Menyambut Tahun Baru Dalam Hujan


Karena ingin merasakan kembali kehebohan malam tahun baru seperti di Hong Kong tahun 2015 dengan kembang api warna-warni dan kerlip kota, maka pada akhir tahun 2017 kami mengunjungi Singapura. Tujuan utamanya hanya satu, menyaksikan malam pergantian tahun dengan pertunjukan kembang api.

Apakah berhasil?

Iya, berhasil, tapi pakai hujan! 😀

Malam itu, sengaja kami datang lebih awal agar bisa dapat tempat duduk terbaik sambil berdoa khusuk karena melihat awan gelap menggantung rendah di atas langit Singapura. Turun di stasiun MRT Bayfront, kami berjalan mengikuti kerumunan orang yang semakin padat menuju arena The Float at Marina Bay. Pernah terbayang gak sih kalau The Helix Bridge itu padat sekali dengan manusia? Situasinya benar-benar padat merayap, melangkah pelan karena kadang harus berhenti dan berdiri diam beberapa saat hehehe…

Beruntung sekali saya sudah membeli tiket secara online untuk menyaksikan kembang api dari The Float at Marina Bay, karena malam itu untuk masuk dengan tiket di tangan saja sudah antri panjang, apalagi kalau belum memiliki tiket yang antriannya mengular tersendiri. Lagi pula beli tiket on the spot itu lebih mahal.

DSC03059
The Crowd in Marina Bay

By the way, saya beli tiket masuk SGD 5.5 per orang secara online melalui Klook, kalau on the spot SGD 8.00. Itu tahun 2017 yaaa dan tahun selanjutnya saya heran kenapa bisa langsung naik 10 kali lipat!

Lalu mengapa saya beli tiket masuk padahal bisa menyaksikan dari pinggir jalan? Sederhana saja sih, saya mau santai dan tidak rebutan cari tempat terbaik dalam menyaksikan pertunjukan kembang api dan tidak harus menduduki tempat itu sejak pagi. Lagi pula, tempat-tempat strategis untuk menyaksikan pertunjukan kembang api itu sudah dipagari. Ah, tempat-tempat terbaik memang ada harganya! Selain itu, saya tidak tinggal di hotel-hotel sekitar Marina Bay yang harga akhir tahunnya bikin pingsan!

Jadilah setelah melalui pemeriksaan ketat untuk barang-barang bawaan, duduklah kami semua di  tribun atas The Float. Sementara manusia-manusia penggemar kembang api terus memadati arena, saya sekeluarga mengamati pemandangan malam. Asyik sih melihat pemandangan Marina Bay-Sands, Art Science Museum yang khas dan tentu saja gedung-gedung tinggi di kawasan bisnis Singapura.

Dan di sana, doa kami semua tak terkabul. Saya mulai merasakan satu demi satu titik air yang ditumpahkan dari langit. Gerimis. Payung-payung warna-warni mulai terkembang. Belum juga jam 11 malam, titik-titik air yang jatuh tidak konsisten, kadang deras, kadang berhenti sesaat. Akhirnya karena merasa terganggu dengan harus memegang payung berlama-lama, anak-anak turun ke panitia untuk membeli jas hujan transparan tipis.

Seperti juga di Indonesia (kebiasaan lihat TV kali ya… yang mengucapkan Selamat Tahun Baru untuk warga Wilayah Indonesia Timur, kemudian untuk warga Indonesia Tengah dan puncaknya di Wilayah Indonesia bagian Barat), maka di Singapura itu sejak pk. 22.00 sudah dimulai pertunjukan kembang api setiap jamnya meskipun sebentar.

Hujan sepertinya ingin hadir malam itu, atau juga mungkin pawang hujannya kurang ahli 😀 sehingga berbalut jas hujan transparan kami sekeluarga duduk santai menikmati musik dan pertunjukan. Banyak pasangan yang berdekatan, semakin deras hujannya semakin dekat mereka berdekatan di bawah payung. Tidak jarang, balon-balon yang mereka pegang terlepas atau sengaja dilepaskan. Bisa jadi sebagai tanda melepas segala kepahitan yang telah terjadi dan membiarkan harapan-harapan baru menjunjung ke langit tinggi.

Dan detik terus mendekat ke pukul 00.00 di tahun yang baru.

Ketika akhirnya countdown dimulai, semua yang hadir berteriak beramai-ramai…

Ten, nine, eight, seven, six, five, four, three, two, one… Happy New Year!!!

Pertunjukan kembang api mencapai puncaknya, berlangsung lama dari menit ke menit, tanpa henti sama sekali. Luar biasa! Ledakan kembang api ditambah gemuruh manusia-manusia yang berbahagia, berpelukan saling mengucapkan selamat tahun baru, mengabaikan payung-payung dan basah hujan yang di kawasan itu.

DSC03195
Happy New Year

Seperti juga banyak orang lain, tak lupa kami melakukan wefie dengan ucapan selamat tahun baru untuk dikirimkan kepada kerabat dan keluarga tercinta di Indonesia, meskipun mengenakan jas hujan transparan dan rambut basah. Kami memilih foto awal tahun baru yang paling bagus di antara yang berantakan karena rupa yang bisa dibilang ‘hancur lebur’ karena basah. Tapi yang penting adalah ekspresi bahagianya kan?

Pesta di Marina Bay berlanjut, musik hingar bingar dengan ritme yang mengundang untuk menggoyangkan tubuh terus berlangsung. Suara MC terus berkumandang mengajak membeli makanan dan minuman serta ajakan untuk berpesta. Meskipun demikian, kami semua memilih kembali ke hotel karena kami akan terbang ke Jakarta pada siang harinya.

Sambil jalan kaki menuju hotel mengikuti kerumunan orang, alangkah senangnya kami mengetahui tidak perlu jalan kaki jauh karena masih ada MRT yang beroperasi pada tahun baru itu. Sungguh sebuah layanan terbaik dari MRT Singapura. Jam operasional MRT diperpanjang khusus pada hari itu, meskipun hanya untuk rute tertentu.

Dalam keadaan basah, -meskipun orang lain tak jauh beda kondisinya-, sebelum naik kereta, kami dan juga orang lain mencoba mengeringkan badan dan melipat jas hujan serta memasukkan yang basah ke dalam tas. Sehingga di kereta terlihat cukup rapi dan terjaga kebersihannya.

Tahun baru, belum lama berganti angka, kebiasaan-kebiasaan baik bisa kita mulai saat itu juga. Tahun baru biasanya berlimpah dengan harapan-harapan baru, dengan sejumlah resolusi yang indah. Tapi untuk apa harapan-harapan baru bila tidak disertai dengan adanya tindakan-tindakan?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-35 ini bertema New Year agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Sepenggal Jalan Tanpa Warna



Tokyo, satu hari sebelum Natal 2018

Sebenarnya hari itu adalah ulang tahun saya, tetapi bagi saya hari itu masih tanpa warna meskipun tepat pk. 00.00 malam suami dan anak-anak telah memberi surprise berupa kue ulang tahun di tempat tidur. Saya tahu usaha mereka untuk membuat saya kembali ceria dan saya pun berupaya untuk tegar, meski rasanya sangat tidak mudah mengabaikan rasa bahwa saya masih berduka.

Tiga hari sebelumnya, Papa dipanggil pulang oleh Yang Maha Kuasa setelah bertahun-tahun hanya mampu berbaring karena stroke yang dideritanya. Dan karena kakak dan adik seluruhnya ada di Jakarta, dengan persetujuan Mama, kami mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir pada hari yang sama meskipun gelap malam telah menyelimuti. Hari itu semua urusan selesai dengan doa-doa tak putus bagi yang pergi maupun untuk yang ditinggalkan agar ikhlas dan tabah menjalani hari.

Namun bagi saya, itulah hari ketika saya kehilangan warna-warni.

Satu hari setelahnya, saya sekeluarga meninggalkan Jakarta menuju Jepang, meninggalkan keluarga besar dan kerabat yang meriung di rumah Mama merapal ayat-ayat suci dan doa-doa. Sebenarnya rencana pergi ke Jepang sudah hancur berantakan saat mendengar Papa berpulang, tapi di atas pusara malam itu semuanya berubah. Di antara duka yang menyelimuti tergambar di benak kebahagiaan Papa bila saya berangkat ke Jepang mewujudkan impiannya.

Saya seperti ditarik kedua arah yang berlawanan; tinggal bersama mereka berbagi airmata duka dan di sisi lain pergi meninggalkan sekumpulan duka. Padahal Jepang awalnya adalah liburan namun juga menjadi tempat kenangan Papa. Entah kenapa situasi seperti itu, -yang saling berlawanan kutub-, sudah terlalu sering hadir secara bersama-sama dalam keseharian kehidupan saya.

Dan hari itu, tepat hari ulang tahun saya, hati saya masih sama, tanpa warna. 


 

Shinkansen Joetsu dengan kereta bernama Tanigawa itu akhirnya berhenti di Stasiun Gala Yuzawa, setelah sekitar 75 menit meninggalkan Tokyo. Kedatangan kami di stasiun itu disambut dengan serangan udara dingin dan hujan salju tipis! Brrrrr….

Meskipun ingin cepat bermain salju tapi sebagai perempuan tetap saja penampilan dipertimbangkan baik-baik. Alhasil perlu waktu cukup lama untuk urusan sewa menyewa sepatu boot, sarung tangan dan peralatan bermain salju. Rasanya sibuk sekali untuk urusan receh seperti ini. Pantas atau tidak, apakah kebesaran atau kekecilan, apakah ini atau itu… belum lagi ditambah, cantik gak ya nanti… bla-bla-bla… *suami nungguin para perempuan dandan, di pojokan  😃

Tak lama sampailah kami pada awal dari sepenggal jalan tanpa warna itu. Kami berempat harus naik kereta gantung, -disebut Gondola di Gala Yuzawa-, untuk sampai pada tempat bermain salju itu. Antrian naik Gondola tidak panjang dan tak lama kami berempat telah duduk dengan hati berdegup kencang jelang berangkat.

Empat manusia tropis dalam Gondola itu tak berucap satu patah kata pun pada detik pertama kereta gantung meninggalkan stasiun. Yang pasti semuanya, termasuk saya, terpesona menyaksikan alam tertutup salju. Putih semua, hanya menyisakan sedikit warna gelap yang tak dapat dijangkau salju. Titik-titik air yang menempel di kaca Gondola tidak menjadi halangan untuk mengagumi keindahan pemandangan alam.

Saya tersadarkan dan merasa ditegur untuk melihat dan mensyukuri apa yang telah diberikan. Yang Maha Kuasa menghamparkan kado ulang tahun terindah buat saya, pemandangan alam yang sangat cantik, yang luarbiasanya, ternyata senada dan selaras dengan sendu hati saya yang sedang kehilangan Papa tercinta.

DSC06817
The trip to Gala Yuzawa
DSC06822
Raindrop on the window

Kereta gantung atau Gondola membawa kami semakin tinggi, bergulir di kabel yang terentang di antara tiang-tiang yang berdiri dalam diam. Begitu banyak pohon dengan ranting-rantingnya yang terlihat berat oleh salju yang bertumpuk-tumpuk. Melihat pemandangan sekitar, seakan-akan alam pun menyesuaikan dengan perasaan saya yang sesungguhnya. Tanpa warna, kelabu. Putih hitam dengan seluruh nuansa kelabu diantaranya.

Meskipun tak bisa menghilangkan denyut duka dalam hati, saya tetap terpesona dan mengucap syukur atas kado ulang tahun berupa keindahan alam yang terhampar di depan mata. Alam Semesta yang begitu indah, meski tanpa warna. Keindahan yang berbeda, yang tak biasa, seperti dunia mimpi, dunia dongeng yang magis dengan peri-peri yang bersembunyi di balik pohon-pohonnya.

Seakan menjelaskan dalam situasi nuansa hitam putih pun, selalu ada keindahan. Di balik duka itu ada bahagia dalam wajah yang sama.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sepenggal jalan tanpa warna itu hanya berlangsung kurang dari 10 menit, terasa begitu cepat. Pemandangan alam penuh salju, bukan merupakan pemandangan biasa bagi orang-orang tropis seperti kami. Sejauh mata memandang, semua tertutup salju. Belum tentu setahun sekali kami bisa melihatnya dan merasakannya.

Sesampainya di tempat bermain ski, begitu turun dari Gondola, anak-anak langsung menghambur keluar. Ingin langsung merasakan salju di sepatu bootnya, di tangannya, di wajahnya. Rupanya kado ulang tahun saya belum selesai, alam masih menambahkan berupa hujan salju tipis. Membuat mereka semua tertawa bahagia sambil foto-foto untuk Instagramnya. Butir-butir salju jatuh di beanie berjambul dan jaket musim dingin yang mereka kenakan. Saya tahu meskipun airmata di dalam hati belumlah kering, namun Allah Yang Maha Baik selalu bisa menggembirakan dan membahagiakan saya, apalagi pada hari spesial.

Tidak hanya kami, di sana orang-orang dewasa pun tanpa malu-malu melupakan ‘jaim’-nya mereka dengan bermain dan melempar salju, meluncur dari atas bukit dengan luncuran plastik yang kekecilan untuk ukuran tubuhnya dan membiarkan tubuh mereka terlonjak oleh gundukan salju dalam tawa yang tak habis-habis. Di sana, duka bersembunyi, yang ada dimana-mana hanyalah gembira dan tawa. Juga saya yang sedang belajar tertawa bersama mereka semua.

Seperti juga semasa kecil, saat bermain adalah saat-saat paling menyenangkan. Bermain, makan lalu bermain lagi, adalah yang terjadi pada kami semua di Gala Yuzawa. Kami semua tak ingin kesempatan bermain salju cepat berlalu. Apalagi saat winter, hari sangat pendek, matahari terbitnya terlambat namun matahari juga cepat tenggelam, jam 5 sudah gelap. Dan waktu jugalah yang akhirnya menyadarkan kami semua, setiap awalan memiliki akhir.

Dan kami harus menempuh lagi jalan itu, sepenggal jalan tanpa warna. Kali ini menurun menuju lembah. Dari sebuah posisinya yang tertinggi, kami masih tetap saja terkagum-kagum bisa melihat Stasiun Shinkansen jauh di bawah sana, tempat kereta yang akan membawa kami kembali ke Tokyo.

Bagi saya sendiri, perjalanan hari itu merupakan perjalanan penuh rasa yang saling bertolakbelakang namun berada di hati yang sama dan tak terpisahkan, dengan pengelolaan yang seharusnya seimbang pula. Sebuah pembelajaran yang mengingatkan saya kepada Sang Nabi-nya Kahlil Gibran dalam Suka & Duka

Bahwa keduanya tidak terpisahkan.
Bersama-sama keduanya datang, dan bila yang satu sendiri bertamu di meja makanmu,
Ingatlah selalu bahwa yang lain sedang ternyenyak di pembaringanmu.

DSC06818

The Gondola of Gala Yuzawa

DSC06819
The valley
DSC06832
Shinkansen Station is down there

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-34 ini bertema Black & White agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Myanmar – Mereka Yang Bersilang Jalan


7

One of the great things about travel is that you find out how many good, kind people there are – Edith Wharton

Matahari telah tinggi saat saya meninggalkan penginapan di Golden Rock menuju terminal truk dan saya cukup kaget mengetahui ternyata rute truk dari Golden Rock tidak melulu ke Kinpun! Uh, betapa naïve-nya saya! Mana dimana-mana tulisannya meliuk-liuk seperti cacing, saya hanya bisa berdiri pasrah melihat orang lalu lalang. Bisa jadi karena akhir pekan, suasana terminal bisa dibilang padat. Seketika saya melipir mengamati situasi dan Alhamdulillah, mata ini menangkap orang yang kelihatannya merupakan pengatur perjalanan truk. Semoga ia bisa membantu saya.

Saya mendatanginya lalu bertanya, “Kinpun?”

Seperti pria Myanmar lainnya, ia mengenakan longjyi lalu sekilas memperhatikan saya dan menyimpulkan saya turis. Tak banyak kata, ia menunjuk tempat truk yang ke Kinpun dan meminta saya berjalan memutar supaya bisa naik tangga. Untunglah, truk sudah hampir penuh dan saya masih bisa duduk menyempil di pinggir bersebelahan dengan ibu-ibu berbadan besar.

Tak lama, dimulailah perjalanan menuruni gunung. Kali ini terasa lebih mengerikan dibandingkan ketika berangkat, mungkin karena gravitasi sehingga kendaraan terasa lebih cepat, atau bisa juga karena jurang dan tikungan seperti huruf U itu lebih terlihat saat jalan menurun. Saya hanya bisa berdoa semoga rem truk berfungsi baik dan cepat sampai ke Kinpun karena saya lebih sering tergencet oleh ibu-ibu sebelah saat truk berbelok di tikungan…dan saya teringat ayam penyet! 😀

Perjalanan menuju Kinpun lebih cepat daripada ketika berangkat, tapi jangan harap berhenti di terminal truk seperti saat berangkat. Itu masih beberapa ratus meter! Jadi saya harus clingak-clinguk mencari tempat bus parkir. Asli, bus kalau sedang dicari tak pernah nampak hidungnya! Saya jalan lurus saja padahal tak tahu arah. Jika tersesat ya balik lagi! Lagi-lagi saya tersenyum sendiri, siap menerima semua kejutan yang terjadi hari ini.

Rupanya kedua kaki ini mengarahkan tepat menuju terminal bus dan ternyata memang ada bus yang siap berangkat. Dan pastinya lewat Kyaikto. Horeee! Sambil membeli tiket ke Kyaikto, saya mencoba peruntungan tiket bus lanjutan ke Hpa’an. Ternyata petugas tiket bisa mengaturnya. Tambah horeee… Tidak ragu saya langsung naik ke bus yang termasuk kategori bus scania (double deck) yang lumayan bagus.

kinpuntokyaikto-e
Scania Bus (Double Deck) from Kinpun to Kyaikto

Perjalanan dari Kinpun menuju Kyaikto tidak sampai 1 jam. Kenek bus memberitahu saya saat harus turun di Kyaikto! Benar-benar turun di pinggir jalan, -bukan di halte atau terminal-, dan harus menunggu bus yang lewat untuk ke Hpa’an. Mau komplain? Tidak! Ini seru!!!

Di tempat saya diturunkan itu, -katakanlah halte dadakan-, ada seorang anak muda yang melayani penumpang yang diturunkan seperti saya ini. Selain saya, ada 3 orang lainnya yang merupakan orang lokal dan mereka berceloteh dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Tiba-tiba anak muda itu menyodorkan kursi kepada saya untuk duduk. Aduh, saya terharu dengan pelayanannya.

Tetapi pelayanan itu masih harus dibuktikan dengan adanya bus ke Hpa’an, kan? Mata saya tak mau lepas dari si anak muda, satu-satunya orang yang tahu saya sudah bayar transportasi untuk ke Hpa’an. Dan apa yang saya takutkan terjadi juga. Setelah ketiga orang lokal itu mendapat busnya, si anak muda pun ikut kabur naik motornya. What? Lalu saya gimanaaaaa..?

Bahkan saya tak sempat berdiri untuk mengejarnya. Alih-alih ngomel berkepanjangan, secara intuitif saya mencoba sabar dan mengamati situasi. Tiiiing! Saya tersadar beberapa kali mengalami hal serupa ini dalam hidup, sebuah situasi ‘chaos’ lalu diikuti oleh “kunci penjelasan”. Hanya dengan duduk diam mengamati situasi setelah chaos terjadi. Menunggu “sang kunci” datang. Satu, dua, tiga menit berlalu, rasanya lama sekali, seperti menunggu kekasih datang! Dan menit ke lima, kesabaran saya berbuah hasil, si anak muda datang kembali bersama motornya.

Ketika ia sudah memarkir motor, saya langsung mendatanginya dan mengingatkan bahwa saya belum mendapat bus ke Hpa’an. Ia mengangguk memahami dan saya membayangkan dia bicara, don’t worry, the bus will come  😀

Entah berapa lama saya menunggu di bawah pohon di depan sebuah kios, akhirnya dengan tergopoh-gopoh dia mendatangi dan meminta saya bersiap-siap. Saya langsung berdiri menyambar ransel lalu mengejar dia yang secepat kilat sudah berada di tengah jalan! Untung tidak ada lalu lintas sehingga saya bisa langsung menyeberang.

Bus jenis scania itu berhenti di pinggir seberang, pemuda tadi bertransaksi dengan orang yang sepertinya kenek bus. Sambil melambaikan tangan mengucapkan terima kasih, saya naik ke dalam bus, berdiri di depan menghadap para penumpang hanya untuk melihat tidak ada satupun kursi yang kosong! Celaka! Bagaimana ini? Apakah saya harus duduk di bangku ‘baso’, seperti yang sering terjadi di Myanmar?

Kenek yang tadi bertransaksi dengan si pemuda, berbicara tak jelas dalam bahasa Myanmar dan setengah memaksa saya untuk berjalan lebih ke dalam lalu ia membuka lipatan yang ada di bagian luar lengan kursi lorong. Itu dia bangku ‘baso’-nya! Bukan seperti bangku baso yang ada di Indonesia yang terbuat dari plastik dan tidak nyaman, bangku ‘baso’ di bus ini empuk. Jadi sambil memeluk ransel, sekarang saya bisa duduk enak dan nyaman di tengah. Sebagai turis, -apalagi mengenakan topi genit-, saya tahu saya sedang menjadi pusat rasa ingin tahu dari banyak penumpang lain, tapi dengan santainya saya mengabadikan situasi tempat duduk yang menurut saya hanya ada di Myanmar! Hehehe…

Bus berjalan lagi melewati desa demi desa, satu persatu penumpang naik dan mengisi tempat duduk tambahan di depan saya. Lalu setelah beberapa lama, penumpang di belakang saya hendak turun dan seluruh penumpang kursi tengah yang duduk sepanjang lorong harus berdiri memberi jalan. Baiklah, harus bagaimana lagi?

Tapi percayalah, sebagai traveler kita selalu mendapat kebaikan dari orang-orang lokal. Sebagai orang asing, -dianggap sebagai tamu sesuai adat ketimuran-, saya dicarikan tempat duduk yang bukan di kursi tambahan. Meskipun saya sendiri tidak masalah duduk di kursi tambahan, namun sepertinya mereka ingin memberikan yang terbaik. Penumpang yang lebih muda diminta mengalah untuk duduk di kursi tambahan itu. Tidak ada yang protes, semua senang, apalagi saya. Tapi saya ditempatkan di sebelah laki-laki muda.

Saya ragu-ragu untuk mendudukinya mengingat adat dan tradisi yang berlaku, karena di Myanmar biasanya perempuan dan pria yang tidak saling kenal duduk terpisah lorong dan tidak bersebelahan. Tetapi sang pemuda sepertinya tidak keberatan, ia sedikit bergerak memberikan keleluasaan untuk saya. Saya tersenyum padanya sambil mengatakan terima kasih.

Bus bergerak lagi. Di barisan belakang ada seorang isteri yang kelihatannya mabuk. Tak henti-hentinya ia berusaha mengeluarkan angin dari dalam tubuhnya dan sekali-sekali memuntahkan isi perutnya. Baunya ya… seperti biasa, menyebar ke seluruh bus. Mau complain? Duh, rasanya mendadak di hadapan muncul Guru Tak Kasat Mata memberi wejangan tentang pembuktian compassion kepada yang sedang menderita! 😀

Sambil mengisi waktu, saya melihat-lihat kembali foto-foto yang ada di kamera dan senyum-senyum sendiri mengingat setiap peristiwanya. Pemuda di sebelah saya sepertinya mengintip juga lalu membuka pembicaraan yang akhirnya kami ngobrol panjang lebar. Juga ibu-ibu yang ada di seberang lorong. Wah saya punya teman ngobrol banyak. Semuanya ingin tahu, mengapa saya melakukan perjalanan sendiri, sudah kemana saja, soal keluarga, dimana mereka, dan banyak lagi. Wajah mereka semakin cerah dengan mata berbinar ketika mereka tahu saya mengunjungi Myanmar bukan yang pertama. Rasanya bukan mereka saja yang gembira karena saya juga gembira bercerita tentang pengalaman saat kunjungan pertama dan melihat perkembangannya yang baik pada kunjungan kali ini. Siapa sih yang tidak senang mendengar kisah perkembangan yang baik?

Dan bahkan pemuda tidak diketahui namanya itu, juga memberitahu saya untuk mencari tahu lokasi terdekat dengan hostel untuk turun dari bus karena bus tidak akan masuk ke terminal Hpa’an. Ia juga membantu saya mencarinya melalui google maps-nya. Dan 5 menit sebelum berhenti, saya mengucapkan terima kasih kepada mereka semua yang menjadi teman baru selama perjalanan ke Hpa’an dan berjalan mendekat ke pengemudi. Lagi-lagi saya turun di pinggir jalan. Semoga google-maps benar!

Saya berdiri sejenak menunggu bus berlalu dan berpikir, ini kiri atau kanan? Sambil melakukan positioning arah saya melihat sekitarnya dan voilaaa…! Itu dia hostel boutique yang cantik, tempat saya menginap di Hpa’an.

Tak sampai 80meter berjalan, saya memasuki hostel dan disambut oleh perempuan bertubuh kecil yang bicaranya cepat, dan tidak begitu ramah. Ah, rupanya dia yang ditandai oleh beberapa tamu yang memiliki kesan yang sama, bicara cepat, efisien, informatif namun tidak begitu ramah. Bagi saya, dia seorang perempuan yang sedang bekerja untuk hidupnya dengan muka datar, tak perlu basa-basi. Itu pilihannya. Namun jika saya boleh memilih, kelihatannya resepsionis yang berdiri di sebelahnya lebih menyimpan perhatian. Dari sorot matanya, saya tahu dia bisa diandalkan.

*

Di hostel kecil yang cantik ini saya memesan kamar privat yang mungil dan bercitarasa tinggi meskipun jendelanya kecil dan pemandangannya secuil sungai. Semua sudah sempurna, lagi pula hanya sehari di sini dan lebih banyak keluar. Saya membersihkan diri sejenak lalu menatap keluar jendela. Matahari masih terang benderang sehingga punya banyak waktu untuk mengunjungi beberapa tempat wisata Hpa’an.

Saya merebahkan diri sejenak, bersyukur telah sampai di Hpa’an sambil berpikir mau kemana dan mengingat kembali orang-orang yang telah bersilang jalan dalam kehidupan saya hari itu. Tapi merebahkan diri itu tindakan salah besar karena udara sejuk dari AC mendinginkan badan yang membuat saya tertidur lelap… Ampun!

A Dose of Vitamin Sea


Salt water heals. Sweat, Tears and Sea. So don’t wait, let’s have some dose of Vitamin Sea

Mungkin juga tidak berlaku untuk sebagian orang, tetapi bagi saya, di saat stress melanda begitu menekan, -baik di lingkungan kantor ataupun pribadi-,  Vitamin Sea merupakan salah satu terapi yang lumayan ampuh untuk dijalankan. Memang tidak menghilangkan sama sekali, tetapi minimal bisa mengangkat mood menjadi lebih baik.

Seperti duluuu… ketika saya sekeluarga melakukan perjalanan mudik Lebaran melalui jalur Selatan menuju Jogjakarta dan terjebak di perjalanan hingga belasan jam, suami saya yang menyetir malah melakukan detour sebentar ke pantai selatan. Bisa jadi dia sudah jengkel melihat antrian kendaraan di Jalur Selatan yang tidak habis-habis itu dan ingin mengistirahatkan matanya sejenak dengan melihat laut.

IMG_4930
Southern Beach before Sunset

Saya sekeluarga menjejak pantai pada sore hari, kurang dari dua jam sebelum matahari terbenam. Suara deru ombak yang berkejaran menenangkan hati. Badan yang lelah terjebak dalam kendaraan selama berjam-jam mendadak bebas bergerak, sangat menyenangkan rasanya. Saya memandang ke laut lepas, mengagumi lembutnya sinar mentari sore yang tak lagi menyilaukan dan membiarkan air laut yang asin itu menyentuh kaki. Rasanya ingin berlama-lama menceburkan diri main air jika saja tak ingat harus melanjutkan perjalanan segera. Rehat itu hanya sejenak, namun sentuhan air itu cukup menularkan semangat bertahan untuk meneruskan perjalanan ke Jogja.

*

Tetapi dari pinggir laut saya juga mendapatkan pengalaman lain yang penuh makna. Saat itu masih di pantai selatan Jogjakarta, meskipun pada kesempatan yang berbeda. Saatnya sama, jelang matahari terbenam juga, tetapi situasinya sama sekali tak serupa. Tak ada rasa hangat saat itu, tak ada rasa ingin bermain di pantai saat itu. Jauh dari semua rasa itu.

Awan gelap menggantung di atas saya meskipun sedikit terang di horison. Sebuah kapal terlihat jauh di batas pandang, seakan meninggalkan saya yang terjebak di bawah awan badai. Ombak datang lebih cepat, lebih menderu yang bagi saya, terasa mengancam. Hempasannya tak main-main. Seakan berkata tanpa satu pilihan, jangan mendekat atau kamu akan disikat.

Anger is like Gasoline. If you spray it around and somebody lights a match, you’ve got an inferno. But if you can put it inside the engine, it can drive you forward.

Begitu juga Vitamin Sea, jika dilakukan bukan pada waktu yang tepat dan tidak sesuai dengan dosisnya, maka Vitamin Sea itu bisa berbalik arah menjadi sebuah ancaman yang membahayakan. Pada akhirnya manusia seharusnya yang belajar memahami alam dan tidak menantangnya.

Karena alam memiliki aturannya sendiri yang sudah jelas. Sebagian manusia dengan segala kepandaiannya justru kadang tak mampu menjaga alam. Alam yang terlahir cantik dengan keindahan luar biasa justru mendapatkan upaya penghancuran dari manusia-manusianya.

Akankah kita mampu menjaga keindahannya? Menjaga kebersihan pantai dan laut dari sampah, menjaga kelestarian biota laut? Saya seringkali gemas dan miris melihat foto-foto orang yang menginjak terumbu karang, atau mengangkat bintang laut ke udara tanpa rasa salah atau merasa lucu saat menduduki penyu yang sedang menuju laut. Apakah manusia-manusia itu pernah merasakan dipisah paksa dari lingkungan hidupnya yang utama, apakah mereka pernah dipaksa berada dalam ruang tanpa oksigen? Apakah mereka pernah diinjak dengan beban berlebih hanya untuk mendapatkan sebuah kesenangan?

Padahal keindahan pantai dan laut bisa membuat hati menjadi lebih nyaman, stress bisa terkendali. Rasanya luar biasa jika bisa melihat pantai pasir putih yang panjang dan bersih serta warna biru lautannya, apalagi jika air laut yang jernih. Indah sekali tentunya.

P1000693
Dreamland Beach in Bali

Atau seperti di pantai Kuta di Bali atau pantai-pantai indah lainnya yang menghadap Barat saat mentari terbenam mampu memberikan suasana romantis. Saat bola matahari itu perlahan-lahan ditelan horison, memberikan pendar warna kuning keemasan di langit Barat, siapa yang tak suka? Apalagi disaksikan bersama orang tercinta…

Jangan seperti saya yang pernah datang sendiri untuk menyaksikan matahari terbenam di Pantai Kuta tapi menjadi ingin menimpuk sepasang kekasih yang duduk di depan saya karena mereka saling berciuman tepat setelah matahari hilang dari horison. Bikin iri kan? 😀 😀

P1000475
Sunset in Kuta, Bali

Tidak bisa disanggah, berada di pantai memandang lautan dan mendengar deru ombak yang saling berkejaran memang sebuah terapi yang ampuh untuk mengendalikan stress seakan ombak membawa pergi semua masalah yang sedang dihadapi sehingga kita menjadi lebih jernih dalam berpikir.

Bayangkan saja, saat saya di Korea Selatan, saya menyempatkan diri ke Pantai Haeundae, padahal waktu itu musim gugur dan tentu saja udara serta air lautnya dingin sekali. Meskipun begitu, saya senang sekali menyaksikan sekumpulan anak-anak TK bersama gurunya menari di pantai dengan iringan lagu Gangnam Style yang waktu itu sedang ngetop sedunia. Lucu sekali!

Juga saat berkendara dari Danang menuju Hue di Vietnam Tengah, saya sempat mengambil foto pantai yang menggoda saya untuk singgah. Deburan ombaknya itu benar-benar sangat menggoda dan jika saja sopir mobil yang saya sewa itu tak menyebalkan, tentu waktu itu sudah saya sempatkan berhenti di pantai. Just to take a Vitamin Sea!

Sampai sekarang saya tak pernah lupa pengalaman berada hanya berdua dengan suami di Pantai Selong Belanak di Lombok Selatan yang berpasir putih sangat panjang hingga menyilaukan. Benar-benar seperti pantai pribadi!

Soal Vitamin Sea, Indonesia selalu di hati!


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-33 ini bertema Vitamin Sea agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

The Eye Catching Haji Lane


Meskipun bersih, aman, tertib dan hal-hal positif lainnya, bayangkan saja kalau saya mendatangi tempat itu pada saat siang hari bolong yang terik, tanpa angin sedikitpun dan gerah dengan kelembaban maksimum… Aduh, benar-benar saya ingin ngadem di tempat yang ada AC-nya. Ada sih tempat ber-AC tapi harus mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu di tempat itu dan saya ‘kikir‘ untuk itu. 😁

Saya sendiri merupakan tipe yang cepat berkeringat bila bergerak sedikit, apalagi jika kepanasan. Belum lagi baju kaos yang saya kenakan ini bukan tipe dry-fit yang biasa dipakai jika sedang travelling. Jadi rasanya seperti tikus kejebur got. Basah kuyup dari ujung rambut merata ke permukaan kulit. Dan baunya menyebalkan!

Dalam kondisi seperti itu, saya selalu mencoba berjalan melipir di bawah keteduhan bayang-bayang gedung. Tapi di Haji Lane, sebuah area di antara kawasan Kampong Glam dan Arab Street, Singapura, rasanya tidak tepat jika berjalan melipir karena kekuatan dari area Haji Lane ini adalah keindahan seni di seluruh toko-toko di kawasan itu. Jadi seharusnya kita sebagai turis, jalan di tengah dan tinggal menengok kiri atau kanan untuk menikmati mural yang cantik serta artistiknya penataan toko.

 

Saya masih kepanasan sehingga menyempatkan berteduh sesaat di beranda depan sebuah toko. Namun dari tempat berdiri, tak ada satu pun yang tak menarik. Semuanya terlihat asri dan memanjakan mata. Sebuah instalasi gajah putih dengan cat hiasan berada di depan toko yang berarti gajah. Cara jitu agar pengunjung langsung mengetahui lokasinya tanpa perlu membaca. Cari saja yang ada gajahnya, demikian mungkin pesan pemilik toko itu 🙂

DSC07021

Berbelok di sebuah sudut, saya mendapati mural-mural yang menarik. Mural wajah-wajah pada dinding lebar yang membuat saya berpikir apa kira-kira yang ada dalam pikiran pembuatnya sehingga ia menciptakan karya seni seperti ini. Wajah seorang tua yang telah menelan asam garam kehidupan dan wajah seorang gadis yang misterius.

Hanya perlu selemparan batu, saya sampai pada mural lain yang juga menarik. Kali ini juga dilengkapi dengan tambahan manekin-manekin berhias di atap. Saya tidak mau mengintepretasikan maknanya dan membiarkan rasa keindahan memasuki rasa. Saya bukanlah seorang ahli terhadap hal-hal seni seperti ini, sehingga yang bisa saya lakukan adalah menikmatinya saja. Bahkan tempat gas pun tak lepas dari hiasan.

DSC07036eDSC07036e1

Saya mendekat pada tempat pelindung gas. Di sisi pelindung itu ada peringatan agar bertindak hati-hati. Hati menjadi kecut juga saat membaca peringatan lebih lanjut. LPG Highly Flammable, No Smoking, No naked lights. Padahal di dekatnya ada meja dan kursi untuk pengunjung. Aduh, membaca ini, -meskipun jauh berbeda penyebabnya-, entah kenapa mengingatkan saya pada kejadian bom Bali dulu, musibah yang datangnya dari ledakan di antara pengunjung.

Tapi siapa sangka yang cantik dan indah itu didalamnya terdapat hal yang sangat berbahaya dan bisa meledak jika tidak dirawat dengan baik?

Saya masih melanjutkan jalan kaki cantik di kawasan yang termasuk kota tua Singapura tersebut. Di ujung jalan masih ada dinding lebar yang penuh dengan mural warna-warni yang menyolok. Keren sekali.

Akhirnya karena tak tahan kegerahan, saya memaksa diri untuk mengikhlaskan hati mengeluarkan uang lalu mampir ke salah satu kafe kecil untuk menikmati es krim segar sekaligus mendinginkan tubuh. Nikmatnya luar biasa, meskipun agak sebal saat melihat tagihan di kasir 🙂

Akhirnya, meskipun kepanasan karena berkunjung pada waktu yang tidak tepat, saya tetap merasa senang jalan-jalan cantik di kawasan Haji Lane ini, yang dipenuhi pemandangan artistik yang memanjakan mata dan juga toko-toko kecil yang lucu serta kafe untuk sekedar melepas lelah. Akomodasinya pun tersedia banyak di sekitar Haji Lane dan Kampung Glam. Apalagi transportasi publiknya yang selalu tersedia. Satu-satunya yang kurang hanya satu, Singapura semakin menguras isi kantong 😀 Itu menurut saya siih…

DSC07012DSC07047DSC07028


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-32 ini bertema Eye Catching agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Kamboja, Negeri Penuh Makna


Rasanya masih ingat moment istimewa jelang akhir tahun 2010 itu, saat hendak menentukan mau ke negara mana lagi di kawasan Asia Tenggara. Ketika itu saya memegang buku Lonely Planet Southeast Asia on A Shoestring dan sudah menentukan prioritas, Vietnam berada di peringkat atas dan Kamboja berada paling bawah. Alasannya sederhana. Saya meletakkan Kamboja  paling bawah karena saya takut hantu dari orang-orang yang meninggal tak wajar dan Kamboja bisa dibilang jawaranya, karena belum lama keluar dari masa kelam akibat genosida Khmer Merah itu. Seorang teman yang sering menakut-nakuti selalu bilang, anggaplah 1 persen dari korbannya menjadi hantu, itu artinya 16.000 dan itu banyaaaakkk!

Tetapi faktanya, seperti bumi dan langit. Setelah momen itu, di kuartal pertama tahun berikutnya saya justru mengunjungi Kamboja, bahkan hingga berkali-kali bolak balik ke negeri itu dan Vietnam baru saya kunjungi di penghujung akhir tahun 2015, itu pun hanya satu kali ke Vietnam Tengah yang hingga kini angka itu belum berubah 😀

Lalu apa yang membuat saya ke Kamboja?

Angkor Archaeological Park 

Sebagai penggemar sejarah dan candi-candi Hindu Buddha, bisa dibilang saya ternganga ndhlongop saat pertama kali ke kompleks candi Angkor, yang jumlah bangunannya banyak sekali dan tidak cukup tiga hari dikelilingi. Angkor Wat saja sudah luas sekali, Belum lagi di tambah Phnom Bakheng dan kawasan Angkor Thom yang ada Baphuon, Bayon, kawasan Royal Palace lengkap dengan Phimeanakas, lalu Terrace of The Elephants dan Terrace of the Leper King. Tentu saja dengan ke lima gerbang Angkor Thom yang keren-keren itu. Dan yang pasti Ta Prohm temple yang selalu dihubungkan dengan film Tomb Raider-nya Angelina Jolie. Ada yang sudah pernah ke Preah Khan temple atau Banteay Kdei? Hmmm, bagaimana dengan Ta Som, Neak Pean, East Mebon, Takeo, Pre Rup dan Prasat Kravan serta kompleks candi Roluos atau Banteay Samre dan Banteay Srei?

Bahkan saya tak puas hanya sekali atau dua kali, sehingga setiap ada kesempatan ke Kamboja saya selalu mengupayakan ke Angkor. Tidak heran, hampir semua candi itu sudah saya datangi. Hampir semua, supaya ada alasan untuk kembali lagi!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tidak hanya itu, bisa dibilang saya telah meninggalkan jejak di hampir seluruh kompleks candi di Kamboja, termasuk kompleks candi yang sangat remote. Di Preah Vihear yang di perbatasan dengan Thailand, atau Beng Mealea dan Koh Ker. Bahkan kompleks candi Preah Khan Kp. Svay yang sangat jauh dari perkampungan manusia pun saya kejar. Juga kawasan percandian Sambor Prei Kuk yang belakangan ini mendapat gelar UNESCO World Heritage Site. Selain candi-candi kecil di dekat Battambang atau Phnom Penh, saya mendatangi juga kawasan percandian Banteay Chhmar yang lokasinya dekat dengan Sisophon, tak jauh dari perbatasan Thailand. Dan bagi saya ini, masih banyak tempat yang bisa saya datangi untuk melihat candi.

Jadi kalau ke Kamboja, tidak ke Angkor… itu namanya belum ke Kamboja hehehe…

Tuol Sleng & Choeung Ek

Meskipun saya ini penakut, saya memberanikan diri pergi ke “ground zero“-nya penyiksaan Khmer Merah ini. Kok nekad? Karena saya percaya dengan nasehatnya Nelson Mandela yang mengatakan The brave man is not he who does not feel afraid, but he who conquers that fear. Dan mengalahkan ketakutan saya ini membukakan pintu-pintu pemahaman dan makna buat saya.

Bahwa demi ideologi, bagi sebagian manusia, nyawa manusia lainnya menjadi tak berarti hanya karena berbeda.

Di tempat ini saya juga belajar bahwa penggiringan falsafah tanpa keberagaman akan membawa kepada konsep diktator yang merusak tatanan kehidupan. 

Jika datang kedua tempat ini tidak dapat menggerakkan rasa kemanusiaannya, sepertinya diragukan kenormalannya sebagai manusia yang berperasaan hehehe…

IMG_5453

Wajah Maaf & Kebesaran Jiwa

Sebagai akibat peristiwa genosida yang menghabisi satu generasi, tak jarang saya menyaksikan wajah penuh maaf dan toleransi pada penduduk lokal Kamboja, Ketika perang sipil berlangsung dalam waktu yang panjang dan mengakibatkan penderitaan tak berkesudahan, satu-satunya jalan untuk hidup lebih baik adalah pemberian maaf, toleransi dan memiliki kebesaran jiwa. Dendam tak akan pernah membawa kebaikan, kecuali hanya membawa derita. Bagaimana mungkin mendendam kepada orang yang sama-sama menderita, yang mungkin sama-sama dikenal, mungkin sama-sama tetangga di kiri kanan rumah, bahkan mungkin sebagai kerabat. Hanya orang yang memiliki kebesaran jiwa yang bisa keluar seutuhnya dari neraka kemanusiaan yang pernah terjadi di bumi Kamboja.

Jika Anda ke Kamboja dan bisa menjadi saksi wajah maaf dan kebesaran jiwa yang dimiliki sebagian penduduk tua di Kamboja, maka berbahagialah. Sesungguhnya tak mudah menemukan hal itu sekarang.

Kemiripan Budaya 

Saya yang termasuk picky terhadap makanan asing, ternyata lidah saya bisa menerima dengan nyaman makanan dari Kamboja, terutama fish amok yang luar biasa enak itu. Campuran bumbu yang ada di dalamnya membuat lidah saya sepertinya ‘kenal’ dengan yang biasa saya telan di negara sendiri, sehingga saya welcome saja dengan makanan Kamboja. Bisa jadi karena tradisi memasak sesungguhnya berakar dari sumber yang sama yaa… Belum lagi cara mereka membungkus makanan atau kue-kue yang juga menggunakan daun pisang. Tidak jauh beda dengan kita kan?

Saya juga teringat dengan minuman selamat datang yang diberikan hotel saat saya check-in. Saya mengira akan diberikan minuman rasa jeruk, apel atau buah-buahan standar lainnya tetapi mereka justru memberikan saya sereh (lemongrass) yang amat segar. Meskipun berbeda dari biasanya, lidah saya mengenal rasa itu seperti di Indonesia. Saya justru terkejut gembira mendapatkan sesuatu yang familiar seperti di negara sendiri.

Dan selagi di sana, saya biasanya memperhatikan wajah penduduk asli Khmer. Meskipun menurut saya hidung orang Indonesia lebih bagus, wajah penduduk asli Kamboja bisa dibilang lebih mirip dengan kita, dibandingkan dengan Malaysia. Ini menurut saya lho… Dan karena sejalan dengan penyebaran Indianisasi, banyak kata-kata bahasa Khmer yang dari pengucapan bisa dibilang mirip atau tak jauh dengan bahasa Indonesia. Dan mengetahui hal ini, sangat menggembirakan saya dan mencari tahu lebih banyak lagi… Contohnya, Guru dan Krou (dengan huruf o-nya hampir hilang), Kampung dan Kompong, Kerbau dan Krabei (i-nya hampir hilang), Pasar dan psar, Kapal dan Kbal. Muka dan muk. Menarik kan? Ada yang pernah tahu kata-kata apalagi yang mirip?

Kalau bicara seni tradisional, wah bangsa Kamboja juga memiliki pertunjukan wayang, meskipun ukuran wayangnya besar (bisa lebih dari 1 meter) dan dimainkan oleh lebih dari satu orang dan layar putihnya panjang sekali. Saya sendiri menikmati pertunjukan wayang Kamboja ini justru di Jakarta dan belum pernah menyaksikan langsung di tempat asalnya. Malam itu, -disaat semua orang sedunia menyaksikan pernikahan agung Pangeran William dan Kate Middleton di London-, saya justru menikmati cultural performance dari Kamboja di Jakarta, hehehe…

Selain itu di Kamboja juga memiliki tarian tradisional yang dilakukan berpasang-pasangan dengan menggunakan tempurung kelapa yang saling diketok satu sama lain, seperti tarian tempurung di Indonesia. Pernah lihat?

Nah, siapa diantara kita yang suka kerokan ketika sedang ‘masuk angin‘? Kebiasaan turun temurun dari para leluhur yang dikenal dengan sebutan kerokan itu ternyata dikenal juga lho di Kamboja. Meskipun namanya bukan kerokan, melainkan goh kyol.

Dan bertemu teman-teman Indonesia…

Di Kamboja, saya memiliki teman-teman baru yang memiliki keterikatan yang kuat dengan Kamboja. Entah yang seperti saya yang sekedar berkunjung, atau mereka yang bekerja di sana. Apapun itu, mereka adalah orang-orang hebat. Dan bukan di kedutaan kami bertemu, melainkan di sebuah warung. Warung Bali di Phnom Penh, tepatnya. Tempat itu sudah seperti kedutaan Indonesia yang tak resmi, yang berlokasi sangat strategis karena hanya selemparan batu dengan Museum Nasional dan Royal Palace serta tempat hang-out di sekitaran kawasan riverside di Phnom Penh. Dan jika beruntung, kita bisa berdiskusi hangat di sana sambil diselingi humor. Rugilah kalau ke Kamboja tidak sempat mampir ke Warung Bali. Makanannya enak-enak dan lidah bisa istirahat sejenak dari berbahasa Inggeris terus di sana…

Terlepas dari berita-berita negatif tentang Kamboja yang dialami pejalan dari Indonesia, seperti penjambretan tas di tuktuk, atau korupsi kecil-kecilan di perbatasan, atau kesan ‘Kamboja itu gak ada apa-apa’, atau ‘negara miskin’, bagi saya pribadi Kamboja tetap menjadi negara yang akan saya datangi secara rutin di kemudian hari selama Tuhan mengizinkan. Dimanapun kita harus tetap waspada dengan barang-barang kita sendiri. Dan soal korupsi, selama negara sendiri belum bebas sepenuhnya dari kata itu, sebaiknya kita tak menunjuk negara lain, karena meskipun hanya satu noktah, kita terpapar juga.

Lagi pula bagi saya, berkunjung ke negara lain itu untuk mencari makna perjalanannya sendiri dan bersyukur punya negara sendiri serta bukan menjadi sebuah pertandingan untuk banyak-banyakan stamp imigrasi (Lhaa… kalau mau banyak-banyakan, bisa susun itinerary 1 hari 1 negara, atau langsung terbang lagi setelah dapat stamp, sampai mabok! 😀 😀 😀 )


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-31 ini bertema Cambodia agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

It’s Not Me vs. Dare To Dream


If I’m not for myself, who will be for me? If not this way, how? If not now, when? – Primo Levi

Pernah suatu kali saat sedang boarding, -mungkin karena lelah dan sedang bad mood dengan teman perjalanan yang demanding dan arogan-, saya melemparkan kekesalan kepada penumpang lain yang menjajah tempat duduk saya hanya karena ia ingin bersebelahan dengan keluarganya dan beranggapan saya luluh atas dasar kasihan. Saat itu, saya tidak bisa dinegosiasi, lagi pula saya sudah mengeluarkan uang untuk tempat duduk itu. Tambahan lagi, kalau penumpang itu mau dempet-dempet bagaikan kembar siam dengan keluarganya, mengapa tidak beli kursi? Parahnya dia sudah beranggapan saya bisa diatur-atur sekehendaknya dengan bicara seenak-udelnya hanya dengan mempertontonkan rasa iba khas perempuan yang sedang merayu laki-laki untuk mendapatkan yang dia inginkan.

Dia tidak tahu saya lagi bad mood tingkat dewa dan laksana naga, api sudah siap menyembur dari mulut. No way, get the hell out of my way. Saya tidak peduli, saya tidak kasihan terhadap orang yang pelit mengeluarkan uang demi kedekatan keluarga, saya tidak bertoleransi terhadap orang yang selalu minta ditoleransi. Sebagai sama-sama perempuan, bisa jadi dia kaget mendengar ketegasan saya mempertahankan apa yang menjadi hak saya. Untung dia mingkem ditarik keluarganya yang lain sebelum saya ‘menghajar’-nya lebih jauh.

It’s Not Me, It’s Not Me, berkali-kali saya mengatakan itu dalam hati beberapa saat setelahnya, sedikit menyesal. Saya seharusnya tak perlu sebegitu kakunya, saya seharusnya bisa lebih fleksibel, saya seharusnya lebih bersabar… meskipun saya tahu persis, saya tak wajib mengalah untuknya.

Tetapi tetap saja saya merasa ada hal yang kurang dilakukan. Saya meletakkan batas kesabaran saya lebih cepat daripada seharusnya. Saya kurang mengeksplorasi toleransi. Pertempuran dalam hati itu berlangsung terus, rasanya saya melakukan sabotase pada gambaran menjadi orang baik yang selalu saya impikan. Benarkah hal itu merupakan sabotase?


Dalam situasi yang berbeda…

Saat saya ke Nepal pertama kalinya di tahun 2014, saya langsung menggeleng ketika ditanya oleh agen perjalanan apakah saya mau trekking selama saya di sana. Juga pada saat saya berada di bandara domestik Nepal, saya melihat begitu banyak yang sedang menunggu pesawat yang akan membawanya ke destinasi impiannya. Bagi saya saat itu, It’s Not Me banget. Trekking bukan jalan saya, karena saya ini penggemar budaya dan sejarah, paling saya memilih yang aman, yang bisa saya lakukan dengan damai, tidak perlu bersusah- payah mendaki gunung. Saat itu saya penganut filosofi Kapten Haddock, dalam serial komik Tintin karangan Herge, yang katanya, buat apa naik gunung, jika nanti harus turun lagi? 

Dan tiba-tiba di bulan Oktober 2016, tepat dua tahun setelah ke Nepal, tiba-tiba saya mendapat ‘panggilan’ untuk ke Nepal lagi, tetapi kali ini bukan untuk budaya atau sejarah, melainkan untuk trekking! Karena saya lebih sering percaya pada intuisi, saat itulah terjadi pertempuran dalam diri antara meyakini bahwa saya tak mampu karena trekking bukan saya banget (It’s Not Me); dengan adanya keinginan untuk mewujudkan impian berdasarkan intuisi yang datang tiba-tiba itu (Dare to Dream).

Pilih mana, It’s not me atau Dare to dream?

Saya memberanikan diri untuk memilih yang kedua. Bahkan pada saat saya belum tahu apakah ada teman yang mau diajak trekking bersama. Paling buruk adalah solo-trekking! Entah vitamin apa yang saya telan sehingga memiliki kenekadan seperti itu. Tetapi bukankah hal ini merupakan sebuah tantangan yang belum pernah saya lakukan? Saya terus berpegang pada impian itu, membebaskan diri saya dan tidak ingin memberikan batasan pada diri sendiri. Dengan terus membebaskan diri dengan melepas batasan limit, saya tidak mau lagi berpikir it’s not me, minimal saya akan mencobanya, terus dan terus. Karena dengan mencoba saya menjadi tahu hasil akhirnya, daripada diam yang tidak akan pernah membawa saya kemana-mana kecuali mimpi belaka tanpa tahu rasanya.

DSC06115
Lower Mustang, Nepal

Hari demi hari saya sambut dengan berpegang terus pada Dare to dream. Saya mempercayai kebenaran kata-kata Paulo Coelho, When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. Buktinya memang ke arah sana. Bahkan saat bertemu dengan Tony Fernandes, sang co-founder AirAsia, beliau menuliskan hal yang sama di dalam buku catatan saya, Dare to dream!

Dan akhirnya pada bulan April 2017, saya benar-benar menapaki Himalaya di kawasan Annapurna, lalu beberapa bulan setelahnya, saya menapaki jalan-jalan menuju Namche Bazaar di jalur trekking yang menuju Everest Base Camp, dan di tahun 2018, saya merambah untuk trekking ke kawasan Lower Mustang. Semuanya di Nepal.

Hanya dengan menggeser atau mengganti sudut pandang!

Lain kali, saya akan sangat berhati-hati dengan ucapan, It’s Not Me! Karena dengannya saya telah menjadikannya alasan, agar saya percaya bahwa saya tidak mampu. Bukankah dengan berkata itu, saya bahkan memberi energi untuk melakukan sabotase, untuk menggagalkan impian saya sendiri?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-30 ini bertema It’s Not Me agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Keikhlasan Dalam Lemari Kaca di Sudut Sepi Pagoda


Pagoda Phaung Daw Oo memang terkenal di Danau Inle, Myanmar. Hampir semua turis yang menyempatkan diri mengelilingi Danau Inle, biasanya berhenti di Pagoda ini. Termasuk saya, yang tidak hanya mengunjungi Pagoda  pinggir danau yang hingga kini menyimpan 5 buah Buddha Image berlapis emas, tetapi juga sempat-sempatnya mengambil uang melalui ATM di sini (kebayang kan, di Myanmar, lalu kota  pinggir danau itu hanya kota kecil, dan untuk sampai ke Pagoda harus menyeberangi danau besar itu sampai ke desa, nah itu lokasi ATM-nya!)

DSC08379
Phaung Daw Oo Pagoda, Inle Lake, Myanmar

Ketika hampir semua pengunjung berada di tengah Pagoda yang menyimpan Buddha Image dalam bentuk batu berlapis emas gold leaf yang ditempelkan oleh para pria, saya malah melipir ke sisi yang sepi dan agak remang setelah selesai mengelilingi bagian tengah. Para pengunjung, -lebih banyak yang beribadah daripada sekedar berkunjung seperti saya-, tampak memusatkan pandangan ke lima buah batu lapis emas yang dipercaya sebagai Buddha Image, yang bagi saya pribadi bentuknya seperti kanak-kanak yang menggemaskan dan lucu (maaf). Baru di tempat ini saya melihat Buddha Image yang berbeda, sama sekali tidak sama dengan Buddha Image yang umumnya duduk bersila, berdiri, berjalan atau berbaring.

Tapi ada hal yang menarik lainnya di Pagoda ini…

Di sudut sepi yang saya datangi ini terdapat sebuah lemari kaca yang kelihatannya tak menarik dan sedikit kusam. Namun ketika saya mendekat untuk melihat lebih jelas ke dalamnya, mengamati isi di balik kacanya, saya terperanjat. Oh, lemari berkaca kusam itu berisikan uang dan perhiasan.

Lemari penyimpan uang-uang dan perhiasan persembahan dari pengunjung di seluruh dunia.

Ada juga uang Thailand sebesar 20 Bath, dan di baliknya ada lembar US Dollar sebesar $100! Di sekitarnya ada uang Korea sebesar 1000 Won, juga lembar uang Vietnam sebesar 50.000 Dong, lembar Euro yang tidak terlihat nominalnya, uang Afrika, dan tentu saja lembaran-lembaran uang Myanmar dengan nominal 100, 200 dan 500.

Saya juga melihat kalung mutiara, cincin batu permata, perhiasan telinga dan jam tangan serta nota-nota pengantar semua benda dan uang itu. Ah, indah sekali.

DSC08388
Money from the World
DSC08387
Different Bank Notes

Dan ada uang Rupiah! Wow!

Saya sempat melihat lembaran Rp. 1.000,- dan lembaran Rp. 20.000,- Bisa jadi, pengunjung yang melihat akan berpikir, betapa orang Indonesia itu kaya dan baik hati, mau mendonasikan uangnya dengan nilai yang sangat besar, yang angka nolnya berbaris panjang.

Tetapi entah bagaimana, tiba-tiba saya merasa dicubit dari dalam diri. Ini adalah lemari persembahan! Jangan dilihat dari nilai nominalnya, bukan kuantitasnya, bukan banyaknya, bukan nilai duniawinya… melainkan apa yang ada di balik semuanya.

Keikhlasan.

Tersadarkan bahwa saya sama sekali tak boleh menilai atas apapun yang ada di dalam lemari kaca itu. Sepotong berlian atau batu permata terindah sekalipun, atau uang atau benda tua yang paling lusuh yang dipersembahkan kepadaNya, hanya Dia yang memiliki keputusan bernilai atau tidak, dan bukan atas benda-bendanya

Apa jadinya bila benda-benda itu diselimuti dengan kesombongan ‘ingin diperlihatkan’ atau ‘ingin terlihat berbeda’ terhadap manusia lain oleh orang yang memberikan? Lalu apa jadinya, bila benda itu merupakan satu-satunya yang dimiliki oleh pemberinya dan dipersembahkan laksana jiwanya sendiri  yang dipersembahkan kepadaNya?

Your greatness is not what you have, it’s what you give

Namun, bukankah benda-benda material itu bersifat relatif bagi manusia satu dengan manusia yang lainnya? Selembar uang atau sebentuk perhiasan bagi seseorang bisa begitu sangat berharga, namun bagi orang lainnya mungkin hanya sekedar lewat untuk sesuatu hal yang tidak bermanfaat. Dan ketika benda-benda material itu dijadikan pemberian, apalagi sebagai sebuah persembahan, sesungguhnya ada hal yang menyelimuti pemberian itu.

Dan sesungguhnya kita sama sekali tidak memiliki kewenangan untuk menilai hubungan manusia lain dengan TuhanNya.

***


 

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-26 ini bertema Money agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…