Umroh: Manusia Merencana, Pemilik Semesta Menentukan


Setelah hitungan bulan, akhirnya hari ini saya menulis lagi, melanjutkan cerita perjalanan rohani yang dilakukan akhir tahun 2019. Dan tidak ada salahnya untuk membaca tulisan Berserah Bermadah, -sekedar untuk mengingat-, yang merupakan tulisan sebelumnya dari seri perjalanan ibadah ini.

Manusia-manusia yang hampir semuanya berpakaian putih itu tetap menyemut di Masjidil Haram. Di antara mereka saya mendongak ke atas mencari bintang namun tak terlihat satu pun di langit, Ah, bisa jadi karena Masjidil Haram berselimut cahaya yang teramat terang seakan mampu menenggelamkan gulitanya tengah malam dan juga kelip bintang. Masih sekitar tiga jam lagi untuk sampai ke waktu Subuh, tetapi di tempat ini, di tempat yang nilai pahalanya dilipatgandakan hingga seratus ribu kali dari shalat di masjid lainnya, rasanya tak pernah ada waktu yang lengang dari manusia.

Selepas ritual Umroh yang baru saja selesai, memang tak ada agenda khusus. Pak Ustad membolehkan para jamaahnya kembali ke hotel untuk beristirahat namun tak sedikit dari rombongan yang memilih melanjutkan perjalanan batiniah yang teramat intim dengan Sang Pencipta, melakukan muhasabah di Masjid Paling Utama bagi Muslim itu.

Gate at Night

Saya sendiri tak lagi mampu melanjutkan perenungan dan kontemplasi di Masjid. Ada sedikit rasa limbung yang muncul membuat saya harus melihat ke dalam diri sendiri. Ah, bisa jadi karena faktor usia. Dulu ketika muda, begadang dua malam tak jadi masalah. Kini, dua puluh empat jam terjaga membuat mata tak lagi mampu membuka dan kaki terasa tak menjejak dunia. Praktis terjaga sejak kemarin sebelum Subuh di Madinah, lalu khusuk menjalankan ritual pagi dilanjut berkendara berjam-jam menuju Mekkah, dilanjut ritual ibadah Umroh yang tak bisa dianggap enteng dalam menguras stamina. Akibatnya tak heran jika saya merasa limbung, sebuah alert dari raga agar saya beristirahat segera.

Namun hati tak mudah diajak meninggalkan tempat yang selalu dirindukan ini. Ada sejumput rasa berat ketika kaki melangkah meninggalkan Masjid menuju hotel. Apalagi dari arah berlawanan terlihat aliran jamaah tak putus menuju Masjid. Hati memberontak masih ingin menjadi bagian dari mereka, dari banyak manusia yang meninggalkan rasa nyaman pembaringannya hanya untuk mencari kedamaian jiwa di Masjidil Haram, tempat yang diberi jaminan keamanan dan keselamatan oleh Allah sendiri bagi mereka yang memasukinya. Pertentangan di dalam hati sungguh terasa antara berdiam di Masjid dan meninggalkannya. Ada suara keras dari dalam hati Masjid bukanlah tempat untuk merebah mengistirahatkan raga. Jadilah seperti yang tadi dikatakan, satu langkah kaki meninggalkannya, bertambah godam berat yang terasa menggandul jiwa.

Dalam perjalanan, raga yang menjerit lelah mampu mengabaikan terangnya cahaya toko-toko 24 jam yang membuat kawasan sekitar Masjidil Haram tak pernah tidur, toko-toko yang selalu menggoda jamaah dari fokus utamanya. Mungkin seperti serombongan serangga malam yang tertarik pada cahaya lampu atau semut yang tergoda pada gula. Tapi kali itu, raga tak lagi bisa diajak kompromi. Saya hanya ingin segera sampai di kamar. Istirahat cukup agar bisa melakukan Umroh kedua atas nama almarhum Papa, karena itu adalah salah satu keinginan saya saat berada di  Tanah Suci.

Tapi rencana itu tinggal rencana karena tanpa permisi demam menyerang saya pada pagi harinya. Sesuatu yang tak biasa, karena sesungguhnya saya jarang terserang demam. Biasanya dengan istirahat cukup, saya akan kembali bugar namun tidak pada pagi itu. Demam terus menanjak tanpa tedeng aling-aling. Dan ketika demam, saya tak mampu berbuat apa-apa. Saya hanya bisa tergeletak di tempat tidur.

Gegerlah rombongan kami termasuk pak Ustad ketika mengetahui kondisi saya. Lagi-lagi tak biasa, karena umumnya jamaah sakit flu ringan tak sampai demam  dan bisa diatasi dengan minum obat pribadi. Apakah perlu ke dokter atau rumah sakit?

Sebisa mungkin saya menghindari rumah sakit dan mengandalkan antibodi tubuh bekerja semampunya meskipun sempat menitipkan permintaan kepada suami untuk mencari antibiotik. Terlintas tempat obat pribadi yang biasa saya gunakan, sekarang entah dimana karena tempat obat itu ada di koper saya yang hilang (Baca ceritanya di sini). Suami menyanggupi untuk mencari obat meskipun di wajahnya terlihat kekuatiran yang tak bisa disembunyikan karena ia tahu saya jarang sekali demam.

Waktu-waktu shalat berlalu, saya hanya bisa berbaring lemah di tempat tidur hotel, merenung begitu banyak. Melihat ke dalam diri, memeriksa kembali niat yang sesungguhnya ke Tanah Suci, hendak Umroh atau adakah hal lainnya yang tersembunyi? Lalu apakah ibadah saya sudah benar? Bisa jadi ada begitu banyak tindakan yang melenceng dan saya melakukan pembenaran-pembenaran saja. Bisa jadi saya juga berlaku sombong, riya dan tanpa disadari telah berbangga-bangga. Mungkin juga saya telah merugikan orang lain dan Allah menghentikan saya bertindak buruk lebih jauh, dengan menjadikan saya demam.

Dalam Masjid Al Haram

Tidak bisa melakukan hal lain kecuali mendirikan shalat untuk memohon ampunan, meluruskan niat untuk berserah diri hanya kepada Allah, melepas keinginan-keinginan duniawi kepada Yang Maha Kuasa, memohon kesembuhan dari demam yang saya rasa. Mengucap lebih banyak lagi ungkapan syukur terhadap semua yang dimiliki juga semua peristiwa yang telah saya alami. Tentu saja, semua hikmah dari peristiwa-peristiwa yang terjadi, termasuk demam yang sedang saya alami ini.

Satu hal yang mengganjal hati namun perlu diikhlaskan sepenuhnya bahwa dalam perjalanan ibadah ini saya belum bisa melakukan Umroh kedua untuk Almarhum Papa. Ada kesedihan saat melepas keinginan itu namun saya percaya, InsyaAllah, suatu saat nanti bisa dikerjakan oleh anak-anaknya yang lain. Aamiin.  

Setelah makan malam suami membawakan sebutir antibiotik yang ia dapatkan dari Pak Ustad. Meskipun mengetahui minum antibiotik memiliki aturan khusus, tapi sebutir itu bisa jadi membawa  kesembuhan. Bismillah, saya meminum obat itu dengan doa kesembuhan…

Alhamdulillah Ya Allah, karena keesokan harinya demam itu benar-benar menghilang meskipun saya belum kembali seratus persen fit. Saya masih beristirahat tapi tidak demam lagi. Dalam kondisi yang lebih baik, kembali saya melakukan perjalanan batiniah ke dalam, mensyukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah dalam kondisi apapun. Betapa berharganya nikmat sehat itu. Betapa saya sering mengabaikan nikmat sehat selama ini. Bukankah sehat baru terasa nilai dan maknanya ketika kita sakit?

Taking photo in roof top of Masjid

Seakan diberi kesadaran bahwa sudah sifat langit berhias awan, kadang terlihat indah dengan biru tanpa awan sedikitpun, namun bisa juga tampak begitu menakutkan dengan awan gelap pembawa badai. Langit yang sama. Seperti juga tubuh yang sama, yang biasa sehat tapi bisa berhenti sebentar karena sakit.

Hari itu menjelang Ashar, saya memberanikan diri untuk shalat lagi di Masjidil Haram, melakukan Tawaf meskipun langkahnya tak bisa cepat. Saya menjauh dari kerumunan orang agar tak dipaksa berjalan cepat dari arah belakang, Alhamdulillah semua bisa dikerjakan dengan baik meski lebih lambat. Tak ada yang lebih membahagiakan saat menyadari belum sehat seratus persen, namun bisa menyelesaikan putaran-putaran sebanyak tujuh kali mengelilingi Ka’bah.

Ka’bah December 2019

Bahkan ada kebahagiaan tambahan ketika saya bisa berjalan hingga ke atap Masjidil Haram untuk mengambil foto Ka’bah dari atas. Suasananya tetap ramai tapi menyenangkan. Syukur Alhamdulillah saya bisa menyaksikan semuanya, merasakan semuanya lagi setelah demam yang saya alami.

Saya memang kehilangan banyak momen selama berada di Mekkah terutama di Masjidil Haram namun sepertinya setiap perjalanan rohani seseorang membawa cerita tersendiri baginya dan mungkin berbeda dengan cerita-cerita orang lain. Tetapi sepertinya ada sebuah benang merah yang bisa ditarik saat berada di sebuah tempat suci. Wajah sejati kehidupan yang terlihat senada, hanya ada rendah hati, terbuka tanpa rahasia,-karena ego telah ditanggalkan-, hubungan yang begitu pribadi antara manusia dan Penciptanya

5 tanggapan untuk “Umroh: Manusia Merencana, Pemilik Semesta Menentukan

  1. MasyaAllah, thank you for sharing Mba. Meski sambil demam tapi alhamdulillah tetap bisa memaknai ibadahnya ya. Aku baru kerja full-time di 2019 dan berniat untuk umrah segera, tapi apa daya ternyata pandemi keburu datang. Mudah-mudahan bisa segera menyusul setelah pandemi berakhir, aamiin.

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.