Berhari Jadi di Malam Natal


Desember 2019 lalu, sembilan hari sebelum berhari jadi, pak Satpam menyampaikan paket yang diterimanya. Merasa tak melakukan pembelian online, saya langsung mengenali pengirim melalui bentuk tulisannya. Pasti ulah sahabat, dia yang dikirimkan Tuhan untuk saya beberapa tahun lalu. Segera saja saya buka paketnya: sebuah kartu menyertai selembar hijab biru muda bermotif printed yang amat cantik dan selembar hijab lain berwarna merah, warna favorit saya. Hadiah dan ucapan hari jadi dan juga dalam rangka umroh yang datangnya terlalu awal. Kali ini, mungkin dia berpikir, better early than too late...

Rencananya, hadiah hijab biru muda itu akan saya pakai di Tanah Suci, sebuah keputusan yang akhirnya saya sesali…

– § –

Sebenarnya judul postingan kali ini tidak 100% tepat, karena saya menghirup udara dunia masih siang, ketika matahari masih terang bersinar. Tepatnya jam 9 pagi, sehari sebelum Natal.  Namun, untuk menunjukkan waktunya, kan lebih panjang menulis ‘sehari sebelum Natal’, daripada ‘Malam Natal’ saja, meskipun agak kurang tepat yaa… 🙂

Ternyata memiliki hari jadi sehari sebelum Natal memberikan banyak cerita dalam kehidupan saya ini.

birthdaycard
Birthday Card

Salah satunya, hari jadi saya semasa remaja merupakan ajang silaturahmi antar sahabat, kerabat serta keluarga besar. Acara makan  bersama secara sederhana dengan mengundang keluarga, sahabat-sahabat, juga kerabat dekat keluarga besar. Dan sepertinya menjadi sebuah ritual selama beberapa tahun. Di Malam Natal pasti ada acara makan malam bersama di rumah orangtua saya, tanpa perlu diundang mereka sudah tahu.

Serunya, banyak dari sahabat dan keluarga besar yang merayakan Natal, menyempatkan datang dulu untuk makan-makan, sebelum mereka melanjutkan ke gereja untuk mengikuti Misa atau Kebaktian Natal yang biasanya dilakukan tengah malam. Begitu akrab hubungan setiap orang yang hadir karena akhirnya mereka saling mengenal satu sama lain, sahabat kakak saya dengan sahabat saya, kerabat keluarga mengenal pihak keluarga  yang lain. Indah dan membahagiakan.

Rasanya momen hari jadi saya itu telah berkembang, memberikan makna yang lebih membahagiakan dengan menalikan hubungan sahabat dan kerabat serta keluarga besar. Hari yang selalu menjadi kenangan.

– § –

Tidak selamanya saya memperingati hari jadi dengan makan-makan. Pernah sekali waktu saat masih tinggal di luar Jakarta, karena terlalu aktif berkegiatan outdoor, saya jatuh sakit. Tidak tanggung-tanggung karena saat itu saya pingsan karena demam tinggi saat hendak makan. Yang saya ingat, kursi makan yang menjadi tumpuan ikut jatuh menimpa tubuh saya. Lucunya, selama pingsan itu saya merasa tidak sadar lamaaaaaaa…. sekali, seperti tidur hingga berhari-hari, melewati hari jadi hingga Natal. Ketika sadar sepenuhnya, saya sempat bertanya, “Tanggal berapa hari ini? Apakah hari ini hari Natal ?” Sebab saat itu dalam ingatan sebelum pingsan, saya merencanakan untuk pulang ke Jakarta. Dia yang menjaga saya menggeleng, mengatakan Natal masih besok. Artinya, hari itu adalah hari jadi saya… Tapi ada kisah yang cukup menggelikan, kata seorang kawan, saat itu saya bisa berjalan kaki ke dokter bersama dia, meskipun saya lebih banyak diamnya. Dokter bertanya dan saya bisa menjawab. Anehnya, hingga kini, saya tak pernah ingat momen itu. Saya tak pernah ingat berjalan setelah pingsan, berjalan kaki ke dokter, wajah dokternya apakah laki-laki atau perempuan, bentuk kamar periksanya, semuanya saya lupa! Mungkin itu yang disebut sepenggal amnesia total di hari jadi. Parah ya? 😀 😀 😀

Sayangnya, semakin tua, acara kumpul makan bersama sahabat dan keluarga besar semakin menghilang, apalagi setelah saya menikah dan makin banyak kesibukan. Keluarga suami juga tak pernah membiasakan untuk memperingati hari jadi. Lagi pula usia sudah tak lagi muda, sehingga peringatan Malam Natal itu lewat tanpa kehadiran sahabat atau keluarga besar. Biasanya kami, keluarga inti, hanya menyempatkan makan bersama di luar. Itupun dilakukan tidak tepat pada Malam Natal melainkan pada setelahnya atau sesudah tahun baru sesuai dengan hari jadi anak sulung saya. Kadang kala di hotel ditambah dengan kue yang ada di hotel.

IMG_0039
Merah dan Hijau sebagai hiasan Natal
bday
Kue Dengan hiasan Natal

Hanya saja, berhari jadi sehari sebelum Natal, jangan harap ada hiasan kue-kue seperti peringatan hari jadi seperti biasanya, karena saya sudah sangat terbiasa, diberikan kue dengan hiasan Natal. Itulah standar hiasan kue yang ada di toko-toko kue manapun. Ah, bukan hiasannya yang penting, melainkan doa-doa dan perhatiannya. Ya kan?

Belakangan ketika saya lebih sering travelling, acara hari jadi lebih banyak dilewati dalam perjalanan, di luar kota atau bahkan di luar negeri. Dan saya sibuk seharian mengucapkan terima kasih atas ucapan dan doa dari teman, sahabat maupun keluarga besar yang dikirimkan secara online. Acara di tempat destinasi pasti agak terganggu karena saya harus menyempatkan waktu membalas ucapan-ucapan itu. Apalagi, setelahnya gantian saya harus mengucapkan kepada mereka yang merayakan Natal. Susah ya… Tapi saya tidak minta lahir sehari sebelum Natal… 😀 😀

Tahun-tahun terakhir, sepertinya Pemerintah menetapkan sehari sebelum Natal, -yang bertepatan dengan hari jadi saya-, sebagai Cuti Bersama. Menyenangkan juga, karena artinya saya tidak perlu masuk kantor dan dibebaskan dari acara traktir makan-makan sekantor (oleh Pemerintah) 😀 😀 Uangnya bisa buat beli tiket ke destinasi lain hahaha…

Tahun 2018 lalu, rasanya saya ingin melupakan ada hari jadi saya di bulan Desember itu. Hari yang sangat muram, karena 3 hari sebelumnya Papa dipanggil pulang olehNya. Meskipun saya berada di Jepang, ke negeri yang alm. Papa sukai, tetapi saya tidak bisa membohongi diri bahwa saya merasa kaki tidak menjejak tanah, rasanya melayang-layang. Biasanya hari jadi diisi dengan banyak hal yang membahagiakan, tetapi saat itu, tahun itu, rasanya saya ingin melupakan saya berhari jadi. Yang ada hanyalah kehambaran dan kegetiran…

Tetapi Dia Tidak Pernah Tidur…

Setelah Desember tahun 2018 yang getir, Allah membukakan pintu ke arah yang lebih baik dan semakin baik selama meniti hari-hari di tahun 2019. Keputusan-keputusan yang InsyaAllah baik telah diambil.

Bagaimana tidak, saya bisa  menikmati harijadi yang amat mengharubiru dan amat memorable karena saya melewatinya di Tanah Suci. Hari itu, setiap detiknya dirasa begitu nikmat, begitu dekat, antara saya dan Sang Khalik. Jiwa yang disuguhi santapan tanpa jeda dan raga yang berada diantara sesama saudara seiman. Sungguh tak dapat dijelaskan dengan mengobral kata-kata, hanya dapat dirasa…

Sungguh sebuah hadiah hari jadi langsung dariNya.

– § –

By the way,

Sebelum berangkat ke Tanah Suci, hijab biru muda hadiah cantik dari sahabat saya seperti yang dituliskan di awal tulisan ini, saya masukkan ke dalam koper dan sayangnya, koper itu hilang…. hingga kini belum ditemukan… 😥

– § –


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-1 ini bertema Birthday agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

My Best Trip In 2019


Entah mengapa, tahun 2019 ini saya mengalami masa hibernasi terkait travelling yang menjadi hobby saya selama ini. Tidak tanggung-tanggung, saya bisa berdiam lama di rumah, tidak kemana-mana, tidak juga ke mall atau pergi sekedar jalan-jalan. Malas!

Bulan Maret saya ke Singapura hanya untuk melihat Sakura di Gardens By The Bay dan sebulan kemudian saya ke Myanmar karena perjalanan menapak tilas. Meskipun saya memaksa diri untuk bepergian dengan antusiasme seperti biasanya, saya tak bergerak cukup jauh. Saya hanya berhasil berjalan sekitaran Jakarta. Kalaupun akhirnya saya melakukan perjalanan, pastinya merupakan bagian dari perjalanan keluarga. Entah mengapa, ada rasa yang begitu kuat untuk berjalan ke dalam diri dan berlama-lama melakukan perjalanan itu. 

Bulan-bulan 2019 berlalu dengan bahasa yang sama, penuh dengan tanda-tanda bagi saya bahwa cepat atau lambat saya akan memasukinya. Tahun ini tahun perubahan lagi. Begitu banyak sentuhan Kasih yang mendukung agar saya berani melangkah. Jangan takut. Namun saya tetap berkalung keraguan menghadapi hari. 

Saya teringat penggalan-penggalan kehidupan saya sendiri, yang sejak kecil diberikan begitu banyak anugerah hidup. Menerima bimbingan kehidupan, memungut hikmah yang berserak, mengamati perubahan dan menerima serta menjalani hidup dengan cara yang bisa jadi tak biasa. Meskipun selalu saya berpegang pada prinsip, saya sama saja seperti yang lain.

Proses hibernasi saya dalam hal travelling membuktikan diri ini memang sedang dalam perubahan. Mungkin seperti ulat dalam kepompong. Saya mengikuti saja apa yang akan terjadi dalam setiap harinya. 

Oktober 2019.

Seperti juga dulu ketika akan melakukan perjalanan trekking ke Himalaya pada tahun 2017, sepertinya Semesta Mendukung apa yang seharusnya saya lakukan pada tahun 2019 ini. Semuanya mengarah ke satu fokus, perjalanan batin yang amat indah. 

Saya mem’baca‘nya, namun ada keraguan, benarkah? bisakah? untukkukah?

Lalu dalam malam-malam hening, saya berdoa, untuk meluruh kepadaNya, membiarkan Dia menjadikan saya wayangNya. Bergantung sepenuhnya kepadaNya. 

Dalam pada sebuah hari di bulan Oktober 2019 itu, saya memberanikan diri membuka satu ‘pintu’ kehidupan

Umroh!

Dan ‘pintu’ yang terbuka untuk saya tidak tanggung-tanggung, 

Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al Aqsho dalam satu perjalanan batiniah!

“Dan jangan mengencangkan pelana (melakukan perjalanan jauh) kecuali untuk mengunjungi tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, dan Masjidku (Masjid Nabawi),” (HR Bukhari).

Dan akhirnya, pada minggu ke empat bulan Desember 2019, saya mendapatkan kado ulang tahun sekaligus kado ulang tahun pernikahan langsung dariNya, bersama suami kami melakukan perjalanan ibadah yang paling membahagiakan, paling luar biasa dalam kehidupan kami. 

Menikmati hari-hari begitu indah di Masjid Nabawi di Medinah, lalu bergabung dengan jutaan orang melakukan ritual umroh di Masjidil Haram di jantung kota Mekkah, serta merasakan ibadah yang mengharubiru di Masjid Al Aqsho di kota tua Jerusalem, Palestina. 

Bisa jadi Allah SWT memberikannya untuk saya di tahun 2019, Save the best for last…

kabah
Masjidil Haram
nabawi
Masjid Nabawi
DSC00685
Kawasan Masjid Al Aqsho

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-51 ini bertema Best agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Let It Go, Let It Flow


Dalam setiap perjalanan, biasanya saya memiliki tempat yang meninggalkan kesan yang amat membekas. Meskipun kadang, saya tidak pernah tahu apa yang membuat saya begitu terkesan.

Seperti halnya pada perjalanan saya ke Namche Bazaar dua tahun lalu (duh, sudah dua tahun ya? Rasanya baru kemarin menanjak kelelahan… ). Saat pergi, -menuju Namche Bazaar-, saya menyempatkan diri berhenti di tengah jembatan dan mengagumi suara air yang menimpa bebatuan. Suara airnya meresap sampai ke hati. Saat itu, saya merasa agak berat meninggalkan tempat itu. Belum puas rasanya, tetapi waktu bukan sahabat saya waktu itu. Dasar trekker abal-abal yang ‘sok tau setengah mati’, saya ini perlu waktu berkali-kali lipat dari trekker pada umumnya untuk mencapai Namche Bazaar. Kebanyakan berhenti yang saya gunakan untuk foto-foto (padahal lebih utamanya untuk mengambil nafas 😀 )

DSC01278
A Small Creek on the way to Namche Bazaar, Nepal

Nah kembali ke tempat tadi, akhirnya saya harus meninggalkannya demi tidak kemalaman sampai ke Namche Bazaar. Tapi saya mengingat tempat itu.

Perjalanan pendek ke Namche Bazaar tahun itu memang tanpa rencana, tanpa planning yang matang. Saat itu saya hanya begitu rindu Himalaya (sekali ke Himalaya, biasanya jadi kecanduan sih), sehingga ketika bisa mengambil cuti sebentar, tanpa pikir panjang saya langsung terbang ke Nepal.

Waktu saya memang terbatas sekali, sehingga saat sorenya mencapai Namche Bazaar, esok paginya saya harus turun kembali. Saya seperti seorang turis yang dibawa oleh tourleader, berhenti hanya untuk berfoto sejenak. Bahasa kerennya, pokoknya sudah sampai di situ. Praktis tidak ada kesan yang tertinggal dalam di tempat itu.

But the show must go on… Saya harus turun dan kembali ke Indonesia kan?

Di tengah jalan itu, saya berhenti lama di tengah jembatan hanya untuk menatap air, menikmati suara air. Gemerisiknya meninggalkan kesan begitu dalam.

Saya mungkin memang tidak memiliki kesan dalam di Namche Bazaar, tetapi saya memiliki kesan amat indah di sebuah tempat, di tengah jembatan tak jauh dari Namche. Di antara pepohonan yang rindang, suara airnya bagai musik di telinga,

Bisa jadi saya agak menyesal melakukan perjalanan ke Namche Bazaar ini yang dilakukan terburu-buru. Tetapi dengan menyaksikan air yang suaranya begitu menenteramkan, saya merasa bisa melepaskan penyesalan itu. Melihat airnya yang mengalir, saya terundang melepaskan semua masalah yang ada, sedikit sesal dan semua lelah yang dirasa. Saya melepaskannya dan membiarkannya pergi mengikuti alirannya. Yang kemudian saya rasakan adalah rasa terbebaskan…

(ah, tampaknya saya harus bongkar-bongkar lagi, karena rasanya saya pernah merekam suara air itu, mudah-mudahan saja tidak terhapus!)

Ada yang pernah punya pengalaman seperti saya?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-50 ini bertema All About Water agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Light Up The Darkness


Sebagai penggemar segala bentuk cahaya lembut dalam suasana temaram, saya mudah sekali tertarik lalu berhenti untuk mengabadikannya, ataupun kalau situasi tidak memungkinkan, biasanya lampu-lampu itu mampu membuat kepala saya menoleh dengan mata terbuka lebar dan pastinya hatinya melonjak gembira. Entah kenapa, saya benar-benar suka! Kalau malam kepala masih mumet di kantor, salah satu cara efektif menetralkannya adalah mendatangi jendela lalu melihat lampu-lampu mobil yang terjebak kemacetan atau melihat ke gedung-gedung seberang, ke arah lampu-lampu yang menyala. Seakan cahaya-cahaya itu memberi ketenangan dan memberi lambang sebagai harapan dalam kegelapan (hehehe agak lebay kali ya…).

Sampai sekarang, saya sudah bisa terpukau bahagia kalau diajak jalan naik mobil keliling kota hanya untuk menyaksikan keindahan lampu hiasan di jalan. Bahkan lihat lampu-lampu hiasan sesuai tema yang dipasang di mal-mal juga bisa membuat saya terpesona. Apalagi bulan Desember, seperti sekarang, kota-kota biasanya didandani dengan cantik menyambut Natal dan Tahun Baru. Duh, saya jadi suka jalan-jalan untuk melihat-lihat itu. Bahagia itu sederhana ya…

deepavalisg
Little India, Singapore

SINGAPORE

Pernah beberapa tahun lalu, saya mendadak mengambil cuti dua hari ke Singapura pada tengah minggu hanya untuk melihat kemeriahan festival Deepavali di kawasan Little India di negeri singa itu. Dan saya bisa begitu nekadnya untuk mengabadikan hiasan-hiasan itu, hingga saya menyeberang jalan, lalu mengambil foto di tengah jalan sampai lampu lalu linatas berganti hijau (dan sampai diklakson supaya minggir 😀 😀 ) Tidak sendirian sih, karena banyak juga yang segila saya hahaha…

Singapura berhias tak hanya untuk Deepavali Festival, melainkan Natal sampai Tahun Baru pun juga. Salah satunya adalah di Orchard Road yang penuh dengan hiasan-hiasan.

orchard
Orchard Road, Singapore

Tidak hanya di atas jalan, pohon-pohon pun didandani. Dan yang memanjakan mata adalah dandanannya selalu cantik, tidak asal-asalan (karena pernah dulu di dekat Monas, saya pernah melihat hiasan lampu-lampu itu dibuat asal nemplok, sungguh membuat ilfil!) Dan semua itu gratis tanpa dipungut bayar. Syaratnya cuma satu, asal kuat jalan saja hehehe… Lihat saja bagaimana kita bisa menyaksikan keindahan permainan lampu Super Trees di Garden By The Bay. Sambil mendengar musik yang penuh semangat, mata juga dimanjakan. Rasanya bisa dibilang, semua itu menjadi makanan untuk jiwa dan panca indera.

– § –

TOKYO

Tidak jauh berbeda dengan Singapura, Tokyo di Jepang berdandan menyambut kemeriahan Natal dan Tahun Baru. Tetapi entah kenapa, saya merasa hiasan lampu-lampu yang ada di Tokyo itu jauh lebih banyak dan lebih menakjubkan. Bisa jadi karena memang hampir di semua tempat di kota itu didandani dengan hiasan lampu-lampu. Tidak perlu jauh berjalan, pasti ada kawasan cantik yang penuh hiasan, bahkan pedestrian biasa selalu ada spot-spot yang dihias dengan lampu-lampu. Saya sempat berpikir, budget untuk dandanan kota seperti ini pastinya besar karena perlu listrik. Namun rasanya untuk dua kota terkenal yang saya sebutkan di atas, seperti Singapura dan Tokyo, tentu dana tersebut sudah dialokasikan dengan baik. Bagaimana ya di Indonesia? Jangan-jangan kita masih akan sibuk berdebat soal boleh atau tidaknya untuk segala sesuatu, termasuk hiasan-hiasan kota.

Ketika tahun 2016 suami dan saya pergi ke Tokyo untuk honeymoon kesekian kalinya, kami menikmati suasana Tokyo yang sudah berdandan, padahal waktu itu baru awal Desember dan musim gugur belum tuntas berakhir. Dan kami, -sebenarnya saya sih yang lebih terpesona dengan lampu-lampu itu-, menikmati pertunjukkan di Caretta Shiodome yang lagi-lagi gratis.

carettatokyo
Caretta Shiodome, Tokyo

Bagi yang hendak menikmati keindahan malam di Tokyo, puncaknya memang terjadi di minggu-minggu terakhir bulan Desember hingga ke awal bulan Januari. Suasananya sangat menyenangkan, dimana-mana ada aura cinta dan romantisme karena banyak sekali pasangan yang saling bermesraan. Tawa gembira selalu terdengar dimana-mana. Benar kata sebuah lirik lagu, Love is in the air…

Seperti saat ke Blue Cave di Shibuya, Tokyo di kesempatan yang berbeda, di bawah naungan kerlip lampu-lampu  berwarna biru itu, saya secara otomatis dirangkul oleh sang suami, padahal saat itu situasinya padat oleh manusia. Siapa sih yang tidak merasa terpesona berjalan di “terowongan” panjang berpendar warna biru dari hiasan-hiasan yang membalut batang dan ranting pohon? Ah, rasanya saya kembali menjadi remaja… :p

Tapi bagi pecinta hiasan-hiasan cahaya lampu, Blue Cave di Shibuya termasuk salah satu tempat yang harus didatangi saat melakukan perjalanan ke Tokyo. Semakin ke arah depan, sebenarnya semakin indah dengan kolam di tengah efek pantulan. Sayangnya kami saat itu harus kembali.

blue cave shibuya tokyo
Blue Cave at Shibuya, Tokyo

Tidak jauh dari sana, di kawasan Shinjuku yang super sibuk, tetap dihiasi oleh cahaya lampu. Pokoknya kemana-mana pastinya mata ini menangkap hiasan lampu yang cantik. Bahkan kami memilih makan malam di outdoor berpayung langit, -meskipun berbalut jaket karena udara sudah cukup dingin-, sambil menikmati pemandangan indah di kegelapan malam dan mengistirahatkan kaki yang pegal.

Selesai bersantap malam, kami jalan-jalan di antara lampu-lampu itu. Luar biasa, karena lampu-lampu itu diletakkan menghias seluruh gundukan tanah. Rasanya berjalan melayang di dunia mimpi yang magis tak nyata.  Saya sungguh mengagumi para pendekor kota yang benar-benar telah bekerja keras mempercantik kotanya, memberikan cahaya ke sudut-sudut kotanya, memberikan yang terbaik kepada siapapun yang melihatnya, turis maupun orang lokal. 

Bahkan di Yokohama, sekitar 50 menit berkereta dari Tokyo, saya melihat juga lampu-lampu yang memenuhi area serupa sebuah teater yang cekung. Melihat ini saya jadi ingin tahu apa yang sesungguhnya ada di pikiran orang-orang Jepang yang kebagian menghias itu.

Mungkin sedikit gila, dalam artian yang positif. 

Bisa jadi mereka juga sangat malu jika bekerja secara asal-asalan, karena setahu saya, mereka memiliki prinsip untuk mengutamakan orang lain, bukan diri sendiri. Satu prinsip yang sepertinya sudah langka ditemukan di Indonesia.

yokohama
Yokohama

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-49 ini bertema Lamplight agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Hadiah Manis di Mawlamyine


Petugas hotel itu berada di seberang jalan, -salah satu tugasnya membantu untuk mencegat bus untuk dinaiki tamu hotel-, sudah memanggil saya. Saya langsung saja berterima kasih kepada gadis penerima tamu berwajah ramah yang telah banyak membantu saya selama di Hpa’an. Dia yang memiliki sifat langit dan bumi dengan gadis penerima tamu satunya lagi yang bicaranya secepat kilat tanpa perasaan, sehingga gadis baik hati ini membuat saya memiliki kesan baik akan Hostel di Hpa’an ini. Teringat saat dia menunjukkan rumah makan saat saya kelaparan di malam hari dan dia juga yang merekomendasikan untuk mencegat bus di depan hotel hanya untuk pergi ke Mawlamyine. Secepat kilat saya menyeberang membawa ransel dan menunggu bus yang sebentar lagi datang.

Bus akhirnya berhenti di hadapan lalu saya naik dan oops…

Bayangan menaiki bus seperti sebelum-sebelumnya langsung runtuh, karena bus  ini sudah tua mungkin jelang tak layak jalan. Bus berjalan sangat pelan, dengan berbagai bunyi kriet-krieeet dan AC yang tak lagi berfungsi. Saya duduk tak jauh dari pintu di bagian terpapar sinar matahari. Kapanpun ada calon penumpang berdiri di pinggir jalan yang mau naik, bus akan berhenti. Baiklah… ini hadiah baru untuk perjalanan ke Mawlamyine.

Dalam melakukan perjalanan saya sudah biasa melepas ekspektasi, karena ekspektasi biasanya merupakan sumber ketidakbahagiaan. Termasuk melepas ekspektasi bus yang membawa saya ke Mawlamyine ini. Awalnya memang terlintas dalam pikiran karena pengalaman naik bus yang keren sebelumnya, namun tak pernah menjadi kekecewaan.

Bukankah yang terlihat buruk tidak selalu buruk? Bukankah pengalaman yang kurang menyenangkan bisa menjadi guru bagi kita semua?

DSC07980
Bus menuju Mawlamyine

Hadiah berada dalam bus “buruk rupa” ini mengajarkan saya banyak sekali. Ketika saya menoleh ke belakang, semua penumpang bus yang tak seberapa jumlahnya itu tampak diam terkantuk-kantuk, tak ada yang mengeluh. Mereka percaya penuh kepada sang pengemudi yang akan membawa mereka ke tempat tujuan. Mereka paham bahwa mengeluh karena bus berjalan pelan atau karena AC yang tidak berfungsi di bus, atau karena bus sering berhenti, semuanya tak akan mengubah keadaan. Jadi untuk apa mengeluh? Serahkan saja kepada sang pengemudi.

Saya pun mengikuti penumpang lain, duduk diam meski terpapar sinar matahari.

◊ § ◊

Satu hari Minggu pagi yang cerah di tahun 2012.

“Kota apa ya yang ada di Selatannya Yangon, Yan?”, tanya Papa sambil mengingat-ingat.

“Bago?”, jawab saya menebak, karena baru saja saya melakukan perjalanan ke Bago waktu itu. 

Papa menggeleng, terlihat gemas akan dirinya sendiri yang tak mampu mengingat nama kota itu. Karena lanjut usia ditambah serangan stroke bertubi-tubi, membuat proses berpikir Papa memakan waktu cukup lama.

“Mmm…? Apa itu…? hmm…”

“Oh, Moulmein? “, saya menebak lagi, karena Moulmein adalah salah satu kota pelabuhan di Myanmar.

“Ya, Moulmein!” Wajahnya memancar bahagia karena menemukan nama kota yang dipikirkannya.

Dan selanjutnya Papa menceritakan tentang Moulmein, tentang kapal yang pernah dibawa berlabuh ke pelabuhannya, tentang sunsetnya. Cerita yang sama, tapi tak pernah membuat saya bosan. Papa dan saya selalu menjadi seru saat saling bertukar cerita tentang perjalanan-perjalanan. 

Dan tiba-tiba terucap oleh Papa…

“Cobalah pergi ke Moulmein, pasti berkesan”, kata Papa sambil tersenyum waktu itu.

Momen sekejap itu langsung meluncur ke dalam hati terdalam dan berdiam di sanubari, terekam kuat. Moulmein!

◊ § ◊

Pipi saya terpapar panas matahari, tapi panas itu tak terasa. Ada rasa rindu menggelegak kepadanya. Saya sedang menuju kota yang pernah ia minta. Rasa ini sangat mengharubiru. Perjalanan menuju Mawlamyine (atau dulu terkenal dengan nama Moulmein) inilah yang membuat saya kembali ke Myanmar setelah tujuh tahun. Dengan apapun saya akan mencapai kota itu dan Tuhan membawa saya hari ini menaiki bus yang sudah renta ini, berjalan lambat, dengan AC yang tak berfungsi dengan berbagai bunyi-bunyi kerapuhannya.

Seakan mengingatkan saya akan dirinya, menggamitnya di masa tuanya, semasa ia masih bisa berjalan meskipun tertatih akibat stroke dan perlu dibantu. Ia terus berupaya maju dalam kekurangmampuannya. Sungguh tak beda dengan situasi yang saya alami sekarang. Dalam bus yang ringkih…

Setiap kriyet-kriyet bunyi bus yang telah renta, setiap rasa panas matahari yang mendera, setiap tekanan melesak ke depan akibat perpindahan gigi persneling dan setiap geyal-geyol jalannya bus, sejumlah itu pula lah untai doa yang saya panjatkan untuknya, untuk dia yang meminta saya datang ke Moulmein, namun tak sempat mendengar kisah perjalanan saya ke Moulmein ini. Karena Yang Maha Baik memanggilnya pulang 102 hari sebelum saya menjejak ke kota ini.

◊ § ◊

DSC07983
Melewati Jembatan jelang memasuki Kota Mawlamyine

Kota Mawlamyine sudah di depan mata, saya bergegas melihat posisi berdasarkan GPS pada ponsel. Saya harus turun sebelum terminal karena lebih dekat jaraknya ke hotel. Dan akhirnya bus yang telah renta itu berhenti juga di halte yang saya harus turun. Saya berterima kasih kepada pengemudinya, lalu sekilas menyentuh badan bus tua itu sambil mengucapkan terima kasih dalam hati lalu meloncat keluar. Sambil menunggu bus berjalan lagi, saya menyempatkan diri menyentuh tanah seakan memberi salam kepada bumi tempat saya berpijak pertama kali, di negeri baru.

Pa, aku sampai di Moulmein!

Di kota ini, di kota yang dikenal Papa dengan nama Moulmein, kapal Papa pernah berlabuh dan sebuah insiden mengiringinya. Bendera kapal, sang Merah Putih, merupakan representasi negara Indonesia, tanpa diketahui telah diambil oleh seorang penduduk setempat. Tujuannya bukan apa-apa, bukan faktor ekonomi apalagi politik. Ia, seseorang yang sangat miskin, mengambil bendera agar ia bisa memiliki alas untuk beristirahat. Seumur-umur ia tak pernah menggunakan alas yang bersih dan bagus. Ia sungguh tak tahu akibat hukum dengan mengambil bendera kapal hingga digiring dan dituntut. Namun setelah mengetahui alasan pengambilan bendera dan kemelaratan orang tersebut, Papa tidak sanggup melanjutkan proses tuntutan karena sisi kemanusiaannya telah berbicara. Hati Papa yang penuh kasih sayang.  

Dan di hari ke-102 setelah berpulangnya Papa, saya menginjakkan kaki di kota yang sama tempat Papa dulu pernah singgah dan berurusan dengan orang tak berpunya. Saya menapak tilas sebuah perjalanan batin yang amat indah.

Dan seperti memperkuat kesan yang saya harus alami sepanjang perjalanan ini, saya disuguhi pemandangan menjelang kota Mawlamyine. Desa-desa yang hanya berisi satu dua rumah sangat sederhana dengan lingkungan yang sangat kering dan tampak tak berdaya. Membuat hati saya langsung berdenyut-denyut. Di sini kehidupannya sangat tidak mudah, membuat saya otomatis mengingat kisah insiden bendera itu. Sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu, situasinya tetap serupa. Saya mendapat hadiah manis dalam perjalanan ini. Menjadi saksi akan kehidupan mereka yang sangat sederhana, yang mengharuskan kita yang melihatnya untuk selalu memiliki empati dan merendah hati. 

◊ § ◊

Panas udara Mawlamyine langsung menghilang saat saya memasuki kamar hotel yang AC-nya telah dingin. Kamar yang bisa menyamankan tubuh dan menenangkan hati. Jendela lebar kamar itu membuat saya tak perlu turun ke pinggir sungai Than Lwin yang ada di hadapan. Saya bisa menyaksikan pergerakan matahari menjelang sunset langsung dari kamar. Begitu indah, seperti yang pernah Papa ceritakan. Sama seperti berpuluh-puluh tahun lalu.

DSC08038
Sunset di Sungai Than Lwin dan Kapal Menjauh

Tetapi tiba-tiba…

Tampak sebuah kapal yang sedang bergerak menyusuri sungai yang lebar itu. Sebenarnya hal itu sangat biasa tetapi bagi saya hari itu, bukan sesuatu yang biasa. Entah mengapa, saya melihat kapal itu seakan-akan kapal Papa, kapal yang pergi menjauh.  Seperti dirinya.

Saya langsung terbanting menangis, luruh dalam airmata mengikuti gerak pelan kapal yang akhirnya menghilang dari area pandang. Sekali lagi, kali ini sendirian di kota tempat Papa pernah singgah, saya mengucap selamat jalan untuk Papa tercinta.

Dia Yang Maha Baik telah memberikan hadiah perjalanan terindah untuk saya, yang  berserak penuh tanda dan makna.

Ah, sepertinya di tempat ini saya akan menghabiskan banyak waktu berbicara dengan jiwa.

◊ § ◊


 

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-48 ini bertema Gift agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Sepenggal Jakarta Jaman Dulu Dari Puncak Monas


Gara-gara tantangan dari sahabat saya untuk postingan minggu ini yang bertemakan Old Age, saya jadi membongkar album-album foto lama saat berada di rumah ibunda tercinta kemarin. Tapi ternyata dengan perbuatan membongkar album-album lama, akhirnya ibu saya yang sudah sepuh itu menceritakan banyak hal kepada cucu-cucunya.

Dan sementara sang cucu-cucu bisa mendadak jejeritan gembira melihat fashion foto omanya di jaman tahun 60-an, -yang menurut omanya sangat biasa, tapi bagi mereka sangat fashionable-, saya hanya bisa tertawa melihat situasi yang agak awkward yang sekarang banyak terjadi: generation gap yang ekstrim antara dunia sang oma dan dunia anak millenial.

Obrolan masa lalu itu membawa saya langsung ke jaman-jaman yang menyenangkan dan penuh kenangan. Termasuk jaman Jakarta masih lengang. Lengang dalam arti, tidak penuh sesak dengan kendaraan ataupun gedung-gedung tinggi. Pemandangan Jakarta kala itu serupa: lebih banyak datarnya.

Jaman saya masih kecil itu, -jaman Ali Sadikin atau dulu terkenal dengan nama Bang Ali sebagai gubernur Jakarta-, dari puncak bukit yang di belakang rumah orang tua saya (sebenarnya jalan menanjak sedikit sih), waktu itu saya masih melihat gedung-gedung tinggi yang ada di kawasan Thamrin, termasuk Monas. Hal yang tak mungkin bisa dilihat sekarang ini, karena pasti sudah tertutup oleh tingginya rumah tetangga, gedung-gedung tinggi yang lebih dekat dan kabut polusi yang membatasi penglihatan.

Pernah pada suatu akhir pekan, orangtua saya mengajak kakak dan saya ke Monumen Nasional. Tidak hanya ke kawasannya, melainkan juga mengeksplorasi diorama-diorama di dalam cawannya termasuk ke puncaknya yang tepat berada di bawah emas yang katanya berbentuk seksi itu (tetapi jaman itu saya belum tahu yang namanya seksi-seksi lho hehehe…). Rasanya happy sekali, karena jaman itu jarang sekali yang bisa berkunjung ke puncak Monas.

Perjalanan naik lift ke puncak rasanya sangaaaat lama, mungkin karena saya sudah tak sabar ingin melihat dari Jakarta dari atas. Dan ketika sampai di lantai atas itu, alangkah sebalnya saya, karena ternyata tinggi saya belum cukup untuk bisa melihat dengan nyaman. Saya harus jinjit dengan ujung kaki seperti penari balet untuk bisa melihat dan hal itu ternyata sangat menyakitkan dan melelahkan!

Meskipun demikian, dalam banyak hal selalu saja saya ditolong supaya bisa menikmati pemandangan dari atas….


jakarta istiqlal
Jakarta Dari Monas – Sudut Istiqlal

Benar kan Jakarta masih terlihat rata? Taman Merdeka sekeliling Monas masih terlihat gersang, belum sehijau sekarang. Dan tentu saja, tak ada pagar yang mengelilingi Taman Merdeka. (Tetapi Monasnya sendiri saya ingat sudah berpagar, yang kata pemandu tour Jakarta waktu itu jumlah tiangnya 1945, saya percaya saja karena tidak mau menghitung tiang pagar hehehe).

Kubah Mesjid Istiqlal yang putih itu sangat terlihat ya? Juga menara dan air mancurnya… Kalau dilihat lebih teliti, terlihat juga dua menara gereja Katedral dan Monumen Pembebasan Irian Barat yang ada di Lapangan Banteng. Fotonya sudah tak jelas, tetapi saya masih bisa melihatnya.

Oh ya, perhatikan rel kereta api yang ke Gambir? Tidak kelihatan sih di fotonya, tetapi bisa dibayangkan kan? ada rel kereta api yang masih dibuat diatas jalan raya dan tentu saja belum dibangun rel kereta yang melayang (dibatasi oleh dua dinding putih di sebelah kanan bawah)

Yang hebat menurut saya waktu itu, saya masih bisa melihat pinggir laut Jakarta dari Puncak Monas. Kelihatan kan batas laut?

***

jakarta istana
Jakarta Dari Monas – Sudut Istana

Foto yang di atas ini memperlihatkan situasi Istana Merdeka di tahun 70-an. Terlihat bendera berkibar di tiangnya. Dari sini kelihatan kawasan kota belum ada apa-apa ya? Meskipun kepadatannya sudah terlihat.

Dari posisi ini saya baru lihat bahwa dulu taman yang mengelilingi Monas itu sebenarnya cantik bila dilihat dari atas, meskipun masih gersang dan jarang pepohonan yang rindang. Hebat juga ya…

***

jakarta bi
Jakarta Dulu Dari Monas – Sudut BI

Dan foto di atas ini, menunjukkan sudut Bank Indonesia dan Air Mancur. Tampak Gedung lama Bank Indonesia yang hingga kini masih dipertahankan bentuknya. Kelihatan juga Wisma Nusantara yang merupakan gedung tertinggi di Indonesia saat itu. Bisa mengenali gedung Sarinah? Itu lho… gedung yang berada di tengah-tengah.

Lihat banyak mobil parkir di jalan? Kalau tidak salah, dulu di situ ada bioskop Eldorado. Namun saya tidak pernah nonton di sana, karena masih terlalu kecil dan seingat saya, bioskop itu lebih sering mempertunjukkan film dewasa.

Oh ya, di sudut ini, dulu selalu Pekan Raya Jakarta diadakan (Jakarta Fair). Saya termasuk cukup sering untuk datang ke Jakarta Fair itu untuk mendapatkan donatnya saja. Dulu donatnya itu top banget dan menjadi icon dari Jakarta Fair. Jadi kalau tidak beli donat Jakarta Fair, rasanya belum ke sana.

Kawasan sebelahnya merupakan kawasan wisata yang terkenal dengan Taman Ria. Bahagia sekali kalau bisa ke Taman Ria, karena bisa naik komidi putar dan merasakan kebahagiaan anak kecil seperti kalau ada di Dufan sekarang ini hehehe. Jadi ingat, dulu Jakarta sudah punya monorail lho… ya tapi hanya ada di Taman Ria saja hehehe…

***

jakarta thamrin
Jalan MH Thamrin – Juli 1973

Dan foto yang terakhir ini adalah foto yang diambil dari Jembatan Penyeberangan, yang seingat saya sih di depan Sarinah. Coba perhatikan, tidak banyak gedung tinggi setelah Tugu Selamat Datang ke arah Selatan. Memang Jakarta belum banyak gedung tinggi pada saat itu.

Ada jalur lambat yang seringnya dilalui oleh sepeda, becak atau dokar (dulu semua boleh melintas meskipun ada jalurnya masing-masing). Halte bus ada pedestrian, antara jalur lambat dan jalur cepat. Dan di Jalur cepat itu mobil, bus, sepeda motor, truk bisa sama-sama melewatinya. Dan asiknya, tidak ada kepadatan lalu lintas kan?

Saya ingat waktu itu, jalan-jalan ke arah Monas lalu balik lagi sudah merupakan kemewahan dan kebahagiaan tersendiri.

Bahagia itu memang sederhana.

Anyway, menuliskan semua ini mengingatkan diri sendiri bahwa saya sudah tua 😀 😀 😀

Catatan: Semua foto-foto di atas adalah koleksi pribadi.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-47 ini bertema Old Age agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

Wisata 24 Jam Di Hpa’an


Hpa’an atau kalau susah bacanya, bisa disebut dengan Pa’an, merupakan ibukota dari Kayin State yang didominasi oleh etnis Karen. Meskipun merupakan ibu kota, tetapi entah mengapa saya merasa Hpa’an merupakan kota kecil. Bisa jadi karena saya tidak menjelajah semua sudut kotanya dan hanya berada di bagian kota yang berada di pinggir sungai Than Lwin yang lebar.

Sebagai kawasan yang banyak didominasi keindahan alam karstnya, Hpa’an memiliki banyak tempat wisata yang sayangnya masih kalah pamor dibandingkan dengan Bagan, Yangon, Mandalay atau Inle Lake. Tetapi sungguh saya tak menyesal telah menjejak di tempat ini, karena memang Hpa’an membuat saya terpesona dan hari itu saya mulai dari…

Gua Kawgun

Pak Ojek yang terlihat sudah setengah baya mengantar saya pertama-tama ke Gua Kawgun yang letaknya tidak begitu jauh dari kota. Bapak Ojek itu seperti pria Myanmar lainnya, mengenakan longjyi saat mengendarai motor. Meskipun memiliki bahasa Inggeris yang terbatas, ia mampu menjadi pemandu untuk semua tempat yang saya kunjungi. Walaupun kadangkala yaa jadi joko sembung alias gak nyambung. Namun saya amat menghargai upayanya untuk memberi penjelasan dan menunjukkan hal-hal yang spesial di setiap tempat.

Sebuah awal yang menyenangkan seperti ice breaker terjadi, ketika sampai di Gua Kawgun.  Jadi, begitu berhenti di tempat parkir motor, saya turun dan langsung nyelonong hendak masuk tanpa melepas helm, yang membuat Pak Ojek itu tersenyum lebar sambil meminta helmnya. Saya ikut menertawakan diri sendiri karena merasa kartun banget 🙂

Dengan donasi 3000 Kyat, saya memasuki Gua Kawgun yang konon ditemukan sejak abad-13. Begitu melewati pembatasnya, saya berdecak kagum, luar biasa sekali. Bayangkan saja, sebelum pintu gua dan juga didalamnya, hampir seluruh dinding tebing yang menjulang itu dipenuhi dengan tatahan relief Buddha images kecil-kecil yang banyak sekali! Dinding sebelum gua itu saja sekitar 30 meter panjangnya dan 15 meter tingginya, belum di dalam guanya.

Saya jadi membayangkan orang yang membuatnya di tebing-tebing itu. Apakah mereka menggunakan tali dan bergantung di dinding tebing? Saya juga membayangkan bagaimana orang yang membuatnya di atas langit-langit gua. Apakah dia mendongak terus menerus atau tiduran? Kalau tiduran bagaimana alasnya? Benar-benar pekerjaan yang tidak mudah.

Belum lagi Patung Buddhanya yang sangat khas Myanmar, sangat besar, lengkap dengan berbagai posisi Sang Buddha,  duduk, berdiri dan berbaring. Ukurannya pasti lebih dari 10 meter! Bayangkan saja, di kota kecil Hpa’an banyak patung-patung berukuran besar, bagaimana dengan kota-kota yang lebih besar?

Tidak hanya menunjukkan tempat-tempat bagusnya, pemandu dadakan saya juga menunjukkan patung-patung kuno yang kelihatannya merupakan patung Hindu dan tersimpan dalam pagar terkunci. Jika saya tak salah mengerti ucapannya, ia mengatakan bahwa semua itu adalah patung-patung kerajaan yang menurut sumber-sumber dari internet, adalah patung-patung Hindu yang masih perlu ditelusuri kebenarannya. Saya agak setengah hati saat meninggalkan Gua Kawgun ini menuju obyek wisata selanjutnya, mungkin karena masih terpesona dengan tatahan relief Buddha yang mencengangkan itu

∞∞♦∞∞

Gua Ya Thay Pyan (Ya Thea Pyan)

Sebenarnya Gua Kawgun dan Gua Ya Thay Pyan bersebelahan bukit, namun tidak ada jalan potong untuk sampai ke sana. Sehingga diperlukan jalan memutar untuk ke Gua Ya Thay Pyan padahal saat itu mentari sudah condong ke Barat. Tetapi justru itu kekuatannya. Perjalanan itu luar biasa dengan pemandangan perbukitan karstnya, yang membentuk gundukan-gundukan tinggi penuh lekuk di hamparan tanah yang datar yang dipenuhi sawah hijau. Cantik!

Rasanya sejuk disambut kolam di depan gua, -yang letaknya agak lebih tinggi-, apalagi Gua Ya Thay Pyan yang dikenal juga sebagai Gua Pertapa itu menghadap Timur. Pelan-pelan saya menaiki tangga yang terbuat dari semen dan menjumpai banyak patung Buddha diantara pohon-pohon berbunga cantik.

Di muka gua banyak tempat dijadikan tempat ibadah dengan patung Buddha dari berbagai ukuran hasil donasi umat Buddha sejak abad-17. Cahaya yang semakin sedikit saat menjelajah makin ke dalam badan gua, membuat saya cukup kesulitan mengambil gambar. Namun makin ke dalam makin seru bentuknya, karena dalam jutaan tahun alam membentuk stalagtit dan stalagmit yang menarik hati. Di beberapa tempat terdapat tatahan Buddha kecil-kecil pada dinding seperti di gua Kawgun, yang menunjukkan gua ini sudah lama dieksplorasi manusia. Sayangnya saya tak dapat menemukan Buddha Image yang dipercaya berasal dari abad-13.

Manusia memang tak terduga ya karena saya sampai harus mengerjapkan mata menembus kegelapan saat pemandu menunjukkan adanya orang yang duduk sendirian di hamparan cairns (tumpukan batu pipih). Meskipun pengemudi ojek yang sekaligus jadi pemandu mengatakan orang itu hilang ingatan, saya memilih untuk berpikir dia sedang meditasi (dan terus berpikir dia manusia juga 😀 )

Banyak penduduk lokal yang mengeksplorasi gua seperti saya, termasuk rombongan laki-laki yang tampak seperti model dan  selalu riuh saat berfoto. Meskipun penampilannya bagus, bagi saya cuma satu: Brisik! Benar-benar membuat ilfil.

Saya terus berjalan dengan kaki telanjang (karena gua ini dianggap suci, jadi harus lepas sepatu) dengan cahaya dari lampu listrik yang dipasang dalam jarak tertentu. Hingga suatu saat mulai terasa terang yang berasal dari sinar matahari. Waw, ternyata gua ini memiliki dua muka yang tembus ke belakang dan pemandangannya indah sekali dengan hamparan sawah hijau. Mulut gua sebenarnya tinggi dari permukaan tanah sehingga dibuat jembatan setapak yang terbuat dari besi yang mengarah kepada  sebuah pelataran dengan patung Buddha hitam di tengahnya. Meskipun pemandangannya indah, saya tak bisa lama-lama di sana, karena sinar matahari terasa memanggang luar biasa.

Tak tahan akan panasnya, saya langsung kembali setelah puas memandangi pemandangan dari ujung gua. Belum lama berjalan, mendadak listrik padam membuat kegelapan total di depan. Saya langsung berhenti dan memilih kembali ke arah sedikit terang di belakang. Tak mungkin melanjutkan perjalanan dalam gelap. Tak mungkin juga menggunakan senter ponsel karena batere yang sudah sekarat. Saya tertawa menikmati suasana gelap bersama pemandu saya. Bau kotoran kelelawar memenuhi hidung. Ugh, mudah-mudahan mereka tetap diam menggantung di atas. Semenit… Lima menit… sepuluh menit, menunggu itu memang tak menyenangkan…

Sejenak saya berdoa agar listrik dapat berfungsi kembali dengan cepat dan Tuhan Yang Maha Baik mengabulkan doa saya karena tak lama kemudian listrik menyala kembali. Sesaat saya menyadari sesuatu tentang diri sendiri bahwa sebenarnya saya takut gelap. Momen sesaat itu mengingatkan dan membuat keputusan rasanya cukup untuk mengeksplorasi gua-gua di Myanmar. Tapi bagaimana mungkin? Wisata utama Hpa’an adalah gua dan saya tak bisa lari dari kenyataan itu. Saat menunggu dalam gelap itu, terlintas juga pikiran buruk bagaimana seandainya petugas yang mengurus listrik itu memilih pulang lebih cepat karena hari sudah sore dan membiarkan saya semalaman dalam gelap di gua? Hiii…

Pengalaman menunggu dalam temaram di gua itu membuat saya hampir menolak untuk berkunjung ke destinasi berikutnya, tapi…

∞∞♦∞∞

Kyauk Ka Lat (Kyauk Kalap) Pagoda

Pemandangan menuju Kyauk Kalap Pagoda sangat memanjakan mata dengan hijaunya pemandangan sawah. Duh, sebersit rindu muncul tiba-tiba akan hamparan sawah di tanah air! Lalu suasana jelang sunset semakin jelas. Ah, sepertinya tak akan bisa mengejar sunset di Kyauk Kalap, yang terkenal indah. Pak Ojek menghentikan motornya sejenak agar saya bisa menikmati matahari menghilang di balik bukit dari pinggir jalan.

DSC07757
Sunset – Hpa’an

DSC07774
The view over the Bridge – Hpa’an

Setelah melewati jembatan di atas Sungai Than Lwin dengan langit keemasan itu, akhirnya saya sampai di Kyauk Kalap Pagoda yang bentuknya sangat mencengangkan. Seandainya hari belum gelap, saya tentu bersedia untuk naik ke atas Pagoda yang berada di puncak batu limestone yang tegak menjulang itu. Pasti keren berada di atas, meskipun katanya, jalan naiknya agak mengerikan…

Matahari belum lama tenggelam kan, jadi pantulan lampu dan warna langit masih cantik, membuat saya merasa nyaman berada di sana. Rasanya indah berada pada waktu yang tepat dengan segala keindahan.

Dan untuk menghemat waktu, saya berjalan menuju kuil baru yang ada di sebelahnya. Bentuk atapnya sangat indah seperti pura di Bali. Tak jauh dari altar utama yang berisikan patung Buddha yang besar, ada sebuah tempat yang juga penuh bunga-bunga persembahan dengan sebuah patung berjubah maroon di dalamnya. Pastinya orang penting semasa hidupnya. Pak Ojek berusaha memberi tahu saya siapa dia, namun kali ini sepertinya jadi Jaka Sembung, alias gak nyambung… karena ia mengatakan dalam bahasa seadanya dan saya mengartikan bahwa patung itu adalah patung Raja Thailand Bhumibol Adulyadej yang baru saja mangkat. Ah, bisa benar, bisa salah… meskipun memang saya melihat ada banyak tulisan Thai di sana. Benar atau Salah ya?

Sayangnya, karena hari sudah terlalu gelap, saya memilih kembali ke penginapan untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

∞∞♦∞∞

Mahar Saddan Cave

Keesokan harinya, belum terlalu siang ketika saya sampai di Saddan Cave, gua terbesar yang ada di daerah Hpa’an. Perjalanan yang cukup menyenangkan untuk sampai ke tempat ini yang memerlukan waktu sekitar 1 jam dengan motor melalui jalan yang beraspal dan jalan tanah yang dikeraskan. Gua Mahar Saddan ini dipercaya oleh orang lokal memiliki legenda suci tentang kehidupan Raja Gajah sampai mangkatnya dan menerima karma dengan ikhlas (baca post saya sebelumnya tentang Kisah Raja Gajah Di Gua Saddan)

Setelah membayar donasi 4000 Kyat, saya mulai naik tangga (dan setiap naik tangga yang lumayan tinggi untuk sampai ke monastery, saya selalu teringat tangga-tangga jahanam di Annapurna! 😀 ). Namun begitu masuk di mulut gua, wuih saya senang sekali karena melihat patung merak! Sebagai penggemar merak, tentu tak boleh dilewatkan. Gua Saddan ini memiliki rongga yang sangat besar dan sejuk! Benar-benar menyenangkan apalagi tidak begitu banyak orang.

Pada dindingnya ada tatahan Buddha kecil-kecil yang membentuk gambar katak, gajah dan lain-lain. Di sudut lainnya terdapat Buddha Berbaring. Tampak beberapa orang sedang beribadah di sana.

Saya meneruskan perjalanan yang semakin menanjak. Di gua ini dipasang lampu-lampu listrik sebagai penerangan. Jadi lumayan enak meskipun terasa aneh karena kehilangan rasa alamnya. Dan sedihnya lampu kelap-kelip itu membuat suasana seperti di pasar malam.

Setelah berjalan beberapa lama, di beberapa tempat terdapat mulut-mulut gua yang menurut legenda dilubangi oleh Thaw Note Ta Ra atau Sonuttara, yang sesuai kisah legenda Raja Gajah Chaddanta. Ah, mendadak kunjungan ke gua ini terasa manis dengan adanya kisah tentang karma. Dari kisah-kisah Hindu atau Buddha, cerita mengenai karma ini mengesankan hati saya karena menggambarkan keikhlasan hati menerima akibat semua perbuatan.

Terlepas dari legenda yang melingkupi gua ini, saya suka dengan alur-alur yang dibuat alam di dalam gua ini. Jelas sekali batas air yang membentuk gua dengan indahnya. Stalagmit dan Stalagtit yang besar-besar dan indah menunjukkan kehebatan alam dalam berproses secara konsisten. Di ujung gua terdapat danau yang katanya bisa digunakan untuk berperahu namun saya memilih jalan kaki kembali sambil berdoa agar listrik berfungsi baik. Benar-benar saya tak ingin pengalaman kemarin terulang.

DSC07879
Saddan Cave

Meninggalkan Saddan Cave, saya kembali menikmati perjalanan menuju gua yang lain lagi. Sambil berpanas-panas menyusuri jalan aspal, meskipun tidak begitu lama akhirnya saya sampai di gua berikutnya.

∞∞♦∞∞

Gua Kaw Ka Thaung 

Di dalam gua ini sebenarnya tidak terlalu spesial karena lebih diutamakan sebagai tempat ibadah dengan berbagai patung Buddha dengan lantai keramik. Hanya saja gua ini dikenal dengan relikui tulang-nya yang sangat disakralkan. Sebenarnya ada beberapa jalan ke gua lain, namun menurut buku Lonely Planet yang saya baca, ada satu jalan yang ditutup karena seorang biksu menemukan kond*m bekas di gua lanjutan ini! Padahal tempat ini masih harus lepas sepatu lho, yang tentunya artinya masih area tempat suci! Ampuuun…

Di dinding gua juga terdapat tatahan Buddha yang kecil-kecil menghias penuh. Saya terkagum-kagum dengan orang yang membuatnya, yang pasti dengan sabar.

Di luar gua terdapat taman asli lengkap dengan patung-patung Nat dan Patung Buddha dalam berbagai posisi termasuk dalam keadaan pindapatta dengan pengikutnya yang turun dari atas bukit. Namun di luar pagar monastery, pemandangannya lebih cantik, karena terdapat banyak sekali patung pengikut Buddha yang didirikan berderet panjang sekali sepanjang jalan. Saya minta kepada Pak Ojek untuk mengantar saya sampai ke ujung akhir barisan itu, hanya ingin tahu saja siiih…

∞∞♦∞∞

Gua Kaw Ka Thaung ini menjadi gua terakhir yang saya kunjungi di kawasan Hpa’an. Sepertinya waktu berkunjung di Hpa’an sudah berakhir. Saat itu sudah tengah hari, waktunya untuk melanjutkan perjalanan ke Mawlamyine. Saya belum tahu harus naik apa, mungkin naik bus lagi karena tak mungkin naik public boat yang biasanya berangkat pagi. Perjalanan penuh kejutan pasti menanti di depan…

Reclining Buddha Win Sein Taw Ya Yang Mencengangkan


DSC08117
Reclining Buddha Win Sei Taw Ya

Patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya yang ada di selatan Mawlamyine, akhirnya menjadi nomor dua terbesar di dunia setelah dikalahkan oleh patung serupa yang dibangun di Yiyang, Jianxi,  China (yang belakangan ini tidak tanggung-tanggung untuk menjadi nomor satu, karena patung Reclining Buddha ini dibentuk mengikuti kontur bukit!). Meskipun demikian, Reclining Buddha Win Sei Taw Ya berhasil membuat saya benar-benar tercengang.

Memiliki ketinggian sekitar 30 meter dengan panjang 180 meter, rasanya mal Plasa Senayan yang sudah khatam saya kelilingi saja masih lebih kecil dari patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya ini. Juga karena besarnya, saya teringat akan patung-patung serupa yaitu The Shwethalyaung Buddha (55 meter) dan Naung Daw Gyi Mya Tha Lyaung (75 meter) yang ada di Bago (baca: trip saya di Bago). Bandingkan dengan Wat Pho yang ada di Bangkok yang memiliki panjang 46 meter.

Untuk sampai ke sini, saya menyewa tuk-tuk dari Mawlamyine. Sebenarnya bisa juga naik bus dari Mawlamyine jurusan Mudon, namun harus jalan kaki lagi dari pinggir jalan raya ke arah monastery ini sekitar 20 menitan. Terus terang saya malas, karena matahari bulan April gaharnya setengah mati dan tidak ada keteduhan sepanjang jalan menuju patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya. Untungnya jika jalan kaki, bisa menikmati lebih lama puluhan patung pengikut Buddha yang didirikan berbaris panjang sekali di pinggir jalan.

DSC08128
Patung-patung biksu sepanjang jalan

Memasuki kawasan monastery, saya bisa melihat patung besar lainnya di kejauhan yang nantinya saya lihat juga dari pelataran atas patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya ini. Selain sebuah tempat ibadah lain yang dindingnya berwarna hijau tampak menyambut di kawasan ini.

Untunglah pengemudi tuktuk yang saya sewa dari Mawlamyine, menurunkan saya di dekat pintu masuk Patung Reclining Buddha itu karena matahari terik bukan main. Saya hanya perlu menaiki sejumlah tangga untuk memulai perjalanan ke dalam tubuh patung itu, yang semoga saja cukup sejuk. Paling tidak saya tidak terpanggang di bawah matahari bulan April.

Tentu saja kawasan ini adalah kawasan tempat ibadah sehingga langsung saja sepatu masuk kantong dan disimpan ke ransel selama berkeliling di dalam bangunan patung.

Saya belum masuk ke bagian Kepala dari Buddha, tetapi dari tempat ini sudah terasa tinggi. Ada lubang-lubang ventilasi melengkung untuk melihat-lihat keluar. Pemandangannya lumayan cantik (seandainya tidak begitu terik, pastilah pemandangannya sangat indah). Sambil tersenyum, saya juga bisa melihat patung besar di kejauhan yang tadi dilihat ketika datang. Di Myanmar memang banyak sekali patung-patung Buddha yang sangat besar, seakan menunjukkan betapa besar cinta mereka kepada Sang Buddha.

Saya menaiki tangga dan melewatkan sebuah altar yang cukup besar dan sedang digunakan untuk beribadah. Seperti biasa, di belakang kepala Sang Buddha dipasang lampu berkelip-kelip yang penuh makna. Tak ingin mengganggu mereka yang sedang beribadah, saya melangkah ke pelataran. Kali ini saya terkejut lagi.

Saya berada di alas kepala atau sekitar telinga Sang Buddha yang lekukannya saja sebesar bak mobil pickup, namun bukan itu yang mengejutkan saya. Di seberang patung yang saya naiki ini terdapat patung serupa yang besarnya juga serupa namun sayangnya keadaannya sudah terbengkalai. Sayang ya… Seakan dibuat untuk ditinggalkan, mungkin karena keterbatasan dana. Saya membayangkan seandainya patung itu jadi, tentu amat menarik. Dua patung Reclining Buddha yang sangat besar saling berhadapan!

DSC08095
Unfinished Reclining Buddha

Puas memandangi sekitarnya, saya melanjutkan mengeksplorasi bagian dalam tubuh yang berisikan serangkaian kisah-kisah Sang Buddha dalam bentuk patung-patung seukuran manusia. Sayangnya sama sekali tidak ada penjelasan, bahkan penjelasan dalam bahasa Myanmar pun jarang. Bisa jadi karena dianggapnya penduduk lokal memahami langsung saat melihat patungnya.

Sebagai non-Buddhist saya hanya bisa mengenal beberapa adegan saja, itupun pakai ilmu ajib dari jaman dulu: ilmu kira-kira nan duga-duga. Seperti adegan ketika ibunda Siddharta Gautama memegang dahan pohon Shala saat melahirkan pangerannya yang akhirnya nanti menjadi Sang Buddha. Juga saat Sang Buddha kecil menunjuk ke atas yang melambangkan kehadiran Yang Tercerahkan. Ada lagi patung yang mengisahkan saat Buddha bermeditasi. Di tempat ini saya agak ragu apakah Sang Buddha sedang digoda atau memang diberi makanan oleh pengikut setianya.

Masih banyak patung-patung lain seukuran manusia dalam ruang-ruang yang dibuat agak bersekat. Masih banyak yang belum selesai pengerjaannya sebagaimana bangunan patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya ini juga masih terus disempurnakan. Di beberapa tempat saya harus berhati-hati karena proses konstruksi masih berjalan, seperti tangga yang belum dipasang pegangannya, atau lantai yang belum dipasang ubinnya, pintu yang belum terpasang, atau steger (scaffolding) yang masih terpasang pada dinding dll. Bau cat juga tercium dimana-mana dan kaki kadang terasa sakit karena tertusuk kerikil-kerikil semen yang mengeras.

Bahkan kadang-kadang saya agak seram juga karena sendirian dalam ruangan hanya ditemani patung-patung seukuran manusia. Kalau sudah begitu biasanya saya cepat-cepat berpindah ruangan. Lhah kalau matanya mendadak bergerak bagaimana? Hiiiii…. Kan di tempat itu dipajang juga segala macam makhluk-makhluk pengganggu manusia yang seram bentuknya…

Makin ke arah kaki, bangunannya semakin tak jelas dan terus dalam proses pembangunan. Patung-patungnya pun sudah terbentuk tapi belum diwarnai. Saya sempat melihat posisi Buddha Parinirvana yang belum selesai.

Merasa sudah melihat isi tubuh dari bangunan patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya secara maksimal, mulailah saya mencari jalan keluar. Masalahnya tidak ada rambu EXIT atau tanda-tanda jalan keluar. Yang pasti tidak sama dengan jalan masuknya. Lagi pula saya ingin sekali mengambil foto patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya secara utuh dari depan. Saya menggunakan metode yang selalu sukses: Mengikuti orang lokal. Kali ini juga berhasil meskipun saya harus melompati bambu yang dipasang melintang di pintu setinggi satu meter! 😀 😀

Saya menyeberang turun untuk mencapai ujung jembatan. Saya berhenti sebentar di sana memperhitungkan panasnya lantai jembatan yang telah dipanggang matahari bulan April. Lalu secepat kilat saya berlari menuju ujung jembatan di seberang. Telapak kaki terasa terbakar.

Sambil mendinginkan rasa terbakar pada telapak kaki, di ujung jembatan saya mengambil foto. Wah, ternyata bulu mata Sang Buddha dibuat sangat jelas dan lentik. Mendadak saya terpikir jika mata Sang Buddha terbuka dengan bulu mata yang lentik berarti posisi ini menunjukkan Buddha sedang istirahat, bukan parinirvana. Ah sepertinya saya ini sotoy banget…

Dari tempat yang sama saya bisa juga melihat jari-jari kaki Sang Buddha yang kukunya dicat berwarna pink. Saya langsung mengingat-ingat apakah patung serupa di Bago juga memiliki kuku berwarna merah muda. Tetapi mungkin saja, warna ini memiliki nilai atau makna tersendiri. Tetapi dari sini dapat dibandingkan besarnya kaki patung Buddha dengan rumah ukuran normal.

 

Matahari belum juga mereda mempertunjukkan kekuatan panasnya sehingga saya memutuskan menyelesaikan kunjungan. Masih ada tempat-tempat lain di Mawlamyine yang harus dikunjungi.  Saya melepas pemandangan dari atas. Meskipun panas, pemandangan dari tempat saya berdiri tetap mengesankan. Sambil menuruni tangga pulang, saya kembali menoleh ke arah patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya memberi salam perpisahan.

Sampai ketemu lagi, kapan-kapan…

DSC08116
The View

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-46 ini bertema Huge agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…