Rangkuman dan Seri perjalanan di Nepal