Berjuta Rasa di Masjid Al Aqsa


Mendadak saya membuka mata, setengah terjaga dan bermimpi karena merasa seakan Cinta berbisik halus di telinga, seperti biasa ketika membangunkan di akhir malam. Sekarang waktunya, bukankah impian itu perlu diwujudkan? Meski mata masih terasa lengket, ini bukan mimpi karena saya telah dihadapkan pada pilihan antara meneruskan tidur untuk memanjakan raga atau melompat bangun untuk bisa mendirikan shalat di Masjid Al Aqsa? Ah, pilihan yang sangat menggoda.

Tapi dalam sepersekian detik, gambaran keemasan kawasan Masjid Al Aqsa di kegelapan malam langsung bertengger kuat di benak (baca cerita sebelumnya di post: Al Aqsa, Ikon Keemasan Dalam Kegelapan Malam). Cinta telah berhasil membuat saya terjaga sepenuhnya karena Al Aqsa sama sekali bukan lagi pilihan, melainkan sebuah tujuan dan alasan utama saya berada di tempat ini, bisa menginjakkan kaki di Masjid Al Aqsa dan mendirikan shalat didalamnya.

Bersabarlah, sebentar lagi, sebentar lagi… kata-kata ajaib itu selalu bertalu, yang meskipun rasanya terdengar terlalu nyaring di benak namun tetap berhasil menyeimbangkan desakan keinginan yang menggebu. Saya menarik nafas panjang. Inilah waktunya…

Tanpa perlu perintah, saya bersiap dan turun segera ke lobby bergabung dengan rombongan yang berbalut jaket tebal. Suhu udara Jerusalem di hari-hari terakhir bulan Desember memang cukup dingin menggigit, apalagi jelang subuh ketika suhu udara mencapai titik terendahnya.

Dan begitu pintu depan hotel terbuka, angin dingin langsung menerpa wajah yang mengingatkan situasi serupa ketika di Madinah. Segera saya melangkah keluar menyusuri trotoar, tersenyum sendiri menyadari jiwa petualang yang melesak ingin menikmati kota Jerusalem modern. Maafkan Cinta, dua bola mata ini bergerak melihat kesana kemari, mencoba menyerap sebanyak-banyaknya situasi meski hanya di sepenggal jalan Jerusalem.

Lalu di depan mata menjulang Gerbang Herod yang terbilang paling muda usianya, -aksesnya dibuka sekitar abad ke-16. Saya hanya perlu menyeberang jalan dan Alhamdulillah Ya Allah, saya sampai juga di gerbang kota tua tiga agama ini! 

Gerbang Herod

Begitu banyak rasa yang membuncah memenuhi jiwa saat saya melangkah melalui gerbang Herod yang tebal dan kokoh serta mampu membuat kepala saya berputar menengadah. Membayangkan keadaan di masa silam, ketika sudah menjadi hal yang lumrah sebuah kota terkenal memiliki benteng keliling yang kokoh untuk menghindari serangan musuh.

Termasuk Jerusalem.

Entahlah sudah berapa ratusan atau ribuan kali benteng itu menjadi saksi bisu kota Jerusalem dikepung, diserang, diduduki dan dihancurkan, dibangun kembali, oleh orang-orang dengan nama besar. Jerusalem seperti gadis cantik yang terus menggoda untuk ditaklukan. Bahkan hingga kini pun, Jerusalem terus menjadi wilayah yang tak pernah damai dalam waktu lama. Benar-benar kota dengan dinamika yang dahsyat. Kini, saksi bisu itu masih utuh berdiri dengan delapan gerbang, -tujuh gerbang terbuka dan satu gerbang yang masih ditutup-, yang menjadi akses bagi masyarakat sekitar dan penghuninya untuk memasuki kota tua Jerusalem yang terbagi menjadi empat kawasan utama yaitu Kawasan Muslim, Kristen, Yahudi dan Armenia. Dan Gerbang Herod adalah salah satu gerbang yang digunakan untuk memasuki Kawasan Muslim.

Gerbang Herod belum lama tertinggal di belakang, suasana masih relatif sepi, -mungkin karena kota tua ini belum sepenuhnya terjaga-, meskipun di balik pintu dan jendela yang tertutup tak jarang terdengar kesibukan, menandakan manusia di dalamnya sudah bersiap menyambut hari. Makin jauh saya meninggalkan gerbang Herod, makin banyak pintu-pintu rumah sejenak terbuka dan sejumlah laki-laki berbalut jaket melangkah keluar dan bergabung bersama menuju Masjid Al Aqsa.

Assalamu’alaikum… Ah, merdunya suara sapa sesama saudara. 

Jalan menuju Masjid Al Aqsa itu sejatinya bisa disebut lorong atau gang karena membelah rumah-rumah padat penduduk yang kebanyakan dari Bangsa Palestina itu. Uniknya lorong itu kadang menanjak atau menurun mengikuti kontur alam Jerusalem yang berbukit, bisa menggunakan anak-anak tangga yang landai atau bisa juga melangkah di jalanan yang dibentuk dari lempengan batu yang rata. Hanya saja, pilihan terakhir ini kadang harus bersaing dengan kendaraan kecil beroda pengangkut barang. 

Kaki terus melangkah dan ketika sampai di sebuah persimpangan, saya membaca nama jalannya, Via Dolorosa. Pikiran ini otomatis melesat ke jaman sekolah dulu. Sebagai orang yang pernah belajar di sekolah Katolik bertahun-tahun, saya cukup paham bahwa nama jalan ini akan menggugah rasa dari kawan-kawan Kristiani. Jalan ini, lebih dari dua ribu tahun lalu,  dipercaya digunakan oleh Yesus memanggul salibnya dengan penuh penderitaan. Duh, saya tak terbayangkan bagaimana rasa mereka apabila sampai ke lokasi ini. Melakukan Jalan Salib di tempat aslinya, merasakan sendiri bisa berdiri dan berjalan di tempat yang sama, menapak tilas sebuah penderitaan yang tak terperi, tentu bisa mencuci jiwa, memperkuat rasa percaya.

Lorong masih terasa temaram ketika telinga mendengar adzan yang dilantunkan dari Masjid Al Aqsa. Allahu Akbar… Allahu Akbar… Rasanya ingin terbang segera sampai di pintu Masjid…

Otomatis saya bergegas, mungkin karena terbiasa di Indonesia jarak waktu antara adzan dan iqomah (dimulainya shalat) sangatlah sempit. Tentu saja saya tak ingin tertinggal shalat di Masjid Al Aqsa yang menjadi destinasi impian selama ini. Sudah sejauh ini, sudah melewati tantangan dan hambatan, mana mau saya tertinggal? 

Jaraknya tak lagi jauh, tetapi mata saya bisa menangkap paling tidak ada dua orang tentara Israel dengan senjata lengkap berjaga di puncak tanjakan landai. Hati saya berdesir, sepagi ini mereka sudah bersiaga. Ah saya terlupa, 24 jam mereka berjaga, tak pernah kosong dan karenanya segala sesuatu bisa terjadi. Saya mengikhlaskan segala rencana kepadaNya. Meskipun tinggal beberapa langkah bisa masuk ke kawasan Masjid, tetap saja saya berdoa agar bisa mendapat kesempatan mendirikan shalat di Masjid Al Aqsa. Bersabarlah, sebentar lagi, sebentar lagi… 

Saya menyiapkan paspor, jika mereka memintanya. Tetapi, Alhamdulillah Ya Allah, mereka melewatkan rombongan semua sambil sesekali melirik sekilas dan melanjutkan bicara di antara mereka. Sekali lagi saya mendengar bahasa yang terasa asing di telinga, sama seperti di perbatasan waktu itu (bisa dibaca di pos Kebat-Kebit di Perbatasan Israel). Saya tahu, meskipun mereka terlihat mengobrol santai di antara mereka, sikap siaga lengkap dengan senjata menunjukkan mereka sesungguhnya tidak sedang bersantai. Dalam hitungan detik mereka bisa berubah dan bersikap keji. Memang terlihat santai tetapi mereka sangat terlatih melihat gerakan kecil yang mencurigakan dan berpotensi mengubah keadaan dari aman-aman saja menjadi peristiwa mengerikan. Rasanya hanya satu, tidak nyaman berjalan di dekat mereka. 

Tetapi biarlah rasa itu berlalu karena kaki ini telah melangkah menuju pintu hijau yang tidak selamanya terbuka itu. 

Pintu menuju kawasan Masjid Al Aqsa!

Kebun Zaitun

Dan laksana melewati sebuah portal, saya berpindah ke kondisi rasa yang jauh berbeda. Saat kaki ini menginjak tanah kawasan Al Aqsa, hati ini luluh lunglai, tunduk sepenuhnya dalam genangan haru. Alhamdulillah Ya Allah tanah seluas 144.000 meter persegi itu sungguh tak mudah didatangi, namun diri ini berkesempatan menginjak dan berjalan di atasnya. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala tak percaya. Sungguh nyatakah ini? 

Saya berjalan melintasi kebun zaitun dengan bergegas. Dan tampaklah kubah keemasan itu. Masjid Kubah Batu (Qubattus As Shakhrah) atau lebih dikenal dengan Dome of The Rock yang berwarna keemasan itu menerangi langit Jerusalem yang masih gelap. 

Saya tidak bisa berlama-lama menatap keindahannya karena harus segera melangkahkan kaki ke Masjid Jami Al Aqsa atau sering disebut dengan Masjid Al Qibli, yang berada di sebelah Selatan dari Masjid Kubah Batu. Mesjid ini dan juga masjid Al Qibli, sering menjadi simbol penyempitan arti dari Masjid Al Aqsa yang sebenarnya. Sejatinya Al Aqsa atau disebut juga Baitul Maqdis mencakup kawasan seluas 144.000 meter persegi yang di dalamnya terdapat tujuh buah Masjid dan semuanya berada di tanah yang suci, yang bahkan dalam beberapa tulisan menyatakan bahwa Al Aqsa berdiri di atas tanah haram yang berarti tidak diperbolehkan adanya pertumpahan darah di atasnya. Wallahu’alam. 

Pandangan saya terus terpaku di kubah keemasan Dome of the Rock sementara kaki melangkah. Mata belum puas, betapa ingin saya mengelilingi bangunan berkubah emas itu namun untuk sementara hati diluruskan pada niat untuk mendirikan shalat Subuh. Sungguh saya tak percaya bisa melewati bangunan Masjid Kubah Batu begitu saja, padahal selama ini foto-foto tentang bangunan ini memenuhi database di ponsel dan notebook. Tetapi itulah hidup, karena ada begitu banyak prioritas yang harus didahulukan. Seperti saat ini, saya sudah melewati sebuah lingkaran tempat wudhu yang terbuka, dan di hadapan mata terdapat pintu-pintu Masjid Al Qibli yang berkubah perak keabuan. 

Di pintu masuk lagi-lagi saya menggigit bibir untuk memastikan saya tak sedang bermimpi.  Alhamdulillah ya Allah, saya benar-benar bisa berdiri di tempat ini, di tempat yang saya inginkan sejak lama. Betapa besar anugerah yang Engkau limpahkan. Saya menutup mata, menyembunyikan airmata yang merebak di kelopak. 

Karpet merah yang menghampar di depan mata, tidak akan pernah saya lupakan. Karpet merah ini yang berkali-kali dinodai oleh sepatu-sepatu boot tentara Israel yang menerabas, mencoba mengatasi pertikaian tak berkesudahan antara Palestina dan Israel. 

Tanpa ragu saya menginjak karpet merah yang terasa sangat lembut di kaki. Kelembutannya tak terlupakan. Saya mengagumi semua yang ada di hadapan sehingga berjanji pada diri sendiri untuk meluangkan waktu menikmatinya. Namun kali ini, shalat dulu…

Tempat shalat untuk perempuan berada di sebelah kanan dari arah pintu masuk. Tak begitu luas, mungkin hanya sekitar seperdelapan bagian dari luas lantai, namun cukup untuk menguarkan aura penuh keakraban. Dimana-mana perempuan selalu sama, hubungan antara satu perempuan dengan lainnya cepat terjalin. Saling senyum, anggukan, mengucap salam dan doa, berbagi buah dan kue. Bahkan mata pun bisa mengungkapkan rasa penerimaan sebagai saudara. Rasanya sungguh tak terlupakan. 

Di atas karpet yang lembut ini, saya menarik nafas panjang, mengingat kembali dahulu Rasulullah melakukan Mi’raj dari kawasan ini dalam peristiwa Isra Mi’raj dan tempat ini juga menjadi kiblat shalat sebelum dipindahkan ke arah Ka’bah. Sungguh membukakan hati dan pikiran bahwa Masjid Al Aqsa bukan tempat yang biasa-biasa saja. 

Kemudian saya berdiri untuk menunaikan shalat sunnah sebelum Subuh. Semua terasa normal, kecuali rasa yang teramat berat ketika akan bangun dari sujud. Pujian kepada Allah Yang Maha Tinggi langsung bersambung doa tentang tempat ini. Tanah yang jauh dari Mekkah dan Madinah, tanah  yang selalu dipertikaikan, yang tak jarang memberitakan hilangnya nyawa para syuhada penjaga tanah yang suci ini. Ya Allah… sungguh hati ini, jiwa ini, berserah kepadaMu untuk semua yang terjadi di tanah ini.  

Belum lama selesai shalat sunnah, terdengar alunan Iqomah yang berarti Shalat Subuh segera dimulai. Kami semua berdiri, bersiap bersama menjalankan kewajiban sebagai Muslim. Shalat wajib pertama di Masjid yang luar biasa ini, shalat yang dilengkapi dengan doa Qunut yang dahsyat dan dilantunkan oleh Imam Masjid Al Aqsa langsung dari Bumi Palestina. Allahu Akbar 

Dome of the Rock Masjid Kubah Batu
Iklan

7 tanggapan untuk “Berjuta Rasa di Masjid Al Aqsa

  1. Ikut terbawa suasana membaca setiap katanya, Mba.
    Alhamdulillah diberi kesempatan membaca perjalanan mba Riyanti menapaki Masjid Al Aqso.
    Semoga diberi kesempatan juga.
    Barakallah, Mba.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Baca iniiii, ikut seolah merinding mba. Pengen banget bisa solat di mesjid Al Aqsa juga. Sedikit menyesal saat umroh dulu aku ga ambil paket yg ke aqso.. ❤️. Suatu saat harus ngulang umroh dan singgah ke jerussalem juga

    Disukai oleh 1 orang

    1. Makasi ya udah merinding bacanya hihi… Aku aminkan yah untuk ke Al Aqso, sebab mesjid itu perlu didatangi seperti kita mendatangi Mekkah dan Madinah. Sekarang banyak kok paket ke al aqso yg gak gabung umroh melainkan gabung Mesir dan Jordan. Semoga terlaksana…

      Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.