Kala Hujan Berhenti, Keindahan Sibuk Mengantri


Bahkan ketika hujan baru saja turun, ada keindahan tersendiri yang menghias bumi. Pemilik Semesta telah melimpahkan anugerah pada saat turun hujan. Air, -yang merupakan unsur kehidupan yang utama-, dengan penuh kesegaran dilimpahkan dari langit, berubah dari awan-awan gelap yang menyelimuti, menjadi butir-butir kesegaran. Jatuh ke setiap permukaan bumi, membasahi dan memantulkan pelangi. Sebuah tanda, keindahan-keindahan sedang sibuk menjelma di muka bumi.

Harumnya tanah kering yang tersiram hujan membuat hidung-hidung terangkat menikmati harumnya kesegaran alam. Petrichor, sebuah istilah yang dikenal untuk harum khas tanah saat tersiram oleh hujan. Lalu setelahnya, bersamaan dengan menghilangnya harum petrichor, tatkala bulir-bulir hujan jatuh di kaki langit, alam menerbitkan pelangi, memberi hiasan warna-warni.

Bukankah terbitnya pelangi menjadi sebuah janji yang diberikan Alam Semesta? Pelangi hadir sebagai janji akan datangnya cahaya mentari setelah hujan lebat, juga merupakan sebuah janji akan adanya ketenangan suasana setelah badai yang menakutkan, sebuah suka cita atas rasa sendu yang memeluk, sebuah kedamaian atas nestapa menghampiri hati. Pelangi hadir sebagai janji akan datangnya cinta setelah rasa kehilangan yang menghampakan.

A Rainbow

Bertahun-tahun lalu ketika melakukan perjalanan di Seoul, Korea Selatan, pagi itu saya hampir putus asa melihat mendung tebal menggantung di atas kota. Sepertinya prakiraan cuaca hari itu akan tepat. Hujan akan mengguyur kota Seoul. Dan benar, rintik hujan semakin deras ketika saya berada di Huwon atau Secret Garden-nya Istana Changdeokgung (Baca kisahnya disini: Korea: Menapak Huwon, The Secret Garden). Akibatnya saya harus merogoh dompet lalu mengeluarkan sejumlah Won untuk membeli sebuah payung.

Saat itu warna-warni daun dalam musim gugur terlihat amat indah, apalagi ditambah dengan sejuknya udara Seoul. Saya sungguh tak menyesal menambah tour ke Secret Garden, meskipun harus bergabung dengan rombongan yang berbahasa Korea. Tapi tak perlu paham kata dan bahasa untuk menikmati Secret Garden itu.

Sebagai orang yang besar di negara tropis yang memiliki dua musim saja, pergantian daun dari hijau menjadi kuning atau merah sebelum jatuh ke bumi dengan warna coklat, sungguh menggugah jiwa. Alam memiliki hukumnya sendiri dan dapat menyaksikan keindahan alam yang sedang berganti, rasanya mendapat anugerah tersendiri.

Sejenak saya berhenti di dekat ujung akhir penjelajahan Secret Garden itu untuk memperhatikan daun merah yang basah. Langsung saja aroma lembab menyeruak ke hadapan saat saya mendekatinya. Bahkan sehelai daun yang memiliki warna yang berbeda terlihat begitu luar biasa. Sungguh basahnya daun karena air hujan, terlihat amat indah.

The leaves after the rain

Hal serupa terjadi juga ketika saya melakukan perjalanan bersama anak-anak ke Hong Kong. Perjalanan dengan kereta gantung yang teramat tinggi dalam suasana hujan, cukup membuat hati berdenyut. Apalagi anak bungsu saya termasuk orang yang tak tahan ketinggian. Perjalanan panjang dengan hati berdegup itu akhirnya selesai pada saat kereta berhenti di stasiun tujuan. Hujan pun seakan memahami, sehingga ia berubah menjadi hujan rintik ketika kami menjejak di stasiun tujuan kereta gantung.

Sesaat sebelumnya, kami telah melepas harap. Bagaimana mungkin bisa menuju patung Buddha yang besar itu dalam kondisi hujan dan tak ada payung?

Nyatanya tidak ada yang tak mungkin bagi Pemilik Semesta. Kabut serta merta tersingkir dari hadapan, bahkan jejak langkah kami terhenti sejenak di tempat penjualan souvenir dan saya mendapat kesempatan memiliki CD musik yang hingga kini masih merupakan musik yang paling menenangkan jiwa. Dan tentu saja kami pun punya kesempatan untuk menyaksikan salah satu patung Buddha terbesar di kawasan China.

Buddha Tian Tan, Hong Kong

Tapi rupanya saya tak perlu melakukan perjalanan ke luar negeri untuk melihat keajaiban alam pada saat hujan telah berhenti. Di halaman rumah sendiri, saya begitu terpesona dengan situasi setelah hujan. Kesegaran alam yang saya lihat dan rasakan, menjadi sebuah mood-booster yang tak bisa diabaikan.

Butir-butir air yang tertahan di sepanjang daun palem lalu turun ke pangkal daun seakan-akan menjadi kristal yang menghias jari-jari daun dan menguarkan kesegaran ke alam sekitarnya. Bukankah semua itu keindahan yang patut disyukuri?

Tapi ah, bisa jadi air yang berbutir-butir itu seperti airmata yang menghias wajah di kala duka menyelimuti. Seperti pada umumnya perempuan yang menutupi airmata dukanya di bawah hujan atau di bawah pancuran, seakan-akan bisa menipu dunia tentang isi hatinya. Lalu ketika air hujan atau air pancuran telah bercampur dengan airmata dan membuat lamur di antara keduanya, sebuah janji ketenangan dan kedamaian telah terikrar di alam semesta.

Ketika jalan panjang duka dilewati dengan sepenuh-penuhnya sabar, seperti air hujan yang turun melewati lekuk-lekuk daun menuju pangkalnya, butiran kristal itu memendarkan pelangi. Pelangi kebahagiaan yang penuh semangat sudah terbit laksana datangnya cahaya di ujung terowongan gelap.

Rain drops on palm leaves

Sementara di tempat yang berbeda bisa jadi terjadi hujan badai di malam gelap, yang memunculkan rasa cemas yang menghiasi jiwa. Gelapnya malam menambah rasa tak aman. Suara-suara badai yang memekakkan telinga, ditambah deru angin yang tak ramah dan gemuruh air yang ditumpahkan dari langit. Sebuah gambaran yang mudah dikata, alam sepertinya sedang dalam angkara murka.

Tetapi yang seperti itu, hanya pandangan manusia karena alam memiliki perjalanannya sendiri. Ada hukum yang berjalan di atasnya karena Pemilik Semesta sudah mengaturnya sedemikian rupa. Pada akhirnya hanya kebaikanNya yang terlimpah terhadap alam semesta. Dan ketika datang waktu bagi sang badai untuk berakhir, maka cahaya keindahan akan menghiasi semuanya yang ada di bawah langit.

Hal yang sama terjadi di pusat kota, seakan melupakan yang terjadi beberapa saat sebelumnya. Yang hadir hanyalah cahaya penuh warna di tengah gelapnya malam. Dan kita semua bisa menyaksikan…

Lights in the city center

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-45 bertema After The Rain agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

4 tanggapan untuk “Kala Hujan Berhenti, Keindahan Sibuk Mengantri

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.