Bersama Berbagi Jalan


Awal November 2014

Rupanya delay penerbangan dari Kathmandu ke Pokhara ketika saya melakukan perjalanan pertama kali ke Nepal di tahun 2014, memberi sebuah kebaikan. Saya jadi lebih memperhatikan rombongan trekkers yang siap trekking, lengkap dengan celana dan sepatu boot yang keren. Saat itu, tentu saja trekking bukan pilihan saya untuk berlibur di Nepal, karena saya tahu diri dengan fisik yang tak terlatih. Meskipun demikian, saya selalu terpesona dengan penampilan para trekkers itu. Sepertinya keren sekali!

Tetapi siapa sangka, ketidakyakinan akan kekuatan diri itu justru bertindak sebaliknya. Karena dua tahun setelah perjalanan pertama ke Nepal, saya mulai mencari informasi mengenai trekking di Nepal, termasuk mencari teman seperjalanan. Meski saya tahu ada banyak orang melakukan solo-trekking di Nepal, bagi saya hal itu bukan opsi untuk pengalaman pertama. Akan lebih baik saya berjalan dalam kelompok apalagi saya bukan pendaki.

Dan dari informasi yang tersebar di internet, saya juga mengetahui mengenai rombongan hewan yang sering ditemui oleh para trekkers di sepanjang jalur trekking. Sepertinya menyenangkan sekali berbagi tawa dan rasa ingin tahu bersama teman-temen serombongan ketika bertemu dengan rombongan hewan itu. Itulah salah satu imajinasi saya tentang trekking di gunung-gunung tinggi Himalaya. Sebahagia itukah jika saya trekking?


Minggu ketiga April 2017

Saya kembali ke Kathmandu, kali ini untuk tujuan trekking. Namun dalam perjalanan kali ini saya tak sendiri, melainkan bersama seorang teman. Impian bisa trekking dalam rombongan yang lebih banyak anggotanya belum bisa terwujud. Meskipun demikian, saya masih bersyukur masih ada yang berkenan bergabung dengan saya, -yang pastinya secara fisik paling tidak kuat dan paling lambat-, untuk trekking di Himalaya.

Kawan saya itu, -saya memanggilnya Pak Ferry-, bergabung bersama saya untuk trekking ke Himalaya juga sesuatu yang tiba-tiba. Sore itu entah angin apa yang membawanya, tiba-tiba saja dia menanyakan kemungkinan jalan ke Nepal (Dia tahu saya pernah ke Nepal). Satu pertanyaan yang membuat saya terkejut saat itu karena sesungguhnya saya sedang mencari teman jalan ke Nepal. Inikah yang namanya Law of Attraction? Tak perlu banyak pertimbangan lagi untuk mengambil keputusan untuk segera Berangkat!

Dan bersama seorang tour guide asli Nepal dan seorang porter, kami berempat menjadi rombongan kecil yang lumayan aneh, yang satu (saya) tidak kuat nanjak dan yang satu lagi (Pak Ferry) cemas jika berada di tempat-tempat tinggi. Tetapi kami berjalan bersama, berbagi bahagia…


Di hari pertama trekking di kawasan Annapurna, rasanya belum lama meninggalkan Tikhedunga, -desa berikutnya setelah diturunkan dari jeep yang membawa dari Pokhara-, kami bertemu juga dengan rombongan keledai atau mungkin juga mule. Saya sendiri tak dapat membedakan antara mule dan keledai, mungkin karena saya tak terlalu memperhatikan mereka. Yang pasti lebih mirip keledai namun posturnya lebih besar. Mule merupakan campuran dari keledai dan kuda.

Pasukan keledai alias mule itu mendekat dengan membawa keriuhan klenengan yang tergantung di lehernya. Mereka semua adalah penolong manusia untuk membawa barang-batang yang super berat. Yang amat meninggalkan kesan adalah bunyi klenengannya yang terdengar dari jauh. Dan ternyata bunyi khas itu membuat rindu. Percaya deh.

Karena hari itu, baru kali pertama bertemu dengan rombongan mule,, saya ingin mengabadikannya lebih dekat, tetapi tak sadar saya berdiri di jalur jalannya. Ia mendatangi saya yang terlihat semakin jelas dan besar dari jendela bidik kamera. Menyadari kesalahan melihat bibir dan wajah keledai yang semakin besar di kamera, saya langsung balik badan lalu berusaha menjauh untuk menghindarinya. Sayangnya, tidak ada jalan setapak di depan. Tanpa pikir panjang, saya melompat ke samping ke tempat aman. Pemandu kami sampai terbahak menyaksikan saya melompat menyelamatkan diri seperti dikejar keledai. Awkward banget…

Menariknya, rombongan mule itu tertib dalam berjalannya. Yang satu mengikuti mule yang di depannya. Jika di depannya mendadak berhenti, mule itu hanya melengos sedikit dan ikut berhenti. Kecuali disuruh lebih cepat oleh gembalanya, kecepatan langkah hewan-hewan itu bisa dibilang sama. 

Biasanya kami berhenti sejenak saat bertemu dengan rombongan mule, memberi jalan untuk mereka. Saat itulah saya memperhatikan. Kasihan juga karena beban yang dibawanya tidak ringan. Klenengan yang bergantung di lehernya dan berbunyi teramat khas itu melengkapi peristiwa bertemu dengan mereka, meninggalkan kesan yang dalam dan mengendap dalam kenangan. Membius menjadi sesuatu yang dirindukan.

Saya tenggelam dalam imajinasi, membayangkan menggiring hewan-hewan pengangkut yang sudah berlangsung berabad-abad melewati gunung-gunung salju, membuat rute-rute perdagangan. Barang-barang yang diperjualbelikan melewati batas negara dari Timur sampai Barat dan sebaliknya. Mule terakhir yang lewat di depan saya segera menyadarkan kembali, mereka telah berjalan di depan dan kini saya melanjutkan perjalanan kembali. 

Tidak hanya mule atau keledai, dalam trekking di Annapurna itu kami menjumpai rombongan hewan seperti kerbau, yang karena badannya besar saat beristirahat di tengah jalan, membuat jalan setapak itu setengah tertutup oleh mereka. Saya agak ngeri melewati kerbau-kerbau yang besar-besar itu,. Tapi bagaimana lagi? Kadang saya berjalan di antara mereka dengan baca doa agar mereka tetap diam. Ngeri juga kan kalau mereka mendadak mengamuk? Pernah sekali waktu saya memilih meniti pagar tembok kecil karena takutnya dengan mereka (padahal di sebelah tembok itu lembah yang cukup dalam).

Tidak hanya mule dan kerbau, dalam akhir trekking kami juga menjumpai rombongan kambing yang lebih banyak dan sangat khas baunya… bau kambing 😀 😀 😀

 

Tak beda jauh dengan yang dijumpai saat trekking di Annapurna, kami berjumpa pula dengan rombongan kerbau saat saya melakukan trekking ke Namche Bazaar di kawasan Everest. Lucunya, saya biasa mengikuti jejak hewan-hewan pengangkut itu karena lebih landai di tanjakan meski harus berjalan zig-zag. Kata pemandu saya, selalu ada dua opsi untuk melangkah saat trekking: mengikuti jalur manusia atau yaks/kerbau. Dan sebagian besar saya memilih yang terakhir 😀 Sayangnya saja, kalau mengikuti jejak mereka, harus berhati-hati karena ranjau yang mereka lepaskan secara sembarangan dan ukurannya itu besar dan banyaaaaakk… Dari yang sudah kering sampai yang fresh baru keluar huuueeeekkk….

Bertemu dengan rombongan hewan itu mempunyai himbauan tersendiri. Jika bertemu dengan mereka, usahakan kita sebagai manusia berada di sisi tebing dan membiarkan mereka berjalan di sebelah yang ada jurang. Jangan terbalik, risiko bisa fatal jika hewan-hewan itu lepas kendali. Meskipun selama ini saya tak pernah melihat hewan-hewan itu lepas kendali. Kelihatannya satu sama lain mereka saling terhubung dan orang yang mengatur perjalanan mereka sangat memahami hewan-hewan itu. 

Juga di jembatan gantung. Seperti perempuan di dunia manusia dengan istilahnya ladies first, untuk di jembatan gantung ladies first itu tidak berlaku. Pernah saya masih di tengah jembatan suspension sementara dari depan sudah terdengar klenengannya yang semakin cepat. Pemandu saya memaksa setengah lari agar kami tidak terjebak bersama kerbau atau yaks itu di tengah jembatan. Alhasil saya mendadak menjadi pelari berharap rombongan hewan itu tidak memasuki jembatan terlebih dahulu. Kebayang kan lari di jembatan suspension yang bergoyang-goyang itu? 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-41 bertema Group agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

4 tanggapan untuk “Bersama Berbagi Jalan

  1. Ternyata kambing di mana aja baunya sama ya, hahaha.. Saya gak kebayang lari di tengah jembatan gantung itu gimana rasanya. Antara panik terombang-ambing, tapi juga karena tau harus cepet ke sisi yang lain sebelum kerbau-kerbau itu masuk ke jembatan, ini yang disebut adrenaline rush ya. 😀

    Disukai oleh 1 orang

    1. Mas Bamaaa…. saya sempat sepersekian detik menyesal berada di tengah-tengah suspension bridge itu hahaha… susah kan menyeimbangkan badan dalam keadaan lari di jembatan gantung. Mana kalau dekat ujung jembatan itu kan agak nanjak. Jadi tambah ngos-ngosan hahaha…

      Disukai oleh 1 orang

  2. saya juga punya pengalaman baru ketika ketemu rombongan hewan di jalur pendakian menuju ABC, begitu kedengeran klonengan genta hewan2 tsb kita harus segera merapatkan badan kesisi tebing, biarpun mungkin jalan setapak agak lebar jgn berdiri bengong menonton robongan dr sisi tepi krn tetap aja beresiko kalo sampai kesenggol mereka kitanya bisa tergelincir masuk jurang.

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.