Music Speaks Louder Than Words


Meskipun Papa (alm) memiliki hobby bermusik, -memainkan alat musik dan juga menyanyi-, ketiga anaknya (termasuk saya) tidak ada satupun yang memiliki bakat seperti beliau. Mungkin yang paling dekat bakatnya dengan beliau adalah adik saya yang masih bisa main bass gitar. Kakak saya mungkin memiliki keberanian menyanyi sampai naik meja πŸ˜€ sedangkan saya hanya mampu membuat pendengar pingsan jika saya menyanyi atau main musik πŸ˜€ πŸ˜€

Menyadari hal itu, saya tahu diri untuk tidak membuat orang lain sakit telinga, sakit kepala lalu menjadi emosional. Saya jadi penikmat musik saja dengan semua genre musik yang enak di telinga.

Sebenarnya saya termasuk “follower” atas sebuah lagu. Tidak heran, karena Papa saya memiliki cukup banyak koleksi piringan hitam penyanyi yang sering diputar di rumah. Jika lagu-lagu yang sering saya dengar semasa kecil itu diputar kembali, mungkin anak-anak jaman sekarang ini bisa tertawa terbahak-bahak karena bagi mereka lagu-lagu itu terasa aneh di telinga. Bagi saya saja mendengar kembali lagu-lagu itu rasanya kembali ke masa kecil dan lagu-lagu itu terasa jadul banget…

Jaman pra-remaja yang saat itu berdisko-ria menjadi trending topic dimana-mana karena terinspirasi dari gaya terkenalnya John Travolta dalam film Saturday Night Fever atau Olivia Newton John dalam Grease. Bisa jadi timbul pertanyaan di benak kaum muda sekarang ini… Film apa itu atau musik apa itu? πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Akhirnya kakak menjerumuskan saya ke genre progressive-rock dengan memperkenalkan musik dari rock band Genesis yang lagu-lagunya panjang hingga bisa lebih dari 7 menit. Nama-nama Phil Collins, Mike Rutherford, Steve Hacket, Tony Banks, Peter Gabriel sering disebut jika sedang mendengarkan lagu-lagu Genesis. Meskipun saya hanya sebagai buntut dalam menggemari mereka, cukup banyak koleksi kaset album-album mereka. Karena kaset seringkali berjamur, maka koleksi lagu-lagu mereka berpindah menjadi CD. 

Sebagian CDs beraliran Rock Band

Tetapi sejalan dengan waktu, telinga saya berubah dan menurut saya semakin aneh. Ketika malam midodareni (sehari sebelum akad nikah), saya memilih musik dari Kenny G, –saxophonist favorit saya-, sebagai musik latar malam itu. Bagi saya, malam spesial itu tentu harus memberikan suasana bahagia dan tenteram sebelum memasuki dunia pernikahan (meskipun kata boss saya kala itu yang lebih sering jadi pendeta, musiknya Kenny G membuat orang berpikir untuk mengajak seseorang ke tempat tidur alias terlalu seksi) πŸ˜€ πŸ˜€

Kenny G Collection

Tetapi mana mungkin terlalu seksi ya, Kenny G itu kan juga berkolaborasi dengan Rahul Sharma dalam albumnya Namaste. Dalam album itu, jelas sekali unsur-unsur tradisional India dimasukkan dalam musiknya. Begitu seringnya saya mendengarkan musiknya, koleksi CD Kenny G harus mudah diakses. Rasanya gemas sekali jika saya ingin mendengarkan musiknya lalu CD-nya harus dicari dulu…

Dan selera musik saya semakin mencari jalannya sendiri. Ketika the handsome guys dari Il Divo mulai terkenal saya jatuh hati terhadap suara dan harmoni mereka. Setiap ada CD baru saya selalu membelinya dan mendengarkan dengan rasa romantisme tersendiri. Rasanya kembali muda dengan begitu banyak rasa cinta di dalam musiknya πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Some CDs of My favorite singers

CD Pavarotti atau Andrea Bocelli juga saya koleksikan termasuk beberapa CD Semi Classic. Saya juga menyimpan CD Johann Strauss, Tchaikovsky dan Dvorak. Keriting juga selera musik saya yaaa? πŸ˜€ πŸ˜€ Saya akui selera untuk menikmati musik klasik ini tersembunyi di dalam jiwa. Tidak senantiasa muncul keinginan untuk menikmatinya tetapi tak pernah hilang. Saya ingat ketika masih jomblo, saya menikmati sendirian acara musik klasik di televisi. Saat itu saya mengabaikan saja orang-orang yang menertawakan dan menganggap saya aneh. Mungkin kalau orang sekarang berkata, suka-suka gue, apelo… apelo…

Lebih modern sedikit dari musik-musik ‘ajaib’ di atas, saya juga menyukai suaranya Sarah Brightman, Sarah Mclachlan sehingga saya juga mengoleksi CD-CDnya. Pernah dengar musiknya Yanni, komposer dari Yunani? Saya jatuh cinta dengan musiknya ketika mendengar Santorini… Wuih langsung saja saya koleksi CD-nya… Ada banyak juga lagu yang saya suka dari dia.

Enya Collection

Lagu dengan judul May it be yang menjadi theme song dari film Lord of The Ring: The Fellowship of The Ring memperkenalkan saya kepada musiknya Enya, pemusik new age yang bagi saya luar biasa sekali musik dan suaranya. Apalagi peristiwa tragedi runtuhnya World Trade Center 9/11 yang dikombinasi dengan lagunya yang berjudul Only Time begitu meninggalkan kesan. Dua peristiwa itu membuat saya mengoleksi CDnya dan sampai sekarang paling sering saya dengar.

By the way, ketika mantan atasan saya mendengar lagu May It Be, dia terheran-heran dan menggigil sambil mengangkat bahu. Dia hanya menanggapi, kok suka sih musik dengan suasana kematian begitu? πŸ˜€ πŸ˜€

Namun hingga kini ada satu koleksi CD saya yang paling saya sayang-sayang. Jon Bon Jovi! Ah… si handsome & cool itu…. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Jon Bon Jovi Collection

Lagu dan musiknya membuat banyak perempuan klepek-klepek, termasuk saya. Ada satu lagu, yang memenuhi ruang hati saya, yaitu (You Want To) Make A Memory. Lucunya, saya mengenal lagu bukan dari albumnya, tetapi dari sebuah serial televisi – Criminal Minds… Ah kecintaan bisa datang dari arah mana saja kan? Lagu ini saya bawa ketika melakukan perjalanan pertama ke Nepal tahun 2014 lalu yang meninggalkan kesan begitu dalam. Rasanya romantis sekali πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Apalagi ketika dia menyanyikan Thank You For Loving Me… Saya pingsaaaaaann…


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-37 bertema Collection agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

6 tanggapan untuk “Music Speaks Louder Than Words

  1. Kalau dilihat dari musik-musik yang didengarkan, kayaknya masa kecil saya berlangsung di era yang lebih muda ketimbang Mbak Riyanti. πŸ˜€ Akhir SD sampai akhir SMP saya mengoleksi kaset tape. Dulu zaman-zamannya Jamrud, Boomerang, Dewa (setelah Ari Lasso keluar), Tipe-X, Sheila on 7, Padi, /Rif, Potret, Caffeine, akhir-akhir era Wayang. Kalau luar negeri, dulu Westlife dan boyband-boyband Britania dan Amerika Serikat sedang naik daun. πŸ˜€ Tapi akhirnya selera bergeser ke Green Day, Blink182, Sum41, dan musik-musik agak keras yang pas buat remaja.

    Duh, senang sekali rasanya bernostalgia. πŸ˜€

    Disukai oleh 1 orang

    1. Nah di pos ini saya gak menuliskan koleksi lagu-lagu dalam negeri, seperti Chrisye, KLA dengan Jogjaaaa-nya itu yang bikin kangen pulang ke kota gudeg itu.
      Soal greenday hahaha saya inget momennya. Itu masa adik saya remaja yang masang dengan volume tinggi. Juga grup-grup heavy metal lainnya. Rasanya kayak dengar panci digebug tanpa henti. Bikin sakit telinga. Hahaha.
      Nah dari musiknya bisa tahu umurnya kan 😁😁
      Ya memang dah tua tapi saya suka lupa hahaha.

      Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.