Pilgrimage 2: Tempat Penuh Rindu


Mau Ibadah atau…

Perjalanan panjang berbelas jam (yang sudah saya tulis sebelumnya), sejak sebelum subuh di Jakarta hingga hampir tengah malam di Madinah cukup menguras tenaga hingga alarm badan pun berbunyi. Mau tak mau saya harus memilih beristirahat di hotel daripada membuatnya lebih buruk karena  perjalanan masih dua belas hari lagi.

Sambil mencoba lelap di pembaringan, pikiran melayang lagi ke koper yang ‘diambil’ kembali olehNya dan mencoba menemukan hikmah di baliknya. Sepertinya saya ditegur untuk urusan niat ke Tanah Suci. Tanpa sadar, demi kenyamanan perjalanan, saya meluangkan waktu jauh lebih banyak untuk urusan duniawi seperti sibuk membeli pakaian dan kerudung yang bisa dipadupadankan, mengatur ini itu dan seterusnya; daripada meluruskan niat ibadah dan memaknai tujuan perjalanan itu sendiri. Bukankah saya telah mengetahui bahwa tak pernah ada kebaikan untuk segala sesuatu yang berlebihan.

Saya ditegur keras, amat keras. Seakan diminta untuk berpikir tentang perjalanan sesungguhnya ke Tanah Suci, tentang orang yang berhaji ataupun saat seorang manusia meninggal dunia, berapa banyak pakaian yang dipakainya untuk ibadah yang utama? Hanya beberapa helai kain tak berjahit!

Sedangkan saya membawa satu koper penuh, masih ditambah tas tangan. Saya ini mau wisata atau mau ibadah?!

Di pembaringan, benak saya penuh dengan bayangan orang-orang sederhana, juga orang-orang jaman dulu, yang hanya berbalut doa dan pengharapan penuh kepadaNya untuk bisa sampai ke Tanah Suci lalu bertahan melalui perjalanan berbulan-bulan penuh kesulitan tiada tara. Dihajar bayangan seperti itu saya seperti jatuh ke dalam lubang hitam raksasa…

∧∨∧∨∧∨∧∨

Dan sungguh saya berdiri di dalamnya…

Gelap malam masih menyelimuti kota Madinah ketika saya berdiri sejenak di depan hotel sebelum berjalan kaki menuju Masjid. Angin dingin Desember di Madinah terasa menusuk tulang membuat saya seakan tak bertulang ditambah beberapa jam sebelumnya dihajar oleh pemahaman makna kehilangan koper. Yang tersisa hanya rasa hampa, tak bisa lagi merasa memiliki sesuatu. Lagi-lagi seperti diingatkan, bukankah semua di dunia ini adalah pinjaman?

Sekitar dua ratus meter melangkah, gerbang Masjid tampak di depan mata. Saya terhenyak akan keindahannya. MasyaAllah… lampu-lampu penuh cahaya itu seakan bintang di langit gelap. Indah, luar biasa indah… Lagi-lagi saya digempur rasa kagum tak terhingga.

madinah1
Masjid An Nabawi, Madinah

Saya meneruskan langkah, Ya Nabi salam ‘alaika. Ya Rasul salam ‘alaika. Ya habib salam alaika salawatullah ‘alaika

Setelah sepakat untuk bertemu lagi di gerbang yang sama, saya melangkah menuju gerbang muslimah sementara sang belahan jiwa mencari tempat terbaiknya bersama ikhwan segrup.

Meskipun terbiasa jalan sendiri dalam banyak perjalanan, di Masjid Nabawi saya merasa sedikit gamang. Mungkin karena suasana kemuliaan yang melingkupinya sekaligus penjagaan yang tak terlihat oleh mata. Selain manusia, bukankah malaikat-malaikat penjaga juga ada di sana?

Di pintu Masjid, saya melepas sandal lalu memasukkannya ke tas tangan dan membiarkan seorang askar berpakaian hitam memeriksanya. Kemudian sambil berdoa saya melewati pintu itu dengan sejuta rasa yang muncul di dada. Masya Allah… Indahnya tak bisa terkatakan. Kalau saja saya tak terdorong oleh jamaah di belakang yang mendesak saya untuk maju, saya masih terpesona di dekat pintu. Saya melangkah sambil membiarkan rasa menggugah jiwa…

madinah2
Inside the Nabawi Mosque (Female Area)

Shaf-shaf depan di atas karpet untuk muslimah sudah penuh, sehingga saya mundur lagi mencari yang masih kosong. Alhamdulillah, ternyata tak sulit untuk mendapatkannya. Dan langsung saja, selagi masih ada waktu sebelum Subuh, shalat-shalat sunat didirikan. Berserah diri jiwa raga dalam kesendirian meski diantara manusia lainnya, membuka hubungan langsung yang amat personal kepadaNya, melangitkan pujian-pujian dan doa.

Baru saja selesai berdoa, terdengar azan yang terdengar amat indah. Rasanya berbeda mendengar azan di Masjid Nabawi ini. Mungkin saya mengada-ada, tetapi sungguh, rasanya mampu meluruhkan semua rasa. Dan saya mengingat kisah tentang Bilal, sang muazin pertama yang membuat mata sayaberkaca-kaca…

Setelah azan yang dilanjut doa, segera saja saya mendirikan shalat sunah sebelum Subuh, seperti juga jamaah lain. Setelahnya, saya duduk melanjut dzikir, tetapi shalat jamaah Subuh tak kunjung didirikan. Saya menunggu melanjutkan dzikir sambil melihat sekeliling.

Di sekeliling saya terlihat berbagai bangsa. Selain wajah Arab dan Indonesia yang mendominasi dalam kelompok-kelompok, terlihat juga wajah-wajah Uzbekistan yang berkulit putih,  Turki, Pakistan atau Bangladesh,  Malaysia. Sempat saya lihat juga wajah Tiongkok yang terlihat dari aksara dalam syalnya.

Melihat wajah-wajah itu, tak terasa dzikir saya bercampur dengan ungkapan syukur. Berbeda bangsa, berbeda warna kulit, berbeda bahasa, namun disatukan dalam ikatan persaudaraan yang sama. Tak ada senyum yang tak berbalas, tak ada salam yang tak berbalas. Di sini, di tempat yang amat mulia ini, semuanya sama. Begitu indah rasanya…

Lalu terdengar azan lagi. Azan, bukan Iqamah.

Saya bertanya-tanya dalam hati, mengira-ngira azan yang saya dengar dan azan yang sebelumnya. Dengan wajah yang masih diliputi keraguan, saya memandang ke kiri dan ke kanan. Dan tiba-tiba perempuan di sebelah saya berbagi kebaikan, -yang ternyata orang Indonesia yang mungkin bekerja atau bersekolah di Arab (sebab tak terlihat sebagai orang yang sedang umroh)-, menjelaskan bahwa di sini selalu ada dua kali azan Subuh. Yang pertama untuk mengingatkan umat untuk Shalat Malam dan yang berikutnya adalah untuk panggilan shalat Subuh. Setelah berterima kasih kepadanya, saya bergegas mendirikan shalat sunnah sebelum Subuh sekali lagi.

Lalu tak lama setelahnya, dalam balutan pakaian yang didominasi putih dan hitam, perempuan-perempuan yang berbeda-beda namun terikat satu persaudaraan itu serentak berdiri, bertujuan sama, memenuhi panggilan untuk shalat. Dan dada saya bergemuruh sangat hebat saat mendirikan shalat wajib pertama secara berjamaah di Masjid Nabawi.

Ya Allah… satu impian terbesar dalam hidup saya telah Engkau kabulkan.

Selesai shalat, ada panggilan lagi. Perempuan di sebelah saya seperti malaikat penolong yang melihat kebingungan saya. Tanpa diminta ia menjelaskan bahwa selalu ada shalat jenazah sehabis shalat fardhu sambil mengingatkan secara cepat tata caranya. Ya Allah, begitu banyak keajaiban di Masjid ini. Semua berbagi kebaikan tanpa diminta, mengalir begitu saja.

Ada rasa haru yang begitu mendesak kalbu saat membayangkan keberuntungan bagi yang meninggal dan dishalatkan di Madinah, dishalatkan oleh begitu banyak orang yang jiwa raganya sedang berfokus kepadaNya, di tempat yang begitu agung penuh keberkahan dan nantinya mereka akan dikubur di Baqi, tempat para keluarga dan sahabat Nabi serta para syuhada dimakamkan. Betapa mulianya mereka…

∧∨∧∨∧∨∧∨

madinah3
Daylight

Pemandangan tentang Cinta

Dan waktu-waktu wajib selanjutnya tak pernah berubah suasananya meskipun setiap waktu berbeda rasa. Desember merupakan bulan yang dingin, membuat shalat Dzuhur di tengah hari pun tak membuat gerah atau Ashar yang memiliki langit sore yang mempesonakan hingga datangnya waktu Maghrib. Semua waktu yang memiliki pesona tersendiri sementara alunan ayat suci senantiasa terdengar. Harum khasnya udara Masjid, semuanya… Suasana Masjid Nabawi inilah yang membuat saya selalu merindu.

Di tempat ini, seperti baru menikah, saya senantiasa berjalan bersama sang belahan jiwa dan berpisah di gerbang yang sama untuk saling menantikan jika telah selesai ibadah. Entah kenapa, rasanya ada romantisme tersendiri di tempat mulia ini.

Di Masjid ini pun, saya melihat begitu banyak kaum pria yang menunggu orang tercintanya, ibu, isteri atau saudara perempuannya di batas gerbang perempuan. Mereka dengan setia menunggu, berkali-kali menoleh, memanjangkan lehernya, memperhatikan dan berharap keluarnya yang tercinta yang berbalut baju dengan warna yang dominan sama, hitam atau putih. Tidak mudah, tetapi mereka tetap setia menunggu hingga bertemu.

Dan setelah berjumpa, mereka menjaga di sampingnya, mendorong kursi roda ibunya atau membantu menuntunnya, atau ada juga langsung meraih menggendong anaknya, tetapi semua menampilkan wajah yang serupa, sumringah, penuh senyum bahagia saat berjumpa dengan mereka yang tercinta. Rasanya tak ada rasa kecewa dan angkara, karena hati dan jiwa mereka semua menuju Yang Maha Kuasa, Yang Selalu Menjaga. Semuanya merupakan pemandangan yang mengharubirukan jiwa. Hanya ada di pintu keluar perempuan, sebuah pemandangan tentang cinta. Inikah Surga di dunia?

∧∨∧∨∧∨∧∨

Tempat terbaik untuk berbuat baik

Salah seorang anggota dalam grup kami sudah lanjut usia, mungkin tak begitu jauh bedanya dari usia Mama. Tak disangka, beliau pun mengalami apa yang dialami Mama. Jatuh di kala usia tak lagi muda sehingga tulang panggulnya retak. Saya memanggilnya Nini (nenek dalam bahasa Sunda) dan menceritakan kepadanya bahwa Mama saya dioperasi untuk mengganti bonggol tulang panggul dan berminggu-minggu beristirahat di tempat tidur untuk bisa kembali berjalan. Cerita tentang Mama, pemahaman akan sakit yang sama, menjadikan kami berdua menjadi dekat satu sama lain, meskipun anak dan mantunya juga ada disana tapi saya sama sekali tak merasa keberatan untuk berjalan bersamanya yang amat pelan melangkah. Saya percaya, semua peristiwa yang saya temui di Tanah Suci ini, bukan sembarang peristiwa, karena semuanya pasti akan menuju kebaikan.

madinah 5
Inside the Mosque (male area) – photo creditted to my hubby

Selagi menuntunnya di sebelah kanan dan menantunya di sebelah kiri, pikiran ini terbang ke Mama berharap, semoga dengan membantu menuntun Nini jalan perlahan di Madinah ini, selalu ada orang yang akan membantu Mama dimanapun ia berada. Saya tahu, setiap langkah yang dilakukan Nini dengan beratnya, itulah juga yang dialami Mama, menahan sakit dan nyeri setiap langkahnya akibat operasi dan osteoporosis pada tulang tua yang semakin menyerang dirinya. Duhai Engkau Yang Maha Mengetahui Semua Rahasia, meskipun secara fisik saya membantu Nini untuk berjalan, tetapi sungguh serasa saya berjalan bersama Mama. Ya Allah, ini luar biasa sekali rasanya.

Bahkan, saat kali pertama dalam antrian ke Raudhah -tempat yang paling mustajab untuk berdoa-, waktunya sungguh tidak tepat. Meski Nini berkeras mampu terjaga, tak dapat ia sembunyikan kelelahan di wajahnya untuk tetap bertahan hingga ke gilirannya yang mungkin lewat tengah malam. Saya mengusulkan untuk mencoba ke Raudhah lebih awal esok harinya. Meskipun artinya, kesempatan saya bisa berdoa di Raudhah akan semakin kecil karena malam itu saya akan mengantarkannya pulang. Tak mengapa, karena tak mungkin saya membiarkan Nini berjalan pulang hanya dengan menantunya. Itu jarak yang amat jauh dari gerbang terdekat Raudhah ke gerbang 15, di larut malam untuk seorang lanjut usia yang berkebutuhan khusus dan hanya ditemani seorang perempuan saja.

Dan satu diantara tiga malam di Masjid Nabawi itu, jelang shalat Isya, menantu Nini dan saya berlari kesana kemari untuk mencari sebuah kursi wakaf, -kursi yang digunakan oleh orang-orang yang menjalankan shalat sambil duduk-, agar Nini bisa shalat dengan nyaman. Tetapi sungguh, di sekitar kami telah habis semua. Menantu Nini sampai harus memohon dengan sangat kepada seseorang akhwat berbadan besar yang di sebelahnya ada kursi tapi tak digunakan. Tapi meskipun menantu Nini sudah memohon, akhwat berbadan besar itu tak memberikannya. Mengetahuinya, hati saya pecah berkeping, tetapi tak mungkin memaksa orang lain untuk bisa berbagi.

Saat itu, kami hanya bisa sampai di pelataran Masjid. Nini memaksa saya untuk segera shalat dan agak setengah hati saya melepas Nini menemukan caranya sendiri untuk bisa beribadah. Dan saya dibuat terkagum akan kekuatan dan keikhlasan Nini untuk tetap shalat sambil berdiri, meskipun harus menahan sakit dan menjaga keseimbangan karena tak mungkin beliau ruku’ dan sujud secara normal. Ketika saya tanya kepada Nini resep bisa selalu bertahan, sambil tersenyum beliau berkata, niatnya ibadah kepada Allah. Mendengarnya, saya merasa terjun bebas lagi ke lubang hitam karena masih belum mampu selalu meluruskan niat.

∧∨∧∨∧∨∧∨

Dan kulepaskan beban itu…

Berada di antara manusia-manusia, tetap saja ada yang membisikkan kata agar tetap menuntut koper yang hilang, yang bagi saya amat kontradiktif dengan suasana ibadah. Tetapi dasar saya masih manusia tempat muasalnya salah dan dosa, saya mendengar bisikan-bisikan itu. Ada rasa gemas yang muncul karena hari demi hari, tak ada kabar dari agen perjalanan tentang koper itu. Sang suami telah bolak balik bandara hanya untuk mendapat berita hampa. Dan biro perjalanan itu hanya berkata, kita coba lagi besok… Berbagai pertanyaan meragukan memenuhi benak, bagaimana mencobanya jika sudah harus meninggalkan Madinah menuju Mekkah sedangkan jika tidak dipaksa suami tak ada perwakilan dari biro perjalanan itu untuk ke Bandara? Dan bahkan saya masih belum memiliki pakaian putih yang disarankan Biro Perjalanan untuk umroh dan mereka tidak membahas kebutuhan ini meskipun tahu saya kehilangan koper. Ah, sepertinya setan pun masih mengipas-ngipasi semua yang bisa terbakar di hati manusia-manusia di Masjid yang suci ini.

madinah4
The Lamps

Terus menerus mendengarkan bisikan-bisikan halus yang menyulut itu membuat saya jengah dan ingin menutup telinga hati serta sementara menjauh dari grup. Lalu melangkah lebih awal ke Masjid sehingga memiliki keleluasaan waktu sebelum shalat wajib tiba. Sendiri, saya mendirikan shalat sunnah. Berupaya mendirikan dinding tinggi yang meniadakan suara-suara dari luar, mengajak jiwa dan raga seutuhnya, hanya memujiMu dalam setiap gerakan shalat yang didirikan, bertasbih beratus kali hanya kepadaMu, tak ada yang lain.

Segera setelah selesai, airmata saya tumpah tak berhenti di tempat ini, di Masjid Nabawi. Beban itu terlepas sudah, ada atau tiada koper itu saya tak lagi terpengaruh. Karena semua ini hanya pinjaman untuk hidup di dunia. Tergambar lagi di benak akan kesederhanaan dua lembar kain putih tak berjahit dan kesederhanaan rumah Nabi pada jamannya. Karena semua ini milikMu, semua hanya untukMu… Sesungguhnya saya tak memiliki apa-apa.

Dan saya selalu akan merindukan tempat ini, tempat saya meluruhkan semuanya di hadapanMu, melepas semua beban…

Bersambung…

 

9 tanggapan untuk “Pilgrimage 2: Tempat Penuh Rindu

  1. Mbak…
    Baca tulisan ini koq saya jadi mengharu biru ya…
    Secara saya belum ditakdirkan untuk melangkahkan kaki ke Tanah Suci, tulisan ini dan foto-fotonya yang luar biasa indah, membuat saya tak sabar untuk sampai disana. Hanya sabar dan berharap semoga usia saya disampaikan juga untuk sampai kesana. Baru tahun 2018 saya direncanakan kesana. 10 tahun menanti.

    Sekali lagi, terima kasih atas tulisan yang indah ini Mbak.

    Salam dari saya di Sukabumi,

    Disukai oleh 1 orang

    1. Aamiin Kang, semoga dalam waktu dekat bisa menjejak ke Tanah Suci. Percayalah, Allah SWT akan membukakan jalan dari mana saja selama niat itu ada dan niat itu diprioritaskan.

      Saya tidak banyak mengambil foto selama Umroh kemarin itu. Rasanya sayang jika fokusnya pindah. Dan setiap orang itu pasti punya pengalaman yang berbeda dan sangat personal disana. Tapi tetap ujungnya sama Kang, rindu balik lagi. Itu sih yang saya rasa, seperti juga yang lain yg pernah kesana.

      Suka

      1. Mba.. aku bersyukur banget Mba udah pergi umroh sebelum kejadian Om Covid ini.. Semoga one day bisa kembali lagi ya..
        Btw, ditunggu lanjutan kisahnya.. 😍😍

        Suka

        1. Iya, Na, Alhamdulillah banget, pas aku pulang aku memantau ini dan menghitung ke belakang lhoo… soalnya kan dideteksi kan pas akhir desember ya di Wuhan sana, Kayaknya waktunya pas banget Na.

          Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.