Pesona Bumi Di Tujuh Tempat


Ada banyak cara untuk memperingati hari Bumi, yang secara internasional ditetapkan setiap tanggal 22 April, yang untuk tahun 2020 ini, merupakan peringatan yang ke-50 tahun. Saya memang belum ada apa-apanya sama sekali dalam hal keterlibatan penyelamatan lingkungan hidup di Bumi dan tidak mau muluk-muluk juga, namun paling tidak saya menjaga kebersihan lingkungan di tempat saya berada atau paling tidak menghemat penggunaan energi.

Tetapi yang pasti, saya tidak pernah mengabaikan keindahan bumi, setiap lekuknya, setiap konturnya. Apalagi dinikmati dari ketinggian saat saya terbang dengan pesawat, atau dari jendela bus. Sampai-sampai saya bingung mana yang lebih baik karena semua rasanya terbaik. Tidak ada yang lebih indah dari lainnya karena semua memiliki keindahan dengan ciri masing-masing.

Pantai Selatan Lombok

Indonesia memang salah satu negara yang memiliki garis pantai terpanjang di bumi dan tentu saja artinya memiliki begitu banyak pantai yang indah. Meskipun saya tidak begitu suka pantai (karena panasnya bisa membuat saya sakit kepala), sepanjang hidup baru menginjak pantai yang paling indah ketika berada di kawasan selatan pulau Lombok. Putihnya pantai yang panjang dan amat lebar serta birunya laut serta langit membuat saya serasa di surga, apalagi tak ada orang selain kakak dan saya. Karena masih jaman dulu, saya pun tak punya foto digital pantai itu. Itu pun sisa dari yang terselamatkan dari banjir-banjir di Jakarta. Hasil scan sudah pasti tidak bagus ya, tetapi daripada tidak ada…

*

Himalaya & Everest

Pertama kali ke Nepal 6 tahun yang lalu, saya begitu terpesona dengan keindahan lekuk bumi yang membentuk Himalaya dengan titik tertingginya di Everest yang saya lihat melalui jendela pesawat. Jajaran gunung-gunung tinggi yang diselimuti salju sepanjang abad itu teramat indah, teramat memukaukan. Perjalanan Mountain flight yang memakan waktu satu jam itu benar-benar layak dilakukan dan saya tak pernah menyesal mengambilnya.

Sebagai penduduk negara tropis yang tak pernah merasakan adanya salju, melihat Himalaya dengan saljunya yang tak pernah mencair di puncak-puncaknya, membuat mata ini tak bisa lepas. Sang Pencipta sungguh amat baik terhadap saya memberi kesempatan melihat dan menyaksikan sendiri betapa tinggi gunung-gunung di Himalaya baik dari sisi jendela pesawat maupun menjejaki sendiri kaki pegunungan itu.

Dari ketinggian saya bisa melihat jelas lekuk-lekuk permukaan bumi yang menghias bumi, namun dari tanah tempat saya berjalan berhari-hari, saya menyaksikan keindahan yang berbeda. Rasanya lebih dekat, bersentuhan dan memeluk langsung dengan keindahan itu, bisa membaui harumnya udara pegunungan yang berselimut kabut.

mteverest
Himalaya and Mt. Everest
Gurung Hill
View From Gurung Hill, Nepal

*

Jalur Siq, Petra

Untuk mencapai Petra, -sebuah kota tua dari suku Nabatean yang mendiami lima abad sebelum Masehi-, harus melalui jalur tebing karang yang amat sempit yang dikenal dengan nama The Siq sepanjang 1,2 km. Bagi saya, berjalan di jalur The Siq ini benar-benar mempesonakan. Tebingnya beratus meter meninggi keatas, hampir tegak lurus, berkelok-kelok, berwarna tanah gurun kemerahan, benar-benar membuat saya merasa kecil.

Lekuk alam yang dibuat oleh Sang Pencipta teramat cantik namun sekaligus menyimpan kekuatan dahsyatnya, Meskipun hanya 1,2 km panjangnya, The Siq juga mewakili alam yang bisa bergerak sesuai hukumnya. Saya tak pernah terbayangkan jika batuan tebing itu runtuh, siapapun yang ada di antaranya akan hilang tak bersisa.

*

Raniban, Nepal

Ah, bisa jadi memang saya jatuh cinta akan alam Nepal. Saat pertama kali berkunjung ke Nepal, saya menyempatkan untuk tinggal di sebuah tempat di puncak bukit Raniban. Di tempat itu, saya menjadi saksi keindahan alam luar biasa. Bisa dibilang saya berada di atas bukit dengan pemandangan indah selebar 360 derajat.

Matahari terbit di ufuk Timur dengan sinar lembutnya menerpa lautan awan sepanjang mata memandang, dengan hiasan World Peace Stupa yang berselimut kabut di puncak bukit seberang. Saya menjadi saksi World Peace Stupa yang awalnya terlihat jelas menjadi kabut, karena kabut-kabut dari bawah naik ke atas punggung bukit dan memeluk Stupa.

Saya tak bisa melupakan jauh di sebelah kiri saya berdiri terpampang malu-malu Gunung Macchapucchre yang tingginya hampir 7000 meter berpuncak salju abadi yang sebagian tubuhnya bersembunyi di balik awan.

Siapa sangka di bawah lautan awan yang terhampar luas itu terdapat kota Pokhara yang berada di pinggir danau Phewa yang menjadi landmark kota itu. Alam menunjukkan keindahan pagi hari yang tak terlupakan bagi saya.

raniban11
Sunrise at Raniban

*

Mustang

Ketika orang mendengar Nepal dan Himalaya, yang terbayang adalah salju. Tetapi siapa sangka di bumi yang sama itu, di daerah Mustang, terdapat “calon gurun” karena teramat kering tanpa tumbuhan hijau dan hanya berupa gundukan tinggi batuan dan pasir serta sungai lebar membawa sedimen pasir. Meskipun demikian, saya terpesona dengan keindahan struktur lapisan tanah yang membentuknya.

Jika tak berjalan dengan kaki sendiri, saya pun tak akan percaya bahwa daerah tanah kering berbatu coklat kemerahan tanpa tumbuhan rindang itu bertetangga dengan Himalaya yang masih menunjukkan keindahan gunung-gunung bersaljunya. Tetapi kawasan kering berangin ini, memiliki keindahannya tersendiri. Saya berhenti berkali-kali ketika melakukan trekking di sana, hanya untuk menikmati keindahannya. 

mustang1
Mustang, Nepal
mustang2
Mustang And Kali Gandaki River

*

Burung Terbang Rendah di Danau Inle

Memiliki waktu untuk menikmati keindahan danau Inle saja sudah merupakan kebahagiaan tersendiri, apalagi melewati waktu-waktu magisnya seperti matahari terbit atau terbenam. Bonus tambahan yang luar biasa bagi saya saat berkunjung ke sana tahun lalu adalah menikmati burung-burung kuntul yang terbang rendah, tak jauh dari perahu saya. Mereka menjejak memulai terbangnya dari tumbuhan-tumbuhan yang mengapung di danau. Peristiwa alam yang tak selalu bisa saya dapatkan di kehidupan perkotaan.

Berada di waktu yang tepat di Danau Inle saat itu, dengan burung-burung yang memenuhi tumbuhan yang mengapung kemudian mereka terbang, membuat saya bersyukur karena mendapatkan anugerah begitu banyak. Tak semua orang bisa menyaksikan dari tempat saya berada, begitu dekat, begitu mempesonakan. Bersama dengan makhluk-makhluk yang hidup bersamanya, alam memperlihatkan keindahannya.

inle1
The birds at Inle Lake

*

Laut Mati

Bisa berdiri dengan kaki sendiri di atas tanah yang berada 400 meter di bawah permukaan laut, di pinggir “laut” yang sesungguhnya danau itu, rasanya luar biasa sekali. Menujunya saya merasakan proses menurun yang tak habis-habis hingga membuat telinga sedikit tak nyaman. Tetapi itulah kenyataannya. Bumi yang indah itu memiliki celah yang begitu dalam dan menyimpan air yang terjebak di dalamnya dengan tingkat keasaman yang amat tinggi. Dimana lagi yang bisa menandinginya?

Apalagi ditambah dengan menyaksikan sore yang amat indah dengan sinar matahari yang tenggelam meninggalkan langit berwarna kuning keemasan. Lagi-lagi saya mendapatkan anugerah yang banyak bisa berada di tempat yang menakjubkan ini.

DSC00436
Sunset at Dead Sea

*

Bumi kita memang luar biasa keindahannya.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-16 bertema Beautiful Places On Earth agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. 

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.