Window Seat, Please…


Saat travelling dengan menggunakan pesawat, -tentunya sebelum masa pandemi COVID19-, jika memungkinkan, saya lebih memilih duduk di kursi dekat jendela. Alasannya cuma satu, saya adalah penikmat pemandangan dari jendela.

Pemandangan Bumi dari jendela itu luar biasa, bahkan awan-awan Cumulonimbus yang bertumpuk-tumpuk ke atas juga bisa membuat saya berdecak kagum, apalagi hamparan awan yang lembut, yang bagai kapas. Pemandangan sunset atau sunrise juga tak kalah indahnya. Tak jarang saya memilih penerbangan yang melewati sunset atau sunrise di udara, tentunya dengan di bagian sisi yang tepat.

The Sun & The Clouds

Tak hanya itu, jika terbang malam hari saya pun suka duduk di kursi dekat jendela. Selain lebih luas untuk menyenderkan kepala saat tidur, saya masih suka melihat ke kegelapan malam jauh di bawah sana. Hebatnya, saat melewati kota besar, kerlip-kerlip lampunya membuat saya berpikir tentang luasnya kota. Seandainya pilot tidak memberitahu, saya bisa menduga-duga kota yang baru dilalui. Apalagi jika ada layar yang menunjukkan posisi, itu sangat luarbiasa!

Pernah suatu ketika saya terbang di atas Mumbai saat malam hari. Karena sudah jelang mendarat dan pesawat makin menurunkan ketinggiannya, lagi-lagi saya melongok keluar jendela. Jalan raya penuh lampu terlihat sedikit lengang, bisa jadi karena sudah lewat tengah malam. Tapi mungkin karena waktu itu adalah pertama kali saya ke India, mata saya terbelalak gembira melihat sebuah kompleks kuil dihiasi lampu-lampu. Indah dan terang sekali.

Tidak hanya kuil dan kota yang menarik perhatian saya akan bumi India. Sungai-sungai raksasa yang dimiliki India, yang berhulu di pegunungan Himalaya, dapat disaksikan melalui jendela saat saya terbang ke Nepal. Bentuknya berkelok-kelok dengan cabang-cabangnya, sungguh seakan pembuluh darah bagi bumi dalam memberi air kehidupan. Sungai-sungai itu tentu takkan terlihat besarnya saat mata berada dalam ketinggian semeter atau dua meter dari permukaan tanah.

The Rivers

Dan ketika saya bolak-balik Nepal, saya selalu memilih window seat agar dapat melihat barisan pegunungan Himalaya yang puncak-puncaknya berselimut salju. Tapi ketika hendak mendarat, saya begitu menikmati kontur bumi Nepal yang berbukit tinggi dan berlembah dalam. Bahkan dalam penerbangan dari Jomsom ke Pokhara, sekembali dari trekking di kawasan Lower Mustang di Nepal saya gembira melihat dari atas Sungai Kali Gandaki dan desa Marpha, jalur sungai dan desa yang saya lalui dalam trekking sehari sebelumnya dan juga sempat terhenyak menahan nafas saat melihat kawasan viewpoint Poonhill. Bagaimana tidak, untuk mencapai Poonhill, saya teringat beratnya trekking dengan perut yang sedang tidak bersahabat. Sedangkan dari atas pesawat, tempat itu bisa dibilang tak jauh dari Pokhara.

Lewat jendela pesawat, hingga kini saya selalu terharu biru saat melihat jajaran Himalaya, baik untuk pertama kalinya yang penuh ketakjuban hingga terakhir kemarin ini, juga merasakan kembali rasa melow saat mengucap perpisahan kepada Nepal pertama kalinya serta meninggalkan pemandangan Mt. Everest yang indah, namun juga merasa bahagia tak percaya saat mengingat telah meninggalkan jejak di kawasan Sagarmatha itu.

Himalaya
Above the Clouds

Demikian juga saat jelang mendarat di Changi, Singapura, mata saya selalu mencari landmark negeri singa itu dari balik jendela pesawat, Hotel Marina Bay-Sands yang puncaknya menyerupai wahana Nabi Nuh AS saat banjir besar dulu. Teringat saat menginap di hotel terkenal seantero Singapura itu, saya beruntung mendapatkan kamar dengan jendela besar menghadap kawasan Marina dan pemandangan kota. Tingginya letak kamar, membuat pemandangan malam terasa amat indah.

Tapi Indonesia tak kalah indahnya dari semua cerita itu. Setiap hendak mendarat di bandara Soekarno-Hatta, saya selalu menandai landmark yang ada di Jakarta seperti Ancol, Apartemen Regatta yang sangat iconic dan berada di pinggir pantai Jakarta.

Bagi saya, jelang mendarat dengan pemandangan indah banyak dimiliki bandara-bandara di Indonesia. Siapa yang pernah mendarat di Bandara Internasional Minangkabau di Padang? Saya teringat saat jelang mendarat itu, garis pantai yang putih memanjang dengan birunya Samudera Indonesia mengawal proses mendarat pesawat yang saya naiki. Karena ponsel dimatikan dan kamera sudah di tas, saya tak sempat mengambil fotonya. Tetapi saya takkan lupa indahnya pemandangan itu.

Detik-detik sebelum mendarat di Bali, saya selalu melepas senyum, melihat hamparan laut menghias pemandangan di luar jendela. Bisa jadi saya sudah terbayangkan keindahan tempat-tempat wisata bahkan sebelum mendarat.

Mountains

Mendarat pagi di bandara lama Adi Sucipto, Yogyakarta memiliki keindahannya sendiri. Saya selalu memilih duduk di window seat bagian kiri agar bisa melihat keindahan gunung-gunung yang berdiri dengan gagahnya dan berhiaskan awan-awan diselingi danau atau waduk. Lalu detik-detik mendarat, Gunung Merapi dan Merbabu senantiasa menghias pemandangan di luar jendela pesawat seakan setia mengawalnya.

Keindahan pemandangan di luar jendela pesawat, bagi saya menjadi mood booster, sehingga saya selalu mengupayakan agar bisa menempati tempat duduk di bagian jendela, Window seat please, begitu kata saya dulu, jika check-in di konter…

Anda juga suka window seat?

Mt. Merapi & Mt.Merbabu

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari CelinaSrei’s NotesA Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-26 bertema High agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu.

7 tanggapan untuk “Window Seat, Please…

  1. Saya juga gak bisa deh kalo flight gak dapet window seat hahaha. Sebagai orang yang somehow kalo di flight gak pernah ingin ke toilet (even perjalanan jauh di atas 9 jam sekalipun), jadi makin gak ada alasan untuk gak milih window seat hehe. Btw, salam kenal dari follower baru!

    Disukai oleh 1 orang

    1. hahaha… 9 jam bisa gak ke toilet? hebat banget… tapi begitu turun langsung cari toilet kali yaa? hehehe…
      Memang window seat tuh sesuatu banget ya 😀 😀 😀
      Salam kenal juga, terima kasih dah mampir, jangan bosen baca-baca disini..

      Suka

  2. Tentu mba, saya penggemar window seat 😀 Beruntung ya Indonesia punya view laut yang kece dan pegunungan yg megah tiap kali terbang. Dan jogja dengan duo Merapi Merbabu adalah salah satu bandara dengan view terbaik baik pas landing maupun take off

    Salam 🙂

    Disukai oleh 1 orang

      1. Penerbangan terakhir ke jogja via JOG beberapa minggu sebelum pindah ke YIA, jadi belum pernah ngerasain terbang dari YIA mba 🙂 Mungkin masih nampak, biarpun gak sejelas kalo dr Adi Sutjipto

        Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.