WPC – Some Details on Haeinsa Temple


There are lots of intricate colorful design on Haeinsa Temple, a religious place where Tripitaka Koreana, -the whole of Buddhist Scriptures carved onto 81.350 wooden printing-blocks since 1398-,  are enshrined. Located on a mountain as part of the Gayasan National Park, near the city of Daegu, South Korea, this beautiful temple is one of the UNESCO World Heritage Sites in South Korea.

The buildings in the temple complex are amazing, the colors are so vibrant. I looked up at the roof and got a surprise, the details on it were totally stunning. And I thought about the people, the monks behind the art-work. It should not be just an art, but a way of life.

And if I notice further, on the design I could see a bird or a wing at least, a hand with an arrow and flowers, of course. Could you see those as well?

 

A corner of temple's roof
A corner of temple’s roof
Could you see an arrow?
Could you see an arrow?

As my entry for the Daily Post Weekly Photo Challenge with the topic of Detail

WPC – Landscape of Mt Seorak


It was Autumn when I made a day-trip from Seoul to Mt. Seorak National Park, one of the favorite tourist destinations and one of the UNESCO World Heritage Site as the Tentative List in South Korea. It’s famous because of the beautiful landscape, especially in Autumn.

IMG_9574
The view of Mt Seorak National Park from the cable car

But actually, being  wandering on the rocks up there was totally amazing for me. And from there I was able to see Sokcho, the nearest city to Mt Seorak.

IMG_9593
The View of Sokcho, the nearest city to Mt. Seorak
IMG_9599
The rocks of Mt. Seorak

WPC – When Leaves Were In Transition


The Leaves in Transition
The Leaves in Transition

It was memorable moments when I walked alone in the Secret Garden, behind one of the famous South Korean palaces in Seoul, the Changdeokgung. It was early November and the leaves on trees in the garden were in transition, from green to yellow or red then brown, then they fell to the ground.

Being a person who lives in a tropical country with only summer and rainy season, for me autumn season is a remarkable time. Knowing about autumn is one thing, but walking in a real garden with the trees in a color transition in Autumn was another amazing unforgettable moments.

“As the Leaves change, so do we…

The lucid colors of the trees reminded me of the eternity of change. As the leaves change, so do we. With the changing seasons comes new beginnings. We all change colors and lose our leaves, but after that we bloom again…

WPC – Ornate Temples


The Roof's Corner of Haeinsa Temple
The Roof’s Corner of Haeinsa Temple

When I was in South Korea, I was so attracted to their ornate colorful temples, especially on the roof.  The people behind these temples were so amazing, they did with the heart, focused on the small details one by one, day by day until it completed done. And after a while, the continuous process started again, this time was for the maintenance.

I saw the work result of the monks who is always embracing the present moments. They’re never in hurry, do everything quietly and in calm spirit. They do not lose their inner peace for working with the intricate designs.

“Enjoy the little things in life, because one day you will look back, and realize they were the big things”

In response to the Daily Post weekly photo challenge – Ornate

WPC – Push The Boundaries


Your current safe boundaries were once unknown frontiers – Anonymous

Boundaries
Boundaries

The theme for this week’s photo challenge is Boundaries. And for this challenge, I selected a photo of my trip to Haeinsa Temple, a World Heritage Site in South Korea.

I could not forget the trip. The time I pushed the boundaries. I was on my solo trip, trapped in the traffic jam for long hours in the afternoon, then had to get off from the bus in the middle of nowhere, continued with a trekking through a National Park with limited English signs, with limited English spoken people there, running out of time before dark and in autumn season which the temperature was far cooler than my tropical country’s.

I posted a complete story about this experience in Bahasa Indonesia here (Haeinsa Trip)

Menyaksikan Lantern Festival di Cheonggye-Cheon Stream, Seoul


Masih merupakan lanjutan cerita perjalanan saya di Korea…

Meninggalkan lapangan tempat Monumen Raja Sejong Yang Agung yang tak jauh dari Gerbang Gwanghwamun berada, saya berjalan kaki perlahan mengikuti kerumunan orang-orang menembus dinginnya malam musim gugur di Seoul. Secara geografis karena terletak lebih utara, Seoul lebih dingin daripada Busan, sehingga saya memasukkan tangan lebih dalam ke saku jaket. Monumen Admiral Yu Sun Shin terlewati sudah, namun saya masih meneruskan langkah. Terlihat banyak sekali kerumunan orang di depan. Pasti ada sesuatu yang menarik di sana! Dan benarlah, Ternyata ada Seoul Annual Lantern Festival sedang berlangsung di Cheonggye-Cheon Stream. Wah, betapa beruntungnya saya! Cheonggye-Cheon Stream saja sudah menjadi tempat yang harus dikunjungi di Seoul, apalagi ditambah dengan adanya Seoul Annual Lantern Festival !

The Welcoming Blue Waterfall
The Welcoming Blue Waterfall

Cheonggye-Cheon Stream, sebuah tempat yang saya impikan untuk dimiliki di kota saya di negeri sendiri yang entah kapan bisa terealisasi. Tetapi memang saya benar-benar iri setengah mati dengan warga Seoul karena mereka memiliki Cheonggye-Cheon Stream. Dan bagi saya sendiri, Cheonggye-Cheon Stream merupakan bentuk komitmen antara pemerintah dan masyarakat Seoul yang mengedepankan budaya kesehariannya dan kepatuhan terhadap peraturan serta lingkungan ekologisnya. Hal ini yang membuat Cheonggye-Cheon menjadi tempat khas yang harus dikunjungi di Seoul. Banyak kota di dunia ini yang memiliki tower tinggi, gedung pencakar langit yang semakin tinggi menembus awan, kebun yang indah, mall yang besar dan luas, museum yang menarik, tempat-tempat ibadah yang berlapis emas, dan lain lain, namun hanya sedikit kota yang memiliki Stream yang menyenangkan untuk dijadikan tempat berjalan kaki. Cheonggye-Cheon di Seoul adalah salah satunya.

Sebenarnya Cheonggye-Cheon Stream merupakan anak sungai kecil yang mengalir dari Barat ke Timur sepanjang 8km di pusat kota Seoul. Pada jaman dulu, Cheonggye-Cheon Stream yang dibangun oleh raja-raja dari dinasti Joseon merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat sehari-hari di kota lama Seoul. Kemudian dengan berjalannya waktu terutama setelah Perang Korea di pertengahan abad 20, air sungai ini sudah tercemar sedemikian rupa karena rumah-rumah kumuh semakin banyak berdiri di sepanjang anak sungai ini sehingga di bawah kepemimpinan Presiden Park Chung-hee di tahun 1958, pemerintah memilih untuk menutupnya dan menyembunyikannya di bawah jalan raya dan kemudian diteruskan dengan pembangunan jalan bertingkat di atas jalan yang sudah ada yang selesai dibangun pada tahun 1976. Sejak itu Cheonggye-Cheon semakin hilang dari ingatan.

Cheonggye-Cheon Stream once was covered
Cheonggye-Cheon Stream once was covered

Dan sebuah ide yang sangat brillian dari walikota Seoul, Lee Myung-bak, untuk menatanya kembali, membongkar semua beton-beton yang menutupnya dan memperlihatkan aliran anak sungai ini ke permukaan dan mempercantik lingkungan sekitarnya, hingga kembali menjadi bagian tak terpisahkan dari kota Seoul yang modern. Sebuah pekerjaan restorasi yang terlihat ‘gila dan tak masuk akal’ serta juga mendapat pertentangan luar biasa dari masyarakat lokal karena mahal biayanya ini, dimulai tahun 2003 hingga 2005 dan mencakup wilayah Cheonggye-cheon Plaza di Taepyeong-no hingga ke Jungnang-cheon. Tetapi akhirnya sesuatu yang ‘gila’ ini mendapat pujian termasuk dari masyarakat internasional karena Cheonggye-Cheon Stream yang ada di pusat kota Seoul ini menjadi contoh landmark kota yang ramah lingkungan. Bisa dibilang, belum ke Seoul apabila belum menginjakkan kaki ke Cheonggye-Cheon Stream. Berlebihan? Percaya deh… tempat itu memang luar biasa asyik.

The Stepping steps in Cheonggye Cheon Stream
The Stepping steps in Cheonggye Cheon Stream
Romance along the Cheonggye Cheon Stream
Romance along the Cheonggye Cheon Stream

Uniknya tempat ini, di sepanjang lebih dari lima kilometer dari penataan aliran sungai ini situs-situs bernilai sejarah, jembatan batu tua, jembatan-jembatan baru untuk kendaraan dan jembatan-jembatan baru untuk pejalan kaki baru, air mancur dan hal-hal lain yang menarik, direkonstruksi kembali, dibangun kembali dan sengaja dipindahkan untuk menarik perhatian. Cheonggye-Cheon Stream menjadi sebuah tempat rekreasi, untuk melihat dan membayangkan wilayah historis tempat mencuci pakaian para penduduk Seoul pada jaman dulu, atau sisa-sisa beton dari jalan raya yang pernah menyembunyikan aliran anak sungai ini, atau sejumlah mural sejarah yang menghias dinding-dindingnya, dan masih banyak lagi hal-hal yang diciptakan atau dipindahkan untuk memperkuat kesan sebagai icon pariwisata di Seoul. Tetapi tentu saja yang mungkin paling terkenal adalah jembatan besar dari batu yang bersejarah dengan arsitektur yang cantik, Gwangtonggyo dan Supyogyo. Meskipun tidak lagi berada di lokasi semula, jembatan pedestrian historis yang lebar ini, yang terkenal dengan nama Gwangtonggyo ini, tetap mampu menciptakan imajinasi betapa anggunnya kaum bangsawan yang sedang melalui jembatan ini pada masanya. Juga jembatan Supyogyo, yang memiliki kekhasan tersendiri karena tepat di dekatnya didirikan sebuah pengukur ketinggian muka air sebagai pengendali banjir pada masa itu.

The delicate carving stone under the bridge of Cheonggye-Cheon Stream
The delicate carving stone under the bridge of Cheonggye-Cheon Stream

Dan saya menikmati mengikuti langkah kaki menyusuri Cheonggye-Cheon Stream malam itu sambil membayangkan kondisinya pada jaman dahulu dan tentu saja menikmati Festival Lampion di Seoul yang sedang berlangsung, sambil kadang tersenyum sendiri melihat pasangan-pasangan berduaan menikmati kemudaannya tanpa menghiraukan gerimis kecil dan udara dingin Seoul.

Air terjun yang indah berwarna biru mengawali langkah kaki saya menyusuri aliran air yang dingin itu. Kemudian dilanjutkan mengenai berbagai seni budaya dan sejarah Raja-raja Korea terutama Masa Kejayaan Periode Baekje, sesuai tema tahun 2013. Walaupun tidak semua orang memahami sejarah dan budaya Korea Selatan, semua yang ditampilkan lampion-lampion itu mampu memanjakan mata. Dimulai dari Prajurit Baekje yang diikuti elang, hewan yang berpengaruh semasa Periode Baekje. Juga digambarkan bagaimana King Goi memulai sistem ranking dan warna seragam dalam kehidupan istana, dan pengembangan ketrampilan pengolahan metal hingga seni grafis yang bersumber dari kepercayaan Buddha serta ketrampilan pengembangan armada maritim.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Berbagai kissah diungkapkan pada lampion-lampion itu. Ada kissah mengharukan dari Raja Danjong, sebagai raja ke enam dari Dinasti Joseon yang diangkat pada usia 12 tahun, namun harus menerima kenyataan pahit karena digulingkan dari tahtanya oleh Pamannya sendiri, Suyang Daegun. Akhirnya, Raja Danjong dan permaisurinya, Ratu Jeongsun, dipertemukan kembali secara cantik dalam Festival Lampion Seoul, 555 tahun setelah pengasingan dan kematiannya di Yeongwoi. Mengharukan sekali!

King Danjong, who was dethroned, and Queen Jeongsun are reunited here
King Danjong, who was dethroned, and Queen Jeongsun are reunited here
Military officer who guarded King Danjong in exile in Yeongwol
Military officer who guarded King Danjong in exile in Yeongwol

Saya juga tertarik pada lampion yang disebut dengan Chiljido, yaitu sebuah lampion yang dibentuk seperti pedang unik bercabang enam yang kini menjadi Kekayaan Nasional Jepang dan sekarang ini disimpan di Isonokami Shrine. Sebuah tulisan yang menghiasi tubuh pedang itu, –Pangeran dari Baekje mengirim pedang ini ke Jepang dan berharap pedang ini tetap bisa diwariskan kepada generasi-generasi yang akan datang–, membuat saya berpikir, sebuah persahabatan yang bervisi jauh ke depan dan bermakna dalam. Mampukah generasi sekarang meneruskan harapan Pangeran Baekje itu?

The unique 6 branches sword, now kept in Isonokami Shrine, Japan
The unique 6 branches sword, now kept in Isonokami Shrine, Japan

Persahabatan dengan Jepang juga digambarkan dengan kedatangan Wangin, seorang yang berilmu dari Baekje yang berbagi pengetahuan mengenai etika dan moral, termasuk kepercayaan Confusianisme dan ketrampilan ukiran.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Satu hal yang digambarkan dalam lampion sebagai pembelajaran adalah kehancuran sebuah periode hanya karena permainan. Raja Gaero yang merupakan Raja Baekje ke 21 menyukai permainan Go. Dorim, seorang pendeta Buddha dari Kerajaan Goguryeo, memenangkan permainan Go melawan Raja Gaero dengan imbalan pembangunan gedung-gedung dan istana mewah yang justru menghancurkan ekonomi Baekje sampai ke dasar-dasarnya. Semua kehancuran itu hanya berasal dari sebuah permainan yang bersifat judi.

King Gaero and the Buddhist monk Dorim playing Go to end of Baekje history
King Gaero and the Buddhist monk Dorim playing Go to end of Baekje history

Korea yang terkenal dengan makam-makam Raja yang mewah, juga digambarkan dalam festival lampion ini, termasuk semua barang yang ditemukan dalam makam Raja Muryeong. Dari perhiasan, bentuk mahkota dan ilustrasi-ilustrasi mitos untuk menjaga makam dari penjarahan. Juga lampion-lampion yang berbentuk binatang-binatang yang dipercaya pembawa keberuntungan yang dibentuk dengan ekspresi yang lucu, ada juga lampion-lampion orang-orang berpakaian tradisional yang sedang memainkan alat musik tradisional pada jaman Baekje.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Salah satu yang menarik, yang memang menjadi kekuatan dari Cheonggye-Cheon Stream karena pendekatannya yang ramah lingkungan adalah lampion-lampion yang menggambarkan mengenai Green Card dan Maskotnya Mulbeomi, seekor anjing laut. Greencard di Korea ini merupakan layanan publik berbasis poin yang diberikan kepada mereka yang menjaga lingkungan karena membeli produk-produk ramah lingkungan, juga yang menggunakan transportasi publik, yang melakukan penghematan listrik, air dan gas. Sedangkan Mulbeomi, si anjing laut sebagai maskot, merupakan hewan yang terancam punah akibat pemanasan global. Sehingga diharapkan dengan penggunaan Greencard ini, Korea Selatan turut menjaga kelangsungan bumi, bisa menolong anjing laut dan hewan-hewan lain yang terancam. Sebuah ajakan nasional yang sangat hebat.

Mulbeomi as the GreenCard's Mascot
Mulbeomi as the GreenCard’s Mascot

Saya melihat negara lain berpartisipasi dalam Festival Lampion Seoul ini, seperti Phillippines dengan menampilkan pohon Natal yang besar. Phillippines memang terkenal dengan suasana Natalnya yang paling lama, bahkan saat itu awal bulan November, mereka telah mendirikannya di Korea Selatan! Juga boneka lucu-lucu yang sangat ekspresif mengungkapkan kegembiraan dari Taiwan. Sayang sekali saya tidak melihat Indonesia ikut berpartisipasi disini. Kapan ya?

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Juga ada lampion-lampion yang menggambarkan Incheon yang akan menjadi Tuan Rumah penyelenggaraan Asian Games tahun 2014 ini dan masih banyak lagi rupa bentuk lampion yang menghias sepanjang Cheonggye-Cheon Stream.

Malam semakin larut, saya telah berada di ujung Festival yang berhiaskan ikan-ikan warna warni yang dibuat seakan terbang. Sungguh cantik. Membuat saya larut dalam imajinasi yang bergerak lincah. Kaki terus melangkah, kembali memutar menyusuri Cheonggye-Cheon Stream pada sisi yang lain, seakan mengundang untuk selalu datang lagi dan lagi…

Ada Bahasa Indonesia di Seoraksan


Setelah membatalkan perjalanan ke Naejangsan National Park yang terkenal keindahan musim gugurnya, saya mengharuskan diri untuk berkunjung ke Taman Nasional Seoraksan, lagi-lagi dengan alasan sama: demi warna musim gugur!

Seoraksan atau Mt. Sorak, merupakan tempat wisata di Korea yang sangat populer di kalangan wisatawan terutama dari Indonesia. Tempat wisata yang berada di bagian Timur Laut semenanjung Korea ini, memang indah di semua musimnya dan telah terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Tentative List, termasuk Korea Selatan sendiri mencatatnya sebagai Taman Nasional ke 5 di tahun 1970. Dan tentu saja, saya mengenal nama ini juga dari teman-teman penggila Korea yang selalu merekomendasi untuk ke Seoraksan, apalagi musim gugur, yang katanya merupakan salah satu waktu terbaik untuk mengunjungi Seoraksan, selain musim dingin yang bersalju. Seakan-akan ke Korea Selatan belum lengkap kalau belum ke Seoraksan 🙂

Fall Season around Seoraksan
Fall Season around Seoraksan

Saya memilih melakukan daytrip ke Taman Nasional Seoraksan dari Seoul karena sempitnya waktu di Korea. Konsekuensinya harus berangkat pagi dari Seoul agar bisa kembali pada malam harinya. Perjalanan dengan bus memakan waktu sekitar 3 jam.

Hari itu, lagi-lagi karena terlambat bangun, saya terbirit-birit pergi ke arah subway line 2 menuju Gangbyeon Exit 4, dan menuju terminal bus Dong Seoul yang berada di seberang stasion subway lalu membeli tiket bus ke Sokcho. Dan seperti biasa karena bus intercity dan bus express berbeda jadwal tapi tidak begitu banyak pengaruh lama perjalanannya, saya bebas memilih bus yang paling cepat berangkat menuju Sokcho.

Akhirnya, setelah 3 jam perjalanan yang nyaman termasuk melewati daerah DMZ yang menjadi wilayah perbatasan dengan Korea Utara, bus sampai juga ke terminal kota Sokcho. Saya berjalan melipir keluar terminal sekitar 100 meter lalu menunggu di halte bus. Tiga menit, lima menit, tujuh menit, Bus no 7 atau 7.1 belum datang juga. Saya menunggu sambil berjalan mondar mandir mencoba bertahan terhadap godaan wangi makanan yang menyeruak dari warung kecil di belakang halte di tengah udara belasan derajat yang membawa angin dingin.

Bus yang dinantikan akhirnya datang juga. Dengan pedenya seperti orang lokal, saya naik, membayar ongkos yang 1200 Won dan duduk mengamati. Saya yang baru pertama kali ke Sokcho merasa gembira bisa melihat-lihat pemandangan kota kecil di Timur laut Korea itu. Dan karena saya tidak mengetahui harus turun dimana, saya menyimak semua pemberitahuan nama-nama halte. Setelah meninggalkan kota Sokcho dan kelihatannya dekat sebuah taman, terdengar nama Seoraksan disebutkan, tanpa pikir panjang lagi, saya langsung turun!

Begitu menjejakkan kaki di tanah, ada perasaan aneh muncul. Lagi! Saya berjalan kaki dan tidak tampak kegiatan wisata. Tidak mau begitu saja menyerah, saya mengelilingi taman yang cukup menarik di dekat situ yang berhadapan langsung dengan pantai. Tetapi tidak ada petunjuk lagi, apalagi tulisan latin. Brrr… Mt. Sorak… Gunung bukan Pantai! Walau terasa kecut, saya tertawa menyadari ketololan sendiri telah turun di halte yang salah, lalu berjalan kaki kembali ke halte tadi dan setia menunggu. Satu menit, dua menit, tiga menit, sepuluh menit… Bus berikutnya tidak datang-datang sementara waktu berjalan terus. Akhirnya, mengingat terdesak waktu, saya hentikan taksi yang lewat dan melanjutkan perjalanan yang membuat isi dompet langsung bolong! Tetapi yang pasti saya tidak lagi tersesat dan sampai dengan cepat di gerbang Taman Nasional Seoraksan!

Seoraksan National Park view from Cable Car
Seoraksan National Park view from Cable Car

Setelah membayar tiket sebesar 2500 Won, saya berjalan menikmati taman yang cantik dengan nuansa musim gugur yang berwarna campuran hijau, kuning dan merah. Saya menuju stasion cable car yang akan membawa saya ke pegunungan. Harga tiket cable car ini sekitar 9000 Won, cukup mahal tetapi memang sangat layak dibeli.

Tiba-tiba saya mendengar bahasa Indonesia yang terdengar makin lama makin keras, disambung dengan gelegar tawa yang membahana, dan celotehan-celotehan atau teriakan yang cenderung memalukan seakan dunia milik mereka sendiri. Kedengarannya, tour guide yang bertugas melalui speaker Toa-nya cukup kewalahan menangani rombongannya. Dari tempat berdiri yang jaraknya ratusan meter dari mereka, saya bisa memastikan bahwa suara-suara itu datang dari rombongan turis Indonesia yang baru sampai dan juga menuju cable car. Saya tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali mempercepat langkah saya menuju cable car dan berdoa, semoga saya tidak dalam rombongan yang sama untuk ke atas. Entahlah, rasa tak nyaman seketika menyeruak keluar menyaksikan perilaku yang cenderung tak beradab.

Doa saya terjawab karena tak perlu lama mengantri untuk naik cable car yang bergerak ke atas dan meninggalkan rombongan itu di bawah. Kereta perlahan naik, dan semakin tinggi selaras dengan diperdengarkannya lagu-lagu yang bernada menyenangkan hati, mungkin supaya penumpangnya tidak gamang dan takut ketinggian menuju ke atas. Tapi bagi saya, memang ketinggiannya mantap!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dari Cable car yang semakin naik, pemandangan semakin indah, Taman Seoraksan dengan Patung Buddha yang besar tampak terlihat jelas dengan latar belakang pepohonan yang berwarna musim gugur. Kemudian, pemandangan pelan beralih menjadi bebatuan cadas dengan ukuran yang sangat besar. Pemandangan yang hanya ada di Seoraksan. Batu-batu cadas dengan ukuran raksasa itu seakan muncul dari rimbunnya pepohonan hijau yang menghiasi gunung. Konon, -walaupun saya tidak melihatnya langsung-, tumbuhan cinta abadi Edelweiss tumbuh diantara 1400 jenis tanaman yang ada di Taman Nasional ini.

Dari stasion atas cable car, saya menyaksikan kota Sokcho yang indah jauh di pesisir pantai. Namun pemandangan di sekitar stasion, hanya ada tanaman penuh ranting yang kehilangan daun. Sayup-sayup terdengar suara merdu pendeta-pendeta melagukan kitab suci. Pastilah datang dari vihara yang biasanya ada di pegunungan. Tadinya saya ingin mengunjungi vihara itu, tetapi waktu tidak mengijinkan. Lebih baik saya mendaki ke arah atas.

Selagi saya mengelilingi wilayah stasion cable car, rombongan turis asal Indonesia itu telah sampai dan telah menyebar kemana-mana, sebagian berada tak jauh dari saya. Mereka asik bicara satu sama lain dengan celotehan-celotehan penuh keributan seakan Seoraksan hanya milik mereka sendiri dan saya bisa mendengar serta memahami semuanya. Beberapa kali saya memergoki wisatawan negara lain menengok ke arah mereka, mungkin merasa terganggu. Saya menarik nafas miris karena bukan kali ini saja saya bertemu rombongan Indonesia seperti mereka, apakah karena berjumlah puluhan, karena berbanyakan, mereka seakan menjadi mayoritas dan bisa berbuat seenaknya, berbicara keras tanpa peduli ada orang lain yang juga ingin menikmati alam. Bukankah dari berbahasa mereka membawa nama Indonesia?

Tapi tak ingin terganggu oleh kehadiran mereka, saya melanjutkan mendaki menuju puncak Gwongeumseong melalui jalan setapak yang berbatu tetapi di sebagian tempat telah dibantu dengan tangga-tangga buatan berlapis karet, supaya tidak licin. Dua tiga kali saya menyusul rombongan perempuan cantik Indonesia yang bersepatu boot selutut dengan high heel serta wintercoat berbulu yang sedang beristirahat karena kehabisan nafas.  Hmm… saya menyayangkan high heel boot yang dipakainya untuk naik gunung. Bagus dan mahal, tetapi tidak tepat.

Bebatuan  terlihat dari Gwongeumseong, Seoraksan NP
Bebatuan terlihat dari Gwongeumseong, Seoraksan NP

Akhirnya sampai juga saya di bebatuan Seoraksan. Namun karena bukan pendaki gunung yang baik, saya merasa sudah senang berada di ketinggian tanpa harus mencapai puncaknya, lagi pula banyak sekali orang di tempat itu, termasuk rombongan dari Indonesia itu. Saya duduk dan menikmati alam selama waktu mengijinkan karena saya tidak bisa berlama-lama agar tak tertinggal transportasi  kembali ke Seoul. Waktu jugalah yang menentukan saya harus turun lagi.

Dalam perjalanan turun itu, ketika saya tengah mengambil foto pemandangan, tak sadar bibir saya berucap dalam bahasa Indonesia mengagumi alam lukisan Sang Pencipta, “…Indahnya…”

“Ya, memang indah….”, seseorang bicara dalam bahasa Indonesia dengan aksen Korea.

Saya terkejut sekali, karena sebelumnya tak ada orang di sekitar itu. Ternyata di hadapan saya berdiri seseorang membawa speaker Toa dan sepertinya dialah sang tour guide dari rombongan Indonesia itu.

“Dari Indonesia?”, pandangannya menyelidik dan menebak karena mungkin dia hafal anggota rombongannya.

Tidak bisa menghindar, lagi pula secara tidak sadar kepala saya mengangguk.

“Anda juga?”

“Saya asli Korea, tetapi pernah tinggal di Indonesia. Hmm… naik apa kesini?”

“Naik bus…”

“Bisa bahasa Korea?”

Saya menggeleng sambil menjawab “Tidak”

Dia sepertinya terkejut sekali, “Hah?? Sendiri…???”

Saya mengangguk dan memastikan, “Ya”

Sepertinya makin tergagap dia. “Hah?”

“Berani?”

Sambil tersenyum lebar, saya menjawab, “Buktinya saya sampai di sini, dan sekarang saya harus kembali lagi ke Sokcho supaya tidak terlambat sampai ke Seoul”

Sepertinya dia terpana. Tidak mau tahu apa yang ada dalam pikirannya, saya ber-kamsahamnida kepadanya atas percakapan singkat dalam Bahasa Indonesia lalu turun dengan cepat langsung ke stasion untuk mengejar cable car.

Sampai di bawah, saya berkejaran dengan matahari yang mulai meredup untuk mengambil foto patung Buddha yang sangat besar di dekat kuil Sinheungsa. Saya makin kehilangan waktu untuk mengabadikan taman nasional. Cahaya kurang, foto sudah semakin buram. Warna musim gugur sudah tak terkenali lagi. Waktunya pulang mengejar bus.

Dalam perjalanan pulang di bus saya tercenung. Ada rombongan Indonesia berperilaku tak menyenangkan di Korea dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Namun ada orang Korea menyapa saya ramah tentang Korea dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Ah, semua yang terjadi ini tidak ada yang kebetulan… pastilah ada alasan di balik itu.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Di Haeinsa Mahakarya Kayu Dijaga Berabad-Abad


Jika ada produk dari kayu yang bertahan selama hampir satu millenium, masih dalam kondisi baik, bahkan masih bisa berfungsi hingga sekarang, tentu saja satu diantaranya adalah Tripitaka Koreana, yaitu puluhan ribu bilah kayu pencetak Tripitaka, -kumpulan ajaran agama Buddha-, yang dituliskan dalam karakter China yang paling lengkap, paling tua dan tanpa kesalahan yang dimiliki dunia saat ini. Sebuah mahakarya, yang kini bukan saja milik Korea Selatan semata, tetapi juga telah menjadi milik dunia. Oleh karena itu UNESCO memasukkan bilah-bilah kayu pencetak Tripitaka Koreana dan Barbagai Literatur Keagamaan Buddha ke dalam Memory Of The World, sejak 3 Agustus 2007.

Bahkan jauh sebelumnya di tahun 1995 UNESCO telah mendaftarkan bangunan kayu sederhana yang oleh orang lokal disebut sebagai sebagai Janggyeong Panjeon, artinya bangunan penyimpan Tripitaka Koreana sebagai World Heritage Site. Bangunan kayu dengan strukturnya yang sangat unik ini menempati permukaan tanah yang paling tinggi dari kompleks Kuil Haeinsa yang berada di Gayasan National Park, Korea Selatan. Penempatan bangunan yang tidak biasa di kuil-kuil Buddha, karena lebih tinggi daripada bangunan utama kuil, sepertinya menandakan betapa pentingnya makna yang terkandung di dalamnya.

Dan memang seperti itulah rasanya ketika saya berdiri di depan tangga menuju Janggyeong Panjeon. Walaupun damai dan ketenangan terasa meresap di kuil Haeinsa, tetap saja jantung ini sedikit berdetak lebih banyak ketika kaki menapaki tangga curam menuju Janggyong Panjeon, pelataran tertinggi dari kuil Haeinsa, tempat penyimpanan Tripitaka Koreana. Berdetak lebih banyak karena akan menyaksikan sebuah keluarbiasaan yang telah diakui dunia.

Under The Gate of Janggyeong Panjeon
Under The Gate of Janggyeong Panjeon

Saya melangkah pelan menaiki tangga mengikuti langkah orang-orang yang berada di depan saya. Di puncak tangga, di bawah gerbang Janggyeong Panjeon, saya berdiri diam menutup mata sejenak. Menyadari bahwa pengamanan di level ini sangat tinggi, tidak boleh ada kamera dan semua yang berhubungan dengan api, saya menyiapkan diri menyerap semua pemandangan sekuat-kuatnya dengan mata saya. Selangkah di depan ini saya bersama dunia menjadi saksi akan mahakarya kayu yang disimpan hampir satu millenium di bangunan kayu sangat sederhana.

Namun mata ini seakan tak percaya akan pemandangan yang ada di hadapan. Seluruh bangunan di Janggyeong Panjeon ini bisa dikatakan sangat sederhana dengan unsur terbanyak dari kayu tanpa hiasan. Semua jendela dan pintu berkisi-kisi, juga dari kayu. Tetapi rupanya inilah kelebihannya yang secara akurat memperhitungkan semua segi untuk mempertahankan asset berharga bilah-bilah cetakan kayu yang disimpannya. Lokasi kuil, tata letak, struktur bangunan, jendela dan pintu, semuanya telah dihitung sejak dari awal pembangunannya untuk mengatur ventilasi, suhu, kelembaban dan intensitas cahaya sehingga dapat menjaga keutuhan Tripitaka Koreana selama berabad-abad.

Karena tidak diperkenankan untuk mengambil foto dan berhenti saat melewati sisi berpintu yang memperlihatkan rak-rak penyimpan bilah-bilah kayu cetakan, saya hanya menyerap keluarbiasaan ini dengan segala kemampuan mata yang dimiliki.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pelataran Janggyeong Panjeon terdiri dari empat bangunan yang menyerupai persegi panjang. Bangunan di utara, Beopbojeon (Ruang Dharma) dan Bangunan di selatan, Sudarajang (Ruang Sutra) sejajar membentuk sisi yang lebih panjang karena berfungsi sebagai tempat penyimpanan ke delapan puluh ribu cetakan kayu tersebut. Sedangkan dua ruang kecil di sebelah barat dan timur merupakan tempat penyimpanan ajaran-ajaran Buddha yang datang belakangan.

Petugas-petugas jaga ternyata berbaik hati kepada pengunjung yang ada sehingga bisa ‘mencuri-curi’ foto saat berada pada halaman tengah Janggyeong Panjeon. Tak mau melepaskan kesempatan itu, saya mengambil kamera saku dan mengambil beberapa foto dari sudut yang berbeda. Tetapi tetap tidak bisa mengambil deretan tempat simpanan bilah-bilah kayu cetakan tanpa diiringi teriakan teguran dari petugas jaga.

Can you see the printing woodblocks inside?
Can you see the printing woodblocks inside?

Dimana-mana terdapat alat pemadam api yang jaraknya relatif dekat dari tiap-tiap petugas jaga.  Ya, memang api merupakan musuh terbesar asset dunia ini. Dan walaupun dalam sejarahnya kompleks Kuil Haeinsa pernah terbakar berkali-kali karena perang dan serangan musuh, namun api tidak pernah merambat naik ke Janggyeong Panjeon.  Sepertinya para dewa pun menjaganya dengan berbagai cara.

Walaupun seluruh pengunjung tidak dapat berinteraksi langsung dengan bilah-bilah kayu Tripitaka Koreana yang disimpan berabad-abad yang hasil cetakannya tersebar ke seluruh penjuru negeri itu, rasa ingin tahu pengunjung bisa terpuaskan di jalan keluar dari Janggyeong Panjeon. Di situ terpajang contoh bilah kayu cetakan Tripitaka Koreana beserta segala informasinya.

A sample of the Printing Woodblocks - Can you see the image?
A sample of the Printing Woodblocks – Can you see the image?

Sungguh saya terkagum-kagum dengan pengetahuan orang Korea yang telah membuatnya. Sejarah mengisahkan bahwa Tripitaka Koreana yang asli buatan tahun 1087 musnah terbakar saat penyerangan kekaisaran Mongol tahun 1232, lalu Kaisar Gojong memerintahkan untuk pembuatannya kembali.

Konon, kayu yang digunakan untuk Tripitaka Koreana datang dari Daesa-ri, wilayah Namhae-gun di selatan semenanjung Korea karena pasang surut air lautnya sangat tinggi, sehingga mudah untuk mengirim dan merendam kayu. Kayu-kayu yang telah lama terendam melewati panas dan dinginnya air laut, menjadi lebih mudah diukir dan lebih awet terhadap serangan serangga.

Sambil menunggu alam merendam kayu, ada banyak pekerjaan pendahuluan yang harus dikerjakan oleh para pendeta. Mereka harus menuliskan 23 baris tulisan dengan 14 karakter per barisnya pada sehelai kertas dengan sangat cermat dan akurat. Tidak itu saja, para pendeta yang terlibat dalam penulisan ini harus rajin berlatih berhari-hari agar konsistensi gaya penulisan dari waktu ke waktu tetap terjaga.

Dan setelah sehelai kertas siap serta kayu telah tersedia, dimulailah pengerjaan pengukiran. Tentu saja, agar karakter dicetak dalam arah yang benar, sisi kertas yang sama harus ditempelkan ke bilah kayu kemudian dilapiskan minyak tumbuhan tertentu ke kertas sehingga hurufnya langsung terlihat jelas. Setelah itu kayu baru dapat diukir pada kedua belah sisi bilah kayu.

Lalu bagaimanakah caranya sehingga Tripitaka Koreana tersusun tanpa bisa ditelusuri jejak kesalahan yang terjadi? Rupanya setelah pengukiran selesai, langsung dilakukan proses validasi hasilnya dengan tulisan pada kertas original. Karakter yang salah dipotong dan dibetulkan, sementara karakter yang sudah benar, ternyata diukir ulang pada sepotong kayu terpisah dan ditempelkan kembali. Proses ini sangat rapi dan cermat, sehingga tidak pernah dapat ditelusuri proses koreksi yang sebenarnya yang pernah terjadi. Bagaimana mungkin membandingkan jika keduanya sama-sama dipotong dan ditempel ulang?

Untuk menghasilkan cetakan diperlukan lembar-lembar kertas dengan kualitas baik. Kemudian ujung bilah cetakan kayu dilumuri dengan tinta lalu selembar kertas ditempelkan langsung ke cetakan tersebut. Selanjutnya kertas tadi diangkat secara hati-hati dengan alat terbuat dari rambut yang dicelupkan pada lilin. Luar biasa sekali prosesnya. Dan konon karena dicetak pada kertas berkualitas sangat baik yang diproduksi selama periode Dinasti Goryeo itulah, menjadikan Tripitaka Koreana terkenal hingga ke seluruh negeri, hingga ke negeri-negeri jauh… hingga sekarang.

Dan waktu berjalan terus…

Sambil melangkah ke jalan keluar, saya masih membawa serta kekaguman terhadap bilah-bilah cetakan kayu yang bertahan melawan jaman. Saya berbalik badan menatap kembali ke empat bangunan luar biasa yang telah berabad-abad menyimpan harta milik dunia itu. Hati saya kembali terharu, bila semua negara berupaya keras menjaga harta dunia yang telah dibuat oleh para pendahulu kita, alangkah semakin kayanya dunia ini.

The Wooden "Scientific" Building
The Wooden “Scientific” Building