Pasangan Sakral Rama dan Sita


Ketika sahabat saya melempar ide dengan topik Couple sebagai bahan tulisan minggu ini, terus terang saya bingung hendak menuliskan apa. Rasanya tidak mudah menuliskan tentang pasangan (couple) dalam blog yang sebagian besar isinya tentang cerita perjalanan ini, meskipun belakangan isinya banyak juga cerita yang bukan tentang perjalanan 😀 Tapi itulah tantangannya kan?


Setelah cerita perjalanan ke sebuah kota di Nepal bagian Timur yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Sita (di Indonesia biasa disebut dengan Dewi Sinta) dalam legenda Ramayana dan juga sebagai tempat pertemuan pertama kalinya dengan Rama, tempat pernikahan sekaligus tempat kembalinya dari pengasingan, -yang semuanya dapat dibaca di link berikut ini: Gema Cinta dari Janakpur-, rasanya tidak salah bila saya menambahkan sedikit lagi tentang pasangan sakral ini.

Sepanjang sepengetahuan saya di dalam Hindu, Rama merupakan avatar dari Dewa Vishnu, bahkan istrinya Dewi Lakshmi, juga menitis kepada Sita yang merupakan pasangan dari Rama. Di Kuil Janaki yang ada di Janakpur, -tempat yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Sita-, banyak terdapat lukisan-lukisan gaya India tentang Rama dan Sita. Bahkan di Janaki Mandap (Vivaha Mandap) yang dipercaya sebagai tempat pernikahan Rama dan Sita didirikan patung pasangan sakral ini.

Meskipun lukisan-lukisan yang indah ini tidak memiliki informasi dalam bahasa Inggeris (semua tertulis dengan karakter Nepali), saya hanya bisa mengira-ngira kisahnya dengan memperhatikan apa yang digambarkan. Seperti tokoh yang digambarkan memiliki kulit berwarna biru, saya memperkirakan bahwa dia adalah Rama dan perempuan di sampingnya adalah Sita.

Kisah Ramayana yang aslinya dari India ini, memang telah lama dekat di kalangan orang Indonesia, terutama di Jawa dan Bali. Biasanya ditampilkan dalam bentuk pertunjukan wayang atau sendratari yang cukup lama. Salah satu pertunjukan tari yang mengambil adegan Ramayana yang amat mengesankan bagi saya adalah tari kecak yang diselenggarakan di kawasan Pura Uluwatu jelang matahari terbenam.

Sebagai penggemar tari Bali, saya begitu menikmati pertunjukan itu apalagi menggunakan api sebagai penerang di saat sudah gelap. Api yang sama digunakan sebagai lambang peperangan Rama dibantu oleh Hanuman melawan Rahvana yang menculik Sinta. Magis!

uluwatu
Sita & The Golden Deer in Uluwatu, Bali

Selain di Bali, -terkait dengan pasangan sakral dalam Ramayana ini-, saya bersyukur mendapat satu kali kesempatan menyaksikan pertunjukannya secara gratis. Sebenarnya kejadiannya tidak disengaja. Ketika itu, saya dan keluarga menginap di sebuah kotel di Jogjakarta, yang pada malam harinya diselenggarakan pertunjukan sendratari Ramayana di pelataran restoran. Sebagai tamu hotel, saya memang dapat menyaksikannya, meskipun harus berdiri sepanjang pertunjukan karena hanya tamu yang memesan makan malam yang mendapat privilege tempat duduk. 

Menyaksikan pertunjukan Ramayana versi Jawa ketika itu, saya perlu waktu untuk mencerna adegan-adegan dalam pertunjukan karena, -seperti juga di dalam pertunjukan wayang-, Ramayana versi Jawa ini memiliki adegan yang cukup banyak. Bisa jadi saya terbiasa melihat pertunjukan Ramayana versi singkat sehingga terlupakan adegan-adegan yang memang ada dalam Ramayana. Tetapi paling tidak, saya bisa menangkap maksud tarian.

Ada upaya gagah berani dari Burung Jatayu untuk menyelamatkan Sita, tetapi gagal hingga Jatayu pun harus kehilangan nyawanya. Rahvana kembali melarikan Sita dan menyembunyikannya. Hingga datang utusan dari Rama, yang bernama Hanuman. Dia membawa cincin Rama, sebagai tanda valid sebagai utusan Rama. Melalui pertempuran-pertempuran Rama melawan Rahvana yang dibantu pasukan Hanuman, akhirnya Rama dan Sita bisa kembali bersatu.

Malam itu, pertunjukan berakhir dengan happy-ending, dengan pasangan yang akhirnya berbahagia berkumpul kembali.

Meskipun saya lupa, apakah waktu itu sempat ada adegan pengujian kesucian Sita melalui api. Adegan terakhir ini selalu membuat saya terbelah rasa. Rasanya masygul juga merasa tak sesuai dengan penggambaran sikap ksatria Rama.

DSC05397
The Happy Couple – Rama & Sita

6 tanggapan untuk “Pasangan Sakral Rama dan Sita

  1. Saya ingat waktu pertama kali baca cerita Ramayana, pas sampai di bagian Rama menguji kesetiaan Sinta, saya mikir “ih kok gitu sih?”. Istrinya diculik, eh pas ketemu lagi sama suaminya malah disuruh melangkah melewati api. Tapi anyway, mungkin ada filosofi lain di balik ini yang saya belum tau.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Iya mas Bama… makanya saya selalu terbelah saat sampai di situ. Sebab ada makna sacrifice dan pengabdian yang luar biasa dari seorang isteri/perempuan untuk menjaga nama suami di mata rakyat. Sementara ada juga rasa tidak terima yang manusiawi ya. 😊😊😊

      Disukai oleh 1 orang

  2. Ah.. ternyata kita sama ya.. selalu ada unek2 di bagian itu. Jujur tadinya untuk challenge minggu ini, aku mau nulis tentang Rama dan Shinta. Tapi pas ingat bagian itu, ah ga jadi dah.. *sentimen perempuan pada seorang pria yang rasanya semena2.. 😆😆

    Disukai oleh 1 orang

  3. Pertama kenal cerita Rama Shinta ini kayanya dari tayangan filmnya di tv hahaha.. Baru belakangan baca-baca lagi kisah lengkapnya. Cukup menarik ya bagaimana satu kisah bisa diadaptasi dan dikemas ke dalam beragam budaya yang berbeda. Pernah berkesempatan menonton sendratarinya di Jogja, dan memang menarik banget kisahnya untuk diikuti.

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.