Sebuah Janji Terbang ke Annapurna Base Camp


Sebuah Catatan di Bulan Oktober 2016

Dalam doa, saya tersentak. Benarkah ini? Tak mungkin tak percaya, tak mungkin tak merasa. Karena rasa itu begitu intense. Ada bahagia mendekap rasa, sangat kuat. Rasa yang sama, dalam hari-hari perjalanan luar biasa di Nepal 2014 lalu

Ke Nepal? Lagi? ABC? Annapurna Base Camp? Rasanya tak percaya, tetapi jelas ada rasa yang teramat kuat, sebuah janji yang tak pernah tak ditepati, sehingga tak perlu lagi ada tanya. Saya akan sampai di Annapurna Base Camp!


April 2017

Tak banyak waktu dibuang di Pokhara sekembalinya kami dari Australian Camp yang kisahnya bisa dibaca di sini. Trekking telah selesai tetapi bukan berarti liburan harus ikut selesai. Apalagi udara Pokhara yang nyaman sangat mendukung kami untuk mengeksplorasi kota di pinggir danau Phewa itu. Tentu saja kami harus melakukan apa yang dilakukan orang saat pertama kali ke Pokhara, berperahu keliling danau dan mampir ke Barahi Tal, pulau kecil di tengah danau dengan kuil yang cantik. Sungguh waktu yang menyenangkan untuk berperahu yang kemudian dilanjut acara cicip kuliner di setiap kios makanan di pinggir danau itu terutama bagi kedua sahabat seperjalanan trekking. Saya terheran-heran perut mereka bisa terus dimasukkan makanan sementara saya yang picky ini sangat sulit menelan makanan yang asing. Bisa jadi mereka ‘balas dendam’ terhadap dal bhat yang disantap setiap hari selama trekking.

Kami jalan perlahan kembali menuju hotel, sambil ke ATM untuk tip porter yang harus diselesaikan. Tiba-tiba Pak Ferry menghampiri saya, serius sekali wajahnya.

“Kita sudah sampai di sini, tanggung banget kalau tidak ke ABC. Tadi saya sempat tanya sebelum kita ke Danau, harganya sedikit mahal tapi sepertinya masih terjangkau. Lagi pula, kapan lagi? Mumpung kita di Pokhara”

Sambil berbicara itu, Pak Ferry menunjuk ke sebuah kios di dekat ATM, yang membuat saya berdesir.

Heli tour ke Annapurna Base Camp!

Selagi Pak Ferry bicara, saya berhitung cepat di kepala, menimbang-nimbang apakah saya mau mengeluarkan tiga jutaan lebih untuk ke Annapurna Base Camp. Bayangan indah pegunungan Himalaya menari-nari di benak ditambah pengalaman naik helikopter dan juga pencapaian keinginan ke Annapurna Base Camp sebagai destinasi liburan. Semuanya mendesak tanpa peduli, seakan-akan ada suara, uang bisa dicari lagi tapi kapan lagi bisa naik helikopter ke gunung salju?

Pak Ferry memandang dan menunggu jawaban. Detik-detik berlalu sementara di kepala masih ada pertempuran take it or leave it. Sepersekian detik, terasa lagi rasa yang pernah menghias hati saat berada di persimpangan Chhomrong, Ke kiri ke ABC dan ke kanan kembali ke Pokhara. Melepas tujuan liburan itu sebenarnya tak pernah mudah. Lalu sekarang, ada kesempatan kedua untuk meraih kembali impian. Take it or leave it!

Saya mendadak menggigil karena merasa diberikan kesempatan kedua namun masih terlalu lama berpikir. Ada jalan yang terbuka, sebuah kesempatan yang bisa hilang begitu saja jika saya terus berpikir tanpa kepastian. Bukankah kesempatan ini merupakan sebuah tanda dari Semesta? Kami memang harus ke ATM, yang ternyata berada di depan dari agen heli-tour itu. Bahkan Pak Ferry sudah bertanya-tanya tentang Heli tour itu.

Menyadari bahwa Semesta sedang mencoba berkomunikasi kepada saya, dengan keyakinan penuh saya mengangguk. Lalu kaki terasa ringan saat melangkah ke dalam kantor yang tidak luas itu, lalu melakukan reservasi untuk penerbangan pagi keesokan harinya. Saya menutup mata ketika kartu kredit itu dipakai. Meskipun terasa seperti mimpi, nyatanya semua yang terjadi dimudahkan dalam prosesnya.

Malam hari di kamar hotel, saya mengingat kembali perjalanan hari itu. Pagi hari saya masih sarapan pagi di Australian Camp, lalu menghabiskan trekking Annapurna Conservation Area dan kembali ke Pokhara, menyusuri Danau Phewa yang diakhiri dengan sebuah keputusan yang luar biasa untuk kembali ke Annapura Base Camp. Ingatan ini kembali ke tahun 2014 ketika meninggalkan Nepal dan menyaksikan dengan jelas Mt. Everest dari jendela pesawat, lebih jelas daripada ketika melakukan Mountain Flight. Semesta selalu mendukung perjalanan saya ke Nepal. Dan esok hari sebagai hari terakhir di Pokhara, saya diberikan kesempatan lagi untuk menjejak Annapurna Base Camp dengan segala keindahan puncak-puncak berselimut salju abadi. Malam itu, saya terlelap bahagia.

Keesokan paginya…

Dengan membawa daypack kami berangkat menuju bandara Pokhara. Perasaan kami luar biasa bahagia, seperti orang yang baru pertama kali naik pesawat terbang dengan segala imajinasinya. Tak banyak orang bisa memiliki kesempatan menaiki helikopter untuk ke Himalaya. Pastinya ini gaya Sultan 🙂

Di bandara yang lengang itu, kami tak sabar menunggu. Kami melihat beberapa helikopter di landasan, entah mana yang akan kami naiki. Lalu ketika saat boarding diumumkan setengah berlari kami menuju helikopter itu meski tak lupa instruksi dan SOP untuk menaiki helikopter. Kami semua yang seluruhnya ada 6 orang, seorang perempuan cantik dari Saudi Arabia, sepasang dari Malaysia dan kami bertiga, kembali menjadi seperti anak kecil yang minta berfoto dengan latar helikopter. Tapi acara foto akhirnya harus berhenti karena pilot yang gantengnya setengah mati itu sudah memberi kode untuk naik. Waktunya terbang!

Mesin menyala dan sebelum mengangkasa, pilot melakukan briefing singkat tentang keselamatan terbang yang mungkin hanya didengarkan dengan satu telinga karena ekstasi yang melimpah dari semua penumpang, melupakan bahwa kendaraan yang dinaiki adalah helikopter dan bukan pesawat terbang. Saya yang duduk di pintu di kiri berjendela luas, dapat menyaksikan seluruh penumpang yang sudah tak sabar. Mungkin hati mereka berkata, ayolah bang ganteng, jangan bicara terus, terbang sajalah… (dan asli, pilotnya gagah sekali!)

Lalu satu, dua, tiga dan huuup… heli mulai naik meninggalkan bumi. Pak Ferry yang duduk di depan saya tak berani melihat ke bawah karena sedang mencoba mengatasi phobia ketinggiannya. Saya sendiri berdegup kencang, tak percaya naik heli di Nepal. Sebuah pengalaman baru.

Dalam hitungan menit bangunan-bangunan di kota Pokhara semakin jelas terlihat dari atas dengan Danau Phewa yang menyangganya. Saya seperti menjadi drone yang mengamati bangunan-bangunan kotak di bawahnya, tanah-tanah lapang, jalan-jalan yang dilalui beberapa kendaraan karena hari masih pagi. Terasa sekali kami semua haus dengan pemandangan yang tidak biasa. Ini seperti naik pesawat saat mau mendarat sehingga pemandangan di bawah terlihat dekat dan jelas.

Heli semakin tinggi mengangkasa dan melewati perbukitan serta mendekati Annapurna Conservation Area. Saya terdiam membayangkan trekking kami di hari-hari sebelumnya. Perjalanan panjang berhari-hari itu bisa dipotong begitu cepat dengan terbang. Deru baling-baling atas yang berputar cepat tak menghilangkan kegembiraan kami menuju lembah Annapurna. We’re back! Perasaan kami begitu gempita membuat mata nyalang ke sana sini, berharap bisa merekam semua keindahan di depan mata, melupakan bahwa keindahan itu juga harus diabadikan dalam foto. Ah, rasanya sayang sekali jika keindahan luar biasa ini harus disaksikan lewat lubang kecil kamera. Tapi, kenangan itu harus ada…

Menit-menit berlalu dengan gegap gempita, tak ada yang bicara dalam ruang kabin yang kecil itu karena semua mata memandang keluar dan telinga hanya menangkap suara-suara shutter kamera yang tak putus.

Perbukitan hijau mulai tertinggal di belakang, dan kami rasanya melayang di lembah sempit dengan pegunungan bersalju menanti di depan sana. Hati ini berdenyut-denyut, pemandangan semakin tak terperi indahnya. Tak banyak orang bisa melihat keindahan dari atas ini, teramat berbeda jika kita melangkah melata di jalur-jalur trekking. Tak mampu menandai secara akurat lokasinya, saya hanya bisa memperkirakan bahwa Chhomrong dan Sinuwa sudah tertinggal di belakang dan mungkin sekarang sudah sekitar Bamboo.

Tak lama pemandangan berubah drastis, lembah di bawah melebar dengan segala keindahannya, gunung-gunung bersalju semakin dekat dan semakin jelas. Benar-benar tak bisa berkata-kata, totally speechless. Pilot mengemudikan heli dengan begitu baiknya, saya hanya tergagap ketika merasakan tebing gunung itu semakin dekat, dan menjadi begitu dekat. Saya menyempatkan diri melihat ke kanan, tebing itu juga dekat. Gila, kami benar-benar terbang di antara tebing bercampur salju yang curam dan amat tinggi.

Mata saya membelalak melihat tebing batu yang terasa begitu dekat, sepertinya baling-baling di atas itu akan menyentuhnya. Ngeri. Jika terhempas angin kencang, tebing karang berbercak salju itu siap menerkam kami semua. Manusia dan heli itu apa? Begitu kecil diantara tebing-tebing raksasa ini, rasanya tak ada artinya sama sekali! Kengerian yang hanya bisa dirasa saat terbang di antara tebing. Kengerian yang tak akan pernah terasa oleh mereka yang berjalan melata di jalur trekking yang terpukau indah akan tebing-tebing yang luar biasa tinggi

Dan dalam hitungan detik, di sisi kanan terlihat Mt. Macchapucchre, gunung yang berpuncak seperti ekor ikan itu, menjulang dengan gagahnya. Meski ngeri terbang di antara tebing, saya sempat membisikkan Namaste pada gunung favorit saya dan Mt. Hiunchuli yang ada di sebelah kiri. Lalu pilot heli yang handal itu meliukkan kami semua ke arah kiri. Pasti di bawah sana ada Macchapucchre Base Camp dan saya sedang menuju ke lembah luas yang dikelilingi oleh begitu banyak pegunungan berpuncak salju yang salah satunya adalah Mt. Annapurna South.

Daaan… penginapan ABC beratap biru itu sudah tampak dan pilot menurunkan kecepatan. Saya melihat keluar, orang-orang berjaket tebal di bawah sana memperhatikan kami. Beberapa petugas terlihat menjaga area mendarat dan menyuruh orang membatasi jarak dari tempat heli mendarat. Kami merasakan heli menjejak bumi dengan sukses. Alhamdulillah. Tapi tidak bisa langsung turun. Kami harus menunggu sebentar onboard.

Finally, landing at Annapurna Base Camp

Lalu lari menjauhi area heli dan berjalan menuju penginapan. Ketika membalikkan badan, saya melihat beberapa orang memasukkan barang-barang lalu tak lama kemudian heli pun mengangkasa lagi meninggalkan kami. Hingga heli berikutnya datang adalah waktu yang bisa dipakai kami untuk bersenang-senang di Annapurna Base Camp!

Annapurna Base Camp 360

Saya berdiri dan berputar 360 derajat, rasanya kaki ini begitu tak bertenaga karena rasa syukur penuh haru yang melimpah ruah. Ya Allah, saya ini begitu teramat kecil, tak berarti apa-apa berada di tengah gunung-gunung tinggi berpuncak salju ini. Berhari-hari saya berjalan di kawasan Annapurna Conservation Area hanya bisa menyaksikan keindahan ini dari kejauhan dan kini saya berada di tengah-tengah puncak-puncak gunung ini. Dalam kesendirian mata saya menghangat. Allah Pemilik Semesta selalu baik kepada saya, terlalu baik menganugerahkan begitu banyak keajaiban yang menjadi nyata untuk saya.

Dalam begitu banyak rasa, saya mengabadikan sebanyak-banyaknya yang saya bisa. Puncak Annapurna South (7219 m) berselimut salju terlihat begitu indah berhias sedikit awan dengan latar belakang langit biru. Pemandangan yang sering saya lihat ketika bicara trekking Annapurna. Lalu Machhapuchhre (6993m) terlihat begitu agung dengan bentuk puncaknya yang khas serta Hiunchuli (6441m) yang memiliki punggung gunung yang panjang.

Semuanya luar biasa terlihat dari tempat ini.

Saya mengeluarkan rok lilit batik dan mengenakannya di atas celana trekking dan meminta bantuan Pak Ferry untuk mengabadikan momen ini. Saya geli, rok lilit batik yang ternyata made in Indonesia ini saya temukan di pegunungan Nepal, dan saya kenakan di Annapurna Base Camp meski di baliknya tetap ada celana dan sepatu trekking. Biarkan saja, yang penting ada Batik di Annapurna Base Camp!

Saya tak banyak mengeksplorasi ABC karena naiknya ketinggian yang kami alami dalam waktu singkat. Setiap langkah memiliki risiko karena kadar udara yang lumayan tipis. Meski papan ABC terlihat dekat di bawah, saya tak mau mengambil risiko karena kembalinya bisa melelahkan dan tidak cukup waktu. Saya pun tak ingin meninggalkan tempat di luar penginapan karena ingin menikmati selama mungkin. Tak terasa waktu hampir 1 jam berlalu sangat cepat. Waktunya kembali ke Pokhara

Dari arah MBC saya melihat orang-orang kembali berkerumun di dekat landasan heli. Dan saya mendengar derunya terlebih dahulu daripada kemampuan melihat kedatangan helikopter karena kecilnya. Terlalu kecil untuk ukuran raksasa batu-batuan itu. Setelah mampu menandainya, saya berdiri memandang hingga heli mendarat sempurna. Beberapa orang kembali memasukkan barang lalu mempersilakan penumpang naik kembali. Ada rasa haru meninggalkan ABC, tetapi selalu ada waktu untuk perpisahan atas sebuah pertemuan. Semoga saya bisa kembali ke ABC.

Setelah lengkap semuanya, perlahan-lahan heli naik mengangkasa. Saya membalas lambaian tangan mereka meski tak kenal. Kurang dari 1 jam saya berada di Annapurna Base Camp dan kini harus kembali melakukan penerbangan dengan pacuan adrenalin.

Heli kembali terbang rendah mengarah Macchapucchre Base Camp, yang membuat hati ini rasanya menghilang. Bentuk lembah yang landai berselimut salju membuat bayangan heli itu menukik saat menuju MBC. Saya menahan nafas ketika bangunan biru MBC yang tertutup bayang tebing tinggi itu terlewati. Saya berucap dalam hati, semoga waktu membawa saya kembali ke sini.

The Sun behind Mt. Machhapuchhre or Fish Tail

Tak sampai satu menit setelah menandai MBC, Pilot handal itu meliuk lagi ke kanan meninggalkan MBC dan di depan mata saya terpampang jelas Mt. Macchapucchre dengan matahari yang masih bersembunyi di baliknya! Saya terpesona dengan gambaran epik di depan mata. Tak mudah mendapatkan foto Macchapucchre dari ketinggian, apalagi dengan matahari tersembunyi di baliknya yang menyebarkan sinar-sinarnya di batas-batas gunung. Rupanya gunung favorit saya memberikan wajah terbaiknya pagi itu dan I am so blessed bisa menyaksikan semua keajaiban ini.

Saya menempelkan tangan pada jendela seakan memberi salam perpisahan kepada gunung-gunung di sekitar ABC. Dan Semesta seakan menjawab lagi. Heli mendadak naik dan melewati sebuah punggung gunung yang penuh salju. Semesta seakan tak ingin saya kehilangan momen pergi ke lingkungan bersalju tanpa melihat situasinya. Alam memperlihatkan kecantikannya yang luar biasa pada sisi-sisinya yang berselimut salju. Saya menggigil, lagi-lagi bersyukur dalam hati atas semua karunia yang luar biasa ini.

Detik-detik berlalu, lingkungan berselimut salju tergantikan lagi dengan kehijauan, menandakan kota Pokhara di pinggir danau Phewa sebentar lagi akan menyambut kedatangan kami. Trekking berhari-hari telah kami lewati, menikmati setiap detiknya dengan penuh keringat, lelah namun gembira. Tak sangka, di hari terakhir kami mendapat karunia begitu besar dari Sang Pemilik Semesta membuat kami sampai di destinasi liburan kami.


Jakarta, Mei 2017.

Saya sudah kembali ke Jakarta dan membuka lagi catatan bulan Oktober tahun 2016 itu, yang membuat saya ‘gila’ untuk melakukan perjalanan Dare to Dream ke Annapurna Base Camp, trekking ke Himalaya meski saya bukanlah seorang pendaki gunung. Tulisan seperti puisi itu terpampang di halaman buku kecil bersampul coklat tepat di depan mata.

Ke Nepal? Lagi? ABC? Annapurna Base Camp?

Benarkah kita akan terbang lagi?

Di antara tebing-tebing tinggi ?

Saya menggigil dengan limpahan air mata, di catatan itu, yang tertulis empat bulan sebelum saya menginjak Nepal untuk kedua kalinya, tidak pernah tertulis bahwa saya akan berjalan, tertatih-tatih ke sana. Tidak tertulis saya akan berhari-hari melangkahkan kaki menuju ke Annapurna Base Camp, yang tertulis hanyalah terbang tinggi di antara tebing-tebing tinggi. Logika saya pergi ke ABC hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki dalam hitungan hari, namun Sang Pemilik Semesta lebih mengetahui kekuatan saya. Dia akan menerbangkan saya.

Sebuah janji yang menjadi nyata.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan dua mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2021 yang no 4 dan bertema Fulfillment agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap dua minggu.

D8 – Trekking Nepal – Berakhir Nyaman


Australian Camp.

Sore belum berakhir ketika kami check-in di hotel Gurans yang ada di kawasan yang lebih sering disebut dengan Australian Camp, yang meskipun namanya camp, tempat ini menyediakan banyak penginapan yang sangat nyaman daripada area untuk camping. Mungkin karena dekat dengan Pokhara, dan sering dijadikan destinasi untuk pengalaman one day trekking.

Hotel Gurans, Australian Camp

Sayang gumpalan awan menghias langit sehingga tak ada sunset indah hari itu, tetapi saya tak menyesal karena bisa menikmati istirahat sore yang teramat menyenangkan, bertukar pesan dengan keluarga tercinta, dengan teman-teman yang lain, melihat-lihat foto dan yang paling penting meluruskan badan yang telah semingguan dihajar trekking. Kenyamanan rebahan membuat tak ingin meninggalkan pembaringan hanya untuk makan malam. Memang sesuai kata orang bijak, berada di comfort zone itu memang berbahaya karena tak ada kemajuan, termasuk berleha-leha dan tak ingin beranjak pergi…

Tapi makan malam tetap harus berlangsung, karena kasihan juga pemandu kami yang sudah bersusah payah mengupayakan kenyamana selama liburan. Lagi pula kami semua telah membayar untuk makan dan tidur selama trekking. Sedikit malas, saya memilih legging hitam terakhir berbalut jacket untuk makan malam di malam terakhir trekking, karena esok kami sudah kembali ke peradaban kota. Obrolan tak berlangsung lama, karena mendadak Pak Ferry minta diri untuk beristirahat di kamarnya setelah makan malam. Tak biasanya beliau begitu, seketika saya menjadi kuatir. Ia merapatkan jaketnya sampai ke leher, tampak kedinginan padahal udara relatif tak dingin.

“Are you alright, Pak Ferry?”, tanya saya prihatin

Ia tak mau menampakkan meskipun saya merasakan keganjilan.

“Saya mau langsung istirahat saja ya mungkin hanya lelah”

Tak bisa menolak, saya menyaksikannya meninggalkan ruang makan untuk kembali ke kamar dengan sejumlah tanya di benak. Semoga ia baik-baik saja, celetuk saya kepada pemandu kami yang ikut meramaikan suasana makan malam itu meskipun hanya sedikit tamu hari itu. 

Apakah karena ia melakukan sejengkal trail-run dalam perjalanan tadi sehingga ia kelelahan sedemikian rupa? Tapi malam itu tak ada jawabannya dan saya membiarkan diri untuk menggantung pertanyaan itu di kepala.

Situasi setelah makan malam menjadi sedikit hambar, saya sendiri tak ingin berlama-lama di ruang makan itu. Masih teringat nyaman dan enaknya rebahan sambil bersantai sejak sore tadi. Akibatnya, saat malam belum terlalu larut saya sudah minta diri untuk berisitrahat. Mungkin baik jika saya beristirahat lebih awal karena siapa tahu sunrise esok pagi akan indah…


Esok hari saya bangun lebih cepat. Bukan apa-apa, saya senantiasa berharap mendapatkan sunrise yang indah. Saya melipat selimut hotel yang sama saja dengan hotel-hotel sebelumnya, cukup tebal untuk menahan udara dingin yang masuk melalui lubang-lubang ventilasi. Setelah urusan rutin pagi selesai, sambil mengenakan jaket, saya keluar kamar.

Pak Ferry rupanya bangun lebih pagi dan telah berdiri di pinggir halaman, menikmati pemandangan cantik. Saya melangkah menujunya, menyapa dan menanyakan kondisinya mengingat semalam tak terlihat cukup baik.

“Selamat Pagi Pak Ferry, Sudah lebih baik sekarang, Pak?”

Dia tersenyum lebar mengiyakan lalu menjelaskan kondisinya semalam. Karena ia sangat mengenal tubuhnya, semalam itu “berdering” alarm tubuh yang mengingatkan dirinya untuk beristirahat dan tentu saja ia mengikuti alarm tubuh itu. Terbukti pagi ini dia merasa lebih fit. Mendengar penjelasannya, saya berpikir tentang orang-orang yang belum mendengarkan alarm tubuh yang memang telah diset teramat baik oleh Sang Maha Pencipta. Ada banyak orang, -mungkin juga termasuk saya-, yang mengabaikan alarm ini, menganggap badannya kuat padahal belum tentu sesehat yang diduga. Alarm tubuh ini mengingatkan untuk beristirahat, untuk keseimbangan tubuh dan mentalnya. Alarm tubuh yang sama, juga mampu mengingatkan pemilik tubuh untuk bergerak dinamis dan bukan hanya berdiam diri atau senantiasa rebahan. Mendadak saya merasa malu, karena lebih sering mengikuti keinginan tubuh untuk rebahan daripada bergerak meskipun alarm sudah berdenting.

Meskipun demikian, saya merasa lega dengan membaiknya Pak Ferry. Pagi itu bersisian kami terpukau dengan pemandangan pagi itu. Udara di Australian Camp masih berkabut tetapi Mt. Annapurna South (7219m) tampil dengan keindahannya dan seakan menyambung dengan punggung bukit yang rata menuju Mt. Hiunchuli (6440m). Puncak-puncaknya yang bersalju tampil lebih terang diterpa sinar matahari yang masih bersembunyi di bawah horison. Di sebelah kanannya, terpisah oleh lembah yang dalam, gunung favorit saya, Mt. Macchapucchre (6993m) si Ekor Ikan menjulang, meski puncaknya yang seperti ekor ikan itu belum terkena sinar matahari pagi. Dan sebagai pelengkap lukisan pagi itu, pohon-pohon hijau menjadi hiasan latar depan. Saya terpana, meskipun telah berhari-hari menikmati pemandangan indah, tetap saja saya terpukau dan langsung mengucap syukur kepada Pemilik Semesta telah diberi kesempatan menyaksikan pemandangan alam yang begitu indah.

View at early morning

Berada di Australian Camp dengan pemandangan indah ini membuat saya teringat kisah asal muasal namanya menjadi Australian Camp. Aslinya desa ini adalah Thulo Kharka yang artinya padang rumput yang luas karena memang dulu tempat ini menjadi tempat penggembalaan hewan-hewan domestik seperti kerbau dari desa Dhampus dan desa-desa sekitarnya. Uniknya, tempat yang memiliki padang rumput yang luas ini kurang dikenal oleh trekker hingga awal tahun 90-an, sementara berjarak hanya sekitar 15 menit berjalan dari sini, yaitu desa Phedi, Pothana, Landruk menjadi desa-desa populer yang masuk dalam jalur trekking menuju Chhomrong jika akan melakukan Annapurna Sanctuary Trek atau Annapurna Base Camp Trekking

Konon di akhir tahun 80-an, ada pengunjung dari Austria datang ke tempat yang memberikan kesan indah begitu dalam ini sehingga mereka mendirikan kemah selama beberapa hari. Bagi mereka tempat ini begitu damai dan tenang menghamparkan keindahan pemandangan gunung-gunung Himalaya. Kesan indah itu mulai menjadi pembicaraan di kalangan trekkers dan mereka menyebutkan tempat ini sebagai Austrian Camp. Sayangnya, Austrian Camp cukup sulit dilafalkan oleh penduduk Nepal dan bagi mereka lebih mudah menyebutkan Australian Camp. Sejak itu, padang rumput yang luas yang dikenal penduduk desa dengan nama Thulo Kharka memiliki nama baru dengan nama sebutan Australian Camp.

Sunrise at Australian Camp, Nepal

Keindahan yang disaksikan pengunjung awal Thulo Kharka bukan sembarang isapan jempol karena memang pemandangannya teramat indah. Pesona sinar matahari menerpa puncak-puncak gunung yang ditutupi salju abadi bahkan sebelum matahari muncul di horison membuktikan semua keindahan Alam Semesta. Lukisan pagi itu yang diwarnai warna kuning keemasan menggantikan warna biru gelap di belahan langit Timur. Lalu perlahan tapi pasti bulatan besar Sang Surya mulai memperlihatkan dirinya di Ufuk Timur. Di tempat saya berdiri, tak ada yang bicara kecuali suara-suara shutter camera yang tak putus. Pak Ferry terdiam mengabadikan. Kami terpesona dengan apa yang terhampar di depan mata.

Rasanya tak ingin melepas pagi yang mempesona itu namun panggilan pemandu kami dari arah belakang membuat kami menoleh. Sepertinya sarapan di tanah lapang itu telah siap. Wow… It’s a wonderful breakfast with a view! Sinar matahari yang lembut menambah kenikmatan sarapan di tempat terbuka itu. Pak Ferry sudah kembali seperti semula, mencoba melhap sarapan gaya lokal di tempat itu, sementara saya tetap konservatif dengan roti dan teman-temannya.

Breakfast with a view
Australian Camp

Selepas sarapan, saya ingin menikmati Australian Camp dengan lebih santai. Saya melangkah menuju tempat ayunan yang saat itu sudah tak digunakan. Rasanya ingin kembali ke masa anak-anak, saat bermain ayunan untuk menaikkan mood atau hanya sekedar ingin menikmati kenyamanan. Mengayun ke depan, seakan saya terbang ke pelukan gunung-gunung berpuncak salju itu lalu seakan bermain, ayunan itu kembali tertolak ke belakang, membiarkan pelukan gunung-gunung melepas saya kembali. Demikian berulang berkali-kali, seakan bermain dengan gunung-gunung Himalaya. Sejatinya, saya menikmati setiap ayunan yang membahagiakan di Australian Camp ini. Nyaman dan tenteram, tak ada beban.

Berat rasanya meninggalkan suasana Australian Camp yang tenteram dengan pemandangan gunung berpuncak salju ini. Suatu tempat yang tak mudah dicapai, -hanya dengan berjam dan bermenit-menit jalan kaki-, tetapi mampu menambahkan energi hidup. Berada di tempat yang tidak terlalu tinggi ini, saya memanfaatkan benar arti kenyamanan di Australian Camp. Inilah liburan yang sesungguhnya, sebanyak-banyaknya menyerap keindahan sebagai kenangan tak terlupakan, merekam semua pengalaman yang menenteramkan sebagai bekal nanti saat kembali ke dunia perkantoran.

Lalu sebagaimana pepatah lama berkata, waktu adalah hakim yang konsisten, setiap ada perjumpaan, sang waktu pasti akan mengakhirkan. Demikian juga kami yang tak ingin berpisah dengan pemandangan indah di depan mata, pemandangan gunung-gunung salju yang memberi kesan teramat dalam. Waktunya telah datang, kami harus melangkah lagi untuk kembali ke Pokhara. Selamat tinggal jalan setapak yang telah memberi kenangan indah…

Dan saat berjalan sendiri, saya seperti terus diingatkan alasan saya melakukan trekking ke Nepal. Saya teringat tentang Annapurna Base Camp. Rasa itu begitu kuat membuat saya menggigil meski udara tak dingin. Saya memang kembali ke Pokhara, tetapi perjalanan ini belum selesai…

Way Back to Pokhara

Catatan. Tulisan ini dibuat untuk melanjutkan kisah trekking di Nepal sekaligus menjawab tantangan tahun 2021 bulan Februari no. 2 bertema Comfortable

WPC – A Face in the Crowd at ABC


Annapurna Base Camp
The Mountain or The Heli? Nature or Machine? Think of a Face in the Crowd at ABC

It was around 07.00 AM at Annapurna Base Camp, end of April last year. Being standing in the crowd at the base camp and looking around the massif Annapurna mountains in North-West part of Nepal, I felt so tiny among the huge breathtaking landscape and snow covered Himalayan mountains which are part of the highest mountains in the world. Every corner of the 360 panorama view was mesmerizing my eyes and soul. That was the most incredible place I have ever visited in my life.

A moment passed by. A guy appointed something on the rocks and said something loudly. Suddenly my eyes caught a small red object flying among the huge rocks and deep valleys of the mountains . It came closer and I was so fascinated to know that was a helicopter. It should be big enough but I could not see clearly among the rocks of high gorges. A few minutes later, as an unusual object among the surrounding nature, and its resulting wind vortex during its landing, the helicopter took the attentions of people who most were trekkers.

From the place where I stood, I captured the situation right in front of me, the people, the helicopter and the mountains. I could not see their facial expressions, I just saw their back.

Was it about the helicopter? Did someone in the base camp have problems of Altitude Mountains Sickness? Or was it about the passengers who can afford the flying cost of the helicopter instead of trekking by themselves? Or was it about the noise, -or whatever problems-, caused by the helicopter against the surrounding nature environment? Or was it still about the beautiful mountains with blue sky and snow capped peaks and the additional ‘small’ red object? 

But by capturing the anonymity of the most expressive obvious parts of us, by looking at this picture I could always play a game to ask myself the thoughts in people’s mind that time.

*

And here is the link to see a lot of beautiful pictures about A Face in the Crowd

 

WPC – My Favorites, My Memorable Moments


View from Annapurna Base Camp

A lot of memorable moments were happened in the year of 2017, but my favorite was the time I stood on Annapurna Base Camp, Nepal with the massif majestic snow capped mountains around me. I felt so small, so blessed with the experience. Feel the magic around me, so I just opened my heart, my soul to it. It’s totally a dream-come-true travel in my life although previously I thought that walking in the wilderness of Himalaya was beyond me. It seemed a wake-up call of me to be more outdoor…

“Life is meant for spectacular adventures, let your feet wander, your eyes marvel and your soul ignite”

Nepal – Annapurna Base Camp, A Dare to Dream Trip


Satu tengah malam di bulan Oktober 2016.

Saya tersentak dalam doa. Benarkah ini? Saya tak mungkin tak percaya, tak mungkin tak merasa. Karena rasa itu begitu intens. Ada bahagia mendekap rasa, sangat kuat. Rasa yang sama, persis ketika melakukan perjalanan luar biasa di Nepal 2014 lalu.

Ke Nepal?

Lagi?

ABC? Annapurna Base Camp?

Rasanya tak percaya, tetapi jelas ada senyum disana, sehingga tak perlu lagi ada tanya.

Saya hanya mampu menutup mata, bahagia tapi bercampur banyak rasa, tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, masih tak percaya. Saat itu saya setuju walau berhias sejumput ragu untuk mengukir impian menjejak disana. Di ABC, di kaki Annapurna, salah satu dari gunung-gunung tinggi Himalaya.

Annapurna Base Camp

*

Saya bukanlah seorang pendaki gunung, apalagi sampai empat ribuan meter. Itu lebih tinggi dari Gunung Semeru di Jawa, atau Gunung Rinjani di Lombok bahkan Gunung Kerinci di Sumatera yang mencapai 3805 meter. Terlebih lagi saya belum pernah sekalipun mendaki gunung, dimanapun, di Indonesia apalagi di luar negeri. Dan mau mencapai Annapurna Base Camp yang berada di 4130 meter di atas laut?

Bila dipikir-pikir, that’s insane…

Entahlah, saya hanya bisa terdiam dulu walau tetap berpegang pada rasa percaya. Jawabannya pasti ada.

Di sebuah siang, televisi kabel di hadapan menampilkan acara kuliner. Tiba-tiba iklan menghapus tayangan tadi. Di depan mata terpampang jelas pemandangan yang saya hafal luar kepala. Saya kenal tempat itu. Lokasi yang hancur lebur saat gempa enam bulan setelah saya meninggalkan tempat itu. Kathmandu di Nepal. Terlihat bangunan Istana di Kathmandu Durbar Square, lalu Patan Durbar Square lalu puncak-puncak bersalju Himalaya. Darah saya berdesir kencang. Saya yang jarang menonton televisi di ruang keluarga ini, tiba-tiba ada iklan yang menggambarkan Kathmandu dan sepenggal Himalaya tepat di depan mata saya siang itu. Bukan tempat lain, melainkan Nepal! (Satu!)

Di siang yang lain, tiba-tiba FB Messenger berdenting, saya membaca. Seorang kawan Nepali bertanya kabar karena sudah dua tahun saya meninggalkan Nepal. Lagi-lagi darah saya berdesir kencang, kawan tadi hanya sekedar bertanya kapan kembali ke Nepal padahal dia sudah lama sekali tak menghubungi saya. Lalu mengapa siang itu ia tiba-tiba menanyakan kapan kembali ke Nepal?  (Dua!)

Saya sudah bertahun-tahun tidak menonton film di bioskop, bahkan ketika heboh film James Bond Skyfall, saat itu pun saya sudah tak menonton bioskop. Dan tiba-tiba di suatu siang di bulan November, sebuah notifikasi kanal medsos muncul di ponsel dengan tulisan ‘Dr Strange’. Ketakmengertian saya akan tulisan itu seketika lenyap dan tergantikan dengan darah yang lagi-lagi berdesir kencang saat membaca hasil google. Dr. Strange adalah sebuah film yang lokasi pembuatannya di Kathmandu, Nepal! Dan entah kenapa, semuanya menjadi mudah untuk mengembalikan saya ke bioskop lagi. Dan benarlah, dengan mata mengabur sambil menggigit bibir, saya mengenali banyak lokasi adegan di dalam film itu. Lagi-lagi terkait Nepal! (Tiga!)

Kemudian beberapa malam setelah kejadian nonton film itu, di kamar saya duduk santai menatap TV lalu sembarang menekan tombol yang membawa saya ke saluran HBO. Dalam sekejap kembali darah saya berdesir sangat kencang mengetahui bahwa yang terpampang di depan mata saya adalah film Everest. Lagi-lagi sebuah kisah di Nepal. Apalagi ini cerita Himalaya di Nepal! (Empat!)

*

Jelang dini hari saya meluangkan lebih lama untuk berdoa, berbincang dengan Pemilik Semesta. Melihat semua peristiwa yang terjadi belakangan ini, rasanya menyesakkan memenuhi dada. Berbagai peristiwa tampaknya “kebetulan”, – sesuatu yang tak pernah saya percayai-, terus menerus silih berganti terjadi. Dan semuanya memiliki relasi pada hal yang sama, Nepal. Inikah jawab atas sejumput ragu yang masih menyelinap di tengah rasa? Saya tak bisa menolak saat menalikan kembali rasa percaya, satu dua air mata menetes saat berserah kepadaNya. Jika memang saya harus pergi ke sana, maka tolonglah saya, mudahkanlah jalannya.

Lalu, sekembalinya dari sebuah trip menuju Jakarta, ternyata saya duduk dalam satu baris dengan co-founder Air Asia, Mr. Tony Fernandes. Kesempatan langka tersebut saya gunakan langsung untuk meminta darinya sebuah note dan tandatangannya serta juga berselfie dengannya. Kesempatan ekstra jarang itu saja sudah sangat membahagiakan, apalagi membaca note dari beliau yang sungguh membuat darah saya berdesir sangat dahsyat. Beliau menuliskan untuk saya… Dare to dream! (Lima!)

Ini dia! Bagi saya, jawaban pengukuhan dariNya bisa datang dari arah mana saja. Bisa dari orang-orang sekitar atau dari alam sekalipun. Tetapi jika datang melalui orang yang sangat menginspirasi, selevel Mr. Tony Fernandes, tentu hal itu merupakan bonus berkah buat saya. Alhamdulillah.

*

Dua setengah tahun lalu saya menjejak ke Nepal dan mengalami begitu banyak keberuntungan dan kebahagiaan selama menjelajah tempat-tempat wisata, kuil-kuil peninggalan yang menjadi World Heritage Sites dan melihat budaya lokal yang luar biasa. Bisa berlama-lama bertatap mata, bertukar bahasa tanpa aksara dengan Kumari, The Living Goddess di jendela Istananya, bisa terlibat dalam keramaian Hariboddhi Ekadashi di kuil Changu Narayan yang sakral, bisa melihat setitik puncak Everest saat melakukan penerbangan mountain flight dengan dua jendela besar, bisa menjejak di Lumbini tempat kelahiran Sang Buddha Gautama dan masih banyak cerita lain penuh rasa. Selama perjalanan di Nepal itu, tak hanya sekali saya terpesona melihat orang-orang, pria dan wanita, memanggul ransel untuk melakukan trekking di Nepal. Bagi saya saat itu sangat jelas, trekking merupakan kegiatan yang berada diluar kemampuan saya. Beyond my capabilities.

Jika saja tak ada ‘undangan’ untuk mencoba berani bermimpi sampai ke batas limit ini…

Karena ketika datang sebuah undangan untuk kembali berkomunikasi mesra dan intens denganNya selama berhari-hari perjalanan, sambil menyaksikan keajaiban-keajaiban ciptaanNya yang sangat indah, untuk merasakan Cinta dan Kasih SayangNya di setiap detik waktu yang sangat berharga, di setiap langkah kaki yang diayunkan, dan ke setiap arah pandang yang memperlihatkan semua kebesaranNya, adakah orang yang tak ingin melakukannya walau harus berpeluh penat?

Guesthouse with Mountains View

Saya tahu bahwa trip ini akan memaksa kekuatan diri, mental dan fisik. Tetapi sebagaimana yang sering kali terjadi dalam perjalanan, saya hanya perlu percaya lalu melakukannya sebaik mungkin, sisanya saya serahkan kembali kepada Pemilik Semesta. Saya akan menikmati setiap langkah dalam keindahanNya, karena perjalanan ini masuk kategori Once in A Lifetime, sebuah perjalanan yang dilakukan minimal sekali dalam hidup ini.

Telah banyak orang yang menjejak disana, apapun alasannya, tetapi bagi saya pribadi, perjalanan ke Annapurna Base Camp ini bukanlah sebuah perjalanan hura-hura, juga bukan sebuah tempat tujuan untuk diberi tanda check atau bahkan sebuah penaklukan, sungguh jauh kata itu darinya. Karena sejatinya perjalanan ini akan menjadi perjalanan intim milik pribadi yang kisahnya senantiasa berbeda di setiap jiwa. Sebuah cerita dari hati.

*

Akhirnya minggu terakhir bulan lalu saya memulai langkah ke negeri di atas awan itu mewujudkan my ‘Dare to Dream’ trip. Terima kasih banyak kepada teman-teman blogger dan grup facebook yang sudah memberi semangat, inspirasi dan berkenan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, juga kepada mas Bartian Rachmat Bartzap –yang tahun lalu solo trekking ke ABC dan sekarang ini, baru saja selesai melakukan solo-trekking ke Everest Base Camp-; kepada Bang Tri Asmeli Sembiring Wanderlust Never Fails yang menceritakan kisah luarbiasanya setiap hari menuju ABC tahun lalu, juga mba Santi Santi’s Corner yang belum pernah mendaki gunung tapi sukses mencapai Poonhill tahun lalu dan Maret lalu juga ke ABC, juga mba Maia Syafni yang inspiratif sekali melakukan trekking sendiri ke ABC yang sekaligus merupakan perjalanan pertamanya kali keluar negeri. Juga kepada my dear friend Igna Celina yang tak berhenti memberi semangat dan tentu saja teman-teman lainnya yang telah berkenan menuliskan komentar dalam tulisan-tulisan saya selama ini, yang tentu saja kali ini hanya sebagai pengantar cerita selama trekking di Nepal…