Sejumput Malam di Makam Nabi Syu’aib


Sekembalinya dari Kawasan Wisata Laut Mati, -ceritanya bisa dibaca dalam tulisan Senja di Laut Mati, Terendah Di Muka Bumi sebelum ini-, tanpa perlu dikomando lagi seisi bus duduk dalam diam. Tak ada celoteh atau suara pemandu karena temaramnya lampu di dalam bus membuat kantuk menyerang. Apalagi jalan yang mulus tanpa kemacetan membuat perjalanan menjadi nyaman. Namun bisa jadi karena kami semua sudah lelah menjalani hari yang panjang sejak meninggalkan Jeddah pagi tadi lalu terbang ke Jordan, yang dilanjut dengan perjalanan ke Laut Mati dan kini yang dirindukan mungkin hanya pembaringan.

Demikian pula keadaan saya, dengan mata yang setengah mengantuk, kadang terbuka dan kadang terlelap, saya berusaha sebisanya mengikuti perjalanan. Rasanya sayang sekali jika terlelap di negeri yang baru pertama kali saya kunjungi.

Ketika melihat banyak lampu di luar jendela bus, saya berpikir sudah sampai di Amman. Ternyata dugaan saya salah. Saat itu kami masih sekitar tiga puluh menit lagi ke kota Amman. Saya hanya ingat bus berbelok lalu bergerak lagi untuk beberapa saat lalu akhirnya berhenti di sebuah tanjakan yang disusul dengan dinyalakannya sebagian lampu dalam bus.  Lalu suara pemandu terdengar memecah keheningan. Sayangnya saya tak mendengar jelas informasi yang disampaikan. Saya hanya melihat sebuah mesjid yang terlihat indah jika difoto dengan lampu kehijauan di menaranya. Rasanya tak banyak rumah ataupun toko di sekitarnya karena terlihat kegelapan menyelimuti. Masjid itupun terang karena lampu di halamannya. Seperti berada di tempat terpencil di perbukitan yang jauh dari pemukiman.

Prophet Syu’aib Mosque and Shrine, Jordan at night

Di dalam bus, -mungkin karena lelah-, tidak ada perempuan lain yang turun dari bus kecuali saya. Yang laki-laki pun bisa dihitung tak melebihi dari jumlah jari dalam satu tangan. Saya mengambil beberapa foto di halaman Masjid lalu mendekat ke sebuah pintu. Di situ baru saya memahami, betapa beruntungnya saya mengikuti hati untuk turun dari bus karena di dekat pintu tertulis dengan sangat jelas: Makam dan Masjid Nabi Syu’aib Alaihissalam. Bukankah kita sangat beruntung bisa menjejakkan kaki di tempat orang-orang sholeh berbaring di peristirahatan terakhirnya?

Entah kenapa, saya agak takut untuk mendekat. Rasanya aura kesholehannya tetap menguar dan meliputi seluruh ruangan itu. Saya menjadi begitu insecure berada di dekat makam orang yang selama hidupnya begitu sholeh dan menjadi utusan Allah kepada orang-orang Madyan dan Ashabul Aikah. Tanpa sadar saya mundur selangkah sambil menundukkan kepala, menyadari banyaknya khilaf yang dibuat hingga kini. Rasanya tak pantas untuk mendekat, seakan bisa menjadi noda atas kesucian auranya.

Terpampang jelas di depan mata, makam Nabi Syu’aib Alaihissalam yang terletak di tengah ruangan berlangit-langit tinggi dan lantainya berkarpet tebal, diselimuti dengan kain beludru berwarna hijau berhiaskan benang emas sebagai penutup yang indah. Lalu dari tempat saya berdiri, yang berjarak hanya beberapa langkah dari makam Nabi Syuáib Alaihissalam, saya mengangkat tangan dan melangitkan doa.

Makam Nabi Syu’aib, Jordan

Sebelum meninggalkan ruangan, saya membiarkan ingatan menari-nari, mengingat kisah hidup Nabi Syu’aib Alaihissalam. Sebagai orang yang diutus Allah Subhanahu wa ta’ala kepada kaum Madyan dan Ashabul Aikah, tantangan yang dihadapi Nabi Syu’aib Alaihissalam sangatlah besar. Kaum Madyan merupakan kaum yang menguasai jalur perdagangan di wilayah sekitar Laut Mati sedangkan Ashabul Aikah merupakan sekelompok orang yang percaya kepada pepohonan bahkan mereka menyembahnya. Kaum Madyan terkenal sebagai pedagang yang ulet dan banyak diantara mereka yang sukses dan berlimpah kekayaan. Sayangnya, dalam menjalankan perdagangan, mereka seringkali tak jujur dan licik. Ketidakjujurannya terlihat saat bertransaksi jual beli, mereka suka mengurangi ukuran dan timbangan. Gandum yang seharusnya ditimbang 1 kilogram dikurangi dan dijual dengan harga untuk 1 kilogram, sehingga mereka mendapatkan keuntungan dari cara tak jujur tersebut. Selain itu, seperti juga Ashabul Aikah, Kaum Madyan lebih percaya pada hal-hal selainNya yang membuat mereka hidup berlimpah harta dan bisa menguasai jalur perdagangan.

Nabi Syu’aib mengetahui hal itu dan memperingatkan mereka akan hukuman atas perbuatan kaum Madyan dan Ashabul Aikah yang tidak benar itu. Namun, bukannya berterima kasih, mau memahami dan bertobat, mereka justru makin menentangnya. Bahkan mereka mengusir Nabi Syu’aib Alaihissalam dan semua pengikutnya untuk keluar dari kota itu. Ah, sepertinya saat itu mereka berpandangan sebagai mayoritas di kota itu dan jumlahnya lebih banyak maka apa yang mereka lakukan adalah benar. Lebih benar daripada Nabi Syu’aib Alaihissalam dan pengikutnya yang menjadi kelompok minoritas karena jumlahnya sedikit.

Bagaimanapun Kebenaran hanyalah milik Yang Maha Kuasa,

Lalu, terjadilah bencana di tempat kaum Madyan bermukim. Gempa hebat terjadi di tempat itu dan meluluhlantakkan pemukiman mereka hingga tak bersisa satupun. Kaum Madyan meregang nyawa terjebak di rumah mereka sendiri.

Sedangkan bencana yang menimpa Ashabul Aikah adalah serangan udara yang sangat panas dan membakar kulit. Tentunya sangat jauh lebih panas daripada gelombang panas yang sering terjadi belakangan ini di negeri-negeri jauh. Tidak ada lagi bangunan dan pohon yang dapat dijadikan tempat berteduh dari udara yang mematikan itu. Kemudian di langit muncul segerombolan awan hitam dan berat, awan yang membawa petir dengan suaranya yang sangat keras menggelegar. Mereka tak dapat lagi menghindarkan diri dari bencana yang mengerikan itu.

Tentu saja kisah Nabi Syu’aib Alaihissalam yang diutus kepada mereka yang membuat kerusakan di muka bumi ini, dapat dibaca dalam Al Qurán. Tetapi mengingat kisah Nabi Syu’aib Alaihissalam di depan makamnya di Jordan ini, tentu jauh berbeda rasanya. Gambar-gambar imajinasi mengenai kisah itu bergerak sendiri seperti menonton sebuah film di benak, menjadikan sebuah peringatan yang menyesakkan. Sebuah pembelajaran teramat penting yang dapat diambil dari kaum terdahulu.

Keheningan berada di depan Makam Nabi Syu’aib Alaihissalam pecah saat datang pengunjung lain. Saya meninggalkan ruangan dan mengambil foto di halaman. Sayang sekali, Masjid Syu’aib yang ada di kompleks itu pintunya terkunci, padahal konon sangat indah. Pintu Masjid berada tak jauh dari bangunan kecil berkubah emas yang ada di tengah-tengah pelataran halaman dalam.

A nice place for taking the ablution, Mosque of Prophet Syuaib, Jordan

Tak banyak yang bisa diabadikan kecuali bangunan kecil berkubah emas tadi yang terbuka pada sebagian dindingnya yang tampaknya merupakan tempat mengambil air wudhu, terlihat dengan keran air dan tempat duduk batu yang melingkarinya.

Setelah puas mengambil foto yang tak seberapa, saya berbalik ke arah bus berhenti. Dalam beberapa saat saya akan meninggalkan salah satu tempat yang diklaim sebagai Makam Nabi Syu’aib Alaihissalam ini. Selain di Jordan di tempat saya berdiri ini, ada juga yang mengatakan bahwa makam Nabi Syu’aib Alaihissalam ada di Galilea Hilir, Israel. Selain itu ada yang mengatakan makamnya ada di Guriyeh, Iran. Bahkan tak sedikit yang berpendapat makam Nabi Syu’aib Alaihissalam ada di sebelah Barat Ka’bah, Mekkah. Sementara yang lain berpandangan makamnya ada di Jabal Nabi Syu’aib di Yaman. Mana yang benar? Wallahu a’lam bishawab.

Saya melangkah kembali ke dalam bus, lalu pintu-pintu bus ditutup. Roda bus mulai bergerak pelan meninggalkan kegelapan perbukitan di belakang, lampu-lampu dalam bus kembali temaram. Meski badan terasa lelah, saya merasa sangat beruntung dapat menjejak sebentar di tempat yang baru saja ditinggalkan dengan hikmah yang terserak begitu banyak. Dan kini, sepertinya saya menyerah pada dunia, hanya pembaringan yang saya rindukan…

From the courtyard of Prophet Syuaib Mosque

Menjejak Jordan, Mengintip Cave of Seven Sleepers


Lamat-lamat dalam hati saya mendaraskan doa dalam penerbangan menuju Amman yang baru saja meninggalkan bandara internasional King Abdul Azis, Jeddah. Tidak lain kecuali harapan bisa kembali lagi ke Tanah Suci. Sebuah rasa yang sejak dulu saya selalu skeptis kini benar-benar menguasai hati. Dulu, saya tak pernah mengerti mengapa orang berkali-kali mengerjakan umroh dan berhaji, bukankah ibadah itu cukup sekali saja? Kini, setelah mengalami sendiri, saya paham bahwa rasa ingin berada di Tanah Suci itu yang begitu intim, begitu personal, begitu menyenangkan, semua itu seperti minum di saat dahaga dengan damai memenuhi jiwa. 

Kesadaran berada di pesawat yang sedang mengangkasa, melahirkam setitik rasa tak rela meninggalkan bumi tempat Tanah Suci berada. Saya menarik nafas panjang, tanpa membuka mata pun saya memahami diri ini dihadapkan langsung oleh hukum kefanaan. Tidak pernah ada yang abadi, sebuah awal senantiasa memiliki akhir, sebuah perjumpaan senantiasa berujung pada perpisahan. Dan ini saatnya…

Bersamaan dengan rasa yang keluar, jauh di sudut jiwa, serangkaian kata bijak dari Jalaluddin Rumi terasa mendenting-denting di benak seakan mengingatkan. Bukankah perpisahan hanya untuk orang-orang yang mencintai dengan matanya? Bukankah untuk orang yang mencintai dengan hati dan jiwanya, tidak akan pernah ada kata perpisahan? Sekali lagi saya menarik nafas panjang, melepas dengan ikhlas, menyambut rasa yang memberi semangat baru.

Setelah dua jam penerbangan Saudi Arabian Airlines dengan pesawat A320 itu akhirnya bandara megah Internasional Queen Alia, kota Amman, Jordan menyambut kami semua. Sebagai bandara terbesar di Jordan, kemegahannya langsung terasa apalagi tak banyak orang berlalu lalang. Entahlah, bisa jadi kelengangannya lebih terasa karena saya baru datang dari Jeddah yang kerap didatangi manusia dari berbagai negara. 

Belum cukup lama mengagumi bandara megah kota Amman, kami sudah diarahkan segera keluar bangunan indah ini. Yah, seperti umumnya perjalanan yang diatur oleh sebuah agen, tidak ada istilah santai selepas imigrasi Jordan. Bersamaan dengan koper-koper yang dimasukkan ke dalam bagasi, kami pun segera menaiki bus untuk kemudian bergerak menuju tempat-tempat wisata di Jordan. 

Ashabul Kahfi (Cave of Seven Sleepers)

Dari balik jendela bus, saya mengamati pemandangan gurun yang kering kecoklatan menghias perjalanan, yang sesekali disela oleh suara pemandu wisata. Kami memang menuju Gua Ashabul Kahfi yang terletak di Abu Alanda, dekat kawasan Raqim, sekitar 30 menit berkendara dari bandara. Konon, di sana merupakan tempat yang melatari kisah yang tertulis dalam kitab suci Al Quran. Kisah tentang Ashabul Kahfi atau dikenal juga The Seven Sleepers

Kawasan Ashabul Kahfi (Cave of Seven Sleepers)

Meski masih diperdebatkan keakuratannya, gua Ashabul Kahfi atau tertulis di gerbang dengan nama Cave of Seven Sleepers yang berlokasi di Jordan ini tetap berhasil membuat saya kagum. Gerbangnya sendiri melengkung cantik, menandakan adanya campur tangan dari dunia modern. Saya tersenyum dalam hati, Jordan tidak sendirian mengklaim memiliki gua Ashabul Kahfi karena Turki pun melakukan hal yang sama, bahkan lebih dari satu tempat (Ephesus, Afsin dan Tarsus). Bagaimanapun, saya sebagai pencinta segala sesuatu yang berbau sejarah kuno, bisa merasakan Ashabul Kahfi di Jordan ini begitu menguarkan rasa ancient. Rasanya hidung saya otomatis bergerak-gerak membaui batu-batunya, temboknya, suasananya, lalu membiarkan imajinasi menari lincah membayangkan tempat yang seakan terperangkap dalam waktu itu. 

Otomatis saya teringat perjalanan ke Lumbini, Nepal beberapa tahun lalu (baca tulisan saya tentang Nepal: Khata – Syal Putih dari Lumbini). Lumbini yang dipercaya sebagai tempat lahir Sang Buddha lebih dari dua millenium lalu, memiliki situasi struktur bebatuan serupa dengan yang terhampar di Ashabul Kahfi ini. Rasanya tak jauh beda. Tanpa perlu mengetahui secara ilmiah, dari rupa bebatuannya saja sudah terasa goresan sejarah besar kehidupan berabad-abad lalu di tempat saya berpijak.  

Di depan mata terhampar kawasan selayaknya sebuah situs purbakala yang sedang diekskavasi, dengan jalan setapak yang lebarnya hanya bisa dilalui oleh manusia. Bisa jadi dulu tanah ini juga dijejaki oleh tentara Romawi yang mencari ketujuh pemuda yang menolak perintah Raja itu. Ada yang masih ingat kisah Ashabul Kahfi ini? 

Gate of Ashabul Kahfi area

Tertulis dalam kitab suci, Ashabul Kahfi atau Tujuh Pemuda Yang Tertidur merupakan kisah manis tentang kekuatan iman dari tujuh pemuda penganut agama samawi yang konon terjadi beberapa abad sebelum kedatangan Nabi Isa ‘Alaihissalam

Kala itu, penguasa (ada yang menyebutnya Raja Decius dan juga Gubernur Daqyanus) dikenal sebagai orang-orang yang dzalim dan penyembah berhala. Dengan kekuasaannya, mereka bisa memaksa siapapun dan dengan cara apapun untuk menanggalkan iman akan Dia Yang Maha Esa untuk kembali menyembah berhala. Tak heran, kemarahan penguasa langsung saja  berkobar ketika mengetahui ada tujuh pemuda yang menolak perintahnya, meski salah satu diantara tujuh orang itu adalah kerabatnya.. Akibatnya tidak tanggung-tanggung, hukuman mati atas ketujuh pemuda itu menanti apabila dalam waktu dua hari mereka tidak mau mengubah keyakinannya. 

>Ketujuh pemuda itu tetap menolak dan memutuskan melarikan diri dan bersembunyi dalam sebuah gua di kawasan pegunungan. Seperti juga kisahnya, nama ketujuh pemuda itupun senantiasa diperdebatkan, termasuk apakah ada anjing yang konon bernama Qithmir dan bertugas menjaga pintu gua. Apapun itu, nyatanya ketujuh pemuda terselamatkan dari hukuman yang keji itu. Dia, Pemilik Semesta ini menunjukkan kuasaNya dengan membuat mereka tertidur selama 300 tahun Masehi atau 309 tahun Hijriah. 

Terbangun karena rasa lapar, ketujuh pemuda ini menyangka terlelap hanya sehari. Namun, ketika salah satu pemuda itu pergi ke kota untuk mencari makanan, alangkah terkejutnya dia karena kota sudah sangat berbeda. Selain itu, uang peraknya sudah tidak berlaku untuk membayar. Serta merta seisi kota gempar mendengar ceritanya karena dia adalah salah satu dari tujuh pemuda yang telah menghilang selama tiga abad. Penduduk kota ingat betul akan kisah turun temurun tentang tujuh pemuda yang menghilang karena tidak ikhlas menjual agama kepada penguasa dzalim penyembah berhala. Dan hari itu, salah satu dari ketujuh pemuda itu berdiri di antara mereka.

Sontak saja, berita kembalinya ketujuh pemuda itu tersiar seantero negeri. Raja yang berkuasa saat itu dan penduduk negeri menyambut mereka dengan meriah dan meminta mereka tinggal di kota. Namun mereka menolak dan tetap memilih kembali ke gua. Konon, sesampainya di gua, mereka bersujud dan memohon agar Pemilik Segala Kuasa bisa menurunkan rahmatNya dan mengizinkan mereka meninggalkan dunia fana. Tak ada yang mustahil bagi Pemilik Semesta. 

Tubuh mereka dikuburkan di dalam gua, yang bisa disaksikan adanya tujuh makam batu di dalam gua. Namun kini semua tulang yang tersisa ditempatkan di salah satu makam batu, yang di satu bagiannya diberi kaca tembus pandang, agar kita bisa melihat ke dalamnya.

-o- 

Tampak depan Gua Ashabul Kahfi, pintunya rendah & ceruk gaya Romawi, di bagian atas ada reruntuhan bekas mihrab masjid
Tempat tidur sekaligus makam batu dalam gua
Hiasan dinding di dalam gua
Showcase of artefacts in the cave.

Dengan berhias ceruk khas Romawi di dekat pintu gua yang rendah, udara lembab gua yang minim sirkulasi langsung menyergap hidung ketika saya melangkah memasukinya. Gua itu tak luas, tapi cukup untuk dihuni tujuh orang. Ada bagian depan gua dan di bagian belakangnya dengan level yang lebih rendah merupakan kubur batunya. Saya mengintip ke lubang kaca, serupa tulang masih terkumpul di dalam sana dan sebuah showcase tampak diletakkan di sana untuk menyimpan segala macam artefak pendukung kisah. Entahlah, bisa jadi hanya tiruan, mungkin juga asli… Rasanya semua isi kisah terasa jumpalitan di benak. Otak ilmiah yang bertumbuk dengan kisah reliji ini bermuara pada selarik pemahaman, bisa jadi sebidang tempat ini memang terlipat dalam waktu. Wallahualam bissawab. Kebenaran hanyalah milik Allah.

Saya tidak lama berada dalam gua karena ingin melihat bagian luar yang juga terlihat menarik. Selain kucing cantik berbulu lebat yang sedang berjemur, yang terhampar hanyalah bebatuan belaka. Namun bukan sekedar bebatuan tanpa kisah karena awalnya dulu di atas gua konon dibangun sebuah gereja kecil. Bisa jadi demikian karena ada perkembangan kependudukan di wilayah yang kini masuk ke negeri Jordan itu. Tetapi pada akhirnya, seperti umumnya perjalanan waktu di negeri-negeri Timur Tengah, gereja kecil tadi dikonversi menjadi masjid. Menariknya, mihrab masjid tepat tepat di atas pintu depan untuk masuk ke gua, yang tentunya menghadap kiblat.

Meninggalkan bebatuan kuno itu, saya melangkah menuju Masjid Al Kahfi, yang didirikan di kawasan yang sama yang letaknya lebih atas. Kompleks Masjid itu sangat megah dan sangat kontras dengan lingkungan kuno Gua Ashabul Kahfi. Seperti bumi dan langit, yang satu menunjukkan modernitas, lainnya merujuk pada kekuatan alam. 

Setelah mendirikan shalat di Masjid itu, kami melangkah keluar menikmati sesaat waktu bebas untuk mengabadikan tempat bersejarah sekaligus tempat ibadah yang tak kalah indah. Sayangnya, lagi-lagi tak bisa lama, karena bus telah menunggu kami menuju persinggahan berikutnya…

Tempat terendah di muka bumi.

Masjid di atas kawasan Ashabul Kahfi
Pemandangan dari arah Masjid ke lembah

Siapa Dia Yang Berjemur Di Depan Gua


Saya baru saja meninggalkan pintu gua Ashabul Kahfi yang terletak sekitar 10 km sebelah Timur kota Amman, -ibukota Jordan-, dan masih terpesona dengan kawasan bersejarah yang kisahnya terabadikan di kitab suci Al Qur’an dalam Surat Al Kahfi itu, surat yang biasa dibaca umat Muslim setiap hari Jumat itu. Rasanya belum mau melepas pandang dari pintu gua seukuran badan manusia yang baru saja saya tinggalkan itu. Entah kenapa saya jadi teringat saat berada di kawasan Lumbini enam tahun lalu.

Ada kesamaan di antara keduanya yakni berupa reruntuhan peradaban yang masih terpelihara hingga kini, melewati masa ratusan tahun hingga milenia. Seakan alam menjaganya, melindunginya dari prahara-prahara dunia yang tak pernah berhenti. Persis seperti permata berharga yang tak lekang oleh masa. Ada aura khas yang  menggetarkan rasa. Seperti menguarkan atmosfir adanya kehidupan yang menjadi sejarah di antara batu-batu kuno itu.

Ashabul Kahfi sendiri mengisahkan tentang tujuh pemuda yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga tertidur lelap di dalam gua selama 309 tahun menurut kalender hijriah. Konon ketujuh pemuda yang taat mempertahankan keimanannya itu melarikan diri dari kekejaman Raja Dakyanus yang saat itu berkuasa dan telah menjatuhkan hukuman mati kepada siapapun yang menentang dirinya, termasuk ke tujuh pemuda itu karena senantiasa mempertahankan keimanannya. Dan ketika mereka terbangun 309 tahun setelahnya, mereka terkejut karena keadaan telah berubah sama sekali dan tidak ada lagi pasukan Raja Dakyanus yang mengejar mereka. 

Saat itu, rasanya saya masih terpukau dengan peninggalan-peninggalan sejarah pada dinding dekat pintu gua, yang dihiasi oleh simbol-simbol Romawi. Sungguh saya belum puas menikmati keluarbiasaan itu ketika terdengar arahan dari tour leader kami untuk segera berpindah menuju Masjid yang ada di dalam kawasan yang sama untuk melaksanakan kewajiban ibadah agar bisa melanjutkan perjalanan (Suatu saat nanti, InsyaAllah, saya akan menuliskan kisah perjalanan di Amman ini)

Saat itulah saya melihatnya. Hewan berbulu di depan gua. Cantik.

Meskipun matahari telah condong ke Barat, panasnya tak lagi gahar. Bisa jadi suhu udara kota Amman dua hari jelang Tahun Baru 2020 itu memang teramat sejuk. Hewan berbulu, -yang oleh sebagian teman-teman penggemar biasa disebut Anbul, alias Anak Bulu-, duduk di atas bebatuan, menghadap ke Barat.

DSC00392

Salahnya dia duduk menghadap ke Barat sehingga ia teramat silau terpapar sinar matahari jelang sore. Ia memicingkan matanya, tak bisa membuka mata lebar-lebar karena sinar matahari terlalu terang. Tapi entahlah, bisa jadi ia justru memilih posisi duduk menghadap Barat. Sepertinya terasa hangat. Sepertinya ia memang mencari matahari. Kasarnya, berjemur sore.

Saya bukanlah seorang penggemar kucing, bukan juga pembencinya. Tetapi ketika melihat seekor kucing yang “kesilauan” dan bersikap santai tak peduli dengan lingkungan lainnya, duduk di atas batu di kawasan wisata bersejarah, terus terang saja saya merasa terbawa oleh sikapnya yang menyenangkan. Entah kenapa, saya teringat turis-turis kulit putih yang sering berjemur di pantai mencari sinar matahari agar kulitnya lebih tanned.

Warna kulit si Kucing Cantik ini tak terlalu jauh dari warna-warna batuan yang menjadi latar belakangnya. Tetapi bagaimana pun sikapnya yang “kesilauan” itu menggugah rasa gembira saya. Lucu sekali, karena seumur-umur saya tak pernah melihat seekor kucing menantang matahari dan kesilauan sendiri. (Ah, kamu Cing, harusnya pakai kacamata cengdem!)

Saya tidak bisa berlama-lama menatap si Kucing Cantik ini karena tour leader lagi-lagi mengingatkan untuk melanjutkan perjalanan.

Meskipun masih gemas dengan sikap si Kucing Cantik ini, saya harus melepaskan pandangan darinya.

Sampai bertemu lagi, Cing…

Sambil melangkah saya terpikir, apakah si Kucing Cantik itu juga merasakan aura bersejarah dari Gua Ashabul Kahfi seperti yang saya rasakan tadi? Siapa sebenarnya si Kucing ini?

Ah, jangan-jangan si Kucing Cantik ini….

Segera saja saya membuang pikiran nyeleneh yang muncul dan bergegas menyusul rombongan.


 

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-12 ini bertema Kucing (Cat) agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…