Wisata 24 Jam Di Hpa’an


Hpa’an atau kalau susah bacanya, bisa disebut dengan Pa’an, merupakan ibukota dari Kayin State yang didominasi oleh etnis Karen. Meskipun merupakan ibu kota, tetapi entah mengapa saya merasa Hpa’an merupakan kota kecil. Bisa jadi karena saya tidak menjelajah semua sudut kotanya dan hanya berada di bagian kota yang berada di pinggir sungai Than Lwin yang lebar.

Sebagai kawasan yang banyak didominasi keindahan alam karstnya, Hpa’an memiliki banyak tempat wisata yang sayangnya masih kalah pamor dibandingkan dengan Bagan, Yangon, Mandalay atau Inle Lake. Tetapi sungguh saya tak menyesal telah menjejak di tempat ini, karena memang Hpa’an membuat saya terpesona dan hari itu saya mulai dari…

Gua Kawgun

Pak Ojek yang terlihat sudah setengah baya mengantar saya pertama-tama ke Gua Kawgun yang letaknya tidak begitu jauh dari kota. Bapak Ojek itu seperti pria Myanmar lainnya, mengenakan longjyi saat mengendarai motor. Meskipun memiliki bahasa Inggeris yang terbatas, ia mampu menjadi pemandu untuk semua tempat yang saya kunjungi. Walaupun kadangkala yaa jadi joko sembung alias gak nyambung. Namun saya amat menghargai upayanya untuk memberi penjelasan dan menunjukkan hal-hal yang spesial di setiap tempat.

Sebuah awal yang menyenangkan seperti ice breaker terjadi, ketika sampai di Gua Kawgun.  Jadi, begitu berhenti di tempat parkir motor, saya turun dan langsung nyelonong hendak masuk tanpa melepas helm, yang membuat Pak Ojek itu tersenyum lebar sambil meminta helmnya. Saya ikut menertawakan diri sendiri karena merasa kartun banget 🙂

Dengan donasi 3000 Kyat, saya memasuki Gua Kawgun yang konon ditemukan sejak abad-13. Begitu melewati pembatasnya, saya berdecak kagum, luar biasa sekali. Bayangkan saja, sebelum pintu gua dan juga didalamnya, hampir seluruh dinding tebing yang menjulang itu dipenuhi dengan tatahan relief Buddha images kecil-kecil yang banyak sekali! Dinding sebelum gua itu saja sekitar 30 meter panjangnya dan 15 meter tingginya, belum di dalam guanya.

Saya jadi membayangkan orang yang membuatnya di tebing-tebing itu. Apakah mereka menggunakan tali dan bergantung di dinding tebing? Saya juga membayangkan bagaimana orang yang membuatnya di atas langit-langit gua. Apakah dia mendongak terus menerus atau tiduran? Kalau tiduran bagaimana alasnya? Benar-benar pekerjaan yang tidak mudah.

Belum lagi Patung Buddhanya yang sangat khas Myanmar, sangat besar, lengkap dengan berbagai posisi Sang Buddha,  duduk, berdiri dan berbaring. Ukurannya pasti lebih dari 10 meter! Bayangkan saja, di kota kecil Hpa’an banyak patung-patung berukuran besar, bagaimana dengan kota-kota yang lebih besar?

Tidak hanya menunjukkan tempat-tempat bagusnya, pemandu dadakan saya juga menunjukkan patung-patung kuno yang kelihatannya merupakan patung Hindu dan tersimpan dalam pagar terkunci. Jika saya tak salah mengerti ucapannya, ia mengatakan bahwa semua itu adalah patung-patung kerajaan yang menurut sumber-sumber dari internet, adalah patung-patung Hindu yang masih perlu ditelusuri kebenarannya. Saya agak setengah hati saat meninggalkan Gua Kawgun ini menuju obyek wisata selanjutnya, mungkin karena masih terpesona dengan tatahan relief Buddha yang mencengangkan itu

∞∞♦∞∞

Gua Ya Thay Pyan (Ya Thea Pyan)

Sebenarnya Gua Kawgun dan Gua Ya Thay Pyan bersebelahan bukit, namun tidak ada jalan potong untuk sampai ke sana. Sehingga diperlukan jalan memutar untuk ke Gua Ya Thay Pyan padahal saat itu mentari sudah condong ke Barat. Tetapi justru itu kekuatannya. Perjalanan itu luar biasa dengan pemandangan perbukitan karstnya, yang membentuk gundukan-gundukan tinggi penuh lekuk di hamparan tanah yang datar yang dipenuhi sawah hijau. Cantik!

Rasanya sejuk disambut kolam di depan gua, -yang letaknya agak lebih tinggi-, apalagi Gua Ya Thay Pyan yang dikenal juga sebagai Gua Pertapa itu menghadap Timur. Pelan-pelan saya menaiki tangga yang terbuat dari semen dan menjumpai banyak patung Buddha diantara pohon-pohon berbunga cantik.

Di muka gua banyak tempat dijadikan tempat ibadah dengan patung Buddha dari berbagai ukuran hasil donasi umat Buddha sejak abad-17. Cahaya yang semakin sedikit saat menjelajah makin ke dalam badan gua, membuat saya cukup kesulitan mengambil gambar. Namun makin ke dalam makin seru bentuknya, karena dalam jutaan tahun alam membentuk stalagtit dan stalagmit yang menarik hati. Di beberapa tempat terdapat tatahan Buddha kecil-kecil pada dinding seperti di gua Kawgun, yang menunjukkan gua ini sudah lama dieksplorasi manusia. Sayangnya saya tak dapat menemukan Buddha Image yang dipercaya berasal dari abad-13.

Manusia memang tak terduga ya karena saya sampai harus mengerjapkan mata menembus kegelapan saat pemandu menunjukkan adanya orang yang duduk sendirian di hamparan cairns (tumpukan batu pipih). Meskipun pengemudi ojek yang sekaligus jadi pemandu mengatakan orang itu hilang ingatan, saya memilih untuk berpikir dia sedang meditasi (dan terus berpikir dia manusia juga 😀 )

Banyak penduduk lokal yang mengeksplorasi gua seperti saya, termasuk rombongan laki-laki yang tampak seperti model dan  selalu riuh saat berfoto. Meskipun penampilannya bagus, bagi saya cuma satu: Brisik! Benar-benar membuat ilfil.

Saya terus berjalan dengan kaki telanjang (karena gua ini dianggap suci, jadi harus lepas sepatu) dengan cahaya dari lampu listrik yang dipasang dalam jarak tertentu. Hingga suatu saat mulai terasa terang yang berasal dari sinar matahari. Waw, ternyata gua ini memiliki dua muka yang tembus ke belakang dan pemandangannya indah sekali dengan hamparan sawah hijau. Mulut gua sebenarnya tinggi dari permukaan tanah sehingga dibuat jembatan setapak yang terbuat dari besi yang mengarah kepada  sebuah pelataran dengan patung Buddha hitam di tengahnya. Meskipun pemandangannya indah, saya tak bisa lama-lama di sana, karena sinar matahari terasa memanggang luar biasa.

Tak tahan akan panasnya, saya langsung kembali setelah puas memandangi pemandangan dari ujung gua. Belum lama berjalan, mendadak listrik padam membuat kegelapan total di depan. Saya langsung berhenti dan memilih kembali ke arah sedikit terang di belakang. Tak mungkin melanjutkan perjalanan dalam gelap. Tak mungkin juga menggunakan senter ponsel karena batere yang sudah sekarat. Saya tertawa menikmati suasana gelap bersama pemandu saya. Bau kotoran kelelawar memenuhi hidung. Ugh, mudah-mudahan mereka tetap diam menggantung di atas. Semenit… Lima menit… sepuluh menit, menunggu itu memang tak menyenangkan…

Sejenak saya berdoa agar listrik dapat berfungsi kembali dengan cepat dan Tuhan Yang Maha Baik mengabulkan doa saya karena tak lama kemudian listrik menyala kembali. Sesaat saya menyadari sesuatu tentang diri sendiri bahwa sebenarnya saya takut gelap. Momen sesaat itu mengingatkan dan membuat keputusan rasanya cukup untuk mengeksplorasi gua-gua di Myanmar. Tapi bagaimana mungkin? Wisata utama Hpa’an adalah gua dan saya tak bisa lari dari kenyataan itu. Saat menunggu dalam gelap itu, terlintas juga pikiran buruk bagaimana seandainya petugas yang mengurus listrik itu memilih pulang lebih cepat karena hari sudah sore dan membiarkan saya semalaman dalam gelap di gua? Hiii…

Pengalaman menunggu dalam temaram di gua itu membuat saya hampir menolak untuk berkunjung ke destinasi berikutnya, tapi…

∞∞♦∞∞

Kyauk Ka Lat (Kyauk Kalap) Pagoda

Pemandangan menuju Kyauk Kalap Pagoda sangat memanjakan mata dengan hijaunya pemandangan sawah. Duh, sebersit rindu muncul tiba-tiba akan hamparan sawah di tanah air! Lalu suasana jelang sunset semakin jelas. Ah, sepertinya tak akan bisa mengejar sunset di Kyauk Kalap, yang terkenal indah. Pak Ojek menghentikan motornya sejenak agar saya bisa menikmati matahari menghilang di balik bukit dari pinggir jalan.

DSC07757
Sunset – Hpa’an
DSC07774
The view over the Bridge – Hpa’an

Setelah melewati jembatan di atas Sungai Than Lwin dengan langit keemasan itu, akhirnya saya sampai di Kyauk Kalap Pagoda yang bentuknya sangat mencengangkan. Seandainya hari belum gelap, saya tentu bersedia untuk naik ke atas Pagoda yang berada di puncak batu limestone yang tegak menjulang itu. Pasti keren berada di atas, meskipun katanya, jalan naiknya agak mengerikan…

Matahari belum lama tenggelam kan, jadi pantulan lampu dan warna langit masih cantik, membuat saya merasa nyaman berada di sana. Rasanya indah berada pada waktu yang tepat dengan segala keindahan.

Dan untuk menghemat waktu, saya berjalan menuju kuil baru yang ada di sebelahnya. Bentuk atapnya sangat indah seperti pura di Bali. Tak jauh dari altar utama yang berisikan patung Buddha yang besar, ada sebuah tempat yang juga penuh bunga-bunga persembahan dengan sebuah patung berjubah maroon di dalamnya. Pastinya orang penting semasa hidupnya. Pak Ojek berusaha memberi tahu saya siapa dia, namun kali ini sepertinya jadi Jaka Sembung, alias gak nyambung… karena ia mengatakan dalam bahasa seadanya dan saya mengartikan bahwa patung itu adalah patung Raja Thailand Bhumibol Adulyadej yang baru saja mangkat. Ah, bisa benar, bisa salah… meskipun memang saya melihat ada banyak tulisan Thai di sana. Benar atau Salah ya?

Sayangnya, karena hari sudah terlalu gelap, saya memilih kembali ke penginapan untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

∞∞♦∞∞

Mahar Saddan Cave

Keesokan harinya, belum terlalu siang ketika saya sampai di Saddan Cave, gua terbesar yang ada di daerah Hpa’an. Perjalanan yang cukup menyenangkan untuk sampai ke tempat ini yang memerlukan waktu sekitar 1 jam dengan motor melalui jalan yang beraspal dan jalan tanah yang dikeraskan. Gua Mahar Saddan ini dipercaya oleh orang lokal memiliki legenda suci tentang kehidupan Raja Gajah sampai mangkatnya dan menerima karma dengan ikhlas (baca post saya sebelumnya tentang Kisah Raja Gajah Di Gua Saddan)

Setelah membayar donasi 4000 Kyat, saya mulai naik tangga (dan setiap naik tangga yang lumayan tinggi untuk sampai ke monastery, saya selalu teringat tangga-tangga jahanam di Annapurna! 😀 ). Namun begitu masuk di mulut gua, wuih saya senang sekali karena melihat patung merak! Sebagai penggemar merak, tentu tak boleh dilewatkan. Gua Saddan ini memiliki rongga yang sangat besar dan sejuk! Benar-benar menyenangkan apalagi tidak begitu banyak orang.

Pada dindingnya ada tatahan Buddha kecil-kecil yang membentuk gambar katak, gajah dan lain-lain. Di sudut lainnya terdapat Buddha Berbaring. Tampak beberapa orang sedang beribadah di sana.

Saya meneruskan perjalanan yang semakin menanjak. Di gua ini dipasang lampu-lampu listrik sebagai penerangan. Jadi lumayan enak meskipun terasa aneh karena kehilangan rasa alamnya. Dan sedihnya lampu kelap-kelip itu membuat suasana seperti di pasar malam.

Setelah berjalan beberapa lama, di beberapa tempat terdapat mulut-mulut gua yang menurut legenda dilubangi oleh Thaw Note Ta Ra atau Sonuttara, yang sesuai kisah legenda Raja Gajah Chaddanta. Ah, mendadak kunjungan ke gua ini terasa manis dengan adanya kisah tentang karma. Dari kisah-kisah Hindu atau Buddha, cerita mengenai karma ini mengesankan hati saya karena menggambarkan keikhlasan hati menerima akibat semua perbuatan.

Terlepas dari legenda yang melingkupi gua ini, saya suka dengan alur-alur yang dibuat alam di dalam gua ini. Jelas sekali batas air yang membentuk gua dengan indahnya. Stalagmit dan Stalagtit yang besar-besar dan indah menunjukkan kehebatan alam dalam berproses secara konsisten. Di ujung gua terdapat danau yang katanya bisa digunakan untuk berperahu namun saya memilih jalan kaki kembali sambil berdoa agar listrik berfungsi baik. Benar-benar saya tak ingin pengalaman kemarin terulang.

DSC07879
Saddan Cave

Meninggalkan Saddan Cave, saya kembali menikmati perjalanan menuju gua yang lain lagi. Sambil berpanas-panas menyusuri jalan aspal, meskipun tidak begitu lama akhirnya saya sampai di gua berikutnya.

∞∞♦∞∞

Gua Kaw Ka Thaung 

Di dalam gua ini sebenarnya tidak terlalu spesial karena lebih diutamakan sebagai tempat ibadah dengan berbagai patung Buddha dengan lantai keramik. Hanya saja gua ini dikenal dengan relikui tulang-nya yang sangat disakralkan. Sebenarnya ada beberapa jalan ke gua lain, namun menurut buku Lonely Planet yang saya baca, ada satu jalan yang ditutup karena seorang biksu menemukan kond*m bekas di gua lanjutan ini! Padahal tempat ini masih harus lepas sepatu lho, yang tentunya artinya masih area tempat suci! Ampuuun…

Di dinding gua juga terdapat tatahan Buddha yang kecil-kecil menghias penuh. Saya terkagum-kagum dengan orang yang membuatnya, yang pasti dengan sabar.

Di luar gua terdapat taman asli lengkap dengan patung-patung Nat dan Patung Buddha dalam berbagai posisi termasuk dalam keadaan pindapatta dengan pengikutnya yang turun dari atas bukit. Namun di luar pagar monastery, pemandangannya lebih cantik, karena terdapat banyak sekali patung pengikut Buddha yang didirikan berderet panjang sekali sepanjang jalan. Saya minta kepada Pak Ojek untuk mengantar saya sampai ke ujung akhir barisan itu, hanya ingin tahu saja siiih…

∞∞♦∞∞

Gua Kaw Ka Thaung ini menjadi gua terakhir yang saya kunjungi di kawasan Hpa’an. Sepertinya waktu berkunjung di Hpa’an sudah berakhir. Saat itu sudah tengah hari, waktunya untuk melanjutkan perjalanan ke Mawlamyine. Saya belum tahu harus naik apa, mungkin naik bus lagi karena tak mungkin naik public boat yang biasanya berangkat pagi. Perjalanan penuh kejutan pasti menanti di depan…

7 tanggapan untuk “Wisata 24 Jam Di Hpa’an

  1. Wah Hpa’an bener-bener menarik ya ternyata. Saya selama ini cuma pernah lihat foto Kyauk Kalap Pagoda, tapi gak nyangka banyak tempat-tempat lain yang bisa di-eksplor di sekitaran Hpa’an. Next time kalau saya ke Myanmar saya harus ke sini nih (tapi jujur saya kok dari tadi selalu kepikiran apaan tuh-nya Jaja Miharja ya gara-gara pelafalan Hpa’an yang H-nya gak dibaca, hehe).

    Disukai oleh 1 orang

    1. Kalo mas Bama ma Mas James kan suka jalan kaki bisa tuh tambah trekking ke Zwegabin for sunrise. Bagus, katanya. Kalo aku sih ngaku deh udah males naik2 gunung 😂😂😂
      Kalo soal pelafalan, nah aku kan sudah susah2 ngomong Hpa’an dg H-nya disebut, ehh mereka bilangnya gini, ooo Pa’an. Kzl kan?? 😂😂😂

      Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.