Menerima Cinta


Jumat pagi kemarin, setelah melakukan ritual harian melempar senyum lebar dan melambaikan tangan pada anak-anak yang berangkat sekolah sambil mendoakan keberhasilan mereka, diri ini tergerak untuk melakukan sesuatu yang kelihatannya mudah dilakukan, tetapi tidak semudah yang dibayangkan.

Di ruang makan, tangan ini mengambil secangkir teh hangat yang tersedia di meja makan dan membawanya ke teras belakang. Saya duduk diam di sana sambil melihat butiran gerimis yang jatuh di taman belakang dengan sesekali menyesap teh hangat beraroma mint itu. Butiran hujan itu laksana berlian berpendar yang jatuh di antara lembutnya sinar matahari yang tampak malu-malu. Gemericik air mancur kolam ditambah gerimis pagi juga menjadikan suasana yang luar biasa. Hmmm… Seakan-akan waktu bergeming, hanya untuk menjadi milik saya. Inilah sebuah kemewahan pagi. Saya biarkan kemewahan luar biasa ini menyelimuti diri dan lagi-lagi penuh rasa syukur saya berketetapan untuk memperkuat kemampuan menerima cinta pada hari itu dengan senyum tersungging di bibir.

Menerima,

Lanjutkan membaca “Menerima Cinta”

Ke Luar Negeri Pertama Kalinya…


Selalu ada waktu untuk pertama kali, apakah itu di awal, di tengah ataupun menjelang akhir hayat. Bagi saya, walaupun dibesarkan dalam keluarga yang hobbynya bepergian, hingga usia  tua ini, saya tidak pernah menginjakkan kaki yang namanya Luar Negeri. Seluruh destinasi perjalanan saya berada di dalam negeri Indonesia yang memang indah ini. Kadang, memang timbul hasrat untuk pergi keluar negeri, tetapi selalu saja ada prioritas lain yang lebih perlu dilakukan.

Tetapi akhirnya saatnya itu datang juga, tidak diundang, tidak diharapkan melainkan datang sendiri. Saya ditugaskan untuk melakukan studi banding ke Luar Negeri, seminggu di Singapore. Sebenarnya 4 hari kerja dari Senin hingga Kamis, karena kebetulan hari Jumat di minggu itu merupakan hari libur di Singapore… Jadi bukan salah saya, kalau saya memanfaatkannya ke Malaysia juga!

Yang menghebohkan adalah persiapannya.

Lanjutkan membaca “Ke Luar Negeri Pertama Kalinya…”

Saingan Saya Laki-laki…


Heegh???
Ya memang, kata-kata itu terucap keluar dari bibir sobat saya dalam kesempatan makan siang beberapa waktu lalu. Walaupun setelah 10 tahun tidak bertemu, saya  mengetahui bahwa apa yang disampaikan itu bukanlah berita bohong.  Saingannya laki-laki!

Ini bukan masalah emansipasi yang diperjuangkan  para aktivis, juga bukan mengenai perjuangan di tempat kerja untuk mendapatkan jabatan atau posisi yang lebih menjanjikan. Bukannya ingin melakukan penghakiman dan differensiasi, ini adalah sebuah cerita dari hati seorang anak manusia mengenai kehidupan pasangannya yang tidak sejalan dengan yang umum terjadi  bagi manusia hidup di dunia ini, bahwa jika dia perempuan, maka pasangannya adalah laki-laki. Juga sebaliknya, bila dia laki-laki maka pasangannya adalah perempuan…

Lanjutkan membaca “Saingan Saya Laki-laki…”