Pilgrimage 4: Menuju Tempat Utama


25 Desember 2019

Insya Allah, ini harinya, nanti malam…

Labbaik Allahumma Labbaik, labbaika la syarika laka labbaik inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulk la syarika laka

madinah3
Masjid Nabawi Yang Selalu Dirindukan

Setelah hari-hari sebelumnya saya menikmati ibadah di Masjid Nabawi dan menyempatkan juga berkeliling kota Madinah, maka tiba hari setelah waktu dzuhur akan meninggalkan kota Cahaya, kota yang telah membuat saya jatuh hati. Kenyataan yang membuat hati langsung mengerut, saya akan meninggalkan Masjid Nabi, sebuah tempat yang selalu menenteramkan jiwa. Dan waktunya melanjutkan menuju yang utama. Di antara kerinduan melihat Ka’bah, terselip juga rasa cemas. Kecemasan manusiawi dari diri yang telah bergelimang dosa. Ya Allah, ampuni kami…

Saya mencoba menghilangkan kecemasan itu dengan membantu suami mengenakan pakaian ihramnya. Untung saya sempat mengabadikan Pak Ustadz yang mencontohkan prosesnya waktu manasik. Tips-tipsnya amat berguna (mungkin kapan-kapan akan saya tuliskan cara mengenakan pakaian ihram agar tidak melorot meskipun tanpa sabuk).

Sesaat sebelum meninggalkan kamar, sebersit rasa menyeruak keluar. Ya Allah, ada kerinduan untuk tinggal di Madinah tapi undangan berumroh tak kalah kuatnya. Ada saat datang, ada saat pergi…

Di lobby hotel, tampak orang berkerumun dari beberapa grup travel. Ada yang baru check-in dan ada pula yang check-out seperti kami. Bisnis hotel di Madinah ini berjalan luar biasa, meskipun menurut saya, frontliners hotel ini tidak menerapkan service excellence.

Saya mendekat ke rombongan kami dan disambut oleh wajah-wajah cerah dari para ibu.

Ya ampun Bu, gamisnya bagus sekali, putih bersih… Keren“, kata mereka melihat pakaian yang saya kenakan. Saya tersipu menjelaskan bahwa saya membelinya di toko yang ada di lorong-lorong dekat Masjid. Saya tahu, mereka amat prihatin dengan belum ditemukannya koper saya. Dan mereka ikut gembira dan bahagia melihat saya tampil serupa dengan mereka.

Yang penting, putih dan bersih”, lanjut saya tersenyum lebar.

Teringat ketika membelinya, sepulang dari Mesjid. Suami dan saya secara tak sengaja menemukan lorong yang mengarah ke toko-toko yang mengingatkan saya akan Tanah Abang atau ITC di Jakarta. Saya amat terbantukan oleh mereka yang berjualan dan membolehkan kami membayar dengan uang Rupiah bahkan komunikasinya juga dilakukan dalam bahasa Indonesia. Rasanya tak berada jauh dari tanah air. Bahkan sekilas terlihat baju-baju gamis dan khimar (jilbab panjang) yang dipajang tidak jauh beda dengan yang biasa terlihat di toko-toko di Tanah Abang atau ITC-ITC di Jakarta. 

Setelah diperbolehkan untuk naik ke bus, sang suami mengajak saya segera ke bus. Ia memastikan koper kami yang tinggal satu itu masuk ke dalam ruang bagasi bus. Lalu di atas bus, dengan setengah bercanda saya mengatakan kepadanya bahwa saya kasihan terhadap koper suami yang sendirian tak punya teman. Karena pasangan suami isteri dalam rombongan selalu memiliki dua koper sedang kami hanya punya satu, karena koper saya sedang jalan-jalan sendiri entah kemana. Tanpa berkata suami yang telah mengenakan pakaian ihram itu menepuk-nepuk tangan saya agar tak berpikir lagi mengenai koper.

Tapi saya tidak berpikir soal koper, melainkan analoginya. Bukankah tadi saya berkata tentang koper pasangan ada dua dan yang satu jalan-jalan entah kemana? Bukankah tadi saya mengasihani koper suami? Bisa jadi rasa iba saya tadi menjadi wakil dari rasa iba banyak orang, melihat seringnya suami bersama anak-anak ditinggal saya yang pergi jalan-jalan sendiri (solo-travelling). 

Saya terdiam menggigit bibir mengikuti alur pikiran sendiri, melempar sebuah pertanyaan main-stream yang tak mudah dijawab, apakah memang demikian pandangan banyak orang melihat seorang isteri yang melakukan solo-travelling? Saya sendiri tak mampu berkata setuju maupun tidak, namun hanya bisa menyimpan pemikiran ini ke dalam hati sebagai masukan yang indah.

madinah1
Gedung-gedung di dekat Masjid Nabawi, Madinah

Dari atas bus, kami masih menunggu mereka yang belum check-out sambil menyaksikan denyut nadi kota Madinah yang kebanyakan berlalu-lalang dari dan ke Masjid. Kota yang selalu diberkahi Allah, entah kapan saya bisa kembali ke kota ini. Ah, saya pasti merindukan kota yang damai ini.

Setelah semua lengkap, bus beranjak pelan menuju hotel bintang lima untuk menjemput sebagian dari rombongan kami. Menjemput mereka yang tinggal di tempat yang lebih mahal ini, membuat saya teringat sesuatu. Meskipun mereka memilih hotel yang lebih mahal, bukan berarti mereka tak bisa menunjukkan kebaikan dan ketulusan hati. Salah seorang dari merekalah yang memberi tahu saya pertama kali untuk urusan yang amat krusial. Tempat mencari pakaian dalam!

Di Saudi Arabia, paling tidak di semua pertokoan yang saya masuki, tidak pernah terlihat perempuan yang menjaga toko. Semuanya laki-laki. Sehingga tidak mungkin saya menanyakan apakah mereka menjual pakaian dalam perempuan. Lalu, seandainya ada, bagaimana saya harus menjawab bila mereka menanyakan ukurannya? Tidak, saya memang kehilangan koper, tetapi saya tidak kehilangan kewarasan untuk mengobral hal-hal yang amat personal itu.

Lalu pertolongan itu datang dari seorang ibu yang menginap di hotel berbintang lima itu. Dia berbisik agar saya mencoba melihat-lihat di sebuah supermarket di dekat Masjid. Jika memang tidak ada, maka harus cari di mal yang untuk mencapainya perlu naik taxi. Saya percaya pertolongan itu datang dari arah mana saja. Dan benarlah, saya menemukan beberapa pakaian dalam yang cocok tanpa harus bertanya-tanya dengan laki-laki kemudian meminta suami yang membayarnya ketika berada di kasir. Selesai urusan.

Mengingat peristiwa itu, saya tersenyum mengangguk kepadanya ketika melihat mereka sekeluarga naik ke atas bus. Mata yang berbicara, sama-sama mengerti dan saling memahami satu sama lain.

Bus bergerak terus meninggalkan kota Madinah. Saya menguatkan hati dan janji untuk memenuhi panggilanMu ya Allah…

madinah2
Gedung-gedung di Kota Madinah

Dzul Hulaifah (Bir Ali) 

Dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah meninggalkan Madinah, sampailah kami di Dzul Hulaifah atau kini lebih dikenal dengan nama Masjid Bir Ali, tempat kami mengambil miqot (batas/awalan memulai ibadah utama Umroh dan mengucap niat Umroh). Pak Ustadz mengingatkan bahwa di Masjid ini selalu padat dipenuhi Jamaah sehingga jamaah harus hati-hati dan ingat arah ke titik kumpulnya.

Langit terlihat amat biru di Dzul Hulaifah, teramat kontras dengan warna putih dinding Masjid. Segera saja kami semua melaksanakan shalat sunnah 2 raka’at dan mengucap niat Umroh. Kemudian saya menunggu di titik kumpul. Sejauh mata memandang hampir semua jamaah diliputi pakaian ihram putih. Membuat berdegup saat terlintas bayangan akan manusia di padang mahsyar.

birali2
Biru Langit di atas Masjid Bir Ali

Setelah beberapa saat bus melanjutkan perjalanan lagi menuju Mekkah Al Mukarramah yang memakan waktu sekitar enam jam. Tepat sebelum berangkat Pak Ustadz mengulang mengucapkan niat Umroh yang diikuti jamaah lalu kalimat-kalimat talbiyah dikumandangkan lagi.

Saya memandang ke jalan di luar yang lebar, halus dan penuh rambu. Enam jam perjalanan dengan bus yang dilengkapi pendingin udara. Duduk di atas reclining seat dan tersedia makan serta minum. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Di luar jendela terpampang alam yang kering dan tandus dengan gurun batu di sana sini membuat saya membayangkan perjalanan Rasulullah bersama para sahabat dan keluarganya empat belas abad yang lalu saat melakukan ibadah dari Madinah ke Mekkah. Dulu tak ada jalan rata yang mulus dan lebar. Tak ada kendaraan yang sejuk, bahkan tak ada bangunan batu ber-AC untuk beristirahat. Begitu sulit, begitu banyak kendala dan hambatan alam. Perjalanan hanya bisa dilakukan dengan menggunakan unta atau kuda, atau bahkan berjalan kaki. Berhari-hari, melewati malam yang kering dan siang yang amat terik.

Ya Rasul, Ya Nabi, begitu lama jaraknya, baru bisa kuikuti jejakmu…

Mekkah Al Mukarramah

Waktu terus berjalan, gelap mulai menyelimuti. Pak Ustadz bercerita banyak hal namun kemudian ia berkata, “Alhamdulillah kita telah sampai di batas kota Mekkah”.

Saya melihat perubahan pemandangan di luar jendela, karena sudah banyak bangunan yang menunjukkan sebuah kota. Lampu-lampu jalan yang terang.

Setelah beberapa menit, pak Ustadz kembali berkata,”perhatikan sebelah kiri…”

Otomatis semua jamaah menoleh ke kiri ke luar jendela. Terlihat ada yang terang dan tinggi di kegelapan malam. Pak Ustadz melanjutkan, “ke sanalah tujuan kita semua. Itulah jam yang ada di Masjidil Haram”.

Saya menggigit bibir, terasa sakit. Saya benar-benar berada di Mekkah! 

Mata tak terasa menjadi basah. Allah telah menggenapi janjiNya sehingga saya bisa sampai ke kota Mekkah setelah sekian puluh tahun hidup sebagai manusia. Saya juga menggenapi janji kepada ayah mertua untuk sampai ke Mekkah sepeninggalnya, meskipun perlu waktu bertahun-tahun. Juga janji kepada almarhum Papa bahwa saya bisa sampai ke Mekkah. Kepada almarhum Opa dan almarhumah Oma yang meneladani saya semasa kecil tentang menjalankan shalat. Dan Mama, yang telah terlebih dahulu berhaji dan menceritakan keindahan dan keajaiban Tanah Suci. Airmata saya meleleh tanpa bisa dihentikan.

Saya tak menyadari arahnya bus berjalan, karena masih terpesona dengan bayangan jam di Masjidil Haram. Tapi mendadak bus memasuki terowongan yang menutupi semua pemandangan. Rupanya rombongan yang menginap di hotel bintang lima diturunkan lebih dahulu. Keluar dari terowongan yang terlihat hanyalah manusia dimana-mana berjalan kaki. Kepadatannya melebihi apa yang saya lihat di Madinah. Luar biasa.

Dan sampailah kami di hotel, yang juga penuh dengan manusia. Tidak heran, karena bulan Desember merupakan peak season untuk melakukan umroh. Pembagian kamar dilakukan dengan cepat lalu dilanjut dengan makan malam.

Setelah makan malam itu, kami semua akan berjalan kaki menuju Baitullah.

Waktunya tiba untuk Umroh!

DSC00341
Clock Tower

 

2 tanggapan untuk “Pilgrimage 4: Menuju Tempat Utama

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.