Belajar dari Mendung


Bisa jadi banyak dari kita yang baru bisa menghargai sesuatu yang kita miliki setelah sesuatu itu hilang. Atau mungkin lebih tepatnya kita memang menyadari memiliki sesuatu itu namun tak pernah menyangka akan hilang. Take it for granted, kata orang bule.

Seperti sekarang ini, saat Covid-19 merajalela hampir seluruh dunia menerapkan begitu banyak batasan sehingga kita terhenyak. Begitu banyak kebebasan dan kenikmatan yang telah kita rasakan selama ini dan kini, blassss… tiba-tiba semua berbatas.

Tiba-tiba kebebasan kita berdekatan dengan orang-orang tersayang menjadi sesuatu yang mahal karena mencegah penularannya. Kebebasan kita ngobrol, chit-chat, berdekat-dekat, berpelukan, bersalaman menjadi berjarak. Bahkan berkumpul untuk menyerukan puji-pujian kepadaNya, berdoa ditiadakan sementara waktu. Kenikmatan kita bersosialisasi menyambung silaturahmi mendadak berjarak bahkan sampai tak ada tatap muka secara fisik. Makhluk sosial itu kini menjadi berjarak.

Mungkin lebih dari trilyunan virus corona merambah ke hampir setiap negeri di bumi ini, menyerang satu lalu menjalar kemana-mana, menulari yang bersentuhan, menyerang apa yang menjadi dasar kehidupan manusia di bumi ini. Manusia sebagai makhluk sosial yang saling berhubungan satu sama lain. Seakan memaksa manusia menjadi makhluk anti sosial jika tidak ingin terpapar COVID-19.

Tak ada lagi istilah, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Yang belakangan muncul adalah bersatu kita runtuh, menjauh kita utuh. COVID-19 memaksa kita menjadi makhluk berjarak dengan manusia lain. Virus yang ukurannya kecil banget sekitar seratusan nanometer ini pelan-pelan berhasil menjadi penjajah baru akan kehidupan manusia dengan menerapkan, devide et impera versi terkini antara manusia satu dengan yang lain. Bayangkan, sebagai penyerang, virus corona bisa jadi memang punya tujuan hanya dua, menjarakkan manusia, kalau memang manusia tidak mau mati. Begitu berat pilihannya!

Langsung saja saya teringat kisah tentang kekuatan mematahkan sapulidi. Kita akan lebih mudah mematahkan batang-batang lidi yang terlepas satu sama lain daripada mematahkan seikat sapu lidi yang terikat kuat.

Bukankah sekarang ini kita seperti sapu lidi yang terlepas ikatannya agar selamat tidak terpapar virus COVID-19?

Ah saya teringat lagi, jaman dulu ketika virus komputer baru muncul dan bisa menyerang melalui jaringan komputer. Salah satu jalan goblok-goblokan yang bisa dilakukan untuk mengatasi virus yang merusak file itu adalah dengan melepaskan komputer dari jaringan, membuatnya menjadi stand-alone lalu diobati dengan anti-virus.

Dengan situasi sekarang ini, kita tak ubahnya seperti komputer-komputer stand-alone dan harap-harap cemas dengan keefektifan obat yang diberikan atau mencoba bertahan dengan isolasi mandiri, sambil berdoa semoga COVID-19 ini tidak semakin menyerang bagian tubuh kita yang sudah lemah karena penyakit bawaan.

Covid-19 ini sungguh seperti awan hitam gelap yang menggantung. Menakutkan.

 

mendung1
Heavy Clouds over The Beach

Namun yang pasti, manusia hidup itu bukan hanya fisik saja!

Bukankah kita memiliki kehidupan batiniah di dalamnya? Ada pikiran, ada rasa, ada jiwa dan ada ruh di dalam setiap diri manusia. Dan tentu saja COVID-19 tidak bisa menyerang secara langsung di bagian ini kecuali, disadari atau tidak, manusia sendirilah yang membuatnya terserang.

Jika saja kita hidup dengan keseimbangan raga, pikiran, rasa dan kehidupan spiritual, rasanya Covid-19 bisa menjadi tak berdaya. Bukankah seorang manusia itu diciptakan dengan sistem daya tahan yang begitu hebat? Tak jarang rasanya kita mendengar berita gembira tentang kesembuhan seseorang dari sakitnya yang tak terperikan hanya karena semangat sembuh yang begitu luar biasa? Tidak sedikit teman saya yang masuk ke dalam kategori ini, yang membuat saya menarik nafas panjang mengaguminya. Namun di sisi lain, dengan tak seimbangnya raga, pikiran, rasa dan kehidupan spiritual, bukankah kita juga sering mendengar cerita orang benar-benar menjadi sakit meskipun tak ada satu pun penyakit ditemukan dalam tubuhnya melainkan hanya dari sikap paranoidnya?

Hebatnya manusia dengan akal pikiran yang diberikan kepadanya. Manusia mampu mengatasi jarak fisik yang tiba-tiba diberlakukan itu. Meskipun kini berjauhan, ada saja cara untuk mengatasinya. Dengan saling menghibur di masing-masing balkon seperti yang terjadi di Italy atau dengan teknologi. Karena dengan teknologi, kehidupan sosial manusia tetap bisa berlangsung meskipun tidak sempurna. Rasanya aneh, tidak nyata, tak sama, tak tergantikan dengan fakta sesungguhnya. Namun paling tidak, manusia tidak kehilangan esensinya untuk saling berhubungan satu sama lain, meski tak saling menyentuh.

Kini baru kita sadari, betapa besar nilai bisa berkumpul, berdekatan bahkan bersentuhan antar manusia tercinta. Lalu, dengan COVID-19 ini, bukankah kita disadarkan akan pentingnya hal itu?

Pada akhirnya, seorang manusia dalam kesendiriannya dalam jarak-jarak yang diberlakukan terhadapnya, membuat ia kembali kepada fitrahnya, antara manusia dan Penciptanya, Sang Penguasa Kehidupan. Belajar menghargai setiap nikmat yang ada dalam kehidupannya, hal-hal kecil yang dulu ada dan berkelimpahan, kini sedang dibatasi. Nikmat yang ditunda.

Kini kita belajar berpuasa atas segala nikmat yang telah diberikan olehNya dan belajar bersyukur atas semua yang masih diberikan olehNya.

Bisa jadi memang sudah sifatnya manusia yang harus mengalami ‘kegelapan’ hidup terlebih dahulu agar bisa menghargai semua hal-hal yang terlihat kecil namun mendasar, yang selama ini diperlakukan oleh manusia dengan cara take it for granted

Bukankah dari keganasan penyebaran virus itu kita dipaksa menerima kondisi apapun? Bukankah di tengah wabah yang terus menyerang tanpa henti itu, dalam kesendirian dalam jarak-jarak ini, kita bisa bersimpuh, bersujud memohon ampun kepadaNya atas segala kelalaian untuk tetap bersyukur terhadap nikmat yang diberikan olehNya?

Seperti yang dialami hampir di seluruh dunia, awan mendung COVID-19, meski kecil dan tak terlihat oleh mata, kini menjadi pengingat akan nilai kehidupan yang sesungguhnya. Dan seperti semua hal fana lainnya, serbuan Covid-19 pun memiliki akhir. Kita harus terus memperpanjang sabar, memperkukuh iman tanpa lepas ikhtiar semaksimal mungkin hingga habis waktunya untuk COVID-19 dan obat pemusnahnya ditemukan.

Laksana awan gelap menaungi bumi, wabah penyakit COVID-19 perlahan akan menghilang dan CahayaNya yang tak pernah berhenti menyinari kehidupan manusia akan menembus awan gelap itu dan membuat terang kembali tempat-tempat yang sebelumnya berbayang gelap.

Just keep the faith! This too shall pass

Hope is a ray of sunshine breaking through the clouds after the storm.

Faith is knowing there are more where that one came from.

Mendung2
It will be a brighter day

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-11 ini bertema Cloudy Sky agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

3 tanggapan untuk “Belajar dari Mendung

  1. Mbak. semakin mengkhawatirkan pertambahan pasien postif setiap harinya. Sore ini saja tercatat 893 orang pisitif dan 78 orang meninggal karena virus ini.
    Sukabumi sepi mulai 16 Maret. Sekolah “diliburkan”, beberapa instansi sudah tutup.
    Social Distancing ini gak mudah juga dijalankan oleh masyarakat. Mungkin karena masyarakat kita terbiasa dengan banyak berkumpul, ngobrol-ngobrol. Tapi kedepan semoga saja meningkat kesadaran akan manfaat dari social distancing ini.
    Upaya dan berdoa tetap harus dijalankan dengan selaras. Semoga keadaan cepat kembali normal seperti sedia kala.

    Semoga Mbak dan keluarga sehat selalu.

    Salam dari saya di Sukabumi.

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.