Yang Memilih dan Yang Memakan Segala


Dalam hal makanan, sebenarnya saya berada di kutub yang sedikit ekstrim dibandingkan dengan seorang teman saya, atau mungkin biasa diibaratkan sebagai “bagai bumi dan langit”. Karena saya termasuk pemilih makanan dan teman saya itu termasuk pemakan segala. Ya, memang segalanya, hingga makanan yang masuk kategori tidak biasa untuk ukuran orang normal.

Harus saya akui bahwa saya benar-benar pemilih makanan. Karena saya bukan vegetarian, seumur-umur saya hanya makan dengan lauk yang berasal dari ayam, sebagian hewan laut, dan sapi. Itu saja.

Jika ada makanan dari ayam, biasanya saya mengambil bagian dada, paha atau sayap. Di luar itu tak pernah saya cicipi. Ceker? No. Kepala? No. Jeroan: usus, ati, rempelo? Totally No! 😀 Dan masih dalam kalangan unggas, memang hanya ayam karena saya tak pernah mencicipi burung dara, puyuh atau burung yang lain, bebek, kalkun dan lain-lain, Padahal kata orang, makanan-makanan itu enak. Entahlah…

Kalau sea-food, makanan laut atau makhluk-makhluk air, saya masih suka makan ikan (dalam kategori yang normal-normal saja karena tidak pernah makan lele, ikan buntal bahkan belut 🙂 ) Saya bisa makan kepiting dan udang atau lobster (meskipun belakangan dihindari mengingat kolesterol yang terus menanjak). Selain itu, bukan termasuk makanan saya. Tiram? Tidak. Kerang? Tidak juga. Cumi-cumi juga saya hindari (dulu pernah makan, tetapi tidak suka karena rasanya seperti sendal alias alot! 😀 ) Yang lucu adalah ketika kami melakukan perjalanan ke Jepang dan anak-anak begitu tergila-gila dengan takoyaki gurita, sementara saya langsung ciut memilih lebih baik puasa daripada harus makan daging gurita itu (meskipun katanya, enaaaaakkkk banget!)

Pernah sekali waktu, saya melakukan perjalanan bisnis ke Batam. Diantara kesibukan pekerjaan, kami menyempatkan makan bersama dan salah satu makanan yang terhidang di meja adalah tiram. Tentu saja saya hanya bisa menyaksikan bentuknya yang indah tanpa bisa memasukkan ke mulut. Bentuk luarnya memang cantik sekali seperti kipas, tetapi saya tidak bisa mengatakan bagaimana rasanya yang ada di bagian dalam tiram itu.

Sea Food

Dari kalangan hewan berkaki empat, saya hanya bisa menikmati makanan dari daging sapi. Itupun hanya dagingnya saja, karena saya tidak pernah makan jeroan, tidak makan buntut, lidah, babat, kikil, ati, otak dan lain-lain yang katanya enak itu. Yang agak aneh adalah krecek. Karena saya menyukai gudeg, beberapa waktu lalu saya selalu memakan gudeg secara lengkap tentunya dengan krecek. Belakangan, karena saya tahu asal krecek itu, saya jadi mikir dua kali untuk memakannya, mesekipun aneh makan gudeg tanpa krecek 😀 Saya juga tidak makan iga atau bibir sapi. Jangan ajak saya makan rujak cingur ya, pasti saya hanya bisa melihatnya lalu cemas melihat bibir sapi yang hitam abu-abu menyel-menyel itu…

Yang seru ketika ada acara makan-makan keluarga saya. Biasanya saudara dan kerabat langsung menyerbu masakan sop iga, sop buntut atau kadang steak lidah, sementara saya langsung melipir mencari makanan lain. Tidak perlu complain, karena saya bisa mendapat makanan yang lain.

Itu baru tentang sapi ya, karena saya sama sekali tidak makan kambing, domba, kelinci, kerbau dan tentu saja saya tidak makan babi. Mungkin bagi sebagian orang akan serta merta menyebut… wah rugi amat yaaa tidak makan makanan enak itu…. 😀 😀 😀

Nah, meskipun saya tidak memakannya, tetapi menurut saya hidangan-hidangan yang saya tidak makan itu masih dalam batas-batas normal untuk ukuran manusia kebanyakan. Benar kan?


Tetapi seperti yang saya katakan di atas, ada seorang teman perempuan saya yang hobbynya mencari makanan yang relatif ekstrim. Dan saya terkagum-kagum akan keberaniannya. Katanya, kalau makan jangan membayangkan bagaimana hidupnya sebelum jadi hidangan. Masukkan saja ke mulut, kunyah dan rasakan sensasinya. Dan saya hanya bisa terbengong-bengong menyaksikan dia makan semua itu…

Bahkan dia juga bercerita dengan santainya ketika ia berada di Kamboja dan Thailand, ia makan semua makanan yang dijual di pinggir jalan layaknya cilok dan gorengan di sini. Gorengan ekstrim di Thailand dan Kamboja itu berupa kecoa, belalang, kalajengking, ulat goreng dan berbagai serangga lainnya. Rasanya? Katanya sih renyah…

Jadi kalau dia makan paha kodok (swi kie) mungkin sudah biasa, karena tak hanya dia, ada banyak teman-teman dari jaman remaja suka juga makan daging hewan yang suka melompat itu. Apalagi di beberapa rumah makan, memang ada yang menyediakan hidangan itu.

Bagaimanapun, saya hanya mampu melihat teman saya itu menikmati makanan yang tak biasa karena saya tak mampu memakannya. Karena di kaca penjual sangat jelas terlihat hidangan yang ditawarkan yaitu Kodok, Burung, Ular, Biawak, Labi-labi (sejenis kura-kura berpunggung lunak). Adakah yang berani mencobanya?

meal1
Fried: Frog, Bird, Snake, Monitor Lizard, Softshell Turtle

Bicara soal makan hewan yang tak biasa, saya teringat satu peristiwa yang tak terlupakan. Namanya juga masa remaja yang penuh dengan gejolak kenekadan yang tak menggunakan akal dan pikiran. Lelah sehabis turun gunung, seorang teman mengajak mampir di sebuah rumah makan. Tapi saya langsung terhenyak melihat di sudut ruangan ada sebuah kotak kaca yang memperlihatkan hewan yang akan dimakan. ULAR!

No way, saya pasti tidak akan makan apa-apa di situ. Langsung saja saya minta maaf kepada teman yang mengajak karena saya tidak akan makan. Masih kenyang keluar sebagai alasan. Saya mendekat takut-takut padahal teman-teman yang lain langsung mengelilingi kotak kaca itu, mengetuk-ngetuknya agar ular itu terbangun dan tegak melebarkan bagian lehernya karena ia sejenis kobra. Katanya, semakin responsif, semakin enak dimakan. Yaaaiiikksss!

Dan setelah memilih, ular itu di bawa ke belakang untuk dieksekusi. Saya tak mampu melihat ketika ia kehilangan kepalanya dengan sekali tebasan pisau milik rumah makan itu lalu darahnya ditampung di sebuah gelas termasuk jantungnya yang kata orang, bisa bermanfaat sebagai obat, mungkin obat kuat bagi para pria. Kemudian setelah dikuliti dan dibersihkan lalu dimasak, tak lama ia datang sebagai hidangan saus asam manis. Saya langsung melipir dengan perut yang memberontak, mengingat saya pernah melihatnya hidup dan kini terhidang di meja makan.

Teman saya mencobanya, termasuk meminum darahnya dalam sekali teguk bersama sedikit campuran minuman beralkohol. Mungkin untuk menghilangkan amisnya. Setelah meminumnya, ia berkata lumayan enak. Hanya setelahnya, ia merasakan rasa panas di tubuhnya. Entah karena daging ular itu atau karena hal yang lain.


Lain kisahnya ketika saya melakukan perjalanan dinas ke Samarinda. Awalnya kami hendak melihat peternakan buaya, tetapi di sana ada restoran yang menyediakan hidangan dari daging buaya! Tentu saja teman saya, si pemakan segala itu, serta merta masuk ke restoran itu untuk mencobanya. Dan makanlah ia sate buaya. Ketika saya tanya apa rasanya, dia menjawab, enak… Sambil menyodorkan piringnya, Mau…???

Di restoran itu pula disediakan berbagai olahan dari buaya seperti sate, kerupuk, empedu, tangkur dan ramuannya dan minyak serta telur buaya. Membaca apa yang disediakan tempat itu, membuat saya membayangkan semuanya dan mendadak perut jadi gelisah…

Seperti juga di Manado ada hidangan paniki (kelelawar), banyak orang mengatakan bahwa hidangan-hidangan itu termasuk kuliner yang eksotis. Eksotis dari sisi mana ya? Demikian yang selalu muncul di pikiran saya jika ada orang mengatakan hal itu. Bisa jadi saya termasuk orang yang mempertimbangkan masukan dari para ahli untuk tidak memakan makanan dari hewan-hewan itu dengan pertimbangan penyakit (virus atau bakteri) yang mungkin berpindah dari hewan-hewan itu.


Membicarakan makanan yang tidak biasa, memang rasanya tidak habis-habis karena begitu banyak variasi makanan yang ada di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Bisa jadi saya menganggapnya tidak biasa namun di sebuah tempat hidangan itu merupakan hal yang umum ditemui.

Seperti yang pernah saya temui di perkebunan buah Naga di Batam bertahun-tahun lalu. Kali ini bukan makanan dari hewan melainkan buah. Buah Naga alias Dragon Fruit. Saat itu saya hanya sempat mencoba jus buah Naga, padahal saya juga ingin merasakan brownies buah Naga. Seru juga kali ya.. Sayang saat itu saya tidak sempat bertanya tentang manisan kulit buah Naga. Ternyata kulitnya juga bisa dibuat manisan… Sudah ada yang pernah mencoba?

Dragon Fruit Menu
Dragon Fruit Menu

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-33 bertema Unusual agar bisa menulis artikel di blog masing-masing  setiap minggu.

9 tanggapan untuk “Yang Memilih dan Yang Memakan Segala

  1. Mbaaa.. itu tiramnya cakep banget.. ah, coba aku ada disana, wes ludes itu 😅😅

    Hmm.. aku pernah makan ular Mba.. enak sih (karena gak lihat waktu hidupnya), tapi pas malem2 badan terasa gerah banget dan gak bisa tidur, plus membayangkan si ular ada di dalam perut.. weeek 😥 kapok..

    Tapi ternyata kita sama, banyak nggak doyannya.. hahahaha.. jadi kalau jalan bareng aman dah..

    Disukai oleh 1 orang

  2. Dulu waktu kecil pertama kali saya nyobain salak, pas banget saya dapet yang rasanya sepet. Sejak itu selama bertahun-tahun (lebih dari 10 tahun) saya selalu say no kalau ada yang nawarin salak. Sampai suatu ketika salah satu teman saya waktu kuliah maksa saya makan salak. Bener2 buah salak yang udah dia kupas disodorkan ke depan muka saya. Akhirnya saya memberanikan diri makan segigit, eh ternyata gak sepet, dan malah manis. Sejak itu saya akhirnya bisa makan salak. Mungkin Mbak Riyanti perlu nyobain makan cumi sekali lagi, tapi harus di tempat yang masaknya bener. Karena cumi itu memang gak bisa dimasak terlalu lama, jadi liat kayak karet. Tapi kalau memasaknya bener, wah mak nyusss mbak. 😀

    Disukai oleh 1 orang

    1. Masa ya? Wah kalo gitu selama ini saya salah soal cumi ya? Emang ada cumi yang gak kayak sendal? hihihi *masihgakpercaya
      Baiklaaa… mungkin akan datang waktunya saya mencoba cumi, somewhere… someday…

      Disukai oleh 1 orang

  3. Soal makanan, saya membosankan sekali, Mbak. Kalau sudah senang satu makanan, saya bakal pesan yang itu terus. Tempat makannya juga yang itu-itu saja. Makanan paling ekstrem yang pernah saya coba paling cuma belalang dari Gunung Kidul. Itu pun karena nggak enak karena teman sudah membawakan untuk kami. 😀

    Enaknya punya selera membosankan ini, saya nggak perlu repot-repot memilih tempat makan di mana saja. Apa yang tersedia dicoba. Cocok, di sana terus. 😀

    Disukai oleh 2 orang

    1. Hahahaha… enak niih punya temen kayak gini. Makanannya udah pasti2 aja hahaha… Sebenernya saya juga membosankan kan makanannya… kalo gak tahu, ya tempe. Kalo gak mie goreng ya nasi goreng hehehe..

      Suka

  4. Kita dikutub yang beda ternyata mbak…. aku golongan pemakan segala…. semua di makan kecuali daun pintu sama daun jendela….Ke batam??? Gak coba gong gong… makanan luar biasa unik…tapi harus minum simvastatin abis itu…karena kolesterolnya ciuiii…. hee

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.