Blue Sky Over The Stupas


Blue Sky over the Stupas on Shwedagon

Rasanya saya tidak akan lupa momen itu. Momen berakhirnya perjalanan di Myanmar karena sesaat lagi saya harus meninggalkan tempat ini menuju bandara internasional Yangon untuk kembali ke tanah air. Saya ingin memeluk momen indah ini selagi bisa, sampai saatnya tiba untuk melepaskannya…

Meskipun masih banyak tempat menarik di Yangon yang belum sempat saya kunjungi tujuh tahun lalu, tetap saja saya memilih Shwedagon sebagai tempat mengakhiri perjalanan di Myanmar kali ini.

Tujuh tahun lalu saya ke Myanmar, saya menjadikan Shwedagon sebagai destinasi utama, menjadi alasan untuk datang ke Myanmar. Jika ingin tahu alasan utamanya bisa buka link ini. Dan kini, setelah kepergiannya, rasanya saya ingin memeluk kenangan itu selamanya, sepanjang saya bisa untuk berada di tempat yang mampu membahagiakannya.

Bisa jadi saya halu, kata anak-anak jaman now. Biar sajalah, karena bagi saya pribadi melakukan sebuah perjalanan bukanlah untuk berkompetisi dengan orang lain. Saya melakukan perjalanan karena ingin merajut tempat-tempat yang saya kunjungi menjadi rangkaian momen yang indah penuh makna dalam hidup. Juga saat ini, saat memeluk momen untuk mengakhiri sebuah perjalanan.

Ketika dulu, tujuh tahun lalu, saya penuh haru tapi penuh semangat bisa menjejak di tempat saya berdiri ini, kini saya juga diliputi haru namun berat untuk melepas. Sebuah rasa haru yang saling bertolak belakang berada di tempat yang sama.

Dan saat itulah, saya melihat ke puncak-puncak stupa keemasan dengan latar langit biru.

Seketika itu juga saya terperangah, memberikan kesadaran bahwa apa yang saya rasakan dulu dan apa yang saya rasakan sekarang semuanya relatif, namun yang pasti saya tetap sama. Berada di dalam naungan cinta tanpa syarat Sang Pemberi Hidup. Lalu mengapa harus merasa berat?

Ah, sambil tersenyum dengan kesadaran yang membahagiakan itu, saya melangkah ringan meninggalkan tempat itu.

*

By the way, since I’ve uploaded a picture of holy place in Myanmar and today is Vesak Day, let me wish for those who celebrate

Happy Vesak Day

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta,

May all beings be well, may all beings be happy and may all beings be free from suffering


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaA Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-19 ini bertema Blue Sky agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Momen Bertemu Kepala Negara


Hingga usia yang sudah boros ini, bisa dibilang saya memiliki kesempatan bisa bertemu dengan beberapa Kepala Negara atau Kepala Pemerintahan. Tentunya bukan pertemuan resmi, karena siapalah saya ini. Tentunya hanya sebuah kebetulan, karena waktunya bersamaan, di satu tempat yang sama. Tapi, benarkah kebetulan? Karena sesungguhnya tidak pernah ada kebetulan kan? There is no coincidence, everything happens for a reason… 🙂

3 Juli 2011.

Saya bertemu pertama kali dengan Raja Kamboja, His Majesty Norodom Sihamoni, dalam kesempatan peresmian Candi Baphuon setelah proses restorasi yang sangat lama.

IMG_4408e1
The King of Cambodia and The Prime Minister of France

Oleh karena proses restorasi itu Kamboja mendapat banyak bantuan dan dukungan dari Perancis, maka pada kesempatan yang sama itu, hadir pula Perdana Menteri Perancis, Mr. Francois Fillon yang bersama-sama Raja Kamboja menggunting pinta peresmian Candi Baphuon. Saat itu, saya sedang mengunjungi kompleks Angkor Thom dan akhirnya bisa berada di antara tamu resmi, penduduk asli dan pengunjung Candi Baphuon.

IMG_4499
Seconds after the moment

Bahkan saya mendapat kesempatan bisa berdiri di barisan terdepan dan langsung melihat Sang Raja yang membuka jendela mobilnya dengan jarak tak kurang dari 1.5 meter. Mungkin saya terlalu egois membiarkan mata saya sendiri yang menikmatinya dan baru mengabadikannya melalui kamera setelah Sang Raja melewati saya. Tetapi yang jelas rasa syukur saya, bisa bertemu dengan dua orang pemimpin negara dalam satu kesempatan itu, rasanya tak habis-habis.

30 Oktober 2011

Saya kembali ke Kamboja. Kali ini membaur bersama rakyat Kamboja di Phnom Penh dalam rangka peringatan ulang tahun Bapak Raja Norodom Sihanouk (saat itu adalah penampilan terakhirnya di muka publik sebelum mangkat setahun setelahnya pada tanggal 15 Oktober 2012).

 

IMG_0260
The King, King Father, The Queen

Dalam kesempatan pagi itu, saya dapat melihat langsung (meskipun dari jauh karena protokoler) Raja Kamboja Norodom Sihamoni, Bapak Raja Norodom Sihanouk dan Ratu Monineath serta Perdana Menteri Hun Sen dan hampir seluruh bangsawan dan petinggi pemerintahan Kamboja berada di panggung. Kesempatan pertama kali dapat melihat para bangsawan dan petinggi pemerintahan itu bagi saya sangat luar biasa, karena tidak semua rakyat Kamboja bisa mendapatkan kesempatan itu, apalagi orang asing seperti saya. Apalagi, ketika mengetahui bahwa saat itulah penampilan publik terakhir bagi Bapak Raja Norodom Sihanouk, yang dulu sangat dekat dengan Proklamator Indonesia, Bung Karno.

4 November 2017

Saya bertemu pertama kali dengan Raja Thailand Maha Vajiralongkorn, yang menggantikan Raja Thailand sebelumnya, Raja Bhumibol Adulyadej yang mangkat pada tahun 2016.

Kesempatan ini saya dapatkan ketika saya pergi ke Bangkok, dalam rangka melihat keindahan tempat kremasi Raja Bhumibol Adulyadej yang telah mangkat. Sore itu, saya dihentikan di trotoar sehingga tidak bisa masuk ke kawasan kremasi karena Raja Maha Vajiralongkorn masih berada di dalam. Bersama masyarakat lokal, saya ikut bersimpuh di trotoar jalan menunggu Sang Raja meninggalkan kawasan kremasi. Sayang, saya tidak punya fotonya karena protokoler di Thailand lebih keras daripada di Kamboja. Semua harus duduk di trotoar dan tidak boleh ada kamera mengarah pada Raja.

20 April 2019.

Sebagai warga negara Indonesia, seumur-umur saya belum pernah melihat Presiden secara langsung. Rasanya, selain tidak ada kepentingan, tentunya protokoler istana sangat membatasi. Tetapi sejak era Presiden Joko Widodo, yang dikenal sangat merakyat dan senang ‘blusukan’, sepertinya kesempatan untuk bertemu Presiden menjadi besar.

 

jokowi1

Kesempatan itu sampai juga, tanpa sengaja dan tanpa diniatkan. Saat itu kami sedang berjalan-jalan di Grand Indonesia dan mendadak di lantai di bawah kami terjadi keriuhan. Saya bertanya kepada pramusaji yang berada di dekat kami dan dia mengatakan bahwa RI-1 sedang berkunjung. Dan langsung saja saya sebisa-bisanya mendekat.

Saya melihatnya langsung, di antara ratusan orang yang begitu dekat kepadanya, meminta kesempatan berswafoto, di antara keriuhan namanya yang dielu-elukan. Situasi politik hari-hari belakangan setelah Pemilihan Umum 2019 memang saling bertolak belakang sehingga mungkin kehadiran Presiden di tengah rakyat membuat suasana yang berbeda, yang membuat nyaman dan aman serta adanya kepastian bagi sebagian orang.

*

Bagi saya, momen pertama kali melihat Kepala Negara atau Kepala Pemerintahan secara langsung, selalu memiliki sebuah kesan tersendiri. Jabatan mereka masing-masing melekat padanya dan tak bisa dilepaskan, tetapi ia tetap sebagai manusia biasa, yang tentunya ingin bersosialisasi dengan manusia lainnya, menganggap manusia lain penting dalam mengisi kehidupan pribadinya.

Sebagai pemimpin sebuah negara, baik dipilih rakyat atau karena garis darahnya, tentunya ia berharap bisa memberikan yang terbaik kepada rakyatnya, meskipun diantaranya pasti ada yang tidak suka atau juga mungkin karena batasan yang terbentuk karena jabatannya. Jika berpikir dari sisinya, meskipun batasan itu dihilangkan, bukankah kita tidak bisa memaksa orang lain selalu suka pada kita, kan? Tetapi apakah karena itu ia harus bertindak tidak adil? Sungguh tidak mudah untuk menjadi seperti mereka dengan tanggung jawab yang luar biasa besar terhadap kehidupan rakyat dengan begitu banyak keragaman.

Terlepas dari itu, selepas bertemu dengan Kepala Negara atau Kepala Pemerintahan, rasanya tak habis rasa ungkapan syukur saya kepada Yang Maha Kuasa. Mungkin tidak banyak orang yang bisa mendapatkan kesempatan untuk bertemu lalu berpikir itu. Jika sekali adalah sebuah keberuntungan, lalu apa artinya bila bisa mengalaminya berkali-kali. Saya memang tidak hanya beruntung, I’m blessed…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina, A Rhyme in My Heart dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-13 ini bertemakan First Time agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Kemudian Wajah Kita Menjadi Asing Satu Sama Lain…


IMG_0548

It is not our differences that divide us. It is our inability to recognize, accept, and celebrate those differences

(Audre Lordes)

Sejak tahun lalu, gejolak api untuk berseberangan pilihan semakin membesar. Padahal hari besar itu sesungguhnya merupakan sebuah pesta, sebuah perayaan akan kemampuan kita berdemokrasi. Semua dari kita yang memenuhi syarat, akan menentukan pilihan lalu menerima apapun hasilnya. Benarkah kita mampu menerima apapun hasilnya? Benarkah kita mampu menerima perbedaan?

Sejak tahun lalu, gejolak api untuk pilihan yang saling berseberangan semakin dikobarkan diantara kita, sehingga banyak dari kita ikut terbakar. Dalam pergaulan, tak jarang terjadi peristiwa yang begitu menyesakkan dan mengagetkan.

Rasanya saya tidak sendirian, karena saya percaya banyak terjadi juga dalam lingkup pergaulan kita semua. Seperti saya yang tergabung dalam sebuah WAG (WhatsApp Group) teman sekolah semasa kecil (SD dan SMP), -yang semuanya saya kenal sejak mereka kecil, masih menggunakan celana pendek, masih malu-malu ketika berdekatan dengan lawan jenis dan masih polos pemikirannya-, salah satu dari teman masa kecil ini mendadak left group karena merasa tidak sejalan lagi dengan teman-temannya semasa kecilnya itu. Hanya karena sebuah pilihan.

Dan tidak berhenti disana, ia pun meninggalkan group dengan kata-kata yang menghenyakkan. Hanya karena salah satu dari anggota group posting yang mendukung salah satu calon presiden. Namun ia telah menyamaratakan semua anggota group, yang mengenalnya sejak kecil. Bukan kata-katanya yang memedihkan hati, melainkan kepergiannya dari kami semua. Hanya karena sebuah pilihan.

Tetapi bisa jadi aktivitas di dunia maya membuat dirinya merasa tersudutkan. Ketika saya menjumpainya saat pemakaman Papa beberapa bulan setelah peristiwa left group itu, saya berhambur memeluknya, paham bahwa ia tak pernah meninggalkan saya.  Tapi bisa jadi, tak banyak yang seperti dia.

Karena di dunia nyata tidak jauh berbeda dengan dunia maya untuk masalah pilihan ini. Salah satu teman main semasa SMA, mendadak menjadi pendukung fanatik seseorang dari tim pemenangan salah satu calon presiden. Mendadak kami sebagai teman-temannya, -yang mengenalnya begitu dekat sejak masa sekolah, yang menjadi tempat curhatnya saat dia mengalami masalah dalam pernikahannya-, ditinggalkan olehnya demi seseorang yang baru ia kenal. Dia menjadi seseorang yang sangat berbeda, menjadi seseorang yang tidak kami kenal, seseorang dengan wajah asing. Bahkan kini, demi seseorang dari tim pemenangan salah satu calon presiden, dia kini menetapkan garis batas yang membedakan, yang memberi jarak antara kami dan dia.

Di lingkungan tempat bekerja,- meskipun pekerjaan berjalan biasa-, tetapi jika melihat dalam-dalam ke dunia media sosial dari rekan-rekan kerja, betapa berkobar api berseberangannya. Hanya karena sebuah pilihan.

Sekali lagi saya percaya, saya tidak sendirian. Bahkan di media massa pun berkisah, ada banyak dari keluarga yang seperti terperangkap oleh api pertengkaran. Ada banyak persoalan yang dihadapi teman-teman sekolah, ada banyak masalah baru ditimbulkan dalam lingkungan kerja, hanya karena sebuah pilihan.

Hanya karena sebuah pilihan, masing-masing dari kita menjadi begitu berbeda, menjadi seseorang dengan wajah asing, wajah yang seakan-akan tidak pernah dikenal.

Tanggal 17 April 2019 semakin dekat, semoga menjadi titik balik agar kembali seperti semula. Kita sesungguhnya hanya bisa berharap semua akan kembali damai, tanpa api yang membakar satu sama lain.

Namun, setelah banyak dari kita mengalami sendiri fenomena ini, sebuah pertanyaan muncul di benak apakah benar wajah kita masing-masing menjadi asing satu sama lain?

Ataukah mungkin,

Kita yang belum sungguh-sungguh mengenal diri sendiri sehingga tidak mampu menerima makna perbedaan?

*


 

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina, A Rhyme in My Heart dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-13 ini bertemakan Stranger agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Pindah, dari Akhir ke Awal


Life begins at the end of your comfort zone. – Neale Donald Walsch

30 Maret 2019, hari ke-100.

Masih jelas dalam benak momen itu, saya hanya bisa diam mematung, tak bisa bicara. Lagi pula tak guna lagi bicara, karena semua ada waktunya. Seperti sebuah potongan puzzle yang tepat menempati posisinya yang terbuka. Ini sudah jalannya.

Saat itu,

Semua orang sibuk, lalu lalang berbisik di belakang saya, entah untuk apa. Sebuah tangan terasa menepuk lembut di pundak, seakan memberi kekuatan jiwa. Tapi rasanya semua berupa maya.

Entah mengapa saya hanya diam dalam hening, hanya bisa menyadari situasi di muka. Entah siapa lagi yang sesungguhnya sadar situasi yang ada.

Akhir dari sebuah perjalanan dan sebuah perjalanan baru bermula.

Yang ada di depan saya hanya sebuah sisa, dari sebuah akhir.

Sebuah milestone, sebuah gerbang telah terlewati

Sebuah awalan baru, bermula

*

Hingga kini, saya tak lupa momen itu.

Saat itu, hanya sebuah momen yang menggegarkan jiwa. Bagi yang menyadarinya, ada momen mikro yang serupa sepanjang masa, hanya bagi yang menyadarinya. Sebuah awalan yang memiliki akhir dan sebuah akhir yang bermula.

Dengan keterbatasan kemanusiaan saya, hanya bisa diam mematung menghadap sisa. Suatu saat nanti, saya, juga Anda, akan menjadi sisa, sama seperti dia.

Hari ini, keseratus kali sang surya membuka cerita.

Sebuah akhir, sebuah awal, sebuah akhir, sebuah awal…

Kita sesungguhnya senantiasa berpindah.

Al Fatihah.

jerpur


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina, A Rhyme in My Heart dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-12 ini bertemakan Berpindah agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Spring, A New Beginning


Spring is a time to find out where we are, who we are and move toward where we are going to.

DSC07104
Colorful flowers in spring time

Memaksakan menggenggam sesuatu yang seharusnya dilepas, akan membuat diri kita menderita. Karena Semesta menginginkan kita memiliki hal lain, yang mungkin hanya bisa didapat jika kita melangkah ke depan, berpindah tempat dari posisi sekarang. Kita akan menjadi terbarukan yang lebih baik daripada sekarang.

Dan apa yang kita genggam itu, bisa jadi Semesta juga akan membarukannya, menjadikannya lebih baik. Jika memang demikian, kita telah berbuat jahat jika kita menggenggamnya terus. Lagi pula, bagaimana kita bisa menggengam yang baru jika kita masih menggenggam yang lama?

Dan pastilah kita akan menderita jika memaksakan diri menggenggam sesuatu yang seharusnya dilepas. Karena semuanya yang berada dalam genggaman merupakan pinjaman, yang sepenuhnya bukan milik kita, yang suatu saat harus dikembalikan kepada Pemiliknya. Lalu apa sebutannya bila kita memaksa diri untuk memiliki yang bukan lagi dipinjamkan untuk kita?

Musim semi, atau yang sering kita kenal dengan spring, adalah waktu yang tepat semua awalan baru, meskipun kita berada di tempat yang tidak mengenal musim semi. Mulai melangkah menuju yang yang lebih baik merupakan sebuah kesadaran, mulai melepas sesuatu yang berada dalam genggaman agar semuanya menjadi lebih baik, merupakan sebuah kesadaran.

Melepas dan melakukan langkah pertama itu tidak mudah, tidak semudah berbicara. Namun bila kita terus berpikir bahwa semua ini untuk kebaikan semua pihak, yang berasal dariNya, kita akan dibantu olehNya. Bukankah, kupu-kupu indah berasal dari ulat yang berdiam lama dalam kepompong lalu mengalami kesulitan ketika keluar dari kepompong itu?

Dan perjalanan singkat akhir pekan kemarin di musim semi, -yang tidak dikenal di Indonesia-, bagi saya merupakan sebuah perjalanan melepas, sebuah awalan baru, sebuah langkah baru.

Ke arah yang lebih baik.

Singapore, 24 Maret 2019.

Every new beginning comes from some other beginning’s end. (Seneca)

 

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina, A Rhyme in My Heart dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-11 ini bertemakan Spring agar kami berdua terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Kita Pernah Berjumpa…


We don’t meet people by accident. They are meant to cross our path for a reason.

Begitu banyak pembelajaran yang saya terima ketika bertemu dengan dirimu, meskipun kita tak sempat bertukar sapa, bertukar nama atau bahkan kadang saya pun tak sempat mengabadikan dalam rupa. Tetapi selalu ada berjuta pesan dan kesan yang tertinggal di dalam jiwa, dari para perempuan yang saya temui di berbagai negara.

ThemeParkWomen
Smiles for The Disneyland Visitors

Saya tak pernah lupa, dirimu yang selalu menghias wajah dengan senyum, untuk memberi rasa gembira bagi para pengunjung taman hiburan. Tak peduli rasa yang jauh tersembunyi di dalam hatimu, tetapi ketika waktunya tiba, saat parade itu, senyum harus menghias di wajahmu, tak peduli panas, tak peduli hingar bingar suasana, namun senyum harus ada disana. Di wajahmu. Karena rasa gembira itu menular…

Saya juga tak pernah lupa dirimu yang sendiri maupun bersama-sama tampil dalam sebuah acara, membuat sebuah kekaguman tersendiri. Dengan gemulai, segala keindahan dirimu terpancarkan, membentuk sebuah harmoni bersama alam sekitarnya. Bukan sekedar dari raga, melainkan memancar dari dalam jiwa. Sejatinya dirimu adalah keindahan dan keindahan adalah dirimu. Bukankah Dia Pemilik Semesta menciptakanmu dengan segala keindahannya?

Namun ada juga dari dirimu yang lain yang berlomba memperindah raga, lupa pada jiwa. Atau memperindah jiwa, lupa pada raga. Boleh jadi saya juga termasuk didalamnya yang masih belum memikirkan keseimbangan yang terjaga. Betapa saya harus banyak berharap ilmu darimu.

Dan saya tak pernah mengabaikan ada seraut wajah yang juga berhias senyum, berhias pakaian menyejuk mata, yang berjalan kesana-kemari diantara para tamu, berfoto bersama, tak jarang ada tangan-tangan tak ramah menyentuhnya.

Namun dirimu dengan ramah menghindar tanpa menghadirkan friksi didalamnya, tetap dengan senyum menghias di muka. Dirimu menunjukkan kekuatan sekaligus kehalusan dirimu sebagai makhluk di bumi, untuk mengatakan ‘tidak’ pada sesuatu yang tidak sepantasnya. Karena masih banyak perempuan yang perlu belajar dari dirimu, bisa juga termasuk saya, yang tak mampu melakukan hal itu, yang hanya bisa menyerah pada keindahan kepalsuan.

Kemudian di banyak negara, saya belajar banyak dari dirimu yang lain, yang telah menabung setiap uang yang dihasilkan dari peluh yang jatuh, koin demi koin, lembar demi lembar. Ada darimu yang menunjukkan sebuah proses atas sebuah karya, sebagian yang lain memberi hiburan dengan denting suara. Dirimu telah memberikan sebuah upaya kerja. Sebuah talenta yang memerlukan masa tersendiri, dan yang tak semua orang bisa.

Namun tak jarang orang yang berkunjung, mungkin juga termasuk saya, hanya melewatimu tanpa seungkap kata terima kasih atau sederhananya senyum tulus atas bagian yang telah dirimu berikan. Kadang bahkan melihat pun tidak, apalagi melepas sedikit dana. Apa susahnya mereka, juga saya? Tidak adakah sedikit keleluasaan dibandingkan dengan dirimu? Bukankah sedikit itu tak mengapa, karena disana terletak kasih antar sesama, apalagi sesama perempuan, sebagai penghargaan atas sebuah upaya dan kerja. Karena kata orang-orang bijak terdahulu, bahwa dengan sedikit cinta itu kita tak pernah tahu bisa terselamatkan dari suatu marabahaya, nanti… suatu ketika.

Dan ketika saya melangkahkan kaki ke satu sudut dunia, terlihat sebuah gambaran yang sungguh memedihkan rasa. Saya percaya di sudut-sudut lain di dunia, masih banyak dari dirimu yang serupa, yang benar-benar memerlukan doa dan bantuan. Karena masih ada dirimu yang mengerahkan semua kekuatan raga agar bisa hidup seadanya dan masih jauh di bawah garis sejahtera.

Dan bahkan setelah kerja luar biasa itu, dunianya tetap mengharuskan dirimu berada di kegelapan belakang sana, mempersiapkan segala sesuatu untuk bisa dimakan bersama, tetap menjadi nomor dua atau tiga, setelah yang utama menikmatinya. Juga membiarkan dirimu bekerja hingga garis-garis tua memenuhi wajah demi hidup agar sejahtera. Mungkin ini sebuah tradisi yang sudah bukan masanya, tetapi tetap masih ada. Meskipun berbagai suara mengatakan ini hanya mengada-ada, tapi bagaimana tidak ada, jika terlihat di depan mata?

Dan betapa saya masih harus banyak belajar darimu mensyukuri berkah dan anugerah berlimpah bisa memiliki keleluasaan, untuk menjadi diri sendiri sekaligus bisa berbuat kebaikan bagi sesama. Memiliki kedamaian hati melakukan sesuatu untuk kepercayaan yang diyakininya. Melakukan dengan kerelaan dan ikhlas seperti membersihkan tempat ibadah, atau mengenakan pakaian sesuai kepercayaannya. Atau membina relasi sosial bersama tetangga atau sanak saudara yang tinggal di dekat rumah, bertukar cerita bersama anak dan keluarga. Sesederhana itu…

Bukankah dirimu juga ditakdirkan sebagai manusia sosial yang suka bercengkrama? Saling bertukar cerita dengan kehangatan yang sama, baik itu keluarga atau sahabat sepermainan. Mencurahkan rasa, baik susah maupun gembira, dengan rasa yang sama, hangat dan penuh empati rasa, karena demikianlah para perempuan yang mulia.

Dan saya perlu terus belajar darimu yang telah menapaki masa-masa berat yang tak mudah, yang menjaga agar tetap mulia hingga akhir masa dirimu, terus berkarya, terus bermakna bagi banyak jiwa, bukan hanya untuk keluarga dan dunia melainkan utamanya hanya untuk Dia Pemilik Semesta.


Pos ini ditulis dalam rangka hari Wanita Internasional (International Women’s Day) yang diperingati setiap tanggal 8 Maret dan juga sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina & A Rhyme in My Heart, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-9 ini bertemakan Wanita, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

 

 

 

 

 

 

Taman Hati Nirmala, Mungkinkah?


dsc02444
White Flower

Di Garden By The Bay Singapore, saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di tempat itu, terutama di Flower Dome, hanya untuk menikmati semua bunga yang ada. Dua kali saya kesana, dua kali keluarga seperjalanan menunggu dengan ‘sedikit’ tidak sabar atas kegemaran saya menikmati bunga karena hampir setiap jenis bunga saya foto. Dua kali kesana, dua kali mengalami matahari masih bersinar saat masuk dan sudah gelap saat saya meninggalkan Flower Dome

Walaupun saya tidak tahu namanya, saya sungguh menikmatinya. Seperti bunga-bunga yang berwarna putih ini. Ditampilkan dalam kelompok anggrek, saya dibuat cukup terpukau dengan kondisi helai bunga yang sangat bersih. Entah kenapa, di benak saya terbersit sebuah pertanyaan, apakah hati manusia mampu seputih dan sebersih helai bunga ini. Bisa dikatakan, helai bunga itu bersih, tanpa noda, tanpa cela. Nirmala!

Manusia, selama hidup, pastilah mengalami dinamika kehidupan termasuk menumbuhkan rumput-rumput negatif diantara bunga-bunga indah dalam taman hatinya, sehingga menurut saya, sangat sulit memelihara taman hati menjadi nirmala, walaupun semua orang menginginkannya.

Seperti yang sering terjadi dalam travelling, kita (baca; saya) selalu dipertemukan dengan ujian-ujian yang kategorinya memelihara taman hati. Saat melihat petugas bandara yang tidak profesional dalam melayani, mereka malah ngobrol dengan teman-temannya di kala mereka seharusnya bekerja, kadang membuat pikiran ini tidak lurus. Atau melihat pramugari dengan pakaian kerjanya yang terlalu ketat sehingga membentuk bagian tubuhnya yang tidak ideal, menimbulkan opini yang tidak seharusnya di benak saya. Apalagi jika mereka bekerja dengan muka masam!

Belum lagi dengan sesama penumpang, terutama Indonesia, yang menurut saya paling parah dalam hal mengambil jatah ruang bagasi kabin. Tak peduli bagasi kabin orang lain yang membutuhkan juga, mereka ambil asal bawaannya yang segambreng bisa masuk kabin! Apalagi jika bepergian dalam rombongan besar, hampir bisa dipastikan mereka saling mendukung saat bicara dengan volume tinggi. Pernah suatu ketika di Kuala Lumpur saat antri hendak boarding pesawat ke Jakarta, mereka yang tidak sabar, mengkritik petugas maskapai yang bicara menggunakan bahasa Inggris. Mereka bicara dengan keras dalam Bahasa Indonesia, berteriak, dari bagian belakang hingga terdengar oleh saya yang ada di depan. Hanya karena mereka tidak paham bahasa Inggeris, mereka berteriak agar petugas menggunakan Bahasa Indonesia! Di Kualalumpur! 😀 Ini ujian hati kan?

Belum lagi, dengan destinasi tujuan. Jika harapan terlalu tinggi, dan dikecewakan karena obyek wisatanya tidak sesuai harapan, situasi hati bisa berubah. Kadang budaya orang lokal yang tidak sesuai dengan budaya kita, membuat kejutan yang bisa mengubah rasa. Buat saya, menata harapan sebelum berangkat itu harus selalu dipegang agar bisa menata hati supaya bersih.

Apalagi mengalami peristiwa buruk di tempat tujuan. Saya pernah mengalami kehilangan dompet di Hong Kong dan baru sadar di Macau saat hendak check-in hotel (baca cerita disini), atau perlakuan tidak ramah sopir taksi di Gyeongju atau tipu-tipu menyebalkan dari tour arranger di Nepal. Peristiwa-peristiwa itu pasti menumbuhkan bibit negatif di benak saya saat terjadi, namun Alhamdulillah selama ini bisa dinetralkan dengan baik. Buat saya, selalu berdoa dan berserahdiri padaNya pada setiap situasi, menyelamatkan saya dari pikiran-pikiran negatif. Juga rasa syukur kepadaNya bisa mencapai destinasi yang diimpikan merupakan penyeimbang kejutan-kejutan yang muncul. Memperpanjang sabar dan meningkatkan empati memang perlu dilakukan agar tetap ‘waras’ selama travelling.

Pada akhirnya menyempatkan diri selalu berpikir positif selalu membaikkan. Bibit pikiran positif akan menghasilkan bunga-bunga indah dalam taman pikiran dan hati. Kita semua berharap punya taman pikiran menjadi nirmala yang bersih dari penyakit, tak bercela, kan?

dsc02726

*****

Pos ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Celina dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-2 ini bertemakan Nirmala, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Berjuta Kenangan Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik


Jumat, 21 Desember 2018,
13:35
Teman-teman sekantor merayakan ulang tahun sekretaris dengan gembira, riuh mendatangkan  kue mengumbar nyanyian
13:37
Masih dalam suasana riang gembira, saya sempat membaca ada panggilan tak terjawab dari rumah mama, namun belum sempat menelepon balik, sudah ada telepon lagi dari rumah mama. Saya menjawab tetapi suara saya sepertinya tak terdengar di ujung sana. Saya tak menutup tetapi telepon di ujung sana akan ditutup. Tetapi sebelum ditutup, terdengar suara mama menangis. Bresssss… terasa semburan hawa dingin tak nyata di sekujur tubuh.
13:38

Cepat saya menelepon rumah Mama, Mas No, perawat Papa yang mengangkat, menyampaikan permohonan untuk segera pulang. Something is very wrong, Saya memaksanya menceritakan fakta sesungguhnya karena saya tidak suka dengan harapan palsu. Dan saya tak akan pernah lupa suara Mas No yang menyampaikan berita itu, “Sudah tidak ada, mba”
Innalillahi wainna ilaihi roji’un…

jp1
A sunset view from Father’s Cemetary

Kahlil Gibran menitipkan pesan indah, ketika kita bercengkrama dengan kebahagiaan di ruang tamu, sesungguhnya kesedihan sedang menunggu dengan sabar di pembaringan. Lalu, mampukah saya berpeluk mesra dengan kesedihan, -semesra saya memeluk kebahagiaan-, saat kesedihan menggantikan tempat kebahagiaan? Nyatanya roller-coaster hidup ini menghias keseharian saya dalam bulan Desember 2018 ini.

Desember pekan pertama, bahagia dan bangga menyelimuti, melihat ananda berbalut toga wisuda yang dilanjut adiknya yang turut berlomba antar negara. Minggu selanjutnya mata dan hati saya berbinar memeluk bahagia dapat melampaui ulang tahun berumahtangga untuk kesekian kalinya.

Dan pekan berikutnya, kesedihan datang dengan cepat, menukar tempat bahagia.

Jumat siang yang indah itu, Papa kembali kepadaNya untuk selama-lamanya. Begitu cepat dan dimudahkan semua prosesi kembalinya. Hanya enam jam setelah tarikan nafas terakhirnya, almarhum Papa telah dibaringkan dalam kuburnya.

Kematian…
Sebaik-baiknya saya mempersiapkan hati, sejatinya tak pernah 100% saya siap menghadapinya. Kepergian Papa mampu membekukan saya, dinding-dinding tebal emosi terbangun sangat tinggi, melindungi hati duniawi, menangisi dia yang pergi.  Tak banyak yang melihat saya dengan airmata berlinang, sebagian mereka hanya melihat senyum datar terkembang, walau di dalam, saya tertatih menata rasa.

Papa adalah pahlawan, bagi saya, keluarga dan Negara. Mama bercerita, saat itu, kesatuan dan keutuhan Negara diragukan, Papa maju dengan risiko kehilangan nyawa dalam kegelapan laut nun jauh disana. Dengan keahlian ilmu dan ketrampilan yang dimilikinya, dalam gelap ia memberi supply bahan bakar untuk mendukung Angkatan Laut Republik Indonesia membela Negara. Papa adalah senoktah kecil peran bela Negara.

Papa, bagi saya, adalah teladan keikhlasan dan berserah diri. Tak pernah segan ia membagi yang dimiliki, tak henti ia membagi ilmu selama mampu. Bahkan setelah stroke, dengan fisik tertatih ia masih memberi pelatihan di luar kota Jakarta bahkan di luar pulau Jawa. Untuk semua yang telah ia berikan, tak pernah sekalipun ia meminta balas. Ia ikhlas atas semuanya. Juga tipu daya dan khianat yang dilakukan sebagian dari mereka yang pernah menerima dari Papa. Ikhlas yang tak bertepi.

Papa, pria pertama yang mencintai saya, -anak perempuan satu-satunya-, dan selamanya cintanya menggema.

jp2
View from Father’s cemetary

Walau tertatih rasa, saya percaya, dalam setiap peristiwa tersebar sidik-sidik jari Yang Maha Kuasa; terutama dalam kematian, sebuah peristiwa dengan bimbinganNya yang begitu nyata. Kesedihan yang mengekor dari peristiwa kematian, bersama-sama menjadi guru pembimbing hidup. All are sent as guides from beyond. Semua itu hadir membawa kekuatan pemurnian jiwa yang tak ada dua. Seperti Candradimuka yang melahirkan manusia-manusia utama.

Dan demikianlah saya. Berjubah kegelapan, duka itu menyelimuti saya. Ya, kegelapan yang mampu menyembunyikan benda-benda di alam nyata, tetapi saya belajar, kegelapan tak mampu menyembunyikan cinta. Sesungguhnya cinta memendarkan keajaiban kemana-mana, kesegala penjuru dunia, ke tempat yang paling tersembunyi hingga alam Semesta. Cinta menembus ruang dan waktu, menembus kegelapan, dan bahkan kematian.

Rencana indah ke negeri Sakura esok harinya telah saya batalkan sejak detik pertama mendengar berita kepergian Papa. Tetapi Cinta mampu mengubah semua, di atas pusara Papa malam itu juga. Sebuah rencana yang sudah dibatalkan menjadi nyata harus dijalankan.

Ya, kurang dari dua belas jam setelah Papa berada dalam pembaringan abadinya, dengan berbagai rasa saya sudah terbang mengangkasa menuju negeri yang Papa cinta sejak lama. Gen-gen cinta dari Papa sebagai Pejalan, memberi semangat untuk tetap melangkah. Move forward, apapun yang terjadi. Dan saya hampir tak percaya, saya sungguh berdiri di sana, bersama cinta Papa akan negeri Sakura.

Lalu bukankah duka selalu beralih rupa dengan sukacita?

Tiga hari setelah kepergian Papa, di sana, di negeri yang Papa cinta, saya berulang tahun. Sebuah peristiwa untuk mengingat usia yang berkurang di dunia. Tapi bagi Papa, ulangtahun anak perempuan satu-satunya tetap sebagai peristiwa bahagia dan saya menghidupkan kenangan bahagia untuknya. Di benak saya jelas tergambarkan bagaimana ia mengumbar senyum dan tawa bahagia.

krans
Flowers

Kehadiran cinta Papa, yang telah melewati pekatnya gerbang kematian, menembus batas kematian itu. Saya percaya di setiap sudut kehidupan saya selanjutnya dan selamanya, kenangan dan cinta Papa akan hadir untuk saya serta menjadi jembatan kehidupan yang membaikkan.

Karena sejatinya, sesuai keindahan pesan yang dititipkan oleh Kahlil Gibran,
Kenangan adalah anugerah Tuhan yang tidak dapat dihancurkan oleh maut.

Kini sekembali dari Negeri Sakura, saya kembali menyambangi pusara Papa, hari demi hari, bersamaan dengan meniti kehidupan yang terus berlanjut. Dan karena harum Tahun Baru 2019 masih terasa, saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan membiarkan kenangan-kenangan menjadi kunci, -bukan ke masa lalu-, melainkan untuk ke masa depan yang lebih baik.

Selamat Tahun Baru 2019.