Siapa Dia Yang Berjemur Di Depan Gua


Saya baru saja meninggalkan pintu gua Ashabul Kahfi yang terletak sekitar 10 km sebelah Timur kota Amman, -ibukota Jordan-, dan masih terpesona dengan kawasan bersejarah yang kisahnya terabadikan di kitab suci Al Qur’an dalam Surat Al Kahfi itu, surat yang biasa dibaca umat Muslim setiap hari Jumat itu. Rasanya belum mau melepas pandang dari pintu gua seukuran badan manusia yang baru saja saya tinggalkan itu. Entah kenapa saya jadi teringat saat berada di kawasan Lumbini enam tahun lalu.

Ada kesamaan di antara keduanya yakni berupa reruntuhan peradaban yang masih terpelihara hingga kini, melewati masa ratusan tahun hingga milenia. Seakan alam menjaganya, melindunginya dari prahara-prahara dunia yang tak pernah berhenti. Persis seperti permata berharga yang tak lekang oleh masa. Ada aura khas yang  menggetarkan rasa. Seperti menguarkan atmosfir adanya kehidupan yang menjadi sejarah di antara batu-batu kuno itu.

Ashabul Kahfi sendiri mengisahkan tentang tujuh pemuda yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga tertidur lelap di dalam gua selama 309 tahun menurut kalender hijriah. Konon ketujuh pemuda yang taat mempertahankan keimanannya itu melarikan diri dari kekejaman Raja Dakyanus yang saat itu berkuasa dan telah menjatuhkan hukuman mati kepada siapapun yang menentang dirinya, termasuk ke tujuh pemuda itu karena senantiasa mempertahankan keimanannya. Dan ketika mereka terbangun 309 tahun setelahnya, mereka terkejut karena keadaan telah berubah sama sekali dan tidak ada lagi pasukan Raja Dakyanus yang mengejar mereka. 

Saat itu, rasanya saya masih terpukau dengan peninggalan-peninggalan sejarah pada dinding dekat pintu gua, yang dihiasi oleh simbol-simbol Romawi. Sungguh saya belum puas menikmati keluarbiasaan itu ketika terdengar arahan dari tour leader kami untuk segera berpindah menuju Masjid yang ada di dalam kawasan yang sama untuk melaksanakan kewajiban ibadah agar bisa melanjutkan perjalanan (Suatu saat nanti, InsyaAllah, saya akan menuliskan kisah perjalanan di Amman ini)

Saat itulah saya melihatnya. Hewan berbulu di depan gua. Cantik.

Meskipun matahari telah condong ke Barat, panasnya tak lagi gahar. Bisa jadi suhu udara kota Amman dua hari jelang Tahun Baru 2020 itu memang teramat sejuk. Hewan berbulu, -yang oleh sebagian teman-teman penggemar biasa disebut Anbul, alias Anak Bulu-, duduk di atas bebatuan, menghadap ke Barat.

DSC00392

Salahnya dia duduk menghadap ke Barat sehingga ia teramat silau terpapar sinar matahari jelang sore. Ia memicingkan matanya, tak bisa membuka mata lebar-lebar karena sinar matahari terlalu terang. Tapi entahlah, bisa jadi ia justru memilih posisi duduk menghadap Barat. Sepertinya terasa hangat. Sepertinya ia memang mencari matahari. Kasarnya, berjemur sore.

Saya bukanlah seorang penggemar kucing, bukan juga pembencinya. Tetapi ketika melihat seekor kucing yang “kesilauan” dan bersikap santai tak peduli dengan lingkungan lainnya, duduk di atas batu di kawasan wisata bersejarah, terus terang saja saya merasa terbawa oleh sikapnya yang menyenangkan. Entah kenapa, saya teringat turis-turis kulit putih yang sering berjemur di pantai mencari sinar matahari agar kulitnya lebih tanned.

Warna kulit si Kucing Cantik ini tak terlalu jauh dari warna-warna batuan yang menjadi latar belakangnya. Tetapi bagaimana pun sikapnya yang “kesilauan” itu menggugah rasa gembira saya. Lucu sekali, karena seumur-umur saya tak pernah melihat seekor kucing menantang matahari dan kesilauan sendiri. (Ah, kamu Cing, harusnya pakai kacamata cengdem!)

Saya tidak bisa berlama-lama menatap si Kucing Cantik ini karena tour leader lagi-lagi mengingatkan untuk melanjutkan perjalanan.

Meskipun masih gemas dengan sikap si Kucing Cantik ini, saya harus melepaskan pandangan darinya.

Sampai bertemu lagi, Cing…

Sambil melangkah saya terpikir, apakah si Kucing Cantik itu juga merasakan aura bersejarah dari Gua Ashabul Kahfi seperti yang saya rasakan tadi? Siapa sebenarnya si Kucing ini?

Ah, jangan-jangan si Kucing Cantik ini….

Segera saja saya membuang pikiran nyeleneh yang muncul dan bergegas menyusul rombongan.


 

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-12 ini bertema Kucing (Cat) agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

6 tanggapan untuk “Siapa Dia Yang Berjemur Di Depan Gua

  1. Kucingnya cakep, Mbak.
    Jadi kepikiran, di sekitar gua itu apa banyak rumah penduduk atau tempat jual makanan, seperti warung kalau disini, si kucing dapat makan dari mana ya?
    Ya itu Mbak, jangan jangan…

    Salam,

    Disukai oleh 1 orang

    1. Nah itu Kang, di sekitar sih gak ada ya rumah-rumah penduduk. Ada sih tapi kan jauuh juga kalo pakai ukuran kucing 🙂 tapi apa dari Masjid ya?
      Hahaha… bener… bener kang, emang mungkin jangan-jangan…. hahahahaha…

      Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.