Landmark Negeri di Hati


Diantara kehebohan rencana untuk mudik sekeluarga sebagai tradisi tahunan dalam keluarga kami, tetap saja saya harus menyetor tulisan ke dalam blog setiap minggu. Dan ketika sahabat saya itu mengangkat tema Landmark untuk cerita minggu ini, rasanya landmark dari beberapa negeri yang sudah saya datangi langsung berlomba menari di benak. Saya tak dapat memilih salah satu dari sekian itu, belum lagi landmark dari negeri sendiri yang bagi saya bukan tandingan.

Pura Ulun Danu

Pura Ulun Danu Beratan di Bali, bagi saya pribadi, sampai sekarang masih memiliki ranking teratas sebagai landmark Bali dan Indonesia. Buat saya pribadi lho… Tempat yang bagi saya sangat magical ini benar-benar mengisi ruang hati.

Dulu ketika saya sedang berada di level rendah dalam roda kehidupan, -meskipun berada di Jakarta-, saya mengangankan berada di sebuah tempat yang begitu magical sehingga saya bisa melakukan kontemplasi yang dalam. Dan yang selalu muncul di benak adalah Pura Ulun Danu Beratan! Percaya tidak, pertama kali saya ke tempat itu ketika saya masih kecil yang belum tahu apa-apa dan saya kembali ke sana bertahun-tahun setelah kontemplasi itu dengan sebuah keterkejutan: apa yang tergambar dalam benak mengenai Pura Ulun Danu Beratan tidak banyak berubah.

Dan setiap ke sana, saya tersenyum mengingat kembali bagaimana tempat ini menjadi sebuah penanda dalam kehidupan pribadi saya, membantu membuat saya kuat melewati masa-masa penuh tantangan, bahkan tanpa perlu saya datangi.

Kecuali Angkor Wat, bagaimana mungkin saya membandingkan Pura Ulun Danu Beratan yang berada di tepi Danau Beratan ini dengan landmark dari negeri-negeri yang telah saya kunjungi, meskipun bagus dan merupakan yang must-see di negeri itu?

Sunrise at Angkor Wat
Landmark of the countries

Rasanya tetap tak bisa membandingkan meskipun saya menyukai kerlip cahaya lampu di Hong Kong, atau pancuran air yang tak pernah habis dari si Merlion. Juga meskipun saya harus setengah tiduran saat mengambil foto Petronas Tower di Kuala Lumpur.

Bagaimana mungkin saya melupakan Wat Arun yang memukau saat senja memenuhi langit Bangkok saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Thailand itu? Atau monumen Pha That Luang di Vientienne? Sama tidak mungkinnya saya melupakan Shwedagon di Myanmar yang selalu berhasil membuat saya terharu-biru.

Mampukah saya melupakan keindahan luar biasa Kinkakuji di Kyoto saat musim semi? Rasanya akan sama tak mampunya saya untuk mengabaikan begitu saja ketika Gunung Everest yang tertinggi di dunia itu menampilkan magical moment dalam penerbangan pulang dari Nepal.

Semua landmark itu memiliki tempat khusus di hati saya. Bisa jadi hanya Angkor Wat, yang mampu membuat saya ‘gila’ karena pernah kembali ke tempat itu empat kali dalam setahun!

Dua landmark negeri yang begitu kuat terpatri dalam hati, meskipun berbeda dalam kekuatan daya tariknya. Yang satu begitu kuat tanpa perlu hadir, yang lain begitu kuat dan memanggil kembali.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-21 ini bertema Landmark agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

WPC – Rise to Bring Hope, Set to Bring Peace


 

rise-hope
The Light, Clouds and Blue Sky

One fine day in December in Bali…

Every sunrise may bring us hope and every sunset may bring us peace.

Standing at the Benoa Beach right in front of the hotel where I stayed, I wished I could see a beautiful sunrise. Unfortunately, it’s cloudy and even dark clouds was hanging in the sky above me. The sun has arisen some time before and seemed to hide its beauty behind the clouds by letting its light shines through the dark clouds. It seemed to tell all the creatures on earth that the dark clouds will disappear in its time. And it’s true, as the clouds moved slowly, the blue sky started to appear.

It’s perfect as the wise people said,

Behind the dark clouds, the sky is always blue, the sun still shines, the birds always fly…

I got a simple lesson to keep hoping good in that cloudy morning. The appearing blue sky reminds us to give meanings to our own life until the time comes.

Yes, until the sun set to change the face of the day. It seemed to offer us peace into our hearts over all works that had been done well.

That day, the same day I had a cloudy sunrise, I watched the sunset with its all beauties at Kuta Beach, Bali. It seemed to say to me to let bygones be bygones peacefully and be good memories in our hearts.

set-peace
Sunset at Kuta – Bali

WPC – The Extra(Ordinary) Room Number


Bali was always crowded during year-end holiday and well, at that time we stayed in a relatively new hotel with a modern style around Discovery Beach, not far from Kuta. Since it was in peak season, all the hotel staffs were busy so we had to find our rooms by ourselves. It did not reduce our happiness though we had to walk along the long corridor that was so bright with colors, but mundane, a bit dull. So modern, seems not in Bali…

The dull modern corridor
The dull modern corridor

Because of the modern style, as in other modern hotels in metropolitan cities, I expected seeing the room number in common as 1, 2, 3 only.

Extraordinary things are always hiding in places people never think to look

But it was not Bali if there was no touch of traditional arts. Every room has a special touch of traditional arts for its room number, including our rooms.

Perhaps for somebody else it’s just an ordinary thing but for me, this was an extra(ordinary), something that’s an ordinary, everyday thing, but also special. Among the modern objects, the small thing could turn into the reality. We’re still in Bali… 🙂

Find other contributors of beautiful Extra(Ordinary) photos in the Daily Post Weekly Photo Challenge.

WPC – Bali A Happy Place


Pura Ulun Danu Beratan, Bali
Pura Ulun Danu Beratan, Bali

Pura Ulun Danu Beratan, is a Hindu Balinese temple located at the edge of Lake Beratan, in Bedugul area, about 60 km from Denpasar. It is one of my favorite places to recharge my energy back. For me, going to Bali is not fully completed if I skip visiting Pura Ulun Danu. At the edge of Lake Beratan with its perfect cool temperature, I can recharge myself through watching the beautiful scenery with fog above the lake or just seeing a reflection of the floating-like temple on water. Ah, let love fill the atmosphere…

” Love is the master key that opens the gates of Happiness “

(Oliver Wendell Holmes)

 

You can find other wonderful contributions of this week’s photo challenge with Happy Place as the theme

WPC – A Kite that Connected


Flying kite
Flying kite

One nice thing to do in Bali is watching the kites in the beach as I did some time ago. From the shade where I sat, I saw a colorful boat-shaped kite dancing up and down beautifully in the air, with the white clouds and blue sky as the background. The kite was connected through a strong white string that almost cannot be seen.

It was like life, sometimes the kite swooping down and by time it’s going up again. Or perhaps we lose in a battle with another kite. Well, the wind, the other kites, the strong string and the skills of the kite-fliers became the symbol in life. As Kathy Reichs said, –Remember, I might be the wind, but you control the kite-.

Kites in Bali beach
Kites in Bali beach

This post is written in response to the Weekly Photo Challenge with the theme – Connected

Afloat Flowers


Afloat flowers in Bali
Afloat flowers in Bali

Flower means living life in Bali. It probably a little bit exaggerated, but if you’ve been in Bali, then you will understand. Flowers are everywhere. Everywhere you go for a walk, you will see flowers, especially in the morning-, in your front door, in front of the shops and businesses, in the corner of a hotel corridor and so on…

As part of their wonderful daily routine, they use flowers in offerings so that they will be blessed with good fortunes. But flowers are not used for offerings only; they use it also for daily decoration to raise the ambience of the heart, like this picture I took: afloat flowers. And I’m always attracted to flowers…

The leaves of a plant do not look green forever,

flowers do not look fresh forever;

but I pray to God that smile on your lips stays forever – 

 

Weekly Photo Challenge: Orange – Sunrise to Sunset Daydreaming


Sunrise across the Mekong river, Phnom Penh, Cambodia
Sunrise across the Mekong river, Phnom Penh, Cambodia

Feeling the morning breeze on my face, suddenly I woke up in a river bank. Disoriented but could not help watching the nice orange sunrise across the big river. Am I home? It must be the Great Mekong in Cambodia.

*

Without any chance to think, my body became lighter and lighter. Momentary blinded for a blink, the sun disappeared and now I saw local monks in orange robes walking around Angkor Wat, home of the souls.

*

Secretly following them through the wind, watched them chanting in front of the Giant Buddha. But, heiii… there’s no Giant Buddha in Angkor. Time had played with me and brought me to a temple with gold, yellow and orange color in Thailand, home of the smiles.

*

Blue bench under the flamboyant tree in Bagan, Myanmar
Blue bench under the flamboyant tree in Bagan, Myanmar

A moment or two taking delight, then I had to tiptoe out quietly. This country-hopping drained my energy. One step means hundreds kilos to fly in bewilderment. I should take a rest for a while. I could not believe my eyes stuck to the blue bench under the orange flamboyant tree in Bagan, Myanmar. Another hopping to the home of new hope.

*

A orange backhoe in Kuta, Bali, Indonesia
A orange backhoe in Kuta, Bali, Indonesia

I fell asleep on the bench that brought me to the seat inside the orange heavy vehicle in Bali. What’s going on? I drove it to clean the beach. Lots of trash came from the ocean and brought those back to the shore of island of gods. I have the faith that cleaning is a way to purify.

*

A Plane and A Pagoda in Hong Kong
A Plane and A Pagoda in Hong Kong

The heat and sweat made my day. Within less than a second I was in the plane that flew over an orange pagoda in Hong Kong, the hidden oasis to make a solemn request for peace.

*

Autumn leaves after the rain, Secret Garden in Changgyeonggung, Seoul, Korea
Autumn leaves after the rain, Secret Garden in Changgyeonggung, Seoul, Korea

Landed in South Korea with autumn vista. Being a tropical mind who knew only rain and summer seasons, I was always amazed by the red, yellow and orange maple trees, the special autumn colors as a delicate bridge to welcome winter sonata.

*

But again, time flew and no more for loving the autumn colors. I stood still in front of an orange big gate in Japan. Too big for small me walking through it before I stopped in front of an orange shrine. Somebody whispered it’s a love shrine, although the true love shrine is in the heart of people…

I walked through a tunnel of thousands orange torii or gates in Fushimi Inari in Kyoto, one step to another, believe there is an end in everything

*

Lantern Festival in CheonggyeCheon Stream, Seoul, Korea
Lantern Festival in CheonggyeCheon Stream, Seoul, Korea

Finally all torii disappeared and became lantern characters in orange atmosphere. The King himself deliberated with his Royal members to prosper his people life

*

Sunset in Kuta Beach, Bali, Indonesia - Heaven on Earth...
Sunset in Kuta Beach, Bali, Indonesia – Heaven on Earth…

A silhouette in Discovery Beach, Bali
A silhouette in Discovery Beach, Bali

Time ticked and I was kicked. The bright orange color decorated the western sky of Indonesia, as a sign for sunset. Kuta Beach in Bali will be my witness.  Like a movie, the picture faded away and a silhouette of tree with orange background was emerged, night was on the way to come.

*

Hanging Orange Lamps in Sampoerna Museum, Surabaya, Indonesia
Hanging Orange Lamps in Sampoerna Museum, Surabaya, Indonesia

Quietly I switched on the orange lamps for giving some lights through the mysterious darkness of the night

*

Museum of Bank Mandiri, Jakarta, Indonesia
Museum of Bank Mandiri, Jakarta, Indonesia

A day has been gone and be part of a place we called a museum. We can visit to make a remembrance but it has been bygones. Just like the one with the colonialism orange atmosphere…

*

Orange BMW 2002
Orange BMW 2002

Suddenly all’s gone and I tumbled down. I pinched myself and realized that I had a daydreaming in an orange old BMW!

And the last but not least, a question… do you know the production year of that BMW? 🙂

*

in response to Weekly Photo Challenge with the theme for this week

Orange

Ngaben Sederhana Yang Memikat Hati


Siang itu terik matahari terasa memanggang kawasan Pantai Kuta. Setelah terkantuk-kantuk dibuai angin laut di bawah rimbunnya pepohonan selama pergelangan tangan dihiasi tattoo temporer yang akan pudar dalam hitungan minggu, saya melangkah pelan kembali ke hotel di bawah bayang-bayang pohon dengan angin terasa hangat di muka.

Menyusuri jalan setapak yang sama, di tengah perjalanan kembali ke hotel antara Kuta dan Discovery, saya mendapat kejutan bisa melihat kegiatan adat yang ketika berangkat di pagi harinya belum ada. Dari seorang warga saya diberitahu bahwa upacara ngaben yang sederhana tengah berlangsung, yang tentu saja tidak akan saya lewatkan begitu saja.

Ngaben Sederhana
Ngaben Sederhana

Ngaben, sebuah upacara sakral untuk mereka yang telah kembali ke alam baka sekaligus merupakan kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya. Melalui upacara ngaben yang dilaksanakan pada hari baik, penganut Hindu percaya bahwa dengan api, -yang merupakan ujud lain dari Dewa Brahma-, dapat menyucikan roh, membakar semua kekotoran yang melekat pada tubuh dan roh manusia yang telah meninggalkan dunia fana.

Ngaben dan Meja Sesaji
Ngaben dan Meja Sesaji

Ngaben, Meneruskan Tradisi Leluhur
Ngaben, Meneruskan Tradisi Leluhur

Walaupun sederhana, cukup banyak wisatawan terlihat antusias mengikuti rangkaian upacara dan berdiri tak jauh dari dua tenda yang didirikan di sekitar tempat upacara. Tenda pertama merupakan tempat sesaji dan tempat duduk para pengantar dan keluarga serta tenda kedua tampaknya untuk para penabuh gamelan. Sedikit ke arah pinggir pantai, terjemur di bawah terik matahari, sebuah pepaga yang berdiri dalam diam disandari papan bunga kertas.

Mengantar Kematian Tanpa Airmata
Mengantar Kematian Tanpa Airmata

Api pun Membersihkan Kekotoran
Api pun Membersihkan Kekotoran

Saya memang datang terlambat. Karena prosesi awal Ngaben sudah berlangsung beberapa saat sebelumnya dan wadah atau pepaga sudah berada di tempat pembakarannya, bahkan sepertinya jasad telah diletakkan di pemalungan, yaitu tempat pembakaran yang terbuat dari tumpukan batang pohon pisang, yang tentunya diawali dengan rangkaian upacara lain dan doa mantra dari seorang pemuka agama (Ida Pedanda). Pastilah sebelum semua ini ada arak-arakan yang berlangsung menarik dan meriah menuju tempat ini yang tidak sempat saya saksikan.

Biasanya, sebelum menuju ke tempat pembakaran, seluruh keluarga yang ditinggalkan memberikan penghormatan terakhir dan mendoakan agar arwah yang diupacarai memperoleh tempat yang baik.Kemudianpepaga diusung beramai-ramai ke tempat upacara Ngaben, diiringi dengan gamelan dan nyanyian suci serta diikuti seluruh keluarga dan masyarakat. Pengusungan pepaga ini ke tempat upacara ngaben melalui suatu prosesi yang khas, seperti berputar kekiri dan tidak menempuh pada satu jalan lurus. Konon, hal ini guna mengacaukan roh jahat yang mencoba mendekati.

Dan gending pun terdengar
Dan gending pun terdengar

Gamelan, Yang Tak Terpisahkan dari Kegiatan Adat
Gamelan, Yang Tak Terpisahkan dari Kegiatan Adat

Tetapi saat ini, pepaga sudah di tempat pembakarannya dan tidak jelas apakah upacara penyucian roh oleh Ida Pedanda sudah dilakukan. Upacara yang dimaksud adalah pembakaran dengan api abstrak yang berupa mantra pelepasan kekotoran roh yang melekat di jasad, sebagai tahap awal proses pembakaran. Proses pembersihan yang lengkap dan indah, bahkan roh pun disucikan sebelum kembali ke Sang Pencipta.

Tak lama seseorang tampak mendekat ke pemalungan dan melakukan persiapan pembakaran dengan menggunakan api yang sebenarnya, yang kini tidak lagi menggunakan kayu bakar melainkan dengan alat sejenis kompresor. Diiringi doa dari keluarga dan masyarakat serta gamelan yang bernada meriah,  api tampak membumbung ke atas, seakan mengantar jiwa yang suci kembali pada Sang Pencipta. Penuh harapan untuk moksa.

Api Membakar Semua Kekotoran Jiwa Raga
Api Membakar Semua Kekotoran Jiwa Raga

Ngaben Sederhana di Pinggir Laut
Ngaben Sederhana di Pinggir Laut

Tak sampai satu jam berlangsung proses pembakaran hingga menjadi abu. Api pun dipadamkan dan alas pembakaran yang digunakan ditarik keluar menjauhi pemalungan, yang langsung membuat para pengantar dan pengunjung berkerumun mengelilinginya. Prosesi upacara Ngaben mendekati akhir, tahap utama telah terlaksana meninggalkan sisa pembakaran berupa abu tulang berwarna putih yang dapat dibedakan dari arang kayu atau bambu yang menghitam. Abu berwarna putih ini akan dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah dilanjutkan dengan upacara nyekah dan akhirnya akan dilarung ke laut, karena laut merupakan simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan.

Tak lama kemudian, dengan diiringi gamelan, dua orang pemuda tampak mendekati pepaga dan sigap menjungkirbalikkan pepaga tersebut untuk kemudian dibakar. Lagi-lagi tampak api besar membumbung, seakan melengkapi prosesi mengantar kematian dengan memberi warna sukacita, tanpa duka, tanpa airmata, memutuskan semua keterkaitan dia yang pergi dengan kehidupan duniawi dengan gembira dan harapan moksa.

Pepaga Ngaben di Pinggir Pantai
Pepaga Ngaben di Pinggir Pantai

Berkerumun Menyaksikan Sisa Pembakaran
Berkerumun Menyaksikan Sisa Pembakaran

Yang Mengiringi Prosesi Ngaben
Yang Mengiringi Prosesi Ngaben

Ngaben yang saya saksikan tidak megah, tidak besar, melainkan sederhana, hanya dihadiri oleh sebagian warga banjar. Mungkin tidak perlu biaya puluhan juta atau bahkan hingga milyaran Rupiah, seperti biaya yang harus dikeluarkan jika melakukan upacara Palebon untuk kalangan raja atau bangsawan. Bukan juga upacara yang bisa dijual secara komersial. Yang saya saksikan hanyalah sebuah kesederhanaan. Sebuah upacara Hindu yang utamanya sudah dilaksanakan dengan segera demi kebahagiaan perjalanan kembali arwah yang diupacarai.

Keluarga yang ditinggalkan telah mewujudkan rasa hormat, bakti dan sayangnya kepada yang pergi dalam rangkaian upacara pengabenan yang unsur-unsur utamanya telah lengkap. Tak ada airmata, tak ada isak tangis, karena mereka percaya bahwa dengan menangisi orang yang pergi dapat menghambat perjalanan sang arwah ke tempat tujuannya. Mereka juga meyakini dia yang pergi akan gembira telah terbebaskan dari semua perbuatan duniawinya dan akan menjalani reinkarnasi atau menemukan tempat peristirahatan terakhir yang bebas dari kematian (moksa).  Sesuatu yang mungkin tak biasa dan tak mudah diterima di kalangan yang bukan Hindu. Tetapi inilah hakekat Ngaben yang sebenarnya.

Ngaben, Dengan Api Memutuskan Ikatan Duniawi
Ngaben, Dengan Api Memutuskan Ikatan Duniawi

Upacara yang berlangsung ini bukan dari kalangan kasta yang tinggi, melainkan dari yang cukup mampu untuk menyegerakan kewajiban yang utama. Karena demi kesucian arwah yang telah pergi, mereka mengupayakan upacara ngaben secepatnya, setelah jasad disemayamkan di rumah untuk sementara waktu sambil menunggu hari baik. Mereka percaya ketidakbaikan menyimpan jasad terlalu lama di rumah, karena arwah menjadi tidak tenang dan merasa hidup diantara dua alam serta berharap cepat dibebaskan. Dan bukankah bila semua unsur utama dalam rangkaian upacara ngaben dan sekah telah selesai, keluarga yang ditinggalkan dapat tenang mendoakan leluhur dari pura masing-masing?

Saya meninggalkan tempat upacara Ngaben dengan kekaguman baru, selama ini selalu terbayang Ngaben yang megah dan menghabiskan biaya luar biasa besar diluar kemampuan keluarga yang ditinggalkan, dan kini terhapuskan dengan sebuah kesederhanaan yang menghujam. Mengapa harus ditunda lama jika yang utama dapat dilaksanakan secepatnya, bukankah yang dibawa mati hanyalah karma? Ah, kesederhanaan memang sangat memikat hati…