Shibuya Crossing


Siapa yang tak mengenal Simpang Shibuya (Shibuya Crossing) yang terkenal dengan situasi scramble pada saat lampu lalu lintas bagi pejalan kaki berubah menjadi hijau? Di sana semua kendaraan berhenti dan pejalan kaki diperbolehkan menyeberang dalam marka pejalan kaki, ke jalan di sampingnya dan juga jalan di depannya atau bahkan ke arah diagonal dari kotak persimpangan. Rasanya sebuah situasi yang sangat familiar melihat gambar atau video di Jepang ini karena memperlihatkan begitu banyak orang melintasi sebuah persimpangan dalam satu waktu.

Shibuya Crossing

Bermula dari kemenangan menghadang penjahat yang melakukan penyerbuan ke Imperial Palace di Kyoto jelang akhir periode Heian (sekitar abad ke-11), Kaisar menganugerahkan gelar Shibuya menjadi nama keluarga kepada seorang ksatria yang telah berjasa menjaga eksistensi istana kerajaan itu. Lalu sesuai dengan rencana strategis kekaisaran untuk menjadikan Edo sebagai ibukota Timur (yang saat ini dikenal sebagai Tokyo), sang ksatria membangun kediamannya yang lokasinya tak jauh dari Edo, sebelah barat daya ibukota baru itu. Dan kastil Shibuya itu yang mampu bertahan lebih dari setengah millenium telah menjadikan daerah sekitarnya menjadi sebuah kawasan pedesaan yang kian ramai.

Keramaian sejak berabad lalu itu menunjukkan perkembangan selanjutnya. Tahun 1885 Shibuya menjadi sebuah stasiun kereta di jalur Akabane – Shibuya, yang dalam perkembangan di jaman modern menjadi jalur JR Yamamote line yang terkenal sebagai jalur kereta yang melingkari Tokyo. Di abad ke-19 itu pula karena banyak pabrik bermunculan, pembangunan rumah juga meningkat. Apalagi setelah gempa besar yang melanda Tokyo dan juga kebakaran besar akibat Perang Dunia II, Shibuya tidak turun pamornya sebagai pusat kegiatan masyarakat. Bahkan saat itu Shibuya menjadi lebih terkenal, karena pasar gelapnya mengingat masyarakat perlu menghidupi diri mereka sendiri terutama di masa ekonomi yang suram. Waktu berjalan terus dan sejalan dengan membaiknya perekonomian Jepang, Shibuya semakin menancapkan kukunya sebagai pusat kegiatan perekonomian di Tokyo. Toko dan pusat-pusat perbelanjaan megah, perkantoran, stasiun kereta yang semakin besar dan terintegrasi dibangun di Shibuya.


Beberapa kali melakukan perjalanan ke Tokyo, biasanya saya menyempatkan diri ke distrik Shibuya yang sibuk itu. Tentunya saya naik kereta dan berhenti di Stasiun Shibuya legendaris yang konon memiliki banyak pintu keluar. Tapi tentu saja, paling sering saya keluar melalui Gerbang Hachiko karena melaluinya saya bisa mencapai banyak destinasi. Lewat gerbang Hachiko ini, -selain menemui patung anjing Hachiko yang terkenal sebagai simbol kesetiaan-, saya bisa secara cepat mencapai Shibuya Crossing yang terkenal seantero dunia itu. Rasanya memang menarik melihat situasi “scramble” dari pejalan kaki. Bayangkan saja, dalam satu hari lebih dari ratusan ribu orang bisa melintasi penyeberangan itu dari segala arah menuju tujuannya masing-masing. Luar biasa kan? Benar-benar sebuah kawasan yang hectic di negeri Sakura itu.

Tak jauh dari Patung Hachiko, biasanya saya berdiri di sudut Shibuya Crossing dan menyaksikan keluarbiasaan di depan mata. Seperti melakukan countdown saat pergantian tahun baru, para pejalan kaki berdiri di pinggir jalan sambil menghitung dalam hati lampu lalu lintas berubah hijau untuk pejalan kaki. Begitu banyak manusia berdiri di sudut-sudut jalan menanti lampu berubah menjadi hijau lalu serta merta pejalan kaki tu memenuhi ruang dalam persimpangan. Seperti ratusan lebah yang terbang karena sarangnya dirusak, semua pejalan kaki yang tadinya berdiri di pinggir jalan tiba-tiba bergerak cepat menyeberang tanpa menabrak satu sama lain. Pemandangan yang luar biasa! Seakan memastikan bahwa Shibuya memang sebuah hub sejak berabad-abad lalu.

Ada banyak turis di dalam ratusan orang yang menyeberang dalam satu kesatuan waktu itu, berbaur bersama orang-orang lokal yang benar-benar membutuhkan simpang Shibuya itu. Turis lebih banyak terjun ke “kolam penyeberangan” hanya untuk merasakan sensasi berada di Shibuya Crossing. Mereka menyeberang dan kembali lagi, melakukan selfi atau wefie. Tidak jarang membuat video proses scramble itu dengan berbagai efek, termasuk efek Boomerang-nya Instagram. Pokoknya eksis di Shibuya 😀 😀 😀

Waiting for the green light
A shuttle bus passing by…

Apalagi dengar-dengar katanya Stasiun Shibuya akan direvitalisasi, pastinya akan lebih megah dan tentunya berakibat Shibuya Crossing akan semakin hectic. Dengan semakin banyak gedung pencakar langit yang berisi perkantoran, mal dan tempat belanja eksklusif di sana, tidak heran Shibuya semakin ramai. Sekarang saja, amat mudah menemukan orang yang berbelanja di Shibuya 109, mal 10 lantai yang populer di kalangan perempuan muda. Termasuk bangunan baru Shibuya Stream yang memiliki 35 lantai yang penuh dengan toko, restoran, dan kafe.

Memang, Shibuya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti dan akan terus menjadi primadona sebagai destinasi utama di Tokyo!


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-51 bertema Hectic agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

D7-Trekking Nepal – Berita Baik


Jika belum baca cerita trekking sebelumnya, bisa baca di sini D6-Trekking Nepal – Di Simpang Jalan

Tidak terasa sudah seminggu kurang sehari kami sudah berkeliaran naik turun di perbukitan tinggi yang masuk ke dalam Area Konservasi Annapurna. Negeri ini memang ‘gila’ soal kontur bumi. Tidak usah heranlah, di negeri ini ada 8 gunung yang memiliki ketinggian di atas 8000 mdpl yang mengisi ranking gunung-gunung tertinggi dunia. Dengan kondisi demikian, jelas juga kalau yang namanya perbukitan di Nepal yang amat banyak itu, bisa memiliki ketinggian di atas 3000 meter di atas permukaan laut! Sehingga saat berada di Landruk yang memiliki ketinggian sekitar 1600 mdpl, saya merasa sudah berada di “dataran rendah”. Padahal jika berada di Indonesia, sudah termasuk tinggi juga.

Morning view at Landruk, Nepal

Kamar saya yang luas dan menghadap lembah dengan taman cantik sebenarnya menyenangkan tetapi saat itu saya lebih memilih untuk bersantai di kamar sebelum menikmati mandi yang paling enak sedunia (setelah berkeringat sepanjang hari). Lagipula update status lebih menyenangkan 😀 😀 😀

Kami berkumpul lagi saat makan malam. Saat itu kami berempat merupakan tamu satu-satunya di penginapan, bisa jadi karena trekkers lebih banyak memilih rute lain daripada Landruk atau sudah tak menjadikan Landruk sebagai tempat menginap karena berjalan sedikit lagi sudah bisa mencapai tempat jeep untuk kembali ke Pokhara.

Karena kangen, saya buka WA keluarga. Apa yang tampil di layar membuat saya menjerit kecil. Yaaaayyyy…. Alhamdulillah… Pak Ferry dan Dipak langsung mengangkat kepala dari ponsel mereka masing-masing, menunggu…

Melupakan Dipak yang tak memahami bahasa Indonesia, saya langsung berkata dalam bahasa ibu,

“Anakku diterima di SNMPTN”

Pak Ferry tersenyum lebar dan langsung menyorongkan tangan, memberi selamat

“Selamat ya mba…”

Saya yang teramat gembira, langsung menghubungi yang tercinta jauh di seberang lautan itu, melupakan kawan-kawan yang sedang menunggu datangnya makanan. Sayup terdengar Pak Ferry menjelaskan alasan mengapa saya berbahagia itu kepada Dipak.

Berita gembira itu benar-benar membahagiakan saya, terbayang wajah anak saya yang selama ini belajar tanpa henti mengikuti bimbingan baik di sekolah maupun di luar sekolah agar bisa melanjutkan pendidikan tinggi. Awalnya ia memilih jurusan komunikasi namun sekolahnya menyarankan agar ia mengambil jurusan Psikologi. Dan berdasarkan sejarah tahun-tahun sebelumnya, rekomendasi dari sekolahnya selalu lolos seleksi. Tak dinyana, berdasarkan hasil report sekolahnya, dia berhasil diterima di pilihan jurusannya berdasarkan undangan. Alhamdulillah, Allah Pemilik Semesta menghadiahkan sebuah berita gembira di saat saya rindu mereka.


Keesokan paginya, gunung berpuncak salju itu berhias awan, seakan-akan tak ingin bersaing memenangkan rasa sukacita yang masih membalut saya karena ada berita gembira dari tanah air. Saya tak merasa bersalah karena tak banyak mengabadikan gunung berhias awan itu. Lagipula kami harus cepat bersiap-siap.

Meninggalkan penginapan dengan formasi yang sama, Kedar di paling depan, pak Ferry menyusul di belakangnya lalu saya dan Dipak. Belum apa-apa jalan sudah menanjak membuat semangat langsung mengendur apalagi jalan ini menuju berakhirnya trekking. Masih 1 malam menginap di Australian Camp sebelum kembali ke Pokhara.

Seperti biasa, saya mengalihkan jalan menanjak itu dengan menikmati pemandangan di kiri kanan jalan. Sayangnya hanya ada sepasang kerbau yang memenuhi kandang. Seandainya mereka bisa berpikir, mungkin mereka akan menilai saya sebagai manusia yang manja karena berjalan lambat dengan nafas yang sudah terengah padahal masih baru start dan hanya menggendong daypack. Saya melangkah pelan sambil mengomel dalam hati, mengapa yang namanya pulang dari gunung itu harus naik perbukitan yang tingginya gak kira-kira?

Menuju tempat yang lebih rendah ketinggiannya, sinar matahari semakin terasa memanggang apalagi pemandangan tak lagi memanjakan mata. Yang tampak hanyalah jalan berkelok menyusuri punggung bukit. Langkah saya melambat bukan karena jalan menanjak melainkan panas yang membuat keringat mengucur hebat. Untung saja, saya bertemu rombongan kambing yang digembalakan oleh seorang ibu. Rombongan hewan yang jumlahnya sekitar dua puluh itu memberikan kesan tersendiri. Bahkan di saat suasana terik yang memanggang jalan tanah berkerikil dengan tebing dan jurang, rombongan yang punya bau yang khas itu, -bau kambing-, bisa menyenangkan hati. Menyadari hawa panas, Dipak mengajak saja melanjutkan perjalanan sambil mengatakan tempat istirahat sudah dekat dan ada minuman segar di sana.

Herd of Goats, Landruk, Nepal

Benar, setelah beberapa waktu, saya melihat pak Ferry dan Kedar sedang duduk istirahat. Di dekatnya ada warung yang menjual lemonade yang langsung saja saya pesan. Meskipun agak lebay, saya merasa seperti sedang jalan di gurun yang membuat dahaga luar biasa, dan minum lemonade itu rasanya seperti memiliki surga dunia 😀 Segarnya langsung terasa dan memberi efek semangat ke badan (meskipun saya harus hati-hati karena teringat jaman dulu saat panas-panas dan kehausan, minum cocacola dingin membuat suara saya langsung hilang!).

Setelah meneguk habis minuman yang membuat yang ‘lupa diri‘ itu, baru kemudian saya pelan-pelan menikmati isi gelas kedua dan membiarkan seluruh rongga mulut menyesapnya. Seteguk dua teguk, mata saya tertarik dengan pemandangan di bukit seberang yang dibatasi oleh lembah yang luas. Bukit itu seperti digaris-garis miring seperti simbol kilat yang berulang.

Road to Ghandruk, viewed from Landruk
Closer : Dangerous road to Ghandruk and Matkyu

What’s that?“, akhirnya pertanyaan yang muncul di benak saya terlontar juga kepada Dipak

New Road“, jawabnya santai setelah memperhatikan apa yang saya tunjuk.

To Ghandruk?”

Dipak mengangguk singkat, seperti tak berkenan. Mungkin ia tak suka jalur-jalur trekking di pegunungan Himalaya berubah menjadi jalan mobil atau bus karena berdampak langsung terhadap pekerjaannya sebagai seorang pemandu trekking (dan setelah dua tahun baru saya menyadari bahwa jalan yang saya lihat itu merupakan jalan jeep atau bus dari Nayapool ke Matkyu, -sebuah desa kecil setelah Ghandruk-, yang bisa menghemat sehari untuk ke Annapurna Base Camp karena cukup sehari untuk mencapai Chhomrong dari yang biasanya dua hari)

Tanpa sadar saya mengangkat bahu, merasa jeri. Teringat perjalanan menuju Hille (baca disini Nepal – Trekking Hari Pertama Menuju Ulleri) dengan insiden yang cukup mengerikan, roda jeep terjebak dalam kubangan di jalan sempit, dengan jurang dalam di kiri dan tebing tinggi di kanan. Jalan menuju Ghandruk itu pasti tak jauh beda. Entahlah, semoga suatu saat nanti saya bisa melakukan trekking lagi ke ABC yang mungkin saja akan melewati jalan itu

Lemonade saya sudah tinggal sedikit, dengan sekali teguk gelas minuman dari kaca itu menjadi kosong. Tapi semangat melanjutkan perjalanan muncul segera. Australian Camp, -destinasi hari itu-, sedang menanti kami.

Langkah saya belum terlalu banyak ketika kegilaan trekking dimulai. Pak Ferry mengajak Dipak lari di gunung. What? Di ketinggian ini, mau trail-run? Keduanya tertawa-tawa tapi bukan berarti tak menjalankan. Saya menjadi saksi mereka berdua seperti boys yang tak mau kalah. Meski bukan lari sprint, mereka berdua benar-benar lari sambil memanggul ransel. Tak jauh memang, tetapi bagi saya, -yang jalan saja melelahkan apalagi lari-, mereka sudah “tidak waras”. Di batas kelokan jalan, mereka tertawa-tawa puas sambil menunggu saya yang datang dengan geleng-geleng kepala. Sambil tertawa-tawa, pak Ferry mengatakan bahwa saya boleh memberitakan ‘kegilaan’ mereka melakukan sepenggal Himalaya trail-run.

Wanna run here?

Kadang-kadang saya tak habis pikir, jika urusannya sudah tantang menantang, pria-pria yang tak muda lagi dan sudah berbuntut banyak itu bisa lupa diri dan kembali dengan jiwa mereka yang masih boyish. Tetapi dengan menyaksikan itu, kok saya jadi merasa tua banget yaa… 😀 😀 😀

Siang itu, setelah makan siang yang lagi-lagi dal bhat atau mie instan yang hambar (saya kangen sekali indomie kalau saya makan mie instan di Nepal), saya sempat membeli selembar rok lilit panjang berwarna biru di kios souvenir yang sederhana. Rok lilit itu serupa kain yang ada talinya di bagian atas sehingga tinggal dipakai seperti kain lalu diikat di pinggang. Entah kenapa, mungkin saya merasa iba dengan bapak tua penjualnya sekaligus saya merasa begitu familiar dengan motif bahan rok itu sehingga saya memilihnya (dan keesokan paginya di kamar penginapan di Australian Camp, saya tertawa ngakak sendirian di kamar, karena di pinggir rok panjang lilit yang saya beli itu bertuliskan “Batik Halus Royal Peach by Legenda Mas”. Pagi itu sambil tertawa sendiri, saya menyadari alasan memilih rok panjang itu. Rupanya pikiran bawah sadar saya memilih motif megamendung yang sudah dikenal lama di dunia perbatikan. Tapi siapa sih yang akan berpikir ada kios yang menjual kain batik Indonesia dengan motif megamendung di desa nun jauh di sana, di sudut terpencil bukit di Nepal? Bukan di Kathmandu sebagai ibukotanya, bukan juga di Pokhara, kota terdekatnya, bukan di desa terbesar di jalur trekking, melainkan di kios sangat sederhana di gunung!)

Batik Megamendung from Indonesia bought in Nepal 😀

Nantinya, saya akan sangat mensyukuri telah membeli rok lilit panjang yang ternyata bertuliskan “Batik Halus Royal Peach by Legenda Mas” di tempat antah berantah yang nun jauh di sana dan tak terduga itu, karena bagi saya hal itu bukanlah sebuah kebetulan. Tapiiii, entahlah… yang pasti kain itu hanya satu dan saya seperti dituntun untuk berjalan ke kios yang sederhana itu dan melihat motif itu! Bagi yang mengenal saya pasti tahu, saya paling malas belanja, apalagi souvenir.

Kaki kami terus menapaki jalan yang menanjak landai atau sering disebut “Nepali flat” (nanjak “sedikit” bagi warga Nepal masih dalam kategori rata) 😀 hingga saya melihat sebuah suspension bridge pendek yang sudah sangat rapuh, kayunya lapuk, lubang di sana-sini dan baja-bajanya sudah termakan karat. Jembatan itu sudah tidak dipergunakan lagi karena ada jalan yang sedikit memutar (mending memutar daripada ambrol ke bawah!). Tapi bagi saya, jembatan itu keren sekali.

Old Bridge

Setelah berfoto sejenak dengan latar belakang jembatan, Dipak mengajak agak bergegas karena kami harus mendaki bukit lagi sementara cuaca mulai mendung. Semangat saya langsung surut dengan kenyataan yang ada di depan itu. Saya mulai lagi berjalan menghitung sepuluh langkah dalam bahasa Nepal, ek, dui, tin, char, panch, cha, sat, ath, nau, das… atau kadang ganti menggunakan bahasa leluhur saya, een, twee, drie, vier, vijf, zes, zeven, acht, negen, tien. Atau menyeberang sedikit ke Jerman dan kalau lagi “kumat” ya, pakai bahasa Khmer meski hafalnya sampai lima saja moui, phi, bai, boun, pram 😀

Sampai di puncak bukit tersedia semacam shelter sehingga kami bisa beristirahat sejenak. Dari tempat itu, Dipak memberitahu bahwa lagi-lagi di arah ABC cuacanya tak begitu baik karena salju telah turun di bawah ketinggian biasanya. Itu tak biasa. Saya terdiam mengucap syukur dalam hati, batalnya kami untuk melanjutkan trekking ke arah Base Camp bisa jadi karena mendapat perlindungan dari sesuatu yang tidak menyenangkan. Hanya beberapa menit, pemandangan gunung bersalju itu telah hilang berganti dengan awan hujan kelabu.

Sebenarnya di tempat kami belum hujan, tetapi Dipak menyarankan agar menunggu hingga hujannya lewat. Benarlah, tak berapa lama hujannya sampai di shelter itu dan turun sangat lebat. Kami menunggu sampai hujan berhenti, sementara ada beberapa trekkers lain melanjutkan perjalanan menembus hujan.

Matahari langsung bersinar ketika hujan berhenti. Kami melanjutkan perjalanan. kali ini lebih menyenangkan karena landai dan teduh. Seperti jalan di Taman Nasional, tak ada target, kecuali menikmati perjalanan dalam liburan.

Beautiful View on the way to Australian Camp

Hari masih sore ketika kami sampai di checkpoint di Lwang, sebelum akhirnya menjejak Australian Camp. Meskipun namanya camp, tetapi di tempat ini lebih banyak menyediakan penginapan yang nyaman daripada area untuk camping.

Australian Camp, tempat yang mudah dicapai dari Pokhara dan sering dijadikan destinasi untuk pengalaman trekking sehari di Nepal. Ada yang pernah ke sini juga?

Bersambung…


Catatan. Tulisan ini dibuat untuk melanjutkan kisah trekking di Nepal sekaligus menjawab tantangan mingguan tahun 2020 minggu ke-50 bertema News

December, The Last One, The Best One


Tanpa sadar, setelah menelan sebelas bulan sebelumnya, Sang Waktu yang konsisten itu pun telah melahap setengah bulan terakhir tahun 2020 ini, meninggalkan manusia-manusia terlena yang mencoba menggenggam momen-momen yang telah terjadi. Sang Waktu tidak peduli dengan mereka, juga dengan momen-momen mereka. Sang Waktu tetap berjalan maju…

Saya termasuk dalam golongan manusia-manusia itu karena tak mampu menjaga konsistensi untuk terus bergerak maju. Dalam banyak kesempatan dalam kehidupan, saya membiarkan diri berlama-lama memeluk momen-momen yang sudah berlalu seakan-akan momen itu pasti setia mengikuti.

Padahal, momen itu akan tertinggal di masa lampau. Sebagai kenangan.


Dan diantara momen-momen yang sering kali saya tengok dan membiarkan diri berlama-lama mengenangnya adalah momen-momen yang terjadi di bulan Desember, bulan terakhir di setiap kalender Masehi. Entah kenapa di bulan ini banyak sekali terjadi momen yang mengisi kehidupan saya, meski di tahun-tahun yang berbeda. Yang indah, yang memilukan hati, semuanya mewarnai kehidupan…

4 Desember – Belajar Ikhlas

Seharusnya hari itu menjadi hari yang menyenangkan. Indeed, memang menyenangkan di awalnya namun berubah menjadi airmata sedih di penghujung hari. Dia yang memiliki wajah menenangkan awalnya mengajak merayakan hari jadian, tepat dua tahun mencoba mengenali masing-masing pribadi agar siap menuju gerbang pernikahan.

Autumn shows us how beautiful it is to let things go

Entah siapa yang memulai, bisa saya, bisa juga dia atau memang jalannya memang harus demikian. Sesuatu yang nyaris tabu dibicarakan diantara dia dan saya, akhirnya terbuka juga. Tentang bedanya jalan iman dia dan saya. Masing-masing pribadi memahami, cepat atau lambat, sekarang atau nanti, waktunya akan datang. Kami berdua harus menghadapinya masing-masing. Siapkah kami untuk melanjutkan perjalanan bersama, dengan segala konsekuensinya. Bagaimana dengan dia, bagaimana dengan saya? Lalu bagaimana dengan keluarga yang telah membesarkan dia dan saya? Bagaimana dengan anak-anak nantinya? Begitu banyak pertanyaan “bagaimana” yang harus saya jawab dengan jelas.

Dipenghujung hari semua menjadi blur dengan air mata. Detik-detik waktu rasanya berjalan sangat lambat, tak mampu membuat jalan kami bertemu. Rasanya ingin dihindari, tetapi baik dia maupun saya sama-sama tahu, semua itu hanya penundaan. Hari itu, atau nanti, segera atau bulan depan pasti akan datang waktu penuh diskusi panjang tak berkesudahan, seperti hari itu.

Sedalam apapun cinta kami berdua, -meski tahu tujuan akhirnya adalah Dia Yang Maha Kasih-, hati ini tetap memilih jalan masing-masing pribadi menuju Sang Pencipta. Dan hari itu, kami sampai di penghujung perjalanan kebersamaan. Hati kami, -meski penuh airmata-, harus saling melepaskan diri. Sebuah keputusan berat dan perlu keikhlasan.

Di tanggal jadian yang sama, kami saling mengikhlaskan untuk bisa menapak perjalanan kehidupan sesuai pilihan iman kami. Sedih, berat, broken-hearted tapi di sisi lain masing-masing ada rasa damai, terang, tenang yang dimenangkan.

15 Desember – Hadiah VersiNya

Bertahun-tahun setelahnya, berulang kali saya gagal mencoba merajut kasih dengan yang satu iman. Rasanya begitu lelah sehingga akhirnya saya menyerah. Seperti ada yang salah. Tak bisa tidak, saya harus melambatkan langkah di antara manusia lain yang seperti berlari. Alih-alih mendekati manusia lain, saya melakukan perjalanan jauh ke dalam diri. Cukup sudah melihat dan berharap dari manusia. Melalui doa-doa panjang penuh harap, melalui puasa dan tahajjud di malam-malam penuh hening, saya tersungkur berserah diri sepenuhnya kepadaNya untuk urusan yang satu ini. Dan tak ada yang terlewatkan olehNya, Dia Yang Senantiasa Memenuhi Janji.

Dia, laki-laki biasa yang juga tak sempurna, dikirim sebagai jawaban doa-doa panjang saya. Ketika telah berserah diri sepenuhnya, suara hati akan menuntun kearahnya. Bagi saya, pertemuan dengannya adalah sebuah keajaiban. Karena tak disangka-sangka Dia Yang Maha Baik mengirimnya melalui sebuah musibah yang harus saya alami. Musibah, yang bagi banyak orang memberi buruknya kenangan, bagi saya membawa kebahagiaan tersendiri. Membawa senyum dan rindu. Kata sahabat saya, jodoh itu serupa rejeki, datangnya bisa dari arah mana saja, tanpa diketahui waktunya. Bila sudah sampai waktunya, apapun yang terjadi, dia akan datang.

A rose, a symbol of true love

Dan di pertengahan bulan Desember, Allah Yang Maha Baik mengirimkan seseorang yang tak sempurna tapi terbaik untuk duduk di pelaminan bersama saya.

Dan bagaimana saya bisa melupakan hari di pertengahan Desember itu? Yang dananya diambil dari tabungan kami berdua, yang dihitung rupiah demi rupiah, yang rasanya mengalir keluar seperti air bah namun masuknya seperti mengharap hujan di musim kemarau. Hingga suatu saat, -seperti juga datangnya pasangan saya itu-, dana bantuan juga datang dari arah yang tak terduga. Membuat saya lagi-lagi terpesona dengan caraNya bekerja. Tak bisa tidak, saya hanya bisa hanyut dalam syukur. Alhamdulillah, Maha Suci Allah, Sang Maha Pemberi Rejeki.

Hal yang serupa dengannya adalah kehadiran seorang anak di dalam keluarga kecil kami yang juga datang di bulan Desember. Setelah keguguran pada kehamilan pertama, saya kembali berdoa sepenuh hati dan berserah diri kepadaNya. Doa-doa panjang, puasa dan tahajjud di malam-malam hening berbuah manis ketika akhirnya seorang anak perempuan yang cantik hadir di antara kami berdua, tiga tahun setelah pernikahan kami.

21 Desember – Yang Berpindah

Dan datang juga momen Desember yang paling mengoyak hati. Hari itu saya kehilangan laki-laki pertama yang mencintai saya. Papa saya. Bertahun-tahun sebelum kepergiannya, beliau hanya bisa berpasrah di kursi roda dan tempat tidurnya karena serangan stroke yang berulang. Kepergiannya meluluhlantakkan saya, meskipun jauh sebelumnya telah menyiapkan hati, namun tetap saja tak akan pernah siap.

Gone, but not forgotten

Jumat siang itu takkan pernah terlupakan. Sejak meninggalkan kantor setelah mendapat kabar dari rumah Papa siang itu, dunia terlihat kabur. Di pembaringannya, saya memeluk tubuh Papa yang rasanya masih hangat dan membisikkan berjuta kata cinta. Tak ada lagi obrolan penuh tawa saat bertukar cerita tentang perjalanan-perjalanan ke negeri jauh. Karena dariny saya berani menjejak di negeri-negeri impian secara independen.

Kematian adalah sesuatu yang mutlak pada semua yang hidup. Meski hal itu dipahami, tetapi ketika datang pada orang tercinta rasanya seperti tersandung batu dan jatuh terjerembab ke tanah, nyata sekali. Tiba-tiba saja, semua hilang, tak bisa lagi melihat, tak bisa lagi dipeluk, tak bisa lagi mendengar suaranya, tak bisa lagi bertukar kisah.

Kenyataan itu begitu pahit rasanya, tetapi tak ada pengalaman yang tak berguna. Sang Waktu yang berjalan konsisten menjadi pelipur dan pembuka mata hati. Bukankah hidup di dunia ini manusia tak pernah memiliki apapun? Bukankah semua itu dititipkan oleh Dia Yang Maha Memiliki? Lalu mengapa ada rasa kehilangan untuk sesuatu yang tak pernah dimiliki?

Sesungguhnya, meskipun hilang dari pandangan, dari pendengaran, dari pembicaraan, dari semua yang bisa disentuh, Papa tak akan bisa hilang dari hati dan pikiran. Selamanya hidup pada hati dan pikiran saya, sebuah tempat yang lagi-lagi dititipkan olehNya.

December 24 – Selamat Ilang Tahun

Bagaimana mungkin saya melupakan Desember, bulan yang memiliki tanggal saat saya dilahirkan ke dunia? Sejak kecil hingga remaja, tanggal itu artinya sebuah acara kumpul keluarga Mama di rumah. Semakin besar usia, ditambah dengan kehadiran sahabat-sahabat dekat. Menyambung silaturahmi dalam sebuah acara. Sesuatu yang terlihat mudah tetapi sejatinya tak mudah diwujudkan, apalagi di jaman ketika teknologi telah membuat manusia merasa tak perlu saling mendekatkan secara fisik (ditambah tahun 2020 ini virus corona semakin membatasi kedekatan fisik antar manusia ini)

White Lily

Sejak berkeluarga, saya tak lagi membuat acara-acara seperti itu mengingat di pihak suami tak pernah ada budaya membuat tanggal kelahiran menjadi lebih spesial dari hari-hari biasanya. Tidak masalah juga, karena tambah usia berarti semakin sedikit waktu tersisa. Persis yang diucapkan oleh seorang kawan setiap tanggal kelahiran saya itu, karena dia tak pernah mengucapkan Selamat Ulang Tahun melainkan Selamat Ilang Tahun.

December 26 – Perjalanan Spiritual

Suasana libur akhir tahun semakin terasa ketika sudah menginjak minggu ketiga di bulan Desember. Dari semua perjalanan yang terjadi di musim libur bulan Desember, rasanya perjalanan ibadah umroh yang paling menawan hati. Rasanya perjalanan itu adalah perjalanan spiritual yang amat indah. Mungkin halu, tetapi rasanya saya hanya dihadapkan pada fakta-fakta duniawi ketika harus berhubungan dengan manusia lain, seperti saat di imigrasi, saat mengurus koper hilang, saat ada pemeriksaan tas di pintu Masjid. Selainnya terasa begitu intim, begitu spesial.

Apalagi bonus-bonus kehidupan yang saya terima dalam perjalanan itu. Bisa berkunjung ketiga Masjid utama dalam Islam, Masjidil Haram, Masjid An Nabawi dan Masjid Al Aqsho dalam sekali perjalanan benar-benar melesatkan makna perjalanan ini ke level tertinggi sepanjang hidup saya.

Telah setahun perjalanan itu berlalu, tetapi hingga sekarang saya masih memeluk rindu terhadapnya. Saya masih berlama-lama memeluk kenangan itu. Rasanya masih lekat dengan suasana damai di Masjid Nabawi, juga pemandangan Ka’bah yang menempel kuat pada ingatan, harumnya udara Masjid dan juga hangatnya pelukan seorang ibu Palestina yang tak pernah terlupakan. Sungguh saya merasakan anugerah yang berlimpah.


Bagaimana bisa saya melupakan Desember, bulan terakhir setiap tahun namun terbaik buat saya? Ada begitu banyak sukacita, meski tak bebas pula dari airmata. Semuanya memberi warna dalam hidup saya, berlimpah makna yang amat luar biasa. Alhamdulillah…

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Colorful flowers

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-49 bertema Memory of December agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Sedikit Bingung di Budhanilkantha


Dalam salah satu perjalanan ke Nepal, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi sebuah situs suci yang tak jauh dari Kathmandu. Namanya Budhanilkantha, yang terletak di kaki Bukit Shivapuri, sekitar 10 km dari pusat kota Kathmandu. Tempat ini menarik karena letaknya di luar jalur turis asing sehingga aura tradisional lebih mengisi suasana tempat yang sebagian besar hanya didatangi oleh penduduk lokal.

Awalnya, saat pertama kali mendengar namanya yang mengandung kata Budha, saya mengira tempat ini merupakan situs suci umat Buddha. Apalagi di Nepal, kehidupan umat Buddha dan Hindu berjalan berdampingan secara harmonis. Tapi ternyata saya salah seratus persen karena Budhanilkantha sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama Buddha. Situs ini justru merupakan situs suci agama Hindu.

Budhanilkantha

Jadi sebenarnya Budhanilkantha merupakan tempat pemujaan suci yang berisi patung Dewa Wisnu berbaring sebagai Narayan di atas gelungan ShesaNag (Naga/Ular kosmik berkepala banyak) yang berada di permukaan air kolam sepanjang 13 meter, seakan-akan air itu adalah lautan kosmik. Pahatan patung yang terbuat dari batu basalt utuh berwarna hitam ini merupakan pahatan terbesar dan terindah di seluruh Nepal. Uniknya, -dan cukup membingungkan-, konon patung dari batu basalt hitam itu dipercaya dibuat dari abad ke-7 atau 8 meskipun tempat asalnya tak pernah pasti. Bisa jadi, batu itu didatangkan dari luar Kathmandu Valley karena tak mungkin sebuah batu terpahat indah itu tiba-tiba muncul di tempatnya, kan?

Sore itu ketika sampai di Budhanilkantha, saya terpesona dengan keindahan pahatannya meskipun saya menyaksikan dari bagian luar pagar yang mengelilingi kolam (hanya mereka yang beragama Hindu dan akan melakukan persembahan atau pemujaan yang bisa menyentuh patung atau ke altar). Patung itu sungguh besar, sekitar 5 meter panjangnya, hampir mencapai setengah ukuran kolam yang panjangnya sekitar 13 meter. Sebuah payung segi empat berwarna kuning berumbai tampak menutupi tempat pemujaan itu dari hujan.

Patung Dewa Wisnu sebagai Narayan itu berbaring membujur ke arah Barat dengan kaki bersilang. Mahkotanya berwarna putih silver dipasangkan menindih mahkota asli hasil pahatan pada batu. Ke empat tangannya menggenggam semua benda perlambang kedewaannya. Cakra yang mewakili pikiran, cangkang keong laut yang mewakili empat elemen utama, bunga lotus membulat yang mewakili alam semesta yang terus bergerak dan gada yang mewakili pengetahuan purba. Dan sebagai pemuja setianya, SeshaNag atau kadang disebut juga Ananta Sesha, – sang Naga kosmik berkepala banyak-, menggelungkan tubuhnya menjadi tempat pembaringan Dewa Wisnu dan kepalanya yang berjumlah sebelas itu tampak memayungi kepala Dewa Wisnu. Selembar kain berwarna kuning menutupi tubuh patung Dewa Wisnu dengan berbagai rangkaian bunga marigold sebagai persembahan pemuja yang diletakkan diatasnya.

Sleeping Vishnu on Ananta Shesha
Budhanilkantha, from diffent angle

Tempat pemujaan ini memang keren, tetapi tidak bisa menghilangkan berbagai pertanyaan yang membingungkan di benak saya. Baiklah, ini bukan tempat suci Buddha, melainkan Hindu. Tetapi mengapa namanya Budhanilkantha? Apakah karena Buddha yang dipercaya oleh sebagian umat Hindu merupakan reinkarnasi Dewa Wisnu? Lalu mengapa di sini tempat pemujaan Dewa Wisnu dan bukan Dewa Siwa yang biasa dikenal sebagai Sang Nilakantha? Namanya sungguh membingungkan!

Ternyata, Budhanilkantha secara harfiahnya berarti “tenggorokan biru yang tua” (budha, -bukan buddha-, berarti tua) dan nilkantha (atau nilakantha, -sebuah gelar yang mengacu kepada Dewa Siwa-, telah disandangkan di tempat ini untuk Dewa Wisnu. Bisa jadi karena dalam banyak periode masyarakat Nepal merupakan pemuja Dewa Wisnu sebagai Dewa Utamanya.

Ternyata menarik juga untuk mengetahui legendanya, apalagi kalau sampai tambah membingungkan 😀 😀 😀

Mitos nilkantha atau tenggorokan biru Dewa Siwa merupakan kisah favorit di Nepal. Ingat dong kisah Samudra Manthana atau The churning of The Ocean of Milk, saat para dewa mengaduk lautan yang secara tidak sengaja mengeluarkan racun yang bisa menghancurkan dunia. Mereka memohon kepada Dewa Siwa untuk menyelamatkan dari kesalahan yang fatal ini, dan pada akhirnya Dewa Siwa menyanggupi dengan meminum racun itu. Dewa Siwa yang sangat kesakitan karena tenggorokannya terbakar oleh racun itu, pergi ke pegunungan di utara Kathmandu. Lalu dengan trisulanya, Dewa Siwa menghantam lereng gunung yang menghasilkan sebuah danau. Air dari danau itu, Danau Gosainkund, menjadi obat atau pendingin pada tenggorokannya sehingga penderitaannya berakhir kecuali sebuah bercak biru menghias di tenggorokannya (nilakantha).

Dan kaitana Budhanilkantha dengan mitos itu, ternyata air yang berada di kolam tempat Dewa Wisnu berbaring ini diyakini berasal dari Danau Gosainkund yang terletak di ketinggian 4380 mdpl itu (Danau suci ini merupakan salah satu pemandangan terindah jika melakukan Gosainkund trekking). Tetapi saya tak bisa mengabaikan, jarak Budhanilkantha dan Danau Gosainkund itu jauh sekali dan melewati bukit. Jadi bagaimana air Danau Gosainkund bisa sampai ke Budhanilkantha ya? Pemikiran yang mempertanyakan ini menambah kebingungan saja 😀 😀

Dan konon, image Dewa Siwa berbaring dapat disaksikan di bawah air saat festival tahunan Dewa Siwa! Meskipun ada legenda lain yang mengatakan bahwa patung Dewa Siwa yang serupa Dewa Wisnu ada di bagian bawah patung. Mana yang lebih bisa diterima akal? Tetapi yang pasti saya menelan saja dua legenda itu, daripada tambah bingung kan… 🙂

Lalu ada lagi kisah asal patung Budhanilkantha….

Kisah versi pertama, konon, patung itu dipahat lalu dibawa (lagi-lagi tidak jelas, apakah oleh para pemuja Dewa Wisnu atau oleh para budak) ke tempat sekarang ini di Lembah Kathmandu, pada abad ke-7 ketika lembah Kathmandu di bawah kekuasaan raja dari wangsa Licchavi yaitu Bhimarjunadev.

Dan versi yang lain mengisahkan, seorang petani dan istrinya yang memiliki sebidang pertanian, suatu hari sedang mengolah tanah mereka termasuk mencangkul tanahnya. Tanpa sengaja alat yang digunakan mereka menumbuk sebuah batu yang diikuti oleh keluarnya darah dari tanah. Kegemparan itu bertambah karena akhirnya diketahui bahwa patung Dewa Budhanilkantha yang hilang telah ditemukan kembali lalu ditempatkan di lokasi yang seharusnya.

Jadi patung itu asalnya dari mana? Mungkin jawaban pastinya adalah… entahlah… 😀

Dan masih ada cerita yang agak klenik dan supranatural lho…

Raja-raja Nepal, terutama dari Dinasti Malla setelah abad ke-14 memulai klaim diri sebagai reinkarnasi dari Dewa Wisnu dan berlanjut terus. Bahkan di abad 17, Raja Pratap Malla yang konon memiliki kemampuan supranatural dan sering mendapatkan penglihatan, memberitakan sesuatu yang meyakinkan namun sedikit mengerikan, yaitu jika Raja Nepal mengunjungi kuil Budhanilkantha, maka setelah meninggalkan Budhanilkantha, kematian segera menyongsong! Serem banget kan??? Oleh karena itu, hingga berakhirnya penganugerahan gelar sebagai Raja, Raja Nepal yang beragama Hindu tidak pernah mengunjungi kuil Budhanilkantha tersebut, apapun alasannya. Daripada terlalu cepat mangkat padahal masih banyak yang harus dinikmati, mungkin begitu pemikirannya…

Hari semakin sore ketika saya selesai mengelilingi tempat pemujaan yang berpagar tembok sebagian itu. Pikiran saya melayang-layang. Sebagai tempat suci Hindu, apalagi dengan keutamaan Dewa Wisnu yang berbaring, tentu Budhanilkantha sangat ramai saat perayaan Haribodhini Ekadashi (yang merayakan kebangkitan Dewa Wisnu dari tidur panjangnya, yang biasa dirayakan antara bulan Oktober – November). Saya ingat keramaian itu yang pernah saya tulis di Nepal: Kalung Bunga Cinta di Haribodhini Ekadashi dan Nepal: Bertemu Guardian Angels di Changu Narayan. Jika kuil Changu Narayan sudah penuh sesak seperti itu, apalagi di Budhanilkantha ini!

Pelan-pelan saya tinggalkan Budhanilkantha, sebuah tempat pemujaan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Buddha, lalu membawa pergi segala macam pertanyaan dalam benak. Tidak apa-apa sedikit bingung, tapi yang pasti Buddhanilkantha… checked! (pakai gaya bicara anak-anak sekarang) 😀 😀 😀


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-48 bertema Symbol agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Sukacita Menjejak Tempat Suci


Bagi yang mengikuti blog saya ini, telah beberapa kali saya mengungkapkan kegemaran jalan-jalan yang sudah ada sejak saya kecil. Menjejak tempat baru membukakan wawasan namun suka duka perjalanan menuju tempat baru itu membuat saya hidup.

Dan dari begitu banyak destinasi, -kebanyakan berupa tempat-tempat yang memiliki sejarah-, hanya ada beberapa tempat yang berhasil memporak-porandakan rasa dalam jiwa begitu dahsyat. Bisa jadi karena tempat-tempat itu diyakini oleh banyak jiwa sebagai tempat suci keimanan.


Puskarni, The Holy Pond

Meskipun saya telah menuliskan dalam pos Nepal: Khata – Syal Putih dari Lumbini namun rasanya kata-kata itu tak pernah bisa terangkai dengan tepat untuk menggambarkan apa yang saya alami ketika menjejak Kuil Mayadevi di Lumbini. Tempat itu konon, merupakan tempat kelahiran Sang Buddha, lebih dari dua setengah millenium yang lalu.

Kuil yang menurut saya terlalu sederhana untuk sebuah lokasi yang dipercaya merupakan tempat kelahiran seseorang yang telah mengguncang dunia, sesungguhnya hanya sebuah bangunan batu yang menutupi sebidang tanah serupa ekskavasi arkeologis. Tak ada hiasan, tak ada altar, tak ada tanda-tanda pemujaan, namun ketiadaan barang-barang duniawi itu tak mampu menghilangkan rasa sakral yang begitu hebat di dalamnya. Hanya dengan sebuah penanda yang dikenal dengan istilah Marker Stone yang terlindung oleh kaca, banyak pengunjung bisa jatuh bersimpuh di depannya. Itulah tempat yang dipercaya menjadi titik akurat kelahiran Sang Buddha Siddharta Gautama.

Suara sayup genta-genta kecil yang berdenting tertiup angin, juga suara bacaan sutra yang disenandungkan di bawah rimbun pohon Boddhi di luar kuil, menambah suasana sakral di Marker Stone yang letaknya tak jauh dari pintu keluar. Bahkan setelah dua setengah millenium, kesakralan tempat itu tetap masih terasa kuat.

A Monk under a Boddhi Tree

Sebagai non-Buddhist yang bisa sampai di tempat itu, saya merasakan energi yang begitu besar melingkupi tempat itu, membuat rambut halus di sekujur tubuh meremang dan perasaan dari dalam menggelegak keluar. Sesuatu yang tidak pernah terjadi pada saya sebelum ini, Berbagai rasa campur aduk, suka cita, bahagia, keharuan yang dalam silih berganti dengan rasa syukur yang berlimpah, semuanya berlangsung dalam waktu singkat membuat diri ini rasanya akan meledak. Tetapi mengenal diri yang lemah ini, saya harus segera melipir keluar mencegah tangis menjadi tersedu dalam sukacita yang dalam.

Lalu melengkapi keluarbiasaan di tempat suci itu, sebuah khata, -selendang sutra putih pembawa berkah-, yang didapat dari seorang biksu di bawah Pohon Boddhi melingkari leher saya. Dengan khata yang melingkar leher, saya meninggalkan Lumbini masih dengan berbagai rasa dari bersyukur, terpesona, bahagia, haru, merasa beruntung hingga rasa sedikit tak percaya mengalaminya, atas semua kebaikan Sang Pemilik Semesta.


Kemudian bertahun-tahun setelah perjalanan ke Lumbini itu, saya akhirnya berkesempatan melakukan perjalanan ibadah umroh ke Makkah dan Madinah yang tentu saja juga meluluhlantakkan rasa dalam jiwa. Rasanya setiap detiknya memiliki kenangan tersendiri, bagaimana saya bisa menjejakkan kaki sendiri, berdiri dengan tubuh sendiri, bersimpuh lalu bersujud meletakkan kening di masjid Nabi dan juga di hadapan Ka’bah. Seperti kata teman-teman saya yang telah melakukan perjalanan serupa terlebih dahulu, hanya ibadah yang ada dalam pikiran, rasanya ingin bermanja-manja selamanya dalam Kasih SayangNya. Bahkan bangun selepas tengah malam lalu berjalan ke arah Masjid pun dilakukan dengan sukacita. Tak berat sekalipun melangkahkan kaki, bertafakur, melangitkan doa dan pujian serta bersyukur. Bahkan di siang hari, saat matahari terik memanggang bumi, tempat-tempat bersujud dan berdoa itu tetaplah nyaman. Payung-payung terkembang untuk melindungi mereka dari terik matahari, karpet-karpet yang tergelar, bahkan mesin-mesin pendingin udara yang menyemburkan udara sejuk untuk kenyamanan ibadah.

Semua yang menyenangkan itu membuat jatuh tersungkur dalam syukur saat mengingat dan membayangkan berabad-abad lalu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga serta sahabat-sahabatnya melakukan perjuangan Islam yang sangat tidak mudah, dengan kondisi alam di Jazirah Arab yang tak bersahabat serta budaya setempat yang tidak kondusif. Dan membandingkan dengan kenyamanan serta semua yang membuat haru biru di tempat saya bersimpuh dan bersujud, bagaimana mungkin saya mengeluh? Saya tak bisa lain kecuali membiarkan airmata bahagia yang terus turun membasahi pipi.

Dan saat itu saya melihat di sekitaran, di depan, di belakang, kiri maupun kanan, memiliki wajah yang serupa, teduh dalam kebahagiaan beribadah memujiNya. Datang dari berbagai bangsa dan warna kulit serta dari segala penjuru dunia, berbalut pakaian yang bernada sama. Bertasbih, memuji namaNya, membaca kitabNya… menikmati undangan dariNya. Rasanya tidak ada rangkaian kata yang tepat untuk mewakili ungkapan rasa yang saya alami. Takkan pernah ada, takkan pernah cukup…

Saat itu, rasa penuh anugerah yang seperti mau meledak dan mendesak terus dari dalam, setiap detiknya, setiap menitnya itu, sungguh sebuah candu, membuat rindu, yang selalu ditunggu.

Saya pun mengamini apa yang dirasakan oleh teman-teman dan kerabat yang pernah menjalankan ibadah umroh terlebih dahulu bahwa semua kebahagiaan selama berada di Makkah dan Madinah itu selalu ingin diulang. Bahagianya itu seperti orang sedang jatuh cinta, ingin selalu berada berdekatan dan merasakan terus mencintai dan dicintai. Namun berbeda dengan rasa jatuh cinta pada manusia lain yang biasa menimbulkan keegoisan berdua dengan orang yang dicintai, rasa bahagia di Makkah dan Madinah ini tidak ada rasa ingin menguasai, bahkan meningkatkan rasa berbagi dan mengikis rasa mendahulukan kepentingan diri sendiri. Mungkin rasa bahagia itu berada di tingkatan yang lebih tinggi…


Dan yang tak kalah penting di akhir tahun 2019 lalu itu, dengan susah payah saya sungguh menahan airmata bahagia saat bus meninggalkan perbatasan Jordan menuju bumi Palestina. Setelah puluhan tahun memendam impian untuk sampai ke bumi Palestina, akhirnya saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri Masjid Al Aqsho, saya berdiri di halamannya, bisa menghirup dan menghembus harum udaranya, juga beribadah di dalamnya. Bumi para Nabi. Bahkan sampai sekarang saja, setiap menuliskannya airmata saya selalu meleleh merasakan betapa besar anugerah yang saya terima. Alhamdulillah…

Jika saja saya bisa, rasanya ingin waktu berhenti agar saya bisa berlama-lama menikmati setiap detil kenangan saat berada di Bumi Palestina. Namun manusia ini serba terbatas, meski keinginan bisa liar tanpa batas. Sebisa mungkin saya merekam semua yang dirasakan berada di tempat yang dipercaya sebagai titik awal peristiwa Isra’ Mi’raj.

Tidak hanya itu, berada di Jerusalem membuat saya juga mengingat kembali kisah-kisah yang pernah didengar semasa mengenyam pendidikan di sekolah Katolik berpuluh tahun lalu. Menyusuri lorong-lorong kota tua Jerusalem tak bisa terhindar dari Via Dolorosa (jalan kesengsaraan yang diyakini dilalui oleh Yesus hingga ke Bukit Golgota). Juga, lalu lalangnya rabbi Yahudi dan banyaknya sinagoga di kota ini membuat kebahagiaan tersendiri. Lagi-lagi saya setengah percaya sedang berada di kota Jerusalem, kota yang menelurkan begitu banyak kisah di kitab-kitab suci tiga agama.

Dome of The Rock, Al Aqsho complex
Al Aqsho’s courtyard

Meskipun saya masih berangan-angan untuk mengunjungi Varanasi yang merupakan salah satu kota suci umat Hindu di India, saya tak kecil hati. Di Kathmandu, Nepal saya juga sempat mengunjungi Pashupatinath, salah satu kuil suci Hindu yang memberikan kebahagiaan tersendiri. Juga mengunjungi kuil Changu Narayan di Kathmandu yang memberikan saya begitu banyak keajaiban yang membahagiakan dan tentu saja ke Muktinath, salah satu kuil Hindu yang sederhana namun menjadi salah satu yang sangat sakral.

Jika saya diberikan umur panjang, sepertinya saya masih berkeinginan untuk mengunjungi tempat-tempat suci di dunia ini. Kebahagiaan berada di tempat-tempat itu tak bisa diabaikan begitu saja. Addictive


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-47 bertema Happiness agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Berperahu Naga Sepanjang Sungai Parfum


Kota Huế – Vietnam Tengah di bulan Desember

Setelah semalam berkeliling kota Huế dengan menggunakan becak, pagi ini saya menyempatkan diri melakukan tour berperahu sepanjang Sungai Parfum, sungai yang berlimpah bunga di hulu selama musim gugur sehingga konon menjadi harum baunya (tapi saya tidak membauinya lho 🙂 )

Perfume River from my hotel in Hue

Kota Huế di Vietnam Tengah yang memiliki tingkat hujan yang lumayan tinggi di bulan Desember ini, pagi itu tampak berawan, muram dan gloomy, tak beda jauh dengan situasi kota Hoi An yang telah saya tinggalkan sehari sebelumnya. Tetapi saya tak ingin terbawa suasana yang menggiring untuk berlama-lama di balik selimut. Setelah bersiap dan sarapan, segera saja saya menuju tempat perahu bersandar yang tak jauh dari hotel.

Sambil menunggu waktu keberangkatan, saya mengamati perahu wisata yang akan saya naiki. Bentuknya lucu, seperti ada dua kepala Naga di depan. Jika perahu Naga yang asli, kepala Naga benar-benar menyatu dengan badan perahu sedangnya versi KW ini kepala Naganya hanya berupa hiasan. Bagi saya hiasan ini malah menarik perhatian. Siapa sih yang memperhatikan asli atau tidak? Bukankah jika dilihat dari jauh tetap terlihat seperti perahu Naga? 😀

The Dragon Boat

Pada jam yang ditentukan seluruh peserta tur berkumpul, termasuk beberapa turis kulit putih. Kemudian perahu wisata berkepala Naga itu mulai bergerak menyusuri Sungai Perfume yang membelah kota Huế. Tak lama pemandu tur yang berusia tiga puluhan itu mulai mengeluarkan jurusnya bercerita tentang perjalanan hari itu. Sedikit berbeda dengan gaya ngebolang sebelumnya, saya tidak melakukan persiapan dan riset tentang tempat-tempat yang akan dikunjungi. Kali ini, sekali-sekali saya menjadi turis yang nurut pada omongan pemandu, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.

Dalam hitungan menit perahu melaju ke pinggiran kota Huế, kepadatan kota terasa berkurang dan berganti dengan hijaunya pepohonan serta coklatnya Sungai Parfum. Pikiran saya melayang ke pengalaman di Bangkok, ketika menyusuri sungai Mae Chao Phraya, hanya beda pemandangan. Selagi masih menikmati pemandangan sekitar sungai, mendadak saya merasa perahu mengarah ke kanan dan melambat. Pasti ini pemberhentian pertama.

Rumah Taman An Hiên (Nhà vườn An Hiên)

Setelah turun dari perahu dengan melewati sedikit belukar, kami sampai di gerbang rumah An Hiên. Gerbang rumah dengan lengkung kuno ini terlihat lembab dan memudar meskipun masih terdapat jejak indahnya. Di bagian atas, terdapat hiasan berupa karakter China yang mungkin berarti An Hien dan di bawah lengkung terdapat hiasan bersulur.

Melewati gerbang, terhampar jalan setapak menuju rumah dengan dahan dan ranting-ranting tanpa daun, melengkung membentuk terowongan panjang. Cantik sekaligus menimbulkan misteri. Dan di ujung terowongan itu terdapat pagar berdinding yang sedikit berlumut dengan lubang lingkaran yang membentuk simbol kata Mandarin yang biasanya bernada kebaikan.

Berbelok di ujung jalan, terdapat pintu untuk masuk ke halaman rumah yang penuh dengan tanaman. Sebuah kolam ikan dibuat di bagian depan rumah mungkin bertujuan untuk mendinginkan dan menyegarkan suasana rumah.

Rumah Taman An Hiên yang sudah berusia lebih dari seabad ini relatif masih cukup bagus, pintu dan tiang-tiang kayu di bagian depan cukup baik (meskipun saya teringat rumah-rumah kuno di daerah pecinan yang serupa dan terpelihara dengan lebih baik). Hiasan atapnya cukup menarik perhatian saya. Dan seperti juga turis-turis lain, saat memasuki rumah itu, saya melihat ada altar lengkap dengan foto-fotonya, seperangkat alat minum teh, ruang-ruang kosong berisi tempat tidur kayu. Sayangnya sama sekali tidak ada penjelasan apapun bahkan pemandu tur entah dimana 😀 Saya hanya merasa di negeri antah berantah…

Belakangan baru diketahui, konon, putri ke-18 dari Kaisar Duc-Duc, –yang kontroversial karena penobatannya tak selesai dan hanya memerintah selama 3 hari, 20 – 23 July 1883-, menempati rumah An Hiên sampai tahun 1895, lalu setelah beberapa kali berpindah kepemilikan, akhirnya tahun 1938 rumah ini menjadi milik Nguyen Dinh Chi, seorang kepala daerah setingkat provinsi. Istrinya, Dao Thi Yen, terus merawat rumah ini bahkan mempelopori gerakan melawan kolonialisme Perancis yang terjadi saat itu di Vietnam. Bisa dikatakan rumah An Hiên ini menjadi saksi bisu kegiatan aktivis nasional Vietnam terutama yang berkontribusi besar untuk kota Huế.

Tidak banyak mendapatkan informasi tentang isi rumah, saya kembali ke halaman lagi. Meskipun tidak sempat memperhatikan keberadaannya, konon di halaman ini terdapat berbagai bunga, seperti anggrek dan mawar impor dari Eropa serta berbagai pohon buah seperti manggis, durian, lengkeng dan kesemek langka Tien Dien yang istimewa karena lezat dan tanpa biji. Buah kesemek ini khusus dibawa dari wilayah Nghi Xuan oleh cicit penyair besar Nguyen Du sebagai hadiah untuk keluarga Nguyen Dinh Chi.

Rasanya tak ada yang istimewa saat berkunjung ke rumah Taman An Hiên ini. Mungkin saja rumah ini memiliki nilai historis bagi penduduk Vietnam tapi sayangnya ketiadaan informasi yang melatari rumah ini, membuat pengunjung non-lokal seperti kehilangan spirit dan nilainya (Meskipun saya jadi introspeksi diri, apakah tempat-tempat wisata di Indonesia serupa rumah An Hien ini sudah memberikan informasi cukup dalam bahasa Inggris mengenai tempatnya?)


Setelah semua berkumpul kembali di perahu, kami melanjutkan perjalanan menyusuri sungai Perfume. Pemandangan yang menarik membuat saya meninggalkan tempat duduk dan melangkah keluar menuju area kepala Naga tempat turis mengabadikan pemandangan sekitar.

Seseorang di antara mereka, -kelihatannya cukup berumur-, menghampiri saya dan mengajak ngobrol mengenai wisata menyusuri sungai ini. Mendengar ceritanya, saya sebagai frequent-traveler ke Cambodia merasa terhenyak juga mengetahui ia baru saja melakukan perjalanan wisata sungai dari Tonle Sap hingga ke Phnom Penh Cambodia, sebuah perjalanan yang masih menjadi impian saya. Ceritanya menginspirasi untuk segera mewujudkan perjalanan itu. Obrolan kami terhenti karena perahu berhenti di sudut sungai yang agak lebih tinggi. Saya terpesona dengan apa yang saya lihat, ada pagoda tua di antara rimbunnya pohon.

Thien Mu Pagoda

Thien Mu Pagoda

Sebagai tempat ibadah kuno berarsitektur indah, tak heran jika Kuil Thien Mu selalu menjadi tempat wisata yang didatangi wisatawan saat berkunjung ke Huế. Pagoda yang juga terkenal dengan nama Heaven Fairy Lady Pagoda itu terletak di Ha Khe Hill, desa Huong Long, di pinggir sungai Perfume atau bisa juga berkendara sekitar 5 km dari Huế.

Pagoda ini memiliki keunikan sendiri karena ada legenda yang menyelimutinya. Dahulu kala, seorang wanita tua muncul di bukit tempat lokasi pagoda sekarang, memberitahu penduduk setempat bahwa seseorang yang sangat berkuasa akan datang dan membangun Pagoda Buddha untuk kemakmuran negara. Waktu berlalu dan legenda tetap menyelimuti kawasan itu. Kemudian, karena legenda itu juga sang pendiri dinasti Nguyen, Lord Nguyen Hoang, -saat itu beliau gubernur provinsi Thuan Hoa (sekarang Hue)-, pada tahun 1601 memerintahkan pembangunan pagoda Thiên Mụ (atau disebut juga Linh Mụ) dan faktanya setelah itu memang membawa kemakmuran bagi negara. Bisa jadi legendanya misterius, tapi tak bisa diabaikan bahwa pagoda selalu dikunjungi orang, dari dalam dan luar negeri. Entah memang untuk melihat pagoda atau untuk membuktikan legenda itu sendiri.

Thien Mu Pagoda

Tentu saja seperti turis lainnya, saya tertarik untuk melihat lebih dekat menara pagoda yang menjulang tinggi. Menara ini dikenal dengan nama Phuoc Duyen, sesuai nama personal dari pendirinya, Kaisar Thieu Tri, dan telah menjadi simbol tidak resmi dari kota Hue. Menara segi delapan yang memiliki tujuh lantai ini menjadi bangunan serupa stupa yang tertinggi di Vietnam, bahkan biasa diasosiasikan (meski tak resmi) dengan ibukota kekaisaran yang berpusat di Hue.

Di dekatnya ada beberapa bangunan lain yang tak kalah menarik, seperti tempat yang menyimpan Dai Hong Chung, sebutan untuk genta sangat besar dari Lord Nguyen Phuc Chu, sejak tahun 1710 yang berukuran 2.5 meter dan beratnya lebih dari 3 ton. Tak jauh juga ada prasasti dari tahun 1715 yang dibuat berdiri di punggung kura-kura marmer besar yang menjadi lambang umur panjang. Saya juga menyempatkan memasuki Aula utama Dai Hung yang megah dan terlihat modern. Isinya barang-barang antik yang amat berharga.

Sambil menunggu peserta tur kembali, saya sedikit googling mengenai sejarah Thien Mu dan terkejut juga membaca hasilnya. Rupanya tak hanya kecantikan arsitekturnya, tetapi ada nilai historis kental dimiliki Pagoda Thien Mu ini yang membuat semangat kebuddhaan di tempat ini tetap terjaga.

Tahun 1963, Hue bergolak. Kebanyakan rakyatnya yang menganut Buddha melayangkan protes anti pemerintahan. Saat itu, Presiden Ngo Dinh Diem, yang naik ke tingkat kekuasaan tertinggi sejak tahun 1955, diduga telah menunjukkan perilaku diskriminasi. Konon, sebagai presiden, ia cenderung memprioritaskan umat Katolik dan melakukan diskriminasi terhadap umat Buddha di bidang ketentaraan dan pelayanan publik serta distribusi bantuan, yang membuat sebagian rakyat Vietnam tidak puas.

Ketidakpuasan akhirnya meledak di Hue di dalam musim panas tahun itu karena terhitung sembilan penganut Buddha tewas oleh tentara dan polisi dari Presiden Ngo Dinh Diem, yang malangnya terjadi pada hari Waisak, hari lahir Sang Buddha Gautama. Protes itu menyebar ke seluruh negeri dan membesar. Dan pusat gerakan umat Buddhist semasa bersejarah itu berada di Pagoda Thien Mu, dalam bentuk mogok makan, tempat barikade manusia dan protes damai.

Tetapi hari itu, saat saya menapaki kawasan Pagoda Thien Mu, rasanya sungguh damai dan tenang karena tempat itu ditata dengan indah, banyak bunga dan pepohonan. Bahkan di bagian belakang taman, terdapat hutan pinus yang wanginya terasa sampai ke tempat saya berdiri. Sungguh tak meninggalkan jejak sama sekali bahwa pernah terjadi gerakan karena sebuah tragedi di tempat yang indah itu.

Waktu berlalu, kami harus melanjutkan perjalanan berperahu. Sayang tak bisa menyaksikan rombongan biksu beribadah saat matahari tenggelam yang konon amat indah di sini. Tapi ah, hari itu, suasananya masih gloomy


Temple of Literature

Meninggalkan Thien Mu, perahu kami melaju melewati Temple of Literature yang lokasinya hanya 1 km dari Pagoda Thien Mu. Pagoda yang juga dikenal dengan nama Van Mieu Hue or Van Thanh ini merupakan tempat untuk pembelajaran ajaran Confusius yang terkenal di China, Korea, Jepang dan Vietnam.

Sayang karena waktu yang terbatas, kami tidak dapat mampir di tempat terkenal yang didirikan pada tahun 1908 semasa pemerintahan Kaisar Gia Long.

Perahu terus melaju menyusuri Sungai Perfume di hari yang berawan. Tak terlihat lagi rumah-rumah penduduk, yang ada hanyalah pepohonan dan perbukitan di kejauhan. Di beberapa pinggir sungai terlihat tempat penangkapan ikan. Serupa di negara-negara lain, sungai merupakan salah satu tempat mata pencaharian yang bisa diandalkan seperti perikanan.

Setelah beberapa lama, akhirnya perahu melambat dan berhenti pada sebuah kaki bukit. Inilah persinggahan terakhir dalam perjalanan dengan perahu. Sebuah kuil kecil yang cantik di antara rimbun pohon.


Hon Chen Temple

Berada di tepian sungai sekitar 10 kilometer dari kota Hue, Kuil Hon Chen merupakan obyek wisata yang terkenal di Hue.

Saya tersenyum saat menjejak di tempat ini karena sehari sebelumnya telah berkeliling My Son, sebuah kompleks percandian Kerajaan Champa. Seperti ada benang merah mengunjungi My Son dan ke Kuil Hon Chen, yang keduanya terkait pada etnis Champa.

Hon Chen Temple
Hon Chen Temple

Dan sebagai tempat ibadah Po Nagar, -junjungan yang dipercaya oleh etnis minoritas Champa-, Kuil Hon Chen menarik untuk didatangi. Karena menurut legenda etnis Champa, Po Nagar adalah putra Raja yang diutus ke bumi untuk menciptakan bumi dan segala jenis kayu dan beras.

Etnis Champa percaya bahwa kuil ini sudah dibangun di lokasinya sekarang berabad-abad lalu dalam bentuk yang paling sederhana namun mengalami penyesuaian dan adaptasi dari waktu ke waktu sesuai perkembangan jaman. Tak heran Hon Chen menjadi tempat untuk recharge kehidupan spiritual dan budaya masyarakat setempat.

Rasanya tak cukup waktu untuk mengabadikan setiap detil yang indah di tempat yang tidak luas namun cantik ini. Apalagi gerimis turun menghiasi hari. Dan si pemandu tur pun sudah memanggil-manggil…

Meski berperahu naga di sepanjang Sungai Parfum telah berakhir di Kuil Hon Chen ini, tur sehari di Hue ini masih berlanjut… Sayangnya suasana masih gloomy


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-46 bertema Sepanjang agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Kala Hujan Berhenti, Keindahan Sibuk Mengantri


Bahkan ketika hujan baru saja turun, ada keindahan tersendiri yang menghias bumi. Pemilik Semesta telah melimpahkan anugerah pada saat turun hujan. Air, -yang merupakan unsur kehidupan yang utama-, dengan penuh kesegaran dilimpahkan dari langit, berubah dari awan-awan gelap yang menyelimuti, menjadi butir-butir kesegaran. Jatuh ke setiap permukaan bumi, membasahi dan memantulkan pelangi. Sebuah tanda, keindahan-keindahan sedang sibuk menjelma di muka bumi.

Harumnya tanah kering yang tersiram hujan membuat hidung-hidung terangkat menikmati harumnya kesegaran alam. Petrichor, sebuah istilah yang dikenal untuk harum khas tanah saat tersiram oleh hujan. Lalu setelahnya, bersamaan dengan menghilangnya harum petrichor, tatkala bulir-bulir hujan jatuh di kaki langit, alam menerbitkan pelangi, memberi hiasan warna-warni.

Bukankah terbitnya pelangi menjadi sebuah janji yang diberikan Alam Semesta? Pelangi hadir sebagai janji akan datangnya cahaya mentari setelah hujan lebat, juga merupakan sebuah janji akan adanya ketenangan suasana setelah badai yang menakutkan, sebuah suka cita atas rasa sendu yang memeluk, sebuah kedamaian atas nestapa menghampiri hati. Pelangi hadir sebagai janji akan datangnya cinta setelah rasa kehilangan yang menghampakan.

A Rainbow

Bertahun-tahun lalu ketika melakukan perjalanan di Seoul, Korea Selatan, pagi itu saya hampir putus asa melihat mendung tebal menggantung di atas kota. Sepertinya prakiraan cuaca hari itu akan tepat. Hujan akan mengguyur kota Seoul. Dan benar, rintik hujan semakin deras ketika saya berada di Huwon atau Secret Garden-nya Istana Changdeokgung (Baca kisahnya disini: Korea: Menapak Huwon, The Secret Garden). Akibatnya saya harus merogoh dompet lalu mengeluarkan sejumlah Won untuk membeli sebuah payung.

Saat itu warna-warni daun dalam musim gugur terlihat amat indah, apalagi ditambah dengan sejuknya udara Seoul. Saya sungguh tak menyesal menambah tour ke Secret Garden, meskipun harus bergabung dengan rombongan yang berbahasa Korea. Tapi tak perlu paham kata dan bahasa untuk menikmati Secret Garden itu.

Sebagai orang yang besar di negara tropis yang memiliki dua musim saja, pergantian daun dari hijau menjadi kuning atau merah sebelum jatuh ke bumi dengan warna coklat, sungguh menggugah jiwa. Alam memiliki hukumnya sendiri dan dapat menyaksikan keindahan alam yang sedang berganti, rasanya mendapat anugerah tersendiri.

Sejenak saya berhenti di dekat ujung akhir penjelajahan Secret Garden itu untuk memperhatikan daun merah yang basah. Langsung saja aroma lembab menyeruak ke hadapan saat saya mendekatinya. Bahkan sehelai daun yang memiliki warna yang berbeda terlihat begitu luar biasa. Sungguh basahnya daun karena air hujan, terlihat amat indah.

The leaves after the rain

Hal serupa terjadi juga ketika saya melakukan perjalanan bersama anak-anak ke Hong Kong. Perjalanan dengan kereta gantung yang teramat tinggi dalam suasana hujan, cukup membuat hati berdenyut. Apalagi anak bungsu saya termasuk orang yang tak tahan ketinggian. Perjalanan panjang dengan hati berdegup itu akhirnya selesai pada saat kereta berhenti di stasiun tujuan. Hujan pun seakan memahami, sehingga ia berubah menjadi hujan rintik ketika kami menjejak di stasiun tujuan kereta gantung.

Sesaat sebelumnya, kami telah melepas harap. Bagaimana mungkin bisa menuju patung Buddha yang besar itu dalam kondisi hujan dan tak ada payung?

Nyatanya tidak ada yang tak mungkin bagi Pemilik Semesta. Kabut serta merta tersingkir dari hadapan, bahkan jejak langkah kami terhenti sejenak di tempat penjualan souvenir dan saya mendapat kesempatan memiliki CD musik yang hingga kini masih merupakan musik yang paling menenangkan jiwa. Dan tentu saja kami pun punya kesempatan untuk menyaksikan salah satu patung Buddha terbesar di kawasan China.

Buddha Tian Tan, Hong Kong

Tapi rupanya saya tak perlu melakukan perjalanan ke luar negeri untuk melihat keajaiban alam pada saat hujan telah berhenti. Di halaman rumah sendiri, saya begitu terpesona dengan situasi setelah hujan. Kesegaran alam yang saya lihat dan rasakan, menjadi sebuah mood-booster yang tak bisa diabaikan.

Butir-butir air yang tertahan di sepanjang daun palem lalu turun ke pangkal daun seakan-akan menjadi kristal yang menghias jari-jari daun dan menguarkan kesegaran ke alam sekitarnya. Bukankah semua itu keindahan yang patut disyukuri?

Tapi ah, bisa jadi air yang berbutir-butir itu seperti airmata yang menghias wajah di kala duka menyelimuti. Seperti pada umumnya perempuan yang menutupi airmata dukanya di bawah hujan atau di bawah pancuran, seakan-akan bisa menipu dunia tentang isi hatinya. Lalu ketika air hujan atau air pancuran telah bercampur dengan airmata dan membuat lamur di antara keduanya, sebuah janji ketenangan dan kedamaian telah terikrar di alam semesta.

Ketika jalan panjang duka dilewati dengan sepenuh-penuhnya sabar, seperti air hujan yang turun melewati lekuk-lekuk daun menuju pangkalnya, butiran kristal itu memendarkan pelangi. Pelangi kebahagiaan yang penuh semangat sudah terbit laksana datangnya cahaya di ujung terowongan gelap.

Rain drops on palm leaves

Sementara di tempat yang berbeda bisa jadi terjadi hujan badai di malam gelap, yang memunculkan rasa cemas yang menghiasi jiwa. Gelapnya malam menambah rasa tak aman. Suara-suara badai yang memekakkan telinga, ditambah deru angin yang tak ramah dan gemuruh air yang ditumpahkan dari langit. Sebuah gambaran yang mudah dikata, alam sepertinya sedang dalam angkara murka.

Tetapi yang seperti itu, hanya pandangan manusia karena alam memiliki perjalanannya sendiri. Ada hukum yang berjalan di atasnya karena Pemilik Semesta sudah mengaturnya sedemikian rupa. Pada akhirnya hanya kebaikanNya yang terlimpah terhadap alam semesta. Dan ketika datang waktu bagi sang badai untuk berakhir, maka cahaya keindahan akan menghiasi semuanya yang ada di bawah langit.

Hal yang sama terjadi di pusat kota, seakan melupakan yang terjadi beberapa saat sebelumnya. Yang hadir hanyalah cahaya penuh warna di tengah gelapnya malam. Dan kita semua bisa menyaksikan…

Lights in the city center

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-45 bertema After The Rain agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Yang Unik Di Rumah Mama


“Ma, ini tambah lagi dari Palestina”, kata saya sambil menyorongkannya ke Mama sekitar semingguan sepulangnya saya dari perjalanan ibadah Umroh yang dilanjutkan ke Masjidil Aqsho di Palestina, sebuah negara yang wilayahnya sebagian masuk dalam wilayah pendudukan Israel.

“Asyik, Mama belum punya yang dari sana”, jawab Mama sambil tersenyum lebar memperhatikan oleh-oleh kecil di tangannya.

Yang saya berikan adalah tempelan magnet kulkas. Beberapa saat beliau memperhatikan dengan mata berbinar lalu beliau menyerahkan kembali ke tangan saya yang artinya, harus diletakkan di tempat yang seharusnya. Kemana lagi… ya ke kulkas 🙂

Kulkas yang tinggi itu…

Bagi yang pertama kali ke rumah Mama dan masuk ke ruang makan, biasanya tersenyum lebar atau mungkin bahkan tertawa dan terperangah melihat kulkas yang letaknya tinggi itu. Karena kulkas itu ‘nangkring‘ di atas ambalan batu yang tingginya tak beda jauh dengan tinggi meja makan. Terbayang kan, jika sebuah kulkas dua pintu diletakkan di atas meja makan? Pasti terlihat tinggi sekali… 😀 😀 😀

Kulkas yang tinggi itu

Sudah berpuluh tahun rumah Mama berada di daerah yang sering kebanjiran meskipun tidak selalu. Awal saya remaja, banjir masih semata kaki, lalu tiga tahun berikutnya naik setinggi betis orang dewasa. Saat saya menikah dan sempat tinggal di rumah Mama sementara Mama dan Papa di luar pulau, banjirnya naik setinggi paha. Terus terang saja, selama Pak Ahok jadi Gubernur Jakarta Mama bisa bernafas lega karena tidak pernah kebanjiran. Kali Mampang yang tak jauh dari rumah Mama itu selalu dikeruk dan dijaga.

Banjir terakhir adalah banjir yang terjadi pada awal Januari 2020 lalu. Katanya, di malam pergantian tahun baru 2020 itu, turun hujan besar yang berlangsung lama di hulu dan menyebabkan hampir semua sungai dan kali di Jakarta itu tak dapat menampung airnya lagi sehingga meluap dan menggenangi pemukiman sekitarnya. Apalagi di Jakarta pun hujan deras turun tak berhenti sepanjang malam. Hasilnya bisa diprediksi, banjir besar melanda Jakarta, termasuk rumah Mama saya (dan rumah saya sendiri) 😥 Banjir itu merendam rumah cukup tinggi sehingga Mama harus dievakuasi dan barang-barang penting disimpan di tempat yang tinggi.

Itulah alasan kulkas di rumah Mama itu ditempatkan di meja setinggi meja makan itu.


How many places can you mark ?

Dan di kulkas yang tinggi itu terlihat tempelan-tempelan magnet yang memenuhi pintu dan dinding lemari es seakan-akan menjadi showcase dari hobby Mama yang unik. Mengumpulkan tempelan magnet kulkas silaturahmi.

Mengapa pakai embel-embel silaturahmi?

Berbeda dengan saya yang lebih suka soliter, Mama saya merupakan seorang yang sangat socialized. Dan mereka yang mengenal Mama secara dekat, mengetahui bahwa Mama suka dengan tempelan magnet kulkas. Jadi, ketika mereka pergi travelling, biasanya mereka memberikan langsung oleh-oleh kecil berupa tempelan magnet kulkas kepada Mama saat bersilaturahmi ke rumah. Jadi, meskipun Mama berdiam di rumah, Mama mendengar langsung kisah perjalanan dari orangnya, menyimak kenangan-kenangan mereka, yang tentu saja membuat Mama merasa ikut dalam perjalanan itu. Seru kan…

Tempelan magnet kulkas itu tidak sekedar tempelan biasa, ada nilai yang indah mewakilinya. Mama mengetahui siapa yang memberi dan telah berbagi cerita perjalanan dengannya. Hanya dengan melihatnya, tempelan kulkas yang kecil dan kelihatannya tidak penting itu, Mama bisa mengingat siapa yang telah memberinya, menjalin silaturahmi dengannya. Dan tidak jarang Mama langsung meneleponnya untuk bertukar cerita. Bukankah itu baik adanya?


Dan bagi saya yang merupakan orang yang paling sering berada di depan kulkas tinggi itu, -salah satu yang paling menggoda adalah isi kulkas Mama 😀 yang isinya macam-macam-, berbagai tempelan magnet kulkas itu menciptakan sebuah perjalanan imajinasi tersendiri.

Saya sering tersenyum sendiri ketika melihat tempelan magnet yang berasal dari saya. Diantara semua tempelan magnet kulkas yang lebih banyak berisikan kota-kota impian dan modern di seluruh dunia itu, saya meninggalkan jejak tentang long-neck Karen lady yang menenun, kota-kota kuno di Nepal, puncak-puncak Himalaya, kuil Shwedagon dan tentu saja Angkor Wat. Melihatnya menimbulkan perasaan bahwa perjalanan yang telah saya lakukan selama ini, banyak yang tidak biasa seperti yang dilakukan orang lain.

The places that tell the stories
Have you been to Alcatraz?

Lebih dari yang dibayangkan, karena hanya dari melihat tempelan magnet itu, pikiran saya bisa tiba-tiba melompat-lompat. Seakan-akan undangan yang tak kunjung diam, menguarkan ajakan untuk menjaga impian agar bisa datang ke tempat itu, tetapi ada juga yang membuat senyum karena pernah menjejak di sana.

Bucket list saya memang sudah panjang dan semakin memanggil ketika saya berada di depan kulkas itu, meskipun harus mendongak saat melihat bagian atasnya. Kota-kota impian di Eropa, tempat-tempat indah di Asia yang lebih luas, juga Amerika, Timur Tengah, Afrika… ah, masih begitu banyak…

Tidak hanya itu, kadang kala saya masih harus memutar otak seakan tempelan-tempelan magnet itu menertawakan ketidaktahuan saya. Dimanakah Lanark itu? Dimanakah Riga itu? Apa yang terkenal dari Bratislava? Bagaimana caranya agar bisa sampai ke Alcatraz?

Sebagian dari keluarga, kerabat, sahabat Mama telah sampai ke sana bahkan berbagi cerita dengan Mama dalam pertemuan-pertemuan yang menyenangkan dan meninggalkan jejaknya di hadapan dengan sejuta makna…

Semua tempelan magnet hasil hobby Mama yang unik itu menjadi penggugah untuk selalu kembali melakukan perjalanan, seakan bertanya kapan giliranmu? Dan saya selalu meninggalkannya dengan pelita kecil yang langsung menerangi jiwa, seakan sebuah jawab, one day saya akan sampai ke sana…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-44 bertema Unik agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.