Oh Deer, I Love You So


Sebagai penggemar world heritage, dalam perjalanan perdana ke Jepang tahun 2013 (wow… sudah tujuh tahun lalu!) saya menyempatkan diri ke Nara, sebuah kawasan yang terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Site di Prefektur Kansai, Jepang. Nara sendiri pada masa 710 – 784 Masehi menjadi ibukota Jepang sesuai dengan domisili sang Kaisar.

Namun untuk mencapai Nara yang menyimpan banyak hal yang luarbiasa, saya perlu sedikit perhitungan. Sebagai pengguna JR Pass dan terlalu pelit untuk mengeluarkan dana lagi, saya hanya menggunakan kereta JR untuk sampai ke Stasiun Nara lalu jalan kaki sekitar 30 menit dari stasiun kereta hingga ke Kuil Utama Todaiji yang menyimpan Daibutsu (Patung Buddha Raksasa) yang terkenal. Meskipun jelang akhir musim semi yang udaranya masih cukup sejuk, rasanya lelah juga berjalan kaki sejauh lebih dari 5 km bolak-balik itu, sendirian lagi!

Namun selalu ada untungnya. Meskipun jaraknya cukup jauh, di tengah perjalanan pasti saja ada yang menarik untuk dinikmati. Ada kuil Kofukuji yang memiliki Pagoda lima tingkat yang cukup menekan pegalnya kaki. Lalu setelahnya, ada taman dengan begitu banyak pepohonan yang meneduhkan. Di beberapa sudut masih ada daun-daun yang tumbuh salah musim karena berwarna merah dan kuning seperti musim gugur.

Jelang gerbang kuil Todaiji saya disuguhi pemandangan yang membuat saya tersenyum lebar. Nara Park lengkap dengan rusa-rusanya yang bebas berkeliaran. Seperti di Istana Bogor dengan rusa tutulnya. Bedanya, di Nara pengunjung bisa langsung berinteraksi dengan sang rusa tanpa dibatasi pagar pembatas.

Dan di sana saya melihat aliran kasih sayang. Saya mendekat kepadanya.

Beberapa keluarga lengkap dengan anak-anaknya mengelilingi seekor rusa. Begitu dekat, begitu jinak. Bukankah seekor rusa juga memiliki ayah, ibu dan anak-anaknya? bukankah mereka juga makhluk yang memiliki hidup?

Tak lama kemudian seorang laki-laki yang tampaknya adalah sang kepala keluarga terlihat mengarahkan tangan kecil anaknya ke dekat mulut rusa, memberi makan sang rusa yang dengan lembutnya menerima makanan dari tangan si kecil lalu mengunyahnya dengan antusias. Anak-anak lain yang menyaksikan menahan nafas, begitu antusias mengamati pemberian makanan itu kemudian serta merta menjadi gembira dan bahagia ketika sang anak kecil berhasil memberi makan sang rusa. Horee… Ah sepertinya sang rusa juga merasa gembira.

Saya melanjutkan perjalanan tapi tak jauh dari sana pemandangan serupa juga terjadi.

IMG_8395
Here… I give you

Kali ini saya lebih mendekat pada sang rusa dan anak-anak yang berkumpul di dekatnya. Ada seorang dewasa yang memberi contoh memberi makan kepada sang rusa dari arah kanan sang rusa namun pada saat bersamaan ada anak kecil lainnya mengangsurkan makanan di sebelah kiri sang rusa. Ah, sang rusa agak sedikit bingung untuk menyenangkan dua hati yang memberikan makanan kepadanya. Tetapi dari matanya yang melihat ke kiri, sepertinya sang rusa mengetahui ada kebaikan hati di sisi kirinya dan dengan segera ia menoleh ke arah kiri. Bukankah kasih sayang itu harus disambut dengan rasa syukur?

IMG_8397
So close

Dan lihatlah ada tangan lain yang mengangsurkan makanan dan tentu saja sang rusa mendekatinya dan langsung mengambilnya dari telapak tangan pemberinya. Yang memberi dan yang menerima terlihat senang. Dan semua proses itu disaksikan oleh anak-anak yang berdiri sangat dekat dengan sang rusa. Mereka pun belajar untuk bergantian memberi makanan kepada sang rusa, belajar sabar menunggu giliran, satu kebiasaan yang harus dijiwai sejak anak-anak. Mereka, anak-anak calon pemimpin masa depan itu telah berlatih sabar bahwa membiarkan orang lain berbahagia juga akan menularkan rasa bahagia. Bukankah mereka sendiri menyaksikan dan mengalami bahwa ketika kawan mereka memberi makan kepada sang rusa, hal itu akan menggembirakan kawannya juga dan sang rusa itu sendiri? Bukankah semuanya menjadi berbahagia?

IMG_8396
I can lean on you

Dan lihatlah, ada seorang anak yang begitu menyatunya dengan sang rusa. Ia meletakkan tangannya di atas punggung rusa dengan penuh kasih sayang dan percaya penuh. Seakan bulu-bulu lembut sang rusa adalah tempat bersandarnya yang paling nyaman. Sang rusa pun tidak bergerak sedikitpun merasakan tangan dan jemari kecil itu berada di punggungnya. Dia biarkan tangan itu mengelusnya, menepuk-nepuknya dengan penuh kasih sayang.

<>

Ada sejumput rasa yang memenuhi hati menyaksikan semua yang terjadi di hadapan. Sebuah aliran kasih sayang dan makna cinta yang sesungguhnya.

Hanya ada ketulusan.

Love needs no words. It only needs sincere demonstration.

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, Srei’s Notes, A Rhyme In My Heart dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nys WordPress, yang untuk tahun 2020 minggu ke-9 ini bertema Kids agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

5 tanggapan untuk “Oh Deer, I Love You So

  1. mba, umur saya 18 tahun. saya akan melakukan solo traveling. saya tinggal di daerah jawa barat adakah saran tempat yang pas? saya ingin menikmati jalan2 sendiri pertamaku.
    di umur saya yang ke 18 tahun ini, saya sudah bekerja dengan penghasilan 5 juta perbulan.
    adakah saran dan tips untuk melakukan solo traveling dari segi dana dan persiapan lain nya

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.