D-3 Trekking di Nepal – Dihajar Hujan Es


There are no mistakes or failures, only lessons –  Denis Waitley

Setiap langkah trekking membawa saya pada berbagai pembelajaran. Setiap hari bertambah pengalaman yang memperkaya rasa, tentang kekuatan diri, tentang warna orang-orang yang menolong, tentang tanggung jawab, keberanian, juga pembelajaran dari alam, dan tentu saja kebaikan hati.

Menghargai Kekuatan Diri Manusia

Penginapan bertingkat itu sudah sepi ditinggalkan para trekker sejak pagi menyisakan kami yang merupakan rombongan terakhir. Sedikit sendu saya melangkah menuju halaman, meninggalkan tempat yang mengukir kenangan tak terlupa tentang sebuah pemberontakan isi perut (baca cerita soal itu). Saya hanya perlu belajar lebih mengenal diri sendiri. Tidak ada kesalahan atau kenangan buruk, semua akan menjadi cerita indah sebagaimana saya juga siap menerima cerita-cerita lain di tempat baru di hari ketiga trekking ini.

Sambil menunggu Dipak menyelesaikan administrasi, di halaman saya menyaksikan Pak Ferry mencoba menjadi porter seperti Kedar, dengan meletakkan pusat tali yang mengikat tas bagasi besar yang sangat berat itu di kepalanya. Berhasil, bahkan pak Ferry juga berhasil berjalan dari ujung ke ujung halaman. Sebenarnya saya kuatir akan kekuatan leher dan kepalanya. Jika ada apa-apa dengannya, bagaimana saya harus cerita kepada keluarganya?

Try to be a porter
my friend tried to be a porter (photo credit to Pak Ferry’s)

Saya tak menyadari kehadiran Dipak yang tersenyum lebar menyaksikan unjuk kekuatan di halaman itu. Pak Ferry yang mukanya memerah akibat mengangkat tas bagasi, mengakui beratnya tas untuk dibawa orang normal apalagi dengan menggunakan kekuatan otot leher. Ah, sebagai perempuan satu-satunya dalam rombongan kecil, saya menggeleng-gelengkan kepala sambil mencoba memahami apakah semua laki-laki itu perlu kesempatan untuk bisa unjuk kekuatan fisik? 😀

Namun, pertunjukan sesaat itu membuat saya semakin menghargai pekerjaan Kedar, porter kami untuk trekking kali ini. Dia, yang menurut Dipak berasal dari keluarga tak mampu, hanya bisa mengandalkan kekuatan fisiknya untuk berjalan membawa beban mengikuti alur gunung dengan pakaian dan sepatu seadanya, hanya untuk mendapat sedikit uang. Banyak trekker tak ingin menggunakan jasa porter karena merasa tak memerlukannya, padahal dengan menggunakan jasa porter, trekker telah membantu secara langsung sebuah kehidupan di Nepal.

Ketiga sahabat seperjalanan mulai melangkah pergi, saya sejenak menoleh ke belakang, membisikkan kata perpisahan pada tempat yang menjadi saksi diam keindahan Himalaya. Entah kapan saya bisa kembali lagi ke tempat ini.

Dalam beberapa saat kami berjalan mendekati batas desa karena bangunan semakin jarang dan  akhirnya terlihat sebuah gapura. Saya kembali berfoto disitu. Kali ini untuk meninggalkan Ghorepani.

Our Porter waiting in the Ghorepani's Gate
Our Porter waiting in the Ghorepani’s Gate – See You Again…

 Sebuah Tanggung Jawab

 “Where is your trekking pole?”, tanya Dipak mengejutkan setelah berjalan santai sekitar sepuluh menit.

Rasanya seperti ketahuan menyontek saat ujian, saya langsung berdiri diam membeku. Trekking pole merupakan benda pinjaman dari agen trekking dan menjadi tanggung jawab saya selama trekking. Kini benda itu tidak di tangan padahal saya biasa menggunakannya selama berjalan. Untungnya otak masih cukup bagus untuk mengingat tempat terakhir saya meletakkannya. Pasti di sudut kamar. Merasa bersalah, saya katakan tempatnya sambil balik arah untuk mengambilnya tetapi Dipak mencegah. Ia akan mengambilnya dan meminta saya berjalan terus karena ia bisa menyusul. Rasanya saya terjun bebas ke jurang, malu dan tak enak hati, ini benar-benar sebuah keteledoran!

Sambil mengutuk diri, saya terus berjalan menuju rindangnya hutan rhododendron yang berdaun hijau karena musim bunga sudah berlalu. Terlintas di benak anjuran untuk forest bathing, -bukan mandi di tengah hutan-, melainkan menikmati jalan-jalan di hutan yang katanya bisa menurunkan stress. Mungkin benar karena memang nyaman jalan-jalan di hutan. Tapi untuk situasi saya  saat ini? Ugh…

Belum lama berjalan di hutan, Dipak sudah menyusul lalu menyerahkan trekking pole yang tertinggal itu. Malu ditambah rasa bersalah, saya mengucapkan terima kasih kepadanya. Rasanya seperti menghujam ke inti bumi. Ironis sekali, berada di dalam hutan rindang yang katanya bisa menurunkan stress tapi saya menerima barang, -yang merupakan tanggung jawab saya-, dari seseorang yang bersedia mengambilnya kembali hanya karena saya LUPA! Sepertinya guilty feeling itu menaikkan stress.

A Horse in tranquility
A Horse in tranquility

Kegembiraan trekking

Bagaimanapun semua sudah terjadi dan saya harus meneruskan perjalanan menuju perbukitan yang lebih terbuka. Kami bertemu dengan tiga trekkers yang datang dari arah berlawanan, yang meminta kepastian arah menuju Ghorepani. Wajah mereka bahagia karena jalurnya menurun, berlawanan dengan jalur kami yang masih terus menanjak walaupun lebih landai daripada hari sebelumnya. Dua sahabat seperjalanan, Pak Ferry dan Kedar, terlihat gembira untuk berlomba mencapai puncak bukit, entah siapa yang menang. Saya sendiri, seperti biasa, menjadi buntut. Di sisi kanan, Dipak duduk di batu tampak bahagia bisa menelepon. Bahagia itu memang sederhana…

The trekking path
The trekking path

Sambil mengatur napas karena jalannya menanjak, saya mengerahkan daya untuk merekam suasana sekitar yang menenteramkan ke dalam jiwa. Alam itu sangat indah. Saya melihat Dipak yang sudah menyusul lalu berteriak menyemangati dari puncak bukit. Last Ukalo, katanya, yang berarti tanjakan terakhir. Yeeiy…

Akhirnya di puncak bukit itu saya mendapati Pak Ferry tidur dengan buku menutupi wajahnya. Bahagianya! Kedar dan Dipak mengobrol sambil mengunyah kurma dari Pak Ferry dan membuang bijinya ke semak-semak sekitar. Mungkin sekian tahun lagi akan tumbuh pohon kurma di pegunungan Himalaya 😀

Dihajar Badai dan Hujan Es

Rehat bubar karena kabut turun dengan cepat. Segera saja Kedar dan Pak Ferry tancap gas meninggalkan saya yang menyempatkan mengambil foto kabut menyelimuti kawasan dengan jurang di kanan dan tebing di kiri. Dipak meminta saya bergegas melihat cuaca yang mulai tidak bersahabat. Rasa kuatir di wajahnya membuat saya mematuhinya, mempercepat langkah ke Deurali.

Guntur menggelegar, mengikuti kilat yang datang terlebih dahulu. Jeda diantara keduanya masih cukup jauh, walaupun saya tetap harus waspada berjalan dengan tebalnya kabut. Namun selaras dengan waktu, kilat dan guntur pun semakin sempit jedanya dan semakin sering terdengar dan akhirnya hujan pun jatuh. Cukup deras! Di depan mata hutan kembali menghadang. Aduh…

Walaupun jalannya lebih landai, beberapa kali saya hampir jatuh tersandung akar-akar pohon yang mencuat ke permukaan tanah. Untung trekking pole cukup kuat menopang saya walaupun di beberapa tempat yang terjal Dipak sampai harus mengulurkan tangan untuk membantu. Dasar saya orang kota, -yang tidak terbiasa jalan di hutan, kehujanan, dingin lagi-, beberapa kali saya ‘telmi’ untuk menapakkan kaki terutama di turunan terjal. Sepertinya saya terlalu banyak berpikir, padahal kaki sudah mengarah yang benar tetapi pikiran saya menghentikannya. Kaki dan pikiran tidak seirama. Pelan-pelan saya mencoba menyelaraskan pikiran dengan irama kaki. Saya belajar untuk mempercayakan keselamatan tubuh kepada irama kaki dan hei… langkah menjadi lebih ringan. Ah, kadangkala alam membiarkan saya belajar pada waktu yang aneh. Hujan-hujan begini, di hutan lagi…

Jas hujan yang menutupi setengah badan, membasahi bagian bawah celana trekking yang baru saja saya ganti di Ghorepani. Untungnya, kaki dalam sepatu tetap kering. Saya teringat saat membeli sepatu beberapa waktu sebelumnya. Penjual sepatu itu menyarankan yang waterproof walaupun tidak keren dan sedikit mahal. Tak sadar saya tersenyum dalam hujan, berterima kasih pada penjual sepatu karena saat ini terbukti ucapannya.

Di hutan yang agak terbuka saya baru tersadar, sebenarnya yang menerpa kami di menit-menit terakhir adalah hujan es, bukan hujan biasa. Ya benar, hujan es! Butiran-butiran es itu terasa saat jatuh di jas hujan. Dalam keadaan itu, saya berhenti sejenak sambil mengangkat lengan ke atas dan menyaksikan butiran es itu jatuh di lengan dan bergulir. Walaupun cukup kedinginan, saya terpesona. HUJAN ES! Dipak tertawa melihat saya seperti anak kecil yang baru pertama kali merasakan nikmatnya mandi hujan.

Deurali Yang Hangat

Tak sampai satu jam, rumah pertama di Deurali, destinasi kami, sudah terlihat. Dan kami berhenti di sebuah penginapan sederhana di tengah desa yang di pintunya berdiri Pak Ferry dan Kedar. Selama kurang dari dua puluh empat jam ke depan, penginapan sederhana ini akan menjadi tempat persinggahan kami.

Penginapan di Deurali ini berpusat di sekitar tungku. Saya meriung bersama sahabat seperjalanan di depan tungku menghangatkan badan. Sepatu, kaos kaki juga berjejer rapi di lantai dekat tungku. Kakek pemilik rumah tampak nyenyak tertidur di pembaringan depan tungku. Saya sedikit iri padanya, bisa terus tidur tanpa terganggu oleh kehadiran kami. Rasanya pasti hangat dan nyaman.

Saat meriung itulah kami berbagi cerita saat melewati hujan es. Ternyata Pak Ferry melewati badai hujan es sendirian. Kedar ternyata tidak dapat dikejar olehnya. Masih beruntung ia berpengalaman menjelajah gunung-gunung di Indonesia dan terus berjalan menembus hutan karena jalan setapak cukup jelas terlihat. Saya menggeleng-gelengkan kepala membayangkan saya sendirian menembus hutan dan kedinginan… hiiii…

Di penginapan sederhana itu, saya juga bertukar ‘sapa’ dengan seorang kerabat pemilik rumah. Walau ia tunawicara, ia sangat baik terhadap saya. Di saat seluruh sahabat seperjalanan harus bergantian charging ponsel di tempat yang terbatas, ia memberi saya secara personal tempat lain yang lebih banyak. Ia tersenyum lebar melihat kegembiraan saya saat ponsel aktif kembali. Tunarungu bukan berarti kehilangan kebaikan, kan?

*

Cuaca hari itu tetap sendu hingga malam, jadi kami hanya bertukar cerita di depan tungku sampai jelang waktu tidur. Di kamar, sebelum terlelap saya merenung hari yang sungguh luar biasa, pengalaman diterpa hujan es, berteman dan ditolong oleh orang-orang luar biasa. Setiap detiknya yang penuh dengan keluarbiasaan. Di tempat-tempat sederhana ini, saya terus diperkenalkan dengan indahnya hidup. Walau jauh dari rumah dan keluarga, di ketinggian pegunungan Himalaya yang dingin, saya aman berada di dalam sebuah rumah yang hangat dengan orang-orang yang memiliki kepribadian hangat. Dia memang tak pernah meninggalkan saya dalam kesendirian, selalu melimpahkan berjuta kebahagiaan…

(bersambung)

WPC – The Place I Left My Heart


Ranibanretreat

Frequently I have difficulties to say goodbye to the city when I have to move on to another city during my travelling, especially when the time comes to go back to my home country and I don’t know when I can visit there again. But among those memorable cities, only a few cities on which I totally left my heart. No matter what, I will do my best to make time to visit these cities again, at least once in a year (last year I did twice 🙂 )

Some of you who follow my blog, will know that I have left my heart on the cities of Nepal. I have a lot of unforgettable memories on my first trip to Nepal four years ago which made me falling in love with Nepal.

One of those memories was in Raniban Retreat, in Pokhara, at the hotel’s rooftop where I can see 360 degree panorama view of the snow-capped Annapurna Range, Phewa Lake, the city of Pokhara and the stunning sunrise above the sea of clouds over the hill with the World Peace Pagoda on top of it. The breathtaking view I can see just standing in one spot! Well, that view had changed me, because for the first time, I extended my stay there. I know the hotel’s rooftop will be my favorite place to recharge my energy. It’s the place where I can just do nothing, just enjoying the view like heaven on earth and feel blessed.

 

p1010641
Morning has broken – the sun over World Peace Pagoda and sea of clouds
p1010627
Phewa Lake and City of Pokhara

WPC – There’s No Place I’d Rather Be Than Home


DSC00279
A Himalayan view from my guesthouse in Chomrong, during trekking in Annapurna, Nepal

 

There’s no place like home
No place like home
There’s no place I’d rather be than home

(Beth Hart’s No Place Like Home)

*

But what is Home?

Home is not a place, it’s a feeling. It is not where we are from, it is where we belong. Home is where we love… Where our feet may leave, but not our hearts.

Home is where we can look ugly and still enjoy it 🙂 It is where you are loved, no matter what.

Home is where love resides, all memories are created, friends always belong and laughter never ends…

Home is where the heart is. Period.

WPC – A Face in the Crowd at ABC


Annapurna Base Camp
The Mountain or The Heli? Nature or Machine? Think of a Face in the Crowd at ABC

It was around 07.00 AM at Annapurna Base Camp, end of April last year. Being standing in the crowd at the base camp and looking around the massif Annapurna mountains in North-West part of Nepal, I felt so tiny among the huge breathtaking landscape and snow covered Himalayan mountains which are part of the highest mountains in the world. Every corner of the 360 panorama view was mesmerizing my eyes and soul. That was the most incredible place I have ever visited in my life.

A moment passed by. A guy appointed something on the rocks and said something loudly. Suddenly my eyes caught a small red object flying among the huge rocks and deep valleys of the mountains . It came closer and I was so fascinated to know that was a helicopter. It should be big enough but I could not see clearly among the rocks of high gorges. A few minutes later, as an unusual object among the surrounding nature, and its resulting wind vortex during its landing, the helicopter took the attentions of people who most were trekkers.

From the place where I stood, I captured the situation right in front of me, the people, the helicopter and the mountains. I could not see their facial expressions, I just saw their back.

Was it about the helicopter? Did someone in the base camp have problems of Altitude Mountains Sickness? Or was it about the passengers who can afford the flying cost of the helicopter instead of trekking by themselves? Or was it about the noise, -or whatever problems-, caused by the helicopter against the surrounding nature environment? Or was it still about the beautiful mountains with blue sky and snow capped peaks and the additional ‘small’ red object? 

But by capturing the anonymity of the most expressive obvious parts of us, by looking at this picture I could always play a game to ask myself the thoughts in people’s mind that time.

*

And here is the link to see a lot of beautiful pictures about A Face in the Crowd

 

Nepal – Berteman Sakit, Menjejak Poonhill


Melanjutkan kisah trekking di Nepal (kisah sebelumnya bisa dibaca disini)

Dingin masih menusuk tulang walaupun selimut tebal sudah menutup badan yang berlapis pakaian. Suara-suara riuh itu terdengar lagi, terdengar dekat dan tidak bisa diabaikan. Mau tidak mau saya membuka mata dan menemukan kegelapan dimana-mana. Suara itu tidak jauh, bahkan dekat sekali… Dari balik selimut… Dari perut saya! Seketika itu juga terasa perut yang memberontak minta isinya segera dikeluarkan. Duh tengah malam begini? Gelap lagi!

Akibat Memenangkan Nafsu

Sambil meraba-raba headlamp dan kantong peralatan mandi, semakin terasa yang di dalam perut tak dapat ditahan lagi. Harus cepat. Aduh, mengapa kunci pintu guesthouse ini sulit sekali dibuka pada saat harus bergegas? Saya tak peduli untuk menguncinya kembali dari luar, terlalu sulit. Saya hanya menutupnya lalu setengah berlari kearah toilet yang untungnya tidak jauh dari kamar sambil membiasakan mata melihat dengan cahaya headlamp. Setelah menggantung kantong peralatan mandi, membuka lapisan-lapisan pakaian secara cepat, saya langsung duduk di kloset. Tak peduli dengan suara-suara ajaib yang menyertai keluar serta hawa dingin yang menyeruak dari sela-sela toilet serta dinginnya air seperti es saat membersihkan, saya hanya ingin pemberontakan isi perut ini cepat selesai lalu melanjutkan tidur di balik selimut hangat. Namun rasa sakit melilit di perut ini membuat saya harus sedikit berlama-lama dalam kegelapan, membuat hantu-hantu Nepal sepertinya terbahak senang melihat saya menderita.

Acara ke toilet dalam kegelapan selesai juga akhirnya walaupun yaa… begitulah. Dengan tertatih saya kembali ke kamar dan langsung masuk ke balik selimut. Mencoba tidur kembali meskipun masih terasa sisa-sisa pemberontakan dari dalam perut. Dan rasanya baru terlelap sebentar, saya harus bangun lagi karena pemberontakan dari dalam perut kembali tak tertahankan. Berulang! Sekitar dua jam dari kali yang pertama saya kembali berada di toilet yang sama, kembali menderita dengan ‘keharuman’ bekas saya juga. Uh! Saya menyumpah-nyumpah nafsu minum dua cangkir susu coklat sebelum tidur. Walaupun hangat dan enak, jika tahu akan begini, tidak akan saya minum setegukpun!

Berteman Sakit Menuju Poonhill

Setelah kembali ke kamar dan menegak imodium, rasanya baru tertidur sesaat, Dipak sudah mengetuk kamar, membangunkan, agar bersiap-siap berangkat ke Poonhill menyaksikan matahari terbit. Dengan malas saya menjawab, lalu terhuyung dengan mata panda menuju kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka. Mandi? Lupakan dulu!

Mengenakan down jacket karena udara dingin terasa menggigit, saya merasa suara-suara gila dari dalam perut sudah berkurang banyak walaupun belum hilang sepenuhnya. Imodium itu bekerja cepat, berhasil membentengi kebocoran tapi menyisakan rasa tak enak dalam perut. Saya kemudian cerita kepada Dipak mengenai masalah perut ini. Keprihatinan tampak menghias wajahnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya karena saya merupakan titik terlemah dalam rombongan dan kini harus ditambah dengan penyakit yang menggerus daya tahan.

Steep stonestairs on the way to Poonhill
Steep stone stairs on the way to Poonhill

Perjalanan menuju Poonhill dalam kegelapan itu dimulai dengan tanjakan tajam kemudian berlanjut dengan tangga-tangga lagi. Diterangi cahaya dari headlamp, berkali-kali saya menepi memberi jalan rombongan lain yang menyusul sambil mengambil kesempatan mengatur nafas. Suara-suara mereka dalam berbagai bahasa yang tadinya terdengar di belakang sekarang semakin menghilang menandakan mereka telah jauh di depan. Saya menyesalkan latihan fisik yang tetap saja terasa tidak cukup, karena tanjakan-tanjakan tanpa jeda itu rasanya terus menertawakan saya hingga semburat cahaya menghias arah Timur. Fisik benar-benar terasa diuji, tidak mudah trekking dengan kondisi perut melilit. Konsentrasi buyar blasss, bingung menentukan prioritas antara perut dan mengatur nafas.

Dipak masih menemani walau kadang ia berjalan di depan lalu menanti dengan sisa kesabarannya. Untuk kesekian kalinya, saya berhenti, tak mau memaksakan diri. Saya pernah blackout di tangga Bromo ketika memaksa diri naik saat tidak sehat, dan rasanya tak ingin mengulang kejadian itu, karena saat ini tak ada suami yang mendampingi. Saya hanya menuruti alarm tubuh, berhenti pada saat harus berhenti.

A Lovely Memorial
A Lovely Memorial

Langit semakin terang walaupun awan tebal menutupi jajaran Himalaya. Melihat awan-awan itu saya ge-er seakan alam turut iba terhadap saya. Tak mau menyerah begitu saja, saya mencoba memotret keadaan sekitar yang berawan namun menyembunyikan keindahan. Di sebuah tempat memorial saya membaca dan ikut mendoakan dia yang telah pergi. Sebuah ‘pembenaran’ untuk berhenti dan mengatur nafas, tetapi sesungguhnya, jauh di dalam diri terjadi pertempuran sengit antara menyerah pulang atau melanjutkan bersama ketidaknyamanan perut. Saya cenderung memilih yang terakhir karena perjalanan ini telah dimulai dan harus diselesaikan. Dan kecenderungan itu mendapat dukunga karena beberapa meter di atas terlihat Pak Ferry melambai sambil memberi tanda di tempatnya pemandangannya jauh lebih indah.

Akhirnya sampai juga saya di tempat Pak Ferry tadi melambai, yang tak jauh lagi dari puncak Poonhill.. Semua senang saya akhirnya menjejak tempat itu, sementara saya tak merasa gembira, entah kenapa. Orang-orang yang tadi menyusul saya kini telah turun dari puncak Poonhill. Saya tergelak dalam hati, sementara saya belum sampai ke Poonhill, mereka sudah turun.

A Glimpse of Mt. Dhaulagiri
A Glimpse of Mt. Dhaulagiri
The Beautiful Annapurna
The Beautiful Annapurna

 

Poonhill – 3210mdpl

Momen matahari terbit, -yang sayangnya sejak awal sudah tertutup awan-, memang sudah lewat ketika akhirnya saya sampai juga di puncak Poonhill. Semua sahabat menyalami atas pencapaian ini. Menjejak 3210 meter di atas permukaan laut, di ketinggian tertinggi sepanjang hidup yang saya capai dengan kaki sendiri, -tanpa pernah sekali pun mendaki gunung dimanapun-, di sini,  di bumi Nepal tempat  gunung-gunung tinggi dunia bersemayam. Saya berdiri di tempat itu dengan seribu satu rasa. Yang pasti sedikit sekali rasa bangga, banyak malunya karena untuk mencapainya lebih banyak rasa lelah, rasa mual hendak muntah, sakit melilit dan ingin tidur… Ah, saya tak ingin berpikir lebih jauh soal sakit ini.

No view at Poonhill
No view at Poonhill
Mountain Map
The mountains we should see at Poonhill

Teh hangat yang tersedia sangat membantu menghangatkan tubuh. Sambil duduk menghadap pemandangan putih yang seharusnya indah, saya hanya bisa tersenyum lebar melihat warna putih yang menghiasi pandang. Apa yang indah dari pegunungan Himalaya yang tertutup kabut dan awan tebal? Dua gadis pejalan duduk bersila berbicara keras kepada alam, memohon awan menyibak dan memperlihatkan keindahan gunung. Ah, semua orang disini pasti berharap sama, termasuk saya.

Saya duduk dalam diam, berharap sejenak bisa melihat gunung berpuncak salju di Poonhill. Tak mungkin berlama-lama disitu karena jika perut memburuk, toilet tidak menyediakan air. Sejumput doa untuk melihat keindahan alam itu terucap dalam hati, sambil meringis merasakan perut yang kembali melilit.

Dalam hitungan menit setelah doa yang terucap itu, awan-awan sedikit menyibak membuat lubang dan memperlihatkan puncak gunung bersalju yang disembunyikan dibaliknya. Saya benar-benar terkesima dengan apa yang terpampang di depan mata. Pemandangan indah itu hanya sesaat tak sempat diabadikan. Kedua gadis langsung berteriak memohon agar awan kian menyibak hingga menampakkan seluruh gunung. Rasa tak enak di badan langsung menghilang. Ini hadiah! Saya meremang, merasakan berada dalam pusaran anugerah yang datang tiba-tiba itu. Saya tahu, ini hanya sesaat, hanya sebagai tanda Kebaikan dari Pemilik Semesta dengan hikmah yang terserak.  Hanya sesaat saja, sehingga ketika awan kembali menutupinya, saya hanya bisa meluruh meraba-raba memaknai hikmah dari yang terjadi.

Saya merasa ditegur dengan keras. Bukankah ketika sampai di Puncak Poonhill, saya tak banyak bersyukur pada tubuh yang telah bekerja keras? Saya yang berharap tinggi untuk melihat pemandangan terbaik di Poonhill padahal sepanjang perjalanan banyak keindahan lainnya. Seperti di pelataran di bawah Puncak Poonhill, -tempat Pak Ferry sebelumnya melambai-, juga indah bahkan jauh lebih indah dan lebih lama memperlihatkan pegunungan bersalju dibandingkan puncak Poonhill. Saya juga mengabaikan keindahan kabut yang menari-nari di lembah-lembah.

Above the clouds
Above the clouds
Serene morning on the way to Poonhill
Serene morning on the way to Poonhill

Saya hanya berfokus memanjakan pada melilitnya perut, bukan pada keindahan yang terpampang sepanjang perjalanan. Saya telah lalai. Tetapi karena Kasih SayangNya, alam pun berbaik hati memperlihatkan apa yang seharusnya dilihat di Poonhill walaupun sekejap, -sebagai pengingat-, bahwa sesungguhnya ketika manusia meminta akan dijawab langsung.

Sambil mengerjap-ngerjapkan panasnya mata, saya paham arahnya. Perjalanan ini selalu memperkaya jiwa. Lagi-lagi diingatkan bahwa destinasi perjalanan bukanlah segalanya. Saya terdiam, menyadari kelalaian dan ikhlas menerima apapun yang akan terjadi dalam hari-hari ke depan ini.

Menit-menit berlalu dan waktu juga yang membuat kami akhirnya memutuskan turun. Kali ini saya menikmati perjalanan turun yang terasa sangat cepat untuk sampai ke hotel. Entah kenapa perasaan saya berdesir kencang saat melihat tumpukan-tumpukan batu yang disusun rapi di beberapa tempat. Ketika sampai hotel saya googling mengenai tumpukan batu ini, -yang pernah juga saya lihat di Angkor Wat, Jepang, Laos, dll.-, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan Cairns,

Cairns represent a trail marker that guides one through uncertain areas in life.
They provide guidance, hope, balance, continuity and confidence on the journey down the path of life – (John P Kraemer)

P1050683
Found many cairns on the way to Poonhill

 

Di Simpang Perjalanan

Sambil mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan, di hotel pikiran saya berkecamuk. Membaca wajah Dipak sepanjang perjalanan Poonhill pulang pergi, sepertinya ada keraguan khususnya terhadap kekuatan saya untuk pergi ke Annapurna Base Camp, apalagi itinerary yang disusun sangat ketat. Ketika ada kesempatan, saya langsung menanyakan kepadanya dan ia meminta saya untuk melihat perkembangan perjalanan hingga ke Chhomrong walaupun sempat ia mengatakan bahwa perjalanan ke depan tidak bisa dibilang mudah. Saya tersenyum mendengar jawaban tak langsungnya yang tidak merekomendasi saya untuk ke ABC.

Namun bersamaan dengan itu, perasaan saya berdesir halus merambat jiwa. Saya teringat pada tumpukan batu (cairns) yang sejak pagi menarik perhatian mata dan terus menari-nari di benak. Dipak tak tahu mengenai hal ini, tidak ada seorangpun yang tahu undangan untuk melakukan perjalanan ke ABC ini. Tumpukan batu itu sepertinya penanda agar tetap yakin dan percaya.

Ini adalah perjalanan saya dan akan sampai ke sana, bagaimanapun caranya.

Dari jendela lebar di hotel Sunny Ghorepani, saya melempar pandang ke arah pegunungan yang tertutup awan. Perjalanan ini sudah dimulai dan saya hanya perlu percaya saja.

Seperti dulu, seperti yang sudah-sudah…

(bersambung)

—-

Masih ada kejadian seru lagi di cerita berikutnya, semoga saja gak ada prioritas lain yang menyalip 😀

Nepal – Annapurna Trekking, Menuju Ghorepani


Duhai Pemilik Keindahan, demi Keagungan NamaMu, benarkah yang kulihat melalui kedua biji mata ini?

Setelah kemarin berlelah-lelah, hari ini dengan tak berkedip saya membiarkan mata bermanja-manja memandang datangnya pagi bersama seluruh keindahannya melalui jendela kaca penginapan sederhana itu. Di tempat ini, fasilitas hotel bintang lima ataupun penginapan sederhana, semuanya luruh tak bermakna, terbanting oleh pemandangan indah yang terhampar di depan mata. Saya menggigil dengan sendirinya, relung bukit hijau (yang kalau di Indonesia sudah disebut gunung) yang berjajar tinggi membentuk lembah sempit sebagai latar depan dengan gunung berpuncak salju tepat di tengahnya. Melihat ini dari penginapan sederhana membuat mata terasa panas. Terundang untuk menyaksikan keindahan ini, saya merasa sangat beruntung.

Selesai bersiap dengan mandi secepat kilat menggunakan air sedingin es, pemandangan gunung berpuncak salju telah hilang tertutup awan. Saya tak menyesalinya karena tahu di sisi lain dari penginapan ini masih menyimpan pemandangan indah. Lagi-lagi ada semburan rasa syukur yang melesak dari dalam. Bumi tercipta dengan amat indah di setiap sudutnya, hanya manusia dengan keserakahan dan kesombongan kerap membuat buruk wajahnya.

Pagi itu saya menikmati sarapan dengan keindahan wajah bumi yang berlalu perlahan setiap detiknya. Undangan perjalanan ini sungguh meluluhlantakkan rasa, sering tak sadar saya menggeleng-gelengkan kepala seakan tak percaya sampai sejauh ini hanya menggunakan kaki sendiri. Lalu dengan kaki yang sama, trekking menuju Ghorepani akan dilanjutkan, entah kejutan apalagi dalam perjalanan hari ini.

Belum lama berjalan meninggalkan Pratap Guesthouse, di ujung sebuah pendakian saya melihat seorang perempuan paruh baya duduk di kios sederhana, tempat donasi pendidikan yang bangunan sekolahnya tampak lebih bawah dari jalur trekking. Saya merasa tertampar di hati. Ketika saya mampu mengeluarkan sekian juta Rupiah untuk ke Nepal, adakah bagian untuk masyarakat lokal yang menjadi haknya, apalagi setelah dihajar gempa yang meluluhlantakkan negeri indah ini? Bukankah semua manusia berhak mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik?

Started from dooooown there

Saya tak menyesal perjalanan terhenti beberapa saat, bahkan saya mendapat sebuah khata (selendang putih) dan tika di dahi. Melihat itu, Dipak tersenyum sambil berkata, “you got the blessings for this trip”. Ah, entah kenapa tiba-tiba saya merinding tak jelas (setelahnya baru saya tahu saat bertemu Pak Ferry yang berjalan sekian menit di depan saya, -yang merasa surprise melihat tika di dahi dan khata yang melingkar di leher saya-, karena ia merasa tak melihat atau melalui kios sederhana itu!). Dia mungkin tak melihatnya dan saya hanya beruntung bisa berkesempatan, seperti dua tahun lalu saat menerima khata putih di Lumbini. Bukankah tidak ada peristiwa yang kebetulan?

Saya kembali melangkah sambil memperhatikan hewan-hewan jinak di rumah penduduk. Ada ayam yang terlihat sangat montok bertengger di atas pagar. Matanya melirik saya seakan memamerkan tubuhnya yang diatas rata-rata. Saya terkesima, entahlah, mungkin Pemilik Semesta memberi penglihatan tentang keindahan makhluk yang kehilangan nyawa karena sering saya santap (dan benarlah, setelahnya hingga kini setiap saya makan ayam, saya jadi teringat si montok yang pamer tubuh itu).

Baru melangkah tak jauh dari si montok, saya sampai di sebuah bangunan sederhana di sudut jalan. Saya terkesima lagi, di Nepal saya tak akan heran melihat rumah ibadah Hindu atau Buddha di banyak tempat, tetapi menemukan sebuah gereja di desa kecil yang terpencil di pelosok pegunungan merupakan sebuah kejutan yang menyenangkan. Saya terbayang para misionaris yang membangunnya dan memelihara komunitasnya yang tentu bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Tetapi semua yang tampak tak mungkin bagi manusia, sama sekali bukan hal yang mustahil bagi Pemilik Kuasa. Pastilah karena kekuatan dan semangat iman, bangunan sederhana ini bisa berdiri. Sayangnya karena pagar terkunci, Pak Ferry hanya bisa melakukan ritual singkat dari luar pagar.

The Church

Tak terasa rumah-rumah mulai tertinggal di belakang dan jalan setapak itu semakin menanjak. Tangga batu pun mulai terbentang panjang di depan mata, seakan menertawai saya yang langsung patah semangat. Keindahan pagi dalam sekejap mata memudar tergantikan oleh bayangan kehabisan nafas lagi seperti kemarin! Uh, ujian fisik lagi.

Lalu seakan menghibur untuk memberi semangat baru kepada saya, alam menunjukkan kasih sayangnya dengan menurunkan gerimis kecil. Saya terpesona dengan berkat ini, seperti yang sering terjadi dalam kehidupan saya sehari-hari, awan yang tiba-tiba menutup jalur matahari saat saya berjalan di panas terik atau angin yang berhembus lembut saat saya kegerahan. Tanpa sadar saya tersenyum merasakan titik-titik air yang menerpa kulit dan membuat lebih nyaman berjalan. I’m so blessed.

Gerimis semakin terasa sehingga Dipak menyarankan untuk memasang rain cover pada semua ransel lalu melanjutkan perjalanan yang naik, naik, naik lagi… Melihat saya yang mulai kehabisan nafas, Pak Ferry mengusulkan untuk ‘tea-break’ yang tentu saja disambut gembira oleh saya. Apalagi warung tea-break ini menyediakan menu yang saya rindukan, sejenis mie kuah dicampur telur. Walaupun tidak bisa menyamai kenikmatan makan indomi telur di Indonesia, saya bisa menyantap mie hangat versi Nepal di antara dinginnya udara.

Setelah mendapat asupan mie hangat, kami berlanjut melewati Banthanti, desa tempat seharusnya kami menginap semalam.  Kondisi jalan setapak menjadi lebih bersahabat, entah karena efek mie hangat tadi atau memang jalannya tidak sekejam sebelumnya. Yang pasti dikenal sebagai Nepali flat, bagi orang Nepal jalan yang menanjak landai itu dibilang datar, walaupun bagi orang kota seperti saya tetap saja menanjak yang membuat menderasnya keringat. Tetapi lagi-lagi saya mendapat berkah karena berada di hutan yang melindungi dari panas terik. Gemericik air sungai dan cantiknya bunga Rhododendron walaupun musim berkembangnya sudah berakhir, membuat saya merasa lebih dekat dengan alam.

Selepas hutan, saya berhenti sejenak di dekat sebuah bangunan kayu, karena ada kepala kambing melongok keluar dari celahnya. Ah, kambingpun ingin melihat pemandangan indah. Bahkan seekor kepik berwarna cantik terlihat berjalan pelan di atas batu gunung yang sangat besar. Tiba-tiba saya menyadari begitu banyak makhluk yang jarang saya lihat di kota menjadi terlihat di depan mata. Bahkan kupu-kupu, kadang lebah dan serangga-serangga kecil lainnya entah karena pengaruh keringat atau apa, selalu mendekat dan terbang di dekat wajah saya. Beberapa kali saya mengibas gemas dan mencoba menghindarinya, namun akhirnya menyerah dan membiarkan mereka terbang lalu lalang di dekat wajah. Kalaupun terlalu dekat, saya mengibas penuh sayang, everything likes me, included the insects!

Memasuki hutan lagi. Kini suara gemericik air semakin kuat. Sebuah air terjun kecil terlihat di ujung jalan yang berpagar besi melindungi pengunjung yang menikmati pemandangan. Walaupun indah dan menyegarkan, kami tak bisa lama menikmati karena gerimis turun lagi. Kami mempercepat langkah untuk sampai ke Nangenthanti, tempat untuk makan siang. Walaupun akhirnya kami berhamburan lari ke rumah makan terdekat ketika hujan menderas. Untung sudah dekat dan dari dalam rumah makan kami lihat hujan turun semakin tak terkendali diiringi suara ribut. Baru saya sadari itu bukan hujan biasa melainkan hujan es. Benar, hujan es! Tidak besar, tetapi cukup terlihat.

Menyaksikan turunnya hujan es dari dalam rumah membuat atmosfer terasa sendu. Fisikpun tergerus habis, selera makan turun drastis. Sebagai guide, Dipak meminta saya makan lebih banyak untuk menghindari AMS (Altitude Mountains Sickness). Masalahnya saya termasuk orang yang tidak suka makan ketika melakukan perjalanan. Merasakan makanan lokal bukan bagian (mungkin belum) dari gaya travelling saya karena termasuk pemilih makanan. Jika lidah ini tidak sesuai, sampai kapanpun makanan itu akan sulit masuk ke dalam perut saya. Makanan tradisional Nepal, dal bhat, yang saya cicipi saat perjalanan pertama termasuk lezat sekali sehingga ketika dal bhat berikutnya tidak cukup lezat, lidah saya menolak untuk memakannya. Saya tahu risiko yang dihadapi sehingga harus makan dan siang itu hanya berhasil makan setengah porsi saja. Untuk melupakan nafsu makan yang menghilang, saya sengaja mengunyah sambil melihat keluar, ke arah trekkers yang menembus hujan es. Uh, pasti dingin sekali berhujan-hujan es. Pasti mereka lapar…

Waktu tak mengijinkan untuk berlama-lama istirahat untuk mengejar sampai ke Ghorepani. Hujan es telah berhenti walaupun awan dan udara dingin masih menyelimuti. Dan alampun tanpa henti memberikan kasih sayangnya kepada saya. Seekor anjing putih yang entah dari mana, -sayapun lupa mulai kapan-, menemani langkah-langkah saya. Ia memandu, berjalan di muka lalu berhenti sebentar untuk memeriksa apakah saya masih di belakangnya. Ia pun berhenti pada tempat-tempat yang berbahaya, menunjukkan langkah-langkah kecilnya agar saya mengikuti pijakan kakinya dan ia pun berhenti saat saya berhenti istirahat. Hingga suatu saat di suatu tempat, ia berhenti. Mukanya memandang saya. Entahlah, seakan ia berbicara pemanduannya hanya sampai di situ dan sampai jumpa lagi. Sebagai pemilik anjing di masa kecil, saya masih mengenali gerakan-gerakan hewan yang sering menjadi simbol setia itu. Matanya sedikit sendu dengan kepalanya yang sedikit miring membuat hati ini terasa teriris. Mengeraskan hati, saya menghentikan langkah sejenak untuknya, berterima kasih atas kebaikan hatinya menemani dan menjaga saya. Beberapa langkah setelahnya, saya menoleh ke belakang melihat ia berjalan kembali dengan langkah-langkah kecilnya. Apakah ia seorang pemandu dalam kehidupan sebelumnya, entahlah, yang jelas  ia telah mewarnai kehidupan saya hari ini.

Akhirnya gerbang Ghorepani terlihat di depan mata. Kami mempercepat langkah untuk berfoto di tempat yang iconic itu. Hampir setiap trekker yang baru pertama kali ke Ghorepani berfoto di tempat itu. Sepertinya saya masih tak percaya, Ghorepani yang berada pada ketinggian 2850m akhirnya bisa juga dijejaki oleh seorang yang belum pernah naik gunung sekalipun.

Selagi Dipak mengurus semua pemeriksaan di check-point Ghorepani, rasanya saya berada di surga, bisa duduk meluruskan kaki yang sudah berjalan berkilo-kilo meter, menanjak dan menuruni lembah yang rasanya tak habis-habis itu. Dan malangnya, ternyata gerbang Ghorepani itu benar-benar sebuah PHP, Pemberi Harapan Palsu, karena kami harus mendaki lagi. Penginapan kami berada di Upper Ghorepani sementara gerbang tadi berada di Lower Ghorepani. Serangkaian tangga batu pun menyambut kami, seakan menertawakan penuh kebahagiaan telah berhasil menipu saya yang beranggapan telah sampai di tujuan.

Dipak dan Pak Ferry terus memberi semangat kepada saya untuk menapak tangga-tangga yang rasanya tak berujung itu, sampai akhirnya sampai juga di Sunny Hotel, tempat kami menginap di Ghorepani. Saya mendapat kamar berjendela lebar menghadap pegunungan berpuncak salju dengan tempat tidur besar. “Khusus untuk saya”, kompak kata para pria teman seperjalanan itu. Penginapan yang seharusnya berpemandangan langsung pada jajaran Himalaya sore itu hanya berhias kabut putih dimana-mana juga saat sunset yang seharusnya indah. Tetapi entahlah, kali ini saya lebih tertarik pada tempat tidur untuk merebahkan badan bukan pada pemandangan indah. Selalu terbaik untuk situasi saya. Ketika benar-benar membutuhkan istirahat, saya diberikan kesempatan tidur di tempat tidur besar yang nyaman tanpa perlu indahnya pemandangan.

Istirahat sebentar cukup mengembalikan stamina tubuh saat dipanggil untuk makan malam di tengah udara dingin itu. Kami semua duduk dekat tungku pemanas untuk menghangatkan badan dan setelah makan malam, saya memesan coklat panas. Tak cukup satu, saya minta tambahan segelas lagi untuk memuaskan kerinduan akan susu coklat hangat. Walau cuaca muram dan dingin malam itu, harapan kami semua yang hadir di ruang makan itu sama, berharap cuaca akan membaik sehangat susu coklat yang saya minum dan menampilkan keindahan Himalaya esok hari.

Wifi yang berfungsi normal membuat kegembiraan tersendiri, masing-masing dari kami sibuk dengan ponselnya entah untuk menghubungi orang-orang yang tercinta atau posting di media sosial. Semangat timbul kembali hingga kembali ke kamar masing-masing karena sekitar pukul 10 malam kegelapan akan menyelimuti semua kamar demi efisiensi listrik. Saya memang langsung terlelap begitu merebahkan badan tapi rasanya tak lama hingga saat suara-suara itu terdengar riuh membangunkan saya…. Aduh!

(bersambung)

WPC – Gateway To Everest


Hillary Bridges, the Gateway To Everest

Hillary Bridge is the highest and last suspension bridge on the route between Lukla (famous for the label as the most dangerous airport in the world) and Namche Bazaar (the village where trekkers usually stay for first acclimatization) on Everest Region, Nepal. The higher bridge is newer and looks more spectacular than the lower one although both still can be used. When I crossed the bridge last month, among my admiration of beautiful surroundings I just imagined how its construction was, without any cranes and modern technology aid, everything had to be brought in manually on foot.

Situated around 50 meters upstream from the confluence of two rivers and spanning over the Dudh Kosh (river) which has white milk-alike color, the 250 meters long Hillary bridge is built on top of a stone-walled gorge 100 meters above the waterline. And sorry for those who are acrophobia, -a phobia of height-, this place may be not recommended. But for scenery lovers… hmm… priceless!

For the trekkers, it is the beginning of 600 meters steep climbing to Namche Bazaar (3400 meters above sea level) through the dense forest, usually as part of the 2 weeks Everest Base Camp trekking.

By the way, not only people cross the bridge, but mules or yaks do as well…

Just give them way to cross first… 😀

 

Pedestrian

Nepal – Trekking Hari Pertama Menuju Ulleri


Sungguh Dia tak bercanda, menjadikanku ringan, memampukan, dan atas ribuan tangga pun kuberjaya.

Matahari belum sepenuhnya terbit ketika kami meninggalkan hotel di Kathmandu menuju bandara. Sarapan yang hanya tertelan setengahnya tak lagi saya pikirkan. Terlambat terbang berarti terlambat sampai Pokhara dan terlambat memulai trekking. Padahal hari ini merupakan ujian ketangguhan fisik! Langsung di hari pertama trekking.

Tak sampai setengah jam kemudian saya sudah duduk manis di ruang tunggu bandara domestik yang penuh calon penumpang itu. Dan tanpa perlu menunggu lama, penerbangan kami menuju Pokhara akhirnya diberangkatkan. Tentu saja, setelah berselfie dengan latar belakang pesawat baling-baling ini, seorang pramugari berbusana tradisional yang dimodifikasi menyambut kami dalam penerbangan ke Pokhara yang memerlukan waktu hanya sekitar 30 menit. Dan Pemilik Kuasa berkenan melimpahkan berkat dengan menyibakkan awan-awan tebal lalu menampakkan jajaran Himalaya jelang akhir penerbangan. Pegunungan berselimut salju itu sedikit bersaput kabut, hati saya langsung melesak. Pemandangan seperti ini yang membuat saya selalu ingin kembali ke Nepal. Dalam beberapa saat ke depan, akankah kaki ini menjejak di rangkaian pegunungan yang sambung menyambung itu?

Himalaya

Menit-menit berlalu hingga kota Pokhara mulai tampak di bawah. Pesawat kecil kami menyentuh bumi Pokhara dengan mulus. Ah, setelah lebih dari dua tahun saya kembali lagi kesini…

Meninggalkan area bandara, kami menyusuri Phewa Lake yang menjadi icon dari kota Pokhara dan menyempatkan diri mengintip World Peace Stupa di puncak bukit yang langsung membuat saya tersenyum sendiri mengingat kenangan indah dua tahun lalu saat alam mempersembahkan keluarbiasaannya saat matahari terbit.

Di Pokhara, kami berhenti sebentar di hotel yang akan kami inapi sepulang trekking, -hanya untuk menitipkan barang-barang yang tak perlu dibawa ke gunung-, untuk kemudian dengan menggunakan jeep kami menuju Hille melalui Nayapul. Jalannya seperti di Puncak, meliuk-liuk mengikuti lereng bukit. Jelang Nayapul, karena di ujung bawah turunan terlihat antrian panjang kendaraan, dengan sigap sang pengemudi memutar arah dan memasuki jalan alternatif menuju Birethanti, tanpa lewat Nayapul.

Jalan yang diambil bukan jalan resmi melainkan jalan tanah yang berada di antara rumah-rumah penduduk. Namun dengan begitu kami bersentuhan langsung dengan kehidupan keras yang ada di Nepal. Negeri ini memang dikaruniai bentang alam yang amat indah, tetapi kehidupan masyarakatnya juga tak mudah. Mereka yang ada di pegunungan harus bekerja amat keras, memanggul semua barang-barang untuk dijual atau untuk dimiliki dengan kekuatan otot leher mereka. Bahkan sejak kecil mereka belajar!

Di Birethanti setelah melewati jembatan yang terbentang di atas Modi Khola, jeep berhenti. Dipak, pemandu kami, turun ke pos pemeriksaan ACAP (Annapurna Conservation Area Permit) dan kartu TIMS (Trekkers’ Information Management Systems). Melihat kesempatan yang hanya sekali, kami pun turun untuk foto-foto, termasuk mengamati peta trekking ke Annapurna yang terpampang di pinggir jalan. Selesai pemeriksaan TIMS can ACAP, perjalanan pun dilanjutkan kembali menuju Hille.

Jeep mulai menanjak di jalan tanah, di tempat sama para trekkers menapaki satu demi satu langkah kakinya. Sekali dua kali Jeep menyusul kelompok trekkers yang harus menepi sejenak di pinggir jalan membiarkan Jeep lewat. Saya tak menyangka dampak yang terjadi pada diri ini. Semakin sering saya melewati mereka, semakin saya merasa malu dan tidak nyaman. Kepada mereka, kepada alam, kepada diri sendiri, kepada Yang Maha Pengasih yang telah memberikan saya kaki dan tenaga. Siapakah saya ini hingga terus menerus membuat mereka harus menepi memberi jalan kepada saya? Bukankah tujuan saya pergi ke Nepal untuk trekking? Lalu apa bedanya mereka dan saya? Saya merasa tertohok sangat dalam dengan berbagai pertanyaan diri sendiri karena menggunakan kendaraan untuk menempuh jalan yang sama yang digunakan oleh trekker. Sebagaimana dalam setiap perjalanan, hikmah yang terserak mulai terlihat. Kita tinggal mengambilnya, jika kita mau…

Belum selesai dipermalukan rasa, jalan terlihat memburuk dengan tanah berlumpur di beberapa tempat. Kondisi ini membuat roda tidak mudah untuk mencengkeram. Saya memperhatikan sang pengemudi yang dengan tangkas mengemudikan jeep fourwheeldrive. Hingga suatu saat….

Di sebelah kiri mobil jurang cukup dalam dan sebelah kanan tebing cadas vertikal ke atas…

Sopir mengambil posisi agar jeep tidak terjebak pada tanah berlumpur itu, namun sayang roda tidak bisa menghindar dari terperosok ke dalam tanah gembur itu. Sang Pengemudi berusaha keras agar jeep bisa berpindah tempat, tetapi malang, kami justru terjebak di dalamnya lalu berhenti. Di kiri jurang dan di kanan tebing. Sang sopir berbicara singkat dengan Dipak yang kemudian langsung pindah ke belakang bersama Kedar. Pak Ferry terlihat kuatir hendak turun juga, namun saya bergeming tak tahu harus berbuat apa. Rasanya satu atau dua detik terlama dikepung kekuatiran mobil akan terguling ke jurang atau terhempas ke tebing. Sekali dua kali sang pengemudi mencoba lagi dan pada upaya ketiga akhirnya mobil terangkat juga dari jebakan lumpur itu. Huft!  Saya baru menyadari akan dalamnya jurang yang siap menelan jika mobil tak terkendali. Pantas saja Pak Ferry pias wajahnya karena ia duduk di sebelah kiri tepat di bibir jurang…

The View

Di Hille yang merupakan batas akhir perjalanan dengan jeep, kami semua turun dan berterima kasih dengan sang pengemudi. Inilah awal langkah kaki, yang saya awali dengan doa. Dalam setiap perjalanan, dimana pun, ketika kaki mulai melangkah, saya melebarkan hati untuk menyadarkan diri akan kehadiran Sang Pemilik Jiwa. Kesadaran yang begitu mudah teralihkan, padahal Dia yang selalu menjaga.

Jalan tanah terhampar di depan mata sedikit menanjak tetapi belum lama menapakinya, Dipak mengajak makan siang. Bagi saya yang terbiasa makan siang saat matahari telah tergelincir dari atas kepala, apalagi lebih sering melewatkannya saat sedang melakukan perjalanan, ajakan pemandu untuk makan disambut dengan setengah hati, Tetapi saya harus menurut kepadanya karena ia lebih mengenal medan. Bisa jadi di depan tidak ada lagi rumah makan yang lumayan. Pak Ferry menerima saja dan meminta rekomendasi makanan yang tentu saja serempak Dipak dan saya berseru, Dhal Bhat!

Dhal Bhat adalah makanan tradisional Nepal yang sangat dikenal oleh wisatawan, apalagi para trekker. Terdiri dari nasi (bhat), sup lentil, sayuran, kentang (aloo), lauk kari, kadang ditambahkan acar dan sejenis keripik (Papad). Karena terkenalnya makanan ini, di Nepal sering disebut Dal Bhat Power 24H! Mungkin memang bisa menjadi cadangan energi seharian terutama untuk trekkers.

Setelah makan siang, kami pun melanjutkan perjalanan dan sampai di jembatan gantung (suspension bridge) yang pertama. Saya senang sekali karena akhirnya keinginan berfoto di jembatan gantung bisa terpenuhi, bahkan bisa menyeberanginya. Ini hadiah yang membahagiakan dari Yang Kuasa! Dengan sengaja saya melangkah dengan lebih kuat sehingga jembatan bergoyang, -yang mengingatkan kepada anak bungsu saya yang pasti jejeritan minta ampun karena senewen sehingga minta dipandu penuh cinta-. Kejahilan saya yang membahagiakan bisa membuat orang berwajah pias jejeritan minta ampun sampai pasrah.

Selepas jembatan, perjalanan semakin menanjak. Jalan yang dibuat berundak dengan tangga batu menyebabkan seakan saya naik tangga ratusan lantai. Dipak telah mengingatkan bahwa hari pertama ini kami akan langsung dihajar dengan kebengisan tangga yang seakan tak berujung. Lelah fisik memang dirasakan sekali, tetapi jika di samping kanan diantara pepohonan tiba-tiba terlihat air terjun yang gemericiknya menenangkan lalu indahnya perbukitan berhiaskan awan sambung menyambung, rasanya segala lelah itu menguap hilang.

Saya terus melangkah naik dan naik dan naik… benar-benar tak berujung. Tangga batu sepertinya berakhir diantara rumah penduduk, namun ternyata memberikan harapan palsu tangga akan selesai. Puncak tangga batu yang terlihat dari bawah itu berbelok dan merupakan awal dari tangga berikutnya. Rasanya, di awal masih senang, makin lama karena lelah mau marah, sampai akhirnya pasrah. Saya hanya bisa menghitung dalam berbagai bahasa yang saya bisa, satu, dua, tiga, empat, lima, atau dalam bahasa Nepali, ek, dui, tin, char, panch (bukankah mirip eka, dwi, tri, catur, panca?)

Neverending Stairs

Pemandangan bukit yang bisa mencapai ketinggian 3000an meter itu, -yang jika di Indonesia sudah disebut dengan gunung-, saling bersilangan membentuk bentang alam yang sangat cantik. Waktu berlalu cepat tanpa sadar, jembatan gantung yang tadi saya lewati sudah hilang dari pandangan dan sudah berada jauh di bawah. Saat itu pengukur ketinggian pada jam tangan menunjukkan angka 1540m, kami berhenti untuk istirahat lagi, kesekian kalinya. Tetapi ini sudah 500meter dari Birethanti yang berada di sekitar 1000mdpl. Luar biasa! Sebagai seorang yang tidak pernah mendaki gunung dimanapun, rasanya tak percaya, sayakah ini yang melakukannya? Ah, rasanya seperti menapaki awan, tak sadar telah ringan dibawa terbang.

It is not Downhill

Lalu sedang asik berfoto sambil menikmati pemandangan indah, Dipak berseru menunjuk sebuah tanaman yang tumbuh liar di dekat kaki saya, -yang kalau di Indonesia bisa jadi masalah tersendiri-. Aha, tumbuhan cannabis alias ganja! Pak Ferry dan saya terbahak bersama, tapi tidak berani posting ke media sosial.

Istirahat itu benar-benar membantu karena setelahnya serangkaian tangga yang tak berujung itu dimulai lagi. Dipak, pemandu kami dengan sabarnya terus mengatakan agar melangkah pelan, pasti sampai. Bahkan selagi istirahat, Pak Ferry sempat mencoba membawa duffel bag berat yang dibawa Kedar, -porter kami yang rupawan-, dengan cara Nepal yaitu dengan meletakkan tali pengikat di dahi dan mengangkatnya menggunakan otot leher. Satu kata darinya bernada compliment, Crazy!

Thikhedunga -sebuah desa yang sering disebut dalam itinerary Annapurna Base Camp via Poonhill-, telah kami lewati. Biasanya trekker bermalam disini jika mulai berjalan dari Nayapul, tetapi kami harus terus melangkah.

Di tengah jalan, pasukan keledai pun mulai menyambut kami. Rombongan hewan penolong manusia untuk membawa barang itu membawa keriuhan, suara klenengannya terdengar dari jauh. Saya ingin mengabadikannya, tetapi tak sadar saya berada di jalur jalannya. Ia mendatangi saya yang melihat dari jendela bidik kamera. Menyadari kesalahan melihat bibir keledai semakin dekat, saya langsung angkat kaki dari situ namun tidak menemukan jalan untuk menghindar. Tanpa pikir panjang, saya melompat  ke samping ke tempat aman, dekat Dipak yang terbahak menyaksikan saya seperti dikejar keledai.

Perjalanan melelahkan itu berlanjut lagi. Karena saya merupakan titik terlemah, sebagai pemandu Dipak sangat memperhatikan kekuatan yang tersisa dari saya dan memutuskan untuk berhenti di Ulleri, -bukan di Banthanti seperti rencana awalnya karena masih perlu satu jam jalan penuh tangga. Di Ulleri kami menginap di sebuah penginapan sederhana tetapi memiliki pemandangan luar biasa. Pilihan yang amat bagus.

Secangkir teh dengan daun mint menyambut saya di ruang makan. Rasanya luar biasa sekali bisa melonjorkan kaki dan menikmati pemandangan indah sambil minum teh.

Kenikmatan luar biasa ini saya lanjutkan sendiri di kamar. Ternyata saya bisa sampai hingga ke ketinggian ini dengan berjalan kaki. UndanganNya Dare To Dream memang luar biasa, saya dimampukan, saya dikayakan oleh pengalaman. Rasanya hanya satu kata untuk menggambarkan situasi yang saya alami di Ulleri. Perfect!