Nepal: Memeluk Himalaya dari Jendela Part-1


Pagi ini adalah akhir penantian bertahun-tahun. Hari Besar. The D-Day, hari yang menjadi salah satu alasan utama saya pergi ke Nepal. Himalaya!

Bergegas saya menyiapkan hari, walaupun ketika terbangun di pagi hari, saya mendapati jam tangan memilih mati pada waktu dan hari yang salah. Sempat sebuah kekuatiran terlintas di kepala. Hanya sekilas. Tahun 2015 saat dunia teknologi informasi sudah demikian maju, masihkah saya menghubungkan jam yang mati karena habis baterenya dengan pertanda buruk? Saya mencubit diri sendiri, seakan Yang Maha Baik melakukannya kepada saya. Tersenyum, malu. Seharusnya saya berpikir, inilah saat melupakan waktu karena Dia berkenan memperkenalkan saya berkelana ke negeri indah ini.

Dan bagai seorang pengantin yang menuju tempat pengucapan janji suci, jantung ini berdetak tak karuan hingga mobil penjemput itu datang dan membawa saya pergi membelah Kathmandu di pagi yang sepi. Sang pengemudi yang baik hati itu menurunkan saya di terminal domestik sambil berkata akan menunggu saya seselesainya. Saya kembali bergegas untuk proses check-in di konter Buddha Air karena waktu terbang sudah dekat. Benar saja, 5 menit lagi tak datang nama saya dicoret sebagai penumpang. Kemudian begitu senangnya akan terbang, saya mengambil jalur pria hingga wisatawan ganteng bermata biru di depan saya memberitahu jalur seharusnya buat saya 😀 Ternyata di Kathmandu untuk masuk ke ruang tunggu harus melalui pemeriksaan fisik yang jalurnya sudah dibedakan sejak awal antara perempuan dan pria. Selepas pemeriksaan itu, dalam hitungan kurang dari semenit saya sudah berdiri di bus yang membawa ke arah pesawat.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Berbeda dari kebanyakan penerbangan serupa, mountain flight Buddha Air ini menggunakan pesawat baling-baling jenis ATR72 terbaru. Walaupun lebih mahal, sekitar 200USD, paling tidak saya merasa aman karena pernah menaiki jenis pesawat itu beberapa kali di negara lain. Dari promonya dikatakan bahwa penerbangan ini diperuntukkan bagi orang yang ingin mencicipi berdekatan dengan Himalaya tanpa harus bersusah payah mendaki, tanpa harus mempersiapkan fisik, tanpa harus meluangkan waktu yang berhari-hari atau berminggu-minggu. Kondisi itu sangat saya! Dan hebatnya lagi, dijanjikan bahwa setiap penumpang memiliki jendelanya sendiri-sendiri!

Dan sebagaimana janji kepadaNya saat subuh, saya tak meletakkan keinginan apapun dalam penerbangan ini. Saya akan menerima dengan penuh rasa syukur atas setiap peristiwa yang terjadi karena itinerary yang saya susun telah disesuaikan langsung olehNya. Lalu satu persatu peristiwa indah menghiasi hari saya.

Everest Experience - Finally boarding...
Everest Experience – Finally boarding…
Everest Experience - ATR72 onboard
Everest Experience – ATR72 onboard

Sebagai penumpang terakhir check-in, tak heran saya mendapat nomor tempat duduk paling buntut. Namun saya terkejut karena ternyata tempat duduknya paling dekat dengan satu-satunya pintu masuk di bagian belakang pesawat Buddha Air ini. Biasanya di pesawat ATR72 tempat duduk ini diisi oleh Business Class. Dan hebatnya lagi, kursi di sebelah saya kosong. Tidak itu saja, dua kursi di seberang lorong juga kosong. Dan tambah hebatnya lagi, saya memiliki dua jendela, jendela yang agak ke belakang dan jendela di baris tempat duduk. Demikian juga kursi kosong di seberang lorong itu. Ketika banyak orang memperebutkan nomor-nomor terdepan dengan kebanggaan namun berhimpit dengan yang lain, saya paling belakang mendapat keleluasaan penuh. Tuhan Maha Baik.

Himalaya Peaks
Himalaya Peaks

Menyadari banyaknya campur tanganNya, saya hanya bisa terdiam sambil menggigit bibir menahan rasa yang membuncah di dada ketika pesawat lepas landas menuju pegunungan Himalaya yang bertudung salju. Inilah saatnya, saat impian menjadi senyata-nyatanya. Dia yang jutaan milenia berjajar gagah menghias bumi. Dia, Sang Himalaya yang seakan membaca pikiran saya, tersenyum menanti.

Pandangan Pertama dari Jendela - Ganesh Himal di kiri & Langtang di tengah
Pandangan Pertama dari Jendela – Ganesh Himal di kiri & Langtang di tengah

Sebut saja mulai yang terdekat dengan Kathmandu hingga ke Timur Langtang Lirung 7234m, Shisha Pangma (Gosain Than) di Tibet 8013m, Dorje-Lakpa yang serupa piramid 6966m, Phurbi-Ghyachu 6637m, Choba-Bhamre 5970m tiga puncak yang berjejeran, Gauri-Shankar 7134m gunung suci, Melungtse 7181m berpuncak datar, Chug imago 6297m yang belum pernah ditaklukkan, Pigferago 6620m, Numbur 6957m dikenal sebagai Everest mini karena bentuknya mirip, Karyolung 6511m, Cho-Oyu 8201m sang dewi hijau kebiruan, Gyachung Kang 7652m, Pumori 7161m, Nuptse 7855m, Sagarmatha 8848m (atau dikenal Everest dalam bahasa Inggeris atau Chomolungma dalam bahasa Tibet) Bintang Utama dalam jajaran Himalaya, Lhotse 8516m pendamping Sagarmata di Selatan, Ama-Dablam 6812m yang cantik sebelum ke Sagarmatha, Chamlang 7319m, Makalu 8463m Great Black, Kanchanjunga 8586m pemegang ranking nomor tiga dan masih seterusnya… Belum termasuk Himalaya bagian barat ke jajaran Ganesh Himal 7130m, Manaslu 8163m, Annapurna 8091m, Dhaulagiri 8167m dan tentu saja Machhapuchhre ‘Fish Tail’ 6993m yang menggoda di Pokhara.

Saya kembali menempel di jendela, menyambut keindahan pandang sang kekasih. Langit biru pagi yang cerah menjadi kontras dengan puncak-puncak yang berselimut salju di kejauhan. Balut putih itu semakin dekat. Tetapi dalam sekejap terlihat mengabur karena setitik dua titik air menggenang di pelupuk mata. Saya mengerjapkan kelopak mata berkali-kali, tetapi tak berhasil menahannya. Airmata itu jatuh juga ke pipi. Ya Tuhan, mengapa ketika bahagia, ketika impian terlihat begitu nyata, harus ada airmata? Rasa sesak itu terasa sangat menekan di dada, merangsek jadi satu. Tetapi bagaimanapun saya sadar sebuah senyum tak ingin merasa airmata mengalir. Tak boleh ada kesempatan yang telah diberikan menjadi sia-sia. Cepat saya menyekanya dengan punggung tangan dan kembali menengok sang kekasih…

Langtang Lirung Goshain Than Dorje Lakpa
Langtang Lirung Goshain Than Dorje Lakpa
Dorje Lakpa - Phurbi Ghyachu - Choba Bhamre
Dorje Lakpa – Phurbi Ghyachu – Choba Bhamre

Dari kejauhan, saya sudah terkagum oleh puncak Langtang Lirung yang berada di ketinggian di 7234m yang hanya memungkinkan untuk ditaklukan oleh pendaki ahli terhadap batuan bersalju. Saya menikmati keindahan puncak Langtang Lirung dan berangan-angan berada dalam kehijauan Langtang National Park untuk merasa lebih dekat dengannya. Tampak di dekatnya Shisha Pangma atau yang dikenal dengan nama Goshain Than 8013m, terlihat lebih rendah dari Langtang tetapi itu karena letaknya yang jauh di wilayah Tibet.

Meninggalkan Langtang, puncak Dorje Lakpa 6966m menyambut saya dengan bentuk khas piramidnya. Kekhasannya membuat mudah dikenali dan dinikmati walau tak mudah didaki. Ketika udara baik, hampir semua penghuni Lembah Kathmandu dapat menikmati keindahan Dorje Lakpa.

Pemandangan dengan puncak-puncak gunung beratap salju terus terhampar di hadapan, terangkai mengular tak terputus dengan dan yang tanpa nama, menghias bumi ciptaanNya dengan indah. Angin yang bertiup di puncak gunung menerbangkan butiran-butiran putih halus laksana bendera berkibar.

The Holy Ghauri Shankar and Melungtse
The Holy Ghauri Shankar and Melungtse

Dan itulah yang terlihat pada Ghauri Shankar, gunung setinggi 7134m yang terkenal secara spiritual di Nepal yang diyakini mendapat perlindungan langsung oleh pasangan Shankar (Dewa Siwa) dan Ghauri (Dewi Parwati) karena baru pada tahun 1979 manusia bisa menginjakkan kaki di puncaknya setelah sekian lama penuh dengan cerita kegagalannya. Lagi-lagi saya merasa begitu besarnya rasa luarbiasa yang campur aduk menggelegak dari dalam seakan ingin menghancurkan semua batasan tubuh material ini.

Kemudian Melungtse yang sangat mudah teridentifikasi karena puncaknya yang mendatar seperti plateau berdiri dengan anggunnya di ketinggian 7181m. Pemandangan yang begitu menarik hati karena puncaknya yang begitu khas. Begitu indah.

Melungtse - Chugimago - Pigferago - Numbur
Melungtse – Chugimago – Pigferago – Numbur

Perjalanan baru memperlihatkan setengah dari barisan pegunungan yang dapat disaksikan. Dan kini pesawat mulai memasuki pegunungan yang merupakan pusat tujuan penerbangan. Walaupun seluruh jajaran gunung sejak awal penerbangan begitu indah, namun semua juga paham bahwa tidak akan pernah ada yang mengalahkan Sagarmatha. Dialah bintang utama yang ditunggu.

Saya masih memandang ke arah luar jendela sambil memperhatikan lembar kertas berisikan puncak Himalaya. Selepas Melungtse tadi berturut-turut akan terlihat Chug imago 6297m, Pigferago 6620m, Numbur 6957m, Karyolung 6511m, Cho-Oyu 8201m, Gyachung Kang 7652m, Pumori 7161m, Nuptse 7855m dan kemudian Sang Bintang Sagarmata (Everest) 8848m. Saya hanya mengambil foto sambil berkali-kali menarik nafas panjang. KaruniaNya begitu banyak saya terima hari ini, tak habis-habis.

Pigferago - Numbur - KaryoLung - Cho Oyu
Pigferago – Numbur – KaryoLung – Cho Oyu

Dan selagi sejenak duduk beristirahat dari begitu banyak anugerah yang diterima, saya memperhatikan seorang pria berwajah Hindustan yang mendapat tempat duduk di sebelah kanan terlihat putus asa berdiri dan duduk lagi, berdiri lagi mengintip pemandangan indah di jendela sebelah kiri. Berkali-kali. Manusia dan keinginannya, pikir saya lalu melempar pandang kembali.

Namun entah kenapa di benak terukir sebuah senyum yang sering berahasia menyimpan tanya tak terucap. Saya tak ingin melepas pandang Himalaya yang terhampar dengan segala keindahannya di luar jendela. Dan tik-tok-tik-tok waktu berlalu

Apakah saatnya tiba? Apakah saya harus melepas memeluk Himalaya dari jendela? (bersambung…)

Laos, Negeri Tak Berbatas Laut


Rombongan turis Barat itu terlihat terhenyak ragu menyaksikan pesawat mungil ATR72 baling-baling yang akan mengangkut mereka. Keraguannya seperti menanti suara tokek berikutnya, mmmaju, mundur, mmmmaju, mundur, mmmm… Akhirnya terlepas sebuah tawa miris penuh kepasrahan, saling berpandangan, apa boleh buat…. mereka melangkah maju… (Hampir pasti keselamatan menjadi kata yang terus muncul dalam benaknya 🙂 )

Pha That Luang
Pha That Luang

Itulah yang terjadi pada rombongan tepat di depan saya ketika hendak boarding menuju Laos. Saya mungkin yang paling memahami mereka karena mengalami hal yang serupa dalam perjalanan sebelumnya di Burma, penuh imajinasi ngeri ketika akan boarding ke pesawat ATR72, yang ternyata salah 100%. Ternyata penerbangan Lao Airlines dengan ATR72 selama 2 jam itu cukup menyenangkan. Seluruh penumpang yang jumlahnya tidak lebih dari 25 itu dilayani oleh dua pramugari cantik berbusana khas Laos. Tampak di bawah jendela pesawat, pemandangan dataran rendah yang cukup membosankan pada awal-awal penerbangan dan menjelang akhir guratan pegunungan mulai menghiasi pemandangan.

Laos, atau secara resminya negara itu disebut dengan Lao People’s Democratic Republik (Lao PDR) merupakan salah satu anggota negara ASEAN yang tidak berbatas dengan laut. Vietnam menghadangnya dari sebelah Timur, Cambodia di sebelah selatan tenggara, Thailand di sebelah Barat dan tentu saja, Myanmar dan China membatasinya di sebalah Utara. Uniknya lagi, negara yang total jumlah penduduknya masih kalah dari Jakarta, hanya 6.6 juta jiwa, tapi sejumlah itu memiliki 49 etnis yang berbeda.

Ketika itu saya terbang menuju salah kota kecil di utara Laos, yaitu Luang Prabang, sebuah kota yang diyakini menjadi sentra budaya dan tradisi masyarakat Laos hingga kini. Kota yang terletak di pinggir Sungai Mekong yang terkenal kedahsyatannya saat musim penghujan itu, merupakan World Heritage City sejak tahun 1995. Inilah alasan utama saya untuk mengunjungi Luang Prabang, karena pastilah cantik nilai sejarah budayanya serta kehidupan sehari-harinya

Dan memang demikianlah yang terjadi di Luang Prabang.

Lanjutkan membaca “Laos, Negeri Tak Berbatas Laut”

Mengunjungi Mandalay, Kota Kerajaan Terakhir di Burma


Benteng Mandalay
Benteng Mandalay

Awalnya saya mengira Mandalay itu berada di Phillippines, karena ada lagu Mandalay dari La Flavour yang ngetop bersamaan dengan Tagalog Disco. Saya tidak mengira Mandalay itu ada di Burma dan bahkan bisa sampai menjejakkkan kaki ini di bumi Mandalay!

Penerbangan pertama dari Bagan ke Mandalay dengan pesawat baling-baling ATR72 – 500 Air Mandalay yang kurang dari 1 jam, mendarat mulus di Bandara Mandalay (MDL). Namun sebagai salah satu bandara terbesar di Burma, saingan dengan bandara di Yangon dan Naypyidaw (ibu kota Burma yang sekarang), bandara Mandalay terasa sangat lengang, mungkin karena masih pagi atau memang tidak banyak penggunanya.

Di sini, di bandara Mandalay, seperti juga di kota-kota Burma yang sebelumnya saya datangi, saya tetap melewati pemeriksaan paspor untuk diregistrasi oleh petugas berseragam bermuka aneh. Baiklah… dimana kaki berpijak disanalah langit dijunjung… Mandalay I’m coming…

Mandalay, satu-satunya destinasi di Burma yang saya kunjungi tanpa itinerary yang jelas, akomodasinya pun belum dipesan. Tetapi pengalaman perjalanan yang menyenangkan sebelumnya dapat meyakinkan bahwa rasa ingin tahu yang membuncah bercampur kesenangan menjumpai hal baru akan menambah makna perjalanan ini. Saya melangkah yakin ke konter akomodasi dan taxi, untuk memesan akomodasi sekaligus taxi ke pusat kota. Mbak-mbak cantik di balik konter memberikan rekomendasi penginapan yang terjangkau dan aman untuk female solo-traveler seperti saya. Dia juga memberikan rekomendasi sewa mobil yang dapat saya gunakan untuk berkeliling kota, tetapi langsung saya tolak karena mahalnya minta ampun.

Untuk sampai ke pusat kota yang jauhnya 35 km, saya menggunakan taxi, yang pengemudinya mengajak seorang temannya untuk ngobrol dan membiarkan saya menikmati perjalanan jauh itu dengan latar belakang suara brisik pembicaraan mereka dalam bahasa Burma. Sebuah tantangan galau… hehehe…

Lanjutkan membaca “Mengunjungi Mandalay, Kota Kerajaan Terakhir di Burma”

Transportasi Burma: Dari Pesawat Baling-baling, Kereta Kencana, Angkot hingga Taksi Mogok


Selalu saja banyak cerita di balik moda transportasi yang digunakan selama perjalanan, termasuk selama perjalanan di Burma. Sejumlah moda transportasi yang saya gunakan selama di Burma berurutan dari yang mahal sampai murah adalah 1. Pesawat Terbang, 2. Private Rental Car, 3. Taxi atau Shared Taxi (?), 4. Angkutan Umum Antar Kota (alias Angkot), 5. Ojek, 6. Kereta Kencana, 7. Jalan Kaki.

Pesawat Terbang

Moda transportasi pertama yang saya gunakan dari Kuala Lumpur hingga mencapai bumi Burma adalah dengan menggunakan pesawat jet Airbus A320. Harga yang berbeda sedikit dari Air Asia dengan pertimbangan sampai lebih awal, membuat saya memutuskan menggunakan Malaysian Airways. Di dalam penerbangan, tidak ada yang special kecuali beberapa penumpang mengenakan Longyi, pakaian tradisional Burma sehingga membawa atmosfir Burma ke dalam pesawat.

ATR 72
ATR 72

Mengingat lokasi destinasi di domestik Burma berjauhan, saya mengambil moda pesawat terbang dengan pertimbangan kecepatan dan kesehatan fisik, agar bisa lebih banyak istirahat walaupun harus menguras kantong lebih dalam.  Dari Yangon ke Bagan (Nyaung Oo) menggunakan pesawat terbang model ATR-72 500 Air KBZ. Awalnya saya memesan online untuk maskapai Air Mandalay, ternyata beberapa hari kemudian datang pemberitahuan bahwa penerbangan saya dicancel namun mereka telah mentransfer saya langsung untuk menggunakan Air KBZ. Group KBZ merupakan perusahaan yang dimiliki oleh seorang konglomerat di Burma (di Yangon saya melihat ada KBZ Bank!)

Ini kali pertama lagi saya menggunakan pesawat baling-baling setelah puluhan tahun.  Bayangan bahwa pesawat baling-baling itu kuno dan hanya dibuat sebelum pesawat jet seperti mencengkeram saya, walaupun saya tahu persis bahwa ketakutan ini sama sekali tidak beralasan. Benarlah… begitu masuk, saya tahu pesawat masih terbilang baru.

Saya juga baru tahu bahwa kelas bisnis di Pesawat ATR-72 ada di bagian belakang sehingga bisa keluar lebih dahulu karena pintunya hanya satu yaitu di bagian ekor. Jadi sebagai pemilik kursi kelas ekonomi, saya dapat di bagian tengah tepat di bawah sayap, bukan di atas sayap kalau kita naik pesawat jet biasa. Ransel standar 7kg-an saya ternyata tidak cukup masuk ke kabin atas, terpaksa saya jejalkan ke bawah kursi.

Uniknya, Lanjutkan membaca “Transportasi Burma: Dari Pesawat Baling-baling, Kereta Kencana, Angkot hingga Taksi Mogok”