Nepal: Kalung Bunga Cinta di Haribodhini Ekadashi


Berada di Changu Narayan, salah satu kuil utama tempat perayaan Haribodhini Ekadashi dipusatkan, tepat pada tanggalnya, tanpa direncanakan, dan mendapat 3 guardian angels yang datang dan perginya tak berjejak untuk masuk ke pelataran tempat kuil berada, sepertinya bukanlah sebuah kebetulan belaka. Bagi saya, semua itu adalah upaya bicara Sang Pemilik Semesta. Hati saya disentuh untuk bisa membaca tanda agar percaya sepenuhnya campur tangan Dia Yang Maha Kuasa menjadikan perjalanan ini hadiah yang benar-benar penuh makna.

Kuil Changu Narayan, salah satu UNESCO World Heritage Site di lembah Kathmandu, merupakan kuil Hindu tertua aliran Vaishnav (Dewa Wisnu) yang paling dihormati di Nepal dan terletak sekitar 20km di Timur Kathmandu. Meski inskripsi bertahun 464 Masehi ditemukan di bawah bangunan utama, banyak yang percaya sejak abad 3 Masehi, kuil ini sudah disakralkan.

The Oldest Changu Narayan Temple
The Oldest Changu Narayan Temple

Dan sebagai kuil yang mengutamakan Dewa Wisnu, tak pelak perayaan Haribodhini Ekadashi dirayakan penuh kemeriahan di kuil beratap dua tingkat yang dibangun pada masa kekuasaan Raja Manadeva dan kemudian dipercantik oleh Raja-Raja Licchavi dan Malla. Perayaan Haribodhini Ekadashi sendiri, mohon maaf kalau informasi ini salah, merupakan perayaan untuk Dewa Wisnu, yang dilakukan pada tanggal sebelas (Ekadashi) di bulan Kartika, dan bisa berlangsung berhari-hari hingga purnama bulan. Sebagai akhir dari empat bulan Chaturmas, -periode larangan diselenggarakannya ritual pernikahan-, tentu saja datangnya Haribodhini Ekadashi ditunggu dan disambut gembira karena menandakan awal diperbolehkannya melakukan ritual membentuk lembaga cinta. Pernikahan.

Oleh sebab itu, berdiri di pelataran Changu Narayan saat Haribodhini Ekadashi, membuat hati ini bergetar penuh rasa syukur. Tak pernah ada rencana untuk datang tepat pada hari membahagiakan ini. Dan dapat hadir di sebuah perayaan besar di kuil yang dilindungi dunia internasional sebagai kawasan bersejarah merupakan momen luar biasa. Sepertinya semua telah diatur tepat pada waktunya oleh Dia Yang Maha Sempurna.

Dan mengikuti kaki melangkah ke sudut pelataran, kearah kuil Dewa Siwa dan Kuil Lakshmi, tak pelak lagi saya perlu meningkatkan waspada dan memperbanyak senyum selagi berjalan. Tidak hanya sekali  saya harus meminta maaf karena memotong antrian mereka yang ingin beribadah di Kuil utama demi mengabadikan momen menarik. Namun bukan masyarakat Nepal namanya, jika mereka tak memberi ruang dan membalas senyum penuh kehangatan.

Menjulang di tengah pelataran, bangunan utama berhiaskan pintu keemasan yang dipenuhi berbagai simbol tentang Dewa Wisnu atau dikenal sebagai Narayan, termasuk Chakra Sudarshana dan gada Kaumodaki di satu sisi serta terompet kerang Panchajanya Shankhya dan bunga lotus (padma) di sisi lainnya. Ukiran pada bagian atap lengkap dengan ukiran makhluk khayangan bertangan delapan dengan berbagai posisi yang sangat indah ditambah dengan genta-genta kecil sekeliling pinggir atap. Tak perlu lama untuk mencipta bayang, bila angin sedikit kencang berhembus dalam keheningan malam, bunyi genta yang berdenting itu tentu sangat mengguncangkan rasa.

Berada tak jauh dari pintu utama, tak heran udara sekitar terasa panas, bercampur asap dan bara yang datang dari hasil nyala api persembahan dan dupa yang telah tumpah berserakan di pelataran. Cinta dan pengabdian pada Narayan begitu kuatnya dan percaya Dewa tetap menerima persembahan mereka yang dilakukan dengan ikhlas, walau harus sedikit mengotori pelataran kuil.

Kileshwor, The Shiva Temple
Kileshwor, The Shiva Temple

Pemandangan serupa pun terjadi di kuil Kileshwor, kuil Dewa Siwa yang berada di sudut pelataran. Warna bunga oranye bercampur bubuk merah berada diantara nyala api persembahan dalam wadah-wadah kecil di sekeliling tempat pemujaan itu. Bukanlah sebuah kejutan di Nepal bila ada kuil Dewa Siwa di pelataran kuil Narayan, atau sebaliknya. Masyarakat Nepal memiliki rasa toleransi yang sangat besar, bahkan tidak hanya aliran dalam Hindu melainkan juga dengan agama yang lain.

Dan bagaimanapun proses menerima selalu silih berganti dengan memberi, demikian pula saya saat masih terkagum-kagum dengan ritual yang dilakukan oleh para bhakta, para pemuja. Seorang gadis meminta bantuan untuk diabadikan bersama kawan-kawannya berlatar belakang Changu Narayan. Ah rasanya tak ada yang berberat hati menolong gadis-gadis Nepal yang penuh senyum. Bukankah mereka bisa saja para ‘guardian angels’ yang tadi dikirim untuk mengawal saya masuk?

Keriuhan di depan pintu kuil menarik perhatian saya. Setelah memperhatikan, dalam sekejap terjawab sudah pertanyaan saya. Para pemuja Narayan mengantri untuk masuk sambil berharap mendapat bunga dari dalam kuil. Seorang petugas yang berjaga di pintu terlihat membawa senampan bunga dan membagikannya dengan tertib. Namun sejalan dengan waktu, umat yang datang semakin banyak, tak sebanding dengan bunga-bunga yang keluar. Hanya tunggu waktu pembagian bunga yang tadinya tertib itu menjadi pelemparan bunga khas selebriti terkenal. Tangan-tangan terjulur, bunga melayang dan dalam sekejap kalung bunga itu tertangkap oleh tangan-tangan dan ditarik kearah yang berbeda. Sejumput tergenggam di sebagian tangan tetapi lebih banyak sisanya jatuh terinjak sia-sia. Saya memalingkan pandangan, tak ingin berlama-lama melihat walau sempat mengabadikannya. Rasa tak nyaman terbersit keluar, tak ada yang indah saat nafsu mulai menguasai dalam sebuah perebutan hak. Langsung terlintas di benak sebuah nasihat bijak yang mengatakan dimana ada cinta, disana tidak ada cinta yang membutakan. Dan hal itu menenangkan saya.

The flowers are for all of us
The flowers are for all of us

Walaupun tak mudah untuk mengabadikan yang menjadi ciri khas Changu Narayan dari sudut yang baik tanpa mengganggu yang beribadah, saya tetap berupaya mengelilingi kuil indah ini saat Haribodhini Ekadashi. Beringsut saya melangkah menuju panggung batu yang di atasnya terdapat karya pahatan dari abad 9 Masehi yang dikenal sebagai Sridhar Vishnu, berbentuk Dewa Wisnu dengan 12 tangan dan Dewi Lakshmi di pangkuannya dan dikelilingi hiasan bersulur yang sangat indah. Sridhar Vishnu ini diletakkan di atas dudukan lebar yang tak terjangkau tangan, agar sentuhan-sentuhan cinta pemujanya tidak sampai merusak karya yang telah berusia lebih dari 11 abad itu.

Hanya selemparan batu, sebuah karya pahatan lainnya yang juga indah, Vishnu On Sesa Naga yang diletakkan di atas balok batu. Pahatan berusia berabad-abad ini menggambarkan Dewa Wisnu yang tengah berbaring di atas Ananta Sesa di  lautan kosmis. Saya tidak dapat melihatnya lebih jelas karena banyak bunga yang menutupinya dan pemuja yang tak henti memberi penghormatan padanya.

Hanya berjarak beberapa langkah terdapat kuil Chinnamasta yang juga berpintu keemasan dan dikelilingi begitu banyak wadah persembahan berisikan bunga dan dupa. Kuil ini dipersembahkan kepada Dewi Chinnamasta yang konon mengorbankan dirinya sendiri sebagai persembahan demi kelangsungan masyarakat manusia. Sebuah cinta yang luar biasa, yang memikirkan manfaat yang lebih baik dan lebih banyak untuk orang lain. Sungguh saya tersentuh dengan ceritanya tentang hidup yang bermakna.

Mendampingi bangunan kuil, terdapat patung gajah yang tampak belum tuntas. Seorang kawan Nepal mengatakan, konon saat pengerjaannya, patung gajah ini mengeluarkan cairan berwarna merah seperti darah sehingga pengerjaannya dihentikan. Sebuah cinta dalam wajah yang lain. Saya sekejap teringat sebuah wejangan seorang guru tentang mencintai. Sebelum kita bisa mencintai manusia hidup hendaklah kita mencintai dan memelihara benda-benda di semesta ini dalam waktu yang lama, untuk kemudian naik tingkat ke tingkat hewan dan setelahnya baru bisa memahami dan mencintai manusia.

Saya kembali menyusuri pinggir beranda Darmasala yang teduh dan melihat para lansia menempati tempat duduk yang disediakan. Inilah bentuk cinta yang lain, sebuah penghormatan. Bukankah para lansia itu juga masih memiliki hak untuk melakukan ritual di kuil utama, apalagi ketika Haribodhini Ekadashi. Bagitu indah dan nyaman menyaksikan para tetua bergembira bersama-sama.

Tak terasa, saya mendekat lagi ke pusat keramaian di kuil utama untuk mengabadikan Garuda, tetapi akses menujunya sangat terbatas. Tak nyaman hati untuk merebut hak dan waktu mereka yang ingin beribadah sehingga saya kembali berteduh di kuil Dewa Siwa sambil mengamati hiasan-hiasan Kuil Utama diantara bunga-bunga yang terus dilempar dari batas pintu kearah pengunjung. Jumlah bunga yang dilempar semakin banyak ke berbagai penjuru dan entah kenapa tidak lagi diperebutkan. Bisa jadi adanya kepastian yang membahagiakan bisa masuk ke dalam kuil melakukan persembahan.

The intricate carvings on roof and door of Changu Narayan
The intricate carvings on roof and door of Changu Narayan

Saat itulah seorang bapak mendekat dan memberi sebuah kalung bunga kepada saya, tanpa mengatakan apa-apa hanya berhias senyum. Tanpa melepas senyum di wajahnya beliau meminta saya mengalungkannya melalui gerakan tangannya. Setelah mengalungkan bunga dan berterima kasih kepadanya, beliau langsung melangkah pergi ditelan kepadatan pengunjung, meninggalkan saya yang terheran-heran. Pada saat Haribodhini Ekadashi, saya mendapat kalungan bunga di Changu Narayan dari seorang bapak yang penuh kasih sayang, tentu merupakan sebuah keluarbiasaan. Seakan tahu saya menyukai bunga, menyukai diri berkalung bunga, saya sungguh terhenyak dengan hal-hal yang tak terduga yang terjadi di kuil ini. Tadi pagi dengan guardian angels dan kini dengan kalungan bunga. Benar-benar saya berhujan anugerah kegembiraan dan kebahagiaan. Ah, ungkapan-ungkapan syukur saya bisikkan kepada Yang Maha Pengasih, yang telah mengatur segala sesuatu dengan indahnya.

Berkalung bunga Cinta, saya meneruskan perjalanan ke sudut lain pelataran kuil lagi-lagi bermodalkan senyum saat harus memotong antrian mereka yang ingin beribadah. Di sudut terdapat patung Wisnu di atas Garuda. Walau sangat kecil dan janganlah dibandingkan dengan Garuda Wisnu Kencana di Bali, pahatan batu yang sangat terkenal ini telah berusia lebih dari 13 abad sehingga diabadikan dalam lembaran uang 10 NPR. Sebagai salah satu mahakarya tertua, karya ini sangat dihormati di Nepal karena terlihat tak hentinya orang menghatur salam dan meletakkan bunga padanya.

The 7th Century Vishnu on Garuda
The 7th Century Vishnu on Garuda

Tak jauh dari situ di beranda bangunan yang mengelilingi pelataran kuil, diselenggarakan pertunjukan tentang kehidupan Krishna sebagai avatar ke 8 dari Sang Narayan, untuk memeriahkan Haribodhini Ekadashi. Pengunjung cukup banyak tertarik dengan pertunjukan yang menampilkan periode kehidupan Krishna, lengkap dengan serulingnya saat masih kecil hingga remaja dan periode selanjutnya yang telah memegang Cakra Sudarsana yang mampu menghabisi iblis-iblis yang digambarkan tergeletak kalah di bawah kakinya. Walaupun narasi disampaikan dalam bahasa Nepal yang tidak saya mengerti, namun terasa sekali kegembiraan menyelimuti beranda itu. Yang menyaksikan tidak hanya dari kalangan anak-anak dan remaja, kalangan tetuapun hadir seakan tersihir dengan narasi yang disampaikan ditambah dengan visualisasi kedewaan di tengah mereka. Satu cara yang ditempuh untuk memperkuat iman.

Krishna Life on Hariboddhini Ekadashi
Krishna Life on Hariboddhini Ekadashi

Selesai mengabadikan pertunjukan itu, kaki ini melangkah menuju sudut pelataran. Di sana terdapat Vaikuntha Vishnu, sebuah mahakarya abad 16 Masehi yang menggambarkan Dewa Wisnu bertangan banyak, -dengan Dewi Lakshmi duduk di pangkuan-, dan keduanya duduk di atas Garuda bertangan enam. Pahatan yang sangat indah. Tak heran jika kuil Changu Narayan bergelar sebagai World Heritage karena memang di kuil ini tersimpan banyak sekali mahakarya indah yang berusia berabad-abad.

The 500 Years of Vaikunta Vishnu
The 500 Years of Vaikunta Vishnu

Dan waktu jugalah yang menyantap kunjungan saya ke Changu Narayan yang penuh kenangan. Tak ingin rasanya meninggalkan kuil kuno ini, tetapi ada janji yang harus ditepati. Perlahan kaki melangkah menuju gerbang, kali ini tidak ada guardian angels yang mengantar melaluinya tetapi ada kalung bunga yang melingkar di leher. Dalam satu hari, di satu tempat, saya dapatkan dua keluarbiasaan Cinta… I am so blessed…

****

Gempa bumi berkekuatan 7,9 Skala Richter pada bulan April 2015 lalu telah meruntuhkan Kuil Lakshmi, Kuil Kileshwor yang berada di sudut dan sebagian bangunan yang mengelilinginya, sementara bangunan utama Changu Narayan mengalami kerusakan berat pada sudut-sudut kolom penyangganya. Semoga semua perbaikan berjalan lancar dan dapat mengembalikan keindahan Changu Narayan seperti semula. Amin.

Sendratari Mahakarya Borobudur 2014: Indah Tak Bergaram


Pada akhir pekan, sekitar seminggu setelah peringatan kemerdekaan tahun ini, saya meluangkan waktu untuk menyaksikan pertunjukan Sendratari Mahakarya Borobudur di pelataran panggung Aksobya, Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB), Magelang, Jawa Tengah. Pertunjukan sendratari dengan tema The Legend of Mahakarya Borobudur when History Comes to Life ini mengisahkan tentang pembangunan candi Borobudur yang merupakan sebuah Mahakarya bangsa Indonesia dan digelar untuk memperingati 200 tahun ditemukannya Candi terbesar di dunia itu. Saya memang meniatkan diri untuk menyaksikan pertunjukan itu, -selain menuruti rekomendasi seorang kawan yang sudah menyaksikan sebelumnya-, entah kenapa saya memiliki imajinasi tersendiri mengenai kehebatan pertunjukan itu.

Waktu pertunjukan disebutkan mulai pukul 7 malam dan saya harus menukarkan voucher tiket tanpa tahu pasti lokasi penukarannya sehingga saya merencanakan meninggalkan Jogjakarta pukul 4 sore supaya lebih leluasa sesampainya di sana. Tetapi lalu lintas Jogjakarta sore hari itu tak beda dengan Jakarta setiap hari, padat merayap nyaris tak bergerak, karena bersamaan dengan diselenggarakannya Festival Kesenian Yogyakarta. Setelah hampir satu jam terjebak, akhirnya saya terbebas dari kemacetan pusat kota dan bisa bergerak menuju Borobudu melalui jalur kabupaten.

Malam gelap sudah datang ketika memasuki kawasan Borobudur dan saya tak mengerti harus masuk darimana untuk menuju panggung Aksobya. Dan dalam kebingungan di dekat pagar utama, datang seseorang yang membantu menunjukkan arah tempat pertunjukan. Tanpa bermaksud promosi, saya harus masuk melalui gerbang hotel Manohara dan mengikuti kelip-kelip lampu yang ditunjukkan oleh petugas-petugas di sepanjang jalan yang gelap menuju acara. Dalam hati saya bersyukur bisa datang dengan kendaraan, namun bagaimana dengan pejalan kaki atau yang naik kendaraan umum? Apakah pertunjukan ini hanya dihadiri oleh orang-orang yang memiliki kendaraan?

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Di dekat keramaian, saya turun dan berjalan ke arah sebuah meja panjang di bawah tenda yang tampaknya tempat penukaran voucher ke tiket asli. Setelah beberapa orang kulit putih yang dilayani, giliran saya kemudian untuk menyerahkan voucher kepada seorang perempuan manis di balik meja dan entah kenapa saya merasakan perubahan itu. Saya mendapatkan pelayanan yang berbeda dari sebelumnya, menjadi serba ramah, serba senyum lebar, serba mendahulukan dan memberi prioritas terhadap saya. Daaaannn…. saya terperangah ketika perempuan berwajah Indonesia itu mengajak saya bicara dalam bahasa Inggeris. Apakah karena nama depan saya yang berbau Eropa Selatan yang kadang sulit diucapkan oleh lidah Indonesia dan didukung wajah saya yang sering ditebak bukan asli Indonesia? Saya hanya tersenyum menerima semua cinderamata dan nomor tempat duduk yang diberikannya seraya berbisik halus tanpa bermaksud mempermainkannya, maturnuwun sanget mbak…

Kemudian pelan-pelan saya mengikuti karpet merah yang disediakan menuju tempat pertunjukan mengingat waktu yang sudah menunjukkan pukul 7 malam. Tetapi para penerima tamu yang berkebaya anggun itu mengarahkan saya untuk menyantap hidangan ringan terlebih dahulu. Tak terduga ternyata tersedia hidangan ringan untuk mengganjal perut, walaupun saya sudah berbekal kue yang dibeli di Jogja. Ada nasi kucing, serabi, talas goreng, pisang goreng dengan minuman jahe yang hangat. Hidangan ringan yang tepat untuk mengawali pertunjukan malam di bawah langit.

Rupanya menikmati hidangan ringan ini juga merupakan bagian dari acara agar para tamu bisa saling berkenalan atau mempererat silaturahmi bagi mereka yang sudah saling mengenal. Sambil menyantap hidangan, saya memperhatikan para tamu yang hadir. Saya agak miris, karena tamu yang datang tidaklah berlimpah (dibandingkan dengan konser pertunjukan musik). Tamu asing yang menjadi sasaran acara ini juga tidak terlalu banyak. Apakah karena kurang promosi? Apakah karena berbenturan dengan berbagai festival lain di Indonesia? Yang jelas di Jogja sendiri sedang berlangsung Festival Kesenian Yogyakarta dan di Jember sedang berlangsung Jember Fashion Carnival yang sudah mempunyai nama di jagat internasional. Tidak mungkin karena kurang megahnya Borobudur, bukan?

Gending Jawa terdengar seakan memanggil tamu untuk segera menduduki tempat yang telah ditentukan tanpa bisa memilih. Saya duduk di baris ketiga sayap kanan tepat di sisi lorong tengah. Di depan saya sudah duduk beberapa orang warganegara asing dan beberapa tamu VIP dari jajaran dinas. Dan sekitar 25 meter ke depan, terhampar panggung Aksobya dengan latar belakang Candi Borobudur yang megah disinari lampu dari belakang. Terasa magis.

Dan akhirnya sekitar jam delapan malam, dua orang pembawa acara memecahkan kekosongan waktu menandakan pertunjukan segera dimulai. Saya berbisik dalam hati, semoga pertunjukan ini seindah dan semegah Borobudur.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Satu jam pertunjukan tari berlangsung cepat. Dikemas dalam bentuk sendratari, -yang konon gerakannya merupakan intepretasi atas tiga ajaran hidup yang ada dalam struktur candi, mulai kamadhatu, rupadhatu dan arupadhatu-, pertunjukan tari ini dibuka dengan memperlihatkan aspek-aspek kehidupan masyarakat yang saat itu banyak melakukan tindakan tak terpuji. Situasi itu membawa Rakai Panangkaran, -seorang tokoh spiritual pada masa tersebut-, menyampaikan amanat kepada Raja Smaratungga untuk mengajarkan kepada mereka jalan kehidupan yang baik dengan pembangunan sebuah candi yang berbentuk batu berundak dengan konsep ajaran kamadhatu, rupadathu dan arupadhatu. Keputusan penting yang diambil pada abad ke 8 itu diawali dengan penunjukan Guna Dharma sebagai pemimpin pembangunan Candi Borobudur. Dan sebagaimana sebuah proses pembangunan Mahakarya yang memakan waktu lama, dikisahkan pula situasi kehidupan masyarakat yang penuh suka duka, turun naik selaras dengan perjalanan waktu. Lalu dengan kemauan yang kuat dari Raja Smaratungga dan didukung kekuatan doa serta kekuatan masyarakat untuk tetap membangun Borobudur, pada akhirnya Candi Borobudur bisa tegak berdiri dengan megahnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Cerita yang sederhana di balik keanggunan Candi Borobudur yang berdiri di latar belakang. Saya ikuti pertunjukan yang ditarikan dengan puluhan penari ISI Surakarta. Beberapa adegan terasa berulang sehingga saya sempat seperti melihat pertunjukan dengan tombol rewind. Hanya ada satu adegan tarian yang diiringi bunyi-bunyian gemerincing di kaki dan tangan sehingga membuat atmosfir pertunjukan terasa dinamis. Ditambah dengan sebuah momen tiba-tiba lampu dinyalakan terang dan binatang-binatang ternak, bebek-bebek dan kambing serta penari yang berbusana rakyat petani berjalan mondar mandir di depan panggung dekat dengan para tamu, sebuah momen yang mengejutkan, menyegarkan dan membuat senyum tersungging di wajah para penonton.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Saya menyaksikan pertunjukan ini dengan harapan yang tinggi. Pertunjukan Mahakarya Borobudur ini indah walaupun terasa kurang garam. Kekuatan kata Mahakarya yang digunakan dalam judul pertunjukan sepertinya melambungkan harapan para penonton, seakan-akan menjadikan pertunjukan ini sebuah mahakarya. Padahal yang Mahakarya adalah Borobudurnya, bukan pertunjukannya.

Pertunjukan ini memang cenderung kolosal, walaupun tidak sekolosal yang dibayangkan. Juga latar belakang Borobudur yang disinari lampu dari belakang memang membuat efek magis. Dan memang tidak dapat dipungkiri, yang membuat cantik itu Candi Borobudurnya, yang bagi saya selalu membuat saya penuh cinta kepadanya.

Imajinasi saya tentang pertunjukan di Borobudur yang akan membuat merinding karena kekuatan rasa sebuah pagelaran seni, tidak terjadi. Saya selalu membayangkan penari-penarinya muncul dari replika stupa-stupa Borobudur sehingga terasa menyatu dengan candi Borobudur yang megah. Seperti pertunjukan tari Apsara yang pernah dilakukan di pelataran Angkor Wat, Kamboja pada waktu malam yang terasa mistis, lengkap dengan lilin dan obor sepanjang jalan lorong-lorongnya.

Dan bagi saya, mungkin juga bagi penonton asing yang mencari makna di balik pertunjukan tari ini, sungguh sayang tidak tersedia buku acara atau lembaran buku acara yang bisa dibagikan, atau bahkan dijual mengenai tahapan-tahapan pertunjukan tari. Bukankah hal itu bisa menjadi lahan pemasukan dana bagi penyelenggara?

Walaupun demikian, saya sangat mengapresiasi pertunjukan ini sebagai upaya wisata malam di Candi Borobudur. Saya percaya bahwa seni pertunjukan di Indonesia bisa lebih meningkat karena Indonesia tidak akan pernah kekurangan kreativitas untuk menciptakan hal-hal baru yang lebih hebat.

Hwaseong Fortress: Menjadi Warisan Dunia Karena Sebuah Buku Tua


Dari sebuah benteng yang dirancang untuk menjadi Ibukota

Disusun dan dibangun dengan perhitungan rinci tanpa cela

Namun perlahan terlupakan karena pergantian para penguasa

Lalu hancur total akibat Jepang menyerang juga Perang Korea

Dua ratus tahun setelahnya Hwaseong seakan tak pernah ada

Namun dari sebuah buku, Hwaseongseongyeokuigwe namanya

Para ahli bersatu padu bekerja sama membangun sebuah citra

Dan dalam dua tahun Hwaseong Fortress yang hilang kembali ada

Abad-18 Hwaseong hanya merupakan bagian dari Istana Raja

Abad-20 Hwaseong telah menjadi bagian dari Warisan Dunia

*

Menjelang sore pada musim gugur di Suwon, Korea Selatan…

Hwaseong Fortress, salah satu UNESCO World Heritage Site di Korea Selatan, berdiri dengan megah. Benteng atau Fortress ini pada awal pembangunannya merupakan bagian dari Istana Haenggung, tempat kediaman sementara para Kaisar dari Dinasti Joseon di luar kediaman resminya di ibukota negeri. Dan Kaisar Jeongjo-lah yang menginstruksikan pembangunan benteng pertahanan sepanjang 5.5km ini mengelilingi sebuah kota yang dirancang mandiri sebagai pengungkapan bakti Sang Kaisar kepada ayahnya, Putra Mahkota Sadosaeja. Selain mendirikan benteng, sepanjang pemerintahannya, Kaisar Jeongjo senantiasa berupaya berbakti dengan cara membersihkan nama ayahnya yang dibunuh oleh tangan kakeknya sendiri.

Hwaseong Fortress - Suwon
Hwaseong Fortress – Suwon

Kata “Hwaseong” sendiri sesungguhnya memiliki makna filosofis yang sangat dalam, karena berasal dari salah satu pengajaran Konfusianisme, Jangja. Dalam karakter China, Hwaseong merupakan tempat yang diperintah oleh seorang tokoh legenda yang bijak dan bermoral sempurna yakni Kaisar Yao. Beliau adalah kaisar legendaris dalam sejarah Cina kuno yang kebajikannya digunakan sebagai model untuk kaisar Cina pada masa-masa selanjutnya. Masa pemerintahan Kaisar Yao merupakan waktu yang paling damai dan makmur dalam sejarah Cina kuno. Dengan dilatarbelakangi oleh pemahaman filosofis yang dalam itu, pembangunan Hwaseong Fortress di Korea Selatan menjadi luar biasa.

Hingga kini Hwaseong Fortress menjadi benteng dengan struktur terhebat dan penuh perhitungan yang pernah dibuat di dunia. Memiliki empat gerbang di setiap arah mata angin. Janganmun di Utara, Paldamun di Selatan, Changnyongmun di Timur dan Hwaseomun di Barat. Bahkan katanya setiap lubang diantara batu batanya diukur dengan presisi sehingga dapat menembakkan senjata, panah atau tombak panjang.

Dan kehebatan Hwaseong Fortress tidak berhenti sampai disitu. Benteng ini bahkan menjadi pelopor perencanaan pembangunan kota di tingkat dunia, dilihat dari segi kelengkapan sarana dan prasarana serta perencanaan matang yang sistematis dibandingkan pembangunan kota yang serupa pada jamannya seperti Saint Petersburg di Rusia atau bahkan Washington DC di Amerika. Sebuah pemikiran yang sangat hebat dari Kaisar Jeongjo, orang yang menginstruksikan pembangunan Hwaseong Fortress ini.

Sejarah mengisahkan ketika Kaisar Jeongjo bertempat tinggal sementara di Istana Haenggung dalam rangka kunjungan ke wilayah Suwon, Sang Kaisar mulai menginstruksikan pembangunan Hwaseong Fortress termasuk kota di dalamnya. Pada awalnya Kaisar Jeongjo merencanakan Hwaseong menjadi ibukota kedua dari Dinasti Joseon. Untuk itu, Kaisar Jeongjo berencana akan pindah ke istana Haenggung, untuk menikmati kota Hwaseong-nya, setelah ia menyerahkan tahtanya kepada penerusnya. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Kaisar Jeongjo mangkat dalam usia yang relatif muda pada tahun 1800 menyebabkan Hwaseong perlahan-lahan terlupakan oleh peradaban.

Janganmun North Gate of Hwaseong Fortress, Suwon (means capital city and welfare of the people)
Janganmun North Gate of Hwaseong Fortress, Suwon (means capital city and welfare of the people)

Dan UNESCO pun mencatat Hwaseong Fortress dalam daftar World Heritage Site…

Sebenarnya Hwaseong Fortress masih relatif berumur muda, sekitar 200 tahun, jika dibandingkan dengan seribuan obyek lainnya yang bisa mencapai ribuan tahun, untuk tercatat dalam daftar UNESCO World Heritaga Site. Ditambah lagi sebagian besar struktur asli sudah hancur karena penyerangan Jepang dan akibat perang Korea. Lalu apa yang menyebabkan tempat itu bisa terdaftar sebagai World Heritage Site?

Dan karena sebuah buku kuno, Hwaseongseongyeokuigwe, sehingga Hwaseong Fortress dapat direkonstruksi kembali mengikuti struktur aslinya. Hwaseongseongyeokuigwe merupakan buku arsip yang terperinci mengenai pembangunan Hwaseong Fortress. Di dalam buku ini seluruhnya tersimpan baik penjelasan arsitektur dan prosedur teknis yang diterapkan, lengkap dengan gambar-gambar dan disain strukturnya, dimensi struktur, penggunaan dan sumber bahan baku yang digunakan dan hal-hal kecil lainnya. Sungguh menakjubkan berdasarkan satu buku kuno berumur ratusan tahun itu, pembangunan kembali benteng ke bentuk aslinya bisa dilakukan dengan sangat mudah.

Para insinyur dan ahli teknik masa kini benar-benar mengikuti semua petunjuk yang diberikan dalam buku Hwaseongseongyeokuigwe, yang dimulai dari menemukan jenis yang tepat untuk menghasilkan bentuk dan kualitas batu bata yang digunakan. Setelah batubata diproduksi dengan benar, kumpulan batu itu digunakan untuk membangun tembok benteng seperti yang dijelaskan dalam dokumen.

Hwaseong Fortress sepertinya merupakan kasus pertama kali dan satu-satunya hingga kini, sebuah monumen sejarah yang hancur total dibangun kembali hanya berdasarkan dokumen tertulis. Kelengkapan Hwaseongseongyeokuigwe, yang penuh informasi ilmiah yang sangat detail, membuat monumen ini memungkinkan memenangkan gelar sebagai UNESCO World Heritage Site.

*

Setelah membayar tiket masuk, rencana melihat Gukgung (Korean Traditional Archery) di dekat pintu masuk batal karena saat itu merupakan trip terakhir kereta kelilingHwaseong Fortress. Saya sedang malas mendaki berkilo-kilometer sehingga tawarannaik kereta keliling disambut gembira. Sebenarnya para penumpang diberikan informasi mengenai tempat-tempat menarik sepanjang perjalanan, tetapi sayangnya dalam bahasa Korea!

A corner in Hwaseong Fortress in Suwon. It's believed to have been constructed very scientifically — at Hwaseong Fortress.
A corner in Hwaseong Fortress in Suwon. It’s believed to have been constructed very scientifically — at Hwaseong Fortress.

Sudah beberapa gerbang dan tempat pemantauan benteng terlewati. Kereta masih menyusuri tembok benteng yang berdiri tegak, seakan angkuh terhadap kemungkinan serangan musuh. Kemudian berjalan perlahan mendaki bukit. Tampak seluruh permukaan tanah tertutup dengan rumput hijau yang terpelihara. Pemerintah Korea Selatan bersama warga sekitar bersama-sama menjaga lingkungan agar tetap indah dan di sudut lain, tampak tembok benteng menjulang di balik rimbunnya rumput keladi yang berbunga.

Tak lama kemudian kereta memasuki wilayah dengan pepohonan berwarna khas musim gugur yang terhampar di depan mata. Merah, hijau, kuning keemasan dan jalanan yang sepi. Ketika kereta melewati perlahan sebuah pelataran dengan patung besar, terlontar keinginan untuk turun menikmati pemandangan. Dan ternyata kereta memang berhenti di situ, menurunkan semua penumpangnya dan kembali kosong. Dan memang trip terakhir kereta tidak termasuk kembali ke tempat awal sehingga saya harus berjalan kaki untuk kembali.

Setelah mengeksplorasi pelataran berisi patung besar Kaisar Jeongjo, saya menikmati jalan-jalan di sekitarnya dalam suasana musim gugur. Sebagai orang tropis, saya menikmati sekali pengalaman berjalan-jalan diantara pohon-pohon yang berwarna-warni dengan gugurnya dedaunan. Banyak juga warga lokal dari segala umur yang berjogging. Bahkan disediakan peralatan olahraga di area terbuka.

The Bronze Statue of King Jeongjo The Great
The Bronze Statue of King Jeongjo The Great
The Map & Pictures of Hwaseong Fortress on the Wall next to the Statue
The Map & Pictures of Hwaseong Fortress on the Wall next to the Statue
Public Park in Autumn inside the Hwaseong Fortress
Public Park in Autumn inside the Hwaseong Fortress

Belum ingin berpisah dengan indahnya suasana, saya bahkan mendaki ke puncak bukit. Dan sampai di atas, terhampar pemandangan yang jauh lebih indah dari kota Suwon, apalagi menjelang malam, lampu-lampu kota dinyalakan. Saya duduk menikmati malam. Seandainya Kaisar Jeongjo masih hidup, tentunya ia juga suka melihat pemandangan ini. Pemandangan lepas, udara dingin, sangat tepat untuk berpikir strategis memikirkan bangsa dan negara.

Malam merangkak pelan. Waktu juga yang memutuskan. Saya berjalan turun perlahan sambil melamunkan keluarbiasaan situs warisan dunia, Hwaseong Fortress ini. Yang tadinya hancur, dalam waktu dua tahun bisa kembali berdiri megah. Hanya karena sebuah buku tua. Saya belajar bahwa dari dokumentasi yang detil dan menyeluruh, apa yang hancur bisa kembalikan ke semula. Ah, rasa terima kasih tak terhingga untuk Kaisar Jeongjo!

A part of 5.5km of the Hwaseong Fortress
A part of 5.5km of the Hwaseong Fortress
Seojangdae (Western Command Post), built 1794 on the summit of Mt. Paldal
Seojangdae (Western Command Post), built 1794 on the summit of Mt. Paldal
Hwaseong Fortress at night
Hwaseong Fortress at night

*

Hwaseong Fortress dibuka setiap hari untuk umum, pk. 09.00 – 18.00 kecuali musim dingin dari pk. 09.00 – pk. 17.00 dengan harga tiket masuk 1000 Won (dewasa) dan 500 Won (anak-anak).

Mengintip Puncak Merapi dari Balik Legenda Candi Sewu


Konon, suatu hari yang indah di bumi Mataram…
 
Seorang puteri raja yang cantik jelita, Roro Jonggrang namanya, tengah meratapi kematian ayahnya, Prabu Boko, yang gugur di tangan Sang Pangeran dari Kerajaan Pengging, kerajaan di sebelah wilayah kerajaan Boko.
 
Sementara itu, Bandung Bondowoso, nama Sang Pangeran yang terkenal sakti itu, tengah berupaya menaklukkan rasa gundahnya karena telah membunuh ayah dari Roro Jonggrang. Sebagai Pangeran, ia harus menjaga keutuhan wilayah kekuasaan kerajaannya, tetapi di sisi lain, ia tak sampai hati melihat penderitaan seorang puteri cantik. Untuk menebus rasa bersalahnya, sebagai laki-laki sejati ia berniat menikahi Roro Jonggrang sehingga ia bisa menjaga Sang Puteri seumur hidupnya.
 
Perasaan tulus ikhlas Bandung Bondowoso ingin memperisteri Roro Jonggrang, disambut Sang Puteri dengan perasaan campur aduk. Tentu saja Roro Jonggrang tidak mau menerima lamaran Bandung Bondowoso, pembunuh ayahnya. Tetapi sebagai seorang puteri, ia harus menggunakan cara-cara yang anggun untuk menolak lamaran tanpa terlihat sikap penolakannya. Setelah berpikir keras, Roro Jonggrang bersedia menerima lamaran dengan dua syarat, yakni Bandung Bondowoso harus membuat sebuah sumur Jalatunda dan seribu candi yang harus selesai dalam sehari semalam. Yakin akan kesaktiannya, Bandung Bondowoso menerima persyaratan itu.
 
Bandung Bondowoso dengan mudah menyelesaikan pembuatan sumur Jalatunda. Tak percaya persyaratan pertama telah selesai dan teringat ia harus bersanding dengan laki-laki pembunuh ayahnya, Roro Jonggrang berusaha memperdaya Bandung Bondowoso dengan memintanya memeriksa kekuatan dinding sumur. Ketika Bandung Bondowoso berada di dasar sumur, Roro Jonggrang bersama dayang dan pembantu istana berusaha mengubur hidup-hidup Bandung Bondowoso dengan timbunan tanah. Namun, karena kesaktiannya, ia berhasil keluar dari timbunan tanah itu. Bandung Bondowoso sempat marah karena tipu daya Roro Jonggrang, tetapi Sang Puteri berhasil memadamkan kemarahannya karena gerak gemulai, rayuan dan kecantikannya. Bandung Bondowoso pun luluh hatinya dan bermaksud menyelesaikan persyaratan ke dua.
 
Karena kesaktiannya, Bandung Bondowoso berhasil meminta bantuan para makhluk halus untuk membangun 1000 candi. Melihat pekerjaan membangun 1000 candi itu hampir rampung, Roro Jonggrang membangunkan para dayangnya dan perempuan desa untuk mulai menumbuk padi pada lesung dan membakar jerami pada sisi Timur seakan-akan pagi telah datang. Bahkan ayam-ayam pun terpedaya dan mulai berkokok melihat kegiatan pagi sudah berlangsung. Mengira bahwa sebentar lagi sang mentari akan terbit, para makhluk halus lari tunggang langgang meninggalkan pekerjaan yang sudah mencapai 999 candi sehingga Bandung Bondowoso dinyatakan gagal memenuhi syarat yang diajukan Roro Jonggrang. Mengetahui bahwa kegagalan itu sebagai akibat dari tipu muslihat Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso murka. Ia tak lagi percaya akan gerak gemulai dan kecantikan Roro Jonggrang. Dalam kemurkaannya ia mengutuk Rara Jonggrang menjadi batu, melengkapi menjadi candi yang ke seribu.
 
Itulah legenda asal muasal Candi Sewu yang konon merupakan 999 candi yang belum rampung, dan arca Durga di ruang utara candi Prambanan adalah perwujudan sang putri yang dikutuk menjadi batu dan dikenal sebagai Candi Roro Jonggrang yang berarti gadis yang cantik semampai.
 
<><><> 
Candi Sewu - Candi utama
Candi Sewu – Candi utama

Legenda Roro Jonggrang yang sudah diceritakan sejak kecil itu kembali memenuhi benak ketika saya melangkah melalui pintu tak resmi Candi Sewu yang biasa digunakan bagi para petugas candi yang terletak di sebelah utara. Hanya ada seorang petugas yang ramah menyapa saya yang datang kepagian.  Mungkin terasa janggal melihat ada pengunjung yang datang pagi-pagi ke Candi yang juga jarang dikunjungi walaupun bersebelahan dengan Candi Prambanan. Tidak ada tiket masuk, tetapi saya tetap meletakkan beberapa lembar uang donasi pemeliharaan candi karena kecintaan saya kepada bebatuan peninggalan sejarah itu. Dan selanjutnya saya seakan lebur di dalam atmosfer candi.

Candi Sewu, hamparan batu yang terserak
Candi Sewu, hamparan batu yang terserak

Entah apa yang terbentuk dalam pikiran, ketika melihat reruntuhan batu candi, saya selalu merasa antusias. Demikian juga ketika saya melihat hamparan batu tak beraturan di depan mata ini. Menurut  legenda, inilah hasil kerja para makhluk halus yang lari tunggang langgang karena menganggap pagi sudah datang. Ribuan batu tak beraturan, hamparan candi yang belum sepenuhnya rampung. Candi Sewu, yang berarti seribu dalam bahasa Jawa, hanya menunjukkan hiperbolisme tutur bahasa Jawa sebagai pengganti kata banyak sekali. Walaupun menurut sumber yang bisa dipercaya, sebenarnya Candi Sewu hanya berjumlah 249 yang terdiri dari 1 Candi Utama, 8 Candi Pengapit dan 240 Candi Perwara dan semua disusun dalam posisi yang simetris dengan Candi Utama yang besar berada di tengah-tengah. Saya membayangkan tampak aerialnya dari udara, pasti luar biasa cantik. Ah, sepertinya saya harus meminjam baling-baling bambunya Doraemon untuk melihat keindahan ini…

Dan hmm… karena melalui pintu tak resmi, saya tak disambut oleh dua patung Dwarapala yang saling berhadapan menjaga candi di gerbang pelataran luar di tiap arah mata angin. Bahkan untuk menekankan betapa kuat ‘penjagaan’nya, antara pelataran luar dan pelataran dalampun dipisahkan dengan sepasang dwarapala yang memegang gada. Bagaimanapun nanti saya harus melewati dua Dwarapala yang ada di pelataran dalam untuk masuk ke Candi Utama.

Candi Sewu, yang belum selesai menurut legendanya
Candi Sewu, yang belum selesai menurut legendanya

Langkah saya pelan menapaki pelataran luar candi yang dibangun pada abad 8 atas perintah penguasa Mataram saat itu, Rakai Panangkaran dan Rakai Pikatan yang beragama Hindu. Sebuah contoh nyata seorang penguasa yang mengedepankan toleransi kehidupan beragama rakyatnya. Candi Sewu memang merupakan candi Buddha yang saat itu digunakan untuk berbagai kegiatan peribadatan bagi masyarakat bumi Mataram yang beragama Buddha.

Dari pelataran luar saya bisa menikmati Gunung Merapi di kejauhan yang puncaknya seperti terbelah sebagai akibat kegiatan vulkaniknya yang frekuentif. Inilah enaknya berkunjung pada pagi hari, belum ada pengunjung lain dan kondisi langit bersih. Entah kenapa melihat Gunung Merapi, sehelai benang lamunan terbang memintal legenda Candi Sewu. Tak ingin berpikir jauh, segera saya mencabutnya dari taman pikiran dan kembali menikmati bangunan-bangunan batu yang berdiri megah.

Puncak Merapi dan Stupa Candi Sewu, diantara banyak legenda dan mitos
Puncak Merapi dan Stupa Candi Sewu, diantara banyak legenda dan mitos

Saya memandangi Candi Utama penuh kekaguman. Sungguh saya menyukai arsitektur candi utama karena bentuknya yang bersudut-sudut, atap seakan berlapis dan memiliki pembatas yang dibentuk indah setinggi sekitar 1 meter. Di abad ketika teknologi penggunaan semen belum ditemukan, rumus rumit matematis konstruksi dan ketahanan material belum dihitung, Candi Sewu dibangun hingga ketinggian sekitar 30 meter dan menariknya di tiap atap yang berjumlah 9 itu terdapat stupa pada puncaknya. Sungguh saat itu leluhur kita berada dalam sebuah peradaban yang membanggakan (dan pikiran saya terbang ke Candi Prambanan yang lebih tinggi daripada Candi Sewu dan berlokasi di kompleks sebelah, hingga kini di abad 21, kita masih kesulitan teknologi untuk melakukan pembersihan puncak-puncak Candi!)

Candi Sewu - Candi Utama dilihat dari sudut candi pengapit
Candi Sewu – Candi Utama dilihat dari sudut candi pengapit

Seakan telah mendapat izin dari dua Dwarapala bergada, saya menaiki tangga Timur Candi Utama yang berhiaskan makara menuju selasar Candi. Di ketinggian lantai ini, saya terpana menikmati lebih jelas keindahan puncak Merapi yang seakan terbelah. Pagi yang luar biasa! Lagi-lagi sejumput lamun terbang menggoda benak, teringat legenda kesaktiannya, apakah Bandung Bondowoso masih dalam kemurkaan abadinya sehingga membelah Puncak Merapi? Dan bukankah beredar pula mitos bagi pasangan yang belum menikah akan bubar jika berkunjung ke Candi Prambanan? Ah, nakalnya lompatan lamunan ini…

Gunung Merapi di antar Stupa Candi Sewu
Gunung Merapi di antar Stupa Candi Sewu

Sambil tersenyum mengusir lamunan, pelan saya melangkah ke ruang dalam Candi yang memiliki tempat untuk meletakkan benda-benda untuk peribadatan. Mungkin demi keamanan, benda-benda ini sudah diselamatkan terlebih dahulu ke museum dan meninggalkan relung kosong. Kemudian saya melangkah menyusuri Candi hingga ke sisi Barat.

Dari Pintu Ruang Dalam Candi Sewu
Dari Pintu Ruang Dalam Candi Sewu
Gunung Merapi diantara tiga Candi Pengapit di Candi Sewu
Gunung Merapi diantara tiga Candi Pengapit di Candi Sewu

Di balik keteduhan Candi karena tak terkena sinar matahari pagi, saya melihat pelataran yang juga dilengkapi oleh Candi Pendamping dan Candi Perwara dan ribuan reruntuhan batu yang masih belum tersusun. Candi Pendamping membelah jalan untuk mencapai pintu masuk dan  memiliki relief pada dinding berupa sosok laki-laki berbusana bangsawan yang sedang berdiri. Ratusan Candi Perwara terhampar di pelataran luar.

Siapakah Dia? - Relief di Candi Sewu
Siapakah Dia? – Relief di Candi Sewu
Candi Sewu - Relief di Candi Pengapit
Candi Sewu – Relief di Candi Pengapit
Hiasan-hiasan pada Candi Pengapit di Candi Sewu
Hiasan-hiasan pada Candi Pengapit di Candi Sewu

Saya menikmati setiap detiknya berada di Candi Sewu tanpa kehadiran pengunjung lain sambil menikmati pemandangan indah Gunung Merapi di kejauhan. Hamparan batu candi berserakan di pelataran membuat saya tersenyum sendiri. Bagi saya candi ini luar biasa berkesannya. Rapi sekaligus berantakan, Yin dan Yang, Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso, kasih sayang dan kebencian… Sebuah harmoni.

Candi Sewu - Rapi dan Berserakan dalam Harmoni
Candi Sewu – Rapi dan Berserakan dalam Harmoni

Matahari pagi pelan-pelan mulai meninggi. Sayup-sayup terdengar suara bus-bus yang mulai berdatangan memenuhi tempat parkir Candi Prambanan yang letaknya bersisian dengan Candi Sewu. Ah, sebentar lagi pengunjung lain akan berdatangan memberi warna lain pada candi. Saya bangkit membereskan barang bawaan dan melangkah pulang bersama legenda Roro Jonggrang…

Banten Lama: Menguak Peradaban Empat Abad Silam


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pertengahan Maret 2014 lalu saya menyempatkan jalan-jalan seharian ke kawasan Banten Lama, salah satu Tentative List of UNESCO World Heritage Site yang diajukan Indonesia sejak tahun 1995. Dan ketika sampai di kawasan tersebut, perasaan saya miris sekali menyaksikan kondisi kawasan yang pernah menjadi destinasi para pengarung samudera dan penjelajah dunia. Bagaimana dunia akan mengetahuinya jika kita sendiri tidak memeliharanya dan cenderung mengabaikan tempat bersejarah itu?

Sejarah tak dapat ditutupi bahwa pada abad 16 Banten Lama telah terukir sebagai kawasan yang riuh dengan kehidupan internasional di bumi Nusantara tercinta ini. Telah berabad lamanya tertinggal catatan-catatan pengelana China, budaya dan pengaruh dari syiar Islam yang datang dari jazirah Arab, peninggalan hasil usaha pedagang-pedagang Persia, Goa, negeri-negeri Eropa, berbagai ragam arsitektur bangunan, implementasi pengelolaan sumber daya air dan dari temuan-temuan di situs yang terdiri dari keramik, koin, perhiasan dan lain-lain yang berasal dari berbagai negara di dunia pada saat itu, kesemuanya memberikan bukti yang jelas nyata. Dan bukankah ada nama Belanda yang tertulis di buku-buku pelajaran sejarah Indonesia, Cornelis de Hautman, yang memimpin pendaratan Belanda di kawasan Banten di tahun 1596? Dan siapa sangka, ternyata pertempuran hebat di Sunda Kelapa yang akhirnya dimenangkan oleh Fatahillah itu memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah Banten Lama. Dan bahkan jika dirunut ke belakang maka Sunan Gunung Jati di Cirebon, Kerajaan Demak, hingga Sunan Ampel di Jawa Timur juga memiliki keterkaitan yang lekat dengan Banten. Bagi saya pribadi, jalan-jalan kali ini sungguh membukakan wajah Indonesia yang penuh kejayaan 4 abad silam.

Peninggalan-peninggalan Kejayaan Masa Lalu

Untuk menikmati seluruh peninggalan kejayaan masa lalu satu per satu tidak mungkin diselesaikan dalam satu hari karena terseraknya obyek di kawasan Banten Lama. Apalagi bila ditambah niat melakukan ziarah syiar Islam di Banten, tentu memakan waktu lebih lama. Namun kali ini saya dapat mengunjungi dan menikmati sebagian besar dari peninggalan sejarah yang luar biasa ini.

1. Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Saya mengawali jalan-jalan kali ini di museum yang menjadi gerbang utama untuk menelusuri jejak kejayaan masa lalu Banten Lama. Dengan harga tiket senilai uang logam Rupiah terbesar alias Rp. 1000,- kita bisa mendapatkan banyak informasi mengenai kehidupan Banten pada jaman dahulu kala dengan berbagai koleksi artefak yang ditemukan di situs-situs sekitar Banten Lama. Terdapat koleksi perhiasan, senjata, keramik, saluran pengelolaan air, bahkan patung Nandi sebagai kendaraan Dewa Syiwa dan lain-lain. Di depan Museum ini diperagakan pula Ki Amuk, meriam besar yang dipergunakan ketika terjadi pertempuran dengan Belanda. Selain itu diperagakan pula peralatan penggilingan tebu, batu-batu hiasan Kraton Surosowan dan nisan-nisan makam Cina.

2. Jembatan Rante

Jembatan yang telah kehilangan rantai, tiang besi dan kayu yang dapat diangkat ini, pada jaman dulu merupakan tempat pemeriksaan pajak terhadap barang dagangan di perahu-perahu yang akan masuk ke Banten. Lolos urusan perpajakan, petugas akan menarik rantai yang mengikat papan kayu sebagai landasan penyeberangan jembatan sehingga perahu bisa lewat melanjutkan perjalanan. Jembatan Rante ini dapat dicapai dengan berjalan kaki karena lokasinya sekitar 300meter dari Kraton Surosowan menuju Mesjid Agung Banten dan berada di belakang kios-kios penjual cinderamata. Sayang sekali, kondisi kanal tidak tertata apik, air yang tak jernih dengan tumbuhan enceng gondok disana sini serta sampah yang terserak di pinggir kanal membuat jembatan Rante seakan kehilangan nilai historisnya.

3. Masjid Agung Banten

Mesjid yang dibangun oleh Sultan Muhammad Hasanuddin sebagai Sultan Banten I pada pertengahan abad 16 ini merupakan salah satu mesjid yang bercirikan arsitektur Jawa Kuno dan memiliki Menara setinggi 24m yang berdiri anggun di halaman Mesjid, yang dari pintu pertama atau kedua Menara pemandangan indah sekitar hingga ke pantai laut Jawa dapat terlihat. Selain dikunjungi oleh orang-orang yang beribadah, mesjid ini juga didatangi oleh pengunjung yang menziarahi makam-makam para ahli syiar Islam yang terdapat pada kompleks mesjid dan seantero Banten.

4. Kraton Surosowan

Tepat di seberang Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama terdapat Kraton Surosowan yang kini tinggal reruntuhan dinding dan batu-batu fondasi yang terbuat dari bata merah. Apa yang tertinggal dapat menggambarkan betapa megah kraton pada masanya, yang merupakan pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya dan seluruh sendi kehidupan dalam masyarakat Banten. Kraton yang luasnya tiga kali lapangan bola ini merupakan tempat tinggal para Sultan sekaligus tempat berinteraksi dengan rakyatnya. Di bagian tengah reruntuhan Kraton ini terdapat kolam pemandian Ratu Dhenok dan Pancuran Emas yang sering dijadikan tempat melakukan ritual kungkum bagi sebagian orang yang percaya akan mendapatkan kekuatan dari para leluhur (walaupun airnya tak lagi bening, penuh lumut kehijauan dengan botol plastik yang dibuang disana sini). Juga di sudut-sudut Kraton yang berbentuk seperti relung gua, sering dijadikan tempat bersemedi mencari wangsit. Berada dalam lingkungan Kraton Surosowan yang penuh sejarah ini, sepertinya kita dibawa ke dunia lain sambil menerka-nerka bagaimana bentuk Kraton pada masanya.

5. Watu Gilang

Merupakan lempeng batu persegi panjang yang menjadi tempat pentahbisan Sultan-sultan Banten jaman dulu sekaligus tempat memberikan pengumuman dari Kraton untuk rakyat. Watu Gilang saat ini telah berada dalam naungan sebuah pergola berpagar setelah lama sebelumnya tergeletak terabaikan begitu saja di lapangan terbuka terkena panas hujan. Kondisi ini lebih baik walau tetap menyedihkan, karena lingkungan sekitarnya tidak tertata rapi dan terkesan kumuh sehingga obyek ini seperti kehilangan aura sakral penuh karismatik dari apa yang pernah terjadi di atas batu itu. Dan apabila Watu Gilang disejajarkan tingkatnya dengan sebuah Tahta Kesultanan, sepertinya kita telah berkhianat terhadap akar budaya sendiri ketika benda bersejarah itu terserak diantara kekumuhan kios-kios pedagang, berhiaskan sampah dan kotoran-kotoran binatang yang bebas berkeliaran, dan dijadikan tempat mencari wangsit.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

6. Kraton Kaibon

Kraton Kaibon merupakan istana Ratu Aisyah, ibunda dari Sultan Syaifudin, yang kini tinggal tersisa gapura, reruntuhan dinding dan batu-batu fondasi karena dihancurkan Belanda pada masa kolonial sehingga menyimpan imajinasi akan kehebatan dan keindahan Kraton pada jaman dahulu. Sayangnya, rerumputan yang tertata cukup baik mengundang kambing-kambing berkeliaran dan meninggalkan kotoran-kotorannya sembarangan di tempat yang bersejarah ini. Dan ketika hujan lebat turun, tak jarang Kraton Kaibon ini tergenang cukup tinggi, alam menunjukkan dayanya merusak secara perlahan tapi pasti struktur bangunan yang menjadi salah satu icon peradaban empat abad silam.

7. Pelabuhan nelayan Karangantu

Pelabuhan tradisional sejak abad 16 ini tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi yang dijunjungnya dengan memelihara perahu-perahu nelayan yang dimiliki secara turun temurun. Walaupun tak bisa menandingi metropolis-nya Banten jaman dulu dan cakupannya yang lebih kecil daripada pelabuhan Sunda Kelapa, perahu-perahu yang ada cukup membawa kenangan akan hebatnya kehidupan komunitas maritim di wilayah Banten Lama.

8. Kerkhof

Bekas pemakaman Belanda yang berada di sisi Benteng Speelwijk ini meninggalkan satu atau dua bangunan makam yang cukup menarik. Jika didekati, tulisan indah berukir jaman Belanda masih terlihat di salah satu bangunan makam yang sayangnya tempat ini terbengkalai diantara rumput ilalang yang tinggi. Pemandu saya memperlihatkan betapa bagusnya kualitas besi orisinal yang digunakan untuk pagar asli yang masih tersisa. Dengan getir beliau bercerita di balik kisah besi orisinal itu. Ketika pintu jeruji dengan kualitas besi yang sangat bagus di bangunan kecil dekat gerbang, hilang dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab, seluruh satpam yang menjaga kawasan obyek wisata Banten Lama terkena sanksi oleh pejabat dinasnya (dan respons otomatis muncul dari dalam hati saya, apakah juga ada sanksi yang berlaku untuk pejabat dinasnya?)

9. Benteng Speelwijk

Benteng yang tadinya berada di dekat pantai dan sekarang sudah menjorok ke tengah daratan karena pendangkalan laut ini, hanya tinggal tembok keliling yang masih terlihat kokoh dan sebagian bastion. Ketika berada di dalam Benteng, entah saya harus getir atau tersenyum. Karena tempat terbuka di bagian tengah telah berubah menjadi lapangan bola lengkap dengan tiang gawangnya. Serasa di stadion! Bagaimana pun ketika masuk ke dalam ruang bekas gudang senjata, saya kembali merasa memasuki sebuah benteng militer yang selalu bercirikan tembok kokoh, lorong-lorong gelap, disana-sini terkena bom. Udara langsung terasa lembab sepanjang lorong gelap menuju gudang senjata tersebut. Sesekali terdengar suara burung walet yang sengaja mencari kegelapan. Dan tentu saja, jangan lupa bawa senter untuk memasuki ruang dalam benteng ini.

10. Vihara Avalokitesvara.

Vihara yang namanya diambil dari seorang Boddhisatva yang dikenal sebagai Dewi Welas Asih (Kwan Im) ini, konon dibangun atas perintah Syarif Hidayatullah sebagai bentuk nyata atas kehidupan beragama yang harmonis pada masa itu dan kini menjadi salah satu vihara tertua di Indonesia. Patung Avalokitesvara yang konon berasal dari Dinasti Ming, terdapat di altar utama yang ada di depan, yang di sisi kiri kanannya terdapat ruang-ruang yang lebih kecil untuk ibadah. Di bagian belakang terdapat dharmasala yang dihubungkan oleh koridor cantik berhiaskan kissah legenda ular putih. Legenda Mbah Banten yang sakti penjaga sumber mata air yang dipercaya membawa kemujaraban menjadi legenda lokal yang ada di vihara ini. Banyak yang meminta air mujarab ini, tidak hanya dari golongan orang yang beribadah di vihara ini melainkan juga yang datang dari jauh dengan latar belakang yang berbeda.

11. Rumah Pecinan Kuno

Tidak jauh arah selatan dari Vihara, terdapat sebuah rumah kuno yang tinggal satu-satunya masih berdiri kokoh dan lengkap, yang dikenal sebagai Rumah Pecinan Kuno. Pada masa keemasannya, rumah-rumah dengan arsitektur China berdiri di sepanjang jalan dengan gaya yang sama. Daerah itu memang dikenal dengan daerah Pecinan yang dikhususkan bagi para keturunan China untuk berdagang. Saya membayangkan cantiknya lampion-lampion berwarna merah tergantung di langit-langit sepanjang selasar seakan tak peduli dengan kesibukan orang-orang berpakaian khas China yang lalu lalang menawarkan dagangan.

12. Masjid Pecinan Tinggi

Tak jauh dari Rumah Pecinan Kuno, setelah melewati rel kereta api, di sebelah kanan jalan terdapat Mesjid Pecinan Tinggi yang hanya tersisa Menara dan Mihrab-nya. Sungguh luar biasa menyaksikan Menara yang masih tegak berdiri yang konon didirikan pertama kali oleh Syarif Hidayatullah dan dilanjutkan oleh Maulana Hasanuddin serta menjadi mesjid yang lebih tua daripada Mesjid Agung Banten. Sungguh sayang, karena keterbatasan dana Menara dan Mihrab tampak terbengkalai terkena coretan vandalisme, bangunan terlihat sedikit miring, mungkin karena akibat banjir, tanah secara perlahan tertekan karena tak mampu menahan beban berat dari Menara.

13. Danau Tasikardi dan Pengindelan Abang

Dalam perjalanan pulang melalui Serang Barat, setelah menyaksikan pemandangan hamparan sawah yang menghijau yang menenangkan jiwa, di pinggir jalan saya melihat Pengindelan Abang, sebuah bangunan rumah penyaringan air yang berasal dari Danau Tasikardi, danau buatan berjarak 200meter. Hati saya miris sekali melihat coret-coret vandalis menghiasi seluruh bangunan Pengindelan Abang. Sungguh perbuatan yang sama sekali tidak menghargai kehebatan pengelolaan sumber daya air empat abad silam di Banten.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Akses Menuju Banten Lama

Seperti biasa, tak banyak informasi lengkap mengenai akses ke Kawasan Banten Lama, termasuk dari web resmi pariwisata Banten. Informasi justru didapat dari para Travel Bloggers yang suka berbagi cerita.

Untuk tujuan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, dari Jakarta bisa melalui Jalan Tol JakartaMerak, keluar di Serang Timur (sekitar km72) dan ikuti rambu petunjuk jalan hingga perempatan besar. Disitu, sebenarnya arah Banten Lama berbelok ke kanan, namun karena ada pengaturan lalu lintas, maka harus memutar mengikuti arah lalu lintas terlebih dahulu, sampai bertemu kembali dengan RS Sari Asih Serang diujung awal perempatan tadi. Berbeloklah ke kiri di depan RS Sari Asih itu, ikuti jalan (yang agak paralel dengan jalan tol) dan ikuti rambu petunjuk Banten Lama. Setelah beberapa saat di sebuah pertigaan, berbeloklah ke kiri mengikuti petunjuk arah Banten Lama untuk masuk ke Jl. Ayip Usman. Ikuti jalan Ayip Usman tersebut hingga mentok dan berbeloklah ke kanan, memasuki Jalan Banten lama (atau dikenal dengan Jalan Kasemen) yang di beberapa tempat rusak. Setelah melewati penjual kayu-kayu glondongan, ikuti terus jalan ini (di Google Map ditandai dengan Jl. Samaun Bakri, Jl. Kalanggaran – Sukadana)

Setelah berkilo-kilometer, menjelang sebuah jembatan besi yang besar (dan jembatan lama ada di sebelah kirinya), di kiri jalan terlihat sudut reruntuhan Kraton Kaibon. Seberangi jembatan hingga bertemu pertigaan dengan Mesjid Al Munawaroh di kanan. Berbeloklah ke kiri (ikuti jalan yang agak bergelombang) hingga bertemu dengan kompleks reruntuhan Kraton Surosowan. Di pertigaan sebenarnya dilarang jalan terus, tetapi bila Anda akan mengunjungi museum, maka ambillah jalan yang lurus itu sekitar 300m Anda akan sampai di tempat tujuan Anda.

Untuk ke Benteng Speelwijk, Kerkhoff dan Vihara Avalokitesvara, dari Museum Anda harus kembali ke jalan utama dan berbelok ke kiriketika mentok di depan Mesjid Al Munawaroh tadi, ikuti jalan sampai bertemu dengan jembatan dan pelabuhan Karangantu yang merupakan tempat bersandarnya perahu-perahu (mirip pelabuhan Sunda Kelapa). Berbeloklah ke kiri sebelum jembatan, lalu menyusuri tepian sungai dan ikuti jalan sekitar 500m, hingga terlihat sisi luar Benteng Speelwijk. Disini, bisa terlihat Bekas Pemakaman Belanda (Kerkhof). Untuk mencapai pintu masuk Benteng, kelilingilah benteng terlebih dahulu dengan kendaraan Anda. Diujung jalan Anda akan menemukan Benteng Speelwijk di sebelah kanan dan Vihara Avalokitesvara di sebelah kiri.

Untuk mencapai Rumah Pecinan Kuno, kembalilah ke jalan utama tanpa berbalik arah ke pelabuhan, dan sekitar 100 – 200 meter kita akan menemui Rumah Pecinan Kuno yang tinggal satu-satunya, dan ikuti jalan sekitar 200meter lagi akan sampai pada Mesjid Pecinan Tinggi.

Dengan mengikuti jalan tersebut menuju Kramatwatu (Akses Tol Serang Barat), maka di kanan kiri jalan terlihat pemandangan sawah-sawah yang saat saya lewati sedang siap panen. Di kejauhan tampak kumpulan pepohonan yang melingkari Danau Tasikardi. Dan sekitar 200meter sebelum Danau Tasikardi itu, kita akan melihat Pengindelan Abang tepat di pinggir jalan.

Jika kita lanjutkan perjalanan, tak lama kemudian kita akan menyeberangi jalan tol merak yang ada di bawah jembatan dan setelah berbelok kekiri di persimpangan lampu lalu lintas, kita akan sampai ke akses tol untuk kembali ke Jakarta melalui Gerbang Serang Barat.

Dan… walaupun bisa dicapai dengan menggunakan bus umum, saya tidak melihat banyak angkutan umum untuk mencapai tempat-tempat wisata tersebut. Menurut saya, akan lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi.

Waktu Terbaik

Kawasan Banten Lama dapat dikunjungi sepanjang waktu, kecuali musim hujan. 2 Jam waktu yang diperlukan agar sampai ke Banten lama dari Jakarta dengan kendaraan pribadi melalui jalan tol. Tentunya agak lebih lama bila menggunakan kendaraan umum. Karena saya menyukai hal-hal yang berbau heritage, saya memerlukan waktu hingga 6 jam untuk menikmati sebagian besar obyek wisata yang ada di kawasan tersebut, termasuk makan siang dan foto-foto santai.

Pagi hari atau sore hari merupakan waktu terbaik untuk menikmati obyek-obyek wisata yang berada di tempat terbuka (seperti Kraton Surosowan, Kraton Kaibon, Benteng Speelwijk) mengingat terik matahari yang terasa membakar kulit.

Jika Anda termasuk orang yang menyukai wisata reliji (ziarah syiar Islam) maka waktu yang diperlukan untuk mengelilinginya akan lebih lama lagi, karena banyak sekali tempat-tempat yang berhubungan dengan ziarah ini. Hanya saja yang perlu diperhatikan pada saat perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW, kawasan Mesjid Agung Banten sangat penuh dikunjungi para peziarah, sehingga tidak nyaman untuk sekedar berwisata.

Luang Prabang: Temple Tour (Part-2)

Wat Sene

Jika dalam cerita Temple Tour di Luang Prabang part-1 saya menggunakan tuk-tuk agar bisa mengunjungi sebagian besar vihara dan kuil yang letaknya agak berjauhan sebelum malam datang menjelang, maka untuk bagian kedua ini, saya hanya berjalan kaki karena memang letaknya saling berdekatan yaitu di pusat kota tua Luang Prabang atau lebih ke wilayah semenanjung).

Main Building of Wat Xieng Thong
Main Building of Wat Xieng Thong

1. Wat Xieng Thong

Wat Xieng Thong merupakan salah satu kuil Buddha yang tertua dan terindah di Luang Prabang, karena tepi atap berjenjangnya yang merendah dengan dekorasi dinding interior dan eksterior yang sangat artistik. Tidak salah memang jika Wat Xieng Thong, yang berarti Kuil Kota Emas, dijadikan sebagai referensi kompleks peribadatan dengan arsitektur klasik gaya Luang Prabang.

Kompleks kuil Buddha yang cantik dan terletak di sisi pertemuan Sungai Mekong dan Sungai Nam Khan ini, dibangun sekitar tahun 1559 – 1560 oleh Raja Laos yang bernama Setthathirath dan merupakan kuil tempat semua Raja Laos ditahbiskan. Kedekatan Wat Xieng Thong dengan kalangan istana terus berlangsung karena hingga tahun 1975 kuil ini tetap dikelola oleh keluarga istana.

Ada legenda yang melatari kuil Xieng Thong ini, bermula dari cerita dua orang pertapa yang menetapkan kuil ini sebagai batas kota, dengan titik acuan sebuah pohon flamboyan berbunga merah yang tumbuh di dekat kuil dan hingga sekarang kita dapat melihat lukisan pohon flamboyan yang penuh sejarah ini pada bidang dinding bagian belakang bangunan utama. Konon, lokasi kuil ini dibangun bertetangga dengan rumah dua ekor naga yang dipercaya menjadi penguasa wilayah pertemuan dua sungai yang ada di Luang Prabang.

Saya melangkahkan kaki mendekati bangunan utama memiliki pintu kayu berukir berlapis emas yang menggambarkan kehidupan Sang Buddha. Plafonnya penuh dengan lukisan yang menceritakan tentang roda dharma, yaitu siklus kehidupan sesuai ajaran Buddha dan reinkarnasi. Sedangkan dinding bagian luar menceritakan legenda-legenda Laos dalam bentuk hiasan mosaik kaca. Hiasan mosaik yang indah ini yang menjadi ciri khas dari kuil-kuil di Luang Prabang. Di dalamnya kolom-kolom berdekorasi cantik. Hanya ada satu kata untuk itu: Indah.

Di dalam kompleks peribadatan ini, tak jauh dari bangunan utama, terdapat bangunan yang biasa disebut dengan Library, dan berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan dan mempelajari Kitab Tripitaka. Sebuah bangunan lain di dekatnya difungsikan sebagai tempat untuk menyimpan semacam bedug (Tabuh), penanda waktu dalam proses ritual agama Buddha.

Langkah kaki saya berlanjut ke sebelah bangunan utama. Disitu terdapat bangunan kecil, -yang ternyata suci-, yang dinding luarnya juga berhiaskan mosaik. Bangunan kecil ini, dikenal sebagai Ruang Merah, dan di dalamnya terdapat patung Buddha berbaring yang ukurannya tidak besar tetapi terkenal suci karena dipercaya sudah ada sejak pembangunan Kuil.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selepas menyaksikan Ruang Merah, kaki saya melangkah ke dekat gerbang Timur. Disitu terdapat sebuah bangunan yang pintu dan jendelanya memiliki ukiran yang sangat indah. Berwarna merah keemasan. Setelah mengambil foto pintu dan jendela yang berukir indah itu, saya kemudian melongok ke dalam dan mulai melangkah untuk melihat lebih dekat. Tidak ada orang satu pun, hanya barang-barang. Bentuknya seperti kendaraan berkepala Naga, guci-guci dan tempat pelindungnya dari berbagai ukuran, yang semuanya berlapis keemasan, serta patung-patung Buddha berdiri seperti di Wat Visoun. Semakin besar ukurannya, semakin rumit ukirannya dan semakin indah. Entah kenapa, saya merasa dalan ruangan itu udaranya semakin dingin dan terasa lembab, dan tiba-tiba seakan terhenyak, saya menyadari fungsi semua barang dalam ruangan. Pastilah semua ini dipakai untuk mengarak dalam upacara penguburan kalangan kerajaan! Hiiii… saya tahu mengapa saya hanya sendirian disitu…

Selain terkenal karena keindahannya, Wat Xieng Thong memiliki sejarah yang menarik. Kuil ini selamat dari pembumihangusan Luang Prabang pada tahun 1887 ketika terjadi perang Haw. Konon, karena Đèo Văn Tri, salah satu tokoh terkenal Haw, pernah menjadi biksu di kuil ini dan menjadikannya sebagai markas kekuatannya selama perang berlangsung.

Kuil cantik ini dibuka setiap hari dari pk 06.00 pagi hingga pk 18.00. Tiket masuk 20,000 kip.  Pengunjung dapat memasuki melalui 2 pintu masuk yang tersedia, dari arah Sungai Mekong dan dari lorong kecil yang ada di jalan utama kota Luang Prabang.

2. Wat Pak Khan

Meninggalkan Wat Xieng Thong, saya menuju kompleks kuil yang berada di dekat sungai. Jelas sekali bangunan ini terlihat tua namun tetap terpelihara cukup baik. Sesuai namanya, yang berarti kuil di ujung sungai Nam Khan, memang menunjukkan lokasi yang sesungguhnya. Kuil Pak Khan ini memang berada di tepi ujung sungai Nam Khan, ujung kota tua Luang Prabang.

Karena berdekatan dengan sungai, kuil ini teduh. Sepertinya atmosfir kesejukan dari Sungai Nam Khan terangkat hingga ke kuil ini.

Melihat gaya arsitekturnya, kuil ini tampaknya dibangun pada jaman awal pembangunan kuil-kuil tua di Luang Prabang. Wat Pak Khan lebih menyerupai Wat Visoun atau Wat That Luang karena tidak memiliki beranda sisi dan tepi atapnya tidak merendah. Selain itu, jika dilihat lebih dalam, pada bagian muka di atas pintu depan tidak ada hiasan atap, yang menjadi ciri khas dari bangunan kuil gaya Luang Prabang. Dan pada jendela-jendelanya terdapat kisi-kisi kayu berulir, yang juga ada pada Wat Visoun.

Tidak ada ketentuan tiket masuk di kompleks kuil ini, mungkin karena saya tidak melihatnya atau memang tidak ada, karena jarang turis mengunjunginya. Namun saya menyukai keteduhan dan atmosfer sungai yang merebak naik ke kompleks Wat Pak Khan ini.

3. Wat Khili

Kembali ke jalan utama Luang Prabang, kaki saya melangkah ke kompleks Wat Khili yang berada di pinggir jalan. Bernama resmi Wat Souvanna Khili atau berarti Vihara Gunung Emas, kuil ini konon, dibangun oleh Pangeran Chao Kham Sattha dengan tujuan untuk membawa rasa persahabatan dengan penguasa Luang Prabang saat itu, karena sebenarnya wat ini berasal dari wilayah Xieng Khuang (seperti halnya Wat Xieng Thong).

Dan seperti dengan Wat Xieng Thong, pada bidang muka bagian atas pintu depan juga dipenuhi dengan dekorasi mosaik yang menceritakan tentang Pohon Kehidupan. Saya membayangkan betapa tekunnya para biksu yang melakukan proses pengerjaan dekorasi kuil ini.

Kompleks kuil ini cukup unik karena didalamnya terdapat gedung dua tingkat dari beton bergaya kolonial namun  beratapkan tradisional Laos. Kemungkinan gedung ini dibangun dalam masa kolonial Perancis sehingga pengaruh arsitekturnya ditambahkan namun tidak ingin kehilangan nilai-nilai tradisional Laos yang diungkapkan dalam bentuk atap tradisionalnya. Aneh, tetapi tetap menarik.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

4. Wat Si Boun Houang

Menyusuri jalan raya Luang Prabang, sampailah saya pada Wat Si Boun Houang yang berbentuk umum seperti wat lainnya di Luang Prabang. Bagi saya, tidak ada yang spesifik dari kuil yang juga mengambil gaya yang sama. Atap tradisionalnya berjenjang dua, dan memiliki hiasan atap tengah (dok so faa) yang klasik.

Konon kuil ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Sotika Kuman pada pertengahan abad 18. Wat Si Boun Houang memiliki empat kolom pada beranda depan. Bagian atas pintu depan berhiaskan Dharmachakra atau Roda Kehidupan, yang menekankan pada kekuatan Dharma dan proses reinkarnasi dalam siklus kehidupan.

5. Wat Siri Mungkhun

Saya melanjutkan menyusuri kuil-kuil di sepanjang jalan raya di Luang Prabang dan sampailah saya di Wat Siri Mungkhun. Kuil kecil ini lebih sering dilewati begitu saja daripada dikunjungi secara khusus oleh turis, mungkin karena ukurannya yang tidak besar dan tidak ada yang spesifik. Saya pun hampir melanjutkan perjalanan tanpa mampir ke kuil ini. Namun entah kenapa saya masuk juga ke halamannya.

Atap tradisionalnya berjenjang dua, uniknya tanpa dilengkapi hiasan tengah (Dok So Faa) namun memiliki hiasan sudut berbentuk naga yang klasik. Berandanya berkolom empat dengan hiasan keemasan. Wat Siri Mungkhun memiliki beranda samping, namun hanya ada satu yaitu pada sisi kanan.

Saya melihat salah satu keunikan dari kuil ini yang terdapat di bagian depan beranda. Kuil memiliki sepasang patung penjaga kuil yang berwujud hewan mitos, yang saya lihat lebih menyerupai singa.

6. Ban Phon Heuang

Melanjutkan perjalanan ke arah Barat, saya melewati Ban Phon Heuang. Tempat ini menarik karena tanpa harus memasuki halaman tempat ibadah, -hanya dari luar pagar, di area trotoar jalan raya-, terlihat penataan tanaman yang baik di tempat ini sehingga terasa berbeda dengan kebanyakan kuil lain di Luang Prabang yang halamannya disemen.

Di tengah-tengah halaman terdapat bangunan mungil berisikan patung Buddha keemasan dalam posisi duduk. Warna Buddha yang keemasan dengan kombinasi tanaman yang dibiarkan tumbuh memberikan komposisi yang menarik hati. Berbagai tanaman hias seperti Bougainvillea, bunga kamboja, palem tumbuh dengan indah, memberi kesejukan dan warna tersendiri pada tempat ibadah ini.

Bagi turis yang berjalan di sepanjang jalan raya di Luang Prabang, biasanya berhenti sejenak, menoleh untuk menikmati Ban Phon Heuang.

7. Wat Sop Sickharam

Kuil berikutnya yang saya kunjungi adalah Wat Sop Sickharam atau biasa disebut dengan Wat Sop. Biasanya pengunjung mendatangi kuil ini karena berhenti pada Stupa yang terletak di depan. Memang Stupa Wat Sop Sickharam ini lebih menarik perhatian karena berada sangat dekat dengan jalan raya, dan juga berwarna hijau bercampur emas yang membuatnya sangat ‘eye-catching’. Puncaknya yang meruncing tinggi membuat wisatawan menghentikan langkah untuk mengambil gambar stupa cantik ini.

Bangunan utamanya sendiri berada di samping stupa, terlihat sangat sederhana dibandingkan dengan kecantikan Stupa di halaman depan. Memiliki atap tradisional khas Luang Prabang, tepinya merendah dan berjenjang dua. Dan tidak berbeda dengan kuil yang lain, Wat Sop juga memiliki beranda.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

8. Wat Sene or Wat Sene Souk Haram

Kuil yang terakhir saya kunjungi sepanjang jalan raya di Luang Prabang ini adalah Wat Sene Souk Haram atau lebih dikenal dengan Wat Sene. Kuil ini merupakan salah satu yang tercantik karena warnanya yang merah keemasan yang tentu saja sangat ‘eye-catching’ bagi para pejalan ataupun yang melintas di jalan raya. Menurut sejarah, kuil ini dibangun pada tahun 1714 dan direstorasi kembali pada tahun 1957 saat perayaan peringatan 2500 tahun Buddha.

Kuil dengan gaya Thailand yang memiliki bidang muka berwarna merah keemasan ini mempunyai nama yang unik. Dinamakan Wat Sene, karena bermula dari donasi awal untuk memulai pembangunan kuil sebesar 100.000 Kip (atau disebut dengan Sene dalam bahasa Laos). Sejak itulah kuil ini disebut dengan Wat Sene.

Di dalam kompleks ini, selain bangunan utama, terdapat pula bangunan yang lebih kecil sebagai tempat untuk Patung Buddha berdiri, dan juga sebuah semacam bedug (Tabuh) dan Genta yang kesemuanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses ritual agama Buddha

Wat Sene ini termasuk kuil yang besar di Luang Prabang karena mampu menampung perahu  panjang yang paling menarik perhatian, juga yang terbesar, yang digunakan pada perayaan tahunan Suang Heua, sebuah festival air yang terkenal di Laos.

***

Saya mengakhiri temple tour ini di Wat Sene karena penginapan saya sudah terlihat dan itu tandanya saya harus segera packing untuk pindah ke kota lain. Saya masih meninggalkan banyak destinasi di Laos, khususnya Luang Prabang, untuk dikunjungi di lain kesempatan. Selalu… bukankah dengan demikian jadi ada seribu satu alasan agar bisa datang lagi ke Luang Prabang?

Luang Prabang: Temple Tour (Part-1)

Wat Haw Pha Bang

Wat Haw Pha Bang
Wat Haw Pha Bang

Gelar UNESCO World Heritage Site kepada kota Luang Prabang ini memang sudah sepantasnya, karena memang seisi kota penuh dengan keluarbiasaan budaya dan nilai sejarah yang terjaga dengan baik. Apalagi didukung pula dengan suasana kota yang nyaman dan bersih, orang-orang yang ramah, prasarana yang baik, menjadikan atmosfer yang menyenangkan. Saya menikmati sekali perjalanan ke daerah wisata, termasuk temple tour di Luang Prabang ini. Jika Anda pernah ke Luang Prabang pasti setuju dengan saya…

1. Wat Visounnarath

Sopir tuktuk membawa saya ke Kuil Buddha tertua di Luang Prabang. Kuil yang sering disebut juga dengan Wat Wisunalat, Vixoun, Visounnarath, Vixunhalat atau Wisunarat, -sesuai pendirinya Raja Visounarat-, ini dari jauh tampak kuno tak menarik tetapi sebenarnya menyembunyikan cerita luar biasa.

Berbeda dengan struktur kuil lainnya di Luang Prabang, atap paling atasnya ditinggikan pada struktur penunjangnya dan ditopang pula dengan 12 pilar yang tinggi. Jendela-jendelanya berkisi kayu berukir yang mengingatkan saya pada Angkor Wat dan pintu-pintunya diukir indah bercerita tentang dewa-dewi yang terlibat dalam perang epik Ramayana. Dan tentu saja dilengkapi hiasan atap yang disebut dengan Dok So Faa (hiasan tengah atap) dan So Faa yang berada di tiap sudut yang konon merupakan motif pelindung dan biasanya berbentuk Naga, sehingga disebut juga Nak Naga.

Sebagai salah satu bangunan suci, di dalam Wat ini terdapat Patung Buddha bersila ukuran besar dan juga patung-patung Buddha berdiri yang terbuat dari perunggu dan kayu polos yang telah berusia ratusan tahun. Ada yang penuh ukiran dan ada yang tidak. Di Kuil ini saya belajar mengenali perbedaan patung Buddha gaya Khmer dan gaya Laos, hanya dari sisi posisi tangan di sisi badan. Mau tau bedanya? Lebih seru kalau temukan jawabannya sendiri di Wat Visounnarath… 🙂

Dan cerita luar biasanya, ternyata di Wat Visounnarat inilah, Prabang yang Suci, Patung Buddha yang dipercaya sebagai pelindung kota Luang Prabang, disimpan sejak tahun 1513 selama hampir dua ratus tahun!

Kemudian yang unik lagi dengan kompleks kuil ini, di halaman depan terdapat Stupa berbentuk setengah bola seperti buah Semangka sehingga penduduk lokal sering menyebutnya dengan That Mak Mo (Stupa Semangka). Stupa ini resminya disebut dengan That Pathum, atau Stupa Lotus (Teratai), mungkin karena disudut-sudutnya terdapat hiasan kuncup Teratai (Lotus). Bentuk stupa yang bulat ini unik, karena memang tidak umum dalam wilayah Laos atau Indochina lainnya. Yang memberi ciri khas lainnya adalah mahkota Usnisa bergaya Buddha Laos pada puncak stupa.

Konon, pada tahun 1914 stupa ini terkena petir yang membuka selubung bahwa didalamnya terdapat lapisan emas, perunggu dan Buddha dari kristal yang luput dari serangan dan perampokan dahsyat beberapa waktu sebelumnya. Benar tidaknya, entah yaa…

Kuil ini dibuka setiap hari dari pk. 08.00 – pk. 17.30, dengan tiket masuk sebesar 10.000 Kip atau US$2.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

2. Wat Aham

Saya melanjutkan perjalanan keliling wat ini ke Wat Aham yang terletak di sebelah Wat Visounnarat melalui pintu samping diantaranya. Sejalan dengan makna namanya, Wihara Hati yang Terbuka, kuil ini tenang, cocok bagi para pendeta Buddha untuk bermeditasi. Dua buah pohon beringin besar yang merupakan simbol Yang Tercerahkan dari ajaran Buddha tumbuh rindang di depan kuil ini. Tapi bagi sebagian masyarakat yang masih percaya animisme, dua pohon beringin ini konon merupakan rumah dari para arwah penjaga kota, yang bernama Phu Noe dan Na Noe. Tidak heran, Wat Aham sejak dulu menjadi saksi sejarah penting dengan kombinasinya antara pengaruh animisme dan agama Buddha.

Sebenarnya Wat Aham memiliki sejarah yang menarik karena berfungsi sebagai tempat penyimpanan Sangkhalat, atau Dasar-dasar Agama Buddha Laos pada awal abad 19. Dan boleh jadi karena fungsi itulah, di Wat Aham ini terdapat patung penjaga Kuil yang diambil dari Ramayana, yaitu Rahwana dan Hanuman, di sisi patung harimau serta tokoh lokal Phalok Phalam yang menghiasi wilayah pintu masuk.

Kuil yang dibangun pada 1818 ini, kini tidak lagi menjadi sentra kegiatan agama Buddha di Luang Prabang. Tampilannya memang sederhana, cenderung sedikit terabaikan, mungkin karena keterbatasan dana pemeliharaan. Atapnya berjenjang tiga, dua jenjang diatas atap utama. Dan serupa dengan Wat Visounnarat, bpintu depannya berukir keemasan yang mengambil tokoh cerita Ramayana dan bidang dinding bagian belakang dilukiskan tentang kehidupan Sang Buddha.

3. Prabang Buddha Temple (Wat Haw Pha Bang)

Inside Wat Haw Pha Bang
Inside Wat Haw Pha Bang

Kemudian saya menyusuri jalan Sisavang Vong untuk menuju Wat Haw Pha Bang. Bangunan Prabang Buddha ini sangat ‘eye-catching’, karena baru selesai renovasi. Berlokasi di pinggir jalan Sisavang Vong, tepatnya di dalam kompleks Royal Palace yang sekarang menjadi Museum Nasional, dan tampil lebih menarik daripada ex-Royal Palace-nya sendiri.

Berhiaskan balustrada pada tangga masuk dan ujungnya terdapat kepala Naga. Di dalam ruangan utama warna merah keemasan terasa mendominasi, dengan hiasan hingga ke langit-langit dengan penggambaran tentang roda kehidupan dan karma.

Phabang, yang tersimpan baik di tempat ini, tingginya sekitar 83cm, berupa patung Buddha berlapis emas berdiri dengan kedua telapak tangan diatas dada menghadap depan, yang merupakan simbol pelindung dari bencana, bala dan semua yang berbau kejahatan. Patung ini diberikan oleh Raja Khmer kepada Raja Fa Ngum, pendiri kerajaan Lan Xang, cikal bakal Laos sekarang, karena terlibat dalam menyebarkan agama Buddha pada abad 14. Dari kata Phabang inilah nama kota Luang Prabang berasal, dan bahkan dipercaya sebagai simbol spiritual pelindung nasional negeri Laos. Menurut legenda, patung Phabang telah berpindah tangan dua kali ke kerajaan Thailand dan akhirnya dikembalikan ke Laos.

Karena berada di dalam kompleks Museum Nasional, Kuil ini dibuka mengikuti sesuai jadwalnya, setiap hari, kecuali Selasa, pk. 08.00–11.30 dan 13.30–16.00. Tiket dijual hingga 30 menit sebelum tutup, dengan harga 30.000 kip (Non Laos) dan 5.000 Kip (warga Laos).

4. Wat Choum Khong Sourin Tahrame

Temple Tour di Luang Prabang saya lanjutkan ke Wat Choum Khong Sourin Tahrame, yang tidak jauh dari Royal Palace. Wat ini dibangun tahun 1843 semasa pemerintahan Raja Sukaseum (1836 – 1851) dan terletak di sebelah kompleks Wat Xieng Mouan. Kuil ini telah direnovasi berulang kali setelah pembangunan awalnya, kebanyakan melalui bantuan dari para calon biksu dari Wat Xieng Mouan. Konon nama kuil ini diambil dari kissah pembuatan patung Buddha dari sebuah genta yang ada di kuil ini (genta dalam bahasa lokal disebut ‘Khong’)

Hal yang menarik dari kuil ini, adanya kelas-kelas pembuatan patung Buddha yang dilakukan di bawah kerimbunan pepohonan yang berlangsung hingga kini. Tidak hanya posisi Buddha yang klasik, tetapi juga lebih modern dengan mengambil berbagai bentuk posisi tangan (mudra). Oleh karena itu, di halaman kuil ini banyak sekali patung Buddha dalam berbagai posisi.

Bangunan utamanya sendiri memiliki gaya arsitektur khas Luang Prabang, dengan atap berjenjangnya yang rendah dan dipenuhi hiasan keemasan walaupun dari kejauhan terlihat kuno.

Di depannya terdapat dua patung batu berukir khas China. Konon, kedua patung tadi dipersembahkan kepada Raja Chantharath (1850-1872) oleh Duta Besar Cina yang datang ke Luang Prabang. Kedua patung itu mewakili dua Boddhisattva China yaitu Vajra, Sang Petir mewakili unsur maskulin, dan Ghanta, Sang Genta mewakili unsur feminin. Yin dan Yang. Namun sepertinya makna yang terakhir yang lebih dekat dengan penamaan kuil.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

5. Wat Xieng Muan

Dengan jalan kaki melalui pintu di antara Kuil yang saling bersebelahan, saya memasuki Wat Xieng Muan. Kuil ini berlokasi strategis karena berada di antara pertokoan dan restoran di pusat kota lama Luang Prabang dengan Sungai Mekong, dan karena itu para turis sering menjadikannya jalan tembus untuk mencapai kedua destinasi itu.

Yang menarik dari kuil ini adalah lukisan-lukisan detail yang memenuhi bidang dinding depan yang menceritakan tentang kehidupan Sang Buddha, bahkan pintu pun juga diukir dengan halus berwarna keemasan.

Kuil ini, dengan dukungan UNESCO, merupakan tempat utama pelatihan ketrampilan semua yang berhubungan dengan seni rupa tradisional Laos, termasuk membangun atap berukir dan berjenjang khas Laos.

6. Wat Manorom

Melanjutkan perjalanan temple tour di Luang Prabang, supir tuktuk mengantar saya ke kuil yang terkenal dengan nama Wat Mano atau Manolom ini. Kuil ini terletak sedikit di luar sisa-sisa dinding kota tua Luang Prabang. Walaupun demikian, kuil ini tetap dianggap penting karena konon, banyak yang percaya bahwa Wat Mano ini dibangun pada area asli pembangunan kuil oleh Raja Fa Ngum, pendiri dinasti Lan Xang, cikal bakal Laos.

Dan kesakralan kuil semakin tinggi karena ternyata disini merupakan lokasi pertama penyimpanan Patung Buddha Phabang hingga 11 tahun sejak 1502-1513 untuk selanjutnya dipindahkan ke Wat Visoun.

Walaupun kuil ini sudah didirikan sejak abad 14, bangunan utama baru dibangun kembali pada tahun 1818 dan hancur lagi ketika terjadi pembumihangusan Luang Prabang tahun 1887. Selanjutnya bangunan utama direstorasi pada tahun 1972 dan memiliki ukiran indah pada pintu utaranya yang dijaga oleh sepasang patung singa.

Di dalam bangunan utama terdapat patung Buddha bertelinga panjang yang bergaya Thai-Sukhothai. Tangan Sang Buddha berada dalam posisi Bhumisparsha Mudra, Bumi menjadi saksi kemenangan atas Mara. Patung ini terbuat dari perunggu setinggi 6 Meter dengan berat sekitar 2 ton, yang pada awalnya rusak sama sekali sebagai akibat serangan dari Chinese Black Flag Haw pada tahun 1887. Patung yang konon berasal sejak tahun 1370, menjadi titik utama peribadatan hingga kini dan tetap menjadi dasar yang penting dari seni patung Laos. Hingga kini, patung ini menjadi yang tertua di Luang Prabang.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

7. Wat That Luang (built 1818)

Wat berikutnya yang saya kunjungi adalah Wat That Luang (Tat Luang) Rasamahavihane atau dikenal dengan Wat That atau That Luang, yang sudah dari dulu dikenal sebagai Vihara Royal Stupa, karena memang di tempat ini terdapat Stupa dari Raja-raja. Biasanya segala sesuatu mengenai kerajaan membawa cerita yang menarik, juga tempat ini. Jauh sebelum pembangunan kuil ini, walaupun belum ada bukti-bukti kuat yang mendukung, konon disinilah tempat pertama pembangunan biara oleh biksu-biksu Buddha yang dikirim oleh Asoka, Raja terkenal dari India 3 abad SM. Memang menurut sejarah Luang Prabang, kuil-kuil pertama yang didirikan di Luang Prabang berada di daerah ini, sesuai dengan temuan relic (peninggalan Sang Buddha).

Bangunan utama dibangun di atas sebuah bukit kecil di selatan kota, semasa pemerintahan Raja Manthaturat (1817-1836). Gaya pembangunannya lebih mirip Wat Visoun karena tidak memiliki beranda sisi dan atapnya tidak merendah. Di dalam ruang utama terdapat Patung Buddha berukuran cukup besar, dengan berat sekitar 600 kg.

Di halaman terdapat 2 stupa besar, yang di depan adalah Raja terakhir dari Laos yaitu Raja Sisivang Vong, berwarna keemasan dan Stupa yang lebih besar yang berada di belakang dari kuil utama adalah Stupa Besar yang bertanggal tahun 1818. Konon didalamnya menyimpan relic Sang Buddha. Ada beberapa stupa yang lebih kecil sebagai tempat penyimpanan abu dari raja-raja dan anggota keluarga kerajaan dan bangsawan-bangsawan keturunannya.

Hingga kini Wat That Luang menjadi tempat untuk menyelenggarakan ritual penting dalam tradisional rakyat Laos, seperti upacara-upacara adat ataupun kerajaan. Seperti yang luar biasa terjadi pada tahun 1896 saat kremasi Raja Oun Kham. Tradisinya tumpukan kayu pembakaran harus dipercik dengan api yang berasal dari ibukota negeri, yang tentu saja Laos sebagai koloni Perancis saat itu, maka api harus didatangkan dari Paris. Dan teknologi baru diterapkan dalam upacara adat ini. Sebuah generator dipasang untuk siap menerima api dari percikan api kabel telegraf yang terhubung ke Paris! Dan hal ini disaksikan langsung! Sungguh luar biasa.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

8. Wat Pha Baht Tai

Sopir tuk-tuk mengajak saya mengunjungi Wat terakhir untuk sore hari itu yaitu Wat Pha Baht Tai atau sering juga disebut dengan Pha Phutthabaht atau Phutthabat Tai atau Tha Pha Hak. Kuil yang ada di sebelah ujung Barat dari Luang Prabang ini bisa dikatakan unik, sedikit norak menurut saya, karena gaya yang dipakai untuk renovasi bangunan yang campur aduk. Jelas sekali ada unsur Laosnya, tetapi tidak sedikit unsur Thailand, Vietnam dan sedikit karakter bangunan Eropa.

Konon, kuil aslinya dibangun pada masa pemerintahan Raja Samsenthai pada abad 14, yang berada di wilayah Raja Naga Chai Chamnong, tokoh mitos Pelindung wilayah Kota dan Sungai. Ketika saat itu ditemukan jejak kaki Sang Buddha disitu, hal ini membuktikan Sang Tokoh pun memberikan keleluasaan untuk mendirikan vihara diatas tanahnya. Hingga kini, di vihara ini tetap melindungi jejak kaki dari Sang Buddha.

Ketika modernitas sudah merebak di wilayah ini, mulailah dibangunlah sebuah kuil yang awalnya terbuat dari kayu dan terus direnovasi hingga kini dengan teknologi yang makin modern. Dalam pembangunan dan pemeliharaannya hingga kini, komunitas Vietnam dan China yang paling banyak berkontribusi merenovasi bangunan sejak tahun 1950an.

Bagan: Ketika Sang Waktu Bermimpi di Bumi Sejuta Pagoda


Mungkin di suatu masa tersembunyi,

Para bidadari menari dan menyanyi,

Membiarkan Sang Waktu terus bermimpi,

kala para Dewa Dewi tak henti memberi,

demi Bagan, berhiaskan permata diri

Hamparan Pagoda di Bagan
Hamparan Pagoda di Bagan

Bagan adalah destinasi selanjutnya di Myanmar/Burma yang saya kunjungi setelah Bago. Dengan menggunakan pesawat baling-baling  dan mendarat di lapangan terbang kota Nyaung Oo, mata ini mencari nama saya diantara penjemput, ternyata ada di paling belakang dan terluar (mungkin karena saya dijemput dokar, bukan mobil! dan seperti dimana-mana, dokar dianggap prioritas terendah!).  Dengan suka cita, saya mengikuti pemuda tanggung yang menjadi kusirnya. Yihaaaaa…. (dan dokar  belum meninggalkan bandara ketika saya dengar raungan di atas, ternyata pesawat ATR72 yang saya tumpangi tadi, sudah terbang lagi… persis seperti angkot, drop, take and leave!)

Memilih dokar sebagai transportasi di Bagan memang tidak salah. Disini waktu seakan tertidur. Saya bisa menikmati paparan angin pagi di wajah sambil melihat jalan bandara yang sepi.  Dengan bahasa Inggeris yang bisa dipahami, kusir dokar merekomendasikan untuk langsung ke area peninggalan sejarah daripada harus memutar ke kota lagi untuk check-in hotel. Saya setuju. Dan diantarlah saya ke bumi sejuta pagoda yang terhampar di Bagan ini, bermula dari jalan utama bagian utara kemudian mengelilingi area peninggalan hingga matahari hilang dari ufuk dan kembali ke hotel.

Shwezigon Paya

Shwezigon
Shwezigon

Pagoda Shwezigon dengan stupa keemasan di bagian tengah ini merupakan bangunan pertama yang dibangun di Burma pada tahun 1087. Pagoda cantik ini pada awalnya dibangun oleh Raja Anawrahta dan diselesaikan oleh Raja Kyanzitta. Ternyata pagoda ini merupakan prototype pembangunan Pagoda Shwedagon yang tersohor itu.

Selain terdapat bangunan pagoda dengan atap tradisional Burma yang khas, dalam kompleks Shwezigon juga terdapat candi batu bata yang masih tegak berdiri dan bangunan-bangunan lain berwarna putih, sehingga menimbulkan warna warni yang sangat kontras dengan langit biru.

Di bagian tenggara, terdapat patung 37 Nat (Spirit) yang dipercaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Burma. Dan sebagai salah satu pagoda yang tertua di Bagan, Shwezigon merupakan tempat diakuinya ke 37 Nat oleh Kerajaan Burma.

Lokasi Pagoda ini berada di sebelah kanan dari jalan Bagan – Nyaung Oo Utara, tepat setelah melewati stasiun bis. Jalan menuju Pagoda, di sepanjang lorong lebar pedagang kaki lima yang sangat ahli menjual tampak memenuhi pelataran. Dengan alasan gratis, Lanjutkan membaca “Bagan: Ketika Sang Waktu Bermimpi di Bumi Sejuta Pagoda”