Museum of Champ Sculpture, Da Nang


Hanya beberapa jam untuk menikmati kota Da Nang sebelum kembali ke Tanah Air saat solo-travelling ke Vietnam Tengah, saya menyempatkan diri berkunjung ke Museum of Champa Sculpture, yang lokasinya hanya selemparan batu dari tempat saya menginap. Museum yang menyimpan banyak sekali artefak kerajaan Champa ini memang menjadi tujuan utama saya di kota Da Nang, sebagai pelengkap kunjungan ke My Son, tempat reruntuhan kerajaan negeri Champa berabad lalu.

Sayangnya seperti juga di Indonesia, museum yang menyimpan banyak sejarah kejayaan Vietnam jaman dulu ini tampaknya belum menjadi tujuan wisata dari orang lokal maupun turis asing karena dalam dua setengah jam saya berada di sana, belum banyak orang yang datang berkunjung.

Meskipun akhir pekan, -mungkin saya yang kepagian, namun hingga sampai pulang pun-, sepertinya bukan merupakan waktu berkunjung yang nyaman untuk ke museum. Yang pasti saya memang pengunjung pertama, yang menunggu sejenak hingga gerbang dibuka lalu membayar sekitar 40000 VND untuk masuk.

Ketika masuk ke dalam ruangan, patung batu dewa-dewa utama Hindu beserta pasangannya, Dewa Siwa, Brahma, Wisnu serta Uma, Saraswati dan Laksmi seakan-akan menyambut kedatangan saya (Lhaaa… pikiran saya jadi lari ke film Night in The Museum, yang penghuninya menjadi hidup sepanjang malam)

Sebenarnya kata Champa tidak terlalu asing untuk telinga orang Indonesia, karena dalam pelajaran sejarah saat sekolah dulu (entah sekarang masih diberikan di sekolah atau tidak), kita pernah dengar kisah mengenai Putri Campa yang cantik menikah dengan Raja Jawa. Ada yang masih ingat?

Ada begitu banyak peninggalan Champa yang disimpan di Museum ini, tidak hanya dari reruntuhan My Son, tetapi juga di tempat-tempat lain (dan uuh, akhirnya mampu menimbulkan keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat itu suatu saat nanti)

Bagi saya yang merupakan penggemar candi, membayangkan keindahan seni pada bangunan candi pada masanya memang menyenangkan. Jika di kompleks Angkor Wat ada penggambaran apsara yang sedang menari, di sini terlihat bentuk-bentuk serupa seperti apsara meski berbeda posenya. Saya berlama-lama di tempat ini karena amat menikmati bentuknya yang sedang meliuk-liuk menari itu. Hiasan pada tubuhnya, serta mahkotanya amat menarik hati.

Tak hanya makhluk-makhluk kayangan yang memenuhi museum ini, melainkan ada juga penggambaran kehidupan masyarakat biasa yang sepertinya menggunakan kereta beroda dan juga hewan-hewan yang hidup bersama dalam masyarakat. Ketika melihat sebuah kereta beroda yang amat jelas penggambaran rodanya, saya amat terpesona. Terbayang pada masa itu, roda-roda itu amatlah membantu pergerakan masyarakat.

Lalu melihat adanya sapi, gajah yang tak berhiasan, kuda yang juga ada di antara kereta beroda itu, burung-burung serta kera, seakan memberi konfirmasi ke jaman sekarang bahwa hewan-hewan itu dapat hidup secara baik di antara masyarakat Champa pada saat itu.

Tidak hanya penggambaran hewan-hewan yang hidup secara baik di dalam masyarakat, namun juga mahkluk-makhluk mitos yang dikategorikan suci atau hewan yang digunakan oleh kalangan atas yang tak terjangkau oleh masyarakat biasa. Seperti gajah yang biasa digunakan untuk Raja atau kaum bangsawan biasanya dihias dengan indah, seakan tak akan kalah dengan yang menungganginya. Juga hiasan-hiasan pada sudut bangunan yang biasanya diisi oleh sejenis burung mitos atau singa yang juga dihias dengan indah, dengan hiasan leher yang berumbai. Dan sesuai dengan kepercayaan pada waktu itu, Naga berkepala angka ganjil (lima, tujuh atau sembilan) senantiasa ada pada bangunan-bangunan suci.

Dan saya mencari Garuda, -hewan yang memuja dan menjadi tunggangan Dewa Wisnu-, karena ingin mengetahui bagaimana bentuknya. (Saya jadi terkenang akan Garuda yang dibuat amat indah di dekat kuil Narayan di Kathmandu, Nepal).

Garuda, lengkap dengan detil bulu-bulu dibuat cukup baik. Paling tidak saya bisa menebak dengan benar tanpa melihat informasi yang ada di sebelahnya. Meskipun tak terlalu jelas, Garuda masih tampak mengenakan hiasan-hiasan pada kepala, telinga, leher hingga dada dan pinggulnya. Adanya hiasan-hiasan itu seakan-akan menunjukkan ketinggian tingkatannya.

Di bagian lain, saya juga bisa menikmati penggambaran dengan detil yang menarik. Seakan-akan seseorang yang dihormati sedang menari. Saya hanya bisa menduga, namun tak bisa menyakinkan diri bahwa penggambaran itu adalah The Dancing Shiva.

Selain itu, juga terdapat relief Dewa Wisnu yang sedang duduk di atas Anantasesha dan dipayungi oleh kepala-kepalanya. Uniknya dalam penggambaran ini, Ananta berkepala sebelas, yang biasanya hanya lima atau tujuh.

Saya begitu menikmati semua peninggalan yang ada di Museum ini meskipun informasi yang menyertainya bisa dibilang minim. Tetapi tak mengapa, kadang dengan keterbatasan informasi ini membuat saya lebih tertantang untuk selalu bertanya, siapakah dia, apakah ini, apakah itu dan sebagainya.

Selanjutnya di ruangan tengah, terdapat sekumpulan batuan besar yang dibentuk dengan tatahan yang amat rumit dan agaknya menjadi bagian dari sebuah bangunan suci. Saya bisa melihat gerbang lengkap dengan hiasan melengkung serta dua penjaga gerbangnya. Relief yang amat indah yang menceritakan kehidupan saat itu.  Sayang saya tak bisa berlama-lama menikmatinya karena keterbatasan waktu padahal sangat menarik…

Meneruskan langkah, sampailah saya di sebuah patung perempuan yang dipercaya sebagai Dewi Tara dan tak jauh darinya terdapat patung seorang dewa yang mendapat pencahayaan khusus di sebuah ruangan. Sayangnya saya tidak mengetahui lebih jauh tentang mereka. Pastinya mereka amat dihormati dan amat bernilai dilihat dari pencahayaan dan penyimpanan yang khusus.

Tidak terasa saya sudah sampai di penghujung waktu yang bisa digunakan karena harus segera check-out dari hotel dan kembali ke Tanah Air. Rasanya selalu sama, enggan untuk meninggalkan tempat yang penuh dengan batu-batuan yang dibentuk dengan indah dan penuh makna, padahal waktu tak lagi bersahabat.

Kunjungan ke Museum of Champ Sculpture ini mengakhiri perjalanan saya di Vietnam Tengah dan meninggalkan banyak tempat yang masih harus dikunjungi di Vietnam ini, Na Trang masih menggoda, Vietnam Utara dengan campuran budayanya yang khas… ah, semakin banyak tempat yang belum dikunjungi tapi waktu ini amat terbatas.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-7 ini bertema Museum agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Menikmati Sakura Di Singapura


Ketika pertama kali ke Jepang jelang musim semi berakhir pada tahun 2013 yang lalu, saya merasa sedikit menyesal melihat bunga-bunga Sakura telah rontok karena waktu mekarnya sudah lewat. Saat itu, saya hanya mendapati satu atau dua pohon yang masih berbunga di Kyoto, itu pun amat sedikit. Meskipun saat itu berhanami, -melihat keindahan bunga Sakura-, bukan menjadi tujuan utama saya di Jepang, entah kenapa saya menyimpan keinginan untuk suatu saat bisa melakukannya.

Tahun-tahun berlalu, saya pun sudah bolak-balik ke Jepang, tetapi tidak satu pun datang kesempatan bagi saya untuk melakukan hanami pada musimnya. Padahal teman-teman lain telah memamerkan foto-foto bersama Sakura di taman-taman di Jepang. Saya hanya bisa menggigit jari. Tiket pesawat ke Jepang bisa dibilang mahal saat musim Sakura, selain itu, sayang sekali ke Jepang jika hanya sebentar.

Siapa sangka, berdasarkan foto seorang teman dengan latar belakang bunga Sakura di Garden By The Bay, Singapura di tahun 2018 membuat saya mencatatnya di dalam hati untuk mengikuti langkahnya.

Jadilah di bulan Maret 2019 lalu, akhirnya saya bisa berhanami, -menyaksikan keindahan bunga-bunga Sakura yang bermekaran-, di Singapura. Meskipun bukan di negeri asalnya, saya tetap berbahagia dan bersyukur sekali bisa menikmati kecantikan bunga-bunga yang menjadi simbol negara Jepang itu.

Meskipun hanya bisa menikmati keindahan Sakura tanpa tahu jenis-jenisnya, suasana indah yang penuh bunga itu memang bisa membuat senyum terus tersungging di wajah. Bagaimana tidak, begitu sampai di depan pelataran Flower Dome, saya melihat payung merah dan sepasang patung manusia bergaya Jepang dengan pakaian dari bunga.

Dan Torii!

Bagi saya, tidak ada Jepang tanpa Torii yang berwarna merah itu. Jika ada Torii dan Sakura, aaah, artinya saya mendapat bonus. Dan di tempat itu, Torii yang didirikan tidak hanya satu, tetapi dibuat berjajar-jajar. Serupa yang ada di Fushimi Inari, Kyoto atau seperti juga di Hie Jinja di Tokyo.

Tidak hanya itu, saya juga melihat jembatan melengkung berwarna merah, lagi-lagi simbol yang banyak terlihat di Jepang. di tengah-tengah pelataran, didirikan bangunan menyerupai beranda rumah yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara minum teh. Belum lagi saya melihat beberapa pengunjung perempuan mengenakan kimono meskipun wajah dan pembawaan tubuhnya tak menunjukkan jati diri orang Jepang.

Bahkan di bagian belakang, tak jauh dari ujung Torii terdapat Marumado, jendela-jendela khas Jepang yang membuat orang berfokus pada apa yang ingin dilihatnya. Sungguh saya merasa seakan-akan berada di Jepang dengan suasana yang dibentuk sesuai yang ada di negeri Sakura itu.

Tetapi bagaimanapun, bunga Sakura adalah primadona dari pameran ini. Dari yang berwarna putih, juga merah jambu yang amat muda hingga yang berwarna pink, hingga warna pink yang bercampur merah. Bisa dinikmati juga bunga yang bentuknya bergerombol atau yang sedikit kelopak bunganya, ada yang masih kuncup bersaing indah dengan yang telah mekar. Ada yang tergantung dan ada pula yang mekar sendirian… Semua satu rasa… Indah.

 

Sesaat, saya sampai memperhatikan dengan seksama, apakah pohon ini asli atau tiruan, Namun berdasarkan informasi yang disampaikan, semua bunga yang ditampilkan adalah asli, bukan bunga palsu, karena dibawa langsung dari Jepang, sepohon-pohonnya. Dan karena bunga Sakura ini sangat rentan terhadap suhu dan angin, maka Kubah Bunga (Flower Dome) yang besar itu disesuaikan dengan kebutuhan bunga Sakura.

Di dalam Flower Dome itu, bisa jadi saya termasuk orang yang ditandai petugas karena berlama-lama di Kubah Bunga itu dan tidak keluar-keluar hingga malam datang. Bagaimana saya bisa bosan dengan seluruh keindahan bunga yang terhampar? Mata seakan-akan bersih tanpa noda dimanjakan dengan keindahan ini. Belum lagi, bunga-bunga selain Sakura, yang juga indah, ditampilkan dengan penataan yang amat cantik.

DSC07305
Sakura Matsuri

Rasanya, memang setiap tahun Garden By The Bay di Singapura memamerkan bunga Sakura dalam kegiatan tahunannya yang biasanya disebut Sakura Matsuri. Jadi jika mau melakukan hanami, menikmati bunga-bunga Sakura yang mekar juga menikmati bunga-bunga indah lainnya, datang saja ke Garden By The Bay.

Untuk tahun 2020 ini, Sakura Matsuri di Garden By The Bay akan berlangsung dari tanggal 6 Maret 2020 (hari Jumat) sampai dengan 29 Maret 2020 (hari Minggu), buka dari jam 09.00 – 21.00 ada di Flower Dome, Garden By The Bay, Singapura.

Ini linknya: Sakura Matsuri Floral Display 2020

Catatan. Hingga tulisan ini dipublish, situasi dan kondisi akibat virus COVID-19 (Corona virus) di Singapura dimonitor secara ketat, mengikuti petunjuk dari Kementerian Kesehatan Singapura. Jadi mohon terus dipantau ya, jika memang mau berkunjung ke Singapura.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-6 ini bertema Pink agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Pilgrimage 1: Menuju Kota Cahaya


Hanya terbilang dua bulan sebelum keberangkatan, saya mengambil keputusan besar untuk melakukan perjalanan batin ke Tanah Suci, sebuah perjalanan yang selalu digadang-gadang dilakukan seawal mungkin, jika mampu, dalam kehidupan seseorang yang beragama Islam.

Meskipun terkesan mendadak, -keputusan diambil 2 bulan sebelum berangkat-, saya bisa menuliskan sejuta alasan pembenaran telah melakukan penundaan sekian lama, bertahun-tahun, bahkan berdekade-dekade. Yaa sudahlah, apapun alasan itu, akhirnya Allah SWT mengabulkan perjalanan kami berdua, -dengan sang belahan jiwa-, dalam minggu terakhir bulan Desember 2019 yang lalu. Sebagai hadiah ulang tahun saya sekaligus hadiah ulang tahun pernikahan, yang keduanya diperingati dalam bulan Desember dan berjarak hanya hitungan hari dari tanggal keberangkatan.

Dan manisnya, sejak dulu saya memang memiliki impian jika melakukan ibadah ke Tanah Suci, -umroh atau bila memungkinkan haji-, inginnya langsung ke tiga Masjid utama, Masjid Al-Haram, Masjid An-Nabawi dan Masjid Al Aqsho, sesuai hadist

“Janganlah kalian menempuh perjalanan jauh kecuali menuju ke tiga masjid: masjidku ini (Masjid Nabawi), masjid Al Haram, dan masjid Al Aqsa”

(HR. Bukhari no. 1115 dan Muslim no. 1397)”.  

Dan keinginan itu juga yang membuat perjalanan ini menjadi terbatas.

Karena suami dan saya hanya pegawai, -artinya cutinya terbatas-, pemilihan waktu untuk melakukan ibadah ke Tanah Suci itu perlu pertimbangan sendiri. Karena pertimbangan ini, akhirnya saya memilih waktu akhir tahun meskipun merupakan peak season. Paling tidak, kami meninggalkan kantor tidak terlalu lama karena ada cuti bersama, hari libur Natal dan Tahun Baru, Tapi yaaa… begitulah, karena akhir tahun, harganya lebih mahal (bangeeet!). Tapi di sisi lain, untuk ibadah kepada Allah Yang Selalu Melimpahkan Rejeki, mosok kita itung-itungan?

Selain waktu yang tidak tersedia banyak, tidak banyak juga agen perjalanan yang mau melakukan perjalanan ibadah Umroh Plus Aqsho di akhir tahun. Kalaupun ada, harganya sangat membumbung tinggi. Akhirnya, setelah memilih dan memilah, saya memutuskan menggunakan agen perjalanan MAP Tour yang berkantor pusat di Condet, Jakarta dengan mengambil paket bintang 3 untuk berdua yang harganya lebih terjangkau daripada paket bintang 5 (Bintang-bintangan ini hanya ditentukan oleh jarak ke Masjid, yang semakin tinggi bintangnya, semakin dekat jarak dengan Masjid, meskipun fasilitasnya sangat berbeda dengan standar bintang di Indonesia)

Maka pada tanggal keberangkatan…

Di Bandara, satu persatu anggota grup kami menampakkan mukanya. Hari itu dengan maskapai Malaysian Airlines, kami menuju Madinah (yang terkenal dengan sebutan Kota Cahaya) dengan transit di Kuala Lumpur. Untuk penerbangan ke Kuala Lumpur, saya mendapatkan penerbangan jam 9 pagi, dan sebagian dari grup kami mendapatkan penerbangan jam 11 pagi. Memang agak aneh grup kami terpecah dua, tetapi pihak travel beralasan karena peak season dan penerbangan ke Kuala Lumpur sangat penuh. Baiklah… kami semua belajar ikhlas karena ini adalah perjalanan ibadah.

Pagi di terminal 3 itu, tidak sedikit dari kami yang menunggu dengan cemas. Suasana di depan restoran sebagai meeting point itu sudah seperti pasar dengan begitu banyak jamaah dari berbagai travel Umroh dengan masing-masing seragamnya. Kami berbisik satu sama lain, di Jakarta saja sudah padat dengan manusia, apalagi di Mekkah… tetapi sebenarnya kecemasan kami bukan itu.

Menit demi menit berlalu, jamaah semakin banyak. Saya melirik jam tangan, tinggal satu jam sebelum lepas landas, tetapi boarding pass belum di tangan dan belum antri imigrasi. Berkali-kali saya mengintip ke arah check-in, koper-koper itu masih rapi berjajar di depan konter group check-in. Saya terus mengingat diri, ini adalah perjalanan ibadah, jadi sewajarnya untuk memperpanjang sabar. Lagi pula saya, yang biasanya solo-travelling, kali ini harus belajar melakukan perjalanan melalui agen.

Alhamdulillah, akhirnya semua tepat pada waktunya, dan kami bisa terbang ke Kuala Lumpur dan menunggu cukup lama untuk melanjutkan penerbangan lanjutan ke Madinah. Yah kan juga harus menunggu grup kami yang berangkat jam 11 dari Jakarta. Latihan sabar lagi.

KLIA1
Kuala Lumpur International Airport 1

Kecemasan berikutnya terasa ketika sudah ada panggilan untuk boarding ke pesawat lanjutan yang akan membawa kami ke Madinah, grup berikutnya belum terlihat batang hidungnya satu pun! Berkali-kali saya melihat ke arah pintu saat mengantri, mereka belum tampak juga. Akhirnya dalam hitungan menit sebelum saya memasuki badan pesawat Airbus A380 itu, tampak rombongan grup berlari-lari menuju gerbang. Alhamdulillah.

Saya terkagum memasuki pesawat Airbus A380 dua lantai yang hingga kini masih merupakan pesawat penumpang terbesar di dunia. Kelas Business Suite di lantai satu yang hanya saya lalui saja tampak menyenangkan sekali, bisa jadi dipesan oleh mereka yang berkelimpahan rejeki. Meskipun tak penting, saya mencoba mengingatnya bahwa di lantai dua pesawat ini hanya untuk kelas bisnis dan tidak ada kelas ekonomi. Entah kenyataannya seperti apa. Yang pasti, saat duduk di kelas ekonomi, saya kurang begitu nyaman karena sepertinya kursi kelas ekonomi tidak dirancang secara ergonomis untuk tubuh Asia yang lebih kecil. Kaki saya kurang bisa menjejak lantai. Atau saya yang tidak tinggi ya?

Mendapat kursi di bagian jendela untuk penerbangan selama 9 jam seharusnya menyenangkan, tetapi buat saya benar-benar membuat mati gaya. Pemandangan di luar jendela tidak menarik, sedangkan untuk menonton film rasanya malu terhadap diri sendiri karena kontradiktif dengan alunan suara otomatis yang diperdengarkan ke kabin,

Labbaik Allahumma Labbaik. Labaika Laa Syarika Laka Labbaik. Innal Hamda Wan Ni’mata Laka Wal Mulk. Laa Syarika Lak

Aku penuhi panggilanMu, ya Allah, aku penuhi panggilanMu. Tidak ada sekutu bagiMu. Sesungguhnya pujian dan nikmat adalah milikMu, begitu juga kerajaan adalah MilikMu. Tiada sekutu bagiMu.

Jadilah seperti itu, selama penerbangan panjang yang diselingi makan dan cemilan, jamaah menjalankan apa yang dihimbau pak Ustadz untuk meluruskan niat dan melafalkan kalimat talbiyah meskipun tidak bisa dihindari sejenak terlelap

Jam demi jam berlalu, akhirnya kota tujuan tak jauh lagi meskipun telah berbalut malam. Seruan Alhamdulillah otomatis terdengar di seluruh kabin ketika roda pesawat besar itu menyentuh landasan kota Madīnah al-Munawwarah, kota yang bercahaya. Ya Allah, Ya Rasul… dada saya dipenuhi oleh rasa haru yang begitu menggelegak, mata terasa kabur oleh airmata yang mengembang. Benarkah saya telah di Madinah?

Saya masih merasa linglung, rasanya tak menjejak tanah, tak percaya bahwa saya ada di bumi yang berabad dulu juga dijejaki Rasulullah, keluarga dan sahabat-sahabatnya. Saya menggigit bibir memastikan bahwa saya sungguh memasuki bandara Madinah yang tidak terlalu luas dan juga tak terlalu padat oleh manusia. Kami benar-benar beruntung bisa mendarat langsung di Madinah karena umumnya pesawat yang mengangkut jamaah Haji atau Umroh lebih banyak mendarat di Jeddah. Tidak ada antrian imigrasi yang mengular di Madinah ini, sama sekali tidak ‘mengerikan’ seperti yang diceritakan dalam beberapa blog jika saja kita mendarat di Jeddah.

Madinah Airport
Madinah Airport

Lepas imigrasi kami menunggu di tempat pengambilan bagasi. Menit demi menit berlalu, satu per satu koper grup kami muncul tetapi bukan koper saya. Sampai akhirnya proses pengeluaran bagasi selesai, koper saya tak pernah muncul. Tentu saja saya menjadi masygul, meskipun dipendam sendiri. Entah apa rencana Allah untuk saya dengan kejadian ini. Telah berkali-kali saya mengalami ujian kehilangan barang dalam perjalanan, seperti kehilangan dompet dulu ketika di Macau, hampir kehilangan paspor di Hoi An, juga pernah carrier saya yang tak muncul di Jakarta setelah trekking di Annapurna, Nepal. Dan kini, saat akan menjalankan ibadah Umroh, saya tak memiliki baju lain kecuali yang dikenakan.

Waktu berlalu dengan cepat. Saya tak mungkin membiarkan jamaah lain menunggu koper yang tidak jelas keberadaannya itu. Sementara pak Ustadz yang sekaligus menjadi Tour Leader berkali-kali menunjukkan wajah kebingungan, dengan ikhlas saya mengusulkan kepada grup untuk segera ke hotel daripada menunggu sebuah ketidakjelasan. Saya telah ikhlas atas peristiwa koper yang tak muncul, dengan segala konsekuensinya karena meninggalkan bandara tanpa bukti pengaduan jelas tentang lost & found itu artinya sama saja tak kehilangan satu pun! Hanya saja saya melihat tidak adanya sumber daya (manusia) yang cukup di bandara itu untuk keperluan lost & found, airport handling yang tidak tertib dari agen perjalanan. Pak Ustadz dan suami akhirnya setuju untuk setiap hari ke bandara untuk mengecek keberadaan koper itu.

Meskipun telah mengikhlaskan, selama perjalanan menuju hotel, pikiran saya tetap saja bercabang. Untuk dua belas hari ke depan, saya harus membeli beberapa pakaian dan keperluan penting lainnya. Selain itu, berbelanja hanya bisa dilakukan di waktu kosong padahal jadwal acara lumayan padat. Ya Allah, saya tak tahu tempat toko yang menjual barang-barang yang saya perlukan, sebagai perempuan apakah saya aman berbelanja mengingat begitu banyaknya batasan untuk seorang perempuan di Arab.

Ada rasa cemas yang merambat ke seluruh tubuh, bersamaan dengan suara hati yang terus mengingatkan kedalaman surat Al Ikhlas, bukankah Allah SWT menjadi tempat pertama kita menyandarkan segala sesuatu, susah atau senang, sempit maupun lapang? Sepertinya saya masih harus banyak belajar…

Meskipun dari jauh, bus yang kami tumpangi sengaja berjalan perlahan ketika melewati Masjid Nabawi yang terang dipenuhi cahaya seakan-akan memberi kesempatan kepada kami untuk mengagumi. Saya tertegun melihatnya, masjid indah yang hanya bisa saya lihat dari internet, juga dari foto saudara atau kawan yang ke Tanah Suci, kini ada di depan mata saya sendiri. Ya Allah… saya hanya bisa diam, tergugu dengan mata basah penuh airmata.

Hari itu, meskipun berselang belasan abad jauhnya, saya hanya berjarak ratusan meter dari kubur Nabi, Keluarga dan sahabat-sahabatnya. Saya mendapat anugerah tak terhingga dari Allah SWT bisa sampai ke tanah yang berabad dulu juga pernah dijejak Rasulullah, udara yang berabad dulu juga pernah dihirupnya. Saya tahu, seperti Muslim yang lain juga, hati saya jatuh menjangkar kuat di Madinah. 

WelcomeNote1
Welcome Note

Bersambung…

Berhak Bahagia Kala Petang Datang


Every sunset is an opportunity to reset, so take a seat and calm down…

Entah sejak kapan saya menyukai waktu jelang senja menatap laut yang sepertinya tak berbatas, menikmati riak-riaknya, angin yang menerpa wajah, gemericik atau debur gelombangnya serta harum laut yang sangat khas. Rasanya, dengan berada di pinggir laut, mengarah kemanapun, -apalagi yang menghadap matahari tenggelam ataupun kadang matahari terbit-, bisa membantu menenangkan hati dan menyeimbangkan jiwa. Dengan memelihara hati yang tenang, paling tidak stress lebih bisa dikendalikan. 

Tidak sulit sebenarnya untuk mencapai pinggir laut Jakarta, hanya perlu ke arah Utara saja. Masalahnya, tidak banyak tempat-tempat yang relatif nyaman. Lebih seringnya, bising, gaduh atau tempatnya sendiri yang memiliki kategori “lebih baik tidak kesana” 🙂

Di utara Jakarta, selain Ancol, saya lebih menyukai datang sore-sore ke Pantai Mutiara yang ada di kawasan Pluit. Berbeda dengan Ancol, untuk masuk ke kawasan ini sama sekali tidak dipungut bayaran. Bisa jadi karena kawasan ini sebenarnya merupakan area perumahan. Dan tidak tanggung-tanggung, kawasan perumahan kelas atas banget. Memiliki rumah di kawasan ini berarti memiliki mobil-mobil mewah di garasinya dan di bagian belakang rumah terdapat dermaga kecil sebagai tempat parkir kapal-kapal yacht mereka, atau setidaknya jetski.

Biasanya ketika sampai di kawasan Pantai Mutiara ini, keluarga kami menjalankan mobil pelan-pelan dengan jendela terbuka lebar agar suasana pinggir lautnya terasa (meskipun agak panas ya 😀 ) dan bisa mengintip ke garasi-garasi yang menyimpan mobil-mobil mewah. Paling tidak kelasnya Porsche, Lamborghini Aventador, atau Ferrari 458 yang harganya bisa sampai dua digit milyaran Rupiah. Dan jika beruntung, diantara rumah-rumah besar itu, bisa terlihat kapal-kapal yacht mereka yang ada di bagian belakang rumah. Jangan tanya harga kapal-kapal yacht itu, sepertinya bisa empat atau lima kali harga mobil mewah mereka. Uh, rasanya  saya mimpi pun tak sampai ke tingkat itu. 

Tetapi dengan melihat secuil saja sudah cukup membahagiakan.

Menyusuri jalan yang berbatas laut hingga ke ujung Pantai Mutiara tempat berdirinya bangunan ikonik yaitu Apartment Regatta yang bentuk bangunannya seperti layar yang sedang terkembang. Saya sering menandainya dari pesawat saat akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Dan saya membayangkan betapa asiknya punya ruang keluarga atau kamar yang bisa memandang ke laut lepas. Ah… meskipun cuma membayangkan saja, tetapi sudah bisa membuat saya tersenyum bahagia.

Kalau belum puas jalan-jalan sore sambil intip sana-sini di sekitar kawasan Pluit Mutiara, biasanya saya berhenti di Jetski Café. Waktu paling tepat ke sini memang ketika sore hari jelang matahari tenggelam. Meskipun awalnya sinar matahari terasa menyilaukan, pengunjung bisa memesan meja di bagian dalam Café terlebih dahulu sebelum nantinya pindah ke bagian luar yang berbatas laut (meskipun meja-meja outdoor yang berada di pinggir laut itu sangat diminati dan seringnya sudah fully reserved). Apalagi akhir pekan, wuiih susah!

jetski2
A bit back light but it’s the view in the afternoon

Terakhir kami ke tempat ini, sekitar bulan November 2019 yang lalu. Ketika itu saya mengajak Mama, yang akhirnya bersedia ikut setelah dibujuk-bujuk karena hampir setahun mengurung diri di rumah sepeninggal Papa menghadap Ilahi. Meskipun saya agak sedikit cemas, -takut Mama terkenang kembali bersama Papa karena mereka pernah saya ajak ke tempat ini sebelumnya-, saya berharap angin laut yang segar dan suasana yang berbeda bisa menggembirakan hati Mama. Alhamdulillah, ternyata memang benar, Mama terlihat gembira dengan suasana yang berbeda dari situasi sehari-hari dirumahnya.

Sepertinya kegemaran saya berada di tempat-tempat yang berbatas laut itu menurun dari Papa Mama. Saat itu, Mama terlihat terpukau senang melihat keindahan warna sore dan mentari yang pelan-pelan menghilang di balik gedung meninggalkan warna kuning keemasan di langit Barat.

jetski1
Live music

Live music yang memang selalu ada pada setiap akhir pekan menambah suasana lebih hangat. Meskipun volume suara musik cukup nyaring, Mama tak terganggu bahkan mengatakan kepada saya jika Papa masih ada, pastilah Papa ikut menyanyi di panggung. 😀 Saya tersenyum mengingat kegemaran Papa untuk tampil menyanyi dimana saja yang memungkinkan, meskipun lagu-lagunya sangat klasik (baca: jadul)! Bahkan tak jarang di panggung Papa memainkan organ sambil bernyanyi…

Mentari semakin turun. Saya menawarkan pindah ke meja luar tetapi Mama lebih menyukai di bagian dalam Cafe karena masih mau menyantap makanan yang ada. Hati di dalam ini langsung meluruh, biasanya Mama makan tak begitu banyak sejak kepergian Papa tetapi kali ini saya melihat Mama menikmati makanannya lebih lahap. Rasanya langsung makjleb… saya ditegur keras oleh Sang Pemilik Cinta agar supaya bisa lebih memperhatikan sisi batin Mama yang kini tinggal sendiri.

Warna keemasan masih menghias langit Barat, ketika saya menatap permukaan laut yang tak pernah berhenti bergerak, seperti juga stress kehidupan. Selalu ada, namun bukan berarti tidak bisa dikendalikan.

Sisa sinar matahari jatuh lembut ke wajah Mama yang telah dimakan usia. Garis-garis kerutnya tergambar di wajahnya dengan jejak airmata kehilangan Papa yang belum sepenuhnya sirna.

Biasanya saya ke Pantai Mutiara hanya untuk mendapatkan kenyamanan rasa diri sendiri. Tetapi kala petang hari itu, bisa mengajak mama ke tempat itu, melihat Mama bisa makan dengan lahap dan melihatnya terkagum atas pemandangan yang indah, semuanya menjadi jauh amat berharga dan amat bermakna daripada warna keemasan yang menghias langit Barat.

Seperti mengingatkan bahwa bahagia itu memang sederhana…

jetski3
About Sunset

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-5 ini bertema Petang agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Cerahnya Klenteng Tek Hay Kiong


Sungguh tak menyangka saya bisa mampir dan menikmati sejenak keindahan klenteng Tek Hay Kiong, -yang arsitekturnya dipercaya masih asli-, ketika melakukan perjalanan singkat bersama kawan-kawan kantor ke Gunung Guci beberapa waktu lalu.

Menariknya Klenteng Tek Hay Kiong yang berada di Jalan Gurami, Kota Tegal ini, terdaftar sebagai bangunan pusaka daerah, karena menjadi saksi sejarah akan keberadaan komunitas Tionghoa yang sudah mendiami kawasan kota Tegal sejak masa kolonial Belanda. Tidak bisa dipungkiri karena bagaimanapun komunitas Tionghoa selalu berpusat pada sebuah Klenteng yang umumnya menyediakan catatan orang-orang yang (pernah) tergabung dalam komunitasnya sejak awal pendirian. Catatan-catatan inilah yang menjadi sumber informasi berharga atas sejarah sebuah kawasan yang diatasnya terdapat sebuah klenteng. Demikian juga untuk Klenteng Tek Hay Kiong.

P1010147
Dari gerbang Klenteng Tek Hay Kiong

Di salah satu sudut terdapat inskripsi tentang sejarah klenteng ini yang tertulis dalam aksara aslinya dan dipahat di atas kayu jati. Tidak hanya mengenai sejarah pendiriannya di tahun 1837 oleh Kapitan Tionghoa Tan Koen Hay dan dukungan umat serta tokoh-tokoh kota lain yang mendukung pembangunan klenteng saat itu, di klenteng ini juga menyimpan papan-papan arwah yang berisikan catatan-catatan nama, asal muasalnya, pasangan hidup dan anak cucunya. Dari papan-papan arwah ini bisa ditarik benang merah sejarah bahwa kapitan pertama yang memimpin komunitas Tionghoa di Tegal adalah Souw Tjwan Heng (1699 – 1770) bergelar Kapitan Souw Pek Gwan. Artinya komunitas Tionghoa di Tegal sudah ada sejak 320 tahun lalu bahkan mungkin lebih dari itu. Hebat kan?

Warna merahnya yang umum mendominasi Klenteng terlihat sangat eye-catching sehingga memudahkan orang untuk mampir. Apalagi ditambah warna kuning keemasan di beberapa tempat, memberi rasa kontras pada Klenteng Tek Hay Kiong ini. Dua warna, merah dan kuning (mewakili warna emas) memang secara tradisional menjadi warna klenteng.

Warna merah sendiri, yang merupakan unsur dari “Yang” memiliki arti kebahagiaan, keberuntungan, kesenangan, keberhasilan, keselamatan dan pembawa nasib baik. Sehingga dengan adanya warna merah di Klenteng diharapkan agar seluruh kesedihan dan kegelapan akan sirna dan digantikan dengan kebahagiaan dan kebaikan. Warna merah juga mewakili kebenaran, kebaikan dan ketulusan hati. Bukankah orang beribadah ke Klenteng berharap bisa mendapatkan kebaikan dan kebenaran?

Tidak begitu berbeda dengan warna merah, warna kuning atau keemasan juga dianggap sebagai lambang kemakmuran, kehangatan, kekayaan, kesejahteraan dan bisa membawa aura positif. Konon sesuai pepatah kuno Tiongkok, warna kuning sebagai pengganti warna emas dipercaya sebagai warna yang paling indah karena kuning menghasilkan Yin dan Yang. Menjadi pusat dari segala hal. Tidak heran, warna kuning menjadi warna untuk Kaisar. Saya jadi teringat istana-istana Kaisar Tiongkok pastilah memiliki warna kuning keemasan. Dan juga pakaian kebesaran Sang Kaisar, selalu berwarna kuning keemasan.

Dua warna yang mendominasi sebuah Klenteng memang memiliki makna dan harapan yang amat baik bagi mereka yang bersembahyang di sana.

P1010152
Klenteng Tek Hay Kiong

Sekarang ini, Klenteng Tek Hay Kiong di Tegal lebih menjadi tempat ibadah daripada menjadi pusat kegiatan komunitas Tionghoa seperti pada jaman kolonial dulu. Kendati demikian, rasanya tak salah bila kita mengunjungi tempat bersejarah ini, asalkan tidak mengganggu aktivitas peribadatan yang berlangsung. Bukankah dengan mengunjunginya, -meskipun bukan untuk beribadah-, kita bisa membuktikan kekuatan kebhinekaan negeri tercinta ini?

Apalagi, sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, seharusnya kita bisa membanggakan sebuah bangunan yang telah ditetapkan sebagai bagian dari sejarah kota dan turut serta menjaga dan memeliharanya. Paling tidak, kita bisa mengunjunginya dan menikmati keindahannya. Dan bisa menambah pengetahuan!

Jadi, tidak ada salahnya menjadikan Klenteng Tek Hay Kiong ini menjadi destinasi wisata saat sedang berlibur bersama keluarga atau teman.

Dan saya membayangkan kemeriahan perayaan Imlek kemarin di Klenteng Tek Hay Kiong ini.  Pasti seru banget…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-4 ini bertema Red & Yellow agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Bandara Penuh Doa


Mungkin begitu banyak harapan dan doa yang tertinggal jejaknya di bangunan yang disebut bandara. Bagi yang akan membumbung ke angkasa meninggalkan bandara, banyak harapan dan doa agar yang ditinggalkan selalu dalam keadaan baik-baik saja sementara iapun melambungkan doa agar perjalanannya lancar. Bagi yang ditinggalkan di pintu bandara, ia melambaikan tangan dalam doa agar perjalanan mereka yang terkasih selalu dalam perlindungan Pemilik Semesta. Meskipun kadang tak terucap atau tak terlihat jejaknya, doa dan harapan selalu menghias udara bandara.

Demikian juga dengan saya yang lebih seringnya melakukan perjalanan solo, telah berulang kali meninggalkan jejak-jejak begitu banyak doa di bandara-bandara..

Incheon

Seperti yang pernah saya ceritakan dulu dalam pos Incheon, What Incheon?, tidak akan dipungkiri bahwa saat itulah saya melambungkan begitu banyak doa agar tidak tertinggal pesawat. Doa-doa yang sudah dipanjatkan dalam bus sejak meninggalkan daerah Myeongdong semakin khusuk rasanya saat sampai di Bandara Incheon. Saat check-in, petugasnya sudah menampakkan wajah cemas agar saya bersegera karena mungkin sudah boarding. Setelahnya saya lari, …dan lari, …dan lari, di bandara Incheon yang sangat luas itu sambil berdoa semoga sempat sampai ke pesawat. Tidak lupa mengembalikan mobile-wifi yang kiosnya begitu tersembunyi sehingga saya harus lari berputar berkali-kali untuk bisa menemukannya. Setelah itu, lari lagi untuk proses imigrasi, dan masih lari lagi untuk ke gate yang ternyata sudah kosong! Ya Allah, saya lariii sambil terus berdoa agar diperbolehkan masuk ke pesawat dan akhirnya… saya termasuk orang-orang terakhir masuk pesawat sebelum pintu ditutup! Allah Maha Baik, tanpa kekuatan dariNya untuk bisa lari sekuat itu (olahraga bukan hobby saya!), pasti saya sudah ditinggal pesawat.

Dan berhubung lari melulu, saya tidak sempat bagaimana bagusnya Incheon, tidak bisa mengabadikan bandara yang kata semua orang yang pernah ke Seoul itu sangat keren. Jadi kalau mau lihat foto Incheon… googling aja ya 😀

Lukla

Bandara lain yang memiliki begitu banyak jejak doa saya adalah Lukla, ketika saya melakukan perjalanan ke Namche Bazaar, Nepal, yang merupakan desa terbesar untuk melakukan aklimatisasi pertama jika melakukan trekking ke Everest Base Camp. Menyadari kemampuan diri ditambah keterbatasan waktu, saya hanya memilih sampai ke Namche Bazaar dan belum berani melakukan trekking ke Everest Base Camp. Tetapi, mau ke EBC atau hanya ke Namche Bazaar, pengunjung dari Kathmandu biasanya memilih melalui Lukla, salah satu bandara yang bergelar The Most Dangerous Airport In The World!

lukla airport
Lukla, one of the Most Dangerous Airports In The World

Bandara yang dibangun oleh Sir Edmund Hillary tahun 1964 itu memang ajaib. Runway sekitar 500 meter itu tidak datar melainkan menurun landai berujung jurang. Kalau pesawat kurang tenaga saat lepas landas, bisa dipastikan nyungsep ke jurang. Kalau tidak hati-hati saat mendarat, pesawat juga bisa terjun bebas ke jurang. Untung saja, pilot Nepal bisa dikategorikan mahir untuk lepas landas atau mendarat di kawasan yang ekstrim, meskipun ujung-ujungnya tetap tergantung Yang Maha Kuasa.

Pada pagi hari saat memulai perjalanan ke Namche Bazaar itu, saya mengalami delay cukup lama di bandara Kathmandu. Alasannya cuma satu, cuaca! Tentu saja, cuaca yang dimaksud adalah cuaca di Kathmandu, cuaca di perjalanan dan cuaca di Lukla. Salah satu dari tiga itu tidak bagus, penerbangan akan terus didelay. Bagaimana saya tidak berdoa?

Ketika akhirnya ada clearance untuk terbang, saya masih melihat awan cukup tebal menaungi Kathmandu. Aduh, mana saya menuju bandara yang dilabeli The Most Dangerous Airport in the World! Tentu saja doa saya semakin khusuk! Apalagi sepanjang jalan, awan tebal putih menghias pemandangan. Tapi jangan ditanya kehebatan pilot-pilot Nepal menghadapi bentang alam negaranya yang dipenuhi pegunungan tinggi itu. Jelang Lukla, saya disodori pemandangan yang mengerikan. Meskipun permukaan bumi itu dipenuhi pohon-pohon yang hijau dan terlihat air terjun yang cantik, tapi saya tahu ketinggiannya ekstrim, tebingnya sangat tinggi, jurangnya sangat dalam, hutannya lebat. Desa-desanya berjauhan. Berdoa saja agar penerbangan lancar dan selamat… karena kalau tidak…, ah saya tidak ingin melanjutkan kalimatnya.

approaching lukla
The deep valeys approaching Lukla
clouds to lukla
Sea of Clouds – to Lukla
clouds to lukla 2
Thick Clouds heading to Lukla

Dan ketika bandara Lukla sudah di depan mata, semua penumpang pesawat baling-baling itu sepertinya menahan nafas, merasakan ketegangan yang menekan bercampur pasrah menggantungkan hidupnya kepada keahlian sang pilot. Sambil mencoba mengalihkan rasa, para penumpang termasuk saya melihat keluar sambil berdoa dalam hati hingga roda pesawat menyentuh permukaan bumi dan rem pesawat melambatkan lajunya. Sangat singkat, tak perlu lama pesawat bergerak di runway kemudian langsung berbelok untuk berhenti total di terminal. Penumpang bertepuk tangan, merasa lega diberi keselamatan sampai ke Lukla.

Buat saya selesaikah? Tentu tidak…

Karena setelah trekking beberapa hari, saya perlu lepas landas dari bandara ini lagi. Dan bagi saya itu lebih mengerikan daripada mendarat!

Jadi, sehari sebelum tanggal kembali ke Kathmandu, saya agak jengkel kepada pemandu trekking karena memaksa kembali dari Namche Bazaar ke Lukla dalam satu hari, padahal dalam perjalanan perginya rute itu dibagi dalam dua hari. Alhasil saya sampai Lukla pada malam hari karena saya merupakan seorang snail trekker.

Tetapi pagi harinya saya baru mengetahui mengapa pemandu itu memaksa sampai pada malam sebelumnya. Tujuannya agar saya mendapat prioritas penerbangan pertama kembali ke Kathmandu. Dan pagi subuh itu, dari balik pagar bandara saya cemas karena awan yang tebal menaungi Lukla dan kabut tebal yang menutupi ujung landasan! Padahal ujung itu jurang… Oh my God, ujungnya tak terlihat bagaimana mau terbang? Duh, saya merapal doa semakin panjang…

lukla at dawn
Lukla – Cannot see the end of the runway

Pagi itu, semakin banyak calon penumpang menunggu kabut menghilang dan cuaca membaik. Untungnya saya terdaftar di penerbangan awal sehingga mendapat prioritas. Saya berdoa lagi, lebih khusuk kali ini karena jika penerbangan ini dicancel bisa-bisa saya kehilangan penerbangan pulang ke Jakarta. Dan rupanya Pemilik Semesta menjawab doa saya. Begitu awan sejenak tersibak dan kabut terangkat, -hanya sebentar-, pesawat kami mendapat kesempatan lepas landas. Hari itu, -sesuai informasi dari rekan-rekan sesama pemandu-,  hanya tiga penerbangan pagi yang bisa dilakukan selanjutnya dicancel. Duh, Allah Maha Baik, saya beruntung bisa pulang!

Jomsom

Selain Lukla, bandara Jomsom merupakan bandara di Nepal yang juga penuh jejak doa saya. Bandara ini tempat bertolaknya pengunjung untuk melakukan perjalanan ke daerah Lower atau Upper Mustang atau ke Muktinath, salah satu tempat suci umat Hindu. Lalu apa yang mengerikan dari bandara ini? Tidak begitu berbeda dengan Lukla, penerbangan dari dan ke Jomsom hanya bisa dilakukan pada pagi hari, tidak lebih dari jam 11 karena setelahnya, angin kencang Mustang mengacaukan penerbangan (dan angin ini benar-benar terasa kekuatannya saat saya trekking!). Jomsom mungkin cerah namun jika angin kuat mulai bertiup, semua penerbangan bisa dibatalkan.

Sewaktu terbang dari Pokhara ke Jomsom, lagi-lagi tidak lebih dari tiga penerbangan yang bisa berjalan normal termasuk penerbangan saya. Sisanya dibatalkan karena angin terlalu kencang. Berdasarkan pengalaman itu, bisa dibayangkan bagaimana doa-doa yang saya panjatkan di bandara saat pulang kan? Uh, masak saya stranded di Jomsom?

jomsom airport1
Jomsom – Waiting Room

Setelah cek prakiraan cuaca (yang sepertinya tidak bisa diandalkan juga) dan diskusi dengan pemandu, akhirnya saya mengubah itinerary termasuk mengubah jadwal pulang, meskipun saya sendiri tidak tahu apakah tanggal kepulangan itu lebih baik untuk terbang atau tidak.

Dan di tanggal kepulangan itu, saya hanya mondar mandir di depan hotel (yang artinya hanya selemparan batu ke bandara karena hotel dan bandara hanya dipisahkan oleh badan jalan). Pemandangannya indah, gunung Nilgiri yang bertudung salju berselimut awan. Dari hotel saya bisa mengetahui tak ada pesawat yang bisa terbang sejak pagi. Jomsom tidak begitu bermasalah, bisa jadi perjalanan di antara Jomsom dan Pokhara yang kurang baik. Saya menunggu sambil tak lepas berdoa, meskipun sudah check out dari hotel. Melihat situasinya, saya sudah berpikir keadaan terburuk untuk menempuh perjalanan darat selama 24 jam ke depan (yang amat sangat tidak nyaman) dan itu artinya kejar-kejaran waktu dengan kepulangan saya ke Jakarta, belum lagi perjalanan dari Pokhara ke Kathmandu. Ah, meskipun pemandangan di depan mata sangat indah, saya harus memikirkan perjalanan pulang ini… saya melambungkan doa agar bisa pulang.

boarding_jomsom
Boarding in Jomsom

Selagi mengalihkan rasa dan pikiran, tiba-tiba pemandu saya datang tergopoh-gopoh memberi tanda saya akan terbang pagi itu. Penerbangan saya yang dapat clearance untuk terbang hari itu karena ada pesawat yang berangkat dari Pokhara. Belum lama doa dilambungkan, Pemilik Semesta telah menjawabnya. Ada sejumput rasa lega.

Saya bergegas memanggul ransel lalu berjalan kaki ke bandara. Tak lama seluruh penumpang sepesawat diminta boarding, bahkan pesawatnya saja belum landing. Itulah yang terjadi di Jomsom. Begitu pesawat berhenti, dan penumpang turun, penumpang yang terbang sudah mengantri di sisi lain dari pesawat dan bersegera berangkat lagi. Semuanya memiliki kategori “segera”. Hanya hitungan menit, pesawat baling-baling itu sudah siap terbang lagi. Dan sepanjang jalan saya tak lepas berdoa dalam hati, karena hanya awan putih tebal yang menghias pemandangan selama terbang. Seandainya terang, jajaran pegunungan Annapurna bisa jelas terlihat termasuk jalur trekking Poonhill.

Jelang mendarat di Pokhara, keadaan cuaca membaik. Saya lega, bercampur lelah karena tekanan rasa yang terus menerus. Dan setelah beberapa jam di Pokhara, pemandu saya menyampaikan bahwa hanya ada dua penerbangan hari itu dari Jomsom, penerbangan saya dan penerbangan setelah saya. Selanjutnya tidak ada lagi penerbangan. Ya, Allah, saya tergugu dalam syukur… Allah Maha Baik!


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-2 ini bertema Airport agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

My Best Trip In 2019


Entah mengapa, tahun 2019 ini saya mengalami masa hibernasi terkait travelling yang menjadi hobby saya selama ini. Tidak tanggung-tanggung, saya bisa berdiam lama di rumah, tidak kemana-mana, tidak juga ke mall atau pergi sekedar jalan-jalan. Malas!

Bulan Maret saya ke Singapura hanya untuk melihat Sakura di Gardens By The Bay dan sebulan kemudian saya ke Myanmar karena perjalanan menapak tilas. Meskipun saya memaksa diri untuk bepergian dengan antusiasme seperti biasanya, saya tak bergerak cukup jauh. Saya hanya berhasil berjalan sekitaran Jakarta. Kalaupun akhirnya saya melakukan perjalanan, pastinya merupakan bagian dari perjalanan keluarga. Entah mengapa, ada rasa yang begitu kuat untuk berjalan ke dalam diri dan berlama-lama melakukan perjalanan itu. 

Bulan-bulan 2019 berlalu dengan bahasa yang sama, penuh dengan tanda-tanda bagi saya bahwa cepat atau lambat saya akan memasukinya. Tahun ini tahun perubahan lagi. Begitu banyak sentuhan Kasih yang mendukung agar saya berani melangkah. Jangan takut. Namun saya tetap berkalung keraguan menghadapi hari. 

Saya teringat penggalan-penggalan kehidupan saya sendiri, yang sejak kecil diberikan begitu banyak anugerah hidup. Menerima bimbingan kehidupan, memungut hikmah yang berserak, mengamati perubahan dan menerima serta menjalani hidup dengan cara yang bisa jadi tak biasa. Meskipun selalu saya berpegang pada prinsip, saya sama saja seperti yang lain.

Proses hibernasi saya dalam hal travelling membuktikan diri ini memang sedang dalam perubahan. Mungkin seperti ulat dalam kepompong. Saya mengikuti saja apa yang akan terjadi dalam setiap harinya. 

Oktober 2019.

Seperti juga dulu ketika akan melakukan perjalanan trekking ke Himalaya pada tahun 2017, sepertinya Semesta Mendukung apa yang seharusnya saya lakukan pada tahun 2019 ini. Semuanya mengarah ke satu fokus, perjalanan batin yang amat indah. 

Saya mem’baca‘nya, namun ada keraguan, benarkah? bisakah? untukkukah?

Lalu dalam malam-malam hening, saya berdoa, untuk meluruh kepadaNya, membiarkan Dia menjadikan saya wayangNya. Bergantung sepenuhnya kepadaNya. 

Dalam pada sebuah hari di bulan Oktober 2019 itu, saya memberanikan diri membuka satu ‘pintu’ kehidupan

Umroh!

Dan ‘pintu’ yang terbuka untuk saya tidak tanggung-tanggung, 

Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al Aqsho dalam satu perjalanan batiniah!

“Dan jangan mengencangkan pelana (melakukan perjalanan jauh) kecuali untuk mengunjungi tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, dan Masjidku (Masjid Nabawi),” (HR Bukhari).

Dan akhirnya, pada minggu ke empat bulan Desember 2019, saya mendapatkan kado ulang tahun sekaligus kado ulang tahun pernikahan langsung dariNya, bersama suami kami melakukan perjalanan ibadah yang paling membahagiakan, paling luar biasa dalam kehidupan kami. 

Menikmati hari-hari begitu indah di Masjid Nabawi di Medinah, lalu bergabung dengan jutaan orang melakukan ritual umroh di Masjidil Haram di jantung kota Mekkah, serta merasakan ibadah yang mengharubiru di Masjid Al Aqsho di kota tua Jerusalem, Palestina. 

Bisa jadi Allah SWT memberikannya untuk saya di tahun 2019, Save the best for last…

kabah
Masjidil Haram
nabawi
Masjid Nabawi
DSC00685
Kawasan Masjid Al Aqsho

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-51 ini bertema Best agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Let It Go, Let It Flow


Dalam setiap perjalanan, biasanya saya memiliki tempat yang meninggalkan kesan yang amat membekas. Meskipun kadang, saya tidak pernah tahu apa yang membuat saya begitu terkesan.

Seperti halnya pada perjalanan saya ke Namche Bazaar dua tahun lalu (duh, sudah dua tahun ya? Rasanya baru kemarin menanjak kelelahan… ). Saat pergi, -menuju Namche Bazaar-, saya menyempatkan diri berhenti di tengah jembatan dan mengagumi suara air yang menimpa bebatuan. Suara airnya meresap sampai ke hati. Saat itu, saya merasa agak berat meninggalkan tempat itu. Belum puas rasanya, tetapi waktu bukan sahabat saya waktu itu. Dasar trekker abal-abal yang ‘sok tau setengah mati’, saya ini perlu waktu berkali-kali lipat dari trekker pada umumnya untuk mencapai Namche Bazaar. Kebanyakan berhenti yang saya gunakan untuk foto-foto (padahal lebih utamanya untuk mengambil nafas 😀 )

DSC01278
A Small Creek on the way to Namche Bazaar, Nepal

Nah kembali ke tempat tadi, akhirnya saya harus meninggalkannya demi tidak kemalaman sampai ke Namche Bazaar. Tapi saya mengingat tempat itu.

Perjalanan pendek ke Namche Bazaar tahun itu memang tanpa rencana, tanpa planning yang matang. Saat itu saya hanya begitu rindu Himalaya (sekali ke Himalaya, biasanya jadi kecanduan sih), sehingga ketika bisa mengambil cuti sebentar, tanpa pikir panjang saya langsung terbang ke Nepal.

Waktu saya memang terbatas sekali, sehingga saat sorenya mencapai Namche Bazaar, esok paginya saya harus turun kembali. Saya seperti seorang turis yang dibawa oleh tourleader, berhenti hanya untuk berfoto sejenak. Bahasa kerennya, pokoknya sudah sampai di situ. Praktis tidak ada kesan yang tertinggal dalam di tempat itu.

But the show must go on… Saya harus turun dan kembali ke Indonesia kan?

Di tengah jalan itu, saya berhenti lama di tengah jembatan hanya untuk menatap air, menikmati suara air. Gemerisiknya meninggalkan kesan begitu dalam.

Saya mungkin memang tidak memiliki kesan dalam di Namche Bazaar, tetapi saya memiliki kesan amat indah di sebuah tempat, di tengah jembatan tak jauh dari Namche. Di antara pepohonan yang rindang, suara airnya bagai musik di telinga,

Bisa jadi saya agak menyesal melakukan perjalanan ke Namche Bazaar ini yang dilakukan terburu-buru. Tetapi dengan menyaksikan air yang suaranya begitu menenteramkan, saya merasa bisa melepaskan penyesalan itu. Melihat airnya yang mengalir, saya terundang melepaskan semua masalah yang ada, sedikit sesal dan semua lelah yang dirasa. Saya melepaskannya dan membiarkannya pergi mengikuti alirannya. Yang kemudian saya rasakan adalah rasa terbebaskan…

(ah, tampaknya saya harus bongkar-bongkar lagi, karena rasanya saya pernah merekam suara air itu, mudah-mudahan saja tidak terhapus!)

Ada yang pernah punya pengalaman seperti saya?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-50 ini bertema All About Water agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…