Api Perdamaian Di Tengah Hujan


Hiroshima Peace Memorial Park
Hiroshima Peace Memorial Park – Do you see the eternal peace flame?

Saya tidak bisa melupakan momen itu, momen melihat api perdamaian di tengah hujan lebat saat berteduh di bawah Sky Bridge Museum Perdamaian Hiroshima. Antara keringat, -karena berlari dari Gedung Atomic Bomb hingga ke Sky Bridge-, dan basah karena kehujanan serta air tampias membuat saya agak kedinginan di tengah musim panas itu. Angin berhembus cukup kuat di bawah Sky Bridge, tapi saya tetap terpaku pada apa yang saya lihat. Api Perdamaian yang tetap menyala meskipun di tengah hujan lebat, dan bisa terlihat meskipun saya berjarak cukup jauh dari api perdamaian itu.

Hujan membuat saya berpikir lebih dalam di tempat saya berdiri, yang 71 tahun lalu rata dengan tanah karena di bom atom. Disini, di tempat saya berdiri, merupakan ground-zero, tempat yang semuanya pernah musnah dalam sekejap, apalagi manusia yang hidup di dalamnya. Namun dari Hiroshima dan Nagasaki, dunia belajar mengatasi kecintaan manusia kepada kekuasaan, Seperti kata Jimi Hendrix,

When the power of love overcomes the love of power, the world will know peace

Di tempat saya berdiri, empat unsur kehidupan seakan sedang berlomba menunjukkan diri di panggung. Udara yang menyediakan ruangnya, Tanah yang menyediakan tempat berpijaknya, Api yang menyala serta Air hujan yang turun dari langit. Di tempat yang berpuluh-puluh tahun lalu hancur luluh lantak akibat keserakahan manusia dan dunia perlu waktu yang sangat lama (hingga kini masih) untuk bisa mengatasinya. Dan saya terperangah saat mencoba memahami maknanya

Api dan Air, dua elemen kehidupan yang sepertinya berpunggungan. Seperti diri dan bayangan, dua bagian dari yang satu, tapi tetap terpisahkan. Tetapi, kedua unsur itu juga merupakan unsur dinamika, unsur perubahan yang selalu dinamis. Dan bersama elemen lainnya, membuat kehidupan itu bergulir dengan segala bentuk dinamikanya.

Saya terpesona saat Semesta menghamparkan pembelajaran di depan mata. Berpuluh tahun silam, perdamaian diluluhlantakan di ground-zero ini oleh manusia-manusia haus kuasa, memenangkan api dengan menjatuhkan bom atom yang membakar, dan mereka yang sempat tersisa mencoba hidup mencari air yang tinggal sedikit di tengah udara yang tak lagi bersih. Dan bumi menangis.

Dan 71 tahun kemudian, saat saya berdiri di ground-zero itu, Hujan lebat turun dari langit, Alam tak menghendaki api abadi perdamaian itu meredup dan mati, Api itu tetap menyala, sebagai simbol, dua yang satu, yang tidak memenangkan satu unsur terhadap yang lain.

Api yang menyala terus itu simbol perdamaian, salah satu elemen hidup yang sepenting empat unsur lain dalam kehidupan, -Udara, Air, Api, Tanah-, yang seharusnya terus menyala dalam setiap jiwa manusia. Sayangnya, perdamaian merupakan unsur yang paling sering dan paling mudah dirusak manusia.

Peace is one of life’s most vital element that is as important as air, water, fire or earth. Unfortunately, it is the most undermined, but yet inevitable (Ayeni Solomon Ayodele)

Saat itu, sepertinya saya tak ingin hujan berhenti. Rasanya terlalu indah menyaksikan pemandangan api yang terus menyala di tengah hujan lebat. Bagi saya, saat itu sangat menggetarkan jiwa. Bisa jadi karena tempatnya, atau karena momentumnya.

Lalu, seakan ditunaikan, keinginan saya agar hujan tak berhenti langsung diwujudkan dalam penggambaran mini. Di kaki air hujan yang tak tertampung drainase mulai mengalir membasahi area dan membuat genangan kecil. Saya terperanjat, menyadari kesalahan berkeinginan, Air, seperti juga api, bila tak terkendali dalam keseimbangan, bisa sangat merusak.

Dan dalam banyak hal, seringkali manusia penyebabnya.



Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina, A Rhyme in My Heart dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-10 ini bertemakan Hujan agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Red Torii In Tokyo


Siapa yang tidak kenal dengan Fushimi Inari Taisha di Kyoto yang mendunia gara-gara rangkaian ratusan torii merah memikat dan kontras yang didirikan begitu dekat satu sama lain hingga membentuk sebuah terowongan torii?

Nah, saya ini termasuk orang yang sangat suka dengan torii yang warnanya eye-catching itu atau bentuk torii-nya yang tidak biasa. Di gerbang utama Kuil Fushimi Inari Taisha di Kyoto, saya disambut dengan torii merah yang sangat besar dan tentunya di bagian belakang merupakan tempat rangkaian ratusan hingga ribuan torii yang membentuk sebuah terowongan  hingga ke atas bukit.

Tetapi tidak selamanya bisa ke Kyoto, tempat Kuil Fushimi Inari Taisha yang terkenal itu. Beruntung apabila kita mendarat di Osaka, karena jarak Osaka – Kyoto tidak terlalu jauh. Bagaimana jika kita hanya bisa berkelana di Tokyo dan sekitarnya? Dan bukan ke Kyoto yang berjarak lebih dari 500 km dari Tokyo (dan mahal juga kalau mau memaksa pergi ke kota itu, naik shinkansen 2,5 jam saja perlu mengeluarkan uang lebih dari ¥13,000 sekali jalan, kalau naik bus bisa semalaman 10 jam dari ¥4.000 – ¥12,000, apalagi kalau naik pesawat, mau tidak mau harus mendarat di Osaka sehingga perlu mengeluarkan uang lagi untuk ke Kyoto). Lalu apakah di kuil-kuil Tokyo tidak ada rangkaian torii yang membentuk terowongan? Dan karena alasan itulah, akhirnya saya mencari informasi. Dan ketemu…

Di Tokyo, saya menemukan rangkaian torii yang membentuk terowongan itu di Kuil Hie-Jinja di daerah Akasaka. Walaupun tidak sepanjang dan sebanyak torii yang ada di Fushimi Inari Taisha di Kyoto, minimal tempat ini bisa menghibur hati untuk berada di bawah torii merah 🙂

Dari wikipedia, saya juga baru tahu bahwa torii secara harafiah berarti rumah burung (kalau begitu, saya burung dong kalau berada di bawahnya? 😀 )  Namun sesungguhnya, torii adalah gerbang tradisional Jepang yang umum terlihat di Kuil Shinto, -tempat ibadah salah satu agama yang banyak penganutnya di Jepang-, yang merupakan batas antara wilayah umum yang tidak suci dengan wilayah suci kuil.

Nah, dengan informasi itu saya juga baru menyadari, bahwa kalau kita melihat sebuah Torii, -terbuat dari beton atau kayu-, hal itu berarti kita mendekati suatu Kuil Shinto dan bukan Kuil Buddha. Saya jadi mengingat-ingat apakah saya melalui torii saat mengunjungi kuil-kuil Buddha di Jepang. Akhirnya saya memperkirakan, semua itu mungkin hanya penamaan atau bentuknya saja, namun fungsi harusnya tetap sama, sebagai pembatas atau gerbang antara wilayah umum dan wilayah suci. Bukankah di setiap tempat ibadah ada pembatas itu?

Tetapi ternyata torii tidak hanya sebagai pembatas, karena setahu saya, tidak sedikit torii didirikan di kuil-kuil sebagai persembahan rasa syukur dan terima kasih oleh orang-orang atau perusahaan yang sukses. Dan serangkaian torii itu berwarna merah keoranyean itu kini menjadi daya tarik tersendiri di kuil-kuil  bagi para wisatawan, termasuk saya.

IMG_1106
Torii in Hie Jinja Shrine

Aslinya torii terbuat dari kayu dan diberi cat berwarna merah keoranyean (vermilion), kecuali bagian atas (dikenal dengan sebutan kasagi) dan bagian kaki (dikenal dengan sebutan nemaki) dicat warna hitam, walaupun tidak semua torii memiliki bagian atas (kasagi) yang dicat hitam itu.

Dan warna merah pada torii atau dikenal dengan Aka, -walaupun tidak selalu sama tingkatan merahnya-, memiliki tujuan yang sama di semua kuil, yakni sebagai perlindungan dari semua bentuk kejahatan dan musibah. Selain itu warna merah dipercaya menambah kekuatan dari tokoh yang dipuja di kuil tersebut.

Seperti yang sudah saya sebutkan diatas, saya menemukan rangkaian torii yang membentuk terowongan di kuil Hie Jinja di daerah Akasaka Tokyo, diantara gedung-gedung tinggi. (Sebenarnya ada lagi di Nezu Shrine tak jauh dari Stasiun Subway Nezu. Atau di Kuil Anamori Inari di kota Haneda).

Untuk mencapai Kuil Hie Jinja, sebenarnya tersedia banyak akses, tetapi saya lebih suka turun di Stasiun Akasaka-mitsuke (pakai jalur kereta Ginza G5 atau jalur kereta Marunouchi M11), karena keluar dari stasiun tinggal menyusuri jalan besar hingga mencapai torii batu yang sangat besar lalu berjalan sedikit ke kiri kemudian naik tangga. Jadi saya memasuki wilayah kuil melalui pintu belakang dan dari situ lebih dekat ke rangkaian torii yang menyerupai terowongan itu. Jadi jangan kecil hati kalau hanya bisa berkunjung ke Tokyo namun punya keinginan untuk foto di rangkaian torii.

Dan kalau beruntung bisa juga melihat photo sessions dengan pengantin disini juga lho… atau mau buat photo prewed disini? Silakan…. 😀


Sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina & saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-4 ini bertemakan Merah, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Semangat Bushido dan Isagiyosa 47 Ronin di Sengakuji


Hanya dua hari setelah Papa berpulang, dengan berbagai rasa, -antara getir duka kehilangan dan rasa harus bertahan untuk menghidupkan cintanya-, saya menjejak di Sengakuji, sebuah kawasan di Tokyo Selatan yang terkenal sebagai tempat pemakaman 47 Ronin (Masterless Samurai) yang kisahnya telah melegenda.

Sejak pertama kali ke Jepang, saya ingin sekali mengunjungi Sengakuji, tetapi entah kenapa selalu gagal. Dan kali ini, dengan situasi hati yang tidak karuan, saya justru mendapat kesempatan mengunjunginya. Bisa jadi Semesta memang membukakan kesempatan saat ini, tepat sesuai dengan situasi hati.

Begitu memasuki halaman Kuil Sengakuji, saya mendapat hadiah pemandangan pohon berdaun merah khas musim gugur yang sudah jarang terlihat di akhir Desember. Hati terasa menghangat, alam pun serasa mengetahui hati yang berduka dan ingin menghibur dengan menyuguhkan warna musim gugur kesukaan saya diantara pohon-pohon yang tinggal ranting. Sambutan alam yang terasa begitu menenteramkan, begitu luar biasa berada dalam harmoni alam.

Tak seperti biasanya, – karena kuil saya skip-, kali ini saya langsung menuju area pemakaman 47 Ronin yang terletak di tenggara kuil. Sementara kaki melangkah, benak saya seperti memutar kembali film yang dibintangi Keanu Reeves, 47 Ronin, sebuah film yang mengadopsi cerita ‘Insiden Chushingura’ ini yang dipadu paksa dengan fiksi ajaib yang kontras dengan semangat orisinalnya. Meskipun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa film ini juga membantu mengenalkan Sengakuji ke sudut-sudut dunia.

Sesungguhnya Sengakuji, -dengan ‘Insiden Chushingura’ yang membuat terkenal 47 Ronin-, menjadi tempat mengenang berkobarnya Semangat Bushido, yang diteladani hingga kini oleh warga Jepang. Bushido merupakan kode etik atau nilai-nilai moral seorang Samurai Jepang yang mencakup kesederhanaan, kesetiaan, keahlian seni bela diri dan kehormatan.

Kisah Insiden Chushingura

Di tempat ini, di Sengakuji, menjadi saksi nilai-nilai Bushido dari 47 Ronin sebagai Samurai Tak Bertuan (Masterless Samurai) dijunjung tinggi.

Kisahnya berawal dari perintah Shogun Tokugawa ke-5 Tsunayoshi kepada Asano Naganori bergelar Takuminokami Naganori, -seorang daimyo (penguasa) muda wilayah Ako-, untuk menyambut Kira Yoshinaka bergelar Kozukenosuke di Istana Edo tahun 1701. Mungkin merasa lebih senior, -dua kali usianya dari Asano-, dan menganggap penting posisinya sebagai utusan resmi Shogun, Kira Yoshinaka berkali-kali memperlakukan Asano tidak dengan hormat dan merendahkan kehormatan daimyo muda itu. Bisa jadi Asano tidak terima direndahkan dan dihina berulang kali serta mungkin juga tak terbiasa protokol resmi di Istana Edo, sehingga Daimyo muda itu menghunus pedangnya dan melukai Kira walaupun tak sampai menewaskan. Tindakan seperti itu sangat dilarang di dalam Istana Edo pada waktu itu. Akibatnya jelas, Asano ditangkap dan dihukum.

DSC06764
The grave of Asano Naganori

Atas kesalahan Asano, -meskipun tanpa investigasi yang tepat-, serta untuk mengingat kehormatannya sebagai seorang Samurai, Shogun Tokugawa Tsunayoshi menghukum Asano untuk melakukan Seppuku (hara-kiri, sebuah ritual ksatria untuk mengakhiri hidup secara terhormat) di taman, di luar kediaman Tamura Ukyodayu di wilayah Shinbashi. Sesungguhnya saat itu, melakukan seppuku di luar rumah hanya untuk penjahat dan sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang daimyo seperti Asano. Lebih jauh lagi, tanah Asano di Ako disita dan garis keluarganya diturunkan dari jajaran kebangsawanan.

Kemudian masih ditambah dengan adanya keputusan Shogun yang menyatakan klan Ako kehilangan hak untuk membangun kembali struktur kelompoknya. Sungguh kekecewaan memenuhi para samurai pengikut Asano yang kini menjadi Ronin (Samurai Tak Bertuan) setelah Asano melakukan seppuku. Rasa ketidakadilan ini menyebar ke rakyat yang diam-diam mendukung para Ronin. Dukungan tidak bisa terbuka  karena Shogun Tsunayoshi ditakuti atas kerasnya hukuman.

Dan di sisi lain, Kira Yoshinaka, -yang melakukan penghinaan terus menerus terhadap Asano dan penghinaan saat itu juga merupakan tindakan yang dilarang di Istana Edo-, tidak mendapat sanksi apapun dari Shogun. Keputusan Shogun tidak memberi sanksi kepada Kira disinyalir dipengaruhi oleh Yanagisawa Yoshiyasu, salah satu pembantu dekat Shogun yang berkuasa di belakang layar dan memiliki hubungan baik dengan Kira Yoshinaka. Bahkan, satu-satunya hukuman bagi Kira, -jika itu sebuah hukuman-, adalah diperbolehkan pensiun dini. Kemudian ia membangun kediaman baru yang luas di Honjo-Matsuzaka, dekat Istana Edo.

Waktu berjalan terus… Ke-47 Ronin yang kehilangan Asano, tetap menjalani hidup sesuai Bushido, terus menjiwainya, -sederhana, santun menjaga kehormatan, cermat dengan keahlian dan setia-. Dipimpin oleh mantan pemimpin kelompoknya, Oishi Kuranosuke, mereka merencanakan melakukan tindakan balasan terhadap apa yang dilakukan Kira kepada Asano. Berbulan-bulan mereka mengumpulkan informasi mengenai Kira, kediamannya yang berupa benteng, juga menyamar berbagai profesi dan saling bertemu untuk bertukar informasi.

DSC06770
The grave of Oishi Kuranosuke

Lalu tanggal 14 Desember 1702 di Edo yang tertutup salju, setahun setelah kematian Asano, junjungan mereka, terjadi sebuah peristiwa yang meletupkan esensi jiwa Samurai.

Para Ronin dari Ako itu berkumpul dekat kediaman Kira dan memberitahukan rencana penyerangan itu ke Tsuchiya Chikara, -tetangga Kira-, untuk membalaskan tindakan atas Asano dan memohon tidak mencampuri penyerangan ini. Tsuchiya memahami dan menyaksikan penyerangan yang berlangsung 2 jam dan selesai sebelum fajar. Seluruh Ronin selamat dan Kira terbunuh dengan kepala terpenggal, dengan belasan lainnya dari pihak Kira tewas serta puluhan lainnya luka-luka.

Dari rumah Kira, para Ronin berbaris menuju Kuil Sengakuji, tempat Asano dimakamkan dan membawa kepala Kira sebagai persembahan kesetiaan mereka kepada Asano dan pengembalian kehormatan Asano, yang dahulu mengalami penghinaan. Setelah upacara penghormatan di makam Asano di Sengakuji, para Ronin menyerahkan diri secara sukarela dan tertib kepada otoritas Shogun. Berita itu cepat tersebar ke seluruh Edo, termasuk Shogun Tsunayoshi sendiri, yang memuji kesetiaan mereka kepada Asano Naganori.

Meskipun rakyat mendukung untuk tujuan para Ronin serta mendapat simpati dari Shogun, bagaimanapun hukum harus ditegakkan. Sambil menunggu keputusan, para Ronin menjadi tahanan rumah dan ditempatkan di empat kediaman daimyo di luar Istana, yaitu di kediaman Hosokawa Tsunatoshi (dari Kumamoto), di kediaman Matsudaira Sadanao (dari Matsuyama), di kediaman Mori Tsunamoto (dari Choshu) dan di kediaman Mizuno Tadayuki (dari Okazaki).

Sementara di Istana, melalui pertimbangan cermat oleh pejabat senior yang juga mendengar dari Tsuchiya Chikara, -tetangga Kira-, disimpulkan serangan itu ditafsirkan sebagai tindakan berbasis kebenaran, namun sayangnya beralasan pribadi, tanpa persetujuan Shogun. Dengan demikian, untuk tindakan demi kebenaran itu, Shogun memerintahkan mereka melakukan seppuku – tindakan ritual mengakhiri hidup secara ksatria dan terhormat.

Akhirnya, pada tanggal 4 Februari 1703, hampir dua tahun setelah insiden awal, para Ronin serentak mengakhiri hidup mereka masing-masing di kediaman tempat mereka ditampung. Oishi Kuranosuke berusia 45 tahun, sementara putranya, Chikara, yang termuda, berusia 16 tahun. Ronin tertua adalah Horibe Yahei, berusia 77. Tubuh-tubuh mereka diabadikan di samping makam Asano Naganori di halaman Kuil Sengakuji. Dan peristiwa ini diingat sebagai insiden paling sensasional dalam Era Genroku (1688-1704), salah satu masa paling berbudaya di Zaman Edo (1603-1867).

Hukum dan Jalan Kebenaran

Rupanya Instruksi Shogun kepada Ronin untuk menjalankan Seppuku banyak dipengaruhi oleh Ogyu Sorai, seorang filsuf Jepang terkenal saat itu, yang membuat saya menerima sebuah pemahaman di Sengakuji. Bahwa meskipun 47 Ronin telah memilih Jalan Kebenaran dalam jiwanya, bagaimana pun hukum harus berlaku terhadap mereka, -yang tidak berada di atas hukum-, karena hukum merupakan tolok ukur untuk seluruh negeri.

Ada sebuah kalimat yang begitu menyentuh rasa dalam menentukan awal pemikiran tentang hukuman ini dari Ogyu Sorai,

A man controls his heart with decorum and his actions with righteousness

Seorang pria mengendalikan hatinya dengan kesantunan dan tindakannya dengan kebenaran

Para Samurai yang terkait dengan tindakan balas ini menganggap Kira sebagai musuh mereka karena Asano Naganori dihukum karena tindakan tidak terpujinya di Istana Edo dan mereka sengaja merencanakan tindakan pembalasan tanpa persetujuan dari Istana. Dalam hal ini Istana tidak dapat menoleransi tindakan mereka yang berseberangan dengan hukum.

Jika seluruh samurai dinyatakan bersalah dan dihukum untuk melakukan seppuku, -sesuai tradisi samurai-, maka tuntutan keluarga Uesugi (isteri dari Kira) akan terpenuhi dan kehormatan serta kesetiaan para samurai tetap terjaga.

Hal ini harus dilihat sebagai prinsip umum. Jika prinsip umum dikalahkan oleh pengecualian khusus, maka tidak akan ada lagi rasa hormat terhadap hukum di negara ini.

DSC06771
Another angle of the graves of the loyal retainers

Isagiyosa

Sambil melangkah menyusuri satu per satu tonggak nisan mereka, saya mengingat-ingat salah satu aspek yang dikagumi dari para Ronin dari Ako ini. Karena mereka menunjukkan isagiyosa, sebuah kebajikan yang bermakna mampu menyambut kematian dengan ketenangan yang mendalam dan penuh kebanggaan, untuk sebuah akhir yang baik.

Serangan ke rumah Kira itu memang direncanakan cermat, penuh perhitungan, tidak mendadak dan para Ronin tahu bahwa mereka menghadapi kematian. Ketika waktu mereka tiba, mereka melakukannya dengan anggun dengan bangga, sebagai samurai. Mengetahui ini, hati saya langsung meluruh saat itu, mengingat ayah yang baru dua hari sebelumnya berpulang.

Semesta membuat saya yang saat itu sedang berduka untuk menjejak Sengakuji, dengan aliran kisahnya yang begitu mengagumkan, tentang kesetiaan pada kebenaran, keadilan, tentang kesederhanaan dan membela kehormatan serta mengakhiri semuanya dengan ketenangan yang mendalam dan kebanggaan. Fulfilled. Penuh, lengkap. Akhir yang baik… dan saya menitikkan airmata mengingat ayah saya… Semoga ayah mengakhirinya dengan ketenangan dan fulfilled, dengan baik… Seperti para Samurai di Sengakuji ini.

Dan saya terharu lagi saat menuliskan paragraf ini, lagi-lagi karena mengingat ayah saya (maaf ya). Ke-47 Ronin itu serupa bunga Sakura, yang di Jepang menjadi simbol Isagiyosa, sebuah kebajikan yang indah, -anggun namun fana-, sesaat mekar dalam waktunya lalu gugur sesuai takdirnya. Ke-47 Ronin menunjukkan Isagiyosa, mereka merangkul kefanaan dunia. Mereka yang melewati gerbang kematian dengan ketenangan dan kebanggaan atas kebenaran yang diyakininya. Manusia yang menyelesaikan tugasnya dan mengakhirinya dengan baik.

Sungguh Yang Maha Kuasa mempunyai cara yang amat indah menjelaskan berpulangnya ayah saya dan mengapa saya berada disini, di Sengakuji. RencanaNya selalu indah, selalu tepat pada waktunya.

DSC06769
The graves of Loyal Retainers

*****

Sejak kejadian tiga abad lalu hingga kini, berbagai drama populer dan Kabuki dibuat dengan tema mengenai Insiden Chushingura yang menyentuh hati ini. Dan setiap 14 Desember di Sengakuji selalu diadakan 47 Ronin Ako Festival.

Untuk mengakses Sengakuji Temple: Gunakan Jalur Subway Asakusa hingga Stasiun Sengakuji. Dari Stasiun tinggal jalan kaki sekitar 5 menit menanjak landai.

~~~~~~~

Sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina & saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-4 ini bertemakan Semangat, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

What Do You Think About Kyoto Station?


Pertama kali menginjakkan kaki di Kyoto, -setelah sekitar 2,5 jam naik Shinkansen dari Yokohama-, saya benar-benar dibuat terpesona akan kemegahan stasiun di kota yang dulu pernah menjadi ibukota resmi kekaisaran Edo. Awalnya terbayang sesampainya di Kyoto saya akan melihat gedung penuh budaya tradisional Jepang, namun kenyataannya adalah gedung megah multi-level yang menggunakan struktur baja setinggi 60 meter dengan gayanya yang ultra-modern. Asli keren!

Begitu turun dari kereta peluru Shinkansen itu, saya berbaur dengan begitu banyak orang pengguna stasiun kereta yang katanya terbesar nomor 2 setelah Nagoya (Bahkan Tokyo saja kalah, padahal Tokyo Station itu rasanya besaaaarr sekali!) Bahkan tak hanya stasiun, di gedung ini juga terintegrasi hotel, restoran, toko-toko, tempat hiburan, panggung dan banyak fasilitas lain untuk memenuhi kebutuhan pengunjung.

p1030176
Inside Kyoto Station

Dan ternyata sejarah stasiun ini menarik juga. Gedung stasiun kereta pertama kali dibangun tahun 1877 menggunakan bata merah (saat itu penggunaan bata merah merupakan bahan paling modern) dan berlokasi agak ke Utara dari lokasi sekarang. Bahkan Kaisar Meiji sendiri hadir dalam pembukaan stasiun pertama itu. Hebat ya? Lalu karena semakin banyak orang yang memanfaatkan stasiun, maka stasiun kedua dibangun pada tahun 1914 bertepatan dengan upacara penobatan Kaisar Taisho. Menempati lokasi di gedung saat ini, stasiun kedua itu dibangun menggunakan kayu pohon cemara dengan gaya Renaissance yang menawan dan menjadi kebanggaan perkeretaapian nasional Jepang, sementara stasiun pertama diubah menjadi alun-alun publik. Sayangnya akibat terbakar habis di tahun 1950, stasiun Kyoto dibangun kembali secara terburu-buru dengan menggunakan beton agar fungsinya bisa berlanjut. Baru pada tahun 1990-an untuk memperingati 1200 tahun berdirinya kota Kyoto, setelah musyawarah berkepanjangan selama dua puluh tahun, diadakan kompetisi pembangunan baru dengan melibatkan tujuh arsitek kelas dunia. Akhirnya Hiroshi Hara yang memenangkan kompetisi, dengan menggunakan struktur kaca dan baja yang sangat futuristik. Disain itu mendapat kritikan keras dari masyarakat setempat karena katanya, merusak pemandangan Kyoto sebagai kota tradisional. Tapi bangunan 15 lantai itu selesai juga dalam waktu tiga tahun lebih dan dibuka pada tahun 1997. Walau hingga kini masih menuai kritik, tapi perhatikan saja, banyak wajah yang terkagum-kagum, termasuk saya, melihat kemegahan futuristik Stasiun Kyoto.

Dalam menjelajah Stasiun Kyoto, sambil menunggu jadwal kereta, saya sempat menyaksikan pertunjukan musik Hawaii-an yang mengalun, lengkap dengan ibu-ibu yang tidak muda lagi, menyanyi sambil berlenggak-lenggok. Saya benar-benar terhanyut mendengar musiknya. Selain itu , di lantai paling atas, -The Sky Garden-, kita bisa melihat seantero kota Kyoto. Tapi perlu diingat ya, arsitektur stasiun ini dibuat terbuka sehingga dari ketinggian lantai-lantai atas, kita bisa melihat langsung kesibukan di lantai-lantai bawahnya secara langsung. Bagi yang punya phobia ketinggian, be aware ya!

p1030229
Hawaiian Music… Alohaaa…
img_8229
Kyoto Station from top

Orientasi Arah di Stasiun Kyoto

Untuk mudahnya, stasiun ini bisa dimasuki dari arah Utara dan Selatan. Pintu masuk utama berada di sisi Utara, yang langsung berhadapan dengan stasiun bus dan menara Kyoto (Jadikan menara ini sebagai pegangan agar tidak mudah tersesat). Pintu Utara ini dikenal sebagai Gerbang Chuo atau sering juga disebut Sisi Karasuma (karena jauh di Utaranya terdapat stasiun Subway Karasuma, yang merupakan stasiun interchange untuk kedua jalur subway). Sedangkan sisi selatannya disebut Sisi Hachijo, sesuai nama jalan di depannya, disini terdapat hotel dan mal. Di sisi Selatan ini merupakan peron Shinkansen.

Nah jika masuk dari Pintu Utara mau ke peron Shinkansen yang ada di Selatan, naiklah ke lantai 2 bagian Barat stasiun. Disini ada jalur pejalan kaki yang membentang dari Utara hingga Selatan, melewati pertokoan Isetan, Gerbang Barat untuk Kereta JR dan akhirnya Peron Shinkansen di Selatan (sebenarnya tenggara sih 🙂 ) atau di sebelah kiri dari tempat jalan kaki.

Cara lain, dengan melalui jalur bawah tanah (basement) yang terletak di bagian Timur stasiun dan membentang dari Utara ke Selatan juga, serta menghubungkan ke pintu-pintu masuk JR Lines, Shinkansen maupun Subway. Di Bagian Utara basement terdapat pusat perbelanjaan Porta yang memungkinkan untuk muncul di Stasiun Bus atau bahkan ke Subway.

Jangan takut, semua petunjuk nomor peron terlihat jelas, baik dalam bahasa Inggeris maupun bahasa Jepang (jika bisa baca tulisan Jepang ya)

img_8227
Sky Garden Kyoto Station

Jalur Kereta JR

Bagi pemegang JR Pass untuk pergi ke daerah wisata dari Kyoto, bisanya mengakses kereta-kereta JR melalui nomor peron di bawah ini (karena gratis kan..)

  • Peron 0 untuk kereta Thunderbird Limited Express di Jalur Hokuriku menuju Kanazawa & Toyama (untuk menuju kawasan wisata Shirakawago, Alpine Route dan lain-lain).
  • Peron 4 dan 5: untuk kereta JR Kyoto Line menuju Osaka atau Himeji (terkenal kuil yang berwarna putih sebagai UNESCO World Heritage Site)
  • Peron 6 dan 7: untuk kereta Super Hakuto Limited Express di Jalur Chizukyuko menuju Tottori & Kurayoshi. Juga untuk kereta Kuroshio Limited Express di Jalur JR Kinokuni yang menuju Wakayama (yang terkenal dengan pemandangan airterjun tinggi di sisi kuil merah).
  • Peron 8, 9 dan 10: untuk kereta Jalur JR Nara menuju Inari, Uji & Nara (untuk ke kuil Fushimi Inari yang terkenal dengan ribuan tori dan ke Nara yang terkenal dengan Buddha Raksasa dan kejinakan rusa-rusanya)
  • Peron 30 yang ada di sudut barat laut Stasiun: Untuk kereta Haruka Express Limited, menuju Bandara Internasional Kansai (KIX) di Osaka
  • Peron 31, 32 dan 33 yang juga ada di sudut Barat Laut Stasiun: untuk kereta Jalur JR Sagano menuju Nijo (kastil terkenal), Saga-Arashiyama (untuk ke kawasan hutan bamboo atau kawasan turis yang terkenal keindahannya saat musim gugur atau musim semi)

Shinkansen

Seperti yang sudah saya tulis di atas, peron Shinkansen terletak di sisi Selatan atau persisnya di sisi tenggara Stasiun Kyoto, yang melayani jalur kereta Tokaido Shinkansen antara Tokyo dan Shin-Osaka.

  • Peron 11 dan 12: untuk naik kereta Shinkansen menuju Tokyo atau Nagoya.
  • Peron 13 dan 14: untuk naik kereta Shinkansen menuju Osaka (Stasiun Shinkansen Osaka berada di Shin-Osaka, bukan di Osaka Stasiun ya) dan Fukuoka/Hakata (termasuk ke Okayama, yang terkenal kastilnya atau Hiroshima, kawasan memorial bom atom)
img_8230
From the top corner of Kyoto Station

Kereta Bawah Tanah Kyoto

Jalur Subway Kyoto hanya ada 2, Jalur Karasuma yang membentang dari utara ke selatan melalui pusat kota Kyoto. Jalur ini digunakan untuk pergi dari Stasiun Kyoto ke Kokusaikaikan di Utara atau ke Takeda di Selatan, dan bisa transfer di Karasuma Oike (kearah Utara) untuk mengganti ke subway lain yaitu Jalur Tozai yang membentang dari timur ke barat melalui pusat kota.

Pintu masuk ke Stasiun Subway tersebar di seluruh gedung Stasiun Kyoto, namun yang paling mudah berada di bagian Timur gedung. Atau jika sedang berada di luar Stasiun Kyoto atau di area Stasiun Bus yang berada di bagian Utara, banyak petunjuk arah menuju pusat perbelanjaan bawah tanah Porta, tempat yang memilikii akses langsung ke Stasiun Subway Kyoto.

*

Nah bagi saya, berada di Stasiun Kyoto sudah merupakan kenikmatan tersendiri. Saat menunggu jadwal kereta berikutnya atau ketika ingin sedikit bersantai tanpa mengeluarkan biaya apa-apa, berada di Stasiun Kyoto sudah merupakan kesenangan tersendiri. Apalagi jika lapar, banyak sekali restoran disini, tinggal dipilih….

****

Pos ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-3 ini bertemakan Stasiun, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Warna-Warni Rute Subway di Tokyo


Sejak pertama kali menjejak Tokyo bertahun-tahun lalu, selain menggunakan kereta komuter JR Yamamote line yang ada di atas tanah, saya selalu menggunakan kereta bawah tanah (Subway), -yang jaringannya sudah mirip Spaghetti-, untuk mencapai destinasi yang saya inginkan, tentunya dengan bantuan aplikasi juga seperti hyperdia(dot)com dan Tokyo Metro(dot)com juga. Saya ingat, pertama kali memandang peta subway Tokyo ini, saya ngakak abis, sambil geleng-geleng kepala, pasrah menghadapi ruwetnya…

Tetapi saya yakin tak sendirian karena, jangankan turis yang baru pertama kali, orang lokal saja kadang terdiam mengamati papan rute kok. Untungnya (iya, selalu ada untungnya kan?), jalur itu dibuat warna-warni. Selain memudahkan untuk menelusurinya, bagi saya peta itu terlihat indah dengan warna-warni rutenya. Satu jalur satu warna, coba bayangkan bila rute itu hanya dibuat hitam putih! :p

tokyo metro

Terima kasih Wikipedia karena katanya, salah satu jalur subway di Tokyo yaitu Jalur Ginza antara Ueno dan Asakusa sepanjang 2,2 km itu, merupakan jalur subway pertama di Jepang yang dioperasikan untuk publik di tahun 1927. (Duh, Indonesia ketinggalan banget ya, hampir 100 tahun bedanya dengan Jepang, padahal di dunia subway pertama kali berfungsi tahun 1863 di London!).

Sekarang ini, di Tokyo tersedia 13 jalur subway yang terdiri dari 9 jalur yang dikelola oleh Tokyo Metro dan 4 jalur yang dikelola oleh Toei Subway, yang melintasi lorong-lorong bawah tanah Tokyo yang bertingkat-tingkat kedalamannya. Setiap stasiun pasti ada lift untuk mereka yang mendapatkan prioritas seperti para lanjut usia dan anak-anak. Maaf ya, saya kadang mencuri kesempatan naik lift itu karena kaki sudah mau putus rasanya…

Seperti yang dilihat pada gambar di atas itu, jalur-jalur subway di Tokyo mencakup:

Jalur Subway Yang Dikelola oleh Tokyo Metro

  1. Jalur Ginza, yang berwarna oranye, mencakup 19 stasiun dari Stasiun Shibuya hingga Stasiun Asakusa, melewati stasiun-stasiun besar seperti Akasaka, Shimbashi, Ginza, Ueno untuk mencapai tempat-tempat turis yang terkenal dan 16 stasiun diantaranya merupakan stasiun transfer dengan jalur lain. Di Shibuya sendiri, sebagai awalan jalur Ginza dan juga dilewati oleh jalur Yamamote, terkenal dengan Patung anjing setia Hachiko dan Persimpangan Pejalan Kaki (Shibuya Crossing), selain menjadi surga bagi yang suka belanja. Saya termasuk pengguna setia jalur ini karena saya biasanya menginap di daerah Asakusa atau Ueno.
  2. Jalur Marunouchi, yang berwarna merah, mencakup 25 stasiun, dari Ogikubo yang ada di Barat Tokyo hingga Ikebukuro, melewati daerah bisnis Marunouchi yang berada di kawasan Stasiun Tokyo. Uniknya, Jalur Marunouchi ini bercabang, sehingga ada sebagian kereta yang melewati 4 stasiun yang berbeda tapi parallel, di wilayah Suginami dan wilayah Nakano. Rasanya, jalur Marunouchi ini satu-satunya jalur subway yang bisa transfer di Stasiun Tokyo (bukan dengan stasiun lain yang terintegrasi dengan Stasiun Tokyo ya), dengan kereta Shinkansen dan kereta-kereta komuter yang berfungsi di atas permukaan tanah.
  3. Jalur Hibiya, yang berwarna perak abu-abu, mencakup 21 stasiun, dari Naka-Meguro di Barat Daya Tokyo hingga Kita-senju. Bahkan dari stasiun terakhir ini, bisa transfer dengan kereta Tobu-Skytree yang menuju Sky-tree. Jalur Hibiya ini juga melewati daerah Ebisu, Roppongi (dekat Tokyo Tower), Tsukiji (untuk mencapai Tsukiji Fish Market), Ueno (untuk transfer dengan Shinkansen yang ke Utara Jepang).
  4. Jalur Tozai, yang berwarna biru langit, mencakup 23 stasiun dari Nakano hingga Nishi Funabashi. Kereta jalur Tozai ini termasuk kereta cepat (Rapid) karena tidak berhenti di beberapa stasiun setelah Toyocho.
  5. Jalur Chiyoda, yang berwarna hijau, mencakup 20 stasiun dari Yoyogi-uehara hingga Ayase atau Kita-ayase untuk jalur cabangnya dari Ayase. Jalur ini digunakan untuk mencapai Mesjid Tokyo yang terletak tak jauh dari Yoyogi-uehara. Jalur ini juga bisa digunakan untuk menuju Taman Yoyogi (turun di Yoyogi-koen)
  6. Jalur Yurakucho, yang berwarna kuning keemasan, mencakup 24 stasiun dari Wakoshi di wilayah Saitama hingga Stasiun Shin-Kiba di sebelah Timur Tokyo. Lucunya, 9 stasiun pertama dari Wakoshi hingga Ikebukuro, jalur Yurakucho ini berbagi stasiun yang sama dengan jalur Fukutoshin. Akhir dari jalur Yurakucho adalah Shin-Kiba yang merupakan 1 stasiun sebelum Stasiun Maihama yang merupakan stasiun transit menuju Disneyland
  7. Jalur Hanzomon, yang berwarna ungu, mencakup 14 stasiun dari Stasiun Shibuya hingga Stasiun Oshiage, yang keseluruhan stasiunnya merupakan stasiun transit dengan jalur lain, kecuali Hanzomon yang merupakan stasiun untuk menuju Gerbang Barat Imperial Palace yang terkenal sebagai tempat turis di Tokyo. Selain itu, stasiun akhir Oshiage merupakan stasiun terdekat untuk mencapai Skytree.
  8. Jalur Namboku, yang berwarna hijau biru toska, mencakup 19 stasiun dari Meguro di wilayah Shinagawa hingga Stasiun Akabane-iwabuch di wilayah Kita. Sebagai warga Indonesia, jika ingin ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo, turunlah di Stasiun Meguro, dan berjalan kaki sekitar 10 menit. Dari tempat ini juga bisa menuju Mesjid Indonesia SRIT di Tokyo, dengan berjalan kaki sekitar 15 menit (walaupun saya sendiri belum pernah kesana ya)
  9. Jalur Fukutoshin, yang berwarna coklat, mencakup 16 stasiun dari Wakoshi hingga Shibuya, melewati stasiun-stasiun penting untuk mencapai destinasi turis, seperti Ikebukuro, Shinjuku, Harajuku. Serunya, stasiun ini merupakan stasiun terdalam hingga 27 meter ke bawah tanah, bahkan di Higashi Shinjuku mencapai 35meter, kata Wikipedia lho…

Jalur Subway Yang Dikelola oleh Toei Subway,

  1. Jalur Asakusa, yang berwarna pink atau merah jambu, mencakup 20 stasiun dari Nishi Magome di wilayah Ota hingga ke Oshiage di Sumida. Bagi yang menginap di daerah Asakusa atau yang mau ke Sensoji Temple, jalur Asakusa ini pastilah sering digunakan selain Jalur Ginza. Jalur Asakusa ini melewati Daimon yang merupakan stasiun interchange dengan Hamamatsucho, yaitu stasiun yang menghubungkan kereta monorail dari Haneda. Jalur Asakusa ini juga sering saya gunakan.
  2. Jalur Mita, yang berwarna biru, mencakup 27 stasiun dari Meguro di wilayah Shinagawa hingga Nishi-takashimadaira di wilayah Itabashi, merupakan salah satu jalur subway yang paling banyak memiliki stasiun pemberhentian.
  3. Jalur Shinjuku, yang berwarna hijau daun atau hijau muda, mencakup 21 stasiun yang berawal dari Stasiun Shinjuku yang sangat luas itu hingga Stasiun Motoyawata di wilayah Chiba.
  4. Jalur Oedo, yang berwarna ruby atau magenta mencakup 38 stasiun dari Tochomae (aneh ya mulai dari stasiun nomor E28), kemudian Shinjuku Nishiguchi, E01 lalu berputar melalui Lidabashi, Ueno Okachimachi, Tsukijishijo, Shiodome, Daimon, Roppongi, kembali ke Shinjuku lalu tadaaa… kembali ke Tochomae (E28) dan lanjut hingga Hikarigaoka. Stasiun ini merupakan salah satu yang terdalam, sekitar 48 meter di bawah permukaan tanah (source: Wikipedia) termasuk saat melintasi di bawah Sungai Sumida.

JR Pass dan Subway di Tokyo

Banyak orang mengira dengan memiliki JR Pass yang mahal itu maka semua moda transportasi di Jepang seluruhnya sudah tercakup didalamnya, padahal samasekali salah. JR Pass akan sangat efektif bila dipakai untuk transportasi antar kota dengan kereta JR, namun rugi jika hanya dipakai di satu kota. Di Tokyo sendiri, memegang JR Pass berarti hanya bisa naik kereta JR (Yamamote dan Chuo-Sobu). Jalur Yamamote yang memutar Tokyo memang melewati hampir semua tempat-tempat turis. HAMPIR lho… -kecuali mau jalan kaki-, karena masih banyak tempat yang bagus yang lumayan jauh (buat saya) kalau jalan kaki. Jadi mending naik subway! Dan yang  pasti adalah: JR Pass tidak berlaku untuk naik Subway.

Jadi apabila JR Pass masih berlaku dan ingin keliling Tokyo, maka kita harus pandai-pandai mengatur tujuan. Jika tujuannya jauh dari stasiun JR Yamamote (bisa naik Yamamote gratis dengan menunjukkan JR Pass), maka sebaiknya membeli tiket subway. Kalau saya, karena malas berpikir, saya beli saja Subway passes, yang 1 atau 2 atau 3 hari (dengan harga masing-masing 800/1200/1500Yen) selama hari itu akan keluyuran di Tokyo sampai kaki pegal-pegal mau copot!

Jika dibandingkan, antara membeli tiket kereta satu per satu sesuai jarak stasiun yang makin jauh makin mahal, saya memilih tiket harian itu. Karena tiket harian bisa digunakan sampai 24/48/72 jam setelah efektif penggunaan kereta pertama kali. Jika jarak terdekat sudah dihargai 170Yen, rasanya tak mengapa saya membeli Subway Pass. Lagipula, dengan kebiasaan saya yang suka tersesat, rasanya tak perlu menyesal kalau salah arah karena tinggal balik lagi kan? Selain itu, tidak perlu lagi pencet-pencet di mesin tiket, apalagi jika mesin penuh maka harus antri, dan itu artinya buang waktu.

Jika menggunakan PASMO/Suica Card (serupa kartu e-money) untuk naik subway, ya hitung saja secara seksama. Dengan menggunakan kartu-kartu itu, tetap saja harga berkisar tak jauh dari 170Yen hanya kita mendapat diskon. Kalau 10 kali sudah 1700 Yen kan? Padahal dengan harga yang sama, saya bisa mendapat kartu pass subway untuk 3 hari dan masih sisa 200 Yen.

Belinya dimana? Ya di semua stasiun subway melalui vending machine. Jangan takut ada bahasa Inggeris kok di setiap mesin itu.

Oh ya, seluruh operasional kereta di Jepang tidak berfungsi 24 jam lho…, ada sih yang sudah beroperasi dini hari, tetapi biasanya sekitar tengah malam sudah berhenti beroperasi. Jadi jangan ketinggalan kereta ya, gak ada kereta lagi yang akan lewat… 😀

<><><>

Pos ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu 1 bertemakan Colourful Everywhere, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

WPC – Building with A Million Lines


Tokyo International Forum.

Completed 3 years ahead of the millennium, this magnificent building made me amazed with its sophisticated grandeur. It is really an architectural marvel I’ve ever seen. No wonder, it needed a well-planned project that spanned over ten years before finally started to build.

Tokyo International Forum is Tokyo’s first convention and art center which consists of a glass atrium and four buildings with a different design for each.

The glass atrium made me jaw-dropped. It showcases a design of a ship supported by grand and tall pillars. Walking inside the building and looking up, cast a surreal experience for me with breathtaking patterns and lines.

lines1
The up lighted floor near Tokyo International Forum
lines2
Inside Tokyo International Forum
lines3
A Wall of Wooden lines in Tokyo International Forum
Tokyo International Forum
Tokyo International Forum

 

WPC – The Dearly Beloved


The Statue of Mother and Child in the Storm
The Statue of Mother and Child in the Storm, Hiroshima, Japan

Visiting Peace Memorial Park in Hiroshima, Japan a couple years ago, I could not avoid to see a silent but strong message that is shown in a sculpture. The Statue of ‘Mother and Child in the Storm’ which stands in front of the beautiful fountain at the southern edge of the Peace Memorial Park,

Since history has been made, the impact of a war is imposed at most on women and children. It happened also in Hiroshima, Japan, -after the A-Bomb dropped on August 6, 1945-, when the survivors struggled horribly for a living in the devastated city.

Fifteen years after that, in 1960 the Hiroshima Municipal Federation of Women’s Associations started to set up a monument which was highly expressing the human love to remind this situation.

“A mother cradles her baby tightly in her right arm. With her left arm she tries to lift another child, clinging to her, onto her back. She stands in the eye of a storm, taking a strong step forward as her upper body leans down. Her muscular body signifies the power of a mother’s love”

As a mother, I got the silent but strong message of the image of a mother who is trying to overcome the difficulties to keep struggling and living for the dearly beloved, her children, no matter what.

And every August 6, women of Hiroshima gather in front of the 1.4 meters high and 1.8 meters wide sculpture, -which was created by Shin Hongo, a sculpturist from Sapporo, in 1953-, and vow to make efforts to distribute the world peace by eliminating nuclear weapons.

WPC – Peek A Peak


We spent one night in Kawaguchiko during our holiday in Japan last year, only for the chance to peek the beauty of Fujiyama or Mt. Fuji, the mountain icon of Japan. In our previous visit to Japan, we could not see Mt. Fuji because it was covered by the clouds. It seems Mt. Fuji is a shy mountain, it drops its veil only to the preferred ones.

Arrived in Kawaguchiko at night, we had only the chance to see the beauty of Mt. Fuji on the following day. So we woke up on early morning to see the first glimpse of sunshine on the peak of Mt. Fuji. We usually recognize Mt. Fuji with the white snow at peak but that day in early summer we saw a beautiful red brown colour on the peak, just like a red shyness on the children’s cheek.

Peek

Mt. Fuji from Kawaguciko