Sepenggal Jakarta Jaman Dulu Dari Puncak Monas


Gara-gara tantangan dari sahabat saya untuk postingan minggu ini yang bertemakan Old Age, saya jadi membongkar album-album foto lama saat berada di rumah ibunda tercinta kemarin. Tapi ternyata dengan perbuatan membongkar album-album lama, akhirnya ibu saya yang sudah sepuh itu menceritakan banyak hal kepada cucu-cucunya.

Dan sementara sang cucu-cucu bisa mendadak jejeritan gembira melihat fashion foto omanya di jaman tahun 60-an, -yang menurut omanya sangat biasa, tapi bagi mereka sangat fashionable-, saya hanya bisa tertawa melihat situasi yang agak awkward yang sekarang banyak terjadi: generation gap yang ekstrim antara dunia sang oma dan dunia anak millenial.

Obrolan masa lalu itu membawa saya langsung ke jaman-jaman yang menyenangkan dan penuh kenangan. Termasuk jaman Jakarta masih lengang. Lengang dalam arti, tidak penuh sesak dengan kendaraan ataupun gedung-gedung tinggi. Pemandangan Jakarta kala itu serupa: lebih banyak datarnya.

Jaman saya masih kecil itu, -jaman Ali Sadikin atau dulu terkenal dengan nama Bang Ali sebagai gubernur Jakarta-, dari puncak bukit yang di belakang rumah orang tua saya (sebenarnya jalan menanjak sedikit sih), waktu itu saya masih melihat gedung-gedung tinggi yang ada di kawasan Thamrin, termasuk Monas. Hal yang tak mungkin bisa dilihat sekarang ini, karena pasti sudah tertutup oleh tingginya rumah tetangga, gedung-gedung tinggi yang lebih dekat dan kabut polusi yang membatasi penglihatan.

Pernah pada suatu akhir pekan, orangtua saya mengajak kakak dan saya ke Monumen Nasional. Tidak hanya ke kawasannya, melainkan juga mengeksplorasi diorama-diorama di dalam cawannya termasuk ke puncaknya yang tepat berada di bawah emas yang katanya berbentuk seksi itu (tetapi jaman itu saya belum tahu yang namanya seksi-seksi lho hehehe…). Rasanya happy sekali, karena jaman itu jarang sekali yang bisa berkunjung ke puncak Monas.

Perjalanan naik lift ke puncak rasanya sangaaaat lama, mungkin karena saya sudah tak sabar ingin melihat dari Jakarta dari atas. Dan ketika sampai di lantai atas itu, alangkah sebalnya saya, karena ternyata tinggi saya belum cukup untuk bisa melihat dengan nyaman. Saya harus jinjit dengan ujung kaki seperti penari balet untuk bisa melihat dan hal itu ternyata sangat menyakitkan dan melelahkan!

Meskipun demikian, dalam banyak hal selalu saja saya ditolong supaya bisa menikmati pemandangan dari atas….


jakarta istiqlal
Jakarta Dari Monas – Sudut Istiqlal

Benar kan Jakarta masih terlihat rata? Taman Merdeka sekeliling Monas masih terlihat gersang, belum sehijau sekarang. Dan tentu saja, tak ada pagar yang mengelilingi Taman Merdeka. (Tetapi Monasnya sendiri saya ingat sudah berpagar, yang kata pemandu tour Jakarta waktu itu jumlah tiangnya 1945, saya percaya saja karena tidak mau menghitung tiang pagar hehehe).

Kubah Mesjid Istiqlal yang putih itu sangat terlihat ya? Juga menara dan air mancurnya… Kalau dilihat lebih teliti, terlihat juga dua menara gereja Katedral dan Monumen Pembebasan Irian Barat yang ada di Lapangan Banteng. Fotonya sudah tak jelas, tetapi saya masih bisa melihatnya.

Oh ya, perhatikan rel kereta api yang ke Gambir? Tidak kelihatan sih di fotonya, tetapi bisa dibayangkan kan? ada rel kereta api yang masih dibuat diatas jalan raya dan tentu saja belum dibangun rel kereta yang melayang (dibatasi oleh dua dinding putih di sebelah kanan bawah)

Yang hebat menurut saya waktu itu, saya masih bisa melihat pinggir laut Jakarta dari Puncak Monas. Kelihatan kan batas laut?

***

jakarta istana
Jakarta Dari Monas – Sudut Istana

Foto yang di atas ini memperlihatkan situasi Istana Merdeka di tahun 70-an. Terlihat bendera berkibar di tiangnya. Dari sini kelihatan kawasan kota belum ada apa-apa ya? Meskipun kepadatannya sudah terlihat.

Dari posisi ini saya baru lihat bahwa dulu taman yang mengelilingi Monas itu sebenarnya cantik bila dilihat dari atas, meskipun masih gersang dan jarang pepohonan yang rindang. Hebat juga ya…

***

jakarta bi
Jakarta Dulu Dari Monas – Sudut BI

Dan foto di atas ini, menunjukkan sudut Bank Indonesia dan Air Mancur. Tampak Gedung lama Bank Indonesia yang hingga kini masih dipertahankan bentuknya. Kelihatan juga Wisma Nusantara yang merupakan gedung tertinggi di Indonesia saat itu. Bisa mengenali gedung Sarinah? Itu lho… gedung yang berada di tengah-tengah.

Lihat banyak mobil parkir di jalan? Kalau tidak salah, dulu di situ ada bioskop Eldorado. Namun saya tidak pernah nonton di sana, karena masih terlalu kecil dan seingat saya, bioskop itu lebih sering mempertunjukkan film dewasa.

Oh ya, di sudut ini, dulu selalu Pekan Raya Jakarta diadakan (Jakarta Fair). Saya termasuk cukup sering untuk datang ke Jakarta Fair itu untuk mendapatkan donatnya saja. Dulu donatnya itu top banget dan menjadi icon dari Jakarta Fair. Jadi kalau tidak beli donat Jakarta Fair, rasanya belum ke sana.

Kawasan sebelahnya merupakan kawasan wisata yang terkenal dengan Taman Ria. Bahagia sekali kalau bisa ke Taman Ria, karena bisa naik komidi putar dan merasakan kebahagiaan anak kecil seperti kalau ada di Dufan sekarang ini hehehe. Jadi ingat, dulu Jakarta sudah punya monorail lho… ya tapi hanya ada di Taman Ria saja hehehe…

***

jakarta thamrin
Jalan MH Thamrin – Juli 1973

Dan foto yang terakhir ini adalah foto yang diambil dari Jembatan Penyeberangan, yang seingat saya sih di depan Sarinah. Coba perhatikan, tidak banyak gedung tinggi setelah Tugu Selamat Datang ke arah Selatan. Memang Jakarta belum banyak gedung tinggi pada saat itu.

Ada jalur lambat yang seringnya dilalui oleh sepeda, becak atau dokar (dulu semua boleh melintas meskipun ada jalurnya masing-masing). Halte bus ada pedestrian, antara jalur lambat dan jalur cepat. Dan di Jalur cepat itu mobil, bus, sepeda motor, truk bisa sama-sama melewatinya. Dan asiknya, tidak ada kepadatan lalu lintas kan?

Saya ingat waktu itu, jalan-jalan ke arah Monas lalu balik lagi sudah merupakan kemewahan dan kebahagiaan tersendiri.

Bahagia itu memang sederhana.

Anyway, menuliskan semua ini mengingatkan diri sendiri bahwa saya sudah tua 😀 😀 😀

Catatan: Semua foto-foto di atas adalah koleksi pribadi.


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-47 ini bertema Old Age agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

 

6 tanggapan untuk “Sepenggal Jakarta Jaman Dulu Dari Puncak Monas

  1. kalua boleh jujur gue follow blognya mbak riyanti dari sejak lama, dan hebatnya lagi mbak riyanti masih tetap eksis dengan blognya dimana yang lainnya sudah bertransformasi menjadi vlogger, yang gue bisa simpulkan adalah mbak riyanti memang berniat untuk berbagi dibandingkan dengan mencari keuntungan dari endorsement dll

    Terimakasih sudah berbagi secara konsisten

    Disukai oleh 1 orang

    1. Waw… terima kasih ya sudah menjadi follower blogku sejak lama. Memang benar sih, di saat vanyak blogger lain menjadi vlogger, masih tersisa sebagian orang yang masih suka membaca dengan segala macam imajinasinya. Doakan saja saya bisa menulis terus hehehe… terima kasih sekali lagi yaaa…

      Suka

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.