Merah Putih di Negeri Seberang


Kebanyakan dari kita memang terbiasa take it for granted atas segala sesuatu yang ada di sekitar kita, seakan-akan semua itu ada karena diberikan cuma-cuma. Termasuk hidup di negeri yang indah ini, yang kemerdekaannya diperjuangkan dengan nyawa dan tumpahan darah. Apalagi kita semakin dimanjakan dengan segala hal menyenangkan yang bersifat virtual dan semua yang menembus batas-batas wilayah dan negara. Paling tidak saya merasa begitu.

Tetapi bagaimana pun, pada suatu waktu hati nurani yang paling dalam, yang biasa terabaikan, bisa menyeruak keluar. Seperti waktu itu, saya tak bisa membohongi diri bahwa jauh di dalam jiwa tetap berlaku merah darahku, putih tulangku, apalagi ketika melakukan perjalanan keluar negeri. Tidak bisa dibohongi pada waktu-waktu tertentu, ada rasa rindu, ada rasa nasionalis yang tiba-tiba menggelegak keluar ketika melihat simbol-simbol negeri sendiri, seperti mendengar lagu kebangsaan Indonesia Raya atau melihat bendera Merah Putih berkibar, di negeri-negeri seberang.

Pernah suatu waktu, ketika melakukan jalan santai dengan tim kantor setelah berhari-hari berkutat dengan seminar, saya sempat terpisah dari mereka yang sedang melepas lelah. Saya berjalan di antara bangunan kuil di kawasan Wat Pho dan menyaksikan sendiri bendera Merah Putih berkibar di antara bendera-bendera negara lainnya. Rasanya begitu bahagia hanya melihat selembar kain berwarna merah putih yang memiliki makna yang begitu dalam di hati.

Indonesian Flag at Wat Pho, Bangkok
The Flags at Riverside, Phnom Penh

Tidak hanya itu, dalam kesempatan berbeda saya melihat juga bendera Merah Putih berkibar dengan gagahnya di langit biru di antara berbagai bendera negara lain yang dipajang sepanjang kawasan Riverside, Phnom Penh. Menyaksikan bendera negeri sendiri di negeri seberang, rasanya jauh berbeda daripada melihat bendera Merah Putih di Indonesia. Mungkin mata saya berbinar seperti mata anak-anak yang mendapatkan hadiah atau seperti mata mereka yang gembira bisa menemukan sesuatu yang telah lama dicari. Pernah merasa gembira yang begitu dalam saat melihat bendera Merah Putih?

Dan yang paling mengharukan ketika bisa mengikuti upacara dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang dilakukan di halaman Kedutaan Besar Republik Indonesia di Phnom Penh, Kamboja. Airmata mengembang memenuhi pelupuk saat menyanyikan Indonesia Raya sambil menyaksikan bendera Merah Putih pelan-pelan dikerek ke atas. Saya menahan sekuat tenaga agar airmata itu tidak jatuh, tetapi tetap saja gagal.

Indonesian Flag in The Embassy

Selama ini, saya biasa menyaksikan upacara 17 Agustus melalui televisi. Biasanya tak ada yang spesial, tak ada yang menyentuh rasa kecuali kekaguman akan sebuah upacara resmi kenegaraan yang kelihatannya selalu panas dan penuh keringat. Mungkin tamu-tamu yang hadir selalu berpakaian super keren dan berdandan cantik meskipun disertai kipas-kipas yang terus bergerak.

Tetapi sungguh berbeda rasanya bila berada di upacara serupa, jauh dari tanah air, jauh dari Indonesia. Inilah rasanya, –jauh di mata dekat di hati-, dengan menyaksikan sendiri bendera Merah Putih disertai lagu Indonesia Raya, berdiri di negeri seberang, saya merasakan kerinduan akan tanah air Indonesia. Begitu kuat rasanya, Saya Indonesia!

Tempat saya berdiri saat itu, bukan di halaman istana yang megah, melainkan di sebuah halaman gedung kedutaan besar yang tidak terlalu luas namun cukup dihadiri oleh puluhan orang. Tetapi ada rasa megah dalam jiwa, karena kemana mata memandang, di sana ada warna bendera, merah putih.

National Flag

Bendera Merah Putih, yang saat itu perlahan-lahan ditarik ke atas seiring lagu, merupakan simbol kedaulatan sebuah Negara. Apalagi dengan iringan lagu Indonesia Raya, yang secara otomatis akan kita nyanyikan karena tergugah dari nurani yang terdalam. Sekali lagi saat itu, saya tak bisa membohongi diri bahwa merah darahku, putih tulangku.

Saya tak menyangka, pengalaman hadir dalam upacara 17 Agustus di negeri seberang bisa menggugah rasa nasionalis yang begitu hebat di dalam diri. Berdiri dalam upacara peringatan kemerdekaan itu saya merasa jauhnya lokasi secara fisik dengan Indonesia, karena saya harus menempuh perjalanan dengan sekian jam penerbangan dari Jakarta. Saya bukan di negeri sendiri melainkan di negeri seberang! Di luar pagar Kedutaan Besar Republik Indonesia berlaku hukum negara orang. Ketika itu, orang di samping saya, di depan saya, di belakang saya adalah sama-sama warga negara Indonesia yang mungkin tidak saya kenal tetapi dengan mereka saya terikat dalam satu keluarga besar, Indonesia.

Pengalaman itu menyadarkan, saat kita berada jauh dari Indonesia, barulah kita merasakan kekhidmatan sebuah upacara bendera lengkap dengan bendera dan lagu kebangsaan. Sesuatu yang mungkin, -kalau boleh jujur-, sering kita abaikan saat berada di negeri sendiri.

Harapan saya suatu saat nanti, -ketika pandemi COVID-19 ini sudah selesai dan ditemukan vaksinnya-, saya ingin kembali menikmati rasa itu, dengan menghadiri upacara kemerdekaan di negeri-negeri seberang, yang jauh dari Indonesia agar bisa terus menggugah semangat keindonesiaan dalam jiwa. Bukankah biasanya kita baru bisa menghargai sesuatu di saat sesuatu itu telah hilang atau paling tidak terpisah jauh?

Sebagai warga negara Indonesia yang sedang berkunjung ke sebuah negara asing, sejauh pengetahuan saya, Kedutaan Besar Republik Indonesia selalu membuka pintu bagi warganya yang akan ikut dalam upacara 17 Agustus.

Jadiiii…. bagaimana kalau kita jadikan sesuatu yang must-do untuk ikut upacara 17 Agustus saat kita sedang bepergian ke negeri-negeri orang?


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-25 bertema Bendera agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu

5 tanggapan untuk “Merah Putih di Negeri Seberang

  1. Dan rasa terharu plus merinding yang kurasakan pagi itu, kala kita ikut upacara di KBRI Phnom Penh langsung terasa lagi kala membaca postingan itu..

    Bener Mba.. ketika jauh dari rumah, hal-hal kecil bisa langsung bikin kangen tanah air. Beberapa tahun lalu, pas baru aja mendarat di Bangkok, di pesawat dikumandangkan lagu “Tanah Airku”, aku langsung mbrebes mili dah..

    Disukai oleh 1 orang

  2. Saat jalan ke luar negeri sebetulnya aku pernah juga mendapati bendera Indonesia kayak gini. Tapi kok ya gak kepikiran buat motret dulu haaa. Ngerasa juga biasa aja gitu padahal pas baca tulisan ini jadi mikir, aku bisa pelesiran ya karena perjuangan para pendahulu.

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.