Blue Sky Over The Stupas


Blue Sky over the Stupas on Shwedagon

Rasanya saya tidak akan lupa momen itu. Momen berakhirnya perjalanan di Myanmar karena sesaat lagi saya harus meninggalkan tempat ini menuju bandara internasional Yangon untuk kembali ke tanah air. Saya ingin memeluk momen indah ini selagi bisa, sampai saatnya tiba untuk melepaskannya…

Meskipun masih banyak tempat menarik di Yangon yang belum sempat saya kunjungi tujuh tahun lalu, tetap saja saya memilih Shwedagon sebagai tempat mengakhiri perjalanan di Myanmar kali ini.

Tujuh tahun lalu saya ke Myanmar, saya menjadikan Shwedagon sebagai destinasi utama, menjadi alasan untuk datang ke Myanmar. Jika ingin tahu alasan utamanya bisa buka link ini. Dan kini, setelah kepergiannya, rasanya saya ingin memeluk kenangan itu selamanya, sepanjang saya bisa untuk berada di tempat yang mampu membahagiakannya.

Bisa jadi saya halu, kata anak-anak jaman now. Biar sajalah, karena bagi saya pribadi melakukan sebuah perjalanan bukanlah untuk berkompetisi dengan orang lain. Saya melakukan perjalanan karena ingin merajut tempat-tempat yang saya kunjungi menjadi rangkaian momen yang indah penuh makna dalam hidup. Juga saat ini, saat memeluk momen untuk mengakhiri sebuah perjalanan.

Ketika dulu, tujuh tahun lalu, saya penuh haru tapi penuh semangat bisa menjejak di tempat saya berdiri ini, kini saya juga diliputi haru namun berat untuk melepas. Sebuah rasa haru yang saling bertolak belakang berada di tempat yang sama.

Dan saat itulah, saya melihat ke puncak-puncak stupa keemasan dengan latar langit biru.

Seketika itu juga saya terperangah, memberikan kesadaran bahwa apa yang saya rasakan dulu dan apa yang saya rasakan sekarang semuanya relatif, namun yang pasti saya tetap sama. Berada di dalam naungan cinta tanpa syarat Sang Pemberi Hidup. Lalu mengapa harus merasa berat?

Ah, sambil tersenyum dengan kesadaran yang membahagiakan itu, saya melangkah ringan meninggalkan tempat itu.

*

By the way, since I’ve uploaded a picture of holy place in Myanmar and today is Vesak Day, let me wish for those who celebrate

Happy Vesak Day

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta,

May all beings be well, may all beings be happy and may all beings be free from suffering


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-19 ini bertema Blue Sky agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Myanmar Trip: My Pre-Water Festival Menu


Terus terang, saya bukanlah pencinta kuliner, karena saya termasuk kategori picky kelas berat alias sangat pemilih dalam hal makanan. Untuk daging-dagingan, saya hanya makan daging ayam dan sapi meskipun sekarang karena pertimbangan kesehatan saya semakin jarang makan daging sapi. Untuk makanan laut, saya masih bisa makan ikan, kepiting dan udang. Saya tidak memakan jeroan dari hewan apapun, bahkan saya tidak makan kambing, kelinci, kerang, cumi, gurita. Jadi sedikit kan variasi makanannya? Tapi saya tetap menikmati makanan meskipun dengan menu yang itu-itu saja dan tetap gendut 😀

Nah apalagi ketika melakukan perjalanan. Saya yang pemilih ini cenderung menon-aktifkan keinginan mau makan dan lebih memilih menghabiskan waktu untuk menikmati obyek-obyek wisatanya. Kadang saya baru tersadarkan karena waktu makan sudah jauh terlewati atau bahkan bisa digabung dengan waktu makan berikutnya. Jadi ketika ada ajakan teman melakukan acara kuliner atau wisata kuliner, saya hanya bisa tersenyum kecut karena itu bukan saya banget.

Kata seorang sahabat, kebiasaan ‘picky’ itu karena saya tidak mau melihat sisi lain dari makanan selain untuk dimakan dan juga tidak mau memperluas variasi makanan yang masuk ke perut itu.  Mungkin ada benarnya juga sih…

Jadi saya perlu belajar makan…

Oleh sebab itu, ketika ke Danau Inle, Myanmar, saya meluangkan waktu untuk dinner makanan lokal di hotel bertepatan dengan promosi Pre-Water Festival yang ada saat itu. Water Festival merupakan perayaan menyambut tahun baru yang biasa dilakukan di negara-negara Buddhist di kawasan Asia Tenggara, sama seperti Songkran di Thailand.

Tetapi sebelum memesan, saya berperang dalam hati bagaimana jika tidak cocok rasanya, apakah lebih baik saya memesan nasi goreng atau mie goreng seperti biasanya atau makanan  lainnya yang sudah saya kenal? Tetapi kapan lagi bisa punya kesempatan menikmati satu set makanan lokal yang tidak datang setiap hari? Namun setelah beberapa saat, akhirnya saya memenangkan pilihan yang berbeda dari biasanya. Bukankah saya harus berani keluar dari comfort zone? 😀

Menunya kedengarannya hebat dan saya membayangkannya juga keren.

Rissoler Lotus Root

Makanan ini merupakan hidangan pembuka. Ketika disajikan di depan saya, entah mengapa saya membayangkan gorengan bakwan yang crunchy banget. Dan dengan setinggi harapan menggigit makanan yang akan menerbitkan air liur, saya mencobanya. Tapi garingnya tidak sesuai kenyataan, rasanya juga B-aja. Saya seharusnya cepat menyadari bahwa yang saya makan itu adalah akar bunga lotus!

Myanmar2
The Starter – Risoller Lotus Root

 

Atar Tagu Nwae Ma Achin Hinn

Makanan berikutnya yang susah diucapkan itu datang berupa sup daun akasia dan ikan. Dan lidah saya yang picky ini bisa menerima santapan berkuah yang sedikit asam. Kombinasi rasa asam dan ikan menetralkan rasa daun akasia yang terasa asing pada lidah. Belakangan saya baru tahu bahwa daun akasia itu ternyata bagus untuk mengatur kadar gula. Duh, makanan herbal dong…

Mya Nandar Myanmar Curry & Fried Morning Glory – The Course

Saya mungkin terbiasa terpesona dengan besar atau hebohnya saat hidangan utama disajikan, sehingga saya menunggu dengan debar tersendiri saat hidangan utama belum datang. Dan ketika saatnya datang, saya tetap terperangah…

Myanmar3
Pre Water Festival Menu

Hidangan utama itu datang dalam mangkuk kecil berisikan ikan rebus dan potongan nangka dengan saus kari. Saus karinya enak, meskipun B-aja. Ikannya juga cukup menarik rasanya, meskipun jumlahnya sedikit. Dan saat menggigit nangka, saya jadi teringat makan gudeg-gudegan, istilah saya akan gudeg yang belum masuk kategori gudeg.

Hidangan utama didampingi dengan mangkuk keripik berisi tumis kangkung. Saat melihat tumis kangkung, saya langsung tersenyum lebar tersadarkan, karena saat membaca menu Fried Morning Glory, saya sama sekali tidak sadar nama itu merupakan nama lain dari kangkung. Namanya keren yaa…?

Tangyuan & Fried Ice Cream Rolls

Sebagai penutup saya mendapatkan bola-bola Tangyuan dalam kuah apel, yang lagi-lagi bagi saya B-aja. Mungkin memang lidah saya yang tidak pandai menyesuaikan diri sehingga nilainya selalu B-aja.

Dan untuk menghadiahkan diri sendiri berhasil makan makanan lokal apapun rasanya, saya memesan minuman Banana Lassi dan tambahan makanan penutup: Es Krim Goreng Gulung, yang bagi saya paling juara enaknya malam itu. Untuk mendapatkan es krim goreng gulung ini, saya harus menyaksikan demo pembuatannya dan memang es krim itu dipanaskan sehingga keras dan ketika waktunya tepat, penyajinya langsung menggulung es-krim itu. Rasanya dengan lelehan coklat tentunya sangat lezat. Es krim mana sih yang tidak lezat?

Sepanjang jalan menuju kamar, rasa es krim goreng gulung dan banana lassi sepertinya masih tertinggal di mulut. Ah, kalau sudah begini, kapan bisa menambah variasi makanan?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-17 ini bertemakan Food agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Ke Myanmar Lagi Setelah Tujuh Tahun


Saat roda pesawat menyentuh mulus landasan bandara Internasional Yangon, saya menarik nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala. Rasanya tak percaya bahwa setelah 7 tahun akhirnya saya kembali lagi ke Myanmar, negeri yang terkenal dengan sebutan The Golden Land. Bandara yang dulu terkesan tak ramah dan seram, kini bagai perempuan cantik yang menarik hati dengan begitu banyak toko-toko merek Internasional.

Jika 7 tahun lalu saya harus datang menggunakan visa, kini sebagai pemegang paspor Indonesia, saya bisa melenggang dengan visa exemption dari Pemerintahan Myanmar. Jika dulu saya ketar-ketir dengan kecukupan bank notes US Dollar terbaru yang harus licin yang saya bawa karena ATM internasional tidak ada, kini saya bisa menarik uang kyat melalui ATM, bahkan sampai di tempat terpencil pun ada ATM! Jika dulu sinyal ponsel lebih banyak hilang, kini saya bisa terus exist dimana-mana hingga ke tempat terpencil. Dan yang paling membahagiakan, jika dulu saya hanya mendapat sedikit hotel yang bisa dibooking online kini Myanmar tak beda dengan Negara-negara lainnya. Jika dulu saya bingung untuk bisa booking pesawat domestik di Myanmar, kini saya memiliki kemudahan untuk memilih transportasi bus atau pesawat untuk pindah kota. Tujuh tahun untuk keterbukaan sebuah Negara, perubahan ini patut diacungi jempol.

Kemudahan itu juga termasuk pemesanan tiket bus sehingga saya bisa dengan cepat dari bandara ke stasiun bus dan langsung menuju Kinpun, desa terdekat untuk sampai ke Golden Rock. Saya telah menghitung waktu perjalanan bahwa saya bisa mencapai Golden Rock sebelum sunset dan betapa membahagiakan saya bisa mendapatkan sunset yang indah di Golden Rock! Bahkan keesokan harinya saya juga bisa mendapatkan pemandangan indah perbukitan yang berlapis-lapis ditimpa sinar mentari pagi.

DSC07452
Sunset at Golden Rock, Myanmar

Perjalanan saya pagi itu berlanjut ke kota kecil Hpa’an di Kayin State dengan menggunakan bus dan sempat berkenalan dengan penduduk lokal seperjalanan bus. Mereka dengan ramahnya dan dengan bahasa Inggeris yang fasih menunjukkan tempat saya harus turun agar tak jauh berjalan kaki dari hostel saya menginap. Membahagiakan sekali rasanya mendapatkan bantuan dari mereka.

Di hostel kecil di Hpa’an itu, lagi-lagi saya mendapatkan kemudahan. Setelah rehat sejenak di kamar hostel yang ber-AC sambil menunggu meredupnya terik mentari, saya berkeliling tempat-tempat wisata di Hpa’an dengan motortaxi. Hpa’an, kota kecil pinggir sungai Than Lyin yang berada di kawasan perbukitan karst memang merupakan surga bagi penggemar wisata gua. Karena keterbatasan waktu, saya hanya sempat mengunjungi Gua Kaw Gon yang luar biasa cantik karena dipenuhi dengan tatahan ribuan Buddha kecil di sepanjang dinding dan atap gua, juga Gua Yathae Pyan yang banyak stalaktit dan stalagmit, Gua Kaw Ka Thaung yang menyimpan relik Buddha dan tentunya gua terbesar Mahar Saddan yang terkenal dengan stalagtit dan stalagmitnya dan berujung pada danau kecil di ujung keluarnya. Bahkan di hari pertama saya sempat mengunjungi sebuah monastery berpemandangan indah pada saat senja. Refleksi monastery dan perbukitannya terlihat sangat menawan di danau kecil.

Perjalanan selanjutnya menuju kota Mawlamyine atau dulu dikenal dengan Moulmein, di Mon State, yang mengharubiru rasa. Sesungguhnya perjalanan ke Mawlamyine inilah yang membuat saya kembali ke Myanmar setelah tujuh tahun. Dengan apapun saya akan menempuhnya, saya akan sampai pada Mawlamyine meskipun hal ini tidak akan mudah.

Sebuah perjalanan menapak tilas tidak akan pernah mudah karena dipenuhi kenangan dan cinta. Setiap langkah saya seperti melepaskan helai bunga doa untuknya. Meskipun menginap di tempat terbaik di kota ini, saya tahu akan berteman dengan airmata dan menghabiskan waktu berbicara dengan jiwa.

Namun jiwa pejalannya yang ada pada saya mengajak melangkah ke tempat-tempat baru. Di kota ini saya melihat bagaimana Myanmar berusaha memiliki bangunan Buddha Tidur terbesar di dunia (meskipun kini dikalahkan oleh China yang mengubah bukit menjadi Sleeping Buddha). Bangunan Buddha Tidur yang saya lihat ini juga masih dalam tahap pembangunan, entah kapan selesainya.

DSC08118
Win Sein Taw Ya Pagoda, Mawlamyine, Myanmar

Selepasnya, saya diajak oleh sopir tuktuk untuk mengunjungi beberapa masjid, termasuk menyempatkan ziarah kubur kepada seorang ulama yang dimakamkan disana. Pengalaman mengunjungi perkampungan muslim dengan melihat beberapa masjid di kota Mawlamyine melengkapi keindahan hari saya. Seakan saya dibukakan mata bahwa saya tidak boleh menyamaratakan keadaan Muslim di Myanmar. Di kota ini, di Negara bagian Mon ini, toleransi antar agama berjalan dengan sangat baik. Buktinya amat jelas, saat berjalan kaki di pagi hari, saya mendapati tiga masjid yang tak berjauhan lokasinya. Bahkan belakangan saya menyesal, karena tahu disana ada lebih banyak masjid daripada rumah ibadah lain, yang tidak sempat saya lihat.

Bagaimanapun perjalanan harus dilanjutkan, pada malam harinya saya kembali ke Yangon dengan menggunakan bus malam yang menyimpan cerita untuk bersikap berani di baliknya. Kota Yangon dengan segala kebaikan dan keburukannya, tidak jauh beda dengan Jakarta, kota tempat saya dibesarkan dan hidup didalamnya. Sebagai perempuan yang pergi sendiri, antenna kewaspadaan saya harus terus berfungsi dengan baik, kelengahan sedikit saja bisa berakibat tak baik. Meskipun diatas segalanya, Dia Yang Maha Melindungi yang menjaga saya selamanya.

Hari itu, kota Yangon bukan menjadi kota destinasi, melainkan kota transit karena saya harus terbang ke Heho untuk sampai ke Danau Inle yang terkenal. Tujuh tahun lalu, saya tidak sempat ke Danau Inle dan tahun ini, Inle menjadi tujuan destinasi saya untuk menikmati liburan kali ini. Benar-benar beristirahat.

Dua malam saya habiskan di Danau Inle untuk berleha-leha dan berwisata sekitar danau, ke tempat-tempat pembuatan kain, tempat pembuatan perahu, tempat kerajinan tangan dan lain-lain. Bahkan di tempat itu, yang jauh dari kota, saya sempat menarik ATM. Ah, Myanmar memang sekarang lebih mudah.

DSC08571
Inle Lake one-leg rowing fisherman during Sunset

Menikmati sunrise dan sunset di Danau Inle merupakan pengalaman indah yang saya alami. Bagaimana mungkin saya mengabaikan nelayan-nelayan yang mencari ikan di danau dengan mendayung memakai satu kakinya? Bagaimana mungkin saya mengabaikan bunga-bunga matahari dan lotus yang terhampar dan mekar dengan indahnya di pinggiran danau? Keindahan luar biasa Danau Inle membuat saya berjanji akan mendatangi lagi suatu saat nanti.

Meskipun beristirahat total, -ini cara mengisi liburan saya yang sangat berbeda dari biasanya-, tetap saja ada satu tempat yang membangkitkan semangat. Dengan melakukan perjalanan sekitar 1 jam dengan perahu, saya sampai pada reruntuhan bangunan dari Abad ke-11. Meskipun terpapar terik matahari dan sedikit mendaki, saya bisa menikmati kawasan Bagan dalam ukuran mini.

Perjalanan saya di Myanmar mendekati akhir. Saya harus kembali ke Yangon, dengan berkendara bus selama 11 jam. Sebuah perjalanan panjang yang menghabiskan hari, namun bagi saya tetap saja ada kisah-kisah menyenangkan dan menghangatkan hati melalui sentuhan hati dengan orang-orang lokal yang baik dan ramah.

Malam terakhir di Yangon, dalam keadaan badan yang lelah, justru saya mendapat pengalaman ‘perkenalan’ sampai akhirnya saya minta penggantian kamar. Meskipun saya tidak mau berpikir aneh-aneh, tetapi demi istirahat enak, lebih baik saya pindah ke kamar lain. Bukankah mengganggu bila lampu tiba-tiba meredup lalu terang kembali dan berulang serta bunyi-bunyian keras tanpa alasan yang jelas?

Tetapi bagaimana mungkin saya meninggalkan Yangon tanpa mampir ke Shwedagon yang megah? Dan tetap saja beberapa jam disana sudah mampu memberi sentuhan hangat ke dalam jiwa, sampai akhirnya waktu juga yang memaksa saya meninggalkan Yangon.

Setelah tujuh tahun, Myanmar telah banyak berdandan cantik disana-sini menyambut tamu-tamu yang semakin banyak berdatangan. Meskipun kali ini saya mendatangi tempat-tempat yang belum saya datangi sebelumnya, -kecuali Yangon-, saya merasakan sekali perubahan kearah yang lebih baik itu, dan tentu saja sangat menggembirakan.

Ah, karena post ini merupakan rangkuman perjalanan, doakan saja saya bisa menulis perjalanan seru waktu disana ya. Siapa yang baru-baru ini ke Myanmar juga? Boleh dong cerita-cerita… 🙂

WPC – Ascend To The Top


I was blessed having the chance to see a rare event in the main temple of Maha Lokamarazein Kuthodaw Pagoda in Mandalay, Myanmar, during my visit to this temple which is famous as The World’s Biggest Book Temple. I could see a brave guy who climbed to top of Main Stupa without adequate safety equipment or perhaps I could say, without any safety equipment at all. He could climb to the peak of the Stupa only in 1 minute. Living as a local with Buddhism since born, he did it because of his love to The Buddha. Having the chance to clean the top of the Stupa is a honor task.

 

IMG_3805

In response to Daily Post Weekly Photo Challenge with Ascend as keyword

WPC – Quest For Peace


img_3971
A young monk walked alone near U Bein Bridge

Near U Bein bridge in Amarapura, Mandalay, Myanmar, I saw a young monk who walked alone in his bare feet, separated from his friends. I did not know what he’s thinking about, perhaps a quest for inner peace.

Inner peace begins the moment you choose not to allow another person or event to control your emotions.

In response to Daily Post’s Weekly Photo Challenge with Quest as the theme for this week.

Myanmar In Frames


My trip to Myanmar several year ago was one of my best solo trips I have ever experienced. Not only I was able to take a pose at Shwedagon Pagoda, as my father did decades ago, but I also got so many wonderful experiences in the country which opened up since the past few years.

But spending hours since the afternoon till evening at the famous Shwedagon Pagoda in Yangoon, would be different compared to wander around Bagan which has thousands of ancient heritage temples or wander around Mandalay.

But unfortunately, hundreds of the remarkable temples were damaged by the recent 6.8 Magnitude earthquake on 24th August 2016 with its epicenter only around 30 km from Bagan.

I truly hope that the Myanmar and the world will be hand in hand to repair and restore all the damaged heritage temples because of historical value was not owned by Myanmar alone but the world.

In order to participate in the Daily Post Weekly Photo Challenge with the theme Frame for this week, I post some photos during my trip in Myanmar

 

WPC – Admiration of the Asian Heritages


Been to lots of historical temples in my country since I was kid, made me admiring of the heritage sites, especially temples. When I was in a temple as a kiddie tourist, my mind was full of imagination of the life of people, the communities, their culture and the kingdoms around that time, and the relationships between the kingdoms as well…

As time go by, I can’t help myself not to go to the heritage sites in neighboring countries. With the same curiosity and eagerness seeing the temples, finally I visited to the heritage sites of the related kingdoms in South East Asia. And there I was still imagining the life of people and their culture during the temples’ golden era.

From Indonesia, the Borobudur…

IMG_5394
A guy performs a Pradaksina, the rite of clockwise circumambulating in Borobudur, World Heritage Site in Indonesia

to Cambodia, the Angkor Wat…

IMG_0223e
Sunrise at Angkor Wat – World Heritage Site in Cambodia

Also Preah Vihear, a world heritage temple in Cambodia, near the border to Thailand…

P1020784
Preah Vihear, World Heritage Site in Cambodia

Then to Thailand, the kingdom of Ayutthaya

IMG_7391
Ayutthaya at Night, World Heritage Site in Thailand

Also Sukhothai in Thailand

IMG_6621
Sukhothai – World Heritage Site in Thailand

And to temples of Bagan in Myanmar…

IMG_3370a
Beautiful Heritage Site in Bagan, Myanmar

Then the unforgotten My Son Champa ruins in Central Vietnam

P1030780
My Son, Champa ruins – World Heritage Site in Vietnam

And recently, last week exactly… Wat Phou in Lao PDR

IMG_1172
Wat Phou Champasak, World Heritage Site in Lao PDR

In response to the Daily Post Weekly Photo Challenge with the topic of Admiration

WPC – Optimism in Amarapura


U Bein Bridge in Black and White
U Bein Bridge in Black and White

When the Daily Post’s Weekly Photo Challenge asks us to show something we are optimistic about or something that helps us stay positive and hopeful, some pictures are directly coming into my mind. After thinking for a while, finally I select this one as my contribution for the photo challenge of the week with the topic: Optimistic

It was in May several years ago, not the best time to visit Myanmar. And to make it worse, at that time Myanmar was partly opened for foreign tourists. Being a citizen of ASEAN members which Myanmar is a member as well, -in the same South East Asia region-, it’s not an auto access entering the country with a passport only. I had to apply visa before flying to Myanmar. Although it’s said that a political change being on the way, but I felt the atmosphere of people’s daily life stayed the same. Well, that was included me as a tourist visa holder; there’s always passport verification and registration by an officer in uniform in all domestic airports I arrived. But the people, the culture, the heritage and the food of Myanmar, hmmm… I was optimistic about the future of this marvelous country.

On that afternoon the driver dropped me off at U Bein Bridge, the famous tourist destination in Amarapura, Mandalay. I love the view of the bridge, it’s still awesome although it was not sunset nor sunrise.

The 1.2 km teak bridge is believed to be the oldest and the longest wooden footbridge in the world, which was built by U Bein around 1850 to salvage the unwanted teak columns from the old palace of Ava Kingdom during the move to new capital, Mandalay. Until now the local people still use this more-than-a-hundred-years bridge to cross over Taung Tha Man Lake.

Besides the breathtaking view of the footbridge during sunset or sunrise, it is also wonderful for me to enjoy afternoon scenery from the snack shops or small restaurants in the lakeside and watch the activities of Buddhist monks and the local people walking across the U Bein Bridge.

But who could handle for just watching and not walking on the bridge? Racing with the time, I walked for a several hundred meters and back just to feel the breeze from the lake. It was so wonderful. And while walking I found the answer of a question about the safety of the bridge. Some bricks were added to the wooden base in several points, perhaps to strengthen the existence of the bridge. Based on the discussion with the local people there, I believed that the people of Amarapura are optimistic about this outstanding wooden bridge which will survive for another century.

And I could not forget about Taung Tha Man Lake, it is still used by the locals for fishery. The lake itself is so kind to provide a lot of fishes for the people of Amarapura and surroundings. It’s not only for that, but also for boat tourism. When I was there, more than one boatman offered me to rent his traditional boat to go around and see the U Bein Bridge from the lake. Some of them offered to the tourists directly from their boats under the bridge. Unfortunately the time was not mine since I had to go back to Mandalay. It’s in the month of May, not peak time for tourists, but I believed the boat owners were still optimistic for the coming tourists.