Mewujudkan Angan, Melatih Tangan


Sejak kecil, tangan saya ini tidak terlalu trampil untuk pekerjaan-pekerjaan tangan. Bisa jadi otot motorik halusnya tidak berkembang dengan baik. Mungkin memang bentuk tangan saya yang cenderung gempal, jari-jarinya pendek dan gendut. Pastinya bukan tangan untuk pemain piano atau pemain gitar. Pasti panjang jarinya tidak lulus untuk dua ketrampilan itu.

Meskipun begitu, sejak kecil saya bisa menari, meskipun jemari saya tidak masuk kategori jari penari. Bukankah jari penari itu panjang dan lentik, sedangkan jemari saya pendek dan gendut? Tapi saya berpedoman, anjing menggonggong, kafilah berlalu. Saya terus saja menari meskipun jari saya sebenarnya menggemaskan 😀 😀 😀 karena jika diperhatikan tangan saya ini seperti tangan balita, yang panjang jari sama dengan panjang telapaknya.

Nah, bisa jadi karena itu pula, nilai-nilai prakarya, kerajinan tangan, melukis dan semua hal terkait ketrampilan jari tangan selama sekolah tidak pernah outstanding. Biasanya “B aja“, kata kalangan millenial sekarang.

Tetapi saya bersyukur memiliki jari tangan balita itu, karena saya tetap bisa bekerja dengan baik hingga kini. Saya sendiri tidak mempermasalahkan dengan jari tangan balita ini. Bahkan kadang, kalau iseng, saya sering menertawakan penuh cinta terhadap tangan saya. Lucu dan menggemaskan!

Terlepas dari ketidakmampuan saya membuat karya-karya yang menggunakan otot motorik halus, belakangan ini, entah kenapa saya kembali menghidupkan angan-angan untuk bisa menghasilkan sesuatu dari tangan sendiri. Mewujudkan sesuatu. Bisakah?

Merajut.

Merajut adalah salah satu ketrampilan tangan yang ilmunya saya dapatkan dari almarhumah Oma (nenek) saya karena memang di masa kecil saya dititipkan pada Oma karena orangtua bekerja. Saya hanya bisa menggunakan alat hakpen untuk merajut (crochetting) meskipun Oma juga mengajarkan untuk merajut dengan dua tangkai (knitting). Untuk yang terakhir ini saya menyerah, karena benangnya selalu lepas dari tangkainya.

Meskipun merajut ada sedikit hitung-hitungannya, saya tidak pernah menggunakannya. Dulu saat di sekolah saya merajut mengandalkan rasa saja dan tak pernah menghitung. Alhasil, taplak bundar saya selalu bergelombang penuh lipit meskipun saya tidak terlalu memperdulikannya. Bahkan tarikannya pun saya tidak peduli, kadang lebar, kadang ketat. Akibatnya yaaa… bisa dilihat ada lubang yang besar dan ada yang kecil. Dan jika hasil karya itu dibalik, bagian belakangnya lebih kacau lagi. Dan tentu saja guru saya punya pertimbangan sendiri untuk bilang hasil kerajinan tangan saya tidak sempurna! Bandelnya, bagi saya merajut itu proses senang-senang dan proses kreatif. Saya ingin bebas dan tidak mau ribet dengan hitungan, saya tidak mau ribet dengan tarikan. Saya ingin menghasilkan dengan tangan yang bergerak tanpa saya perintah-perintah. Perintah untuk stop, untuk pelan-pelan, untuk dihitung, atau dibatalkan jika salah.

Dan sayangnya kebiasaan itu terbawa hingga kini. Almarhumah Oma pasti jengkel melihat kesewenang-wenangan saya merajut. 😀

Kesewenang-wenangan saya yang lain terkait merajut adalah tidak sabar dan tidak tekun. Akibatnya, jika saya sudah jenuh, saya tinggalkan dan lupakan. Angan-angan sih membuat taplak meja bundar yang cukup besar. Tapi hasilnya kebanyakan hanya satu alas selebar tatakan gelas!

Mengenal kelemahan saya itu, maka saya meninggalkan angan-angan untuk merajut. Merasa bisa dan tahu ilmunya tapi malas menghasilkan. Sombong banget kan…

Nah sekitar setahun lalu, ada kawan saya yang memberi tas tangan dan topi rajutan. Dari dialah mulai timbul lagi angan untuk merajut. Berhasil! Tapi hanya berhasil beli benang dan hakpen (karena seluruh peralatan merajut saya sudah entah kemana!). Itupun benang coba-coba dan hakpen ukuran besar. Setahun lalu itu, dengan segala motivasi, akhirnya saya mulai lagi merajut meskipun, lagi-lagi, tanpa hitungan. Suka-suka saja. Hasilnya tatakan gelas lagi! 😀 😀 😀

Desember lalu, sebelum umroh, lagi-lagi saya mencoba mewujudkan angan, masak sih saya tidak bisa menghasilkan rajutan selain tatakan gelas? Kali ini saya serius menantang diri. Harus bisa, hasilnya harus lain. Begitu jadi bundaran setatakan gelas, saya naikkan barisnya yang akhirnya membentuk mangkok. Ah saya gembira juga, meskipun masih menggunakan gaya suka-suka.

Sepulang Umroh, lalu dengan kesibukan kerja, pekerjaan rajutan saya terbengkalai begitu saja, Kemudian tiba-tiba dunia dihebohkan dengan penyebaran virus corona, kegiatan WFH diberlakukan sehingga membuat saya memiliki waktu lebih banyak. Saya merajut lagi. Dan akhirnya jadi sebuah tempat tumbler lho. Tanpa pola, tanpa hitung-hitungan.

Horeee… berhasil  juga jadi tempat tumbler, bukan tatakan gelas… 😀 😀 😀

Dan semoga saja, saya berhasil menyelesaikan lagi masker rajut yang baru saya mulai kemarin.

rajut
A Tumbler holder

Menjahit.

Serupa dengan merajut, proses ketrampilan menjahit saya tidak maju-maju dan selalu meninggalkan hasil karya yang tidak selesai. Untuk melanjutkannya, sungguh malas. Ada di tempat jahitan, mukena yang tidak selesai, rok yang tidak selesai, blus yang tidak selesai. Lucunya, duluuuuu jaman masih kuliah dan pastinya belum punya mesin jahit, saya bisa menyelesaikan celana panjang kerut yang saya selesaikan dengan jahitan tangan. Tapi itu duluuuu….

Dan kemarin, gara-gara persediaan masker sudah menipis, akhirnya saya mengambil keputusan untuk menjahit masker sendiri. Sayangnya, tempat peralatan jahit yang kecil kompak dan lengkap itu ada di koper saya yang hilang dalam perjalanan Umroh lalu. Yang tertinggal sekarang hanya pelengkap. Saya bongkar-bongkar, ternyata masih ada kain sisa yang bisa dibuat masker. Apalagi masih ada kain katun putih yang bisa digunakan sebagai pelapis. Lengkap juga bahannya.

selfmade mask
The process to make a face mask

Alhasil, dalam sehari saya sibuk berkutat dengan jarum dan kain. Tadinya saya siap menggunakan mesin jahit. Tetapi akhirnya saya lebih memilih menjahit dengan tangan. Meskipun masih berantakan disana-sini, masker muka 3 lapis untuk saya selesai juga. Bahkan anak-anak minta dibuatkan. Duh, gak tau ya mamanya dengan susah payah membangun motivasi!

Mudah-mudahan dengan selesainya masker itu, selesai juga masker yang dikerjakan dengan mesin jahit, selesai juga mukena, selesai juga rok dan blusnya. (Duh yang pakai hitung-hitungan pasti belakangan banget deh!)

my handmade mask
My self hand made mask

Merangkai manik-manik

Rasanya pekerjaan kerajinan tangan yang paling mudah bagi saya adalah merangkai manik-manik. Dasarnya mungkin karena saya suka gelang. Saya punya cukup banyak koleksi gelang dari manik-manik yang warnanya bisa disesuaikan dengan warna pakaian. Meskipun pada akhirnya biasanya saya lebih suka mengenakan warna yang standar, hitam, merah, biru atau silver.

Kegemaran saya merangkai manik-manik bertambah dengan adanya koleksi dari Mama karena dulu orangtua sempat dinas beberapa waktu di Kalimantan Selatan dekat dengan Banjarmasin. Jadi koleksi manik-manik Mama sebagian besar diberikan kepada saya (secara saya anak perempuan satu-satunya deh!)

Tak hanya Mama. Pernah sekali waktu ada seorang teman memberikan saya gelang manik-manik merah dan hitam yang bentuknya “bukan saya banget”, meskipun bentuk manik-maniknya cukup cantik tapi sayang rangkaiannya “mengerikan”. Akhirnya sesampainya di rumah, saya gunting gelang pemberian itu lalu saya rangkai ulang sesuai dengan gaya saya. Teman saya yang memberikan tidak pernah sadar gelangnya sudah berubah bentuk hehehe..

Sekarang ini, berhubung masih musim penyebaran virus corona yang bisa menempel di berbagai perhiasan, jadi untuk sementara waktu saya tidak mengenakan aneka gelang manik-manik itu. Mungkin nanti jika virusnya sudah lebih bisa dikendalikan.

my beadscraft
some of my beadscraft

*

Hmmm…. Setelah dipikir-pikir, tahun ini rasanya saya sedikit naik tingkat dalam hal kerajinan tangan, yaitu bisa menghasilkan sesuatu. Menjadikan sesuatu menjadi ada. Angan-angan sederhana yang menjadi nyata, meskipun melewati puluhan tahun waktunya.

Ah, tidak apa-apa kan… Bukankah semua itu ada waktunya? Yang penting kita mulai saja, kadang memang terlambat lamaaa sekali, tetapi pasti ada pembelajarannya kan?

Yuk… let’s do it

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-13 ini bertema Handicraft agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.