Just Sit And Relax


Bertahun-tahun lalu, ada sebuah perusahan furniture yang begitu terkenal dengan slogan iklan mereka yang berbunyi, kalau sudah duduk lupa berdiri. Mungkin karena begitu nyamannya duduk di kursi buatan mereka. Terlepas enak atau tidaknya, setiap saya duduk dan merasa pewe banget maka saya langsung teringat akan slogan itu. Memang manusiawi banget ya… kalau kita sudah duduk dengan nyaman, tentunya malas untuk bangun lagi… 🙂

Bagi saya, sebenarnya apapun tempat duduk yang digunakan, kursi, bangku atau yang lain, bisa membawa kenangan tersendiri saat digunakan. Apalagi jika kaki sudah ngambek, terasa berat untuk melangkah. Saat-saat seperti itu, rasanya bahagia sekali jika bisa menemukan kursi, bangku atau tempat duduk yang masih berfungsi dan kosong, tentunya (karena kadangkala saya masih merasa malu untuk ngedeprok di trotoar) 😀

Anehnya, tanpa sadar saya sering memotret sebuah kursi atau bangku kosong yang ada di taman atau pedestrian. Bisa jadi karena pemandangan sekitarnya yang cantik. Seperti yang saya lakukan ketika sedang jalan kaki pagi seputaran hotel di Jogja. Tidak hanya sekali saya lewat tempat itu sampai akhirnya saya duduk menikmati pemandangan. Just sit and relax…

Iron bench

Sebenarnya Indonesia sudah termasuk negara yang ramah terhadap pejalan yang lelah. Seperti juga negara-negara maju lainnya, mereka menyediakan kursi panjang di sepanjang trotoar lebar atau taman. Di Jakarta dan di beberapa kota lainnya di Indonesia, banyak kursi panjang disediakan bagi siapapun yang ingin meluruskan kaki sejenak. Tak jauh dari kantor saya juga ada. Awalnya saya meragukan keberadaan kursi itu. Saya pikir, paling sebentar lagi juga hilang dicuri. Tapi faktanya, pikiran itu salah! Sampai sekarang kursi panjang itu masih ada di tempatnya dan memberi manfaat bagi orang yang ingin beristirahat sejenak.

Kursi, -kata yang diserap utuh dari bahasa Arab dan bermakna sama dengan aslinya-, memang diharapkan bisa membuat orang rehat meluruskan kaki, Meskipun tidak semuanya bisa memenuhi fungsinya. Sesuai dengan pembuatnya, bisa jadi mengambil standar yang dikenalnya. Kursi untuk pasar Eropa tentu tidak sama tinggi untuk kursi pasar Asia. Mungkin karena secara fisik manusia Asia sedikit lebih kecil dibandingkan orang-orang Eropa.

Seperti yang saya alami ketika melakukan umroh. Penerbangan menuju Madinah menggunakan pesawat baru A380 yang bagi saya tidak begitu nyaman. Karena ukuran tubuh saya yang tidak tinggi, rasanya telapak kaki tidak bisa sepenuhnya menapak lantai jika punggung bersandar. Atau bisa menapak penuh, tetapi membuat tidak sepenuhnya bersandar. Akibatnya lelah sekali untuk penerbangan 9 jam.

Hal yang sama terjadi ketika saya mencoba naik kereta Taksaka luxury ke Jogja. Susah jadi orang pendek 😀 Untungnya kereta yang saya naiki itu merupakan kereta malam sehingga kursinya bisa reclined maksimal dan saya bisa tidur enak. Saya tak perlu lama-lama duduk dengan kaki yang ngatung.

Taksaka Executive

Kursi-kursi dalam perjalanan itu tidak selamanya mewah. Dalam perjalanan saya ke Myanmar tahun lalu, saya juga duduk di kursi “dadakan” di lorong tengah bus. Pada bus yang lebih bagus, kursi itu terlipat ke punggung tangan kursi sebelahnya, tetapi jika busnya yang standar atau kurang, mereka menyediakan bangku baso. Pegal? Tidak juga karena selama travelling, selalu menyenangkan, kan? Apalagi perjalanan menuju Golden Rock, itu hanya sekedar duduk di atas besi dudukan yang melintang di sebuah truk! Baca deh kisahnya di Myanmar 1 – Menuju Golden Rock.

Ketika saya ke Nepal pertama kali, saya sempat mengunjungi Basantapur yang ceritanya bisa dibaca di Nepal: Bertemu Pengagum Soekarno di Basantapur. Meskipun mendapat tour-guide yang baik hati dan ikhlas tanpa diminta, tetap saja saya terpesona melihat Tahta yang dipamerkan di balik kaca. Tahta yang penuh dengan simbol-simbol. Melihat itu, saya langsung berpikir, Sang Raja tentunya tidak bisa sekedar Just Sit and Relax di kursi kebesaran itu karena ia pastinya punya beban berat yang memusingkan kepala tujuh turunan.

The Throne

Bagaimanapun juga, selalu saja ada kisah yang menyenangkan soal kursi. Saat kuliah, pernah saya mengalami yang biasa dipertunjukkan di Srimulat atau pertunjukan humor. Waktu itu saya sedang sibuk dengan satu kelompok dan ada teman lainnya yang saling berpunggungan (dengan saya) sibuk juga dengan kelompoknya. Karena lelah dan saya lihat ada kursi kosong yang siap menerima bokong saya, otomatis saya bergerak untuk duduk. Lalu, tanpa sengaja teman yang berpunggungan itu mengetahui juga ada kursi kosong di dekatnya (kebetulan kursi yang sama yang akan saya duduki). Ia menarik kursi itu untuk dirinya bersamaan dengan bokong saya yang bergerak duduk. Alhasil saya terjungkal kayak lawakan gak mutu 😀 😀 😀 Sakitnya tidak seberapa, malunya itu lhooo…

Lain lagi saat saya di Gyeongju, Korea Selatan. Karena tidak bisa makan makanan Korea, saya hanya bisa makan chicken nugget dan kentang yang saya pesan take-away dari sebuah restoran dan dimakan di sebuah kursi panjang di kegelapan malam. Saat itu sedang musim gugur sehingga udaranya lumayan dingin. Karena laparnya, saya tak sadar bahwa saat itu, malam-malam saya duduk di kursi panjang tak jauh dari tumuli yang ada di belakang saya. Tumuli itu kan tempat pemakaman Raja dan kaum bangsawan! Meskipun dibuat rapi dalam bentuk taman, tetap saja kuburan, kan?

Kadang saat melakukan perjalanan, saya sempatkan ke tempat-tempat yang ada unsur artistiknya, seperti museum kontemporer atau gedung-gedung seni. Biasanya kursinya lucu-lucu dan menarik.

Tapi rasanya yang paling mengesankan itu adalah kisahnya si kursi goyang ya… Siapa sih yang sepemikiran dengan saya, kalau melihat kursi goyang itu agak sedikit takut, apalagi kalau malam dan sendirian.

Jadi ketika saya dapat giliran menjaga Mama, tetap saja saya tidur memunggungi si kursi goyang. Kan gak lucu jika saya menghadapnya lalu kursinya goyang sendiri…. Hiiiiii….

Rocking Chair

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-40 bertema Chair agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.