Pilgrimage 2: Tempat Penuh Rindu


Mau Ibadah atau…

Perjalanan panjang berbelas jam (yang sudah saya tulis sebelumnya), sejak sebelum subuh di Jakarta hingga hampir tengah malam di Madinah cukup menguras tenaga hingga alarm badan pun berbunyi. Mau tak mau saya harus memilih beristirahat di hotel daripada membuatnya lebih buruk karena  perjalanan masih dua belas hari lagi.

Sambil mencoba lelap di pembaringan, pikiran melayang lagi ke koper yang ‘diambil’ kembali olehNya dan mencoba menemukan hikmah di baliknya. Sepertinya saya ditegur untuk urusan niat ke Tanah Suci. Tanpa sadar, demi kenyamanan perjalanan, saya meluangkan waktu jauh lebih banyak untuk urusan duniawi seperti sibuk membeli pakaian dan kerudung yang bisa dipadupadankan, mengatur ini itu dan seterusnya; daripada meluruskan niat ibadah dan memaknai tujuan perjalanan itu sendiri. Bukankah saya telah mengetahui bahwa tak pernah ada kebaikan untuk segala sesuatu yang berlebihan.

Saya ditegur keras, amat keras. Seakan diminta untuk berpikir tentang perjalanan sesungguhnya ke Tanah Suci, tentang orang yang berhaji ataupun saat seorang manusia meninggal dunia, berapa banyak pakaian yang dipakainya untuk ibadah yang utama? Hanya beberapa helai kain tak berjahit!

Sedangkan saya membawa satu koper penuh, masih ditambah tas tangan. Saya ini mau wisata atau mau ibadah?!

Di pembaringan, benak saya penuh dengan bayangan orang-orang sederhana, juga orang-orang jaman dulu, yang hanya berbalut doa dan pengharapan penuh kepadaNya untuk bisa sampai ke Tanah Suci lalu bertahan melalui perjalanan berbulan-bulan penuh kesulitan tiada tara. Dihajar bayangan seperti itu saya seperti jatuh ke dalam lubang hitam raksasa…

∧∨∧∨∧∨∧∨

Dan sungguh saya berdiri di dalamnya…

Gelap malam masih menyelimuti kota Madinah ketika saya berdiri sejenak di depan hotel sebelum berjalan kaki menuju Masjid. Angin dingin Desember di Madinah terasa menusuk tulang membuat saya seakan tak bertulang ditambah beberapa jam sebelumnya dihajar oleh pemahaman makna kehilangan koper. Yang tersisa hanya rasa hampa, tak bisa lagi merasa memiliki sesuatu. Lagi-lagi seperti diingatkan, bukankah semua di dunia ini adalah pinjaman?

Sekitar dua ratus meter melangkah, gerbang Masjid tampak di depan mata. Saya terhenyak akan keindahannya. MasyaAllah… lampu-lampu penuh cahaya itu seakan bintang di langit gelap. Indah, luar biasa indah… Lagi-lagi saya digempur rasa kagum tak terhingga.

madinah1
Masjid An Nabawi, Madinah

Saya meneruskan langkah, Ya Nabi salam ‘alaika. Ya Rasul salam ‘alaika. Ya habib salam alaika salawatullah ‘alaika

Setelah sepakat untuk bertemu lagi di gerbang yang sama, saya melangkah menuju gerbang muslimah sementara sang belahan jiwa mencari tempat terbaiknya bersama ikhwan segrup.

Meskipun terbiasa jalan sendiri dalam banyak perjalanan, di Masjid Nabawi saya merasa sedikit gamang. Mungkin karena suasana kemuliaan yang melingkupinya sekaligus penjagaan yang tak terlihat oleh mata. Selain manusia, bukankah malaikat-malaikat penjaga juga ada di sana?

Di pintu Masjid, saya melepas sandal lalu memasukkannya ke tas tangan dan membiarkan seorang askar berpakaian hitam memeriksanya. Kemudian sambil berdoa saya melewati pintu itu dengan sejuta rasa yang muncul di dada. Masya Allah… Indahnya tak bisa terkatakan. Kalau saja saya tak terdorong oleh jamaah di belakang yang mendesak saya untuk maju, saya masih terpesona di dekat pintu. Saya melangkah sambil membiarkan rasa menggugah jiwa…

madinah2
Inside the Nabawi Mosque (Female Area)

Shaf-shaf depan di atas karpet untuk muslimah sudah penuh, sehingga saya mundur lagi mencari yang masih kosong. Alhamdulillah, ternyata tak sulit untuk mendapatkannya. Dan langsung saja, selagi masih ada waktu sebelum Subuh, shalat-shalat sunat didirikan. Berserah diri jiwa raga dalam kesendirian meski diantara manusia lainnya, membuka hubungan langsung yang amat personal kepadaNya, melangitkan pujian-pujian dan doa.

Baru saja selesai berdoa, terdengar azan yang terdengar amat indah. Rasanya berbeda mendengar azan di Masjid Nabawi ini. Mungkin saya mengada-ada, tetapi sungguh, rasanya mampu meluruhkan semua rasa. Dan saya mengingat kisah tentang Bilal, sang muazin pertama yang membuat mata sayaberkaca-kaca…

Setelah azan yang dilanjut doa, segera saja saya mendirikan shalat sunah sebelum Subuh, seperti juga jamaah lain. Setelahnya, saya duduk melanjut dzikir, tetapi shalat jamaah Subuh tak kunjung didirikan. Saya menunggu melanjutkan dzikir sambil melihat sekeliling.

Di sekeliling saya terlihat berbagai bangsa. Selain wajah Arab dan Indonesia yang mendominasi dalam kelompok-kelompok, terlihat juga wajah-wajah Uzbekistan yang berkulit putih,  Turki, Pakistan atau Bangladesh,  Malaysia. Sempat saya lihat juga wajah Tiongkok yang terlihat dari aksara dalam syalnya.

Melihat wajah-wajah itu, tak terasa dzikir saya bercampur dengan ungkapan syukur. Berbeda bangsa, berbeda warna kulit, berbeda bahasa, namun disatukan dalam ikatan persaudaraan yang sama. Tak ada senyum yang tak berbalas, tak ada salam yang tak berbalas. Di sini, di tempat yang amat mulia ini, semuanya sama. Begitu indah rasanya…

Lalu terdengar azan lagi. Azan, bukan Iqamah.

Saya bertanya-tanya dalam hati, mengira-ngira azan yang saya dengar dan azan yang sebelumnya. Dengan wajah yang masih diliputi keraguan, saya memandang ke kiri dan ke kanan. Dan tiba-tiba perempuan di sebelah saya berbagi kebaikan, -yang ternyata orang Indonesia yang mungkin bekerja atau bersekolah di Arab (sebab tak terlihat sebagai orang yang sedang umroh)-, menjelaskan bahwa di sini selalu ada dua kali azan Subuh. Yang pertama untuk mengingatkan umat untuk Shalat Malam dan yang berikutnya adalah untuk panggilan shalat Subuh. Setelah berterima kasih kepadanya, saya bergegas mendirikan shalat sunnah sebelum Subuh sekali lagi.

Lalu tak lama setelahnya, dalam balutan pakaian yang didominasi putih dan hitam, perempuan-perempuan yang berbeda-beda namun terikat satu persaudaraan itu serentak berdiri, bertujuan sama, memenuhi panggilan untuk shalat. Dan dada saya bergemuruh sangat hebat saat mendirikan shalat wajib pertama secara berjamaah di Masjid Nabawi.

Ya Allah… satu impian terbesar dalam hidup saya telah Engkau kabulkan.

Selesai shalat, ada panggilan lagi. Perempuan di sebelah saya seperti malaikat penolong yang melihat kebingungan saya. Tanpa diminta ia menjelaskan bahwa selalu ada shalat jenazah sehabis shalat fardhu sambil mengingatkan secara cepat tata caranya. Ya Allah, begitu banyak keajaiban di Masjid ini. Semua berbagi kebaikan tanpa diminta, mengalir begitu saja.

Ada rasa haru yang begitu mendesak kalbu saat membayangkan keberuntungan bagi yang meninggal dan dishalatkan di Madinah, dishalatkan oleh begitu banyak orang yang jiwa raganya sedang berfokus kepadaNya, di tempat yang begitu agung penuh keberkahan dan nantinya mereka akan dikubur di Baqi, tempat para keluarga dan sahabat Nabi serta para syuhada dimakamkan. Betapa mulianya mereka…

∧∨∧∨∧∨∧∨

madinah3
Daylight

Pemandangan tentang Cinta

Dan waktu-waktu wajib selanjutnya tak pernah berubah suasananya meskipun setiap waktu berbeda rasa. Desember merupakan bulan yang dingin, membuat shalat Dzuhur di tengah hari pun tak membuat gerah atau Ashar yang memiliki langit sore yang mempesonakan hingga datangnya waktu Maghrib. Semua waktu yang memiliki pesona tersendiri sementara alunan ayat suci senantiasa terdengar. Harum khasnya udara Masjid, semuanya… Suasana Masjid Nabawi inilah yang membuat saya selalu merindu.

Di tempat ini, seperti baru menikah, saya senantiasa berjalan bersama sang belahan jiwa dan berpisah di gerbang yang sama untuk saling menantikan jika telah selesai ibadah. Entah kenapa, rasanya ada romantisme tersendiri di tempat mulia ini.

Di Masjid ini pun, saya melihat begitu banyak kaum pria yang menunggu orang tercintanya, ibu, isteri atau saudara perempuannya di batas gerbang perempuan. Mereka dengan setia menunggu, berkali-kali menoleh, memanjangkan lehernya, memperhatikan dan berharap keluarnya yang tercinta yang berbalut baju dengan warna yang dominan sama, hitam atau putih. Tidak mudah, tetapi mereka tetap setia menunggu hingga bertemu.

Dan setelah berjumpa, mereka menjaga di sampingnya, mendorong kursi roda ibunya atau membantu menuntunnya, atau ada juga langsung meraih menggendong anaknya, tetapi semua menampilkan wajah yang serupa, sumringah, penuh senyum bahagia saat berjumpa dengan mereka yang tercinta. Rasanya tak ada rasa kecewa dan angkara, karena hati dan jiwa mereka semua menuju Yang Maha Kuasa, Yang Selalu Menjaga. Semuanya merupakan pemandangan yang mengharubirukan jiwa. Hanya ada di pintu keluar perempuan, sebuah pemandangan tentang cinta. Inikah Surga di dunia?

∧∨∧∨∧∨∧∨

Tempat terbaik untuk berbuat baik

Salah seorang anggota dalam grup kami sudah lanjut usia, mungkin tak begitu jauh bedanya dari usia Mama. Tak disangka, beliau pun mengalami apa yang dialami Mama. Jatuh di kala usia tak lagi muda sehingga tulang panggulnya retak. Saya memanggilnya Nini (nenek dalam bahasa Sunda) dan menceritakan kepadanya bahwa Mama saya dioperasi untuk mengganti bonggol tulang panggul dan berminggu-minggu beristirahat di tempat tidur untuk bisa kembali berjalan. Cerita tentang Mama, pemahaman akan sakit yang sama, menjadikan kami berdua menjadi dekat satu sama lain, meskipun anak dan mantunya juga ada disana tapi saya sama sekali tak merasa keberatan untuk berjalan bersamanya yang amat pelan melangkah. Saya percaya, semua peristiwa yang saya temui di Tanah Suci ini, bukan sembarang peristiwa, karena semuanya pasti akan menuju kebaikan.

madinah 5
Inside the Mosque (male area) – photo creditted to my hubby

Selagi menuntunnya di sebelah kanan dan menantunya di sebelah kiri, pikiran ini terbang ke Mama berharap, semoga dengan membantu menuntun Nini jalan perlahan di Madinah ini, selalu ada orang yang akan membantu Mama dimanapun ia berada. Saya tahu, setiap langkah yang dilakukan Nini dengan beratnya, itulah juga yang dialami Mama, menahan sakit dan nyeri setiap langkahnya akibat operasi dan osteoporosis pada tulang tua yang semakin menyerang dirinya. Duhai Engkau Yang Maha Mengetahui Semua Rahasia, meskipun secara fisik saya membantu Nini untuk berjalan, tetapi sungguh serasa saya berjalan bersama Mama. Ya Allah, ini luar biasa sekali rasanya.

Bahkan, saat kali pertama dalam antrian ke Raudhah -tempat yang paling mustajab untuk berdoa-, waktunya sungguh tidak tepat. Meski Nini berkeras mampu terjaga, tak dapat ia sembunyikan kelelahan di wajahnya untuk tetap bertahan hingga ke gilirannya yang mungkin lewat tengah malam. Saya mengusulkan untuk mencoba ke Raudhah lebih awal esok harinya. Meskipun artinya, kesempatan saya bisa berdoa di Raudhah akan semakin kecil karena malam itu saya akan mengantarkannya pulang. Tak mengapa, karena tak mungkin saya membiarkan Nini berjalan pulang hanya dengan menantunya. Itu jarak yang amat jauh dari gerbang terdekat Raudhah ke gerbang 15, di larut malam untuk seorang lanjut usia yang berkebutuhan khusus dan hanya ditemani seorang perempuan saja.

Dan satu diantara tiga malam di Masjid Nabawi itu, jelang shalat Isya, menantu Nini dan saya berlari kesana kemari untuk mencari sebuah kursi wakaf, -kursi yang digunakan oleh orang-orang yang menjalankan shalat sambil duduk-, agar Nini bisa shalat dengan nyaman. Tetapi sungguh, di sekitar kami telah habis semua. Menantu Nini sampai harus memohon dengan sangat kepada seseorang akhwat berbadan besar yang di sebelahnya ada kursi tapi tak digunakan. Tapi meskipun menantu Nini sudah memohon, akhwat berbadan besar itu tak memberikannya. Mengetahuinya, hati saya pecah berkeping, tetapi tak mungkin memaksa orang lain untuk bisa berbagi.

Saat itu, kami hanya bisa sampai di pelataran Masjid. Nini memaksa saya untuk segera shalat dan agak setengah hati saya melepas Nini menemukan caranya sendiri untuk bisa beribadah. Dan saya dibuat terkagum akan kekuatan dan keikhlasan Nini untuk tetap shalat sambil berdiri, meskipun harus menahan sakit dan menjaga keseimbangan karena tak mungkin beliau ruku’ dan sujud secara normal. Ketika saya tanya kepada Nini resep bisa selalu bertahan, sambil tersenyum beliau berkata, niatnya ibadah kepada Allah. Mendengarnya, saya merasa terjun bebas lagi ke lubang hitam karena masih belum mampu selalu meluruskan niat.

∧∨∧∨∧∨∧∨

Dan kulepaskan beban itu…

Berada di antara manusia-manusia, tetap saja ada yang membisikkan kata agar tetap menuntut koper yang hilang, yang bagi saya amat kontradiktif dengan suasana ibadah. Tetapi dasar saya masih manusia tempat muasalnya salah dan dosa, saya mendengar bisikan-bisikan itu. Ada rasa gemas yang muncul karena hari demi hari, tak ada kabar dari agen perjalanan tentang koper itu. Sang suami telah bolak balik bandara hanya untuk mendapat berita hampa. Dan biro perjalanan itu hanya berkata, kita coba lagi besok… Berbagai pertanyaan meragukan memenuhi benak, bagaimana mencobanya jika sudah harus meninggalkan Madinah menuju Mekkah sedangkan jika tidak dipaksa suami tak ada perwakilan dari biro perjalanan itu untuk ke Bandara? Dan bahkan saya masih belum memiliki pakaian putih yang disarankan Biro Perjalanan untuk umroh dan mereka tidak membahas kebutuhan ini meskipun tahu saya kehilangan koper. Ah, sepertinya setan pun masih mengipas-ngipasi semua yang bisa terbakar di hati manusia-manusia di Masjid yang suci ini.

madinah4
The Lamps

Terus menerus mendengarkan bisikan-bisikan halus yang menyulut itu membuat saya jengah dan ingin menutup telinga hati serta sementara menjauh dari grup. Lalu melangkah lebih awal ke Masjid sehingga memiliki keleluasaan waktu sebelum shalat wajib tiba. Sendiri, saya mendirikan shalat sunnah. Berupaya mendirikan dinding tinggi yang meniadakan suara-suara dari luar, mengajak jiwa dan raga seutuhnya, hanya memujiMu dalam setiap gerakan shalat yang didirikan, bertasbih beratus kali hanya kepadaMu, tak ada yang lain.

Segera setelah selesai, airmata saya tumpah tak berhenti di tempat ini, di Masjid Nabawi. Beban itu terlepas sudah, ada atau tiada koper itu saya tak lagi terpengaruh. Karena semua ini hanya pinjaman untuk hidup di dunia. Tergambar lagi di benak akan kesederhanaan dua lembar kain putih tak berjahit dan kesederhanaan rumah Nabi pada jamannya. Karena semua ini milikMu, semua hanya untukMu… Sesungguhnya saya tak memiliki apa-apa.

Dan saya selalu akan merindukan tempat ini, tempat saya meluruhkan semuanya di hadapanMu, melepas semua beban…

Bersambung…

 

Pilgrimage 1: Menuju Kota Cahaya


Hanya terbilang dua bulan sebelum keberangkatan, saya mengambil keputusan besar untuk melakukan perjalanan batin ke Tanah Suci, sebuah perjalanan yang selalu digadang-gadang dilakukan seawal mungkin, jika mampu, dalam kehidupan seseorang yang beragama Islam.

Meskipun terkesan mendadak, -keputusan diambil 2 bulan sebelum berangkat-, saya bisa menuliskan sejuta alasan pembenaran telah melakukan penundaan sekian lama, bertahun-tahun, bahkan berdekade-dekade. Yaa sudahlah, apapun alasan itu, akhirnya Allah SWT mengabulkan perjalanan kami berdua, -dengan sang belahan jiwa-, dalam minggu terakhir bulan Desember 2019 yang lalu. Sebagai hadiah ulang tahun saya sekaligus hadiah ulang tahun pernikahan, yang keduanya diperingati dalam bulan Desember dan berjarak hanya hitungan hari dari tanggal keberangkatan.

Dan manisnya, sejak dulu saya memang memiliki impian jika melakukan ibadah ke Tanah Suci, -umroh atau bila memungkinkan haji-, inginnya langsung ke tiga Masjid utama, Masjid Al-Haram, Masjid An-Nabawi dan Masjid Al Aqsho, sesuai hadist

“Janganlah kalian menempuh perjalanan jauh kecuali menuju ke tiga masjid: masjidku ini (Masjid Nabawi), masjid Al Haram, dan masjid Al Aqsa”

(HR. Bukhari no. 1115 dan Muslim no. 1397)”.  

Dan keinginan itu juga yang membuat perjalanan ini menjadi terbatas.

Karena suami dan saya hanya pegawai, -artinya cutinya terbatas-, pemilihan waktu untuk melakukan ibadah ke Tanah Suci itu perlu pertimbangan sendiri. Karena pertimbangan ini, akhirnya saya memilih waktu akhir tahun meskipun merupakan peak season. Paling tidak, kami meninggalkan kantor tidak terlalu lama karena ada cuti bersama, hari libur Natal dan Tahun Baru, Tapi yaaa… begitulah, karena akhir tahun, harganya lebih mahal (bangeeet!). Tapi di sisi lain, untuk ibadah kepada Allah Yang Selalu Melimpahkan Rejeki, mosok kita itung-itungan?

Selain waktu yang tidak tersedia banyak, tidak banyak juga agen perjalanan yang mau melakukan perjalanan ibadah Umroh Plus Aqsho di akhir tahun. Kalaupun ada, harganya sangat membumbung tinggi. Akhirnya, setelah memilih dan memilah, saya memutuskan menggunakan agen perjalanan MAP Tour yang berkantor pusat di Condet, Jakarta dengan mengambil paket bintang 3 untuk berdua yang harganya lebih terjangkau daripada paket bintang 5 (Bintang-bintangan ini hanya ditentukan oleh jarak ke Masjid, yang semakin tinggi bintangnya, semakin dekat jarak dengan Masjid, meskipun fasilitasnya sangat berbeda dengan standar bintang di Indonesia)

Maka pada tanggal keberangkatan…

Di Bandara, satu persatu anggota grup kami menampakkan mukanya. Hari itu dengan maskapai Malaysian Airlines, kami menuju Madinah (yang terkenal dengan sebutan Kota Cahaya) dengan transit di Kuala Lumpur. Untuk penerbangan ke Kuala Lumpur, saya mendapatkan penerbangan jam 9 pagi, dan sebagian dari grup kami mendapatkan penerbangan jam 11 pagi. Memang agak aneh grup kami terpecah dua, tetapi pihak travel beralasan karena peak season dan penerbangan ke Kuala Lumpur sangat penuh. Baiklah… kami semua belajar ikhlas karena ini adalah perjalanan ibadah.

Pagi di terminal 3 itu, tidak sedikit dari kami yang menunggu dengan cemas. Suasana di depan restoran sebagai meeting point itu sudah seperti pasar dengan begitu banyak jamaah dari berbagai travel Umroh dengan masing-masing seragamnya. Kami berbisik satu sama lain, di Jakarta saja sudah padat dengan manusia, apalagi di Mekkah… tetapi sebenarnya kecemasan kami bukan itu.

Menit demi menit berlalu, jamaah semakin banyak. Saya melirik jam tangan, tinggal satu jam sebelum lepas landas, tetapi boarding pass belum di tangan dan belum antri imigrasi. Berkali-kali saya mengintip ke arah check-in, koper-koper itu masih rapi berjajar di depan konter group check-in. Saya terus mengingat diri, ini adalah perjalanan ibadah, jadi sewajarnya untuk memperpanjang sabar. Lagi pula saya, yang biasanya solo-travelling, kali ini harus belajar melakukan perjalanan melalui agen.

Alhamdulillah, akhirnya semua tepat pada waktunya, dan kami bisa terbang ke Kuala Lumpur dan menunggu cukup lama untuk melanjutkan penerbangan lanjutan ke Madinah. Yah kan juga harus menunggu grup kami yang berangkat jam 11 dari Jakarta. Latihan sabar lagi.

KLIA1
Kuala Lumpur International Airport 1

Kecemasan berikutnya terasa ketika sudah ada panggilan untuk boarding ke pesawat lanjutan yang akan membawa kami ke Madinah, grup berikutnya belum terlihat batang hidungnya satu pun! Berkali-kali saya melihat ke arah pintu saat mengantri, mereka belum tampak juga. Akhirnya dalam hitungan menit sebelum saya memasuki badan pesawat Airbus A380 itu, tampak rombongan grup berlari-lari menuju gerbang. Alhamdulillah.

Saya terkagum memasuki pesawat Airbus A380 dua lantai yang hingga kini masih merupakan pesawat penumpang terbesar di dunia. Kelas Business Suite di lantai satu yang hanya saya lalui saja tampak menyenangkan sekali, bisa jadi dipesan oleh mereka yang berkelimpahan rejeki. Meskipun tak penting, saya mencoba mengingatnya bahwa di lantai dua pesawat ini hanya untuk kelas bisnis dan tidak ada kelas ekonomi. Entah kenyataannya seperti apa. Yang pasti, saat duduk di kelas ekonomi, saya kurang begitu nyaman karena sepertinya kursi kelas ekonomi tidak dirancang secara ergonomis untuk tubuh Asia yang lebih kecil. Kaki saya kurang bisa menjejak lantai. Atau saya yang tidak tinggi ya?

Mendapat kursi di bagian jendela untuk penerbangan selama 9 jam seharusnya menyenangkan, tetapi buat saya benar-benar membuat mati gaya. Pemandangan di luar jendela tidak menarik, sedangkan untuk menonton film rasanya malu terhadap diri sendiri karena kontradiktif dengan alunan suara otomatis yang diperdengarkan ke kabin,

Labbaik Allahumma Labbaik. Labaika Laa Syarika Laka Labbaik. Innal Hamda Wan Ni’mata Laka Wal Mulk. Laa Syarika Lak

Aku penuhi panggilanMu, ya Allah, aku penuhi panggilanMu. Tidak ada sekutu bagiMu. Sesungguhnya pujian dan nikmat adalah milikMu, begitu juga kerajaan adalah MilikMu. Tiada sekutu bagiMu.

Jadilah seperti itu, selama penerbangan panjang yang diselingi makan dan cemilan, jamaah menjalankan apa yang dihimbau pak Ustadz untuk meluruskan niat dan melafalkan kalimat talbiyah meskipun tidak bisa dihindari sejenak terlelap

Jam demi jam berlalu, akhirnya kota tujuan tak jauh lagi meskipun telah berbalut malam. Seruan Alhamdulillah otomatis terdengar di seluruh kabin ketika roda pesawat besar itu menyentuh landasan kota Madīnah al-Munawwarah, kota yang bercahaya. Ya Allah, Ya Rasul… dada saya dipenuhi oleh rasa haru yang begitu menggelegak, mata terasa kabur oleh airmata yang mengembang. Benarkah saya telah di Madinah?

Saya masih merasa linglung, rasanya tak menjejak tanah, tak percaya bahwa saya ada di bumi yang berabad dulu juga dijejaki Rasulullah, keluarga dan sahabat-sahabatnya. Saya menggigit bibir memastikan bahwa saya sungguh memasuki bandara Madinah yang tidak terlalu luas dan juga tak terlalu padat oleh manusia. Kami benar-benar beruntung bisa mendarat langsung di Madinah karena umumnya pesawat yang mengangkut jamaah Haji atau Umroh lebih banyak mendarat di Jeddah. Tidak ada antrian imigrasi yang mengular di Madinah ini, sama sekali tidak ‘mengerikan’ seperti yang diceritakan dalam beberapa blog jika saja kita mendarat di Jeddah.

Madinah Airport
Madinah Airport

Lepas imigrasi kami menunggu di tempat pengambilan bagasi. Menit demi menit berlalu, satu per satu koper grup kami muncul tetapi bukan koper saya. Sampai akhirnya proses pengeluaran bagasi selesai, koper saya tak pernah muncul. Tentu saja saya menjadi masygul, meskipun dipendam sendiri. Entah apa rencana Allah untuk saya dengan kejadian ini. Telah berkali-kali saya mengalami ujian kehilangan barang dalam perjalanan, seperti kehilangan dompet dulu ketika di Macau, hampir kehilangan paspor di Hoi An, juga pernah carrier saya yang tak muncul di Jakarta setelah trekking di Annapurna, Nepal. Dan kini, saat akan menjalankan ibadah Umroh, saya tak memiliki baju lain kecuali yang dikenakan.

Waktu berlalu dengan cepat. Saya tak mungkin membiarkan jamaah lain menunggu koper yang tidak jelas keberadaannya itu. Sementara pak Ustadz yang sekaligus menjadi Tour Leader berkali-kali menunjukkan wajah kebingungan, dengan ikhlas saya mengusulkan kepada grup untuk segera ke hotel daripada menunggu sebuah ketidakjelasan. Saya telah ikhlas atas peristiwa koper yang tak muncul, dengan segala konsekuensinya karena meninggalkan bandara tanpa bukti pengaduan jelas tentang lost & found itu artinya sama saja tak kehilangan satu pun! Hanya saja saya melihat tidak adanya sumber daya (manusia) yang cukup di bandara itu untuk keperluan lost & found, airport handling yang tidak tertib dari agen perjalanan. Pak Ustadz dan suami akhirnya setuju untuk setiap hari ke bandara untuk mengecek keberadaan koper itu.

Meskipun telah mengikhlaskan, selama perjalanan menuju hotel, pikiran saya tetap saja bercabang. Untuk dua belas hari ke depan, saya harus membeli beberapa pakaian dan keperluan penting lainnya. Selain itu, berbelanja hanya bisa dilakukan di waktu kosong padahal jadwal acara lumayan padat. Ya Allah, saya tak tahu tempat toko yang menjual barang-barang yang saya perlukan, sebagai perempuan apakah saya aman berbelanja mengingat begitu banyaknya batasan untuk seorang perempuan di Arab.

Ada rasa cemas yang merambat ke seluruh tubuh, bersamaan dengan suara hati yang terus mengingatkan kedalaman surat Al Ikhlas, bukankah Allah SWT menjadi tempat pertama kita menyandarkan segala sesuatu, susah atau senang, sempit maupun lapang? Sepertinya saya masih harus banyak belajar…

Meskipun dari jauh, bus yang kami tumpangi sengaja berjalan perlahan ketika melewati Masjid Nabawi yang terang dipenuhi cahaya seakan-akan memberi kesempatan kepada kami untuk mengagumi. Saya tertegun melihatnya, masjid indah yang hanya bisa saya lihat dari internet, juga dari foto saudara atau kawan yang ke Tanah Suci, kini ada di depan mata saya sendiri. Ya Allah… saya hanya bisa diam, tergugu dengan mata basah penuh airmata.

Hari itu, meskipun berselang belasan abad jauhnya, saya hanya berjarak ratusan meter dari kubur Nabi, Keluarga dan sahabat-sahabatnya. Saya mendapat anugerah tak terhingga dari Allah SWT bisa sampai ke tanah yang berabad dulu juga pernah dijejak Rasulullah, udara yang berabad dulu juga pernah dihirupnya. Saya tahu, seperti Muslim yang lain juga, hati saya jatuh menjangkar kuat di Madinah. 

WelcomeNote1
Welcome Note

Bersambung…

Expect Nothing, Appreciate Everything


 

Rasanya hampir setiap orang, -bahkan mungkin semua orang-, pernah merasakan kecewa karena memiliki harapan akan sesuatu yang tidak berjalan semestinya. Alih-alih mendapat apa yang menjadi harapannya, namun kenyataan yang diterimanya adalah zonk. Hati ambyar seketika dan dampaknya bisa terasa seharian atau bahkan lebih lama.

Hal yang sama bisa terjadi saat melakukan perjalanan.

Bertahun-tahun yang lalu, ketika melakukan perjalanan ke Korea Selatan, saya memiliki harapan yang amat tinggi terhadap negara itu. Bagi saya saat itu, Korea Selatan merupakan negara yang sudah maju di Asia. Dalam pikiran saya, tidak berbeda jauh dengan Jepang. Apalagi dalam perjalanan ke Jepang, -sebelum travelling ke Korea Selatan-, saya mengalami perjalanan yang amat berkesan dengan berbagai kemudahan, kenyamanan dan keramahan orang Jepang.

The pond near Bulguksa temple
The pond near Bulguksa temple, Gyeongju

Kenyataannya di Busan, -kota pertama di Korea Selatan saat memulai perjalanan-, saya mengalami kejutan-kejutan yang cukup menimbulkan rasa cemas di hati (baca cerita lengkapnya di pos dengan judul Berkenalan dengan Busan). Semua berawal dari tingginya ekspektasi saya terhadap negeri penghasil ginseng itu sebagai negara maju yang sudah siap menerima turis mancanegara. Saya sama sekali tidak menduga bahwa jarang tulisan latin dan penduduk lokal banyak yang tidak bisa bahasa Inggeris! Kecemasan saya berkelanjutan sesuai rute trip hingga ke Seoul, seperti saat ke Gyeongju, juga saat ke Haeinsa Temple yang hampir membuat saya menyerah. Praktis saya pulang ke Indonesia dengan membawa pengalaman perjalanan yang amat melelahkan jiwa raga.

Tetapi seperti yang saya tulis kemudian dalam Hikmah terserak di Perjalanan Korea, semua peristiwa yang terjadi seharusnya dapat lebih dikendalikan jika saja saya tak memiliki harapan terlalu tinggi akan kemudahan dan kenyamanan perjalanan di Korea Selatan serta mau mensyukuri apapun yang terjadi.

Dengan tidak memiliki pengharapan, artinya saya menerima apapun yang terjadi sebagai sebuah keunikan negeri yang dikunjungi. Seharusnya tidak akan timbul kekecewaan jika saya bisa menerimanya sebagai sebuah keunikan.

But there are no mistakes, only lessons.

Saya belajar dari perjalanan Korea itu, sebuah pembelajaran yang amat besar. Untuk tidak memiliki ekspektasi atau pengharapan dalam sebuah perjalanan dan bisa menerima segala sesuatu yang terjadi sebagai berkah. Jadi sejak itu, sebisa mungkin sebelum melakukan perjalanan ke sebuah tempat, saya mereset pengharapan atas tempat tujuan (meskipun kadang lupa juga hehehe)

*

IMG_0175
Expect Nothing, Appreciate Everything

Sebenarnya hal yang sama bisa dilakukan pula terhadap makhluk lain yang namanya manusia. 🙂 Dalam berinteraksi dengan orang lain, tanpa sadar kita telah menetapkan standar harapan terlalu tinggi kepada seseorang dan merasakan kecewa, marah, ilfil jika orang tersebut tidak bisa memenuhi level harapan kita.

Contohnya sangat mudah dicari. Paling gampang ya pengalaman saya sendiri dulu saat masih pacaran dan belum ada ponsel yaa…

Rasanya jengkel sekali jika mantan pacar yang sekarang jadi suami saya itu, tidak memberi kabar seharian. Saya bukannya hendak memonopolinya, tetapi saya cemas jika terjadi apa-apa padanya. Seperti kebanyakan perempuan lain, bisa jadi saya kebanyakan berpikir, tapi sungguh rasanya tidak enak sekali jika dia tidak menghubungi saya seharian. Akhirnya ketika dia menghubungi saya, ujung-ujungnya bertengkar.

Sementara saya berharap dia menghubungi saya barang semenit dua menit, dia sama sekali tidak tahu kalau saya memiliki pengharapan itu. Dia sama sekali tidak tahu bahwa tidak memberi kabar seharian itu memberi dampak cemas di saya. Dia tidak tahu karena saya tidak mengungkapkan ke dia dan saya berharap dia bisa memahami apa yang saya rasakan. Bisa jadi saat itu dia sama seperti laki-laki lain yang sering pusing dan bingung menghadapi sikap perempuan. 

Saat itu saya memiliki ekspektasi kepada dia untuk mengerti dan bisa membaca perasaan saya yang akhirnya membuat saya kecewa, marah karena dia tidak bisa memenuhi harapan saya itu. Belakangan saya sadar telah salah (tapi gengsi untuk mengakui hihihi…) dan geli sendiri saat mengingat wajahnya yang ‘pasrah dan bingung’ atas kesalahannya tidak memberi kabar seharian! Seharusnya saya menerima kondisi dia tidak menghubungi sebagai sebuah berkah untuk dimanfaatkan yang positif dan menerima saat dia menghubungi berikutnya sebagai sebuah berkah.

Kita yang memiliki pengharapan kepada orang lain, lalu kita yang jengkel, kecewa atau marah karena dia tidak bisa memenuhi apa yang menjadi harapan kita kepadanya. Kan dia tidak bisa baca pikiran dan perasaan kita ya? Lagi pula pengharapan itu ada pada kontrol kita kan? Bisa dikendalikan kan?

Coba dibalik situasinya.

Bagaimana seandainya dia marah atau jengkel atau mendadak diam seribu bahasa, hanya karena kita tidak bisa memenuhi harapannya. Bingung dan jengkel juga kan? Memangnya kita bisa baca pikiran dan harapannya kalau tidak diungkapkan?

*

Tetapi memang tidak mudah untuk mereset ekspektasi, apalagi menerima segala sesuatu sebagai berkah. Tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan, paling tidak mulai belajar dilakukan.

Jadi, mau travelling kemanapun, atau kepada orang lain, termasuk keluarga, pacar, calon pacar, rekan kerja, sahabat, teman perjalanan, saya sih merekomendasi untuk expect nothing, appreciate everything. Hidup akan berjalan terasa lebih nyaman dan membahagiakan, jauh dari rasa kecewa.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-3 ini bertema Rekomendasi agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Belajar Dari Tempat Simbol Perdamaian


Menapakkan kaki di tempat yang memiliki simbol perdamaian itu memiliki daya lenting yang baik. Banyak orang telah menjejakkan kakinya di tempat-tempat seperti itu, jauh lebih banyak dari pada saya yang hanya menjejak ke beberapa tempat. Tempat yang di atasnya didirikan bangunan atau tanda sebagai simbol perdamaian. Dan tentunya saat menjejakkan kaki di sana, saat itu, selalu mampu menggetarkan rasa yang luar biasa.

Seperti ketika berada di Hiroshima, Jepang, saat mengunjungi Peace Park, saat itu perasaan dibawa naik turun sedemikian rupa. Bagaimana mungkin saya tak tergugah saat membaca peristiwa kelam bagi kemanusiaan yang sangat menghancurkan hati yang pernah terjadi tepat di bawah kaki berpijak? Ratusan ribu atau jutaan nyawa hilang dalam sekejap dan berpuluh tahun berikutnya akibat dampak buruk yang ditimbulkannya.

Dan bagaimana mungkin rasa saya tak terkoyak ketika berada di monumen yang mengisahkan perjuangan seorang gadis kecil yang terpapar radiasi akibat bom atom yang dijatuhkan di kotanya? Bagaimana mungkin saya tidak teringat kepadanya setiap saya melipat origami burung kertas, sebuah cara si gadis kecil untuk tetap memiliki harapan hidup? Bagaimana mungkin saya tidak tertampar rasa saat menyaksikan api perdamaian yang terus menyala meskipun saat itu hujan turun dengan derasnya?

Dan di tempat lain, sedikit di luar kota Phnom Penh, Kamboja. Bagaimana mungkin saya tidak hancur rasa saat berkunjung ke Choeung Ek, Ladang Pembantaian manusia (The Killing Fields) yang terjadi selama Khmer Merah berkuasa di Kamboja? Begitu banyak pertanyaan tergambar di benak. Bagaimana mungkin orang bisa sekejam itu, membunuh karena berbeda ideoologi? Atau hanya karena ia berkacamata dan dianggap pandai? Bagaimana mungkin seorang manusia bisa membantai manusia lainnya dan memperlakukan lebih buruk daripada hewan ternak? Bagaimana mungkin orang bisa membunuh seorang ibu dengan bayinya? Dan bagaimana mungkin seorang manusia bisa membunuh bayi-bayi dengan membenturkannya ke pohon?

IMG_2393
Cheoung Ek Monument, Phnom Penh, Cambodia

Memang saat saya berada di tempat-tempat itu, perasaan saya berkecamuk hebat. Begitu banyak pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana” silih berganti muncul terus di kepala, meskipun peristiwa-peristiwa itu nyatanya sudah terjadi di masa lalu.

Tempat-tempat yang kelam dan dari sana kita bisa banyak belajar…

*

Di sisi yang berbeda, di tempat-tempat denting-denting kedamaian dibunyikan dan diingatkan kepada kita…

Seperti ketika berada di Nepal, melakukan perjalanan darat dari Pokhara hingga Lumbini, dengan mengunjungi tempat-tempat yang menjadi simbol perdamaian. World Peace Pagoda yang berada di atas bukit di pinggir kota Pokhara, menjadi landmark bagi siapapun yang ke Pokhara. Hampir semua turis menyempatkan waktu untuk berkunjung ke sana.

Juga saat berada di Lumbini, tempat kelahiran Sang Buddha, saya menyaksikan nyala api perdamaian di pintu masuk taman perdamaian, tempat yang menjadi saksi kelahiran Sang Buddha hampir tiga millenium lalu. Bahkan tak jauh dari sana terdapat papan yang bertuliskan ajaran Buddha yang penuh damai.

Juga saat berada di Vientiane, Laos, saya terkagum kepada gema perdamaian dunia dalam bentuk Gong yang disampaikan dari Indonesia untuk di tempatkan di dekat kolam yang segaris lurus dengan Patuxai, monumen negeri Laos yang menyerupai Arc de Triomphe di Paris.

*

Dua sisi yang berbeda, menggaungkan gema yang sama, kata yang sama, Perdamaian. 

Tak bisa dipungkiri bahwa damai di mulai dari diri sendiri, namun apakah kita semua mampu berteguh hati mengupayakan rasa damai laksana Mahatma Gandhi, pahlawan India yang memilih jalan anti kekerasan dalam perjuangannya? Kata-katanya amatlah jelas di sisi mana ia berdiri.

Peace is not the absence of conflict but the ability to cope with it – Gandhi

Tentu tak mudah, mungkin memang sangat tidak mudah, untuk diterapkan, apalagi kita, manusia-manusia yang hidup di peradaban sekarang dengan segala kenikmatan duniawi, terlalu sering, bahkan terbiasa untuk memenangkan ego dan tidak menahan diri terhadap batas kebutuhan orang lain. Ego kita senantiasa dimenangkan dalam banyak masa.

Ah, bisa jadi saya terlalu menggeneralisasi, tetapi jika kita mau menengok sejenak ke berbagai konflik yang terjadi belakangan ini di sekitar kita. Apapun alasannya yang menjadi pencetus, -yang paling sering adalah masalah suku, agama, ras dan antar-golongan-, belum lagi bicara ideologi, membuat kita semua, mau tidak mau, terjebak pada terbukanya konflik. Dari yang kecil hingga besar. Yang mungkin awalnya hanya sebuah noktah friksi mini yang tak berarti, namun seakan mendapat bahan bakar yang mampu meledakkan dan membesarkannya menjadi musibah dan bencana.

Mahatma Gandhi masih mengukirkan banyak kalimat bijaksana dalam perjuangannya yang anti kekerasan dalam memelihara kedamaian. Darinya sudah sewajarnya kita mengambil pembelajaran agar kita semakin berpikir,

I object to violence because when it appears to do good, the good is only temporary; the evil it does is permanent

Bukankah para leluhur telah memperkenalkan kata itu, agar kita selalu sadar dan waspada. Eling. Karena sisi buruk itu selalu mahir menggoda, merayu dan menantang. Dan ia tak pernah berhenti. Membuat kita selalu berada di ujung tanduk, sangat rapuh dan fragile, untuk jatuh ke kubangan kekerasan, kekejian, kejahatan, keburukan dan serupanya.

Bukankah ‘lebih benar’, ‘lebih baik’, ‘lebih suci’, ‘lebih modern’, ‘lebih kaya’, ‘lebih tinggi’, ‘lebih sukses’ dan serupanya, terselip rasa yang amat menggoda?

Teringat saya pada Rumi, penyair sufi yang sangat terkenal dan berlimpah kata-kata bijaksana, juga kepada seorang guru yang mengagumi Rumi. Mereka berbicara hal yang serupa, mengenai ego untuk memelihara damai.

When you step down in the path of ego, means you step up in the path of God

Ah, kalimatnya amat jelas, semoga saja kita bisa belajar.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, danCerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-39 ini bertema Peace agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Ketika Rasa Kehilangan Mendera


 


November 2013 di Gayasan National Park, Korea Selatan 

Di musim gugur malam datang lebih cepat. Saya melangkah pulang mengikuti jalan setapak yang masih menanjak di tengah hutan, sendirian dalam kelam dan dingin. Manusia-manusia lain sudah lenyap dari pandangan, langsung masuk ke rumah setelah gelap datang. Apalagi mereka hampir semua tak bisa berbahasa Inggris. Saya hanya bisa mengira-ngira arah pulang ke terminal bus karena sebelumnya, seperti penumpang lain, diturunkan di tengah jalan dan bukan di terminal karena macet total akhir pekan. Saya menepis rasa takut yang terus menyerang, menahan airmata yang hampir jatuh, mencoba fokus dari kebingungan yang mendera. Praktis saya di ujung putus asa karena kehilangan arah

Akhir Tahun 2014 di Macau 

Di depan konter check-in hotel itu, muka saya langsung pias, -tak bisa melakukan open-deposit-, karena tak menemukan dompet di dalam tas meskipun isinya sudah dikeluarkan semua. Dompet saya hilang! Paniknya tak dapat dirangkai dalam kata-kata. Masih untung perempuan cantik di balik konter itu membolehkan saya sekeluarga memasuki kamar karena semua sudah dibayar lunas. Di dompet yang hilang itu tersimpan semua lembaran uang dengan nominal besar dan kartu-kartu kredit yang menjadi andalan kami untuk berlibur akhir tahun. Dan seketika liburan itu berada di ujung tanduk…

Desember 2015 di Hoi An, Vietnam

Pagi itu di tempat tidur seperti ada yang membangunkan saya untuk memeriksa kembali isi tas. Ketika saya melakukannya, saya tidak dapat menemukan paspor di tempatnya ataupun di tas lainnya! Seketika rasa dingin menyerang ke seluruh permukaan kulit. Setahun lalu dompet, kini paspor! Saya panik tapi mencoba berpikir dengan begitu intens. Membuat rencana. Siapa tahu paspor jatuh di jalan sepanjang malam sebelumnya, harus ke kantor polisi untuk melaporkannya, harus terbang ke Hanoi untuk laporan kehilangan paspor di Kedutaan Besar Indonesia, harus menyiapkan uang tambahan untuk penginapan di Hanoi dan yang pasti sisa liburan pasti berantakan hanya karena paspor tidak ada di tas! Saya mandi yang tak terasa mandi, rasanya lunglai tak berenergi…

 

Siapapun tak ingin menghadapi halangan saat melakukan perjalanan, apalagi saat bepergian ke luar negeri. Namun tak pernah ada perjalanan yang selalu sempurna tanpa halangan. Seperti yang saya alami di atas, mau tidak mau tiga situasi karena rasa kehilangan di atas dan penuh kebingungan harus saya hadapi.

P1030976e
Sign to Haeinsa

Seperti saat hendak pulang di Gayasan National Park, -setelah selesai berkunjung ke Kuil Haeinsa-, saya hanya bisa berjalan berdasarkan intuisi, -sungguh seperti meraba-raba dalam gelap-, berjalan terus tidak tahu apakah benar atau salah arahnya. Saya benar-benar di ujung rasa putus asa namun saya tak mau menangis dan menyerah kalah. Menangis tidak menyelesaikan masalah bahkan memperlemah diri di saat harus tegar menghadapi kebingungan. Saya harus kuat dan hanya bisa terus berdoa untuk ditunjukkan jalan.

Bagi yang pernah membaca Ziarah (The Pilgrimage) atau juga Brida, novel-novel karangan Paulo Coelho, rasanya saya menapaki apa yang disebut di buku itu sebagai Malam Kelam. Dan saya hanya bergantung perlindungan dan kasih sayang kepadaNya. Sungguh saya belajar sungguh-sungguh bergantung total kepadaNya, berserahdiri secara total kepadaNya, memohon pertolongan. Dan apa yang terjadi?

Dan kemudian Dia mengirimkan pertolongan melalui dua orang lanjut usia di sebuah pondok yang saya temui akhirnya di ujung jalan setapak yang saya lalui. Tanpa perlu mengerti bahasa Inggeris, mereka menangkap maksud “bus” yang saya ungkapkan. Mereka berdua, dalam udara dingin, berjalan sebentar lalu menunjukkan arah lampu untuk naik bus berada tempat yang saya harus ikuti (kata terminal itu misleading karena tidak ada bus, kalaupun ada hanya 1 bus). Bagaimanapun, kedua orang lanjut usia yang membantu saya adalah malaikat dalam wujud manusia yang saya temui di ujung rasa putus asa karena kehilangan arah.

*

Situasi serupa penuh dengan kebingungan terulang di Macau. Kali ini saya bertanggung jawab tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk seluruh keluarga juga. Di kamar saya diam seribu bahasa dengan tensi yang meningkat karena situasi yang dihadapi. Saya hanya minta bantuan kepada keluarga untuk mencari tahu nomor telepon hotel di Hong Kong yang pagi harinya kami keluar, nomor kapal ferry yang kami gunakan dari Hong Kong ke Macau, nomor masing-masing pelabuhan hingga nomor taxi yang kami gunakan di Macau.

wallet1

Tanpa menghitung biaya roaming, satu per satu saya menghubungi mereka semua dan semuanya mengatakan tidak ada dompet hitam milik saya. Ada yang penuh empati ingin membantu dengan memberikan nomor telepon tempat yang terkait, tetapi hasilnya sama saja. Tidak ada!

Situasinya sangat serupa, saya mencoba terus tanpa henti hingga ke titik ujung usaha dan akan masuk ke dalam situasi ‘lepaskan atau terjebak pada penghambaan benda’. Seakan diingatkan akan batas ini, saya meluruh dan akhirnya berserah diri. Jika benda itu memang ditakdirkan dipinjamkan kepada saya, ia akan kembali. Bila tidak, biarlah saya menghadapi situasi lain yang berbeda yang memang harus saya hadapi. Saat itu, saya memohon izin untuk satu kali lagi menelepon sebagai upaya terakhir kalinya sebelum saya lepaskan semuanya. Terakhir!

Di Macau itu, saya tak tahu harus menangis atau bahagia ketika suara di ujung telepon mengabarkan dia, petugas tiket ferry di Hong Kong, menemukan dompet dengan ciri-ciri yang sama dengan dompet saya!

*

Saya ingat pagi di Hoi An, Vietnam itu setelah mengubek-ubek isi tas dan mengitari kamar hotel tanpa menemukan paspor dimana-mana. Lenyap dari tempatnya. Rasa dingin seperti tahun lalu kembali menjalar ke seluruh tubuh. Saya duduk di tempat tidur, lunglai dan bertanya dalam hati kepada Dia. Sungguhkah ini? Mengapa Engkau senang sekali bergurau kepada diri ini? Jika setahun lalu dompet, kini paspor.

passport1

Saat itu, meskipun kehilangan paspor, meskipun rasa dingin menjalar ke seluruh tubuh dan memiliki plan A, plan B, plan C dan seterusnya untuk mengatasi situasi yang saya hadapi saat itu, ada rasa yang sangat berbeda! Jauh di dalam sana, saya merasa dicintaiNya, saya merasa disayang olehNya, saya berlimpah Kasih SayangNya. Ada ketenangan. Saya hanya diminta untuk percaya dan bersabar akan pertolonganNya. Sebuah rasa yang muncul dalam jiwa. Tidak pernah ada yang hilang, Dia menyimpannya untuk saya.

Tapi saya tetap manusia yang penuh tarik ulur yang hebat, yang merasa mampu mendapatkan hasil dari rencana-rencana yang dibuat. Dengan perang antara logika dan rasa, saya berangkat meninggalkan kamar dengan segudang rencana namun tetap percaya PertolonganNya akan datang. Help is on the way!

Berharap mendapat pertolongan pertama dari konter depan, saya mengungkapkan kehilangan paspor sambil mengatakan hendak check-out. Petugas itu lebih concern dengan informasi kehilangan paspor daripada proses check-out. Ia tampak berpikir sebentar, lalu berbalik mencari dokumen menginap di balik konter. Ia berbalik kembali menghadap saya sambil memperlihatkan folder transparan dengan paspor saya di dalam folder itu!

***

Siapapun tak ada yang suka mendapatkan halangan dalam perjalanan. Namun halangan ada, bukan tanpa tujuan. Halangan itu ada untuk kebaikan kita sendiri dan dapat menyempurnakan perjalanan, termasuk perjalanan hidup. Seperti musuh, dari halangan dan kesulitan, kita bisa belajar sangat banyak untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Yang kita perlukan hanya satu, berpegang pada Dia yang selalu ada untuk kita dimanapun kita berada, kapanpun. Selalu dan selamanya.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-36 ini bertema The Invisible Hand agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

What Will Your Legacy Be?


What we do for ourselves dies with us. What we do for others and the world remains and is immortal – Albert Pike

IMG_0192
White Lily

Mendadak belakangan ini saya digugah berulang kali oleh sepenggal kalimat yang dulu saya dapatkan dari seorang trainer. Sepenggal kalimat itu yang kini menjadi judul tulisan kali ini. What will your legacy be? 

Dan tepat sekali ketika sahabat saya mengangkat tema Bunga untuk tantangan Satu Foto Sejuta Cerita minggu ini. Karena apa yang menggugah saya belakangan ini, mengingatkan saya akan momen bunga itu. Bunga yang sebelumnya sama sekali tidak pernah saya tahu.

Saya tidak pernah lupa akan momen bunga itu. Dalam tidur, saya mendadak terbangun karena begitu jelas gambaran yang muncul di mimpi. Bunga itu, -yang belakangan saya tahu namanya adalah lily putih-, berada di atas peti mati coklat kehitaman! 

Seram kan? Jangan tanya peti mati siapa, karena saat itu saya sudah keburu bangun dan saya juga tidak mau tahu itu siapa. Tetapi bukan peti matinya yang begitu menarik perhatian, melainkan setangkai bunganya. Hanya setangkai bunga!

Dan akibatnya saya langsung mencari tahu tentang bunga itu, dan kini, saya tidak bisa menghindarinya. Setiap melihat bunga itu, -meskipun bunga itu cantik sekali-, saya selalu mengasosiasikan kepada sebuah kematian dan demikian pula sebaliknya.  

Nah kembali kepada yang menggugah saya belakangan ini, tentu saja berhubungan dengan yang namanya kematian. What will your legacy be? Dengan cara apa atau bagaimana sih kita ingin dikenang setelah kita mati? Uuugh…

Karena sesuai kata-kata Albert Pike di atas, apa yang kita lakukan untuk diri kita sendiri akan menghilang saat kita meninggal nanti, tetapi apa yang kita lakukan untuk orang lain, untuk masyarakat kebanyakan atau terlebih lagi untuk dunia, akan tetap tinggal dan tetap hidup meskipun kita sendiri telah meninggal dunia. Itulah legacy.

Terus terang apa yang saya lakukan masih terasa banyak sekali yang hanya ‘untuk saya’ atau paling tidak untuk orang-orang terdekat, dan bukan untuk masyarakat kebanyakan apalagi dunia. Dan meskipun kita semua memiliki waktu yang sama, 24 jam sehari, tetapi rasanya saya semakin kehabisan waktu. Saya masih banyak berhutang hidup.

Setiap hari, setiap detiknya, sadar atau tidak, kita semua sedang menuliskannya, dan bukankah setiap kali kita merayakan ulang tahun, sebenarnya waktu kita berkurang, semakin sempit untuk mengerjakan hal-hal yang harusnya kita lakukan agar terpenuhi keinginan itu sebelum sampai ke deadline.

Tapi biasanya kita berpikir… ah masih jauh, masih lama…

Padahal kita tidak pernah tahu kapan waktunya. Bisa memang masih lama, tetapi bisa juga setahun lagi, atau enam bulan lagi, atau bulan depan, atau bahkan lusa, bisa besok, atau bahkan bisa sejam lagi… Dan bahkan mungkin kita masih belum sempat berpikir bagaimana kita ingin dikenang setelah kematian kita, Malaikat Maut telah menghampiri kita.

Alangkah baiknya, selagi memikirkan bagaimana caranya kita ingin dikenang setelah kematian kita, kita bisa hidup dan mengisi hari-hari dengan berada di jalan atau melalui cara-cara yang kita ingin dikenang oleh mereka. Live the way you want to be remembered.

Mungkin juga seperti kita semua, paling tidak saya juga ingin dikenang baik, oleh karenanya saya berusaha hidup dengan baik, meskipun saya banyak kekurangan di sana-sini, namun saya berusaha selalu berbuat kebaikan.

Jadi, What will your legacy be? 

IMG_0111
White Flowers

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-26 ini bertema Flower agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Mimpi Dulu, Jalan Kemudian


Duluuu, setelah beberapa kali melakukan perjalanan ke Negara tetangga secara independen dan memiliki sedikit keleluasaan untuk membeli barang-barang yang saya suka, barulah saya mencicil membeli buku-buku panduan perjalanan yang harganya mahal itu. Alhasil sepanjang istirahat siang, biasanya saya habiskan di toko buku Kinokuniya di mall dekat kantor melihat-lihat buku yang menjadi target dibeli berikutnya. Sampai sekarang pun, saya masih suka kluyuran di tempat yang sama meskipun membatasi diri untuk membeli buku.

Saat itu, saya merasa sangat gembira ketika saya bisa membeli buku panduan travelling Lonely Planet’s South East Asia On A Shoestring – Big Trips on Small Budgets. Sangking gembiranya, saya menunjukkan buku itu ke Mama yang merupakan salah satu pendukung saya untuk melakukan travelling. Saya ingat beliau tertawa lebar ketika saya bilang, shoestring, Ma… alias ngirit banget, backpacking.

sealp2
Southeast Asia on a soestring

Buku 1004 halaman itu memberikan panduan cukup lengkap untuk melakukan perjalanan ke negara-negar di Asia Tenggara, yang mencakup Brunei Darussalam, Cambodia, East Timor (Timor Leste), Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Philippines, Singapore, Thailand dan Vietnam. Destinasi-destinasi yang ditulis dalam buku ini termasuk yang must-see, sehingga buku ini sangat berguna sebagai referensi jika saya sedang tidak ada waktu untuk riset perjalanan. Memang saat ini, buku saya itu sudah ketinggalan jaman dengan semakin banyaknya destinasi-destinasi baru di Negara-negara Asia Tenggara, tetapi bagi saya destinasi yang ditulis di buku itu tidak pernah habis dikunjungi.

Tidak hanya destinasinya, di dalam buku itu juga tersedia rekomendasi hotel, tempat makan beserta perkiraan harganya. Tapi biasanya, hotel-hotel atau rumah makan yang sudah tertulis di buku Lonely Planet ini, ketika didatangi harganya telah naik karena banyaknya peminat.

Ada salah satu yang saya suka dalam buku ini, di bagian belakang, selalu dijelaskan bahasa lokal masing-masing negara yang akan lebih baik dikuasai oleh si traveller untuk memudahkan relasi di tempat tujuan. Jadi buat saya, belajar satu dua kata setempat selalu bisa memenangkan hati penduduk dari negara yang saya kunjungi.

Kemudian, dengan semakin seringnya saya mengulang mendatangi negara-negara yang sudah pernah saya datangi sebelumnya, akhirnya saya membeli buku-buku perjalanan yang lebih spesifik pada Negaranya. Tidak hanya dari Lonely Planet, saya pun membeli dari DK Eyewitness Travel. Buku-buku panduan yang diterbitkan DK Eyewitness Travel ini tidak seperti Lonely Planet yang padat dengan tulisan, melainkan penuh gambar-gambar yang indah dan informatif, sehingga saya bisa lebih membayangkan bentuk dan situasi yang akan dihadapi nantinya. Bahkan di tempat-tempat tertentu yang memiliki banyak item-item yang harus dilihat, misalnya museum atau istana, diberikan ilustrasi lengkap dan informatif di setiap levelnya sehingga kita dapat menuju ke tempatnya dengan benar. Atau di dalam buku juga diberikan misalnya, rute jalan kaki dalam satu periode waktu, lengkap dengan tempat-tempat yang harus dilihat tanpa terlewatkan.

dklist
DK Eyewithness book list

Tetapi, saat saya berkeliling rak buku, tak jarang saya mengambil buku panduan perjalanan yang sama sekali saya belum tahu kapan akan perginya. Jika demikian, saya sedang menabung impian terlebih dahulu agar bisa jalan kemudian. Bagi saya, memiliki impian dan memelihara impian itu agar bisa bepergian, menjadi dasar terpeliharanya spirit jalan-jalan saya selama ini.

Tidak apa-apa belum bisa bepergian, yang penting mimpi dulu, jalan-jalan kemudian!

Jika saya belum sempat menginjakkan kaki ke Negara itu, minimal saya bisa corat-coret membuat itinerarynya. Biasanya saya memanfaatkan buku panduan perjalanan itu dan juga riset melalui google. Bagi saya, proses membuat itinerary sudah setengah melakukan perjalanan. Membayangkan keindahan tempat-tempatnya, mencari tiket termurah, membandingkan satu dengan yang lain, mencari penginapan dengan segala macam filter, mengalami euphoria akan bepergian, sibuk mengatur kecukupan uang, sibuk mencari transportasi dan seterusnya. Belum lagi rencana packing baju-baju, atau adrenaline rush yang mendadak timbul gegara travel buddies mendadak mundur satu per satu.

Ketika saya berkunjung ke Nepal pertama kali, itinerary yang sudah tersusun rapi per harinya malah tertinggal di Jakarta dan setiap harinya saya hanya berjalan berdasarkan ingatan saja, padahal Nepal terutama di Kathmandu, Patan dan Bhaktapur itu sangat luas dan cantik untuk wisata budayanya (sebelum gempa besar 2015). Berbeda dengan kejadian di Nepal, untuk bepergian di Myanmar dan Laos saat pertama kalinya, saya memang tidak menyusun itinerary yang detail melainkan secara garis besar dan kasar per hari saja.

lplist
Lonely Planet’s book list

Tetapi buku-buku panduan itu biasanya tidak pernah saya bawa saat travelling. Selain berat, buku itu menjadi distracting factor pada saat menikmati destinasi. Untuk apa baca buku di destinasi? Baca buku itu bisa di penginapan atau di pesawat atau bahkan baca sebelum pergi saja… Iya kan?

Dan seperti buku panduan Cambodia, meskipun saya sudah berkali-kali pergi ke sana, membaca lagi buku panduan itu bagi saya rasanya seperti menyiram bensin kepada api yang berkobar, selalu menambah semangat travelling. Dan itu menyenangkan dan menggembirakan.

Jadi, setiap pagi, saya senantiasa membuka satu atau dua halaman di buku panduan perjalanan yang selalu ada di dekat saya setiap pagi. Seakan menguatkan impian-impian untuk bepergian. Karena memiliki impian itu penting, sepenting melakukan perjalanannya.

Jadi kemana kita berikutnya?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-23 ini bertema Bookworm agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Blue Sky Over The Stupas


Blue Sky over the Stupas on Shwedagon

Rasanya saya tidak akan lupa momen itu. Momen berakhirnya perjalanan di Myanmar karena sesaat lagi saya harus meninggalkan tempat ini menuju bandara internasional Yangon untuk kembali ke tanah air. Saya ingin memeluk momen indah ini selagi bisa, sampai saatnya tiba untuk melepaskannya…

Meskipun masih banyak tempat menarik di Yangon yang belum sempat saya kunjungi tujuh tahun lalu, tetap saja saya memilih Shwedagon sebagai tempat mengakhiri perjalanan di Myanmar kali ini.

Tujuh tahun lalu saya ke Myanmar, saya menjadikan Shwedagon sebagai destinasi utama, menjadi alasan untuk datang ke Myanmar. Jika ingin tahu alasan utamanya bisa buka link ini. Dan kini, setelah kepergiannya, rasanya saya ingin memeluk kenangan itu selamanya, sepanjang saya bisa untuk berada di tempat yang mampu membahagiakannya.

Bisa jadi saya halu, kata anak-anak jaman now. Biar sajalah, karena bagi saya pribadi melakukan sebuah perjalanan bukanlah untuk berkompetisi dengan orang lain. Saya melakukan perjalanan karena ingin merajut tempat-tempat yang saya kunjungi menjadi rangkaian momen yang indah penuh makna dalam hidup. Juga saat ini, saat memeluk momen untuk mengakhiri sebuah perjalanan.

Ketika dulu, tujuh tahun lalu, saya penuh haru tapi penuh semangat bisa menjejak di tempat saya berdiri ini, kini saya juga diliputi haru namun berat untuk melepas. Sebuah rasa haru yang saling bertolak belakang berada di tempat yang sama.

Dan saat itulah, saya melihat ke puncak-puncak stupa keemasan dengan latar langit biru.

Seketika itu juga saya terperangah, memberikan kesadaran bahwa apa yang saya rasakan dulu dan apa yang saya rasakan sekarang semuanya relatif, namun yang pasti saya tetap sama. Berada di dalam naungan cinta tanpa syarat Sang Pemberi Hidup. Lalu mengapa harus merasa berat?

Ah, sambil tersenyum dengan kesadaran yang membahagiakan itu, saya melangkah ringan meninggalkan tempat itu.

*

By the way, since I’ve uploaded a picture of holy place in Myanmar and today is Vesak Day, let me wish for those who celebrate

Happy Vesak Day

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta,

May all beings be well, may all beings be happy and may all beings be free from suffering


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-19 ini bertema Blue Sky agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…