Yang Besar di Negeri Gajah Putih


Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Thailand, sejak dulu bahkan sampai sekarang, saya masih saja mudah terpesona dengan apa yang ditawarkan Negeri Gajah Putih itu. Tidak hanya penduduknya yang ramah dan makanannya termasuk ramah di perut saya, obyek-obyek wisatanya selalu menarik.

Masih teringat saat itu, ketika pertama kali melakukan perjalanan sebagai female solo-traveller, saya memiliki kesan teramat manis akan Wat Pho. Kuil Buddha yang di dalamnya terdapat Patung Buddha Berbaring yang amat besar itu, mempesonakan saya. Seumur-umur saya belum pernah melihat patung Buddha sebesar itu dan sebagus itu. Tak heran, saya berlama-lama di sana.

watpho
Reclining Buddha in Wat Pho
head
The Head of Buddha

Dan itulah enaknya berjalan secara independen, saya yang menentukan sendiri bagaimana dan berapa lama saya berada di sebuah tempat. Tanpa harus bergegas di tempat yang saya suka, namun saya bisa cepat pergi jika tempatnya tidak menyenangkan. Di Wat Pho, saya begitu menikmati tempat dan suasananya. Menikmati suara ritmis denting koin-koin yang dijatuhkan pengunjung ke dalam pot donasi. Rasa nyamannya benar-benar mengesankan saya. Bisa jadi karena ruangannya yang amat tinggi dan besar untuk bisa menampung patung Buddha berukuran panjang hampir 50 meter itu.

Kesan besar dan indah dari Wat Pho itu sangat menyerap dalam ingatan saya. Meskipun setelah perjalanan itu saya berkesempatan pergi ke Myanmar dan menemukan begitu banyak patung Buddha Berbaring dengan ukuran raksasa yang jauh lebih besar daripada Wat Pho, bagi saya kerennya Wat Pho masih nomor satu.

Atau karena Wat Pho saya kunjungi dalam perjalanan perdana sebagai solo-traveller? 😀 (sebab kata orang semua yang pertama kali itu selalu berkesan)

Tapi faktanya, keterpesonaan saya tak berhenti di situ. Dalam kesempatan lain ke Thailand, kali itu saya bisa ke Ayyuthaya, -bertahun-tahun setelah perjalanan pertama ke Wat Pho itu-, di sana saya terpesona di Kuil Wat Phanan Choeng Worawihan.

Saat itu, saya melakukan perjalanan perdana ke Ayyuthaya sebelum melanjutkan ke Sukhothai pada hari berikutnya. Karena tidak menginap di Ayyuthaya, saya memanfaatkan waktu semaksimal mungkin dari siang hingga malam untuk menjelajah kawasan yang pernah menjadi pusat kerajaan Thai berabad-abad lalu itu dan malamnya kembali ke stasiun kereta api untuk melanjutkan perjalanan ke Sukhothai. Baca kisahnya 3 Hari 2 Malam Bangkok – Ayyuthaya – Sukhothai sebagai cara untuk berhemat biaya penginapan.

Di dalam Wat Phanan Choeng Worawihan siang jelang sore itu, saya terpesona dengan apa yang saya saksikan di depan mata. Jika di Wat Pho terdapat Reclining Buddha yang berlapis keemasan maka di Wat Phanan Choeng Worawihan terdapat patung Buddha duduk (Seated Buddha) yang berlapis emas dan ukurannya termasuk yang salah satu terbesar di Thailand. Tidak kira-kira tingginya, hampir 20 meter! Kira-kira setinggi gedung 5 lantai. Jadi kebayang besar kuil yang menampungnya, kan?

IMG_6428
Buddha in Wat Phanan Choeng Worawihan, Ayyuthaya
IMG_6423
Buddha in Wat Phanan Choeng Worawihan, Ayyuthaya
IMG_6422
See the men

Saat itu saya bergabung dengan para Buddhist duduk di area tengah. Bukan untuk mengikuti ibadah melainkan untuk mengambil foto patung Buddha yang dipercaya merupakan salah satu patung tertua berukuran besar dari Sang Buddha yang berada di dalam bangunan tertutup. Konon patung itu dibangun pada tahun 1324 meskipun belum ada bukti yang benar-benar mendukung.

Saya mengamati patung teramat besar yang mengenakan jubah berwarna saffron itu. Bersih dan berkilau. Baru saya menyadari bahwa saat itu, patung Buddha sedang dibersihkan oleh sejumlah pria dewasa. Besarnya ukuran patung itu membuat pria-pria dewasa yang sedang membersihkan terlihat seperti anak-anak kecil. Tinggi mereka sebagai manusia dewasa terlihat masih lebih pendek daripada tinggi jari tangan Sang Buddha yang saat itu mengambil pose tangan Bhumisparsha mudra (tangan kanan menyentuh bumi). Terbayang kan, kalau tinggi orang hanya setinggi jari tangan, betapa tinggi patung Buddha di Wat Phanan Choeng Worawihan itu.

Uniknya, patung Buddha yang kini berlokasi di dekat pertemuan Sungai Chao Phraya dan Sungai Pa Sak, dipercaya penduduk lokal memiliki kisah mistis. Konon, saat negeri Burma menyerang Ayyuthaya di akhir abad-18, patung Buddha ini sempat meneteskan airmata! Mendengar kisah ini, saya tak ingin bereaksi, karena sepanjang pengetahuan saya justru urban-legend itu bertolak belakang dengan filosofi Buddha. Ah, bisa saja saya yang sotoy…

Terlepas dari kisah lokal itu, saya juga memiliki kesan lain di Wat Phanan Choeng Worawihan. Dijudesin oleh perempuan!

Jadi ceritanya, saat itu saya tak tahu apakah di sana memotret Buddha itu merupakan pelanggaran atau tidak. Seorang teman Buddhist pernah menyampaikan secara halus bahwa sebaiknya tidak dilakukan karena katanya tak akan pernah sempurna hasilnya. Tapi mengingat saat itu saya masih pejalan novice, maka suaranya masih terabaikan.

Nah, mungkin karena suara dari shutter kamera membuat seorang perempuan melihat saya dengan wajah yang teramat judes sebagai simbol: DILARANG FOTO DI SINI!!! Dasar saya masih belum puas dengan besarnya Sang Buddha, dengan cueknya saya melanjutkan foto sekali dua kali. Setelah itu, tanpa sadar saya menoleh lagi kepada perempuan itu. Duh, terlihat seperti ada api neraka di wajahnya. Kalau saja di kuil itu boleh melabrak dengan berapi-api, mungkin dia akan melabrak saya seperti naga raksasa yang menyemburkan api. Syereeemmm!

Meskipun saat itu saya tak menyadari kesalahan, untuk menjaga ketentraman batin dia dan saya, lebih baik saya keluar dari kuil. Lagi pula saya tak ingin mengganggu ibadah mereka. Yang jelas, pengalaman dijudesin oleh orang lain itu sangat membekas, membuat saya semakin bertindak hati-hati di rumah ibadah lain.

Selepas menjelajah Ayyuthaya, dengan kereta api saya merambah lebih Utara menuju Sukhothai, tempat yang dipercaya pemerintahan Di kawasan bersejarah itu saya menyewa sepeda, sebuah keputusan yang sepertinya tidak tepat. Meskipun tidak seluas Angkor Archaelogical Park, bagi saya mengelilingi kawasan di Sukhothai dengan menggowes sepeda itu cukup membuat saya gempor. Sok tahu siih…

Setelah satu persatu bangunan candi di Sukhothai itu didatangi, sampai juga akhirnya saya di Wat Si Chum, salah satu landmark-nya Sukhothai. Dan seperti biasa, saya terpesona dengan keluarbiasaan yang ditawarkan Wat Si Chum ini.

IMG_6721
Wat Si Chum, Sukhothai

Jika di Wat Phanan Choeng Worawihan, patung Buddha berlapis emas, di Wat Si Chum ini patung Buddha-nya dibiarkan apa adanya. Tetapi bukan berarti tak terawat. Bahkan dalam kondisi apa-adanya, tanpa lapis emas, Patung Buddha yang dikenal dengan Phra Achana ini sudah menjadi landmark dan tempat yang harus dikunjungi saat ke Sukhothai. Ukurannya tak beda jauh dengan Wat Phanan Choeng Worawihan sekitar 15 meter, tetapi tetap saja besaaaaarrrr!

Wat Si Chum merupakan salah satu kuil terbesar yang dipercaya dibangun pada abad-13 serta konon, paling misterius di Sukhothai. Patung Buddha Phra Achana di tempat ini dikelilingi empat dinding tinggi 15 meter dalam jarak yang sempit yang menyerupai sebuah mandapa. Konon, mandapa itu dulunya tertutup atap meskipun tak dapat dipastikan bentuknya.

Selain ukurannya yang besar, masih ada dua hal yang misterius dari Wat Si Chum ini. Konon, di bawah kuil ini ditemukan sebuah lorong bawah tanah yang ujungnya entah dimana karena aksesnya ditutup demi perlindungan terhadap kawasan bersejarah. Selain itu, ada tangga-tangga sempit mengarah ke atas yang tujuan penggunaannya juga belum diketahui. Sayangnya semua akses itu tertutup untuk publik. Biar para ahli arkaeologi yang mempelajari dan mencarinya, sebagai pejalan saya hanya bisa menikmati keindahan dan keluarbiasaannya.

Jelang sore, pelan-pelan saya menggowes sepeda sewaan untuk mengembalikannya lalu kembali ke stasiun kereta di Phitsanulok. Apa yang saya saksikan di Bangkok, Ayyuthaya dan Sukhothai, memiliki kemiripan. Penduduk Negeri Gajah Putih ini tak segan mendirikan bangunan dengan patung Buddha dengan ukuran yang teramat besar, tidak beda dengan beberapa negeri Buddha lain di Asia. Kata teman saya, semakin besar ungkapan rasa terima kasih kepada Sang Buddha, maka semakin besar dan bernilai pula ia persembahkan.

Mendadak sebuah kesadaran membukakan pikiran. Bagaimana dengan saya? Sebagai ungkapan terima kasih dan syukur, seberapa besar yang saya persembahkan kepada Sang Pemberi Hidup?

 


This post was written in response to the weekly challenge from Celina’s Blog, Srei’s Notes, Cerita Riyanti, and also A Rhyme In My Heart, -similar to the old Weekly Photo Challenge from WordPress-, which is the 29th week of 2020 has the theme of  Big, so we are encouraged ourselves to write articles weekly. If you are interested to take part in this challenge, we welcome you… and of course we will be very happy!

6 tanggapan untuk “Yang Besar di Negeri Gajah Putih

  1. Memang tempat pertama kita solo travelling pasti ninggalin kesan yang terlalu spesial, mau segimana kerennya pun destinasi2 travelling kita selanjutnya 🙂 jadi inget bulan ini mestinya aku pun solo travel ke Thai, tapi apa daya karena covid jadi harus dicancel. Thanks for sharing Mbak, seenggaknya jadi berasa virtual tour hehe.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Sepertinya memang suara shutter kameranya dianggap mengganggu sama si Ibu itu kali ya, Mba. Pernah nemu di beberapa tempat ibadah yang sekaligus merupakan area wisata rambu-rambu yang melarang pengunjung untuk menyalakan flash dan suara shutter kameranya. Di sana ga ada rambunya ya kayanya? Berarti ga 100% kesalahan pengunjung juga hehe.

    Ngomong-ngomong membayangkan ukuran patung panjang 50 meter, atau tinggi 20 meter, jadi penasaran bagaimana dulu patung-patung Budha ini dibangun. Teknik pembuatan, siapa pekerja yang membangunnya, dll. Menarik buat dibaca pasti kalau ada catatan sejarahnya hehe.

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.