D6-Trekking Nepal – Di Simpang Jalan


Catatan. Meskipun perjalanannya ini terjadi tiga tahun lalu tapi rasanya sayang kalau tidak dilanjutkan cerita saat trekking di Nepal. Untuk mengingat kembali silakan baca kisah trekking hari -hari sebelumnya di tautan berikut ini: Dare to Dream Trip, Ke Kathmandu, Tangga-Tangga Uleri, Menuju Ghorepani, Poonhill, Didera Hujan Es, Gurung Hill dan Melawan Takut. Apalagi, tantangan menulis mingguan yang diangkat oleh Sahabat saya, Srei’s Notes, bertopik tentang Road alias Jalanan untuk minggu ini. 


 

Chhomrong, minggu ketiga April 2017

Mentari belum juga terbit namun saya telah keluar kamar penginapan yang langsung disambut udara dingin Himalaya. Meskipun sudah jauh di bawah Poonhill atau Deurali Pass yang berada di ketinggian 3100-an meter, berdiri pagi-pagi di Chhomrong yang berada di ketinggian 2170 meter ini tetap saja terasa dingin. Tetapi, pagi adalah waktu yang tepat untuk melihat keindahan Himalaya.

1
Annapurna South, Hiunchuli, Macchapucchre before sunrise
1a
Sunshine over Mt. Macchapucchre (Fish Tail)

Dan benarlah, ketika menatap ke arah pegunungan, saya yang pendaki abal-abal tapi nekad menjelajah di Himalaya disuguhi pemandangan alam yang spektakuler. Puncak Annapurna South (7219m) berjajar dengan Hiunchuli  (6441m) lalu terpisah oleh lembah dalam, gunung favorit saya, Macchapucchre (6993m) berdiri dengan gagahnya. Semua puncak dan punggungnya tertutup salju abadi yang memperlihatkan keindahannya.

Sinar mentari pagi mulai menerpa puncak ketiga gunung tinggi itu dan memberi warna keemasan pada salju abadi yang menyelimutinya. Bahkan sinar matahari yang melewati puncak Gunung Macchapucchre, -yang dikenal juga sebagai Fish Tail karena puncaknya yang menyerupai ekor ikan-, memberikan efek dramatis bergaris pada langit.  Pagi datang berkunjung dengan keajaiban yang membuat saya menarik nafas panjang, tak habis-habisnya mengucap syukur. Sang Pemilik Semesta telah memberikan kesempatan kepada saya berjalan di bumi yang indah ini. 

Setelah mengabadikan pemandangan indah ini, saya berjalan ke arah persimpangan desa tak jauh dari penginapan. Ternyata Pak Ferry, my travel buddy, sudah berada di sana terlebih dahulu. Langsung saja kami saling bergantian mengambilkan foto sebagai kenang-kenangan meskipun dengan wajah apa adanya (Di gunung siapa sih yang mau mandi dua kali sehari dan dandan cantik? 😀 )

Rasanya mata tak ingin melepas pemandangan indah yang tak bisa dilihat di Indonesia ini, saya ingin berlama-lama meskipun tahu akan ada yang namanya perpisahan. Di sini, di desa Chhomrong ini merupakan tempat terakhir kami untuk merasa terdekat dengan rangkaian pegunungan Himalaya. Karena setelah ini, kami akan menjauh darinya. Ada sedikit rasa sesal mengapa cuti terlalu singkat dan mengapa saya tak mempersiapkan fisik yang lebih baik untuk trip ini. Tetapi, bagaimanapun semua harus dihadapi dan diterima.

Dengan pikiran yang masih menggantung kepada keindahan puncak bersalju itu, Pak Ferry dan saya berjalan pelan kembali ke penginapan, untuk sarapan dan packing. Sarapan yang serupa, roti dan selai ditambah kopi atau teh. Tetapi yang paling mengerutkan hati saat sarapan itu, ketika saya harus menyaksikan dua perempuan muda berpamitan dan melangkah gembira menuju Bamboo, desa berikutnya untuk menuju Annapurna Base Camp. Arah yang pastinya berbeda dengan tujuan saya hari ini. Meskipun mendoakan mereka untuk keberhasilannya, saya tak bisa mengingkari terselip sedikit rasa iri akan kemudaan dan semangat mereka.

Tak perlu lama kami semua telah siap, di simpang desa itu kami melanjutkan perjalanan. Bukan ke atas menuju Annapurna melainkan menuju pulang. Sedih? Tentu saja, karena harus melepas tujuan dan harapan. Tetapi saya juga meyakini, segala peristiwa memiliki alasan dibaliknya sehingga harus diterima dengan ikhlas. Dan bagi saya yang sebelumnya tak pernah mendaki gunung, apalagi sudah tak lagi muda dan tak pernah olahraga, bisa mencapai 3120 meter saja sudah luar biasa!

4
Clouds started to cover
4a
ABC or Home?

Sejenak saya menatap Annapurna, Hiunchuli dan Macchapuchhre dari jarak terdekat yang pernah saya jejaki sebelum akhirnya saya melepas pandang. Seakan tahu rasa apa yang tersembunyi di dalam hati, Semesta membantu mulai mengirim awan untuk menyelimuti puncak gunung-gunung itu. One day, saya akan kembali. Kemudian saya melangkah pergi menuju Landruk, pemberentian kami berikutnya.

Not the destination, but the journey…

Itu kata orang bijak, meskipun perlu keikhlasan yang amat tidak mudah. Tetapi ada banyak bantuan bagi orang yang mau bersungguh-sungguh. Saya merasakan bahwa alam memberikan suhu yang amat nyaman untuk berjalan. Sinar matahari tidak terik melainkan hangat. Ada berbagai kerindangan disana-sini dan tentu saja pemandangan bukit-bukit yang indah. Semuanya teramat sayang jika dilewatkan begitu saja hanya gara-gara terpaku pada tujuan Annapurna yang harus dilepas. Ah, saya belajar banyak dalam perjalanan ini, belajar untuk mengucap syukur pada setiap keindahan yang saya terima dalam setiap detik di depan mata, bukan yang telah lewat.

PerlindunganNya

Urutan trekking masih tetap sama seperti hari-hari sebelumnya, sang porter muda yang handsome yang namanya Kedar, berada paling depan, lalu pak Ferry kemudian saya dan Dipak, –trekking guide-, semuanya dalam jangkauan jarak pandang. Dua yang terakhir lebih sering bertukar tempat terutama jika jalan menanjak meski tak lagi berat. 

Meski dalam melakukan trekking saya tidak sendirian,  namun nyatanya saya lebih banyak berjalan tanpa banyak bicara (atau mungkin alasan saja untuk mengatur nafas ya 😀 ) Tetapi, rasanya memang menyenangkan bisa berjalan “sendiri” meskipun sesungguhnya ada dalam kelompok. Rasanya seperti diberi waktu untuk kontemplasi. 

7
Forests

Entah telah berapa lama saya berjalan, hingga suatu saat saya berada di sepenggal jalan setapak yang amat sempit, dengan jurang di kiri dan tebing tanah bercampur batu di kanan. Trekking guide kami, Dipak, yang tadinya tak jauh di belakang saya, mendadak dari arah belakang berlari menuju saya dengan wajah was-was, dan belum sempat bertanya kepadanya, pada saat yang sama saya mengetahui dan mendengar apa yang dia cemaskan. Langkah kuda yang sedang berlari kencang sedang mendekat dari arah belakang!

Serta merta mata saya membelalak. What to do? 

Tidak ada ruang untuk mengalah membiarkan si kuda lewat. Pilih mana? Lari melebihi kecepatan kuda di jalur sempit atau lompat ke jurang? Semua pilihan yang tidak mungkin!

Sepersekian detik yang paling menakutkan.

Dipak mengambil keputusan lebih cepat daripada saya, Ia menyuruh saya untuk lompat ke kanan, ke arah tebing tanah bercampur batu itu. Tanpa pikir panjang, saya mengikuti sarannya, melompat ke kanan dengan trekking pole yang masih terikat di pergelangan dan mencari batu terkuat sebagai pegangan. Sebisa-bisanya saya bertengger memeluk tebing bumi. Detik-detik yang amat menegangkan bagi saya. Menunggu si kuda lewat.

Lalu tanpa rasa bersalah, si kuda berlari cepat dikendalikan oleh penunggangnya di jalan sempit itu, yang setelahnya membuat Dipak mengeluarkan serangkaian kata-kata Nepali dengan nada yang lumayan tinggi kepada penunggang kuda itu. Saya tak mengerti artinya, tetapi sepertinya ia meminta orang itu berhati-hati berkuda apalagi di jalur trekking yang bisa berakibat fatal.

Meskipun jengkel juga dengan si penunggang kuda, saya turun dari tebing tanah itu dengan tanah menempel di muka dan pakaian, masih terasa deg-degan bercampur lega dari sebuah peristiwa yang menegangkan. Jika tak segera melompat ke arah kanan untuk menyelamatkan diri, bisa jadi saya ditabrak dari belakang dan jatuh ke jurang. Hiiii…

Alhamdulillah, saya masih dilindungi olehNya.

Beberapa saat kemudian, setelah menepis debu dan tanah yang menempel serta berterima kasih kepada Dipak yang telah menyelamatkan, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini dia berada tepat di belakang saya.

Tapi tak lama!

Mendadak ia bertanya kepada saya, apakah saya mampu berjalan sendirian karena ia harus menyusul Pak Ferry yang ada di depan. Ia juga mengatakan bahwa jalan yang akan saya tempuh landai.  Saya menganggukkan kepala lalu dalam sekejap ia berlari ke depan. Menyusul Pak Ferry.

Aduh, ada apa lagi di depan? 

Saya terus berjalan. Dipak benar, jalannya menanjak landai, teduh pula. Nyaman untuk berjalan meski matahari mulai tinggi. Lalu, di sebuah lengkung jalan yang menanjak, saya melihat Dipak menunggu di puncak tanjakan sementara saya masih di bawah. Baiklah, setelah dihajar tangga-tangga Ulleri, tanjakan ini sama sekali tidak ada apa-apanya. Tak lama, saya berhasil sampai di tempat Dipak menunggu dan terbelalak melihat apa yang ada di depan saya.

Sepenggal jalan longsor!

Di kiri longsoran ke bawah yang berakhir di sungai dan di sebelah kanan tebing yang longsor. Diantaranya hanya ada jalan setapak…

5
Trekking path across the landslide

Langsung saja saya mengerti mengapa tadi Dipak berlari mengejar Pak Ferry. Ia pasti bermaksud menolong Pak Ferry yang memiliki phobia ketinggian untuk mampu melewati jalan setapak longsor itu. Bagi orang yang phobia ketinggian, berjalan di jalan sempit yang di kirinya longsor jauh ke bawah dan berakhir di sungai, tentu tak mudah.

Sejenak saya melihat ke atas, ke arah tebing yang longsor itu. Meski kelihatannya sudah lama terjadi longsornya, saya tetap memperhitungkan segala kemungkinan. Longsor memang sering terjadi di Nepal, tetapi tebing longsor di depan saya ini bukan sepenuhnya tanah, melainkan batu-batu kecil, pasir dan kerikil. Ah, saya segera menggelengkan kepala, sebagai tindakan tak sadar untuk menghapus pikiran buruk yang muncul dan berawalan dengan kata bagaimana seandainya…

Meninggalkan longsoran di belakang, saya melanjutkan jalan. Melewati hutan, desa dan melangkahi jembatan kayu kecil di atas batu-batu sungai yang airnya sedikit. Meski sedikit, airnya bening dan dingin. Kebahagiaan berjalan di bagian pegunungan yang sudah lebih rendah. Meski udara terasa lebih hangat, tetapi air lebih mudah didapat. Ah, saya membayangkan mandi enak di pemberhentian berikutnya.

Sebelum sampai ke Landruk, -tempat menginap berikutnya-, kami harus melewati jembatan kayu gantung yang terlihat sudah rapuh. Untuk melewatinya saya harus mengukur kekuatan kayu landasannya apakah mampu menahan beban saya yang bongsor ini. Apalagi saya harus berhenti ditengah-tengah. Karena ada air terjun bertingkat yang tersembunyi yang hanya bisa dilihat dari tengah jembatan itu. Bukankah kita harus berani mengambil risiko?

Setelah membatalkan trekking lanjutan ke Annapurna Base Camp (ABC), perjalanan setiap harinya menjadi lebih nyaman karena tanpa target waktu. Termasuk hari itu yang memang tak lama. Setelah makan siang yang kenyang dan lama di tengah lembah, akhirnya kami sampai di Landruk jelang sore. Lumayan bisa beristirahat sore hari dan mandiiiii! Saya pun bisa santai meluruskan kaki yang pegal  sambil menunggu malam.

Ini namanya benar-benar liburan… 

 

(bersambung)

 

Nepal – Trekking Hari Pertama Menuju Ulleri


Sungguh Dia tak bercanda, menjadikanku ringan, memampukan, dan atas ribuan tangga pun kuberjaya.

Matahari belum sepenuhnya terbit ketika kami meninggalkan hotel di Kathmandu menuju bandara. Sarapan yang hanya tertelan setengahnya tak lagi saya pikirkan. Terlambat terbang berarti terlambat sampai Pokhara dan terlambat memulai trekking. Padahal hari ini merupakan ujian ketangguhan fisik! Langsung di hari pertama trekking.

Tak sampai setengah jam kemudian saya sudah duduk manis di ruang tunggu bandara domestik yang penuh calon penumpang itu. Dan tanpa perlu menunggu lama, penerbangan kami menuju Pokhara akhirnya diberangkatkan. Tentu saja, setelah berselfie dengan latar belakang pesawat baling-baling ini, seorang pramugari berbusana tradisional yang dimodifikasi menyambut kami dalam penerbangan ke Pokhara yang memerlukan waktu hanya sekitar 30 menit. Dan Pemilik Kuasa berkenan melimpahkan berkat dengan menyibakkan awan-awan tebal lalu menampakkan jajaran Himalaya jelang akhir penerbangan. Pegunungan berselimut salju itu sedikit bersaput kabut, hati saya langsung melesak. Pemandangan seperti ini yang membuat saya selalu ingin kembali ke Nepal. Dalam beberapa saat ke depan, akankah kaki ini menjejak di rangkaian pegunungan yang sambung menyambung itu?

Himalaya

Menit-menit berlalu hingga kota Pokhara mulai tampak di bawah. Pesawat kecil kami menyentuh bumi Pokhara dengan mulus. Ah, setelah lebih dari dua tahun saya kembali lagi kesini…

Meninggalkan area bandara, kami menyusuri Phewa Lake yang menjadi icon dari kota Pokhara dan menyempatkan diri mengintip World Peace Stupa di puncak bukit yang langsung membuat saya tersenyum sendiri mengingat kenangan indah dua tahun lalu saat alam mempersembahkan keluarbiasaannya saat matahari terbit.

Di Pokhara, kami berhenti sebentar di hotel yang akan kami inapi sepulang trekking, -hanya untuk menitipkan barang-barang yang tak perlu dibawa ke gunung-, untuk kemudian dengan menggunakan jeep kami menuju Hille melalui Nayapul. Jalannya seperti di Puncak, meliuk-liuk mengikuti lereng bukit. Jelang Nayapul, karena di ujung bawah turunan terlihat antrian panjang kendaraan, dengan sigap sang pengemudi memutar arah dan memasuki jalan alternatif menuju Birethanti, tanpa lewat Nayapul.

Jalan yang diambil bukan jalan resmi melainkan jalan tanah yang berada di antara rumah-rumah penduduk. Namun dengan begitu kami bersentuhan langsung dengan kehidupan keras yang ada di Nepal. Negeri ini memang dikaruniai bentang alam yang amat indah, tetapi kehidupan masyarakatnya juga tak mudah. Mereka yang ada di pegunungan harus bekerja amat keras, memanggul semua barang-barang untuk dijual atau untuk dimiliki dengan kekuatan otot leher mereka. Bahkan sejak kecil mereka belajar!

Di Birethanti setelah melewati jembatan yang terbentang di atas Modi Khola, jeep berhenti. Dipak, pemandu kami, turun ke pos pemeriksaan ACAP (Annapurna Conservation Area Permit) dan kartu TIMS (Trekkers’ Information Management Systems). Melihat kesempatan yang hanya sekali, kami pun turun untuk foto-foto, termasuk mengamati peta trekking ke Annapurna yang terpampang di pinggir jalan. Selesai pemeriksaan TIMS can ACAP, perjalanan pun dilanjutkan kembali menuju Hille.

Jeep mulai menanjak di jalan tanah, di tempat sama para trekkers menapaki satu demi satu langkah kakinya. Sekali dua kali Jeep menyusul kelompok trekkers yang harus menepi sejenak di pinggir jalan membiarkan Jeep lewat. Saya tak menyangka dampak yang terjadi pada diri ini. Semakin sering saya melewati mereka, semakin saya merasa malu dan tidak nyaman. Kepada mereka, kepada alam, kepada diri sendiri, kepada Yang Maha Pengasih yang telah memberikan saya kaki dan tenaga. Siapakah saya ini hingga terus menerus membuat mereka harus menepi memberi jalan kepada saya? Bukankah tujuan saya pergi ke Nepal untuk trekking? Lalu apa bedanya mereka dan saya? Saya merasa tertohok sangat dalam dengan berbagai pertanyaan diri sendiri karena menggunakan kendaraan untuk menempuh jalan yang sama yang digunakan oleh trekker. Sebagaimana dalam setiap perjalanan, hikmah yang terserak mulai terlihat. Kita tinggal mengambilnya, jika kita mau…

Belum selesai dipermalukan rasa, jalan terlihat memburuk dengan tanah berlumpur di beberapa tempat. Kondisi ini membuat roda tidak mudah untuk mencengkeram. Saya memperhatikan sang pengemudi yang dengan tangkas mengemudikan jeep fourwheeldrive. Hingga suatu saat….

Di sebelah kiri mobil jurang cukup dalam dan sebelah kanan tebing cadas vertikal ke atas…

Sopir mengambil posisi agar jeep tidak terjebak pada tanah berlumpur itu, namun sayang roda tidak bisa menghindar dari terperosok ke dalam tanah gembur itu. Sang Pengemudi berusaha keras agar jeep bisa berpindah tempat, tetapi malang, kami justru terjebak di dalamnya lalu berhenti. Di kiri jurang dan di kanan tebing. Sang sopir berbicara singkat dengan Dipak yang kemudian langsung pindah ke belakang bersama Kedar. Pak Ferry terlihat kuatir hendak turun juga, namun saya bergeming tak tahu harus berbuat apa. Rasanya satu atau dua detik terlama dikepung kekuatiran mobil akan terguling ke jurang atau terhempas ke tebing. Sekali dua kali sang pengemudi mencoba lagi dan pada upaya ketiga akhirnya mobil terangkat juga dari jebakan lumpur itu. Huft!  Saya baru menyadari akan dalamnya jurang yang siap menelan jika mobil tak terkendali. Pantas saja Pak Ferry pias wajahnya karena ia duduk di sebelah kiri tepat di bibir jurang…

The View

Di Hille yang merupakan batas akhir perjalanan dengan jeep, kami semua turun dan berterima kasih dengan sang pengemudi. Inilah awal langkah kaki, yang saya awali dengan doa. Dalam setiap perjalanan, dimana pun, ketika kaki mulai melangkah, saya melebarkan hati untuk menyadarkan diri akan kehadiran Sang Pemilik Jiwa. Kesadaran yang begitu mudah teralihkan, padahal Dia yang selalu menjaga.

Jalan tanah terhampar di depan mata sedikit menanjak tetapi belum lama menapakinya, Dipak mengajak makan siang. Bagi saya yang terbiasa makan siang saat matahari telah tergelincir dari atas kepala, apalagi lebih sering melewatkannya saat sedang melakukan perjalanan, ajakan pemandu untuk makan disambut dengan setengah hati, Tetapi saya harus menurut kepadanya karena ia lebih mengenal medan. Bisa jadi di depan tidak ada lagi rumah makan yang lumayan. Pak Ferry menerima saja dan meminta rekomendasi makanan yang tentu saja serempak Dipak dan saya berseru, Dhal Bhat!

Dhal Bhat adalah makanan tradisional Nepal yang sangat dikenal oleh wisatawan, apalagi para trekker. Terdiri dari nasi (bhat), sup lentil, sayuran, kentang (aloo), lauk kari, kadang ditambahkan acar dan sejenis keripik (Papad). Karena terkenalnya makanan ini, di Nepal sering disebut Dal Bhat Power 24H! Mungkin memang bisa menjadi cadangan energi seharian terutama untuk trekkers.

Setelah makan siang, kami pun melanjutkan perjalanan dan sampai di jembatan gantung (suspension bridge) yang pertama. Saya senang sekali karena akhirnya keinginan berfoto di jembatan gantung bisa terpenuhi, bahkan bisa menyeberanginya. Ini hadiah yang membahagiakan dari Yang Kuasa! Dengan sengaja saya melangkah dengan lebih kuat sehingga jembatan bergoyang, -yang mengingatkan kepada anak bungsu saya yang pasti jejeritan minta ampun karena senewen sehingga minta dipandu penuh cinta-. Kejahilan saya yang membahagiakan bisa membuat orang berwajah pias jejeritan minta ampun sampai pasrah.

Selepas jembatan, perjalanan semakin menanjak. Jalan yang dibuat berundak dengan tangga batu menyebabkan seakan saya naik tangga ratusan lantai. Dipak telah mengingatkan bahwa hari pertama ini kami akan langsung dihajar dengan kebengisan tangga yang seakan tak berujung. Lelah fisik memang dirasakan sekali, tetapi jika di samping kanan diantara pepohonan tiba-tiba terlihat air terjun yang gemericiknya menenangkan lalu indahnya perbukitan berhiaskan awan sambung menyambung, rasanya segala lelah itu menguap hilang.

Saya terus melangkah naik dan naik dan naik… benar-benar tak berujung. Tangga batu sepertinya berakhir diantara rumah penduduk, namun ternyata memberikan harapan palsu tangga akan selesai. Puncak tangga batu yang terlihat dari bawah itu berbelok dan merupakan awal dari tangga berikutnya. Rasanya, di awal masih senang, makin lama karena lelah mau marah, sampai akhirnya pasrah. Saya hanya bisa menghitung dalam berbagai bahasa yang saya bisa, satu, dua, tiga, empat, lima, atau dalam bahasa Nepali, ek, dui, tin, char, panch (bukankah mirip eka, dwi, tri, catur, panca?)

Neverending Stairs

Pemandangan bukit yang bisa mencapai ketinggian 3000an meter itu, -yang jika di Indonesia sudah disebut dengan gunung-, saling bersilangan membentuk bentang alam yang sangat cantik. Waktu berlalu cepat tanpa sadar, jembatan gantung yang tadi saya lewati sudah hilang dari pandangan dan sudah berada jauh di bawah. Saat itu pengukur ketinggian pada jam tangan menunjukkan angka 1540m, kami berhenti untuk istirahat lagi, kesekian kalinya. Tetapi ini sudah 500meter dari Birethanti yang berada di sekitar 1000mdpl. Luar biasa! Sebagai seorang yang tidak pernah mendaki gunung dimanapun, rasanya tak percaya, sayakah ini yang melakukannya? Ah, rasanya seperti menapaki awan, tak sadar telah ringan dibawa terbang.

It is not Downhill

Lalu sedang asik berfoto sambil menikmati pemandangan indah, Dipak berseru menunjuk sebuah tanaman yang tumbuh liar di dekat kaki saya, -yang kalau di Indonesia bisa jadi masalah tersendiri-. Aha, tumbuhan cannabis alias ganja! Pak Ferry dan saya terbahak bersama, tapi tidak berani posting ke media sosial.

Istirahat itu benar-benar membantu karena setelahnya serangkaian tangga yang tak berujung itu dimulai lagi. Dipak, pemandu kami dengan sabarnya terus mengatakan agar melangkah pelan, pasti sampai. Bahkan selagi istirahat, Pak Ferry sempat mencoba membawa duffel bag berat yang dibawa Kedar, -porter kami yang rupawan-, dengan cara Nepal yaitu dengan meletakkan tali pengikat di dahi dan mengangkatnya menggunakan otot leher. Satu kata darinya bernada compliment, Crazy!

Thikhedunga -sebuah desa yang sering disebut dalam itinerary Annapurna Base Camp via Poonhill-, telah kami lewati. Biasanya trekker bermalam disini jika mulai berjalan dari Nayapul, tetapi kami harus terus melangkah.

Di tengah jalan, pasukan keledai pun mulai menyambut kami. Rombongan hewan penolong manusia untuk membawa barang itu membawa keriuhan, suara klenengannya terdengar dari jauh. Saya ingin mengabadikannya, tetapi tak sadar saya berada di jalur jalannya. Ia mendatangi saya yang melihat dari jendela bidik kamera. Menyadari kesalahan melihat bibir keledai semakin dekat, saya langsung angkat kaki dari situ namun tidak menemukan jalan untuk menghindar. Tanpa pikir panjang, saya melompat  ke samping ke tempat aman, dekat Dipak yang terbahak menyaksikan saya seperti dikejar keledai.

Perjalanan melelahkan itu berlanjut lagi. Karena saya merupakan titik terlemah, sebagai pemandu Dipak sangat memperhatikan kekuatan yang tersisa dari saya dan memutuskan untuk berhenti di Ulleri, -bukan di Banthanti seperti rencana awalnya karena masih perlu satu jam jalan penuh tangga. Di Ulleri kami menginap di sebuah penginapan sederhana tetapi memiliki pemandangan luar biasa. Pilihan yang amat bagus.

Secangkir teh dengan daun mint menyambut saya di ruang makan. Rasanya luar biasa sekali bisa melonjorkan kaki dan menikmati pemandangan indah sambil minum teh.

Kenikmatan luar biasa ini saya lanjutkan sendiri di kamar. Ternyata saya bisa sampai hingga ke ketinggian ini dengan berjalan kaki. UndanganNya Dare To Dream memang luar biasa, saya dimampukan, saya dikayakan oleh pengalaman. Rasanya hanya satu kata untuk menggambarkan situasi yang saya alami di Ulleri. Perfect!