Nepal DTD Trip, Once Again, Namaste Kathmandu


Work in the invisible world at least as hard as you do in the visible – Rumi

Kembali ke ‘rumah’

Saya mendadak terbangun dari tidur, merasakan naiknya intensitas frekuensi dari dalam diri agar kesadaran terjaga. Dengan segenap upaya saya membuka kedua mata yang terasa lengket lalu menoleh ke jendela kanan. Gelapnya malam menghilangkan pemandangan yang seharusnya indah, yang pernah saya saksikan dengan mata kepala dan mata hati, dua tahun silam. Himalaya bertudung salju yang berjajar indah, seakan bersama semesta menyambut kedatangan sebuah hati. Namun kini, bulanpun malu tampil, malam tetap berhias pekat, seakan melempar sebuah tanya, siapkah saya kembali ke rumah, dengan apapun yang ada?

Tanpa diberitahu oleh pilot penerbangan pun, saya mengetahui dalam beberapa saat lagi kaki ini akan menjejak kembali di Kathmandu. Kelap-kelip lampu di tanah mulai satu per satu terlihat, yang semakin banyak, semakin mengelompok. Seperti rasa yang muncul di dalam hati ini. Sebuah rasa yang semakin membuncah. Saya kembali ke Nepal, tempat dua tahun lalu menjalani hari-hari penuh dengan keajaiban. Luar biasa, seperti kembali ke rumah.

Dan kali ini tetap saja dengan sejuta harap kepada Yang Maha Mengasihi agar berkenan melimpahkan anugerah yang sama…

Namaste

Akhirnya roda pesawat itu menjejak bumi yang dua tahun lebih dihajar gempa besar yang meluluhlantakkan banyak tempat itu. Saya menutup mata, memindahkan sejenak kenangan pahit dampak gempa di Nepal ke sebuah sudut hati yang terdalam. Menyimpannya agar diam disana lebih lama untuk bertransformasi kearah kebaikan. Kali ini, dalam perjalanan ini, tak boleh ada airmata duka karena bukankah perjalanan ini sebuah undangan yang luar biasa? Bukankah saya diijinkan memiliki impian dan dibuncahkan keberanian untuk menjalaninya? Ini sebuah perjalanan untuk mewujudkan impian… A Dare to Dream Trip!

Pesawat akhirnya berhenti dan bandara Tribhuvan International Airport pun menyambut penumpang. Satu per satu penumpang keluar menuruni tangga termasuk saya. Di ujung tangga, di bawah, saya merendahkan tubuh lalu menyentuhkan telapak tangan ke bumi Nepal.

Namaste, Nepal…

Lalu saya berdiri menunggu Pak Ferry kemudian berjalan perlahan kearah bus untuk menuju terminal kedatangan. Saya terdiam menggigit bibir karena potongan-potongan kenangan indah dua tahun lalu di Nepal menghajar benak tanpa jeda. Saya seakan hidup dalam kenangan melewati lorong yang sama dan mengikuti alur penumpang di bandara yang sama. Suasana yang sama. Hanya kali ini malam, dulu siang. Tetapi sejatinya memang tak banyak beda.

Di Bandara

Proses imigrasi yang sama walau kini bisa lebih cepat dengan bantuan terminal pintar yang mengambil foto wajah. Tetap dengan harga visa yang sama, 25USD untuk 15 hari. Wajah-wajah Nepal yang serupa dengan senyum yang segera menghias bibirnya. Masyarakat yang ramah! Dan kembali terdengar di telinga tutur bahasa yang dua tahun lalu terasa asing yang hingga kini pun masih terasa tak biasa di telinga. Ah, saya saja yang tak cepat belajar bahasa.

Sedikit letih akibat lamanya penerbangan, saya mengikuti alur penumpang dari sejak imigrasi hingga akhirnya pengambilan bagasi. Ditunggu satu saat dua saat, kedua ransel yang terbungkus plastik tak muncul juga hingga bagasi terakhir. Belum sempat pak Ferry dan saya diterpa bingung, sebuah sapa menggugah perhatian saya. Di belakang kami, sesosok tubuh besar menuturkan dalam bahasa Nepal sambil menggerakkan tubuh menjelaskan maksudnya. Ia menunjuk ke bawah, apakah ini yang dicari? Di kakinya, ransel kami yang terbungkus plastik tanpa kurang suatu apapun. Dan saya pun mengangguk memahami maksudnya. Seketika sebuah senyum menghias wajahnya. Kami juga. Ah, sebuah sambutan bahagia yang nyata.

Welcome to Nepal – menuju lorong VOA

 

Kami menenteng ransel yang kini menjadi sulit diangkat karena terbungkus erat plastik sambil menggendong daypack kami. Ini semua gara-gara tidak terjaminnya pengamanan bagasi di Jakarta. Sudah terlalu sering pejalan bertukar cerita tentang maling bagasi yang dibiarkan merajalela di bandara. Jangankan yang bernilai, makanan dan oleh-oleh dalam tas penuh pakaian kotor pun di-embat. Mana mungkin saya membiarkan peralatan trekking yang susah payah saya kumpulkan untuk hilang tak berbekas oleh manusia bejad di Jakarta? Jadi walaupun ransel ini menjadi susah diangkat, mitigasi ini jauh lebih baik.

Sambutan

Kemudian akhirnya kami sampai di depan pintu keluar. Mau tak mau saya tersenyum. Teringat betapa gila saya mencari nama sendiri diantara ratusan nama yang tertera pada kertas yang dibawa penjemput. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami, tetapi ini diantara ratusan pasang mata laki-laki yang melihat ke diri saya langsung di siang hari bolong itu. Nekad. Mengingat itu, saya cerita pengalaman itu secara sekilas  kepada Pak Ferry. Dia tersenyum lebar lalu mengajak melakukan hal yang sama lagi. Karena selain itu, apalagi yang bisa dilakukan?

Tetapi kali ini, terbaca nama saya pada sebuah kertas di dekat pintu. Ah, sebuah permulaan yang baik. Begitu cepat. Saya mendatangi mereka dengan senyum, seakan memberitahu jati diri tanpa perlu bicara. Seorang dari mereka memperkenalkan diri sebagai pemandu utama kami lalu mengalungkan bunga selamat datang kepada pak Ferry dan saya. Ah, begitu cantik penyambutan ini. Sebuah permintaan maaf sekaligus terima kasih secara otomatis keluar dari bibir saya karena mereka telah menunggu begitu lama di bandara karena tertundanya penerbangan kami. Tapi semua itu tak menjadi soal, karena tak lama kami telah berada di dalam jeep yang membawa ke hotel di kawasan Thamel, sebuah tempat terkenal untuk hang-out di Kathmandu.

Saya pun bertukar cerita kepada Dipak, tour & trekking guide kami, bahwa saya senang bisa kembali ke Nepal yang langsung disambut berbagai pertanyaannya mengenai perjalanan saya sebelumnya itu. Ah, bagaimana mungkin saya melupakan perjalanan penuh keluarbiasaan itu? Bisa tak habis-habis saya bercerita…

Tak ingin memonopoli dengan cerita perjalanan Nepal sebelumnya, pembicaraan saya alihkan dengan menunjukkan Kuil Pashupatinath yang saat itu kami lalui, kepada Pak Ferry yang tentu saja disambut dengan sangat antusias karena ia memiliki banyak kawan Hindu yang menanyakan mengenai Kuil Pashupatinath yang suci. Namun Kuil Pashupatinath pada malam hari hanya berhias temaram dan sedikit lampu walau tetap memendarkan kemagisan. Hanya sejumput harap untuk bisa mengunjungi kuil itu sekembalinya dari trekking…

Lalu setelah melalui beberapa turunan dan tanjakan perbukitan serta menembus jalan-jalan kecil di Kathmandu, saya menebak telah memasuki kawasan Thamel yang diwarnai oleh orang-orang yang mulai menutup tokonya. Kami memang datang terlambat. Sudah banyak toko yang menutup pintu tetapi Dipak mengatakan bahwa ada toko yang bisa buka sampai malam agar kita bisa membeli peralatan trekking yang kurang.

Pemeriksaan

Sesampai di hotel, kami disambut oleh Siddhartha, sang manajer dari perusahaan pemanduan trekking yang kami gunakan. Sambil menunggu proses check-in, seluruh peralatan trekking kami diverifikasi olehnya untuk memastikan bahwa trekking akan berjalan dengan aman. Mereka meminjamkan kami trekking pole, botol minum, tas besar tahan air, sleeping bags dan lain-lain. Oleh sebab itu sisanya perlu dipastikan kecukupannya, termasuk jaket, jas hujan, ransel, celana trekking, jumlah pakaian dan lain-lain. Bahkan sepatu yang digunakan juga diperiksa. Mungkin sebagian orang bisa merasa terganggu dengan proses verifikasi ini, tetapi saya mengambil sisi positif. Bukankah ini perjalanan ke alam yang telah mereka kenali? Bukankah mereka lebih paham? Bukankah kami berasal dari negara tropis yang tak pernah kenal salju? Bukankah kami tidak pernah menjajaki gunung-gunung di Himalaya ini? Apalagi saya yang sama sekali belum pernah mendaki gunung. Lalu apa salahnya belajar dari orang yang lebih ahli dan lebih memahami Himalaya?

Persiapan dari Jakarta membuahkan hasil karena seluruh peralatan trekking kami lulus verifikasi dan tentu saja kami tetap diajak belanja untuk menambah peralatan di toko yang masih buka. Pak Ferry berkenan melihat jaket-jaket dengan beragam merk dengan spesialisasi outdoor yang terkenal. Akhirnya beliau membeli satu jaket termal tahan air TNF seharga kurang dari 1 juta yang jika di mal terkenal di Jakarta dipatok harga sekitar 5 juta. Kapan lagi bisa beli dengan harga itu???

Pegunungan Himalaya Bertudung Salju

Kehadiran

Kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Keriuhan Thamel hanya menyisakan degup-degup musik dari tempat yang masih penuh pengunjung. Saya memilih kembali ke hotel karena sudah pernah menyusuri Thamel agar bisa menghemat energi untuk trekking keesokan harinya. Ya, besok kami memulai perjalanan itu.

Sendiri di kamar hotel membuat saya terpaku dalam hening, menyadari hadirnya diri, seutuh-utuhnya, di ‘rumah’, di bumi Nepal yang bagi saya selalu magis. Saya telah menempuh perjalanan dari pagi hingga malam hari hingga bisa berdiri di sini, di bumi tempat Himalaya sambung menyambung. Getarnya terasa langsung dalam jiwa. Esok hari, kaki ini mulai melangkah, satu demi satu, menapaki bukit, menuruni lembah.

Sepertinya saya masih tak percaya, tetapi udara yang saya hirup dan saya lepaskan adalah udara yang sama. Udara Himalaya.

Dan bagi saya hanya ada satu Himalaya di dunia. Himalaya yang itu.

Nepal DTD Trip, Memulai Perjalanan Dengan Kesabaran


I am perfect in my imperfection, happy in my pain, strong in my weakness and beautiful in my own way, because God is on my side.

Minggu ketiga di bulan Januari 2017, tiga bulan sebelum tanggal keberangkatan, akhirnya saya memesan tiket pesawat setelah paspor pak Ferry, –my travel buddy-, selesai diperpanjang. Harga tiket sudah naik 200 ribu, tetapi masih jauh lebih murah daripada maskapai lain yang mematok harga hingga 7 juta pp. Nilai setengah dari maskapai lain itu memang menggiurkan tetapi jika di-blacklist karena suka delay, bagaimana ya? Pemikiran yang datang tiba-tiba itu langsung diabaikan karena tergerus harga yang sangat menggoda. Bukankah Malindo merupakan maskapai campuran dari Lion Group Malaysia? Dengan harapan manajemen Malaysia lebih baik dari Lion Indonesia, akhirnya saya memesan tiket untuk Jakarta – Kuala Lumpur – Kathmandu. Dan cerita perfect in my imperfection, happy in my pain, strong in my weakness pun dimulai…

Expectation Vs. Reality

Dan dua bulan sebelum keberangkatan, datanglah email pemberitahuan dari maskapai yang grupnya itu sering dihinadina oleh para pejalan itu. Isinya jelas, penerbangan saya mengalami penjadwalan ulang. Mengutip sumpah serapah komik jaman muda dulu, seribu setan belang, saya mulai mengomel berkepanjangan. Bagaimana tidak, saya memilih penerbangan paling pagi dari Jakarta ke Kuala Lumpur lalu transit sebentar lalu terbang lagi ke Kathmandu sehingga bisa mendarat di Negeri di atas awan itu jelang sore. Itu memang tujuan saya, mengambil penerbangan ke Kathmandu sore hari, demi melihat jajaran pegunungan bertudung salju yang sangat indah. Dalam perjalanan pertama ke Nepal dua tahun lalu, saya duduk di jendela sebelah kanan menikmati keindahan itu. Tentu saja saya ingin mengalaminya lagi. Normal kan? Lagi pula sampai di Kathmandu sore akan lebih baik daripada malam, paling tidak bisa belanja melengkapi trekking gears.

Flight Reschedule

Tetapi memang dasar setan belang, semua bermula dari jadwal penerbangan Kuala Lumpur ke Kathmandu dimajukan semena-mena dan tidak dapat dikejar oleh penerbangan dari Jakarta. Akibatnya, secara sepihak seluruh penerbangan saya dimundurkan semua. Penerbangan dari Jakarta ke Kuala Lumpur dipindahkan ke tengah hari dan penerbangan ke Kathmandu dipindahkan ke sore hari yang otomatis sampai sana jam 8 malam! Bagaimana mau melihat pegunungan berpuncak salju pada malam hari? Lalu dengan memperhitungkan proses visa dan bagasi yang lama, apakah masih ada toko yang buka pada malam hari? Dan pastinya rencana jalan-jalan di obyek wisata Kathmandu berantakan semua! Dasar setan belang…!

Siang itu juga saya langsung berdiskusi dengan pak Ferry mencari solusi namun pertimbangan uang tetap menjadi primadona karena tidak mau rugi dua kali. Selama masih di tanggal yang sama hanya beda jam kelihatannya masih bisa diterima. Oh, I am perfect in my imperfection, happy in my pain, strong in my weakness…

Selesai…?

Belum!

Beberapa minggu sebelum keberangkatan, saya masuk ke situs Traveloka dan mencoba mencetak ulang tiket dengan jadwal baru, namun hasilnya masih jadwal lama! Lhah, apa lagi ini??! Sampai saya harus memeriksa ke situs Malindo untuk memastikan kami terdaftar sebagai penumpang dalam penerbangan siang dari Jakarta – Kuala Lumpur – Kathmandu itu dan untung saja kami memang terdaftar dengan jadwal baru. Berbagai cara ditempuh tetap tidak bisa mencetak jadwal baru melalui Traveloka, lalu akhirnya saya nekad akan pergi pada hari keberangkatan menuju bandara berbekal informasi terkini di ponsel. Paling-paling berurusan dengan petugas pintu masuk yang mungkin mencegat saya masuk. Jadi harus siap-siap sabar!

Belum lagi soal packing ransel. Karena belum terbiasa menata di Osprey 36L, saya perlu waktu hingga seminggu karena banyak barang sesuai ceklist yang tidak bisa masuk. Hal remeh ini melelahkan fisik dan memerlukan pengorbanan untuk bisa meninggalkan barang-barang kesayangan yang tidak perlu dalam trip ini.

Dan akhirnya sampai juga di hari keberangkatan untuk perjalanan Dare To Dream ini! Bismillah…

Di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta saya menunggu Pak Ferry di depan pintu masuk. Saya merasa tidak pede karena sudah mengenakan pakaian trekking lengkap dengan carrier di punggung, daypack di depan dan sepatu trekking, hanya untuk mengirit tempat! Agak saltum di bandara Jakarta yang lebih cocok dengan pakaian casual atau business. Tapi tak lama kemudian datanglah travel buddy yang juga lengkap dengan pakaian trekking, ransel dan sepatunya. Dua orang saltum di bandara Soekarno-Hatta 😀

Berhasil melewati petugas depan yang tidak memperhatikan jam berangkat, kami langsung membungkus carrier dengan plastik agar aman sebagai bagasi. Lalu melangkah pasti menuju konter Malindo untuk check-in. Tapi ternyata kami ditolak karena terlalu awal! Duh… sistemnya pasti masih kuno sehingga tidak bisa check-in sebelum waktunya. Hallooooo… Malindo, sekarang sudah tahun 2017!

Check-in

Satu jam menunggu konter check-in buka, kami kembali berdiri di antrian konter. Satu orang dilayani lebih dari 15 menit. Lalu terlihat Sang Supervisor bolak-balik antar konter dengan muka kusut, memberikan tanda-tanda buruk. Apalagi petugasnya sering memanjangkan leher melihat ke konter sebelahnya, sambil bertanya-tanya. Adegan itu tak berkesudahan. Alamak! Dan akhirnya penumpang di depan konter selesai dan meninggalkan konter sambil bersungut-sungut mengomel. Di depan saya masih tiga orang dengan kecepatan proses yang tidak beda dengan sebelumnya! Sabar… tapi dimana Sabar??? Saya menggoyangkan kepala laksana boneka India sambil bertanya dalam hati, masih mau menggunakan maskapai ini? Rasanya saat itu saya melimpah rindu kepada maskapai apapun yang proses check-innya mudah dan cepat!

Ternyata kegaduhan sejak proses check-in yang lama itu rupanya berlanjut. Cepatnya imigrasi yang bertolak belakang dengan layanan check-in itu, membuat kami punya waktu untuk makan roti sejenak walaupun setelahnya tergopoh-gopoh juga ke pintu keberangkatan karena waktunya tak lama lagi. Namun, di ruang tunggu itu, kami menanti si pesawat yang tak kunjung tiba. Setelah memanjang-panjangkan leher, pesawat itu tak muncul juga. Dan dimulailah dramanya. Tapi supaya singkat, setelah ditunda sekali, ditunda dua kali, ditunda lagi…. dan lagi, hufft… akhirnya kami boarding juga. Ada kelegaan…

Selesai?

Belum!

Setelah sikut kiri, sikut kanan, tidak mau antri saat boarding, ditambah berebut ruang bagasi atas, akhirnya semua penumpang duduk di kursinya masing-masing. Sepuluh menit…, lima belas menit…, setengah jam berlalu, tidak ada tanda-tanda pesawat bergerak. Tanpa ada pemberitahuan. Saya yang jatuh tertidur sampai bangun lagi, pesawat juga belum bergerak. Hedeeew… ada apa ini?

Dan setelah sekian lama, akhirnya pilot bicara meminta maaf dan bla-bla-bla…, lalu pesawatpun bergerak. Itu pun masih masuk antrian ketiga untuk dapat clearance terbang. Dan saat itu sudah 2 jam tertunda dari jadwal seharusnya, padahal waktu transit di Kuala Lumpur untuk penerbangan selanjutnya ke Kathmandu hanya beda 2 jam!

Tidaaaaakkkk…!

Di pesawat saya diskusi dengan Pak Ferry seandainya tidak bisa mengejar penerbangan ke Kathmandu, what’s next? Rupanya Pak Ferry sama seperti saya yang tidak terlalu menetapkan target. Dengan santai dia mengatakan untuk memotong jalur ABC tanpa lewat Poonhill. Saya setuju. Paling tidak saya bisa bersyukur lega karena travel buddy bisa sangat fleksibel (diluar sana lebih banyak orang yang kaku dan ngotot!)

Pasrah dengan penerbangan dengan jadwal suka-suka ini, saya mencoba tidur kembali selagi bisa dan menikmati makanan gratis yang ternyata rasanya lumayan. Ah, bukankah ada nilai-nilai yang patut disyukuri dalam setiap keadaan? Iya siiih, tetapi….

Singkat cerita… setelah mendarat di KLIA, pada saat pesawat baru saja berhenti dan membuka pintu di garbarata, pada jam itulah saya seharusnya terbang ke Kathmandu! Dalam hati saya hanya bisa menjerit galau, masih mau pakai maskapai ini? Oh, I am perfect in my imperfection, happy in my pain, strong in my weakness…

Berbeda dengan terminal KLIA2 yang sudah familiar karena biasa menggunakan AirAsia, saya tak kenal dengan terminal KLIA yang sering digunakan oleh maskapai-maskapai non-budget. Saya tak tahu lokasi transfer dan gerbang-gerbangnya. Perlu waktu untuk membiasakan dan kali ini tidak ada waktu untuk membiasakan! Matek!

Antrian keluar dari pesawat terasa sangat lama sehingga ketika menjejak kaki di gedung terminal, Pak Ferry dan saya langsung tergopoh-gopoh lari menuju papan informasi untuk memeriksa gerbang keberangkatan dengan harap-harap cemas pesawat belum berangkat. Oh My God, help us…

Dan wow!!! PertolonganNya selalu datang tepat pada waktunya. Di papan jelas tercetak nomor penerbangan kami dengan status Boarding! Aha, baru kali ini saya suka dengan pesawat yang delay! 🙂

Boarding

Tak perlu perintah dua kali, Pak Ferry dan saya lari lagi menuju gerbang menggunakan feeling. Semoga benar! And God is on my side, jalurnya benar! Tapi di depan gerbang, saya tertahan, tidak boleh masuk. Aduh, botol minuman masih berisi air yang harus dibuang. Saya menoleh ke kiri kanan mencari tempat pembuangan air atau tempat sampah. Tidak ada sama sekali, sehingga dengan terpaksa saya lari lagi ke toilet untuk membuang air kemudian lari kembali ke gerbang untuk langsung boarding.

Hah…hah…hah…. Nafas rasanya mau putus…

Boarding berjalan lancar dan tempat duduk di sekitar saya lebih banyak kosong sehingga terasa agak lega. Tetapi menit demi menit berlalu, pesawat pun juga tak jelas kapan terbangnya. Ditambah dengan antrian clearance terbang. Aduh… masa’ pengalaman di Jakarta berulang? Ampuuun…

Hanya bisa berbekal sabar dan harap, akhirnya pesawat terbang juga meniti waktu, jam demi jam menuju Kathmandu. Saya lebih banyak tidur membayangkan jauh di sebelah kanan seharusnya mulai terlihat pegunungan tinggi berpuncak salju yang kini tak mungkin terlihat karena hanya kegelapan yang menghias jendela. Tapi bukankah saya telah menerima perubahan jadwal ini dengan segala konsekuensinya? Menyesali tak akan mengubah apapun. Saya menerima apapun yang terjadi…

Benar. Apapun yang terjadi, saya telah berani melangkah dalam perjalanan menuju impian yang mewujud.

Nepal – Annapurna Base Camp, A Dare to Dream Trip


Satu tengah malam di bulan Oktober 2016.

Saya tersentak dalam doa. Benarkah ini? Saya tak mungkin tak percaya, tak mungkin tak merasa. Karena rasa itu begitu intens. Ada bahagia mendekap rasa, sangat kuat. Rasa yang sama, persis ketika melakukan perjalanan luar biasa di Nepal 2014 lalu.

Ke Nepal?

Lagi?

ABC? Annapurna Base Camp?

Rasanya tak percaya, tetapi jelas ada senyum disana, sehingga tak perlu lagi ada tanya.

Saya hanya mampu menutup mata, bahagia tapi bercampur banyak rasa, tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, masih tak percaya. Saat itu saya setuju walau berhias sejumput ragu untuk mengukir impian menjejak disana. Di ABC, di kaki Annapurna, salah satu dari gunung-gunung tinggi Himalaya.

Annapurna Base Camp

*

Saya bukanlah seorang pendaki gunung, apalagi sampai empat ribuan meter. Itu lebih tinggi dari Gunung Semeru di Jawa, atau Gunung Rinjani di Lombok bahkan Gunung Kerinci di Sumatera yang mencapai 3805 meter. Terlebih lagi saya belum pernah sekalipun mendaki gunung, dimanapun, di Indonesia apalagi di luar negeri. Dan mau mencapai Annapurna Base Camp yang berada di 4130 meter di atas laut?

Bila dipikir-pikir, that’s insane…

Entahlah, saya hanya bisa terdiam dulu walau tetap berpegang pada rasa percaya. Jawabannya pasti ada.

Di sebuah siang, televisi kabel di hadapan menampilkan acara kuliner. Tiba-tiba iklan menghapus tayangan tadi. Di depan mata terpampang jelas pemandangan yang saya hafal luar kepala. Saya kenal tempat itu. Lokasi yang hancur lebur saat gempa enam bulan setelah saya meninggalkan tempat itu. Kathmandu di Nepal. Terlihat bangunan Istana di Kathmandu Durbar Square, lalu Patan Durbar Square lalu puncak-puncak bersalju Himalaya. Darah saya berdesir kencang. Saya yang jarang menonton televisi di ruang keluarga ini, tiba-tiba ada iklan yang menggambarkan Kathmandu dan sepenggal Himalaya tepat di depan mata saya siang itu. Bukan tempat lain, melainkan Nepal! (Satu!)

Di siang yang lain, tiba-tiba FB Messenger berdenting, saya membaca. Seorang kawan Nepali bertanya kabar karena sudah dua tahun saya meninggalkan Nepal. Lagi-lagi darah saya berdesir kencang, kawan tadi hanya sekedar bertanya kapan kembali ke Nepal padahal dia sudah lama sekali tak menghubungi saya. Lalu mengapa siang itu ia tiba-tiba menanyakan kapan kembali ke Nepal?  (Dua!)

Saya sudah bertahun-tahun tidak menonton film di bioskop, bahkan ketika heboh film James Bond Skyfall, saat itu pun saya sudah tak menonton bioskop. Dan tiba-tiba di suatu siang di bulan November, sebuah notifikasi kanal medsos muncul di ponsel dengan tulisan ‘Dr Strange’. Ketakmengertian saya akan tulisan itu seketika lenyap dan tergantikan dengan darah yang lagi-lagi berdesir kencang saat membaca hasil google. Dr. Strange adalah sebuah film yang lokasi pembuatannya di Kathmandu, Nepal! Dan entah kenapa, semuanya menjadi mudah untuk mengembalikan saya ke bioskop lagi. Dan benarlah, dengan mata mengabur sambil menggigit bibir, saya mengenali banyak lokasi adegan di dalam film itu. Lagi-lagi terkait Nepal! (Tiga!)

Kemudian beberapa malam setelah kejadian nonton film itu, di kamar saya duduk santai menatap TV lalu sembarang menekan tombol yang membawa saya ke saluran HBO. Dalam sekejap kembali darah saya berdesir sangat kencang mengetahui bahwa yang terpampang di depan mata saya adalah film Everest. Lagi-lagi sebuah kisah di Nepal. Apalagi ini cerita Himalaya di Nepal! (Empat!)

*

Jelang dini hari saya meluangkan lebih lama untuk berdoa, berbincang dengan Pemilik Semesta. Melihat semua peristiwa yang terjadi belakangan ini, rasanya menyesakkan memenuhi dada. Berbagai peristiwa tampaknya “kebetulan”, – sesuatu yang tak pernah saya percayai-, terus menerus silih berganti terjadi. Dan semuanya memiliki relasi pada hal yang sama, Nepal. Inikah jawab atas sejumput ragu yang masih menyelinap di tengah rasa? Saya tak bisa menolak saat menalikan kembali rasa percaya, satu dua air mata menetes saat berserah kepadaNya. Jika memang saya harus pergi ke sana, maka tolonglah saya, mudahkanlah jalannya.

Lalu, sekembalinya dari sebuah trip menuju Jakarta, ternyata saya duduk dalam satu baris dengan co-founder Air Asia, Mr. Tony Fernandes. Kesempatan langka tersebut saya gunakan langsung untuk meminta darinya sebuah note dan tandatangannya serta juga berselfie dengannya. Kesempatan ekstra jarang itu saja sudah sangat membahagiakan, apalagi membaca note dari beliau yang sungguh membuat darah saya berdesir sangat dahsyat. Beliau menuliskan untuk saya… Dare to dream! (Lima!)

Ini dia! Bagi saya, jawaban pengukuhan dariNya bisa datang dari arah mana saja. Bisa dari orang-orang sekitar atau dari alam sekalipun. Tetapi jika datang melalui orang yang sangat menginspirasi, selevel Mr. Tony Fernandes, tentu hal itu merupakan bonus berkah buat saya. Alhamdulillah.

*

Dua setengah tahun lalu saya menjejak ke Nepal dan mengalami begitu banyak keberuntungan dan kebahagiaan selama menjelajah tempat-tempat wisata, kuil-kuil peninggalan yang menjadi World Heritage Sites dan melihat budaya lokal yang luar biasa. Bisa berlama-lama bertatap mata, bertukar bahasa tanpa aksara dengan Kumari, The Living Goddess di jendela Istananya, bisa terlibat dalam keramaian Hariboddhi Ekadashi di kuil Changu Narayan yang sakral, bisa melihat setitik puncak Everest saat melakukan penerbangan mountain flight dengan dua jendela besar, bisa menjejak di Lumbini tempat kelahiran Sang Buddha Gautama dan masih banyak cerita lain penuh rasa. Selama perjalanan di Nepal itu, tak hanya sekali saya terpesona melihat orang-orang, pria dan wanita, memanggul ransel untuk melakukan trekking di Nepal. Bagi saya saat itu sangat jelas, trekking merupakan kegiatan yang berada diluar kemampuan saya. Beyond my capabilities.

Jika saja tak ada ‘undangan’ untuk mencoba berani bermimpi sampai ke batas limit ini…

Karena ketika datang sebuah undangan untuk kembali berkomunikasi mesra dan intens denganNya selama berhari-hari perjalanan, sambil menyaksikan keajaiban-keajaiban ciptaanNya yang sangat indah, untuk merasakan Cinta dan Kasih SayangNya di setiap detik waktu yang sangat berharga, di setiap langkah kaki yang diayunkan, dan ke setiap arah pandang yang memperlihatkan semua kebesaranNya, adakah orang yang tak ingin melakukannya walau harus berpeluh penat?

Guesthouse with Mountains View

Saya tahu bahwa trip ini akan memaksa kekuatan diri, mental dan fisik. Tetapi sebagaimana yang sering kali terjadi dalam perjalanan, saya hanya perlu percaya lalu melakukannya sebaik mungkin, sisanya saya serahkan kembali kepada Pemilik Semesta. Saya akan menikmati setiap langkah dalam keindahanNya, karena perjalanan ini masuk kategori Once in A Lifetime, sebuah perjalanan yang dilakukan minimal sekali dalam hidup ini.

Telah banyak orang yang menjejak disana, apapun alasannya, tetapi bagi saya pribadi, perjalanan ke Annapurna Base Camp ini bukanlah sebuah perjalanan hura-hura, juga bukan sebuah tempat tujuan untuk diberi tanda check atau bahkan sebuah penaklukan, sungguh jauh kata itu darinya. Karena sejatinya perjalanan ini akan menjadi perjalanan intim milik pribadi yang kisahnya senantiasa berbeda di setiap jiwa. Sebuah cerita dari hati.

*

Akhirnya minggu terakhir bulan lalu saya memulai langkah ke negeri di atas awan itu mewujudkan my ‘Dare to Dream’ trip. Terima kasih banyak kepada teman-teman blogger dan grup facebook yang sudah memberi semangat, inspirasi dan berkenan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, juga kepada mas Bartian Rachmat Bartzap –yang tahun lalu solo trekking ke ABC dan sekarang ini, baru saja selesai melakukan solo-trekking ke Everest Base Camp-; kepada Bang Tri Asmeli Sembiring Wanderlust Never Fails yang menceritakan kisah luarbiasanya setiap hari menuju ABC tahun lalu, juga mba Santi Santi’s Corner yang belum pernah mendaki gunung tapi sukses mencapai Poonhill tahun lalu dan Maret lalu juga ke ABC, juga mba Maia Syafni yang inspiratif sekali melakukan trekking sendiri ke ABC yang sekaligus merupakan perjalanan pertamanya kali keluar negeri. Juga kepada my dear friend Igna Celina yang tak berhenti memberi semangat dan tentu saja teman-teman lainnya yang telah berkenan menuliskan komentar dalam tulisan-tulisan saya selama ini, yang tentu saja kali ini hanya sebagai pengantar cerita selama trekking di Nepal…

Nepal – Sampai Kita Berjumpa Lagi, Himalaya…


Dalam postingan sebelumnya, ada peristiwa yang seharusnya tidak perlu terjadi, tetapi bagaimanapun tetap terjadi. Banyak barang basah terkena air dalam perjalanan menuju bandara saat mau pulang ke tanah air. Untuk lengkapnya bisa dibaca di post ini cerita tentang Nagarkot

Dengan celana yang setengah basah dan ‘rempong’ dengan tas-tas dan barang yang juga basah, saya tergopoh-gopoh melangkah memasuki ruangan keberangkatan namun dicegat oleh seorang petugas karena salah terminal. Setengah jengkel dengan kebodohan diri sendiri, saya keluar lagi menyusuri pinggir bangunan untuk menuju ruang keberangkatan untuk Air Asia. Sebelum masuk saya masih sempat menoleh ke tempat drop-off. Mobilnya sudah tidak ada disana, tetapi rasa bersalah saya tak mau hilang. Semoga Tuhan memberi banyak keberkahan untuknya.

Setelah boarding pass dipegang di tangan, saya menarik nafas penuh kelegaan. Masih ada waktu untuk membereskan segala kekacauan yang sebenarnya tak perlu terjadi ini. Saya memutar pandangan dan menemukan sebuah bangku kosong yang sempurna untuk repacking.

I will be back...
I will be back…

Saya mencari handuk kecil yang selalu saya simpan di ransel dan tentu saja beberapa tas plastik. Kebiasaan menyisipkan beberapa tas plastik untuk sesuatu yang penting kini terlihat manfaatnya. Saya mengeringkan sebisa mungkin lalu memasukkan barang-barang yang terasa masih lembab ke dalam beberapa kantong plastik. Kemudian saya keluarkan daypack yang kering dari ransel untuk menggantikan tas tangan yang basah kuyup di bagian bawahnya.

Selagi sibuk dengan mengeringkan dan memindahkan barang, dua turis remaja perempuan berwajah Oriental mengambil tempat di sebelah saya untuk menata ulang kopernya. Namun lebih-lebih dari saya, mereka menghamparkan hampir semua barangnya lalu dipaksakan masuk ke dalam kopernya. Jika saja mereka mengerjakan dengan diam, tentu saja saya tak keberatan. Tetapi mereka melakukannya seakan di rumah sendiri dengan suara keras sambil tertawa-tawa. Dengan mood yang masih tak tentu, situasi saat itu sungguh menyebalkan. Tetapi bagaimana pun ruang saya duduk merupakan ruang publik, lebih baik saya memperpanjang sabar.

Saya masih mengeringkan barang-barang basah ketika melihat petugas dan anjing terlatihnya mendekati saya. Mereka mendekat secara khusus sampai pada jarak yang saya kira terlalu dekat ke barang-barang yang saya letakkan di sekitar. Tak perlu berpikir dua kali, -ketika saya melihat si anjing terlatih itu mengendus dari jarak tertentu-, saya langsung mendekatkan barang-barang yang agak tersebar. Damn… Darah mendesir kencang, pikiran saya langsung bekerja cepat, saat itu pastilah saya ditandai sebagai seseorang yang mungkin sedang melakukan pekerjaan haram, mungkin seperti kurir narkotik yang memindahtangankan dengan kedua perempuan muda yang ada di sebelah saya.

Bukankah anjing terlatih itu diarahkan untuk mendatangi dan mengendus di dekat barang-barang saya? Bukankah ada dua perempuan muda di sebelah yang juga sedang membongkar tasnya dengan menghamparkan barangnya dekat dengan barang-barang saya? Bukankah barang haram itu bisa dipindahtangankan dalam situasi seperti ini, dengan skenario seakan-akan sedang merapikan barang dalam koper? Bukankah saya dalam situasi yang sangat memungkinkan dituduh sebagai kurir barang haram? Bukankah bisa saja barang haram itu diletakkan di antara barang-barang saya dan barang orang lain yang terserak dan bisa dijadikan bukti kepemilikan? Saya bergidik terhadap kemungkinan itu… Hiiii…

Ada sesuatu yang berjalan tidak pada tempatnya… ada yang tak seimbang, ada yang tak sesuai…

Saat menunggu keberangkatan, sepenggal rasa bersalah masih bertengger di hati, ditambah dengan sejumput ingatan ketika si anjing mendengus dekat barang-barang saya. Rasanya terbeban. Saya mengingat seluruh kenangan yang menyenangkan sejak perjalanan dimulai agar beban bisa terangkat sedikit. Ketika melihat Everest dan barisan Himalaya, ketika bisa berlama-lama bertatapan dengan Dewi Kumari the Living Goddess di Kathmandu Durbar Square, ketika mendapat berkat Hariboddhi Ekadashi di Kuil Changu Narayan, saat mendapat sunrise luarbiasa di Pokhara, saat mendapat Khata dari Bhiksu di bawah pohon Boddhi di Lumbini, pagi yang indah di Nagarkot dan begitu banyak kemudahan di semua tempat yang saya datangi… dan di ujung akhir perjalanan semua berbalik arah. Kesalahan apa yang telah saya lakukan?

Ketika boarding, orang yang duduk di belakang kursi saya memasang dan menggunakan speaker dari music playernya, seakan di rumahnya sendiri dan seakan semua senang dengan lagunya. Saya tahu telah berada di ambang batas sabar sehingga saya sampaikan keluhan kepada pramugari yang bertugas karena saya telah membayar mahal untuk tempat duduk yang berada di quiet-zone yang seharusnya senyap agar bisa beristirahat. Bahkan kejengkelan dan ketidaksabaran saya masih bisa merangkak keluar.

Tribhuvan International Airport, Kathmandu
Tribhuvan International Airport, Kathmandu

Sebelum semuanya menjadi tak terkendali, lebih baik melakukan refleksi ke dalam, menenangkan diri, memohon bantuan kepadaNya.

Ketika pesawat bergerak perlahan untuk meninggalkan bumi Nepal, saya menoleh keluar jendela, ke langit yang biru, ke pegunungan yang berjejer. Dengan menempelkan tangan pada jendela, selarik bisikan berupa ucapan terima kasih keluar dari bibir. Dan seketika pula permintaan maaf mengalir keluar atas apapun kesalahan saya selama di bumi Nepal, membuat pandangan buram karena airmata menggenangi pelupuk mata…

Saya teringat kembali kepada dia, pengemudi yang pendiam dan selalu tersenyum terhadap apapun yang saya lakukan. Saya diserang ingatan betapa buruk perlakuan saya terhadapnya. Menganggapnya tidak mengerti, mengabaikan harkat kemanusiaannya bahwa setiap orang ingin dihargai dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dia diam, tetapi bukankah saat itu ada musik sayup serupa Om Mani Padme Hum yang memungkinkan dia mengemudi dengan pikiran yang meditatif? Atau mungkin ia memang pendiam dan juga pemalu, sebuah kombinasi sempurna untuk ‘tidak dianggap’ dan saya memperlakukannya tanpa perasaan. Lalu bukankah setelah itu ada air yang tiba-tiba menggenang? Saya bergidik sendiri, menyadari telah menjadi seburuk-buruknya manusia. Tak heran, jika semua ini terjadi.

Luruskan pikiranmu, begitu teguran Sang Maha Cinta untuk saya dengan tetap melimpahkan kasih sayang berupa air yang menggenangi tas. Dengan begitu banyak berkah yang saya terima selama perjalanan di Nepal mengapa saya mengakhirinya dengan mengabaikan nilai seorang manusia?

Lalu bukankah hanya air? Dan air hanya membasahi barang-barang tak penting? Bukankah bisa lebih mengerikan, bisa lebih buruk, tapi karena CintaNya, hanya ada air? Lalu bukankah bisa saja ada barang haram di antara barang-barang saya saat merapikan kembali? Tetapi yang terjadi sebuah teguran kasih sayang berupa dengusan anjing sebagai pengingat? Bukankah bisa terjadi yang lebih buruk dan lebih mengerikan? Tapi saya dihindarkan dari yang lebih buruk dan yang lebih mengerikan…

Air mata mengalir membasahi pipi, saya menggigit bibir menyadari kesalahan. Sebuah pembelajaran yang check-mate. Teguran yang keras, tetapi tersampaikan dengan sangat lembut dan tidak menyakitkan. Begitu indah, betapa Dia mencintai saya… Bahkan dalam salahpun saya masih dilimpahkan berkah kebaikan dan kasih sayang.

Dan Dia tak pernah putus memberi anugerahNya…

Can't take my eyes off of you, Himalaya
Can’t take my eyes off of you, Himalaya

Saya melihat keluar jendela melihat jelas barisan pegunungan Himalaya yang berpuncak salju berjejer seakan memberi salam perpisahan kepada saya yang terbang kembali menuju tanah air. Dan sang komandan dari barisan pegunungan cantik itu ada di sebelah kanan, terlihat sebagai puncak tertinggi, Sagarmatha yang agung. Everest!

Saya teringat ketika melakukan Everest experience mountain flight, saya hanya diberi kesempatan melihat setitik puncak dari jarak terdekatnya. Dan kini dalam perjalan pulang, siapa yang menyangka gunung tertinggi di dunia itu menampakkan keagungan dirinya di hadapan mata saya. Sagarmatha yang luar biasa indahnya, Everest…

I see you...
I see you…

Bahkan dalam salahpun saya masih diberikan anugerah terindah, di ujung akhir perjalanan di Nepal.

Sejuta rasa berkecamuk di dalam jiwa. Inilah pencucian jiwa. Saya telah menerima anugerah tak henti sejak berangkat dan saya nodai dengan keangkuhan diri, namun semuanya tak menghentikan dari limpahan anugerah. Alangkah tak beruntungnya saya jika tak bersyukur… Bukankah perjalanan ini diatur dariNya langsung? Bukankah susunan itinerary yang telah saya buat itu akhirnya tertinggal di Jakarta lalu digantikan semua dariNya? Bukankah tak banyak orang yang berkesempatan melihat pegunungan Himalaya dan juga Gunung Everest secara jelas?

Saya tetap manusia yang menyadari ketidakmampuan melepas kecantikan pegunungan bertudung salju itu. Saya tak ikhlas, tak rela melepas pandang. Saya memutar badan, lebih baik duduk dengan setengah bokong bertumpu pada satu kaki daripada harus kehilangan pandangan dari Himalaya. Mata saya lekat pada barisan itu. Gunung-gunung yang tampak berbaris gagah itu semakin mengecil, semakin tak terlihat, sampai akhirnya saat dataran India dengan sungai besarnya yang terlihat, mau tak mau, ikhlas saya melepasnya dalam bisikan, terima kasih Ya Allah, terima kasih Nepal, sampai kita berjumpa lagi, Himalaya…

Suatu saat saya pasti kembali, ini sebuah janji…

When will I see you again?
When will I see you again?
It's not a Goodbye, Just Au Revoir
It’s not a Goodbye, Just Au Revoir

<><><>

Dan enam bulan setelah perjalanan saya, sebuah gempa besar meluluhlantakkan Nepal. Saya terguncang hebat. Semua kenangan tempat-tempat indah dengan segenap keajaiban-keajaiban yang pernah mewarnai perjalanan saya itu bergerak bagai film di benak, silih berganti dengan tempat-tempat yang rusak dan yang luluh lantak. Tetapi sebagaimana pengalaman perjalanan saya, -bahkan dalam salah pun saya diberi anugerah-, demikian juga Nepal… Dalam titik rendah kehancurannya, Pemilik Semesta tak pernah sedikitpun meninggalkan ciptaanNya.

*

Baca rangkuman dan cerita seri perjalanan di Nepal : Nepal – Perjalanan Dengan Itinerary Dari Yang Kuasa

Nepal – Nagarkot : Kisah Makhluk Ajaib dan Lembah Halimun


Setelah berjam-jam terkurung dalam mobil kecil dari Lumbini Ke Kathmandu, bersama Santa yang jeda bicaranya sedikit ditambah dengan gempitanya musik pop berbahasa Hindi, rasanya lega sekali berada di kendaraan lain yang membawa saya ke Nagarkot. Sebelumnya, Santa telah mengatakan bahwa ia tak memahami jalan ke Nagarkot sehingga ia akan digantikan oleh pengemudi lain yang lebih mengenal daerah itu. Tentu saja saya tak keberatan selama tujuan sampai di hotel bisa tercapai. Begitulah ceritanya hingga saya duduk di mobil Honda baru yang terasa mewah ini.

Wangi khas mobil baru yang tercium lekat di hidung menunjukkan mobil ini belum lama keluar dari dealer. Semuanya terasa masih brand new. Bisa jadi ini mobil pemiliknya, bukan untuk disewakan. Beruntunglah saya bisa mencobanya…

Early Bird and The Misty Valley
Early Bird and The Misty Valley

Cool but…

Kemudian datanglah laki-laki pengganti itu lalu menyalami saya selayaknya orang yang saling berkenalan. Ada senyum tipis di wajah Orientalnya. Wajah campuran yang umum terlihat di sekitar Nepal dan Tibet. Cool… Menarik, seperti magnet. Keren abis… *anakdansuamibawakatapel

Tak cuma sekali saya melirik mengamati caranya mengemudikan kendaraan di perbukitan menuju Nagarkot, terlihat sangat trampil namun santai. Bahkan saya mendengar musik meditatif yang menenangkan seperti Om Mani Padme Hum, dipasang dengan volume kecil tapi terdengar. Di langit luar bulan terlihat begitu terang, supermoon yang waktunya telah dekat, seakan menemani perjalanan saya menuju Club Himalaya Resort untuk menghabiskan malam terakhir perjalanan saya di Nepal. Berdua menembus malam di Lembah Kathmandu *katanenekberbahaya

Namun ada yang salah. Situasinya terlalu hening. Seperti pasangan yang ngambeg. Saya teringat Santa yang hampir tak pernah diam, sementara makhluk di sebelah saya ini terlalu pendiam. Jika ia tak mengemudi, mungkin saya pikir dia patung. Bahkan saya tak ingat namanya. Mungkin dia tadi menyebutkan, mungkin juga tidak, tapi yang pasti saya tak menyukai keheningan ini.

Saya ingin memecahkan keheningan ini dan melihat lampu-lampu desa di puncak bukit.

“Is that Nagarkot?“ sambil menunjukkan lampu-lampu di atas bukit

Kepalanya menggeleng, “No”

Di mobil seperti ada setan lewat karena begitu hening, kecuali suara sayup musik… sepi…

“So where is Nagarkot?”

Dia tersenyum dalam gelap, hanya menunjuk kearah yang berbeda, tanpa bicara, lalu wajahnya ke jalan lagi… Damn!

Karena melihat penampilannya yang rapi seperti pemilik mobil, saya iseng bertanya kepadanya lagi,

“Is this your own car?”

“No”

Entah benar atau tidak, sama nilai kemungkinannya. Kembali senyap.

Bisa jadi dia penganut fanatik ‘jangan ganggu pengemudi yang sedang mengemudikan kendaraan’. Baiklah, I do it my way. My Kejahilan 😀 Saya memutar tubuh lalu memandang langsung ke wajahnya. Bukan manusia jika intuisinya tak memberitahu ada mata yang memandangnya. Dan BERHASIL, ia jengah ditatap lalu menoleh dengan ekspresi stress berada di dekat perempuan 😀 Yang bisa sukses dilakukannya adalah menetralkan suasana. Tersenyum manis. LOL

“Where are you from”, tanyanya basa-basi

Ahaa, daripada diam seperti patung, lebih baik berbasa-basi. Saya memutar tubuh kembali menghadap  depan sambil menertawakan dirinya yang tak tahan diperhatikan seorang perempuan dan menjawab singkat seakan tak peduli, “Indonesia”

Dan hening lagi seperti di kuburan. Cape deh…

Saya mengalah padanya dan pada situasi serta tak berharap ada komunikasi yang lancar. Benar, dia hanya menjawab Yes atau No, walaupun selalu ada senyum di latar belakangnya.

“You drive so well, when and how did you learn to drive?”

“Yes”

Saya tak peduli dijawab demikian olehnya, tetapi kali ini benar-benar hmmm… apa yaa… makhluk di sebelah saya ini, -walaupun cool menarik seperti magnet-, something is very wrong with him… 😀

Walaupun bukan urusan saya, namun saya ingin tahu apa yang dia lakukan setelah menurunkan saya di Nagarkot karena dia akan kembali mengantar saya ke bandara keesokan harinya.

“Where do you stay tonight?” (belakangan baru sadar, pertanyaan ini bisa diartikan berbeda, kalau ia mengerti)

“Yes”

Gggggrrrrr…*siapsiapambilpacul

Saya mengerutkan kening, mencoba menyederhanakan kalimat saya.

“Here at Nagarkot?”, sambil memperagakan tidur.

“Yes”

“Where”

“Yes” Dia tersenyum, tanpa rasa salah…

Bruuuk… Saya seperti menabrak tembok. Whatever, saya menyerah. Makhluk laki-laki di sebelah saya ini sesungguhnya keren, tetapi sama sekali ga nyambung. Ya sudahlah, lebih baik saya mengambil langkah seperti dia, senyum terus sampai hotel. Senyum dibalas senyum sama dengan damai. 😀

Akhirnya sampai juga di Club Himalaya Resort dan dengan berbagai cara dia mengupayakan agar saya memahami bahwa dia akan menunggu besok pagi jam sembilan di tempat parkir. Sebenarnya saya sudah mengerti, tetapi saya membiarkan dia untuk berlama-lama berbahasa tubuh. Hahaha…

The Misty Valley, Nagarkot
The Misty Valley, Nagarkot

Lembah Halimun

Lelah karena berjam-jam melakukan perjalanan dari Lumbini dan ditambah keharusan menghadapi makhluk ajaib serta mengantri menunggu check-in yang lama, saya langsung terlelap begitu selesai membersihkan diri. Sebenarnya rencana awal adalah menikmati sunset di Nagarkot dan berjalan-jalan di lembah yang terkenal penuh dengan kabut itu. Tetapi apa daya, saya datang saat malam sudah datang dan Dia Yang Penuh Kasih Sayang telah menghapus rencana menikmati malam terakhir di Nepal dengan memberikan saya tidur yang amat nyenyak.

About Sunrise in Nagarkot
About Sunrise in Nagarkot

Esoknya saya terbangun sebelum matahari terbit lalu bergegas menyelesaikan kewajiban pribadi. Udara dingin terasa memeluk pagi. Saya menyibak gorden di jendela. Di luar masih gelap, tetapi saya tak mau melewatkan hari terakhir di Nepal begitu saja. Inilah tujuan saya menginap di Nagarkot, menyambut matahari pagi.

Tak lama terdengar suara kepak sayap burung-burung pagi yang telah meninggalkan sarang, mencari makan, yang suaranya datang dari teras balkon. Saya membuka pintu, udara dingin lembah langsung menerpa wajah. Jauh di horison, pegunungan Himalaya tampak kecil berjejer dengan puncaknya yang tertutup salju. Ufuk Timur mulai berpendar kuning keemasan, tanda Sang Surya beranjak bangun dari tidur. Lembah Nagarkot di hadapan berselimut halimun. Indah. Walau tak seluarbiasa sunrise di Raniban Retreat di Pokhara, keindahan Nagarkot ini tetap menimbulkan rasa haru. Indah dan rasanya berbeda.

Pelan-pelan pagi merekah menyibakkan halimun yang menyelimuti lembah. Sinar matahari sejenak memantulkan cahaya keemasan dari puncak-puncak gunung yang tertutup salju lalu berlomba dengan awan yang bergerak cepat hendak menyelimuti puncak-puncak itu. Pagi yang indah itu tak lama, tetapi birunya langit tetap mewarnai keindahan pagi di Nagarkot.

Saya menyempatkan diri berjalan-jalan di sekitar halaman hotel, menikmati pagi terakhir di bumi Nepal. Rasanya langkah ini adalah langkah menjauh dari bumi Nepal karena waktunya akan tiba dalam beberapa jam lagi. Dan waktu pun terus berjalan, tak peduli apapun, tanpa belas kasihan. Akhirnya datang juga waktu untuk melambaikan tangan kepada kamar di Nagarkot. Belum juga 24 jam, saya sudah harus meninggalkan tempat indah ini. Tepat jam 9, saya pun turun dari lobby menuju tempat parkir.

Dibanjur Air

Dia yang tidak-saya-ketahui-namanya, si makhluk ajaib, berdiri setengah bersandar di depan kap mobil. Tersenyum.

Setelah basa-basi menanyakan kabar, dia membukakan pintu untuk saya. Duh seperti tuan puteri. Teringat berbagai peristiwa komunikasi gagal di malam sebelumnya, saya tak berharap banyak. Seandainya nyambung tentunya sangat menyenangkan berkendara dengannya di pagi yang indah ini.

Pagi itu saya baru melihat keindahan lembah Nagarkot dengan hutan pinusnya yang cantik yang semalam sebelumnya hanya gelap menyelimuti. Keajaiban bertambah karena kali ini dia memulai pembicaraan.

“It’s beautiful…” katanya sambil menunjuk sinar matahari yang menyeruak lembut dari balik pohon-pohon pinus.

Bukannya menanggapi, saya hanya mengangguk tak memperhatikan karena sibuk mengambil foto-foto hutan. Rasanya malas memulai ‘pembicaraan’ tak berujung sehingga saya hanya melempar pertanyaan mudah dan bisa dijawab Yes atau No tanpa perlu berpanjang cerita. Tanpa disadari, saya sudah menjadi seperti dia semalam.

The Pines of Nagarkot
The Pines of Nagarkot

Dan… dalam waktu singkat, bandara Tribhuvan International Airport di Kathmandu sudah di depan mata. Saat bersiap-siap, saya mengangkat tas tangan yang diletakkan di kaki. Tapi… What! Ada air menggenangi tas tangan. Tak berpikir panjang, -karena didalamnya ada tas kamera-, saya langsung angkat tas tangan ke pangkuan yang serta merta membuat celana panjang saya basah. Secepat kilat saya keluarkan tas kamera dan tas kecil untuk paspor, uang dan tiket. Dan terlihatlah biang keroknya. Botol minum plastik yang masih tertutup tetapi isinya tinggal setengah. Pasti tutupnya tidak 100% menutup.

Saya tahu pada saat mencoba menyelamatkan tas tangan dari air yang menggenang dekat kaki, makhluk ajaib di sebelah saya itu tahu something wrong has happened tapi tidak tahu persisnya. Ia kesulitan bertanya. Mencoba memahaminya, saya menjelaskan dengan mengatakan Water! sambil menunjuk ke bawah. Tanpa melepas tangan dari kemudi, ia mencoba melihatnya dari tempat duduknya.

Di tempat drop-off bandara, saya memandangnya dengan perasaan bersalah. Air yang menggenang karpet mobil itu akan menimbulkan bau tak sedap jika tidak langsung dikeringkan dan divacum. Wangi baru dari mobil pasti akan sirna. Tetapi dia berkali-kali tersenyum sambil berkata, it’s Okay, no problem.

Dia, si makhluk ajaib, memiliki hati yang sungguh baik…

Saya turun dengan celana bagian paha basah kuyup dan kedua tangan terasa penuh memegang tas-tas kecil berisi barang penting yang basah terkena air. Dengan hati yang tak enak dan campur aduk ditambah rasa bersalah, saya memandang makhluk ajaib itu turun mengatasi masalah yang saya timbulkan. Tapi saya tak mampu berbuat lebih, karena harus bergegas menuju ruang keberangkatan.

Setelah begitu banyak anugerah berlimpah selama di Nepal ini, di hari terakhir ini rasanya saya dibanjur air (sedikit banyak dalam arti yang sebenarnya!). Dengan pakaian basah, tangan penuh barang setengah basah, saya melangkah ke dalam. Peristiwa ini, sepertinya sebuah tanda… Apa artinya belum bisa saya pahami sekarang, tetapi pasti ada maknanya. Dan tentu saja peristiwa itu bukanlah sebuah kebetulan…

*

Baca rangkuman dan seri perjalanan di Nepal : Perjalanan Dengan Itinerary Dari Yang Kuasa

Nepal – Overland (Again), Lumbini – Chitwan – Kathmandu


Gerbang Lumbini yang baru saja dilewati, -satu lagi destinasi yang berhasil ditandai-, kini semakin kecil tertinggal di belakang.  Tanpa sadar saya menyentuh Khata, -syal putih yang didapat dari Biksu di bawah pohon Boddhi di Kuil Mayadevi, Lumbini, tempat kelahiran Sang Buddha-;  yang kini melingkar di leher dan telah membuat saya sangat terharu.  Menyentuh kain halus yang kontras dengan blus biru saya ini terasa menenteramkan, seakan memastikan bahwa kebahagiaan akan terus menemani dalam perjalanan ini, kembali ke Kathmandu.

Begitu memasuki wilayah Siddharthanagar, mobil yang saya naiki, Hyundai Atoz mulai bersaing dengan  truk-truk besar. Udara Terai terasa semakin panas saat berada dalam antrian lambat kendaraan-kendaraan besar itu. Kebanyakan dari truk-truk itu mengarah ke India melalui Belahiya (Nepal) lalu masuk ke Sunauli (India) dan selanjutnya ke Gorakhpur, -kota terdekat dengan stasiun kereta-, atau ke kota-kota lain di India. Perbatasan yang buka 24 jam ini  juga sering dilalui turis yang melakukan perjalanan darat dari Varanasi, Sarnath atau Kushinagar menuju Lumbini, Kathmandu atau Pokhara, demikian pula sebaliknya. Saya diam-diam mencatat situasinya dalam hati, siapa tahu saya melakukan cross-border disini.

Namun belum bergerak jauh dari simpang perbatasan Nepal – India tadi, Santa menghentikan kendaraan di sebuah bukit lalu memberitahu bahwa hamparan dataran rendah yang sangat luas didepan mata itu adalah dataran India. Negara impian untuk didatangi kembali, yang menyimpan begitu banyak cerita namun belum sempat mendapat prioritas, terlihat jauh sekaligus dekat. Sepertinya hanya selemparan batu dari bukit ini…

Tetapi yang benar-benar selemparan batu adalah warung makan tanpa nama yang begitu mengundang. Matahari yang belum tegak diatas kepala sepertinya menertawakan saya yang terpaksa mengikuti kebiasaan penduduk Nepal untuk makan siang sebelum tengah hari. Tak berapa lama, sepiring Dal Bhat terhidang di meja yang langsung saya lahap dengan penuh syukur. Rejeki dari Pemilik Semesta berupa hidangan, apapun rasanya, tak boleh ditolak karena bukankah masih banyak manusia tak bisa makan di bumi ini…

Waktu berjalan lambat saat mobil meluncur kembali ke jalan yang berkelok menembus perbukitan. Kini pemandangan meranggas telah berubah warna dengan hijaunya pepohonan yang menyelimuti bukit-bukit. Hingga kami mendekati sebuah jalan yang dipisahkan oleh batuan gunung besar yang seakan dibelah secara rapi, -entah oleh alam atau teknologi-, walaupun saya lebih cenderung pada kemungkinan yang terakhir. Saya mengabadikan ‘batu segede gaban‘ yang terbelah dengan keren  itu sambil mengingat jalan-jalan tol di Jawa yang juga dipotong rapi dari gunung-gunung yang menghalangi pembangunan jalan walaupun rasanya tidak ada yang seperti di Nepal ini yang dipenuhi tumbuhan di atasnya.

Namanya overland itu, kecuali sendirian, yaaa perlu juga toleransi. Perjalanan yang tadinya diisi musik top40 kini berganti musik pop berbahasa Hindi. Walaupun ada yang menyenangkan, tapi entah kenapa langsung mengingatkan saya akan momen “cinta pohon atau tiang” dari film-film Bollywood. Santa kadang bernyanyi mengikuti musik yang membuat telinga rasanya gatal mendadak, tetapi demi sebuah perjalanan yang menyenangkan, saya melebarkan batas toleransi lagipula pemandangan di luar menarik hati. …. kya karoon hayee, Kuch Kuch Hota Hai…. 😀 😀 (artinya pas gak ya?)

Sekitar satu jam kemudian, mata saya menangkap rombongan perempuan dalam balutan sari merah yang sedang berjalan sambil ngobrol. Pasti ada kuil di sekitar sini yang sedang ramai dengan perayaan atau mungkin juga pasar rakyat. Bukankah ibu-ibu dimanapun tak jauh dari Sale dan diskonan?

Women around Narayangarh, Nepal
Women around Narayangarh, Nepal

Dan benarlah di depan ada sebuah jembatan panjang yang membentang di atas Sungai Seti Gandaki, yang suci dan telah memberi banyak manfaat bagi penduduk di sepanjang alirannya. Sungai yang mengarah ke Selatan ini merupakan gabungan dari Sungai Kali Gandaki dan Sungai Trishuli, sungai lainnya yang juga dianggap suci. Bukankah nama-nama sungainya bermakna dalam? Dan sebagaimana biasa, di bantaran sungai Seti Gandaki ini dibangun sebuah kuil yang didedikasikan untuk Dewi Durga, mendampingi kuil lain yang pasti ada di dekatnya yaitu Kuil Shiva, yang saat itu penuh hiasan merah. Selain itu dari atas jembatan, terlihat seperti ada pasar rakyat dengan begitu banyak kegembiraan bercampur dengan mereka yang melakukan puja.

Seti Gandaki River
Seti Gandaki River

Di ujung jembatan panjang tadi, sebuah kota yang disebut dengan Narayangarh atau Narayanghat menyambut kami. Keberadaan kota kecil yang terletak di pinggir sungai suci ini telah menjelaskan arti nama kotanya tanpa perlu berpanjang cerita. Ghar atau Ghat berarti sebuah tangga turun ke sungai untuk ritual bersuci. Dan Narayan, sudah tak asing bagi di kalangan Hindu, yang dikenal sebagai Yang Maha Kuasa. Entah kenapa, mengetahui nama kota yang dilewati dengan kedalaman maknanya, saya langsung teringat pada kota-kota yang namanya bermakna indah, Madinah atau al-Madīnah l-Munawwarah, bermakna kota cahaya penerang iman; Los Angeles adalah kota malaikat; atau Krung Thep alias Bangkok adalah kota para bidadari dan makhluk abadi dan masih banyak lainnya. Dan tak luput Las Vegas, yang paling terang, penuh cahaya terlihat dari langit. (tapi yang terakhir ini duniawi sekali ya… 😀 )

The City of Narayangarh, Nepal
The City of Narayangarh, Nepal

Melintasi Narayangarh ini mata saya menikmati situasi setiap sudut kotanya, dengan hotel, bank dengan ATM, toko-toko atau penarik becak seperti yang ada di Lumbini. Kota kecil ini hidup dan langsung saya tersadarkan, tentu saja hidup, sebab tak jauh dari tempat wisata terkenal, Taman Nasional Chitwan, yang terdaftar sebagai salah satu kawasan UNESCO World Heritage Site.

Dalam hitungan menit selepas Narayangarh terbentang jalan membelah kawasan hutan yang tertata. Di pinggirnya sempat terlihat gambar hewan mungkin kawasan konservasinya. Jantung ini berdegup lebih kuat, seandainya saya terbang, tak pernah saya alami ini. Memang saya tak bisa menapakinya langsung, atau berpelukan dengan gajah dan hewan-hewan disana tetapi saya diberi kesempatan untuk membaui sejenak harumnya udara Chitwan yang terkenal dan menyaksikan kawasan hutan pendukungnya. Lagi-lagi saya bersyukur telah berlimpah anugerah dari sebuah kegagalan tidak mendapat penerbangan. Jadi mengapa harus menyesal dengan satu rencana yang gagal?

The Forest in Chitwan National Park, Nepal
The Forest in Chitwan National Park, Nepal

Akhirnya di simpang tiga itu, saya melambaikan tangan kepada Chitwan National Park. Setiap pertemuan memiliki perpisahan. Walaupun sejenak, walaupun hanya membauinya saja, saya bersyukur berkesempatan, daripada tidak sama sekali. Dan kini waktunya meneruskan perjalanan dengan pemandangan lembah-lembah sempit, tebing tinggi dengan sungai kehijauan yang kondisinya tak jauh beda saat melakukan perjalanan dari Pokhara ke Lumbini kemarin. Beberapa kali mata saya juga menangkap bebatuan yang terlihat longgar, yang dalam sekejap bisa longsor menimpa kendaraan-kendaraan di bawahnya. Ngeri untuk membayangkan.

Beautiful Trishuli River, Way to Mugling, Nepal
Beautiful Trishuli River, Way to Mugling, Nepal

Hari beranjak sore, diantara lembah sempit, dengan cahaya langit luar biasa menerpa punggung bukit dan ditemani Sungai Trishuli yang mengalir kehijauan di bawah membuat hati tersenyum. Siapa yang tak kagum dengan lukisan alam yang indah terjadi di depan mata?

Kemudian kurang dari satu jam berikutnya, kami sampai di pertigaan Mugling yang menyatukan kendaraan dari Lumbini dan Chitwan dengan kendaraan dari Pokhara yang semuanya menuju Kathmandu. Walau tak sampai menimbulkan kemacetan seperti di pertigaan Jomin saat mudik jaman dulu, terasa sekali lalu lintas semakin padat. Kini bus-bus semakin terlihat. Jalan nasional Prithvi Highway yang menghubungkan Kathmandu dan Pokhara ini telah dilewati oleh jutaan turis yang bolak-balik antara kedua kota terkenal di Nepal ini.

Sekitar lima kilometer dari pertigaan Mugling, kami mampir sebentar di Kurintar, stasiun kereta gantung satu-satunya yang ada di Nepal yang berasal dari Austria dengan keamanan bergaransi 100%. Sebenarnya menaiki kereta gantung ini sangat menyenangkan, karena bergerak sepanjang 3 km lintasan kabel  antara Kurintar dan Kuil Manakamana dengan ketinggian 1300 mdpl di puncak bukit yang ditempuh dalam waktu 10 menit dengan pemandangan lembah cantik dengan Sungai Trishuli yang berkelok-kelok. Sayangnya saat saya berkunjung tempat itu sudah hampir tutup sementara antrian pengunjung masih mengular panjang. Selain itu ongkosnya tak murah juga, sekitar USD20 per turis. Mungkin lain kali.

Setelah menyeruput segelas kopi, perjalanan dilanjutkan kembali karena Kathmandu masih sekitar 3 jam di depan. Pemandangan masih cantik dengan semakin turunnya matahari. Namun padatnya lalu lintas yang bergerak tak henti, -walau di tengah cahaya lembut sunset-, telah membaurkan udara dengan debu. Tak mungkin berhenti barang sejenak di sepanjang jalan yang berpinggir jurang, lagi pula pastilah membuat kemacetan panjang jika dipaksakan.

Trishuli River and the Mountains
Trishuli River and the Mountains

Hari perlahan berganti wajah menjadi malam. Jalan-jalan masih berkelok dalam gelap kecuali ada penerangan dari kendaraan atau dari bangunan dan billboard di pinggir jalan. Hingga di suatu kelokan bukit, sebuah bundaran besar bercahaya terlihat di antara pepohonan. Saya tertarik mengamati bundaran besar itu, seakan magnet yang sangat kuat. Benda apakah itu… Mata saya terus mengikutinya sementara kendaraan bergerak tanpa henti. Saya terus menatap benda itu mencari tahu sampai akhirnya saya tertawa sendiri. Itu Bulan, satelitnya Bumi yang terlihat sangat besar. Supermoon. Belum pernah saya melihat Bulan sebesar itu saat terbit, benar-benar beruntung saya bisa menyaksikan cantiknya Bulan di langit Nepal. Tetapi saya tak beruntung mengabadikannya, mungkin Pemilik Semesta hanya mengijinkan mata dan pikiran saya untuk melihat dan merekam kecantikan alam itu tanpa bisa mengabadikannya. Sungguh sebuah malam yang luar biasa…

Akhirnya Alhamdulillah, setelah berjam-jam berkendara, sampai juga di kantor penyewaan mobil di Kathmandu. Saya berterima kasih kepada Santa untuk dua hari perjalanan darat yang luar biasa dari Pokhara – Lumbini hingga Kathmandu dan mobil Hyundai Atoz itu kini bisa parkir semalam untuk kembali besok ke Pokhara, sementara saya langsung berganti kendaraan dengan sebuah mobil Honda putih yang wangi barunya masih sangat gres. Aaargh, malam-malam terang bulan begini menuju ke sebuah resort di Nagarkot, dengan mobil keren baru, dengan pengemudi pengganti yang duduk di sebelah saya, yang… ‘keceh‘ dan menarik 100% serta ‘seksih’… Ampuuuunnnn… 😀 😀 😀

bersambung…

Baca Rangkuman dan seri perjalanan Nepal lainnya:

Nepal – Menapak Pagi di Kawasan Monastik Lumbini


Every morning we are born again. What we do today is what matters most – Buddha

Mengutip selarik kata bijaksana dari Sang Buddha di tempat kelahirannya membuat pikiran saya bekerja cukup dalam sambil melangkah meninggalkan kamar menuju lobby untuk check-out. Walaupun hanya bisa sepenggal pagi hari berada di Lumbini, saya akan memanfaatkan kesempatan baik ini semaksimal mungkin untuk berkeliling di kawasan Monastik Lumbini dan tentu saja mengunjungi Kuil Mayadevi, tempat kelahiran Sang Buddha karena setiap detik yang begitu berharga.

Setelah menitipkan ransel di hotel, saya berjalan kaki menuju gerbang Barat, tempat Santa menunggu. Ya memang masih ada Santa hari ini karena kemarin, akhirnya saya memutuskan untuk memperpanjang sewa mobil sampai ke Kathmandu yang tentu saja disambut Santa dengan senyum yang sangat lebar. Sambil berjalan saya menanyakan kabar istirahat malamnya yang langsung dipotong sambil menggerutu, banyak nyamuk di Terai. Saya terbahak mengingat gurauan yang absurd, Terai bukanlah wilayah Nepal…

Santa menghentikan langkah saya dan tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu, ia menawar sebuah rickshaw serupa becak untuk berkeliling kawasan monastik Lumbini. Inisiatifnya ternyata tepat, dalam waktu singkat jika harus berkeliling di kawasan itu dengan berjalan kaki, yang akan didapat hanya kelelahan tanpa mengetahui tempat-tempat bagus di kawasan ini.

Gerah udara pagi Terai tetap terasa walaupun saya hanya duduk manis di becak ala Nepal ini. Saya menyaksikan sendiri betapa kawasan seluas ratusan hektar yang dikelilingi oleh jalan Vishnupura ini merupakan kawasan internasional. Negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha pastilah memiliki vihara di kawasan ini. Dan bentuknya? Pasti disesuaikan dengan ciri khas dari Negara-negara itu. Sebut saja Negara-negaranya, pasti ada…

Becak ala Nepal itu melewati jalan ‘tikus’ untuk sampai ke tengah kawasan melewati petak-petak tanah yang tak terpelihara. Ada sejumput rasa prihatin merambat di dalam hati. Untuk sebuah kawasan yang telah menorehkan tinta emas pada sejarah dunia dan sedikit banyak telah memberi warna perdamaian pada kemanusiaan, kawasan Lumbini ini sepertinya masih jauh dari kondisi yang seharusnya. Entah apa kabarnya dengan mega proyek pengembangan kawasan Lumbini yang telah di-gong-kan hampir empat puluh tahun lalu. Bahkan pencatatan Lumbini sebagai kawasan UNESCO World Heritage Site di tahun 1997 juga belum cukup mampu mengangkat kawasan itu nyaman terlihat di mata.

Dari balik rimbunnya petak-petak yang terabaikan itu saya sempat melihat puncak keemasan stupa Myanmar yang menyerupai Pagoda Shwedagon di Yangon, yang belakangan saya ketahui bernama Pagoda Lokamani. Tanpa masuk ke dalamnya, saya bisa membayangkan vihara Myanmar itu seperti bunga lotus yang hidup di air yang keruh.

From the mud of adversity grows the lotus of joy – Carolyn Marsden

Tepat setelah pagar batas dari vihara Myanmar itu, agak menjorok dari pinggir jalan saya menangkap dinding pagar keliling dengan ciri khas Kamboja seperti yang terlihat pada bangunan-bangunan candi di kompleks Angkor. Terlihat sepertinya masih dalam tahap penyelesaian akhir, ditambah dengan keberadaannya yang agak tersembunyi diantara petak-petak tanah yang terabaikan, membuat kompleks vihara Kamboja semakin tak terlihat. Entah mengapa pikiran saya melayang pada lembaran-lembaran uang yang tak kunjung terbang ke Lumbini.

The Royal Thai Monastery

Akhirnya becak à la Nepal berbelok memasuki kawasan vihara Thailand yang tentu saja didukung secara penuh oleh pemerintah Kerajaan Thailand. Walaupun bentuknya tak serupa, namun karena warna putihnya yang mencolok mata, bangunan vihara ini mengingatkan saya pada Wat Rong Khun (White Temple) di Chiang Rai. Pagi itu, bangunan vihara berlapis marmer berwarna putih terlihat sangat kontras dengan langit biru yang melatarinya. Walaupun ketika mendekat, tertangkap pula di mata saya beberapa bagian yang perlu direnovasi lagi. Ah, tetapi keadaan itu tak mengganggu kecantikan bangunan secara keseluruhan.

Royal Thai Monastery, Lumbini
Royal Thai Monastery, Lumbini

Becak pun terus dikayuh ke Utara menyusuri kolam buatan yang membelah kawasan Monastik menjadi dua bagian. Bagian Timur dari Kawasan Monastik Lumbini adalah vihara-vihara Buddha yang beraliran Theravada dan bagian Barat dari kolam buatan diidirikan vihara-vihara Buddha yang beraliran Mahayana dan Vajrayana.

Dan tepat di bagian Utara, -setelah menyeberang jalan Taulihawa-, terdapat World Peace Pagoda yang melengkapi World Peace Stupa (Shanti Stupa) yang ada di Pokhara. Keduanya, -merupakan bagian dari World Peace Pagoda di seluruh dunia-, didukung penuh oleh Nipponzan – Myohoji, salah satu aliran Buddha dari Jepang yang juga mendukung aliran anti kekerasan dari Mahatma Gandhi.

Setelah berputar di ujung kolam bagian Utara, saya memasuki kawasan vihara dengan aliran Mahayana. Terlihat bangunan cantik berbentuk stupa besar bergaya oriental yang sayangnya tidak diketahui namanya. Di dekatnya terdapat halaman yang tertata rapi namun sayangnya lagi-lagi tidak ada informasi asal Negaranya, walaupun orang lokal mengatakan vihara itu berasal dari Perancis.

Sebelum memasuki vihara yang ada disebelahnya, saya menyempatkan diri untuk menikmati kolam buatan yang terasa meneduhkan udara Terai yang gerah. Vihara modern di seberang kolam tampak seperti dipeluk kabut. Menenangkan sekali.

A Monastery near the pond, Lumbini
A Monastery near the pond, Lumbini

The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa

Setelah melepas alas kaki, saya memasuki vihara yang didukung oleh Yayasan Tara dari Jerman, sehingga public sering menyebutnya Vihara Jerman (rasanya saya hampir saja tak percaya bahwa umat Buddhist di Jerman cukup banyak hingga dapat mendanai pendirian dan pemeliharaan vihara yang tak kecil). Bangunan ini dipelihara dengan sangat cantik dengan taman-taman yang tertata dan benda-benda yang berhubungan dengan ritual diletakkan di seluruh penjuru arah sebagai penguat tata letak. Jika saja pengunjung disana dapat lebih menahan diri tak bersuara, keheningan suasana ditempat ini membuat suasana meditatif kian terasa. Tak lupa di depan bangunan utama terdapat kolam yang ditengahnya terdapat Buddha Kecil, dengan tangan kanan menunjuk ke atas dan tangan kiri menunjuk ke bawah (bumi).

The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa
The Great Drigung Kagyud Lotus Stupa

Pada ruang dalamnya penuh dengan hiasan kehidupan Buddha yang dilukis baik pada dinding maupun pada langit-langitnya dengan warna-warna terang seperti merah dan kuning keemasan selain warna-warna biru muda yang meneduhkan.

Sekeluarnya dari vihara Jerman, saya menyusuri kolam buatan yang airnya sangat tenang sehingga menampilkan refleksi dari bangunan yang berada di pinggir kolam. Melewati sebuah bangunan bergaya Oriental dengan pagar tertutup tinggi, tak terasa langkah kaki membawa ke sebuah gedung berwarna putih pucat, yang sayangnya lagi-lagi tak memiliki petunjuk yang jelas. Sekelompok orang berwajah Hindustan tampak keluar dari gedung itu, entah usai beribadah atau sekedar melihat-lihat.

Monasteries near the ponc
Monasteries near the pond

Melewati sebuah gedung megah yang dari pagar hanya terlihat stupa besar dengan ciri khas Nepal, -memiliki mata seperti Bouddhanath dan Swayambhunath-, sang pengemudi becak ala Nepal telah menunggu kami untuk dikayuh kembali kearah vihara Zhong Hua dari China.

Vihara Zhong Hua

Saya melepas alas kaki untuk memasuki vihara berarsitektur China yang didominasi dengan warna merah ini. Dibandingkan dengan kuil atau vihara yang saya lihat sebelumnya, Vihara Zhong Hua ini sangat megah dan luas. Empat patung Dewa penjaga tampak gagah menghias area gerbang. Halaman bagian dalam tertata cantik yang mengarah ke gedung utama dengan Buddha berlapis emas yang duduk di altar. Secara keseluruhan seluruh bangunan yang ada di kompleks vihara ini dihubungkan dengan lorong terbuka beratap dengan pemandangan halaman taman yang cantik.

Zhong Hua Chinese Monastery, Lumbini
Zhong Hua Chinese Monastery, Lumbini

Vihara Korea

Tepat di depan Vihara Zhong Hua dari China berdirilah vihara Korea yang pada saat saya berkunjung sedang direnovasi. Melihat bangunannya, saya sampai berpikir di Lumbini tempat kelahiran Buddha yang mengajarkan kerendahhatian, entah kenapa saya merasa tetap saja ada upaya berlomba untuk menunjukkan vihara yang terbesar dan termegah. Jika sebuah negara sudah membangun vihara yang besar, ternyata ada negara lain yang membangunnya lebih besar, lebih megah. Lomba kedigdayaan? Entah…

Korean Monastery, Lumbini - under renovation
Korean Monastery, Lumbini – under renovation

Saya kembali berbecak menyusuri kanal di tengah untuk menuju Kuil Mayadevi, sejatinya tempat kelahiran Sang Buddha. Pengemudi becak ala Nepal itu menyelesaikan pekerjaannya di ujung kanal tempat nyalanya Api Perdamaian Abadi, Eternal Peace Flame, yang dinyalakan oleh Pangeran Gyanendra Bir Bikram Shah di tahun 1986. Dari posisi Api Perdamaian Abadi itu, saya melihat lurus ke Utara, terlihat samar warna putih Stupa dari World Peace Pagoda.

Berbalik badan menghadap arah Mayadevi temple, terhampar di depan mata jalan pelintasan panjang seakan membelah udara panas wilayah Terai. Terbayang gerah dipanggang oleh udara, tetapi sungguh dapat dimengerti, inilah wilayah yang begitu berharga bagi dunia, sejatinya seseorang yang telah mengubah warna dunia lahir di wilayah ini hingga tentu saja saya bersedia berjalan kaki untuk mencapainya walau panas sekalipun.

Sekitar 100 meter berjalan saya tiba di sebuah bundaran kecil yang ditengahnya terdapat patung Buddha kecil, dengan telunjuk kanan mengarah ke langit dan telunjuk kiri mengarah ke bumi, seperti kisah yang tertulis pada sutra mengenai tujuh langkah yang dilakukan oleh Buddha setelah kelahirannya.

Masih berselimutkan gerahnya udara pagi Terai, kaki terus melangkah menuju Mayadevi Temple, seakan mengetahui akan adanya keajaiban lain yang telah menunggu disana…  (baca kisahnya  Khata – Syal Putih dari Lumbini)

*

Ketinggalan cerita? coba cek disini – Rangkuman dan series cerita perjalanan di Nepal

Nepal – Pokhara to Lumbini Overland


Sekali lagi saya menatap sendu ke barisan pegunungan berpuncak salju yang tampil tipis diantara awan tebal. Macchapuchhre dan Annapurna yang mempesona. Walau tampil tipis, ia tetap memperlihatkan diri pada hati yang meminta agar bisa membisikkan kata perpisahan. Sampai jumpa lagi pegunungan yang mempesona… Suatu waktu kita akan jumpa lagi…

Saya memperbaiki letak ransel di punggung lalu melangkah meninggalkan beranda kamar menuju lobby untuk menyelesaikan administrasi dan berterimakasih kepada para petugas hotel yang telah membuat saya betah seperti berada di rumah sendiri. Ganga menemani saya menuruni 500 anak tangga yang menjadi ciri khas Raniban Retreat menuju mobil yang akan membawa saya ke Lumbini. Sebuah hari dengan perjalanan panjang…

Sebenarnya Ganga mengupayakan tiket pesawat dari Pokhara ke Bhairawa atau sekarang dikenal dengan nama Siddhartanagar (yang artinya kota Siddharta), karena memang merupakan kota terdekat dari Lumbini, tempat kelahirannya Siddharta Gautama, Sang Buddha. Tetapi schedule pesawat ke kota itu memang seperti mengetahui akhir suara tokek, ada… tidak… ada… tidak… Singkat cerita, saya tidak mendapat tiket pesawat ke Bhairawa namun karena saya harus ke Lumbini maka by any means, bagaimanapun caranya saya akan sampai ke Lumbini. Sebagai pencinta fleksibilitas (baca: suka-suka hati) akhirnya saya memutuskan menyewa mobil daripada naik bus, walaupun untuk itu dompet terasa langsung tipis. Lagi pula saya suka sekali perjalanan darat.

Pengemudi mobil sewaan masih muda, seorang Nepal asli. Dia minta dipanggil Santa, walaupun tak terlihat sedikitpun ke‘Santa’annya. Tetapi berjam-jam berkendara bersama menempuh kurang lebih 200km, tentu saya harus berbaik-baik dengannya agar perjalanan terasa menyenangkan.

Harum pagi jelang berakhir ketika akhirnya tangan saya melambai kepada Ganga dan Raniban Retreat. Seperti menggambarkan perasaan saya yang campur aduk antara gembira menuju destinasi lain dan galau meninggalkan Pokhara dengan berbagai kenangan indah, kendaraan pun berguncang-guncang menuruni bukit di jalan yang tak rata. Dalam waktu beberapa menit keempat roda mobil Hyundai kecil itu sudah menyentuh hitamnya aspal di jalan Siddharta Rajmarg yang berkelok-kelok menyusuri pegunungan tinggi.

Pokhara – Butwal – Siddharthanagar – Lumbini

Dari cerita Santa, saya justru bersyukur tidak mendapat tiket pesawat ke Lumbini, karena perjalanan darat dari Pokhara ke Lumbini ini akan melalui begitu banyak pemandangan luar biasa, yang tidak akan bisa dinikmati bila naik pesawat. Siapa tak kenal pemandangan wilayah Tansen – Palpa dengan lembah-lembah tinggi nan sempit dengan air sungai yang hijau toska? Ah, saya ini benar-benar berlimpah anugerah dengan semua itinerary dariNya untuk setiap tahap perjalanan saya ke Nepal ini.

Duduk di sebelah Santa yang mengemudi, saya tak putus mengambil foto pemandangan yang luar biasa keren, dengan puncak Annapurna yang bersalju mengintip di antara lembah hijau yang tinggi dengan sungai kecil yang berkelok di dasar lembah. Bahkan Santa bersedia berhenti sejenak agar saya bisa berfoto dengan pemandangan menakjubkan itu.

1 hour drive from Pokhara, Bye Annapurna
1 hour drive from Pokhara to Lumbini, Bye Annapurna…

Setelah break makan siang di warung pinggir jalan, kami pun melanjutkan perjalanan. Berbeda dengan Kathmandu, lalu lintas sepanjang jalan ini tidak terlalu ramai, bahkan cenderung sepi. Tetapi mobil tidak bisa melaju lebih kencang karena kondisi jalan yang berkelok-kelok sepanjang punggung bukit dengan tebing sangat tinggi di kiri dan jurang sangat dalam berada di kanan. Bahkan google maps pun memberikan waktu hampir enam jam untuk menempuh 200km itu. Tetapi saya tak pernah merasa bosan dengan enam jam duduk menikmati pemandangan alam. Sesekali Santa menyusul bus lokal yang melaju dan melihatnya saya semakin bersyukur telah mengambil keputusan menyewa mobil.

The Local Bus
The Local Bus

Santa mengemudi dengan kecepatan sedang, karena jalan yang tak berhenti berliku melipir gunung menyusuri Sungai Aadhi Khola di dasar jurang yang juga meliuk-liuk bagaikan ular besar melata di bumi. Pemandangan di bukit-bukit sekitar sangat cantik namun menggambarkan betapa infrastruktur jalan di Nepal masih sangat kurang. Bisa jadi karena Nepal merupakan landlocked country ditambah kondisi geografis penuh dengan lembah dan ngarai yang tinggi mengakibatkan semakin sulitnya distribusi barang. Tak heran bila ada jalan di Nepal yang termasuk kategori the most dangerous road in the world.

Road in Nepal
Road in Nepal

Setelah melewati beberapa desa, akhirnya kami menyeberang Sungai Kali Gandaki yang lebar dengan warna airnya yang hijau toska. Sungai yang bermula dari pegunungan Himalaya ini sering dimanfaatkan sebagai tempat wisata outdoor seperti kayaking dan olahraga air lainnya. Rasanya aneh juga ada sungai yang mengalir di bagian selatan dan utara pegunungan dengan nama yang sama.

Beautiful color of the river
Beautiful color of the river

Di desa-desa yang dilewati sepanjang jalan sering sekali saya lihat rombongan kaum perempuan bersari merah berjalan gembira menuju kuil untuk sebuah festival. Balutan merah yang menggambarkan kegembiraan, semangat dan keberuntungan tentu saja pantas digunakan dalam sebuah perayaan. Saya langsung teringat kehebohan festival yang saya alami di Changu Narayan dan juga di Kathmandu Durbar Square, semuanya seakan memastikan bahwa tiada hari tanpa festival di Nepal.

Tak terasa beberapa jam telah berlalu ketika Santa mengatakan sudah memasuki wilayah Tansen Palpa yang terkenal. Sayang untuk kesana, harus meninggalkan jalur utama yang tentunya akan memakan waktu untuk pergi pulang. Sang Waktu sepertinya memang belum mengizinkan saya untuk menjejak di Tansen Palpa. Saya hanya melempar pandang ke gapura Tansen – Palpa di persimpangan sambil berharap suatu saat saya akan mampir.

Tak lama setelahnya Santa melambatkan laju kendaraan karena ada antrian kendaraan di depan. Tak seperti antrian kendaraan di Indonesia yang bisa mencapai berkilo-kilometer, di depan hanya ada beberapa kendaraan. Santa memberitahu antrian terjadi karena kendaraan harus berjalan satu persatu di situ karena sering longsor.

Mendengar itu secara otomatis saya melihat tebing bukit yang ada di sebelah kiri. Karena tingginya saya sampai harus menempel pada jendela agak ke bawah untuk bisa melihat puncak bukit itu. Dan di depan tebing menjulang hampir lurus vertikal dengan bebatuan tak stabil di pinggir jalan yang hanya cukup dilewati sebuah kendaraan. Saya tak berani membayangkan bagaimana kondisi jurang yang ada di sebelah kanan. Bagi saya sendiri, inilah jalan yang masuk kategori the most dangerous road in the world. Sewaktu-waktu longsor dapat terjadi dan langsung menimbun kendaraan yang lewat di bawahnya. Sejumput rasa khawatir terbersit di dada yang secara otomatis mengucap doa dalam hati, menyaksikan kendaraan di depan berjalan pelan hingga sampai ke titik aman. Lalu datang giliran kami…

One by One, After Tansen - Palpa
One by One, After Tansen – Palpa

This is terrifying…

Luar biasanya, di dalam situasi mengerikan itu Sang Pemilik Semesta senantiasa memberikan keindahan di dalamnya. Sambil kendaraan berjalan perlahan saya melihat air terjun di sisi kiri, turun dari atas bukit tinggi itu. Sejenak saya teringat air terjun Lembah Anai yang cantik yang juga terletak di pinggir jalan. Volume Air Terjun ini tak cukup melimpah, hanya membasahi jalan untuk menyerap debu yang terbang. Kendaraan kami sampai di jalan yang sedikit rusak tepat di bawah tebing dengan batu-batu besar yang longgar. Guncangan kendaraan di bawah tebing itu benar-benar mendebarkan hati. Jika batu-batu besar itu longsor, tamatlah kami…

The Waterfalls next my window
The Waterfalls next my window

Pelan tapi pasti kendaraan maju pelan-pelan dan akhirnya sampai pada titik aman. Saya menarik nafas lega, demikian juga Santa. Lalu dia menghentikan kendaraan di Kuil Siddhababa yang ada di ujung jalan mengerikan itu. Memberi jeda untuk rehat sejenak terhadap rasa kuatir yang tadi sangat menekan. Dari kuil itu saya baru tahu situasi jurang di sebelah kanan yang sama mengerikannya. Di kiri tebing setinggi gunung, di kanan jurang… melewati jalan itu benar-benar memerlukan doa sepenuh hati.

The dangerous road before Butwal - Do you see the trucks?
The dangerous road before Butwal – Do you see the trucks?

Kuil Hindu Siddhababa yang baru saja dilewati merupakan penanda batas terdekat antara wilayah pegunungan dengan wilayah dataran rendah Terai yang panas. Sambil meninggalkan kuil itu, dengan gurauan khasnya, Santa mengatakan bahwa sekarang sudah meninggalkan Nepal. Baginya, Nepal identik dengan pegunungan tinggi dan dataran rendah Terai hanya bagian dari India, bukan Nepal. Saya terbahak mendengar gurauan absurd darinya…

Tak lama kemudian kami menembus sebuah kota. Karena sama sekali tidak ada tulisan latin yang bisa saya baca, saya mencari tahu melalui ponsel. Ternyata kami telah berada di Butwal, kota yang pernah menyandang sebagai kota terbaik di Nepal selama empat kali berturut-turut. Berada di Butwal, artinya Siddharthanagar hanya tinggal selemparan batu.

Lalu sesampainya di Siddharthanagar, -atau dulu disebut Bhairawa yang merupakan tempat mendarat jika tadi pagi saya terbang dari Pokhara-, pikiran saya mendadak melayang ke Varanasi, kota suci di India yang bisa ditempuh sekitar 8 jam berkendara dari kota ini. Siddharthanagar memang berbatas dengan India. Ah… pikiran ini selalu penuh dengan keinginan.

Santa melanjutkan perjalanan sepanjang 24 km kearah Barat, arah ke Lumbini, destinasi berikutnya. Dan rasanya seperti air segar mengguyur tubuh yang gerah ketika gerbang Lumbini terlewati. Dan ketika akhirnya mobil berhenti di hotel, -berlokasi di depan pintu gerbang Barat Taman Lumbini-, saya menatap setengah tak percaya ke Taman Lumbini yang gelap, pikiran saya terbang ke masa hampir dua ribu enam ratus tahun lalu…

*

Baca di sini Rangkuman dan Seri perjalanan di Nepal