Senyum Seorang Pejuang


Sudah lama, -sekitar dua tahun memendamnya-,  saya ingin bercerita tentang dia, tentang perjuangannya yang luar biasa di usia yang masih amat belia. Tentang perjuangan yang tak mudah namun perlu dijalaninya. Perjuangannya membuat saya bercampur aduk rasa, termasuk, tentu saja bangga sekali kepadanya.

Dia, Husna, begitu saya memanggilnya, adalah keponakan dari belahan jiwa saya. Ayahnya adalah adik laki-laki satu-satunya dari suami saya. Otomatis Husna menjadi keponakan saya juga dan memanggil saya Bude (meskipun membuat saya merasa gede beneran secara fisik 😀 )

Berbeda dengan keluarga saya yang dibesarkan di kota secara Barat dan cenderung hedonis, suami saya berasal dari keturunan keluarga Jawa yang kehidupannya sederhana dan bersahaja. Kecuali suami yang berpindah ke Jakarta dan seorang kakak perempuan yang mengikuti suaminya, seluruh kakak dan adiknya masih menetap di Jogja, termasuk ayah dari Husna.

Ayah Husna seorang guru tetap, yang pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo akhirnya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Ia harus menghidupi seluruh anggota keluarganya, termasuk Husna tentunya, dengan gaji seadanya yang diterimanya. Meskipun demikian, adik suami saya ini selalu berucap syukur atas pendapatannya itu.

Ibu Husna, hmm… Allah lebih mencintainya daripada ia menemani keluarganya di dunia. Setelah perjuangan bertahun-tahun dari penyakit kanker yang menyerangnya, mba Yati, begitu saya memanggilnya, akhirnya dipanggil pulang ke haribaanNya sekitar tiga atau empat tahun lalu. 

Ibu Husna juga seorang pejuang. Ia menjalankan proses kemoterapi yang berat secara disiplin. Kanker otak tak membuatnya kalah. Ia sukses menjalankan seluruh prosesnya. Tapi ternyata takdir berkata lain. Kanker di otak yang telah berhasil diobati, ternyata menyebar ke paru-paru pada saat ia kontrol berobat. Kali ini, tubuhnya yang telah ringkih karena pengobatan kemoterapi sebelumnya, tak mampu mengulang keberhasilan pengobatan berikutnya. Ia berpulang, meluruhkan seluruh sakitnya.

Meskipun diliput berbagai rasa antara sedih dan ikhlas atas kepergian mba Yati ini, saya selalu mengangkat topi kebanggaan untuknya. Ia merupakan teladan seorang penderita kanker untuk terus berjuang dalam hidup. Sesuatu yang dia turunkan untuk anaknya, Husna.

DSC05633
The brave girl

Husna sendiri menderita skoliosis atau tulang belakang bengkok sejak kecil. Dan skoliosis ini menganggu aktivitasnya. Tidak jarang, ia merasa sesak nafas karena bentuk skoliosis yang dideritanya semakin menekan paru-paru. Namun, belia yang baru saja lulus SMP itu tak mau mengalah dari ketidaksempurnaan tubuhnya. Dia tetap berjuang, sepertinya bundanya, untuk menikmati hidup.

Lalu, tepat permulaan tahun ajaran baru tahun 2018 lalu, dia mendapat jatah operasi dari BPJS setelah menunggu lama.

Lagi-lagi, antara gembira, takut, cemas, berharap saat mendengar berita Husna akan dioperasi tulang belakangnya. Bagi saya yang awam akan tindakan medis, operasi yang akan dijalankan oleh Husna ini bukan sembarang operasi, ini pastilah operasi besar yang amat berisiko. Dari sekolah dulu, saya belajar bahwa tulang belakang merupakan tempat syaraf-syaraf dari otak, lalu jika tulang ini diatur kembali, berarti termasuk syaraf-syarafnya kan? Saya langsung mules membayangkannya… (teringat waktu sesak nafas saat akan menjalankan operasi sesar saja saya sudah senewen, apalagi ini..)

Jadilah, Husna menjalankan operasi berjam-jam di Jogja dan Alhamdulillah berjalan lancar. Hanya sayangnya saya dan suami tidak dapat menjenguk setelah ia operasi.

Sebagai seorang ibu, dari jauh saya mendoakan khusus untuknya, untuk seseorang yang menjalankan tindakan medis yang berisiko tanpa kehadiran ibu kandungnya. Saya tak bisa membayangkan situasinya yang tanpa ibu disampingnya saat ia sadar meskipun seluruh keluarga besar mendukungnya. Dan nyatanya ia seorang pejuang seperti bundanya! Ia kuat, ia berani, ia berjuang…

Secara bergantian, kakak dan adik serta ayahnya menjaganya, melawan rasa nyeri dan kesulitan bergerak di rumah sakit selama masa pemulihan hingga akhirnya ia diperbolehkan pulang ke rumahnya.

DSC05636
The Smile

Pada kesempatan pertama bisa menjenguknya, suami dan saya terbang ke Jogja. Meskipun saya melarangnya untuk keluar kamar, ia berkeras lalu berjalan pelan untuk duduk di kursi yang agak tinggi. Ia harus bersikap tegak karena ada alat penyangga yang dikenakan di balik pakaian longgarnya. Ia tetap tersenyum menampakkan kemudaannya.

Sambil senyum malu-malu, ia bercerita diselingi kakak dan adiknya. Bercerita tentang nyeri setelah operasi tetapi didukung penuh oleh keluarga besarnya, bercerita tentang semangatnya untuk sembuh dan kembali bersekolah. Bercerita banyak hal tentang keberanian, tentang keikhlasan dan berserah kepadaNya, tentang tetap positif terhadap semua yang terjadi. Juga tentang bersyukur atas begitu banyaknya perhatian dan bantuan kepadanya. Semuanya membuat hati saya mengerut bahagia. Orangtuanya telah berhasil memperkaya jiwa dan hatinya. Saya sama sekali bukan apa-apanya.

Ia tak gentar, untuk kembali dibonceng naik motor meski katanya, minta jalan pelan-pelan saat melewati polisi tidur karena rasanya nyeri sekali. Ia juga berjanji kepada gurunya untuk berusaha mengejar pelajarannya, meski ia mendapat keringanan untuk belajar sekuatnya, sepanjang ia bisa duduk tegak. Tetapi pernahkah kita membayangkan berdiri, duduk dan melakukan apapun dengan punggung lurus? Berapa lama kita mampu melakukannya dalam sehari? Bagaimana jika ditambah dengan rasa nyeri yang teramat sangat? Husna telah melaluinya, sebagai warna dari kehidupannya.

Percaya tidak, dia telah membuat saya menggeleng-gelengkan kepala mengaguminya ketika saya tanya apa yang menyenangkannya setelah operasi.

Husna tersenyum menjawab sambil melirik kakak perempuannya,

“Sekarang aku tidak kalah tinggi dari dia.”

Itu senyum kemenangan atas perjuangannya.

DSC05635
Husna (left) & her sister, Fi’a

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti tahun 2020 minggu ke-15 bertema Smile agar bisa menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. 

2 tanggapan untuk “Senyum Seorang Pejuang

  1. Husna keren! Semoga lekas pulih kembali yaaa…
    Beberapa tahun yg lalu, sahabatku juga operasi skoliosis dan setelahnya dia jadi tambah tinggi 4 cm. Sempat ragu waktu mau menikah dan punya anak, tapi Puji Tuhan, dia dapat melaluinya dengan baik. Ayo Husna.. semangaaatt!!

    Suka

    1. Tadinya aku mau buat tulisan yang lain untuk challenge ini Na, tetapi setelah dua tiga paragraf trus aku ganti tentang Husna ini. Sebenernya buat pembelajaran bagi aku juga sih Na, buat ngingetin diri sendiri. Karena banyak orang udah banyak banget yang berjuang “gila-gilaan” yang harusnya diteladani.. (update: kayaknya aku balasnya di komen baru Na sehari setelah dirimu menulis komentar, jadi dirimu pasti kayak gak dibalas hihihi maaf ya… ku lagi siwer pastinya)

      Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.