Pohon Fig, Pohon Peradaban


Ketika pertama kali ke Kuil Ta Prohm di kawasan Angkor, Kamboja, -seperti juga turis-turis lain-, saya terperangah kagum dengan adanya pohon yang tumbuh menjulang ke atas dengan akar-akarnya yang menyelimuti sebagian bangunan kuil itu. Perbandingan antara tinggi pohon dan manusia benar-benar mencengangkan. Paling tidak, saya yang termasuk bongsor bisa juga terlihat kecil ketika difoto di depan kuil yang dililit akar pohon itu. 😀 😀 😀

The Fig Tree at Ta Prohm Temple, Angkor, Cambodia

Sejak itu saya penasaran dengan pohon yang bisa menaklukkan bangunan-bangunan kuno itu. Paling tidak, pohon itu tetap hidup namun permukaan dinding dipenuhi dengan akar pohon hingga menyelimutinya bahkan ada yang menembus dinding bangunan sehingga menjadikan dinding tidak lagi tegak lurus. Padahal bangunan-bangunan itu sudah ratusan tahun namun sepertinya umur pohon-pohon itu jauh lebih muda dari pada usia bangunan kuil.

Keterpesonaan itu membuat saya mencari lebih jauh tentang pohon ‘penakluk’ ini yang dari pemandu saya mendapatkan kunci awal dari pencarian yang lebih jauh. Nama pohon ini adalah pohon fig.

Tentu saja saya, -bukan ahli botani, bukan ahli pohon dan tanaman serta tidak mau menambah kerumitan-, menerima begitu saja nama fig tree. Dan selanjutnya ketika melihat ada kuil-kuil kuno yang diselimuti oleh pohon-pohon itu, langsung saya komat-kamit mengingat namanya pohon fig.

Mungkin karena saya mengenalnya di luar negeri, saya semakin penasaran dengan pohon ini. Maka menyelamlah saya ke dunia pencarian. Dari berbagai sumber, ternyata yang masuk ke dalam keluarga fig tree itu adalah pohon Ara atau pohon Tin, dengan bahasa Latinnya Ficus sp.

Dalam Al Qur’an sendiri terdapat Surat At Tin, yang merupakan surat ke-95 yang terdiri atas 8 ayat. Nama Surat diambil dari kata At-Tin yang terdapat pada ayat pertama yang artinya buah Tin. Selain itu, manfaat Buah Tin ini juga disebut dalam sebuah Hadist. Ada buah, pasti ada pohonnya kan? Berarti masuk keluarga Ficus (karena nama resminya adalah Ficus carica).

Dalam Kekristenan, Pohon Ara disebut dalam Kitab Kejadian, yang daunnya digunakan untuk menutupi tubuh Adam dan Hawa setelah diturunkan ke Bumi. Pohon Ara itu masuk keluarga Ficus juga.

Dalam filosofi Buddha, tentu tahu bahwa Sang Buddha mendapatkan Pencerahan di bawah Pohon Boddhi. Bahkan kisah epik Mahavamsa menceritakan tentang Kisah Raja Ashoka dan Sepotong Pohon Boddhi yang dipercaya menjadi asal muasal Negeri Srilanka. Nah, Pohon Boddhi ini juga masuk dalam keluarga Ficus.

Juga dalam Hindu, pohon yang termasuk keluarga Ficus ini juga disebut dalam Bhagavad Gita, yang memberikan simbol-simbol dan pemahaman tentang alam materi dan non-materi.

Tak heran, saya bisa mengatakan pohon ini termasuk pohon purba karena sudah ada sejak adanya peradaban dan disebut-sebut dalam kitab-kitab suci yang mengatur kehidupan manusia. Luar biasa sekali pohon ini.

Lalu apakah Pohon Fig itu ada di Indonesia? Ternyata… Pohon Beringin yang terkenal dan sepertinya ada dimana-mana di seluruh Indonesia dan dilambangkan dalam Pancasila, juga termasuk keluarga Ficus. Akar-akarnya yang keluar menggantung menjadi khas dari Pohon Fig.

Ah, ternyata saya tak perlu jauh-jauh ke Kamboja untuk mengetahui bahwa di sekitar kita juga ada keluarga pohon fig. Mungkin selepas Pandemi, saya bisa jalan-jalan ke Bali Botanic Garden yang ada Giant Fig trees (tapi saya terpikir bahwa di Kebun Raya Bogor seharusnya ada juga kan ya???)

By the way, seperti juga spesies tanaman lain dalam famili Moraceae, bersentuhan langsung dengan getah susu Ficus carica lalu terpapar sinar ultraviolet dapat menyebabkan fitofotodermatitis, sebuah peradangan kulit yang bisa berdampak serius. Jadi harus hati-hati juga.

Dan yang terjadi di kuil-kuil kuno di Kamboja itu, karena bibit-bibit Pohon Fig itu dijatuhkan dari atas oleh burung atau kelelawar dan mendarat di atas pohon atau bangunan. Kemudian akarnya tumbuh memanjang ke bawah hingga mencapai tanah dan hiduplah dia. Bahkan pohon yang ditumpangi bisa mati meski pohon fig bukanlah benalu bagi inangnya. Kasarnya ia menempel saja atau menduduki inangnya agar stabil bagi akar mencapai tanah.

Maka dari itu yang terjadi di kuil-kuil di Angkor itu, pohon Fig-nya disebut dengan Strangler Fig alias Fig si Pencekik. Kok seperti judul film kriminal ya?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-36 bertema Tree agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

3 tanggapan untuk “Pohon Fig, Pohon Peradaban

  1. Menarik banget postingan ini, Mbak. Tapi, keluarga pohon ara ini juga hidup di daerah gurun Timur Tengah, kah? Kalau enggak, saya jadi penasaran kenapa kisah pohon ini sampai bisa masuk dalam kitab suci agama yang muncul di Jazirah Arab. 😀

    Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.