Warna-Warni Rute Subway di Tokyo


Sejak pertama kali menjejak Tokyo bertahun-tahun lalu, selain menggunakan kereta komuter JR Yamamote line yang ada di atas tanah, saya selalu menggunakan kereta bawah tanah (Subway), -yang jaringannya sudah mirip Spaghetti-, untuk mencapai destinasi yang saya inginkan, tentunya dengan bantuan aplikasi juga seperti hyperdia(dot)com dan Tokyo Metro(dot)com juga. Saya ingat, pertama kali memandang peta subway Tokyo ini, saya ngakak abis, sambil geleng-geleng kepala, pasrah menghadapi ruwetnya…

Tetapi saya yakin tak sendirian karena, jangankan turis yang baru pertama kali, orang lokal saja kadang terdiam mengamati papan rute kok. Untungnya (iya, selalu ada untungnya kan?), jalur itu dibuat warna-warni. Selain memudahkan untuk menelusurinya, bagi saya peta itu terlihat indah dengan warna-warni rutenya. Satu jalur satu warna, coba bayangkan bila rute itu hanya dibuat hitam putih! :p

tokyo metro

Terima kasih Wikipedia karena katanya, salah satu jalur subway di Tokyo yaitu Jalur Ginza antara Ueno dan Asakusa sepanjang 2,2 km itu, merupakan jalur subway pertama di Jepang yang dioperasikan untuk publik di tahun 1927. (Duh, Indonesia ketinggalan banget ya, hampir 100 tahun bedanya dengan Jepang, padahal di dunia subway pertama kali berfungsi tahun 1863 di London!).

Sekarang ini, di Tokyo tersedia 13 jalur subway yang terdiri dari 9 jalur yang dikelola oleh Tokyo Metro dan 4 jalur yang dikelola oleh Toei Subway, yang melintasi lorong-lorong bawah tanah Tokyo yang bertingkat-tingkat kedalamannya. Setiap stasiun pasti ada lift untuk mereka yang mendapatkan prioritas seperti para lanjut usia dan anak-anak. Maaf ya, saya kadang mencuri kesempatan naik lift itu karena kaki sudah mau putus rasanya…

Seperti yang dilihat pada gambar di atas itu, jalur-jalur subway di Tokyo mencakup:

Jalur Subway Yang Dikelola oleh Tokyo Metro

  1. Jalur Ginza, yang berwarna oranye, mencakup 19 stasiun dari Stasiun Shibuya hingga Stasiun Asakusa, melewati stasiun-stasiun besar seperti Akasaka, Shimbashi, Ginza, Ueno untuk mencapai tempat-tempat turis yang terkenal dan 16 stasiun diantaranya merupakan stasiun transfer dengan jalur lain. Di Shibuya sendiri, sebagai awalan jalur Ginza dan juga dilewati oleh jalur Yamamote, terkenal dengan Patung anjing setia Hachiko dan Persimpangan Pejalan Kaki (Shibuya Crossing), selain menjadi surga bagi yang suka belanja. Saya termasuk pengguna setia jalur ini karena saya biasanya menginap di daerah Asakusa atau Ueno.
  2. Jalur Marunouchi, yang berwarna merah, mencakup 25 stasiun, dari Ogikubo yang ada di Barat Tokyo hingga Ikebukuro, melewati daerah bisnis Marunouchi yang berada di kawasan Stasiun Tokyo. Uniknya, Jalur Marunouchi ini bercabang, sehingga ada sebagian kereta yang melewati 4 stasiun yang berbeda tapi parallel, di wilayah Suginami dan wilayah Nakano. Rasanya, jalur Marunouchi ini satu-satunya jalur subway yang bisa transfer di Stasiun Tokyo (bukan dengan stasiun lain yang terintegrasi dengan Stasiun Tokyo ya), dengan kereta Shinkansen dan kereta-kereta komuter yang berfungsi di atas permukaan tanah.
  3. Jalur Hibiya, yang berwarna perak abu-abu, mencakup 21 stasiun, dari Naka-Meguro di Barat Daya Tokyo hingga Kita-senju. Bahkan dari stasiun terakhir ini, bisa transfer dengan kereta Tobu-Skytree yang menuju Sky-tree. Jalur Hibiya ini juga melewati daerah Ebisu, Roppongi (dekat Tokyo Tower), Tsukiji (untuk mencapai Tsukiji Fish Market), Ueno (untuk transfer dengan Shinkansen yang ke Utara Jepang).
  4. Jalur Tozai, yang berwarna biru langit, mencakup 23 stasiun dari Nakano hingga Nishi Funabashi. Kereta jalur Tozai ini termasuk kereta cepat (Rapid) karena tidak berhenti di beberapa stasiun setelah Toyocho.
  5. Jalur Chiyoda, yang berwarna hijau, mencakup 20 stasiun dari Yoyogi-uehara hingga Ayase atau Kita-ayase untuk jalur cabangnya dari Ayase. Jalur ini digunakan untuk mencapai Mesjid Tokyo yang terletak tak jauh dari Yoyogi-uehara. Jalur ini juga bisa digunakan untuk menuju Taman Yoyogi (turun di Yoyogi-koen)
  6. Jalur Yurakucho, yang berwarna kuning keemasan, mencakup 24 stasiun dari Wakoshi di wilayah Saitama hingga Stasiun Shin-Kiba di sebelah Timur Tokyo. Lucunya, 9 stasiun pertama dari Wakoshi hingga Ikebukuro, jalur Yurakucho ini berbagi stasiun yang sama dengan jalur Fukutoshin. Akhir dari jalur Yurakucho adalah Shin-Kiba yang merupakan 1 stasiun sebelum Stasiun Maihama yang merupakan stasiun transit menuju Disneyland
  7. Jalur Hanzomon, yang berwarna ungu, mencakup 14 stasiun dari Stasiun Shibuya hingga Stasiun Oshiage, yang keseluruhan stasiunnya merupakan stasiun transit dengan jalur lain, kecuali Hanzomon yang merupakan stasiun untuk menuju Gerbang Barat Imperial Palace yang terkenal sebagai tempat turis di Tokyo. Selain itu, stasiun akhir Oshiage merupakan stasiun terdekat untuk mencapai Skytree.
  8. Jalur Namboku, yang berwarna hijau biru toska, mencakup 19 stasiun dari Meguro di wilayah Shinagawa hingga Stasiun Akabane-iwabuch di wilayah Kita. Sebagai warga Indonesia, jika ingin ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo, turunlah di Stasiun Meguro, dan berjalan kaki sekitar 10 menit. Dari tempat ini juga bisa menuju Mesjid Indonesia SRIT di Tokyo, dengan berjalan kaki sekitar 15 menit (walaupun saya sendiri belum pernah kesana ya)
  9. Jalur Fukutoshin, yang berwarna coklat, mencakup 16 stasiun dari Wakoshi hingga Shibuya, melewati stasiun-stasiun penting untuk mencapai destinasi turis, seperti Ikebukuro, Shinjuku, Harajuku. Serunya, stasiun ini merupakan stasiun terdalam hingga 27 meter ke bawah tanah, bahkan di Higashi Shinjuku mencapai 35meter, kata Wikipedia lho…

Jalur Subway Yang Dikelola oleh Toei Subway,

  1. Jalur Asakusa, yang berwarna pink atau merah jambu, mencakup 20 stasiun dari Nishi Magome di wilayah Ota hingga ke Oshiage di Sumida. Bagi yang menginap di daerah Asakusa atau yang mau ke Sensoji Temple, jalur Asakusa ini pastilah sering digunakan selain Jalur Ginza. Jalur Asakusa ini melewati Daimon yang merupakan stasiun interchange dengan Hamamatsucho, yaitu stasiun yang menghubungkan kereta monorail dari Haneda. Jalur Asakusa ini juga sering saya gunakan.
  2. Jalur Mita, yang berwarna biru, mencakup 27 stasiun dari Meguro di wilayah Shinagawa hingga Nishi-takashimadaira di wilayah Itabashi, merupakan salah satu jalur subway yang paling banyak memiliki stasiun pemberhentian.
  3. Jalur Shinjuku, yang berwarna hijau daun atau hijau muda, mencakup 21 stasiun yang berawal dari Stasiun Shinjuku yang sangat luas itu hingga Stasiun Motoyawata di wilayah Chiba.
  4. Jalur Oedo, yang berwarna ruby atau magenta mencakup 38 stasiun dari Tochomae (aneh ya mulai dari stasiun nomor E28), kemudian Shinjuku Nishiguchi, E01 lalu berputar melalui Lidabashi, Ueno Okachimachi, Tsukijishijo, Shiodome, Daimon, Roppongi, kembali ke Shinjuku lalu tadaaa… kembali ke Tochomae (E28) dan lanjut hingga Hikarigaoka. Stasiun ini merupakan salah satu yang terdalam, sekitar 48 meter di bawah permukaan tanah (source: Wikipedia) termasuk saat melintasi di bawah Sungai Sumida.

JR Pass dan Subway di Tokyo

Banyak orang mengira dengan memiliki JR Pass yang mahal itu maka semua moda transportasi di Jepang seluruhnya sudah tercakup didalamnya, padahal samasekali salah. JR Pass akan sangat efektif bila dipakai untuk transportasi antar kota dengan kereta JR, namun rugi jika hanya dipakai di satu kota. Di Tokyo sendiri, memegang JR Pass berarti hanya bisa naik kereta JR (Yamamote dan Chuo-Sobu). Jalur Yamamote yang memutar Tokyo memang melewati hampir semua tempat-tempat turis. HAMPIR lho… -kecuali mau jalan kaki-, karena masih banyak tempat yang bagus yang lumayan jauh (buat saya) kalau jalan kaki. Jadi mending naik subway! Dan yang  pasti adalah: JR Pass tidak berlaku untuk naik Subway.

Jadi apabila JR Pass masih berlaku dan ingin keliling Tokyo, maka kita harus pandai-pandai mengatur tujuan. Jika tujuannya jauh dari stasiun JR Yamamote (bisa naik Yamamote gratis dengan menunjukkan JR Pass), maka sebaiknya membeli tiket subway. Kalau saya, karena malas berpikir, saya beli saja Subway passes, yang 1 atau 2 atau 3 hari (dengan harga masing-masing 800/1200/1500Yen) selama hari itu akan keluyuran di Tokyo sampai kaki pegal-pegal mau copot!

Jika dibandingkan, antara membeli tiket kereta satu per satu sesuai jarak stasiun yang makin jauh makin mahal, saya memilih tiket harian itu. Karena tiket harian bisa digunakan sampai 24/48/72 jam setelah efektif penggunaan kereta pertama kali. Jika jarak terdekat sudah dihargai 170Yen, rasanya tak mengapa saya membeli Subway Pass. Lagipula, dengan kebiasaan saya yang suka tersesat, rasanya tak perlu menyesal kalau salah arah karena tinggal balik lagi kan? Selain itu, tidak perlu lagi pencet-pencet di mesin tiket, apalagi jika mesin penuh maka harus antri, dan itu artinya buang waktu.

Jika menggunakan PASMO/Suica Card (serupa kartu e-money) untuk naik subway, ya hitung saja secara seksama. Dengan menggunakan kartu-kartu itu, tetap saja harga berkisar tak jauh dari 170Yen hanya kita mendapat diskon. Kalau 10 kali sudah 1700 Yen kan? Padahal dengan harga yang sama, saya bisa mendapat kartu pass subway untuk 3 hari dan masih sisa 200 Yen.

Belinya dimana? Ya di semua stasiun subway melalui vending machine. Jangan takut ada bahasa Inggeris kok di setiap mesin itu.

Oh ya, seluruh operasional kereta di Jepang tidak berfungsi 24 jam lho…, ada sih yang sudah beroperasi dini hari, tetapi biasanya sekitar tengah malam sudah berhenti beroperasi. Jadi jangan ketinggalan kereta ya, gak ada kereta lagi yang akan lewat… 😀

<><><>

Pos ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu 1 bertemakan Colourful Everywhere, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Tempat Wisata Gratis di Kawasan Stasiun Tokyo dan Asakusa


Tokyo memang magnet kuat buat wisatawan karena sepertinya masyarakat Jepang tahu persis bagaimana memanjakan para wisatawan yang datang ke negerinya itu. Dengan penataan yang menawan hati dan nyaman untuk dikunjungi serta diberikan informasi yang jelas, wisatawan mana yang tidak tertarik untuk berkunjung ke Jepang, lagi dan lagi…

Dan meskipun Tokyo termasuk kota termahal di dunia, sesungguhnya tidak sedikit tempat wisata tersebar seantero Tokyo yang dapat dikunjungi tanpa biaya masuk alias gratis, tis, tis… Sepanjang kaki masih kuat menapaki tangga dari stasiun kereta atau subway yang menjadi transportasi publik yang dapat diandalkan di Jepang, kita bisa mendatangi tempat-tempat wisata yang terkenal. Apalagi jika kita memiliki kartu pass Tokyo, yang bisa mengakses subway, metro atau kereta loop-line Yamamote.

Karena banyaknya tempat wisata yang masuk dalam kategori ini di Tokyo, saya menuliskannya dalam dua tulisan. Bagian pertama mencakup kawasan Tokyo Station dan Asakusa lalu dilanjutkan pada bagian kedua yang mencakup kawasan Shinjuku dan Shibuya. Tentu saja masih banyak tempat terkenal dan gratis yang belum dimasukkan disini, supaya nanti bisa jadi tulisan yang lain kan…

Tokyo Station

Selesai dibangun pada tahun 1914, bangunan bergaya Renaissance dengan batu bata merah ini awalnya direstorasi menjadi gedung stasiun kereta dua lantai saja setelah perang, tetapi pada tahun 2012 akhirnya pemerintah Jepang merekonstruksinya kembali sesuai bangunan awal.

Selain memang aslinya menjadi pusat stasiun kereta, bangunan ini juga menyediakan fasilitas belanja dan makan. Untuk sekedar tahu saja Stasiun Tokyo ini sangat luas karena memiliki interchange dengan jalur kereta lainnya yang terbanyak di Tokyo, jadi perhatikan arahnya dengan cermat, jangan sampai tersesat! (berbagi pengalaman pribadi karena lupa letak locker sehingga harus berputar-putar lama di Stasiun ini 😀 )

Saya menyempatkan diri untuk menikmati façade dari Tokyo Station, karena biasanya saya dan pengunjung lainnya hanya bertukar kereta di dalam stasiun dan tidak keluar untuk menikmati gedung-gedung di luarnya. Tetapi sempatkan untuk menikmati kubah yang indah di dalam Tokyo Station , di dekat pintu keluar ke arah jalan raya.

Akses: Exit Marunouchi Tokyo Station

*

Tokyo International Forum

Dari nama, bentuk dan lokasinya, kelihatannya tempat ini sangat business-like padahal tidak selalu demikian. Tokyo International Forum merupakan kawasan untuk konser musik, pameran dan event internasional lainnya. Yang menarik tempat ini adalah dinding luarnya terbuat dari bahan kaca tembus pandang dan pengunjung dapat menikmatinya hingga ke lantai-lantai atas tanpa biaya, termasuk berjalan-jalan di jembatan-jembatan penghubungnya asalkan tidak takut ketinggian. Sungguh, saya jealous dengan kemerdekaan dan kenyamanan disini untuk menikmati gedung-gedung cantik tanpa bayar dan tanpa tatapan mata penuh curiga. Kapan ya di Indonesia bisa seperti ini?

Pada halaman depan gedung ini, pengunjung pada malam hari bisa berjalan diatas lantai yang diterangi lampu dari bawah sehingga menciptakan silhouette yang cantik. Berada di tempat ini seakan-akan mengajak imajinasi berlompatan dengan liar tanpa batas yang sangat menggembirakan.

Buka setiap hari, pk. 07:00-23:00

Akses: Yurakucho St. dengan JR Yamamote atau Subway (Y18). Atau jalan kaki saja dari Tokyo Station, nyaman kok sambil menikmati pemandangan kota.

*

Ginza

Dari Tokyo International Forum kita dapat berjalan kaki menuju kawasan Ginza walaupun lebih enak 🙂 kalau naik subway dan langsung muncul di kawasan Ginza. Disini tempatnya untuk window-shopping merk dunia yang terkenal (dan tentu saja boleh membeli bila memang ada dananya) seperti Channel, Gucci, Cartier dan lain-lain yang bersanding pula dengan Uniqlo, Zara dan merk-merk terkini lainnya. Harganya jangan tanya ya… tak jauh melangkah pasti terlihat Gedung De Beers yang berlekuk tampil dengan sangat unik, mungkin memang sesuai tujuannya, bukankah hampir semua orang (baca: perempuan) tertarik untuk memperhatikan berlian?

Akses: Stop di Stasiun Ginza – (G09, H08, M16 bila menggunakan jalur Subway)

*

Imperial Palace dan Jembatan Nijubashi

Sebagai Edo Castle yang dulunya merupakan kediaman keluarga dinasti Tokugawa, kini lebih terkenal dengan nama Imperial Palace dan dijadikan sebagai kediaman resmi Kaisar Jepang, yang memindahkan istananya dari Kyoto ke Tokyo setelah Restorasi Meiji. Hanya di bagian timur dari Istana ini yang dibuka untuk publik dan dikenal Taman Timur (East Park) lengkap dengan jembatan di depannya yang sangat terkenal dengan nama Nijubashi.

Walaupun tak masuk ke dalam kawasan istana, berjalan kaki di sepanjang trotoar di pinggir kanal lebar yang tertata apik dan mengelilingi istana ini, cukup menyenangkan. Mungkin karena bersih dan memanjakan mata, saya jadi menyukai kawasan ini meskipun kaki rasanya sudah tak sangggup untuk melangkah…

Akses: Nijubashimae Subway Stasiun (C10) atau Hibiya Subway St. (I08), (C09), (H07), Buka setiap hari.

*

Tokyo Stock Exchange

Jepang merupakan negara yang ekonominya selalu mendapat sorotan di dunia, salah satunya pergerakan bursa sahamnya. Nah, ketika ke Jepang, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke kawasan pusat finansial ini, hitung-hitung mengingat rekan-rekan yang sedang bekerja keras di kantor saat saya sedang menikmati liburan 😀 Menyenangkan juga memiliki foto luar dari gedung Tokyo Stock Exchange. Apalagi berjalan kaki di kawasan ini bisa berkesempatan melihat nama-nama besar perusahaan sekuritas dunia yang menempati gedung di sekitar Tokyo Stock Exchange, atau siapa tahu bisa bertemu dengan investor galau yang sedang rugi besar atau bahkan yang sedang tertawa-tawa karena untung berlipat?

Akses: St. Kayabacho (H12 Hibiya line atau T11 Tozai line Subway)

Akihabara

Jalan-jalan di kawasan ini hanya untuk merasakan nuansa lost-in-translation saja karena banyaknya neon-sign dalam bentuk tulisan kanji Jepang. Namun perlu hati-hati juga jika Anda membawa anggota keluarga yang masih kecil, karena diantara yang tertulis itu sering terselip iklan sensasional dari perempuan-perempuan yang berpakaian seadanya. Tidak perlu lama-lama disini, luangkan waktu secukupnya saja untuk merasakan nuansa tulisan kanji yang menghiasi gedung-gedung, kecuali memang Anda mau membeli barang-barang elektronik disini ya.

Akses: Stop Akihabara St dengan JR Yamamote line atau di H15 bila menggunakan Hibiya line Subway.

*

Sensoji Temple

Terletak di kawasan Asakusa yang lebih bersahabat, kuil Sensoji merupakan salah satu kuil tertua di Tokyo yang katanya dibangun pada tahun 628. Terkenal dengan gerbangnya yang dikenal dengan nama Kaminarimon yang ditengahnya tergantung lentera raksasa berwarna merah.

Kuil ini biasanya dipenuhi oleh penduduk Tokyo yang berharap berkah sebelum berangkat bekerja, selain menjadi tempat favorit turis. Sayangnya per awal Juli 2016 kemarin, Pagoda 5 tingkat sedang direnovasi sehingga bagian luarnya ditutup, padahal Pagoda itu salah satu bangunan menarik di kawasan Asakusa. Selain itu, jika tak sempat berkunjung ke Sky Tree, bisa saja mengabadikan pemandangan SkyTree dari Sensoji. Namun agar lebih nyaman menikmati kunjungan ke Sensoji, sebaiknya datang pagi-pagi atau pada malam hari saat pengunjung tidak terlalu banyak. Pasti tidak menyesal karena pemandangan Sensoji di waktu malam sangat impresif. Apalagi jika Ada menginap di sekitar Sensoji.

Selain berkunjung ke Sensoji, jika punya uang berlebih, bisa berbelanja berbagai cinderamata atau pernak-pernik di Nakamise Shopping Street yang berlokasi di sepanjang 200meter dari arah Kaminarimon (gerbang pertama) sampai ke gerbang Hozomon (gerbang kedua) di depan kuil Sensoji.

Akses: Stop di Asakusa St. Buka setiap hari dari pk. 06.00 – 17:00, kecuali bulan Oktober hingga Maret dibuka pk. 06.30.

*

Kawasan Skytree

Meskipun bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 1 km dari Asakusa sambil menikmati sungai Sumida dan pemandangan sekitarnya, kita bisa mencapai SkyTree dengan naik Tobu Skytree Line dari Asakusa St. dan berhenti di Tokyo SkyTree Town yang merupakan kawasan wisata dengan tower Tokyo Skytree, mall, akuarium, planetarium, perkantoran dan lainnya. Tanpa harus naik ke atas yang berbayar, jalan-jalan di sekitar kawasan ini sudah cukup menggembirakan.

Jika ingin melihat daerah Tokyo dengan lebih jelas, bisa naik ke lantai pengamatan di ketinggian 350m dan 450m yang dibuka pk. 08:00 – 22:00. Jika udara cerah dan Anda sedang beruntung, dapat melihat keindahan Gunung Fuji dari tempat ini, tetapi untuk ini harus bayar ya…

*

Nah… kaki masih kuat berjalan? Masih banyak lho tempat-tempat yang bisa kita datangi hanya bermodal tiket kereta saja, seperti taman Ueno, jalan-jalan cantik di sepanjang pinggir sungai atau boulevard yang penuh pemandangan indah, museum, berbagai kuil lainnya dan masih banyak lainnya lagi. Jadi pasti asyiklah…

Jangan lupa baca lanjutannya untuk mengunjungi tempat-tempat wisata gratis di daerah Shinjuku dan Shibuya…