Idul Fitri Berselimut Sepi


Dari begitu banyak Idul Fitri yang telah dilewatkan sepanjang hidup, rasanya Idul Fitri 1441 H kemarin yang paling menggugah. Bagaimana tidak? Gema takbir hanya sayup-sayup terdengar di kejauhan, itupun hanya jelang shalat Ied bukan dari selepas maghrib sebelumnya. Lalu pada pagi harinya, tak ada manusia berbondong-bondong menuju tanah lapang untuk mendirikan shalat Iedul Fitri. Semua seperti pagi pada hari-hari biasa di sekitaran kawasan tempat tinggal saya. Sepi, sunyi…

Pandemi COVID-19 memang telah mengubah cara berkehidupan begitu drastis di seluruh dunia. Sesuatu hal yang sama sekali tak pernah terbayangkan kini terjadi di hadapan mata, dimana-mana, di seluruh dunia. Dan, tentu saja termasuk masalah ibadah.

Berpuluh-puluh tahun menikmati Hari Raya setelah sebulan berpuasa itu, selalu dilalui dengan kondisi yang serupa. Sejak buka puasa hari terakhir, terdengar suara takbir dimana-mana, lalu pagi harinya orang berbondong-bondong untuk sholat Ied. Selepasnya, bersalam-salaman, bersilaturahmi, makan ketupat, makan opor berkuah santan kental, rendang, nastar, kastengels, kue lapis, spekkoek, yang rasanya tidak habis-habis sampai seminggu lamanya. Lalu lanjut dari satu Halal bil halal ke Halal bil Halal lainnya… Begitu terus dari tahun ke tahun. Paling tidak, itulah yang saya alami sejak menikah, karena saya mengikuti suami untuk mudik.

DSC09453
Ketupat – Traditional Food on Idul Fitri

Perjalanan mudik itu selalu dilakukan jelang bulan puasa berakhir, meski sekali atau dua kali dilakukan sesudah Hari Raya. Alhasil, berlebaran di Jogja, -tempat asal suami saya-, biasanya perlu energi ekstra. Belum pulih dari lelah akibat kemacetan panjang yang biasa ditemui sepanjang perjalanan mudik (kami biasanya membawa mobil dan lewat jalur Selatan via Nagrek), jelang Hari Raya itu kami selalu bercengkrama dengan seluruh anggota keluarga besar, sampai malam. Lelah? Pasti. Tapi selalu seru karena ada rindu, ada kasih sayang, ada nasehat-nasehat dari alm. Bapak berhias guyonan dari anggota keluarga. Belum lagi, anak-anak saat itu masih kecil-kecil yang perlu penanganan tersendiri. Meski badan kadang terasa lelah, saya selalu menikmati perjalanan mudik untuk berlebaran di Jogja.

Pernah suatu ketika, kami salah perhitungan dalam mengejar Hari Raya di Jogja. Ketika itu kami berhenti bermalam di Purwokerto sebelum melanjut perjalanan ke Jogja keesokan paginya. Ternyata pada pagi harinya, di Purwokerto kebanyakan sudah menggelar shalat Ied sehingga kami mengikutinya. Sepanjang perjalanan ke Jogja, kami menemui kemacetan bukan karena mereka yang mudik melainkan mereka yang sedang bersilaturahmi ke sanak saudara dengan wajah cerah gembira dan baju-baju yang meriah. Hari itu di Jogja, kami tertinggal mengikuti tradisi rutin Hari Raya dalam keluarga besar. suami. Rasanya tak enak, seperti belum berlebaran. Padahal di saat yang sama di Jakarta, banyak dari teman dan keluarga saya yang baru bermalam takbiran untuk menjalankan shalat Ied keesokan harinya!

Melewati Hari Raya jauh dari keluarga besar, baik dari keluarga besar pihak saya maupun dari pihak suami, pernah kami alami saat berlebaran di Jepang. Rasanya itu pertama kalinya saya sekeluarga pergi ke luar negeri dalam libur Lebaran. Hasilnya? Kapok! Karena berbeda dengan situasi kini di Jepang yang lebih Muslim friendly, saat itu masih susah mencari tempat atau informasi terkait ibadah.

Saat itu, Jepang sedang musim panas, artinya memang benar-benar gerah dan panas, apalagi saat itu ada dampak badai yang membuat aliran hawa panas ke Jepang. Musim panas berarti siangnya lebih panjang dan kami puasa. Subuh sekitar jam 3 pagi waktu setempat dan maghrib sekitar jam 7 atau 8. Klenger deh! Mana harus banyak jalan!

Lalu paginya saat Hari Raya, kami tidak dapat menemukan tempat untuk shalat Ied. Sok taunya saya menganggap bahwa di KBRI selalu ada masjid yang mengadakan shalat Ied. Ternyata di Tokyo, masjidnya berbeda lokasi dengan KBRI dengan jarak cukup jauh. Kalau saya tahu lebih awal, tentu saya memilih menginap dekat masjid Camii. Tetapi segala sesuatu yang terjadi menjadi pembelajaran yang amat berharga buat saya. Sekali itu saya pribadi sungguh-sungguh merasa kehilangan rasa berlebaran, berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga besar. Seakan kehilangan ‘roh’-nya. Kapok!

DSC09457
Ketupat as Traditional Food on Hari Raya Idul Fitri

Lalu datang momen Hari Raya Idul Fitri yang baru saja lewat seminggu lalu…

Karena upaya pencegahan Covid-19, Shalat Iedul Fitri dilakukan di rumah, dengan suami sebagai imam dan saya serta anak-anak menjadi makmumnya. Tak ada orang lain, hanya kami sekeluarga. Juga bukan di tanah lapang, melainkan di dalam rumah. Tahun ini sungguh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tak ada gema takbir dari Masjid dekat rumah, Sepi, sunyi…

Lalu setelah tradisi Hari Raya di keluarga inti selesai, saya dan suami pergi ke rumah Mama. Di sana, dengan protokol kesehatan yang ketat, kami semua, -kakak dan adik dengan istri masing-masing-, saling bersilaturahmi. Tak ada sentuhan fisik, tak ada jabat tangan, apalagi peluk dan cium, sesuatu yang umum di keluarga besar saya. Duduk yang saling berjauhan, bukan di dalam rumah melainkan di teras luar, tanpa menikmati makan atau minum. Dan tak lama, tak lebih dari 30 menit.

Rasanya seperti bukan berada di rumah orangtua tempat saya dibesarkan. Rasanya seperti sedang bertamu. Aneh dan asing. Ada sejumput rasa sedih, tapi itulah yang harus dijalankan.

Apapun yang terjadi, yang ada di hadapan, harus disyukuri. Bersyukur bahwa saya masih bisa melihat dan bertemu mama, kakak dan adik benar-benar secara nyata dan bukan virtual. Sesuatu yang amat mahal saat ini.

Setelah kurang dari 30 menit di rumah Mama yang terasa hanya ‘sekejap’ itu, dalam perjalanan pulang menuju rumah, hati saya melanglang buana. Melihat sang suami yang duduk sendirian di depan sementara saya duduk sendiri di kursi belakang, saling berjauhan berhias masker, kita semua dihadapkan pada situasi yang semakin ‘sepi’ dengan adanya jarak antar manusia. Masing-masing manusia terpisah jarak. Sendiri-sendiri.

Pada akhirnya manusia akan sendirian.

Mungkin kita semua diberi kesempatan mencicipi sedikit rasa saat menghadapi Hari Akhir, saat kita sendirian, -hanya ada diri sendiri dan tanpa bantuan orang lain-, saat harus mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan di dunia.

§


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-21 bertema Eid Mubarak agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu

2 tanggapan untuk “Idul Fitri Berselimut Sepi

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.