Sedikit Bingung di Budhanilkantha


Dalam salah satu perjalanan ke Nepal, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi sebuah situs suci yang tak jauh dari Kathmandu. Namanya Budhanilkantha, yang terletak di kaki Bukit Shivapuri, sekitar 10 km dari pusat kota Kathmandu. Tempat ini menarik karena letaknya di luar jalur turis asing sehingga aura tradisional lebih mengisi suasana tempat yang sebagian besar hanya didatangi oleh penduduk lokal.

Awalnya, saat pertama kali mendengar namanya yang mengandung kata Budha, saya mengira tempat ini merupakan situs suci umat Buddha. Apalagi di Nepal, kehidupan umat Buddha dan Hindu berjalan berdampingan secara harmonis. Tapi ternyata saya salah seratus persen karena Budhanilkantha sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama Buddha. Situs ini justru merupakan situs suci agama Hindu.

Budhanilkantha

Jadi sebenarnya Budhanilkantha merupakan tempat pemujaan suci yang berisi patung Dewa Wisnu berbaring sebagai Narayan di atas gelungan ShesaNag (Naga/Ular kosmik berkepala banyak) yang berada di permukaan air kolam sepanjang 13 meter, seakan-akan air itu adalah lautan kosmik. Pahatan patung yang terbuat dari batu basalt utuh berwarna hitam ini merupakan pahatan terbesar dan terindah di seluruh Nepal. Uniknya, -dan cukup membingungkan-, konon patung dari batu basalt hitam itu dipercaya dibuat dari abad ke-7 atau 8 meskipun tempat asalnya tak pernah pasti. Bisa jadi, batu itu didatangkan dari luar Kathmandu Valley karena tak mungkin sebuah batu terpahat indah itu tiba-tiba muncul di tempatnya, kan?

Sore itu ketika sampai di Budhanilkantha, saya terpesona dengan keindahan pahatannya meskipun saya menyaksikan dari bagian luar pagar yang mengelilingi kolam (hanya mereka yang beragama Hindu dan akan melakukan persembahan atau pemujaan yang bisa menyentuh patung atau ke altar). Patung itu sungguh besar, sekitar 5 meter panjangnya, hampir mencapai setengah ukuran kolam yang panjangnya sekitar 13 meter. Sebuah payung segi empat berwarna kuning berumbai tampak menutupi tempat pemujaan itu dari hujan.

Patung Dewa Wisnu sebagai Narayan itu berbaring membujur ke arah Barat dengan kaki bersilang. Mahkotanya berwarna putih silver dipasangkan menindih mahkota asli hasil pahatan pada batu. Ke empat tangannya menggenggam semua benda perlambang kedewaannya. Cakra yang mewakili pikiran, cangkang keong laut yang mewakili empat elemen utama, bunga lotus membulat yang mewakili alam semesta yang terus bergerak dan gada yang mewakili pengetahuan purba. Dan sebagai pemuja setianya, SeshaNag atau kadang disebut juga Ananta Sesha, – sang Naga kosmik berkepala banyak-, menggelungkan tubuhnya menjadi tempat pembaringan Dewa Wisnu dan kepalanya yang berjumlah sebelas itu tampak memayungi kepala Dewa Wisnu. Selembar kain berwarna kuning menutupi tubuh patung Dewa Wisnu dengan berbagai rangkaian bunga marigold sebagai persembahan pemuja yang diletakkan diatasnya.

Sleeping Vishnu on Ananta Shesha
Budhanilkantha, from diffent angle

Tempat pemujaan ini memang keren, tetapi tidak bisa menghilangkan berbagai pertanyaan yang membingungkan di benak saya. Baiklah, ini bukan tempat suci Buddha, melainkan Hindu. Tetapi mengapa namanya Budhanilkantha? Apakah karena Buddha yang dipercaya oleh sebagian umat Hindu merupakan reinkarnasi Dewa Wisnu? Lalu mengapa di sini tempat pemujaan Dewa Wisnu dan bukan Dewa Siwa yang biasa dikenal sebagai Sang Nilakantha? Namanya sungguh membingungkan!

Ternyata, Budhanilkantha secara harfiahnya berarti “tenggorokan biru yang tua” (budha, -bukan buddha-, berarti tua) dan nilkantha (atau nilakantha, -sebuah gelar yang mengacu kepada Dewa Siwa-, telah disandangkan di tempat ini untuk Dewa Wisnu. Bisa jadi karena dalam banyak periode masyarakat Nepal merupakan pemuja Dewa Wisnu sebagai Dewa Utamanya.

Ternyata menarik juga untuk mengetahui legendanya, apalagi kalau sampai tambah membingungkan 😀 😀 😀

Mitos nilkantha atau tenggorokan biru Dewa Siwa merupakan kisah favorit di Nepal. Ingat dong kisah Samudra Manthana atau The churning of The Ocean of Milk, saat para dewa mengaduk lautan yang secara tidak sengaja mengeluarkan racun yang bisa menghancurkan dunia. Mereka memohon kepada Dewa Siwa untuk menyelamatkan dari kesalahan yang fatal ini, dan pada akhirnya Dewa Siwa menyanggupi dengan meminum racun itu. Dewa Siwa yang sangat kesakitan karena tenggorokannya terbakar oleh racun itu, pergi ke pegunungan di utara Kathmandu. Lalu dengan trisulanya, Dewa Siwa menghantam lereng gunung yang menghasilkan sebuah danau. Air dari danau itu, Danau Gosainkund, menjadi obat atau pendingin pada tenggorokannya sehingga penderitaannya berakhir kecuali sebuah bercak biru menghias di tenggorokannya (nilakantha).

Dan kaitana Budhanilkantha dengan mitos itu, ternyata air yang berada di kolam tempat Dewa Wisnu berbaring ini diyakini berasal dari Danau Gosainkund yang terletak di ketinggian 4380 mdpl itu (Danau suci ini merupakan salah satu pemandangan terindah jika melakukan Gosainkund trekking). Tetapi saya tak bisa mengabaikan, jarak Budhanilkantha dan Danau Gosainkund itu jauh sekali dan melewati bukit. Jadi bagaimana air Danau Gosainkund bisa sampai ke Budhanilkantha ya? Pemikiran yang mempertanyakan ini menambah kebingungan saja 😀 😀

Dan konon, image Dewa Siwa berbaring dapat disaksikan di bawah air saat festival tahunan Dewa Siwa! Meskipun ada legenda lain yang mengatakan bahwa patung Dewa Siwa yang serupa Dewa Wisnu ada di bagian bawah patung. Mana yang lebih bisa diterima akal? Tetapi yang pasti saya menelan saja dua legenda itu, daripada tambah bingung kan… 🙂

Lalu ada lagi kisah asal patung Budhanilkantha….

Kisah versi pertama, konon, patung itu dipahat lalu dibawa (lagi-lagi tidak jelas, apakah oleh para pemuja Dewa Wisnu atau oleh para budak) ke tempat sekarang ini di Lembah Kathmandu, pada abad ke-7 ketika lembah Kathmandu di bawah kekuasaan raja dari wangsa Licchavi yaitu Bhimarjunadev.

Dan versi yang lain mengisahkan, seorang petani dan istrinya yang memiliki sebidang pertanian, suatu hari sedang mengolah tanah mereka termasuk mencangkul tanahnya. Tanpa sengaja alat yang digunakan mereka menumbuk sebuah batu yang diikuti oleh keluarnya darah dari tanah. Kegemparan itu bertambah karena akhirnya diketahui bahwa patung Dewa Budhanilkantha yang hilang telah ditemukan kembali lalu ditempatkan di lokasi yang seharusnya.

Jadi patung itu asalnya dari mana? Mungkin jawaban pastinya adalah… entahlah… 😀

Dan masih ada cerita yang agak klenik dan supranatural lho…

Raja-raja Nepal, terutama dari Dinasti Malla setelah abad ke-14 memulai klaim diri sebagai reinkarnasi dari Dewa Wisnu dan berlanjut terus. Bahkan di abad 17, Raja Pratap Malla yang konon memiliki kemampuan supranatural dan sering mendapatkan penglihatan, memberitakan sesuatu yang meyakinkan namun sedikit mengerikan, yaitu jika Raja Nepal mengunjungi kuil Budhanilkantha, maka setelah meninggalkan Budhanilkantha, kematian segera menyongsong! Serem banget kan??? Oleh karena itu, hingga berakhirnya penganugerahan gelar sebagai Raja, Raja Nepal yang beragama Hindu tidak pernah mengunjungi kuil Budhanilkantha tersebut, apapun alasannya. Daripada terlalu cepat mangkat padahal masih banyak yang harus dinikmati, mungkin begitu pemikirannya…

Hari semakin sore ketika saya selesai mengelilingi tempat pemujaan yang berpagar tembok sebagian itu. Pikiran saya melayang-layang. Sebagai tempat suci Hindu, apalagi dengan keutamaan Dewa Wisnu yang berbaring, tentu Budhanilkantha sangat ramai saat perayaan Haribodhini Ekadashi (yang merayakan kebangkitan Dewa Wisnu dari tidur panjangnya, yang biasa dirayakan antara bulan Oktober – November). Saya ingat keramaian itu yang pernah saya tulis di Nepal: Kalung Bunga Cinta di Haribodhini Ekadashi dan Nepal: Bertemu Guardian Angels di Changu Narayan. Jika kuil Changu Narayan sudah penuh sesak seperti itu, apalagi di Budhanilkantha ini!

Pelan-pelan saya tinggalkan Budhanilkantha, sebuah tempat pemujaan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Buddha, lalu membawa pergi segala macam pertanyaan dalam benak. Tidak apa-apa sedikit bingung, tapi yang pasti Buddhanilkantha… checked! (pakai gaya bicara anak-anak sekarang) 😀 😀 😀


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-48 bertema Symbol agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Sukacita Menjejak Tempat Suci


Bagi yang mengikuti blog saya ini, telah beberapa kali saya mengungkapkan kegemaran jalan-jalan yang sudah ada sejak saya kecil. Menjejak tempat baru membukakan wawasan namun suka duka perjalanan menuju tempat baru itu membuat saya hidup.

Dan dari begitu banyak destinasi, -kebanyakan berupa tempat-tempat yang memiliki sejarah-, hanya ada beberapa tempat yang berhasil memporak-porandakan rasa dalam jiwa begitu dahsyat. Bisa jadi karena tempat-tempat itu diyakini oleh banyak jiwa sebagai tempat suci keimanan.


Puskarni, The Holy Pond

Meskipun saya telah menuliskan dalam pos Nepal: Khata – Syal Putih dari Lumbini namun rasanya kata-kata itu tak pernah bisa terangkai dengan tepat untuk menggambarkan apa yang saya alami ketika menjejak Kuil Mayadevi di Lumbini. Tempat itu konon, merupakan tempat kelahiran Sang Buddha, lebih dari dua setengah millenium yang lalu.

Kuil yang menurut saya terlalu sederhana untuk sebuah lokasi yang dipercaya merupakan tempat kelahiran seseorang yang telah mengguncang dunia, sesungguhnya hanya sebuah bangunan batu yang menutupi sebidang tanah serupa ekskavasi arkeologis. Tak ada hiasan, tak ada altar, tak ada tanda-tanda pemujaan, namun ketiadaan barang-barang duniawi itu tak mampu menghilangkan rasa sakral yang begitu hebat di dalamnya. Hanya dengan sebuah penanda yang dikenal dengan istilah Marker Stone yang terlindung oleh kaca, banyak pengunjung bisa jatuh bersimpuh di depannya. Itulah tempat yang dipercaya menjadi titik akurat kelahiran Sang Buddha Siddharta Gautama.

Suara sayup genta-genta kecil yang berdenting tertiup angin, juga suara bacaan sutra yang disenandungkan di bawah rimbun pohon Boddhi di luar kuil, menambah suasana sakral di Marker Stone yang letaknya tak jauh dari pintu keluar. Bahkan setelah dua setengah millenium, kesakralan tempat itu tetap masih terasa kuat.

A Monk under a Boddhi Tree

Sebagai non-Buddhist yang bisa sampai di tempat itu, saya merasakan energi yang begitu besar melingkupi tempat itu, membuat rambut halus di sekujur tubuh meremang dan perasaan dari dalam menggelegak keluar. Sesuatu yang tidak pernah terjadi pada saya sebelum ini, Berbagai rasa campur aduk, suka cita, bahagia, keharuan yang dalam silih berganti dengan rasa syukur yang berlimpah, semuanya berlangsung dalam waktu singkat membuat diri ini rasanya akan meledak. Tetapi mengenal diri yang lemah ini, saya harus segera melipir keluar mencegah tangis menjadi tersedu dalam sukacita yang dalam.

Lalu melengkapi keluarbiasaan di tempat suci itu, sebuah khata, -selendang sutra putih pembawa berkah-, yang didapat dari seorang biksu di bawah Pohon Boddhi melingkari leher saya. Dengan khata yang melingkar leher, saya meninggalkan Lumbini masih dengan berbagai rasa dari bersyukur, terpesona, bahagia, haru, merasa beruntung hingga rasa sedikit tak percaya mengalaminya, atas semua kebaikan Sang Pemilik Semesta.


Kemudian bertahun-tahun setelah perjalanan ke Lumbini itu, saya akhirnya berkesempatan melakukan perjalanan ibadah umroh ke Makkah dan Madinah yang tentu saja juga meluluhlantakkan rasa dalam jiwa. Rasanya setiap detiknya memiliki kenangan tersendiri, bagaimana saya bisa menjejakkan kaki sendiri, berdiri dengan tubuh sendiri, bersimpuh lalu bersujud meletakkan kening di masjid Nabi dan juga di hadapan Ka’bah. Seperti kata teman-teman saya yang telah melakukan perjalanan serupa terlebih dahulu, hanya ibadah yang ada dalam pikiran, rasanya ingin bermanja-manja selamanya dalam Kasih SayangNya. Bahkan bangun selepas tengah malam lalu berjalan ke arah Masjid pun dilakukan dengan sukacita. Tak berat sekalipun melangkahkan kaki, bertafakur, melangitkan doa dan pujian serta bersyukur. Bahkan di siang hari, saat matahari terik memanggang bumi, tempat-tempat bersujud dan berdoa itu tetaplah nyaman. Payung-payung terkembang untuk melindungi mereka dari terik matahari, karpet-karpet yang tergelar, bahkan mesin-mesin pendingin udara yang menyemburkan udara sejuk untuk kenyamanan ibadah.

Semua yang menyenangkan itu membuat jatuh tersungkur dalam syukur saat mengingat dan membayangkan berabad-abad lalu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga serta sahabat-sahabatnya melakukan perjuangan Islam yang sangat tidak mudah, dengan kondisi alam di Jazirah Arab yang tak bersahabat serta budaya setempat yang tidak kondusif. Dan membandingkan dengan kenyamanan serta semua yang membuat haru biru di tempat saya bersimpuh dan bersujud, bagaimana mungkin saya mengeluh? Saya tak bisa lain kecuali membiarkan airmata bahagia yang terus turun membasahi pipi.

Dan saat itu saya melihat di sekitaran, di depan, di belakang, kiri maupun kanan, memiliki wajah yang serupa, teduh dalam kebahagiaan beribadah memujiNya. Datang dari berbagai bangsa dan warna kulit serta dari segala penjuru dunia, berbalut pakaian yang bernada sama. Bertasbih, memuji namaNya, membaca kitabNya… menikmati undangan dariNya. Rasanya tidak ada rangkaian kata yang tepat untuk mewakili ungkapan rasa yang saya alami. Takkan pernah ada, takkan pernah cukup…

Saat itu, rasa penuh anugerah yang seperti mau meledak dan mendesak terus dari dalam, setiap detiknya, setiap menitnya itu, sungguh sebuah candu, membuat rindu, yang selalu ditunggu.

Saya pun mengamini apa yang dirasakan oleh teman-teman dan kerabat yang pernah menjalankan ibadah umroh terlebih dahulu bahwa semua kebahagiaan selama berada di Makkah dan Madinah itu selalu ingin diulang. Bahagianya itu seperti orang sedang jatuh cinta, ingin selalu berada berdekatan dan merasakan terus mencintai dan dicintai. Namun berbeda dengan rasa jatuh cinta pada manusia lain yang biasa menimbulkan keegoisan berdua dengan orang yang dicintai, rasa bahagia di Makkah dan Madinah ini tidak ada rasa ingin menguasai, bahkan meningkatkan rasa berbagi dan mengikis rasa mendahulukan kepentingan diri sendiri. Mungkin rasa bahagia itu berada di tingkatan yang lebih tinggi…


Dan yang tak kalah penting di akhir tahun 2019 lalu itu, dengan susah payah saya sungguh menahan airmata bahagia saat bus meninggalkan perbatasan Jordan menuju bumi Palestina. Setelah puluhan tahun memendam impian untuk sampai ke bumi Palestina, akhirnya saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri Masjid Al Aqsho, saya berdiri di halamannya, bisa menghirup dan menghembus harum udaranya, juga beribadah di dalamnya. Bumi para Nabi. Bahkan sampai sekarang saja, setiap menuliskannya airmata saya selalu meleleh merasakan betapa besar anugerah yang saya terima. Alhamdulillah…

Jika saja saya bisa, rasanya ingin waktu berhenti agar saya bisa berlama-lama menikmati setiap detil kenangan saat berada di Bumi Palestina. Namun manusia ini serba terbatas, meski keinginan bisa liar tanpa batas. Sebisa mungkin saya merekam semua yang dirasakan berada di tempat yang dipercaya sebagai titik awal peristiwa Isra’ Mi’raj.

Tidak hanya itu, berada di Jerusalem membuat saya juga mengingat kembali kisah-kisah yang pernah didengar semasa mengenyam pendidikan di sekolah Katolik berpuluh tahun lalu. Menyusuri lorong-lorong kota tua Jerusalem tak bisa terhindar dari Via Dolorosa (jalan kesengsaraan yang diyakini dilalui oleh Yesus hingga ke Bukit Golgota). Juga, lalu lalangnya rabbi Yahudi dan banyaknya sinagoga di kota ini membuat kebahagiaan tersendiri. Lagi-lagi saya setengah percaya sedang berada di kota Jerusalem, kota yang menelurkan begitu banyak kisah di kitab-kitab suci tiga agama.

Dome of The Rock, Al Aqsho complex
Al Aqsho’s courtyard

Meskipun saya masih berangan-angan untuk mengunjungi Varanasi yang merupakan salah satu kota suci umat Hindu di India, saya tak kecil hati. Di Kathmandu, Nepal saya juga sempat mengunjungi Pashupatinath, salah satu kuil suci Hindu yang memberikan kebahagiaan tersendiri. Juga mengunjungi kuil Changu Narayan di Kathmandu yang memberikan saya begitu banyak keajaiban yang membahagiakan dan tentu saja ke Muktinath, salah satu kuil Hindu yang sederhana namun menjadi salah satu yang sangat sakral.

Jika saya diberikan umur panjang, sepertinya saya masih berkeinginan untuk mengunjungi tempat-tempat suci di dunia ini. Kebahagiaan berada di tempat-tempat itu tak bisa diabaikan begitu saja. Addictive


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-47 bertema Happiness agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Berperahu Naga Sepanjang Sungai Parfum


Kota Huế – Vietnam Tengah di bulan Desember

Setelah semalam berkeliling kota Huế dengan menggunakan becak, pagi ini saya menyempatkan diri melakukan tour berperahu sepanjang Sungai Parfum, sungai yang berlimpah bunga di hulu selama musim gugur sehingga konon menjadi harum baunya (tapi saya tidak membauinya lho 🙂 )

Perfume River from my hotel in Hue

Kota Huế di Vietnam Tengah yang memiliki tingkat hujan yang lumayan tinggi di bulan Desember ini, pagi itu tampak berawan, muram dan gloomy, tak beda jauh dengan situasi kota Hoi An yang telah saya tinggalkan sehari sebelumnya. Tetapi saya tak ingin terbawa suasana yang menggiring untuk berlama-lama di balik selimut. Setelah bersiap dan sarapan, segera saja saya menuju tempat perahu bersandar yang tak jauh dari hotel.

Sambil menunggu waktu keberangkatan, saya mengamati perahu wisata yang akan saya naiki. Bentuknya lucu, seperti ada dua kepala Naga di depan. Jika perahu Naga yang asli, kepala Naga benar-benar menyatu dengan badan perahu sedangnya versi KW ini kepala Naganya hanya berupa hiasan. Bagi saya hiasan ini malah menarik perhatian. Siapa sih yang memperhatikan asli atau tidak? Bukankah jika dilihat dari jauh tetap terlihat seperti perahu Naga? 😀

The Dragon Boat

Pada jam yang ditentukan seluruh peserta tur berkumpul, termasuk beberapa turis kulit putih. Kemudian perahu wisata berkepala Naga itu mulai bergerak menyusuri Sungai Perfume yang membelah kota Huế. Tak lama pemandu tur yang berusia tiga puluhan itu mulai mengeluarkan jurusnya bercerita tentang perjalanan hari itu. Sedikit berbeda dengan gaya ngebolang sebelumnya, saya tidak melakukan persiapan dan riset tentang tempat-tempat yang akan dikunjungi. Kali ini, sekali-sekali saya menjadi turis yang nurut pada omongan pemandu, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.

Dalam hitungan menit perahu melaju ke pinggiran kota Huế, kepadatan kota terasa berkurang dan berganti dengan hijaunya pepohonan serta coklatnya Sungai Parfum. Pikiran saya melayang ke pengalaman di Bangkok, ketika menyusuri sungai Mae Chao Phraya, hanya beda pemandangan. Selagi masih menikmati pemandangan sekitar sungai, mendadak saya merasa perahu mengarah ke kanan dan melambat. Pasti ini pemberhentian pertama.

Rumah Taman An Hiên (Nhà vườn An Hiên)

Setelah turun dari perahu dengan melewati sedikit belukar, kami sampai di gerbang rumah An Hiên. Gerbang rumah dengan lengkung kuno ini terlihat lembab dan memudar meskipun masih terdapat jejak indahnya. Di bagian atas, terdapat hiasan berupa karakter China yang mungkin berarti An Hien dan di bawah lengkung terdapat hiasan bersulur.

Melewati gerbang, terhampar jalan setapak menuju rumah dengan dahan dan ranting-ranting tanpa daun, melengkung membentuk terowongan panjang. Cantik sekaligus menimbulkan misteri. Dan di ujung terowongan itu terdapat pagar berdinding yang sedikit berlumut dengan lubang lingkaran yang membentuk simbol kata Mandarin yang biasanya bernada kebaikan.

Berbelok di ujung jalan, terdapat pintu untuk masuk ke halaman rumah yang penuh dengan tanaman. Sebuah kolam ikan dibuat di bagian depan rumah mungkin bertujuan untuk mendinginkan dan menyegarkan suasana rumah.

Rumah Taman An Hiên yang sudah berusia lebih dari seabad ini relatif masih cukup bagus, pintu dan tiang-tiang kayu di bagian depan cukup baik (meskipun saya teringat rumah-rumah kuno di daerah pecinan yang serupa dan terpelihara dengan lebih baik). Hiasan atapnya cukup menarik perhatian saya. Dan seperti juga turis-turis lain, saat memasuki rumah itu, saya melihat ada altar lengkap dengan foto-fotonya, seperangkat alat minum teh, ruang-ruang kosong berisi tempat tidur kayu. Sayangnya sama sekali tidak ada penjelasan apapun bahkan pemandu tur entah dimana 😀 Saya hanya merasa di negeri antah berantah…

Belakangan baru diketahui, konon, putri ke-18 dari Kaisar Duc-Duc, –yang kontroversial karena penobatannya tak selesai dan hanya memerintah selama 3 hari, 20 – 23 July 1883-, menempati rumah An Hiên sampai tahun 1895, lalu setelah beberapa kali berpindah kepemilikan, akhirnya tahun 1938 rumah ini menjadi milik Nguyen Dinh Chi, seorang kepala daerah setingkat provinsi. Istrinya, Dao Thi Yen, terus merawat rumah ini bahkan mempelopori gerakan melawan kolonialisme Perancis yang terjadi saat itu di Vietnam. Bisa dikatakan rumah An Hiên ini menjadi saksi bisu kegiatan aktivis nasional Vietnam terutama yang berkontribusi besar untuk kota Huế.

Tidak banyak mendapatkan informasi tentang isi rumah, saya kembali ke halaman lagi. Meskipun tidak sempat memperhatikan keberadaannya, konon di halaman ini terdapat berbagai bunga, seperti anggrek dan mawar impor dari Eropa serta berbagai pohon buah seperti manggis, durian, lengkeng dan kesemek langka Tien Dien yang istimewa karena lezat dan tanpa biji. Buah kesemek ini khusus dibawa dari wilayah Nghi Xuan oleh cicit penyair besar Nguyen Du sebagai hadiah untuk keluarga Nguyen Dinh Chi.

Rasanya tak ada yang istimewa saat berkunjung ke rumah Taman An Hiên ini. Mungkin saja rumah ini memiliki nilai historis bagi penduduk Vietnam tapi sayangnya ketiadaan informasi yang melatari rumah ini, membuat pengunjung non-lokal seperti kehilangan spirit dan nilainya (Meskipun saya jadi introspeksi diri, apakah tempat-tempat wisata di Indonesia serupa rumah An Hien ini sudah memberikan informasi cukup dalam bahasa Inggris mengenai tempatnya?)


Setelah semua berkumpul kembali di perahu, kami melanjutkan perjalanan menyusuri sungai Perfume. Pemandangan yang menarik membuat saya meninggalkan tempat duduk dan melangkah keluar menuju area kepala Naga tempat turis mengabadikan pemandangan sekitar.

Seseorang di antara mereka, -kelihatannya cukup berumur-, menghampiri saya dan mengajak ngobrol mengenai wisata menyusuri sungai ini. Mendengar ceritanya, saya sebagai frequent-traveler ke Cambodia merasa terhenyak juga mengetahui ia baru saja melakukan perjalanan wisata sungai dari Tonle Sap hingga ke Phnom Penh Cambodia, sebuah perjalanan yang masih menjadi impian saya. Ceritanya menginspirasi untuk segera mewujudkan perjalanan itu. Obrolan kami terhenti karena perahu berhenti di sudut sungai yang agak lebih tinggi. Saya terpesona dengan apa yang saya lihat, ada pagoda tua di antara rimbunnya pohon.

Thien Mu Pagoda

Thien Mu Pagoda

Sebagai tempat ibadah kuno berarsitektur indah, tak heran jika Kuil Thien Mu selalu menjadi tempat wisata yang didatangi wisatawan saat berkunjung ke Huế. Pagoda yang juga terkenal dengan nama Heaven Fairy Lady Pagoda itu terletak di Ha Khe Hill, desa Huong Long, di pinggir sungai Perfume atau bisa juga berkendara sekitar 5 km dari Huế.

Pagoda ini memiliki keunikan sendiri karena ada legenda yang menyelimutinya. Dahulu kala, seorang wanita tua muncul di bukit tempat lokasi pagoda sekarang, memberitahu penduduk setempat bahwa seseorang yang sangat berkuasa akan datang dan membangun Pagoda Buddha untuk kemakmuran negara. Waktu berlalu dan legenda tetap menyelimuti kawasan itu. Kemudian, karena legenda itu juga sang pendiri dinasti Nguyen, Lord Nguyen Hoang, -saat itu beliau gubernur provinsi Thuan Hoa (sekarang Hue)-, pada tahun 1601 memerintahkan pembangunan pagoda Thiên Mụ (atau disebut juga Linh Mụ) dan faktanya setelah itu memang membawa kemakmuran bagi negara. Bisa jadi legendanya misterius, tapi tak bisa diabaikan bahwa pagoda selalu dikunjungi orang, dari dalam dan luar negeri. Entah memang untuk melihat pagoda atau untuk membuktikan legenda itu sendiri.

Thien Mu Pagoda

Tentu saja seperti turis lainnya, saya tertarik untuk melihat lebih dekat menara pagoda yang menjulang tinggi. Menara ini dikenal dengan nama Phuoc Duyen, sesuai nama personal dari pendirinya, Kaisar Thieu Tri, dan telah menjadi simbol tidak resmi dari kota Hue. Menara segi delapan yang memiliki tujuh lantai ini menjadi bangunan serupa stupa yang tertinggi di Vietnam, bahkan biasa diasosiasikan (meski tak resmi) dengan ibukota kekaisaran yang berpusat di Hue.

Di dekatnya ada beberapa bangunan lain yang tak kalah menarik, seperti tempat yang menyimpan Dai Hong Chung, sebutan untuk genta sangat besar dari Lord Nguyen Phuc Chu, sejak tahun 1710 yang berukuran 2.5 meter dan beratnya lebih dari 3 ton. Tak jauh juga ada prasasti dari tahun 1715 yang dibuat berdiri di punggung kura-kura marmer besar yang menjadi lambang umur panjang. Saya juga menyempatkan memasuki Aula utama Dai Hung yang megah dan terlihat modern. Isinya barang-barang antik yang amat berharga.

Sambil menunggu peserta tur kembali, saya sedikit googling mengenai sejarah Thien Mu dan terkejut juga membaca hasilnya. Rupanya tak hanya kecantikan arsitekturnya, tetapi ada nilai historis kental dimiliki Pagoda Thien Mu ini yang membuat semangat kebuddhaan di tempat ini tetap terjaga.

Tahun 1963, Hue bergolak. Kebanyakan rakyatnya yang menganut Buddha melayangkan protes anti pemerintahan. Saat itu, Presiden Ngo Dinh Diem, yang naik ke tingkat kekuasaan tertinggi sejak tahun 1955, diduga telah menunjukkan perilaku diskriminasi. Konon, sebagai presiden, ia cenderung memprioritaskan umat Katolik dan melakukan diskriminasi terhadap umat Buddha di bidang ketentaraan dan pelayanan publik serta distribusi bantuan, yang membuat sebagian rakyat Vietnam tidak puas.

Ketidakpuasan akhirnya meledak di Hue di dalam musim panas tahun itu karena terhitung sembilan penganut Buddha tewas oleh tentara dan polisi dari Presiden Ngo Dinh Diem, yang malangnya terjadi pada hari Waisak, hari lahir Sang Buddha Gautama. Protes itu menyebar ke seluruh negeri dan membesar. Dan pusat gerakan umat Buddhist semasa bersejarah itu berada di Pagoda Thien Mu, dalam bentuk mogok makan, tempat barikade manusia dan protes damai.

Tetapi hari itu, saat saya menapaki kawasan Pagoda Thien Mu, rasanya sungguh damai dan tenang karena tempat itu ditata dengan indah, banyak bunga dan pepohonan. Bahkan di bagian belakang taman, terdapat hutan pinus yang wanginya terasa sampai ke tempat saya berdiri. Sungguh tak meninggalkan jejak sama sekali bahwa pernah terjadi gerakan karena sebuah tragedi di tempat yang indah itu.

Waktu berlalu, kami harus melanjutkan perjalanan berperahu. Sayang tak bisa menyaksikan rombongan biksu beribadah saat matahari tenggelam yang konon amat indah di sini. Tapi ah, hari itu, suasananya masih gloomy


Temple of Literature

Meninggalkan Thien Mu, perahu kami melaju melewati Temple of Literature yang lokasinya hanya 1 km dari Pagoda Thien Mu. Pagoda yang juga dikenal dengan nama Van Mieu Hue or Van Thanh ini merupakan tempat untuk pembelajaran ajaran Confusius yang terkenal di China, Korea, Jepang dan Vietnam.

Sayang karena waktu yang terbatas, kami tidak dapat mampir di tempat terkenal yang didirikan pada tahun 1908 semasa pemerintahan Kaisar Gia Long.

Perahu terus melaju menyusuri Sungai Perfume di hari yang berawan. Tak terlihat lagi rumah-rumah penduduk, yang ada hanyalah pepohonan dan perbukitan di kejauhan. Di beberapa pinggir sungai terlihat tempat penangkapan ikan. Serupa di negara-negara lain, sungai merupakan salah satu tempat mata pencaharian yang bisa diandalkan seperti perikanan.

Setelah beberapa lama, akhirnya perahu melambat dan berhenti pada sebuah kaki bukit. Inilah persinggahan terakhir dalam perjalanan dengan perahu. Sebuah kuil kecil yang cantik di antara rimbun pohon.


Hon Chen Temple

Berada di tepian sungai sekitar 10 kilometer dari kota Hue, Kuil Hon Chen merupakan obyek wisata yang terkenal di Hue.

Saya tersenyum saat menjejak di tempat ini karena sehari sebelumnya telah berkeliling My Son, sebuah kompleks percandian Kerajaan Champa. Seperti ada benang merah mengunjungi My Son dan ke Kuil Hon Chen, yang keduanya terkait pada etnis Champa.

Hon Chen Temple
Hon Chen Temple

Dan sebagai tempat ibadah Po Nagar, -junjungan yang dipercaya oleh etnis minoritas Champa-, Kuil Hon Chen menarik untuk didatangi. Karena menurut legenda etnis Champa, Po Nagar adalah putra Raja yang diutus ke bumi untuk menciptakan bumi dan segala jenis kayu dan beras.

Etnis Champa percaya bahwa kuil ini sudah dibangun di lokasinya sekarang berabad-abad lalu dalam bentuk yang paling sederhana namun mengalami penyesuaian dan adaptasi dari waktu ke waktu sesuai perkembangan jaman. Tak heran Hon Chen menjadi tempat untuk recharge kehidupan spiritual dan budaya masyarakat setempat.

Rasanya tak cukup waktu untuk mengabadikan setiap detil yang indah di tempat yang tidak luas namun cantik ini. Apalagi gerimis turun menghiasi hari. Dan si pemandu tur pun sudah memanggil-manggil…

Meski berperahu naga di sepanjang Sungai Parfum telah berakhir di Kuil Hon Chen ini, tur sehari di Hue ini masih berlanjut… Sayangnya suasana masih gloomy


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-46 bertema Sepanjang agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Kala Hujan Berhenti, Keindahan Sibuk Mengantri


Bahkan ketika hujan baru saja turun, ada keindahan tersendiri yang menghias bumi. Pemilik Semesta telah melimpahkan anugerah pada saat turun hujan. Air, -yang merupakan unsur kehidupan yang utama-, dengan penuh kesegaran dilimpahkan dari langit, berubah dari awan-awan gelap yang menyelimuti, menjadi butir-butir kesegaran. Jatuh ke setiap permukaan bumi, membasahi dan memantulkan pelangi. Sebuah tanda, keindahan-keindahan sedang sibuk menjelma di muka bumi.

Harumnya tanah kering yang tersiram hujan membuat hidung-hidung terangkat menikmati harumnya kesegaran alam. Petrichor, sebuah istilah yang dikenal untuk harum khas tanah saat tersiram oleh hujan. Lalu setelahnya, bersamaan dengan menghilangnya harum petrichor, tatkala bulir-bulir hujan jatuh di kaki langit, alam menerbitkan pelangi, memberi hiasan warna-warni.

Bukankah terbitnya pelangi menjadi sebuah janji yang diberikan Alam Semesta? Pelangi hadir sebagai janji akan datangnya cahaya mentari setelah hujan lebat, juga merupakan sebuah janji akan adanya ketenangan suasana setelah badai yang menakutkan, sebuah suka cita atas rasa sendu yang memeluk, sebuah kedamaian atas nestapa menghampiri hati. Pelangi hadir sebagai janji akan datangnya cinta setelah rasa kehilangan yang menghampakan.

A Rainbow

Bertahun-tahun lalu ketika melakukan perjalanan di Seoul, Korea Selatan, pagi itu saya hampir putus asa melihat mendung tebal menggantung di atas kota. Sepertinya prakiraan cuaca hari itu akan tepat. Hujan akan mengguyur kota Seoul. Dan benar, rintik hujan semakin deras ketika saya berada di Huwon atau Secret Garden-nya Istana Changdeokgung (Baca kisahnya disini: Korea: Menapak Huwon, The Secret Garden). Akibatnya saya harus merogoh dompet lalu mengeluarkan sejumlah Won untuk membeli sebuah payung.

Saat itu warna-warni daun dalam musim gugur terlihat amat indah, apalagi ditambah dengan sejuknya udara Seoul. Saya sungguh tak menyesal menambah tour ke Secret Garden, meskipun harus bergabung dengan rombongan yang berbahasa Korea. Tapi tak perlu paham kata dan bahasa untuk menikmati Secret Garden itu.

Sebagai orang yang besar di negara tropis yang memiliki dua musim saja, pergantian daun dari hijau menjadi kuning atau merah sebelum jatuh ke bumi dengan warna coklat, sungguh menggugah jiwa. Alam memiliki hukumnya sendiri dan dapat menyaksikan keindahan alam yang sedang berganti, rasanya mendapat anugerah tersendiri.

Sejenak saya berhenti di dekat ujung akhir penjelajahan Secret Garden itu untuk memperhatikan daun merah yang basah. Langsung saja aroma lembab menyeruak ke hadapan saat saya mendekatinya. Bahkan sehelai daun yang memiliki warna yang berbeda terlihat begitu luar biasa. Sungguh basahnya daun karena air hujan, terlihat amat indah.

The leaves after the rain

Hal serupa terjadi juga ketika saya melakukan perjalanan bersama anak-anak ke Hong Kong. Perjalanan dengan kereta gantung yang teramat tinggi dalam suasana hujan, cukup membuat hati berdenyut. Apalagi anak bungsu saya termasuk orang yang tak tahan ketinggian. Perjalanan panjang dengan hati berdegup itu akhirnya selesai pada saat kereta berhenti di stasiun tujuan. Hujan pun seakan memahami, sehingga ia berubah menjadi hujan rintik ketika kami menjejak di stasiun tujuan kereta gantung.

Sesaat sebelumnya, kami telah melepas harap. Bagaimana mungkin bisa menuju patung Buddha yang besar itu dalam kondisi hujan dan tak ada payung?

Nyatanya tidak ada yang tak mungkin bagi Pemilik Semesta. Kabut serta merta tersingkir dari hadapan, bahkan jejak langkah kami terhenti sejenak di tempat penjualan souvenir dan saya mendapat kesempatan memiliki CD musik yang hingga kini masih merupakan musik yang paling menenangkan jiwa. Dan tentu saja kami pun punya kesempatan untuk menyaksikan salah satu patung Buddha terbesar di kawasan China.

Buddha Tian Tan, Hong Kong

Tapi rupanya saya tak perlu melakukan perjalanan ke luar negeri untuk melihat keajaiban alam pada saat hujan telah berhenti. Di halaman rumah sendiri, saya begitu terpesona dengan situasi setelah hujan. Kesegaran alam yang saya lihat dan rasakan, menjadi sebuah mood-booster yang tak bisa diabaikan.

Butir-butir air yang tertahan di sepanjang daun palem lalu turun ke pangkal daun seakan-akan menjadi kristal yang menghias jari-jari daun dan menguarkan kesegaran ke alam sekitarnya. Bukankah semua itu keindahan yang patut disyukuri?

Tapi ah, bisa jadi air yang berbutir-butir itu seperti airmata yang menghias wajah di kala duka menyelimuti. Seperti pada umumnya perempuan yang menutupi airmata dukanya di bawah hujan atau di bawah pancuran, seakan-akan bisa menipu dunia tentang isi hatinya. Lalu ketika air hujan atau air pancuran telah bercampur dengan airmata dan membuat lamur di antara keduanya, sebuah janji ketenangan dan kedamaian telah terikrar di alam semesta.

Ketika jalan panjang duka dilewati dengan sepenuh-penuhnya sabar, seperti air hujan yang turun melewati lekuk-lekuk daun menuju pangkalnya, butiran kristal itu memendarkan pelangi. Pelangi kebahagiaan yang penuh semangat sudah terbit laksana datangnya cahaya di ujung terowongan gelap.

Rain drops on palm leaves

Sementara di tempat yang berbeda bisa jadi terjadi hujan badai di malam gelap, yang memunculkan rasa cemas yang menghiasi jiwa. Gelapnya malam menambah rasa tak aman. Suara-suara badai yang memekakkan telinga, ditambah deru angin yang tak ramah dan gemuruh air yang ditumpahkan dari langit. Sebuah gambaran yang mudah dikata, alam sepertinya sedang dalam angkara murka.

Tetapi yang seperti itu, hanya pandangan manusia karena alam memiliki perjalanannya sendiri. Ada hukum yang berjalan di atasnya karena Pemilik Semesta sudah mengaturnya sedemikian rupa. Pada akhirnya hanya kebaikanNya yang terlimpah terhadap alam semesta. Dan ketika datang waktu bagi sang badai untuk berakhir, maka cahaya keindahan akan menghiasi semuanya yang ada di bawah langit.

Hal yang sama terjadi di pusat kota, seakan melupakan yang terjadi beberapa saat sebelumnya. Yang hadir hanyalah cahaya penuh warna di tengah gelapnya malam. Dan kita semua bisa menyaksikan…

Lights in the city center

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-45 bertema After The Rain agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Yang Unik Di Rumah Mama


“Ma, ini tambah lagi dari Palestina”, kata saya sambil menyorongkannya ke Mama sekitar semingguan sepulangnya saya dari perjalanan ibadah Umroh yang dilanjutkan ke Masjidil Aqsho di Palestina, sebuah negara yang wilayahnya sebagian masuk dalam wilayah pendudukan Israel.

“Asyik, Mama belum punya yang dari sana”, jawab Mama sambil tersenyum lebar memperhatikan oleh-oleh kecil di tangannya.

Yang saya berikan adalah tempelan magnet kulkas. Beberapa saat beliau memperhatikan dengan mata berbinar lalu beliau menyerahkan kembali ke tangan saya yang artinya, harus diletakkan di tempat yang seharusnya. Kemana lagi… ya ke kulkas 🙂

Kulkas yang tinggi itu…

Bagi yang pertama kali ke rumah Mama dan masuk ke ruang makan, biasanya tersenyum lebar atau mungkin bahkan tertawa dan terperangah melihat kulkas yang letaknya tinggi itu. Karena kulkas itu ‘nangkring‘ di atas ambalan batu yang tingginya tak beda jauh dengan tinggi meja makan. Terbayang kan, jika sebuah kulkas dua pintu diletakkan di atas meja makan? Pasti terlihat tinggi sekali… 😀 😀 😀

Kulkas yang tinggi itu

Sudah berpuluh tahun rumah Mama berada di daerah yang sering kebanjiran meskipun tidak selalu. Awal saya remaja, banjir masih semata kaki, lalu tiga tahun berikutnya naik setinggi betis orang dewasa. Saat saya menikah dan sempat tinggal di rumah Mama sementara Mama dan Papa di luar pulau, banjirnya naik setinggi paha. Terus terang saja, selama Pak Ahok jadi Gubernur Jakarta Mama bisa bernafas lega karena tidak pernah kebanjiran. Kali Mampang yang tak jauh dari rumah Mama itu selalu dikeruk dan dijaga.

Banjir terakhir adalah banjir yang terjadi pada awal Januari 2020 lalu. Katanya, di malam pergantian tahun baru 2020 itu, turun hujan besar yang berlangsung lama di hulu dan menyebabkan hampir semua sungai dan kali di Jakarta itu tak dapat menampung airnya lagi sehingga meluap dan menggenangi pemukiman sekitarnya. Apalagi di Jakarta pun hujan deras turun tak berhenti sepanjang malam. Hasilnya bisa diprediksi, banjir besar melanda Jakarta, termasuk rumah Mama saya (dan rumah saya sendiri) 😥 Banjir itu merendam rumah cukup tinggi sehingga Mama harus dievakuasi dan barang-barang penting disimpan di tempat yang tinggi.

Itulah alasan kulkas di rumah Mama itu ditempatkan di meja setinggi meja makan itu.


How many places can you mark ?

Dan di kulkas yang tinggi itu terlihat tempelan-tempelan magnet yang memenuhi pintu dan dinding lemari es seakan-akan menjadi showcase dari hobby Mama yang unik. Mengumpulkan tempelan magnet kulkas silaturahmi.

Mengapa pakai embel-embel silaturahmi?

Berbeda dengan saya yang lebih suka soliter, Mama saya merupakan seorang yang sangat socialized. Dan mereka yang mengenal Mama secara dekat, mengetahui bahwa Mama suka dengan tempelan magnet kulkas. Jadi, ketika mereka pergi travelling, biasanya mereka memberikan langsung oleh-oleh kecil berupa tempelan magnet kulkas kepada Mama saat bersilaturahmi ke rumah. Jadi, meskipun Mama berdiam di rumah, Mama mendengar langsung kisah perjalanan dari orangnya, menyimak kenangan-kenangan mereka, yang tentu saja membuat Mama merasa ikut dalam perjalanan itu. Seru kan…

Tempelan magnet kulkas itu tidak sekedar tempelan biasa, ada nilai yang indah mewakilinya. Mama mengetahui siapa yang memberi dan telah berbagi cerita perjalanan dengannya. Hanya dengan melihatnya, tempelan kulkas yang kecil dan kelihatannya tidak penting itu, Mama bisa mengingat siapa yang telah memberinya, menjalin silaturahmi dengannya. Dan tidak jarang Mama langsung meneleponnya untuk bertukar cerita. Bukankah itu baik adanya?


Dan bagi saya yang merupakan orang yang paling sering berada di depan kulkas tinggi itu, -salah satu yang paling menggoda adalah isi kulkas Mama 😀 yang isinya macam-macam-, berbagai tempelan magnet kulkas itu menciptakan sebuah perjalanan imajinasi tersendiri.

Saya sering tersenyum sendiri ketika melihat tempelan magnet yang berasal dari saya. Diantara semua tempelan magnet kulkas yang lebih banyak berisikan kota-kota impian dan modern di seluruh dunia itu, saya meninggalkan jejak tentang long-neck Karen lady yang menenun, kota-kota kuno di Nepal, puncak-puncak Himalaya, kuil Shwedagon dan tentu saja Angkor Wat. Melihatnya menimbulkan perasaan bahwa perjalanan yang telah saya lakukan selama ini, banyak yang tidak biasa seperti yang dilakukan orang lain.

The places that tell the stories
Have you been to Alcatraz?

Lebih dari yang dibayangkan, karena hanya dari melihat tempelan magnet itu, pikiran saya bisa tiba-tiba melompat-lompat. Seakan-akan undangan yang tak kunjung diam, menguarkan ajakan untuk menjaga impian agar bisa datang ke tempat itu, tetapi ada juga yang membuat senyum karena pernah menjejak di sana.

Bucket list saya memang sudah panjang dan semakin memanggil ketika saya berada di depan kulkas itu, meskipun harus mendongak saat melihat bagian atasnya. Kota-kota impian di Eropa, tempat-tempat indah di Asia yang lebih luas, juga Amerika, Timur Tengah, Afrika… ah, masih begitu banyak…

Tidak hanya itu, kadang kala saya masih harus memutar otak seakan tempelan-tempelan magnet itu menertawakan ketidaktahuan saya. Dimanakah Lanark itu? Dimanakah Riga itu? Apa yang terkenal dari Bratislava? Bagaimana caranya agar bisa sampai ke Alcatraz?

Sebagian dari keluarga, kerabat, sahabat Mama telah sampai ke sana bahkan berbagi cerita dengan Mama dalam pertemuan-pertemuan yang menyenangkan dan meninggalkan jejaknya di hadapan dengan sejuta makna…

Semua tempelan magnet hasil hobby Mama yang unik itu menjadi penggugah untuk selalu kembali melakukan perjalanan, seakan bertanya kapan giliranmu? Dan saya selalu meninggalkannya dengan pelita kecil yang langsung menerangi jiwa, seakan sebuah jawab, one day saya akan sampai ke sana…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-44 bertema Unik agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Ketika Damai Menghampiri Abhaya Giri


Lebaran tahun lalu kami menyempatkan diri menginap satu malam di sebuah peristirahatan yang berada di puncak perbukitan Jogja. Sebuah tempat yang memang menjadi bucket list saya, setelah pernah melewatinya sepulang dari penjelajahan candi di sekitaran Ratu Boko (saat melewatinya, saya langsung mengetahui one day saya harus sampai di sini)

The Abhaya Giri

Keinginan itu terwujud saat akhirnya GPS membawa saya ke gerbang yang sama di ketinggian hampir 200 mdpl itu. Lalu saat beberapa tas diturunkan dari kendaraan, seorang petugas tergopoh-gopoh mendekati dan bertanya menanyakan dengan keramahan yang tak dibuat-buat. Ia melihat tas-tas itu dan berasumsi akan menginap yang tentu saja kami benarkan. Lalu sambil memohon maaf dia menjelaskan bahwa akses kendaraan ke hotel masih terpisah dan jika kami berkenan, dia akan menunjukkan jalannya. Tentu saja kami tidak keberatan, sehingga tas-tas dimuat kembali dan melalui jalan yang sedikit memutar kami sampai di depan pintu hotel.

Penerimaan yang cepat dan ramah. Saya suka!

Tak perlu lama kami telah berada di kamar pesanan yang berhias batik Truntum (simbol cinta yang tulus) dengan pintu dan jendela kaca menghadap taman belakang yang penuh bunga. Tak menyesal saya memesannya meski untuk melihat pemandangan alam dan gunung harus berjalan sedikit. Ternyata hanya dengan jalan kaki selemparan batu kami telah sampai lagi di restoran tempat kami berhenti pertama kali tadi.

Hanya saja, sore itu kami tak beruntung mendapatkan sunset karena seluruh wilayah pandang penuh dengan awan. Tak mengapa, karena ada aura romantis memenuhi suasana restoran yang berada di luar ruang. Kelip-kelip kota Jogja mulai menampakkan keindahannya.

Abhaya Giri view

Mungkin bagi pasangan yang sedang jatuh cinta, santap malam di sini akan melimpahkan banyak kenangan, namun bagi kami sekeluarga yang menjadikan makan malam merupakan sebuah festival urusan perut 🙂 , suasana remang dari cahaya lilin tak banyak membantu. Makanan tak terlihat jelas sehingga berulang kali kami mendekatkan muka ke hidangan yang tersaji di meja. Salah makan cabe kan bisa berabe.


Abhaya Giri At night

Abhaya Giri, memang biasa menjadi opsi melepas penat karena ada teras atau jalan panggung buatan diapit sawah berlampu hias yang cantik. Instagrammable, apalagi di latar belakang dipenuhi kelap-kelip lampu kota, ketika malam datang.

Siang hari pun, -apalagi pagi hari-, pemandangannya tak kalah indah. Sebagian puncak bangunan candi terkenal di Indonesia, Candi Prambanan dan juga candi Sojiwan, terlihat di hamparan, membuat saya benar-benar terpikat. Apalagi, -sebagai penggemar candi dan kuil-, di halaman dalam dari Abhaya Giri juga terdapat Candi Sumberwatu, candi Buddhist yang berbentuk stupa dan mengalami proses restorasi bersamaan dengan pendirian restoran Abhaya Giri.

Pengelola resort memang memanjakan tamu-tamunya agar memiliki kenangan yang indah di Abhaya Giri, baik yang menginap maupun yang bersantap di restoran. Terlihat satu set wayang punakawan sebagai hiasan pada teras untuk memperkuat nilai budaya dan rasa heritage di tempat ini. Semuanya terasa saling melengkapi. Tak jauh dari situ, resort juga menyediakan pakaian tradisional untuk memanah. Menarik kan?

Kami menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di halaman resort menikmati malam, bahkan di lobby hotel pun disediakan permainan tradisional congklak dan permainan lainnya.

Lelah melakukan perjalanan jauh membuat kami semua terlelap begitu kepala menempel di bantal yang empuk. Bagaimanapun, kenyamanan tidur merupakan nilai yang paling utama pada sebuah peristirahatan. Meskipun hingga saya menginap saat itu, Abhaya Giri belum banyak membuka kamar untuk menginap.


Pagi yang merekah itu membuat saya bergegas keluar untuk berjalan pagi. Karena saat-saat matahari terbit alam melimpahkan berjuta keindahan.

Menjejak jalan kecil yang ditata manis dengan bunga di kiri kanan, saya kembali menuju teras utama.

Sebuah batu vulkanik besar hasil letusan dari Gunung Merapi beberapa waktu yang lalu diangkut lalu diletakkan di tengah di antara meja makan outdoor. Sebuah plakat peresmian bertandatangan Sultan terlihat di batu besar ini.

From the Pendopo
A beautiful Morning at Abhaya Giri

Pemandangan dari teras atas terasa menenangkan jiwa, di kejauhan Gunung Merapi dengan puncaknya yang tinggi tampak menghias latar belakang, kemudian bangunan utama Candi Prambanan terlihat menarik perhatian, dan hamparan sawah dengan puncak khas dari Candi Sojiwan dan menara masjid yang berdekatan seakan mengingatkan bahwa telah lama kehidupan beragama yang rukun dan penuh toleransi terjadi di bumi Indonesia. Dan semoga demikian juga seterusnya…

Sinar lembut mentari pagi yang baru saja terbit menerpa Candi Sumberwatu yang berbentuk Stupa, yang mungkin bagi sebagian orang yang tak tahu, stupa itu dianggap sebagai sebuah hiasan belaka.

Sunrise at Sumberwatu Temple

Siapa yang menyadari bahwa hingga tahun 2012, Candi Sumberwatu, -dipercaya berdiri pada tahun 700 M-, masih berupa onggokan reruntuhan yang terlupakan? Siapa yang sangka setahun kemudian reruntuhan itu bisa direstorasi hingga berdiri dengan anggun di tempatnya sekarang?

Sejak dulu oleh warga sekitar, sebenarnya Candi Sumberwatu dikenal dengan nama Sumur Bandung, yang merujuk pada tokoh antagonis dalam legenda Roro Jonggrang yaitu Bandung Bondowoso. Legenda ini begitu terkenal di Indonesia, paling tidak versi singkatnya pernah saya tulis di tulisan Mengintip Puncak Merapi dari Balik Legenda Candi Sewu.

Dalam struktur sebuah candi, biasanya terdapat bagian sumuran yang terletak di dalam lapisan kaki candi bagian tengah yang biasanya terbuka bila candi runtuh, termasuk juga Candi Sumberwatu. Di dasar sumuran ini biasanya para arkeolog akan mencari kotak peripih yang umumnya berisi prasasti tentang keberadaan candi. Dari sumuran ini pun Candi Sumberwatu lebih dikenal sebagai Sumur Bandung oleh masyarakat sekitarnya.

Dan seperti lingkungan tempat ibadah Buddha lainnya, tak jauh dari Stupa utama, terdapat kolam yang berisi bunga teratai warna-warni. Sebuah bunga yang menjadi simbol filosofi kehidupan. Jadilah seperti lotus, yang percaya pada Cahaya, yang mampu tumbuh melalui kepekatan lumpur dan percaya pada sebuah awal baru yang indah. Tanpa kehadiran manusia lain di sekitarnya, suasana terasa hening dan damai. Suasana yang serupa ketika saya berada di sebuah kuil. Tiba-tiba saya merindukan bunyi genta yang biasa melengkapi sebuah kehidupan kuil.

Lotus flowes near The Stupa

Tak jauh dari tempat saya berdiri, pengelola resort membuatkan sebuah teater terbuka dengan Candi Sumberwatu sebagai pusatnya. Melihat tempat duduk berundak itu, tidak bisa tidak saya teringat akan teater terbuka gaya Romawi dan langsung membayangkan sebuah pertunjukan kolosal yang luar biasa. Alangkah indahnya bila terselenggara di Abhaya Giri itu. Setidak-tidaknya sebuah resepsi pernikahan yang intim, dengan pengantin yang membaur di antara para undangan yang saling mengenal. Mungkin akan seindah penyelenggaraan sebuah pertunjukan sendratari tradisional.

Saya berhenti sejenak pada tangga yang menuju sebuah pendopo berupa rumah Joglo. Bisa jadi pendopo ini menjadi pusat bila sebuah acara dalam ruang diselenggarakan. Sebuah gebyok panjang yang teramat cantik menghias latar pendopo lengkap dengan ukiran rumit yang menunjukkan ketelatenan perajinnya. Pernah membaca soal gebyok ini? Jika belum, coba klik Pintu Gebyok Yang Tertutup

Meninggalkan Pendopo, kaki saya membawa kembali ke arah teras utama. Sebuah jalan buatan yang diapit oleh sawah yang ditanami padi. Satu dua manusia pagi telah berdiri di sana, mencuri suasana yang hanya hadir beberapa saat setelah matahari terbit. Mereka dan saya, sama-sama memahami, suasana seperti itu hanya sebuah privilege manusia yang bersedia bangun lebih pagi dan bisa menikmatinya dalam hening. Sebuah anugerah hari yang baru.

Kali ini pemandangan yang sama terasa lebih hangat. Mungkin karena sinar mentari pagi baru saja menerpa permukaan bumi. Gunung Merapi masih malu-malu berselimut kabut. Tak ada yang lebih indah daripada menikmati pemandangan gunung dan hamparan sawah serta candi-candi kuno di pagi hari, saat sinar matahari memantulkan cahaya hangat. Pemandangan khas di bumi Indonesia sejak jaman dulu kala.

The wisdom of Humility

Bunga keladi yang merunduk di antara pohon-pohon semak menarik perhatian untuk diabadikan. Beberapa langkah dari situ, sepetak sawah kecil berisikan padi yang menguning. Saya mendekat ke tanaman yang hasilnya bisa menguasai perut manusia Indonesia itu. Terpesona saya mengamati buliran padi yang merunduk. Langsung saja terlintas sebuah ajaran lama dari para leluhur. Ilmu padi, sebuah pemahaman yang teramat dalam tentang kerendahhatian. Di sini, di Abhaya Giri yang menghamparkan kedamaian, alam telah melimpahkan nasehat kehidupan.

Kaki saya melangkah lebih jauh, kini lebih ke Timur, ke arah kolam renang yang dikelilingi oleh rimbunnya pagar tanaman yang tertata indah. Hanya pengunjung restoran yang memiliki mata jeli yang akan memilih duduk dengan pemandangan indah kolam renang yang memantulkan warna biru ini. Bahkan dari tempat ini pun, Gunung Merapi pun masih bisa terlihat.

The Swimming pool
A Koi pond

Waktu berjalan terus, satu persatu pengunjung hotel terlihat memasuki restoran untuk sarapan pagi. Celoteh manusia makin sering terdengar memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti resort itu. Saya melipir ke arah kolam ikan yang bergemericik dengan ikan-ikan yang bergerak hilir mudik memulai kehidupannya.

Pelan-pelan saya melangkah kembali ke arah kamar dan berhenti sejenak di ayunan dengan pemandangan gunung. Pagi telah merangkak naik, hari baru telah dimulai, kesibukan menyambut rejeki telah menghampiri, tetapi rasa damai tetap mengisi hati.

Garden view of the resort’s room

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-43 bertema Indonesia agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Belajar Menerima Dari Bencana


“Maaf Ma, Pa, air sudah masuk ke rumah, tapi listrik masih nyala…”

Begitu pesan Whatsapp yang saya baca dari anak saya yang berada di rumah sementara kami sedang berada ribuan kilometer dari rumah. Sebanyak apapun pengalaman suami dan saya menghadapi banjir di Jakarta, kami tak bisa berbuat apa-apa di saat tak berada di tempat kejadian. Hati saya terbelah meskipun saat itu saya berada di tempat yang paling saya impikan sejak kecil, Palestina. Berita itu memporakporandakan antusiasme sebuah perjalanan batin, meskipun hari itu adalah hari terakhir menuju pulang ke tanah air.

Transit di Abu Dhabi tidak lagi menggembirakan. Kami ingin cepat sampai di rumah karena rumah adalah base-camp kami. Abu Dhabi bisa didatangi kembali lain waktu tapi rumah tetap prioritas nomor satu.

Tak terbayangkan anak-anak kami yang telah berbuat maksimal menghadapi musibah banjir di rumahnya sendiri, berupaya menyelamatkan barang-barang yang mampu mereka selamatkan. Banjir mereka yang pertama, yang harus dihadapi sendiri tanpa kehadiran orangtua. Banjir yang datang pada malam hari, tanpa mereka sadari, datang menerjang dengan cepat, menggenangi dan terus merambat naik, dalam keadaan listrik yang masih menyala. Ketika pagi datang, mereka tak bisa berbuat banyak kecuali hanya menyaksikan lantai dasar rumahnya telah terendam 70 cm dengan barang-barang yang sudah jungkir balik. Mereka hanya bisa menunggu di lantai dua sampai listrik dimatikan PLN untuk bisa bergerak melakukan penyelamatan terhadap sisa-sisa barang yang bisa diselamatkan. Lalu setelahnya, dengan segala pertimbangan matang, mereka mengirim pesan Whatsapp di atas.

Sekuat apapun kami mempersiapkan hati sesampainya di Jakarta awal Januari 2020 itu, rasanya tetap masygul menyaksikan isi rumah berantakan diterjang banjir. Air memang sudah surut tetapi ada rasa campur aduk melihat apa yang ada dan membayangkan pekerjaan di depan mata yang tak bisa terhindarkan. Rasa syukur berlimpah karena indahnya perjalanan Umroh ditambah kunjungan ke Al Aqsho seharusnya masih tinggi memenuhi dada, meskipun faktanya ada juga rasa sedih dan rasa kehilangan yang menyambangi jiwa.

Beruntung ada ART dan suaminya yang cekatan membersihkan lalu menata kembali seisi rumah, sebisa mereka. Tetapi jejak banjir tak mampu menyembunyikan betapa hebatnya banjir kali ini. Rasanya bagaikan bumi dan langit, keadaan rumah saat kami tinggalkan saat berangkat dan saat kami kembali, apalagi anak-anak sempat mengambil foto saat barang-barang seperti kulkas, lemari telah terhempas dan sofa-sofa mengambang.

Getir memang. Banjir yang ‘numpang lewat’ itu meninggalkan jejak yang tak sedikit. Begitu banyak barang yang harus dibuang, termasuk album-album foto lama yang belum sempat saya digitalkan. Ada banyak buku yang berada di lantai 1 yang harus saya buang. Ada banyak cerita, ada banyak kenangan yang hilang bersama banjir.


Vatsala Devi, 2014
Ruins of Vatsala Devi temple, 2017

Awal November 2014

Saya melakukan perjalanan solo ke Nepal, sebuah perjalanan yang amat mengesankan bertabur keluarbiasaan jika tak boleh dibilang keajaiban. Sebagi orang yang mengagumi sebuah kawasan World Heritage Site, saya terpesona dengan semua Durbar Squares yang ada, dari Kathmandu, Patan hingga Bhaktapur. Bahkan saya sempat berada di dalam keriuhan festival di Kuil Changu Narayan. Juga bisa menyaksikan secara langsung wajah Kumari The Living Goddess, Sang Dewi Hidup dari Kathmandu Durbar Square. Menyaksikan keindahan Himalaya dari jendela pesawat. Begitu indah.

April 2015, Gempa bumi besar melanda Nepal

Hanya berselang enam bulan setelah perjalanan istimewa saya itu, sebagian besar World Heritage Site yang saya saksikan rusak bahkan ada yang runtuh total. Gempa besar yang membuat longsor, menimbun rumah dan makhluk, tanah bergerak membuat manusia berteriak. Begitu banyak rumah dan bangunan yang hancur serta sekitar 9.000 orang melepas nyawa mereka.

Air mata saya jatuh saat membaca berita. Kathmandu Durbar Square yang sebelumnya memiliki kuil-kuil megah, mendadak tinggal undakan-undakannya. Padahal saya begitu terpesona di tempat itu. Juga Kuil Changu Narayan yang disakralkan, tempat saya berbaur dengan para wanita yang berbahagia pada perayaan Ekadhasi, mendadak kuil itu rusak parah terkena gempa bumi. Tak beda di Patan Durbar Square, kuil-kuil berusia ratusan tahun itu runtuh ke tanah. Di Bhaktapur Durbar Square juga tak beda. Kuil-kuil cantik juga runtuh, padahal saya berlama-lama di tempat itu.

Begitu kuat kenangan itu, sehingga saya merasa begitu kehilangan semua keindahan yang pernah saya saksikan enam bulan sebelumnya.

April 2017

Dua tahun setelah gempa besar itu, saya kembali ke Nepal. Gundahnya saya akibat gempa itu membuat saya hanya menyempatkan diri ke sebuah sudut di Bhaktapur Durbar Square. Saya juga tak pergi ke Kathmandu Durbar Square atau Patan Durbar Square. Bisa jadi saya terlalu sedih untuk menyaksikan hilangnya world heritage itu.

Di tahun 2017 itu, saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala seakan tak menerima kenyataan ketika berada di Vatsala Devi temple yang rata dengan tanah ketika terjadi gempa. Padahal saat 2014 lalu, kuil itu begitu cantik menghias Bhkatapur Durbar Square.

Bhaktapur Durbar Square, 2014
Bhaktapur Durbar Square, 2017

Ada banyak contoh lain dampak sebuah bencana dari yang sebelumnya cantik, bagus, keren, indah dan sebagainya menjadi sebuah yang menakutkan, hancur berantakan, babak belur atau luluh lantak. Ada juga yang namanya penyempurnaan atau perbaikan, Dari yang awalnya kurang baik menjadi lebih baik. Semua bermakna sama: perubahan. Jika hasilnya lebih buruk daripada sebelumnya maka itulah yang disebut bencana. Namun jika hasilnya dianggap lebih baik dari sebelumnya, maka hal itu disebut penyempurnaan, menjadikan sesuatu lebih mendekat pada kesempurnaan,

Padahal rasanya pasti serupa. Saya juga merasa getir dan masygul ketika sampai di rumah menghadapi amukan bencana banjir Januari awal tahun ini. Saya juga tak mampu bahagia melihat kuil cantik yang dahulu ada kini hanya tinggal nama. Rasanya begitu manusiawi memiliki rasa-rasa itu.

Hanya saja, tak baik memeliharanya lama-lama.

Dengan memelihara sedih atau gundah itu bisa bermakna terikat pada sesuatu yang sebelum hilang itu, pada sesuatu yang sebelum hancur.

Padahal hancur juga kan? Hilang juga kan? Jadi sebenarnya untuk apa merasa masygul berkepanjangan? Untuk apa merasa sedih berlama-lama?

Jika bencana itu sudah seharusnya terjadi, maka bencana itu pasti terjadi. Seperti saya yang tak bisa berbuat apa-apa lagi ketika mengetahui banjir yang cukup dalam menerjang rumah. Seperti saya yang tak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali geleng-geleng kepala ketika berdiri di dekat reruntuhan kuil Vatsala karena gempa besar Nepal.

Pada suatu titik, akhirnya kita hanya bisa menerima.

Seperti seorang bayi yang baru lahir, hanya bisa menerima dan terus belajar menerima lalu bereaksi untuk tumbuh.

Bahkan bencana-bencana itu merupakan pembelajaran yang hebat


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-42 bertema Before & After agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Bersama Berbagi Jalan


Awal November 2014

Rupanya delay penerbangan dari Kathmandu ke Pokhara ketika saya melakukan perjalanan pertama kali ke Nepal di tahun 2014, memberi sebuah kebaikan. Saya jadi lebih memperhatikan rombongan trekkers yang siap trekking, lengkap dengan celana dan sepatu boot yang keren. Saat itu, tentu saja trekking bukan pilihan saya untuk berlibur di Nepal, karena saya tahu diri dengan fisik yang tak terlatih. Meskipun demikian, saya selalu terpesona dengan penampilan para trekkers itu. Sepertinya keren sekali!

Tetapi siapa sangka, ketidakyakinan akan kekuatan diri itu justru bertindak sebaliknya. Karena dua tahun setelah perjalanan pertama ke Nepal, saya mulai mencari informasi mengenai trekking di Nepal, termasuk mencari teman seperjalanan. Meski saya tahu ada banyak orang melakukan solo-trekking di Nepal, bagi saya hal itu bukan opsi untuk pengalaman pertama. Akan lebih baik saya berjalan dalam kelompok apalagi saya bukan pendaki.

Dan dari informasi yang tersebar di internet, saya juga mengetahui mengenai rombongan hewan yang sering ditemui oleh para trekkers di sepanjang jalur trekking. Sepertinya menyenangkan sekali berbagi tawa dan rasa ingin tahu bersama teman-temen serombongan ketika bertemu dengan rombongan hewan itu. Itulah salah satu imajinasi saya tentang trekking di gunung-gunung tinggi Himalaya. Sebahagia itukah jika saya trekking?


Minggu ketiga April 2017

Saya kembali ke Kathmandu, kali ini untuk tujuan trekking. Namun dalam perjalanan kali ini saya tak sendiri, melainkan bersama seorang teman. Impian bisa trekking dalam rombongan yang lebih banyak anggotanya belum bisa terwujud. Meskipun demikian, saya masih bersyukur masih ada yang berkenan bergabung dengan saya, -yang pastinya secara fisik paling tidak kuat dan paling lambat-, untuk trekking di Himalaya.

Kawan saya itu, -saya memanggilnya Pak Ferry-, bergabung bersama saya untuk trekking ke Himalaya juga sesuatu yang tiba-tiba. Sore itu entah angin apa yang membawanya, tiba-tiba saja dia menanyakan kemungkinan jalan ke Nepal (Dia tahu saya pernah ke Nepal). Satu pertanyaan yang membuat saya terkejut saat itu karena sesungguhnya saya sedang mencari teman jalan ke Nepal. Inikah yang namanya Law of Attraction? Tak perlu banyak pertimbangan lagi untuk mengambil keputusan untuk segera Berangkat!

Dan bersama seorang tour guide asli Nepal dan seorang porter, kami berempat menjadi rombongan kecil yang lumayan aneh, yang satu (saya) tidak kuat nanjak dan yang satu lagi (Pak Ferry) cemas jika berada di tempat-tempat tinggi. Tetapi kami berjalan bersama, berbagi bahagia…


Di hari pertama trekking di kawasan Annapurna, rasanya belum lama meninggalkan Tikhedunga, -desa berikutnya setelah diturunkan dari jeep yang membawa dari Pokhara-, kami bertemu juga dengan rombongan keledai atau mungkin juga mule. Saya sendiri tak dapat membedakan antara mule dan keledai, mungkin karena saya tak terlalu memperhatikan mereka. Yang pasti lebih mirip keledai namun posturnya lebih besar. Mule merupakan campuran dari keledai dan kuda.

Pasukan keledai alias mule itu mendekat dengan membawa keriuhan klenengan yang tergantung di lehernya. Mereka semua adalah penolong manusia untuk membawa barang-batang yang super berat. Yang amat meninggalkan kesan adalah bunyi klenengannya yang terdengar dari jauh. Dan ternyata bunyi khas itu membuat rindu. Percaya deh.

Karena hari itu, baru kali pertama bertemu dengan rombongan mule,, saya ingin mengabadikannya lebih dekat, tetapi tak sadar saya berdiri di jalur jalannya. Ia mendatangi saya yang terlihat semakin jelas dan besar dari jendela bidik kamera. Menyadari kesalahan melihat bibir dan wajah keledai yang semakin besar di kamera, saya langsung balik badan lalu berusaha menjauh untuk menghindarinya. Sayangnya, tidak ada jalan setapak di depan. Tanpa pikir panjang, saya melompat ke samping ke tempat aman. Pemandu kami sampai terbahak menyaksikan saya melompat menyelamatkan diri seperti dikejar keledai. Awkward banget…

Menariknya, rombongan mule itu tertib dalam berjalannya. Yang satu mengikuti mule yang di depannya. Jika di depannya mendadak berhenti, mule itu hanya melengos sedikit dan ikut berhenti. Kecuali disuruh lebih cepat oleh gembalanya, kecepatan langkah hewan-hewan itu bisa dibilang sama. 

Biasanya kami berhenti sejenak saat bertemu dengan rombongan mule, memberi jalan untuk mereka. Saat itulah saya memperhatikan. Kasihan juga karena beban yang dibawanya tidak ringan. Klenengan yang bergantung di lehernya dan berbunyi teramat khas itu melengkapi peristiwa bertemu dengan mereka, meninggalkan kesan yang dalam dan mengendap dalam kenangan. Membius menjadi sesuatu yang dirindukan.

Saya tenggelam dalam imajinasi, membayangkan menggiring hewan-hewan pengangkut yang sudah berlangsung berabad-abad melewati gunung-gunung salju, membuat rute-rute perdagangan. Barang-barang yang diperjualbelikan melewati batas negara dari Timur sampai Barat dan sebaliknya. Mule terakhir yang lewat di depan saya segera menyadarkan kembali, mereka telah berjalan di depan dan kini saya melanjutkan perjalanan kembali. 

Tidak hanya mule atau keledai, dalam trekking di Annapurna itu kami menjumpai rombongan hewan seperti kerbau, yang karena badannya besar saat beristirahat di tengah jalan, membuat jalan setapak itu setengah tertutup oleh mereka. Saya agak ngeri melewati kerbau-kerbau yang besar-besar itu,. Tapi bagaimana lagi? Kadang saya berjalan di antara mereka dengan baca doa agar mereka tetap diam. Ngeri juga kan kalau mereka mendadak mengamuk? Pernah sekali waktu saya memilih meniti pagar tembok kecil karena takutnya dengan mereka (padahal di sebelah tembok itu lembah yang cukup dalam).

Tidak hanya mule dan kerbau, dalam akhir trekking kami juga menjumpai rombongan kambing yang lebih banyak dan sangat khas baunya… bau kambing 😀 😀 😀

 

Tak beda jauh dengan yang dijumpai saat trekking di Annapurna, kami berjumpa pula dengan rombongan kerbau saat saya melakukan trekking ke Namche Bazaar di kawasan Everest. Lucunya, saya biasa mengikuti jejak hewan-hewan pengangkut itu karena lebih landai di tanjakan meski harus berjalan zig-zag. Kata pemandu saya, selalu ada dua opsi untuk melangkah saat trekking: mengikuti jalur manusia atau yaks/kerbau. Dan sebagian besar saya memilih yang terakhir 😀 Sayangnya saja, kalau mengikuti jejak mereka, harus berhati-hati karena ranjau yang mereka lepaskan secara sembarangan dan ukurannya itu besar dan banyaaaaakk… Dari yang sudah kering sampai yang fresh baru keluar huuueeeekkk….

Bertemu dengan rombongan hewan itu mempunyai himbauan tersendiri. Jika bertemu dengan mereka, usahakan kita sebagai manusia berada di sisi tebing dan membiarkan mereka berjalan di sebelah yang ada jurang. Jangan terbalik, risiko bisa fatal jika hewan-hewan itu lepas kendali. Meskipun selama ini saya tak pernah melihat hewan-hewan itu lepas kendali. Kelihatannya satu sama lain mereka saling terhubung dan orang yang mengatur perjalanan mereka sangat memahami hewan-hewan itu. 

Juga di jembatan gantung. Seperti perempuan di dunia manusia dengan istilahnya ladies first, untuk di jembatan gantung ladies first itu tidak berlaku. Pernah saya masih di tengah jembatan suspension sementara dari depan sudah terdengar klenengannya yang semakin cepat. Pemandu saya memaksa setengah lari agar kami tidak terjebak bersama kerbau atau yaks itu di tengah jembatan. Alhasil saya mendadak menjadi pelari berharap rombongan hewan itu tidak memasuki jembatan terlebih dahulu. Kebayang kan lari di jembatan suspension yang bergoyang-goyang itu? 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-41 bertema Group agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.