Reclining Buddha Win Sein Taw Ya Yang Mencengangkan


DSC08117
Reclining Buddha Win Sei Taw Ya

Patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya yang ada di selatan Mawlamyine, akhirnya menjadi nomor dua terbesar di dunia setelah dikalahkan oleh patung serupa yang dibangun di Yiyang, Jianxi,  China (yang belakangan ini tidak tanggung-tanggung untuk menjadi nomor satu, karena patung Reclining Buddha ini dibentuk mengikuti kontur bukit!). Meskipun demikian, Reclining Buddha Win Sei Taw Ya berhasil membuat saya benar-benar tercengang.

Memiliki ketinggian sekitar 30 meter dengan panjang 180 meter, rasanya mal Plasa Senayan yang sudah khatam saya kelilingi saja masih lebih kecil dari patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya ini. Juga karena besarnya, saya teringat akan patung-patung serupa yaitu The Shwethalyaung Buddha (55 meter) dan Naung Daw Gyi Mya Tha Lyaung (75 meter) yang ada di Bago (baca: trip saya di Bago). Bandingkan dengan Wat Pho yang ada di Bangkok yang memiliki panjang 46 meter.

Untuk sampai ke sini, saya menyewa tuk-tuk dari Mawlamyine. Sebenarnya bisa juga naik bus dari Mawlamyine jurusan Mudon, namun harus jalan kaki lagi dari pinggir jalan raya ke arah monastery ini sekitar 20 menitan. Terus terang saya malas, karena matahari bulan April gaharnya setengah mati dan tidak ada keteduhan sepanjang jalan menuju patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya. Untungnya jika jalan kaki, bisa menikmati lebih lama puluhan patung pengikut Buddha yang didirikan berbaris panjang sekali di pinggir jalan.

DSC08128
Patung-patung biksu sepanjang jalan

Memasuki kawasan monastery, saya bisa melihat patung besar lainnya di kejauhan yang nantinya saya lihat juga dari pelataran atas patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya ini. Selain sebuah tempat ibadah lain yang dindingnya berwarna hijau tampak menyambut di kawasan ini.

Untunglah pengemudi tuktuk yang saya sewa dari Mawlamyine, menurunkan saya di dekat pintu masuk Patung Reclining Buddha itu karena matahari terik bukan main. Saya hanya perlu menaiki sejumlah tangga untuk memulai perjalanan ke dalam tubuh patung itu, yang semoga saja cukup sejuk. Paling tidak saya tidak terpanggang di bawah matahari bulan April.

Tentu saja kawasan ini adalah kawasan tempat ibadah sehingga langsung saja sepatu masuk kantong dan disimpan ke ransel selama berkeliling di dalam bangunan patung.

Saya belum masuk ke bagian Kepala dari Buddha, tetapi dari tempat ini sudah terasa tinggi. Ada lubang-lubang ventilasi melengkung untuk melihat-lihat keluar. Pemandangannya lumayan cantik (seandainya tidak begitu terik, pastilah pemandangannya sangat indah). Sambil tersenyum, saya juga bisa melihat patung besar di kejauhan yang tadi dilihat ketika datang. Di Myanmar memang banyak sekali patung-patung Buddha yang sangat besar, seakan menunjukkan betapa besar cinta mereka kepada Sang Buddha.

Saya menaiki tangga dan melewatkan sebuah altar yang cukup besar dan sedang digunakan untuk beribadah. Seperti biasa, di belakang kepala Sang Buddha dipasang lampu berkelip-kelip yang penuh makna. Tak ingin mengganggu mereka yang sedang beribadah, saya melangkah ke pelataran. Kali ini saya terkejut lagi.

Saya berada di alas kepala atau sekitar telinga Sang Buddha yang lekukannya saja sebesar bak mobil pickup, namun bukan itu yang mengejutkan saya. Di seberang patung yang saya naiki ini terdapat patung serupa yang besarnya juga serupa namun sayangnya keadaannya sudah terbengkalai. Sayang ya… Seakan dibuat untuk ditinggalkan, mungkin karena keterbatasan dana. Saya membayangkan seandainya patung itu jadi, tentu amat menarik. Dua patung Reclining Buddha yang sangat besar saling berhadapan!

DSC08095
Unfinished Reclining Buddha

Puas memandangi sekitarnya, saya melanjutkan mengeksplorasi bagian dalam tubuh yang berisikan serangkaian kisah-kisah Sang Buddha dalam bentuk patung-patung seukuran manusia. Sayangnya sama sekali tidak ada penjelasan, bahkan penjelasan dalam bahasa Myanmar pun jarang. Bisa jadi karena dianggapnya penduduk lokal memahami langsung saat melihat patungnya.

Sebagai non-Buddhist saya hanya bisa mengenal beberapa adegan saja, itupun pakai ilmu ajib dari jaman dulu: ilmu kira-kira nan duga-duga. Seperti adegan ketika ibunda Siddharta Gautama memegang dahan pohon Shala saat melahirkan pangerannya yang akhirnya nanti menjadi Sang Buddha. Juga saat Sang Buddha kecil menunjuk ke atas yang melambangkan kehadiran Yang Tercerahkan. Ada lagi patung yang mengisahkan saat Buddha bermeditasi. Di tempat ini saya agak ragu apakah Sang Buddha sedang digoda atau memang diberi makanan oleh pengikut setianya.

Masih banyak patung-patung lain seukuran manusia dalam ruang-ruang yang dibuat agak bersekat. Masih banyak yang belum selesai pengerjaannya sebagaimana bangunan patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya ini juga masih terus disempurnakan. Di beberapa tempat saya harus berhati-hati karena proses konstruksi masih berjalan, seperti tangga yang belum dipasang pegangannya, atau lantai yang belum dipasang ubinnya, pintu yang belum terpasang, atau steger (scaffolding) yang masih terpasang pada dinding dll. Bau cat juga tercium dimana-mana dan kaki kadang terasa sakit karena tertusuk kerikil-kerikil semen yang mengeras.

Bahkan kadang-kadang saya agak seram juga karena sendirian dalam ruangan hanya ditemani patung-patung seukuran manusia. Kalau sudah begitu biasanya saya cepat-cepat berpindah ruangan. Lhah kalau matanya mendadak bergerak bagaimana? Hiiiii…. Kan di tempat itu dipajang juga segala macam makhluk-makhluk pengganggu manusia yang seram bentuknya…

Makin ke arah kaki, bangunannya semakin tak jelas dan terus dalam proses pembangunan. Patung-patungnya pun sudah terbentuk tapi belum diwarnai. Saya sempat melihat posisi Buddha Parinirvana yang belum selesai.

Merasa sudah melihat isi tubuh dari bangunan patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya secara maksimal, mulailah saya mencari jalan keluar. Masalahnya tidak ada rambu EXIT atau tanda-tanda jalan keluar. Yang pasti tidak sama dengan jalan masuknya. Lagi pula saya ingin sekali mengambil foto patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya secara utuh dari depan. Saya menggunakan metode yang selalu sukses: Mengikuti orang lokal. Kali ini juga berhasil meskipun saya harus melompati bambu yang dipasang melintang di pintu setinggi satu meter! 😀 😀

Saya menyeberang turun untuk mencapai ujung jembatan. Saya berhenti sebentar di sana memperhitungkan panasnya lantai jembatan yang telah dipanggang matahari bulan April. Lalu secepat kilat saya berlari menuju ujung jembatan di seberang. Telapak kaki terasa terbakar.

Sambil mendinginkan rasa terbakar pada telapak kaki, di ujung jembatan saya mengambil foto. Wah, ternyata bulu mata Sang Buddha dibuat sangat jelas dan lentik. Mendadak saya terpikir jika mata Sang Buddha terbuka dengan bulu mata yang lentik berarti posisi ini menunjukkan Buddha sedang istirahat, bukan parinirvana. Ah sepertinya saya ini sotoy banget…

Dari tempat yang sama saya bisa juga melihat jari-jari kaki Sang Buddha yang kukunya dicat berwarna pink. Saya langsung mengingat-ingat apakah patung serupa di Bago juga memiliki kuku berwarna merah muda. Tetapi mungkin saja, warna ini memiliki nilai atau makna tersendiri. Tetapi dari sini dapat dibandingkan besarnya kaki patung Buddha dengan rumah ukuran normal.

 

Matahari belum juga mereda mempertunjukkan kekuatan panasnya sehingga saya memutuskan menyelesaikan kunjungan. Masih ada tempat-tempat lain di Mawlamyine yang harus dikunjungi.  Saya melepas pemandangan dari atas. Meskipun panas, pemandangan dari tempat saya berdiri tetap mengesankan. Sambil menuruni tangga pulang, saya kembali menoleh ke arah patung Reclining Buddha Win Sei Taw Ya memberi salam perpisahan.

Sampai ketemu lagi, kapan-kapan…

DSC08116
The View

 


Pos ini ditulis sebagai tanggapan atas tantangan mingguan dari Celina, A Rhyme in My Heart, dan Cerita Riyanti sebagai pengganti Weekly Photo Challenge-nya WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-46 ini bertema Huge agar blogger terpacu untuk menulis artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikut tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

6 tanggapan untuk “Reclining Buddha Win Sein Taw Ya Yang Mencengangkan

  1. Wah, kalau jalan 20 menitan dengan kondisi seperti itu sih aku juga akan memilih naik tuktuk, mbak. Sopir tuktuk-nya bisa bahasa Inggris?

    Patung Buddha-nya besar bangeeettt. Di Myanmar aku cuma ke Chauk Htat Gyi di Yangon aja untuk bertemu patung Buddha Berbaring. Itu aja udah membuatku amazed. Tapi kenapa ya patung Buddha di seberangnya itu dibiarkan terbengkalai sementara patung selanjutnya dibangun sampai selesai? Apa mungkin patung terbengkalai itu adalah rencana awalnya?

    Disukai oleh 1 orang

Please... I'm glad to know your thoughts

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.