Penuh Kain Kampuh di Candi Cetho


Sudah lama saya memendam keinginan untuk bisa pergi ke Candi Sukuh dan Candi Ceto, dua kompleks candi Hindu abad-15 yang saling berdekatan di ketinggian lereng seribuan meter Gunung Lawu, gunung yang ada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun keinginan-keinginan itu tetap menjadi keinginan saja karena terlibas oleh seribu satu alasan lain yang bagi saya lebih prioritas. Lalu kesempatan itu datang begitu saja, ketika kami memiliki satu hari kosong dalam libur lebaran beberapa waktu lalu.

Jadilah dengan berkendara pribadi, berjuang mengatasi jalan yang meliuk-liuk menanjak amat curam dan sempit, sampailah kami di Candi Cetho. Sengaja kami melewatkan dulu Candi Sukuh dengan pertimbangan akan mengunjunginya setelah kembali dari Candi Cetho.

Sebelum memasuki area parkir yang tidak cukup luas, saya sudah melihat sekumpulan orang memenuhi sekitar pintu masuk namun saya menganggap itu hal biasa. Namanya juga liburan, pasti banyak orang. Dan setelahnya, saya bergegas ke loket tiket masuk lalu mengantri giliran dibantu untuk mengenakan kain kampuh, kain putih berkotak hitam seperti papan catur yang biasa terlihat di Bali.

Kain kampuh yang melingkari pinggang hingga ke paha itu sejatinya biasa digunakan oleh umat Hindu saat sembahyang ke Candi Cetho yang hingga kini masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah. Dan untuk menjaga kesucian tempat ibadah dan menghormati sebuah budaya, hingga kini seluruh pengunjung baik Hindu maupun Non-Hindu wajib mengenakan kain kampuh itu, karena dengannya diharapkan pengunjung dapat menjaga kebersihan jiwa raga, lahir batin saat berada di area Candi Cetho,

Terlepas dari dalamnya makna kain kampuh itu, saya melihat sesuatu yang menarik melihat semua pengunjung seragam mengenakan kain kotak-kotak hitam putih itu. Keren juga sebagai penanda. Tapi sekali lagi, perasaan akan ‘keren’ itu sepertinya terlalu cepat.

Saya menikmati udara yang terasa sejuk. Candi Cetho memang berlokasi di sekitaran 1500 meter di atas permukaan laut, jadi lebih tinggi letaknya dari pada Candi Sukuh. Hebatnya lagi, Candi Cetho memiliki 13 teras yang semakin meninggi ke arah puncak yang poros tengahnya memiliki gapura-gapura, demikian yang saya ingat dalam beberapa foto teman yang sudah pernah ke tempat ini. 

Saya menaiki tangga untuk melalui gerbang gapura pertama dan drama kekagetan saya dimulai.

Dimana-mana ada orang, anak-anak dan orang dewasa yang mengenakan kain kampuh kotak-kotak hitam putih itu. Bahkan di dalam taman yang tertata indah dengan rumputnya yang telah susah payah dipelihara. Petugas yang selalu menjaga keindahan taman bisa jadi akan merasa masygul melihat kaki-kaki yang tak mengindahkan rumput-rumput yang juga memiliki kehidupan. Apakah dengan tanaman pembatas yang pendek menjadi alasan untuk melanggar batas dan menginjak-injak rumput selayaknya lapangan bola? Saya sungguh prihatin.

Dan saya hanya melihat bokong-bokong yang berbalut kain kampuh di jalur tangga menuju teras berikutnya. Saya memahami jika mereka terus berjalan atau hanya sebentar untuk pengambilan foto, tetapi kebanyakan dari mereka lupa akan orang lain yang ingin juga berdiri di sana dan berfoto. Mereka hanya tertawa-tawa tidak peduli, menguasai waktu dan areanya seperti miliknya sendiri. Keinginan saya menikmati Candi Cetho langsung lenyap…

Tetapi saya mencoba bersabar…

Candi Cetho dikenal sebagai tempat suci untuk melakukan ruwatan atau pembebasan jiwa dari kutukan, karena simbol-simbolnya yang jelas terpampang,

Di sebuah teras terbuka tersusun batu-batuan datar yang membentuk burung garuda yang sedang mengembangkan sayap dan di atasnya terdapat susunan batu berbentuk kura-kura, yang menurut informasi yang terpampang di sana menceritakan bagian dari kisah mengenai Samudramathana atau Churning of the ocean of milk atau biasa dikenal sebagai kisah Pengadukan Lautan Susu. Kisah dalam agama Hindu ini menceritakan mengenai perebutan terus menerus antara Dewa yang menjadi simbol dari sisi baik melawan Asura yang menjadi simbol dari sisi buruk, untuk mendapatkan air keabadian.

Burung Garuda dan Kura-kura, keduanya merupakan simbol-simbol yang terkait dengan Dewa Wisnu dalam agama Hindu. Dewa Wisnu sendiri menjadi seekor kura-kura untuk menopang Gunung Mandara dalam kisah Samudramathana tersebut. Dan diujung bentuk burung Garuda dan kura-kura terdapat penggambaran yang cukup erotis, seperti phallus yang bersentuhan dengan penggambaran vagina yang menjadi lambang penciptaan atau kelahiran kembali setelah terbebas dari kutukan.

IMG_0390
Selalu ada Manusia
IMG_0395
Garuda & Turtle – Cetho Temple

Di sekitaran teras tersebut, sekumpulan manusia yang datang berkunjung tak pernah sebentar. Amat mudah terlihat, kain kampuh dimana-mana. Saya seperti menjadi sang pungguk yang merindukan bulan, karena berharap terus manusia-manusia itu akan menghilang dari frame foto. Orang-orang itu memang pergi tetapi yang datang lebih banyak, bisa jadi sampai waktu berkunjung habis…

Saya memahami saat kunjungan itu saya tidak akan mendapatkan foto bersih tanpa manusia dalam frame, karena keadaan yang tidak memungkinkan. Akhirnya sebisa mungkin saya mengambil foto-foto yang penuh makna di Candi Cetho itu.

Karena belum sampai di teras tertinggi, saya menaiki tangga-tangga yang penuh dengan orang itu. Menjengkelkan sekali karena mereka berdiri dan bergaya menghalangi lalu lintas orang. Sungguh tak peduli dengan pengunjung lain yang mau turun atau naik, Kesabaran saya semakin tipis terhadap pengunjung yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Kadang saya berpikir, apakah mereka tidak pernah diajarkan oleh orangtuanya untuk memikirkan orang lain? 

Setelah berjuang melewati pengunjung-pengunjung lainnya yang menghalangi jalan, sampai juga saya di teras teratas, tempat yang paling sakral dan suci dari Candi Cetho yang merupakan tempat umat Hindu biasa beribadah,  Bagi saya, Candi Cetho yang dipercaya dibangun pada abad-15 merupakan salah satu warisan nenek moyang kita yang amat berharga dan wajib dijaga kelestariannya. Selain itu, sebagaimana tempat ibadah lainnya, bagian puncak Candi Cetho sewajarnya memiliki batas suci. Artinya, hanya boleh dimasuki atau dinaiki oleh orang-orang yang akan beribadah saja,

IMG_0479
Cetho Temple – Main Area on the highest

Sayangnya tidak ada informasi mengenai batas suci, atau tidak ada larangan untuk menaiki tangga untuk sampai ke pelataran suci. Yang ada hanya larangan masuk yang dipasang di pintu masuk yang tertutup. Dan karenanya, saya benar-benar jengkel maksimal!

Karena tidak ada larangan, maka pengunjung mungkin merasa bebas untuk menaiki pelataran atas itu untuk duduk-duduk, bersandar dan berfoto. Berombongan! Hitung saja, jika mereka berbobot rata-rata 40 kg, maka pelataran atas itu sudah menerima beban tambahan sekitar 400 kg jika dinaiki oleh 10 orang bersamaan. Padahal di salah satu sisi bangunan puncak yang menyerupai piramid itu batu-batunya sudah sedikit ambrol. Saat itu saya sungguh senewen dengan rombongan pengunjung yang tanpa rasa bersalah turun naik untuk berfoto secara berombongan di tempat yang paling suci.

Ketika saya mengambil foto sambil memutari bangunan puncak, saya mendapati beberapa pasangan menduduki pelataran atas bagian belakang untuk berdua-duan. Tepok jidat deh saya!!!

IMG_0465
Please don’t do that

Bahkan ada yang lebih gila lagi karena ada empat atau lima remaja yang berfoto sambil meloncat! Berulang-ulang. Rasanya saya ingin menangis melihat tindakan ugal-ugalan mereka terhadap candi abad-15 di pelataran yang paling suci! Sepertinya petugas yang ada di sana sudah kewalahan juga untuk memberi teguran.

Saya benar-benar kehilangan mood. Saya merasa tak minat untuk tinggal lebih lama. Kain kampuh kotak-kotak hitam putih yang digunakan pengunjung dengan harapan agar bersih lahir batin dan penuh kesadaran memasuki tempat suci, sudah kehilangan maknanya. Kain kampuh hari itu, hanya menjadi penanda saja

Saya turun melalui gapura-gapuranya yang cantik namun sepanjang jalannya dipenuhi pengunjung yang mengenakan kain kampuh tanpa menyadari makna yang amat dalam yang ada padanya.

Rasanya amat miris, masih banyak pengunjung Indonesia yang belum mampu menunjukkan sikap untuk menjaga dan memelihara peninggalan kuno bangsa sendiri yang amat berharga.

Hari itu, saya membatalkan kunjungan Candi Sukuh karena sepulangnya dari Candi Cetho, di gerbang terlihat banyak sekali pengunjung yang tak jauh beda seperti di Candi Cetho. Saya kehilangan mood. Lebih baik saya menyimpan keinginan ke Candi Sukuh dan membiarkan gambaran baik tentangnya dalam benak, daripada mengingat hal yang kurang menyenangkan seperti yang terjadi di Candi Cetho.

Pembelajaran pentingnya: jangan ke tempat wisata saat libur lebaran!

IMG_0486
The Gapuras

Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-10 ini bertema Kotak-Kotak agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

2 tanggapan untuk “Penuh Kain Kampuh di Candi Cetho

  1. Saya juga selalu miris sama tingkah laku pengunjung dalam negeri di tempat-tempat bersejarah seperti candi. Saya sih kepikiran alangkah lebih baik kalau di loket tiket atau gerbang masuk ada petugas yang mengingatkan pengunjung apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, seperti yang biasa dilakukan di beberapa museum di Jakarta. Kalau sudah diperingatkan sejak awal, jika ada pengunjung yang membandel seharusnya lebih tidak sungkan untuk menegur. Wah, sayang sekali Mbak Riyanti ke Candi Cetho pas lagi rame banget kayak gini. Saya ke sana justru pas bulan puasa, jadi sepiiii banget. Bahkan kalau saya gak salah ingat, saya baru bayar tiket setelah mau pulang karena pas saya datang masih kepagian dan belum ada petugas di loket. Diagendakan untuk kembali ke sini mbak, dan jangan lupa ke Candi Kethek juga yang letaknya di belakang Candi Cetho (harus jalan di jalan setapak dulu beberapa menit untuk sampai ke sana).

    Disukai oleh 1 orang

    1. Mas Bamaaaa…. pas baca blognya mas Bama dan envy banget 😀 liat sepinya. Kayak bumi dan langiiiiit situasinya pas saya pergi. Memang bener masih banyak diantara kita yang hanya bisa bergerak dalam koridor yang rambu-rambu larangannya dan gede. Itupun masih tetap ada yang tidak patuh dan merasa hebat bisa melanggarnya 😣.

      Dulu bahkan saya pernah melihat orang yang bikin grafiti di Ratu Boko. Waktu itu saya tegur pakai teriak 😂😂😂 (karena posisinya jauh) dan sempat saya foto. Petugas datang (mungkin ada yang menyampaikan saya teriak itu 😂). Berdasarkan foto itu petugas berhasil menemukan mereka dan menghukumnya agar coret-coret itu dihapus. Gak tau pakai apa tapi saya sempat lihat orangnya lagi membersihkan siiiy 😂
      Duh saya kayaknya harus pakai seragam polisi ya dan bawa toa serta pentungan 😂😂😂😂

      Memang harus kembali Mas Bama. Saya kan belum ke Candi Sukuh dan tentunya sekalian ke Candi Cetho lagi serta Candi Kethek. Enak kali ya bisa trekking dikit…

      Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.