Di Balik Jendela Sederhana Haeinsa


P1040010
Di balik Jendela Kayu Sederhana terdapat Harta Dunia

Saat mengunjungi Kuil Haeinsa yang berada di pegunungan dalam kawasan Gayasan National Park, saya mengira akan menemukan bangunan-bangunan kuil yang megah berwarna-warni seperti layaknya bangunan-bangunan kuil di Korea Selatan. Namun apa yang saya lihat disana membuat saya terperangah.

Di bagian atas dari Bangunan Utama Kuil Haeinsa, -menunjukkan sebuah keluarbiasaan karena masih ada bangunan yang menempati posisi yang lebih tinggi dari Bangunan Utama-, terdapat bangunan kayu sederhana yang disebut Janggyeong Panjeon. Bangunan ini dengan struktur yang sangat unik ini hanya terbuat dari kayu-kayu yang terlihat sangat sederhana. Tetapi sejatinya sesuai namanya, di balik sebuah kesederhanaan, ternyata bangunan ini menyimpan  bilah-bilah kayu pencetak Tripitaka Koreana, yang keseluruhan kompleks bangunan terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Site sejak 1995.

P1040009
Di balik Jendela Kayu Sederhana terdapat Harta Dunia

Ada pepatah klasik yang sering kita dengar, Don’t judge a book by its cover, yang menurut saya sangat cocok dan berlaku ketika mengunjungi tempat ini. Jangan karena melihat kayu-kayu sederhana yang digunakan, lalu kita menganggap rendah nilai yang terkandung dibaliknya karena sesungguhnya, bukan hanya Korea Selatan yang memiliki harta itu melainkan Dunia.

Sebuah harta warisan Dunia hanya disimpan di bangunan kayu yang sangat sederhana. Luar biasa sekali, bukan?

Demi keamanan keberadaannya, saat melintasi bangunan utama penyimpan kayu-kayu pencetak Tripitaka Koreana dan berbagai literatur keagamaan Buddha, pengunjung hanya boleh melintas tanpa berhenti, tanpa kamera, tanpa berfoto. Pengunjung diperbolehkan mengabadikan dari sudut jalan kearah luar. Itupun kadang ditegur keras oleh petugas jaga jika berlama-lama.

Meninggalkan bangunan Janggyeong Panjeon, rasanya saya hanya bisa terdiam membawa kekaguman. Ketika di berbagai belahan dunia, negara-negara saling berlomba untuk memodernkan pengamanan harta budaya, jika perlu menggunakan teknologi terkin, namun di Korea Selatan ini tetap mempertahankan cara aslinya sejak pendirian bangunan berabad-abad lalu,

Kisah perjalanannya secara lengkap bisa dibaca di-sini


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-16 ini bertemakan Jendela agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…